[Ficlet Series] B – Bye


hello-venus_1380321026_hellovenus-ara-1_copy

B – Bye

Ara Hello Venus, Hoya Infinite

Ficlet | Friendship, Sad, AU | Teen

Author’s Note :

Hey Hello! Sasa di sini [yang lagi jatuh cinta sama Yoo Ara karena suaranya yang enak banget ketika duet sama Sunbaenim-nya, Raina After School, untuk lagunya After School yang first love. Juga semakin cinta ketika lihat di Youtube, Baechigi menyanyikan lagu Shower of Tears feat. Yoo Ara (aku suka banget lagu itu!!!)] mempersembahkan FF Ficlet Series berjudul B karena di setiap part-nya memiliki judul berawalan B.

So, check this out! Sorry for some typo

Senin, 11 Oktober 2010

“Rumahmu seperti kebun buah.” Ara tertawa begitu memasuki rumah Hoya dan melihat desain interior yang cukup unik. Ada anggur sungguhan di sudut ruangan, apel berwarna merah nan ranum terlihat cantik di dalam keranjang rotan yang ada di tengah meja ruang tamu, jeruk-jeruk impor berwarna orange mengkilat ada di dekat bingkai foto keluarga, bahkan semangka kotak yang baru saja ibu Hoya beli turut menghiasi televisi di ruang tengah.

Hoya terkekeh pelan sembari menggaruk tengkuknya. “Ibuku yang mengatur semuanya.”

Ara manggut-manggut, tanda mengerti. Setelahnya, ia berjalan mendekati meja ruang tamu dan duduk di lantai, lalu mengeluarkan buku-bukunya untuk memulai tugas kelompok mereka. Hoya mengernyit.

“Kenapa kau mengeluarkan banyak buku?”

“Ah, aku lupa memberitahu,” Ara menyelipkan rambutnya yang menjuntai ke belakang telinga, lalu melanjutkan ucapannya, “kau satu kelompok denganku untuk pelajaran Mr. Kim.”

“Sastra asing?” tanya Hoya. Ara menjawab dengan anggukan. karena rambutnya semakin sulit diatur, ia memutuskan untuk mengikat asal rambutnya.

“Kita dapat huruf B. Kita harus membuat satu karya sastra—puisi, cerpen dan teman-temannya—dengan membuat pemahaman sendiri tentang huruf B.”

“Memang anggota kelompok kita hanya kau dan aku?”

Ara tersenyum kecil. “Ada Aron, Minhyun dan Yoonjo. Mereka sudah mencari referensi, tinggal kau yang belum. Salah sendiri? Siapa suruh kau mengikuti teater murahan itu?!”

Hoya diam, lalu Ara meninju pelan lengan kanan Hoya. “Just kidding, dude.

“Nah, sekarang…”

“Ara, maaf aku menyela,” ucap Hoya sangat berhati-hati, karena ia tahu Ara paling benci ucapannya disanggah ataupun dipotong, “aku mengajakmu ke rumahku bukan untuk belajar bersama.”

Ara mengernyit. “Lalu?”

Hoya menelan ludah, lalu kembali berucap, “Tapi, setelah aku mengatakannya, jangan pernah membenciku. Kita tetap sahabat, janji?”

Ara perlu berpikir untuk kalimat kedua. Mungkin ia bisa menepati janji untuk tidak membencinya (toh, Ara tak akan pernah membenci Hoya. Hoya tak pernah membuat orang lain kesal, setidaknya begitu persepsi Ara), tapi untuk kalimat kedua, tetap bersahabat,..

Bagaimana jika Ara menganggap Hoya lebih dari sahabat dan berharap lebih?

“Ara?”

“Ah? Oh…” Ara tersenyum setelah sadar dari lamunannya, “iya.”

“Aku akan pindah ke Seoul.”

Ara mengernyit lagi. “Ke Seoul?”

Hoya mengangguk. “Ayahku mendapatkan warisan dari kakek dan nenek. Awalnya Ayah menolak, tapi karena Ayah putra semata wayang dari kakek dan nenek, mau tak mau Ayah harus mengambil harta mereka. Ibu juga ingin mendirikan butik yang lebih besar daripada di Gwangju ini.”

“Oh, begitu. Yah, itu semua demi kebaikan keluarga kalian ‘kan?” Ara tersenyum, lalu memasukkan buku-bukunya dengan cepat hingga membuat beberapa buku terlipat tak rapi.

“Kau sudah janji padaku, kau tak akan marah,” ucap Hoya sambil menggenggam lengan Ara, seolah tahu Ara akan berdiri dan beranjak pergi. “kita berteman sejak kecil dan aku tahu kau orang yang seperti apa.”

“Egois, keras kepala, tak pernah suka pada hal yang membuat keinginannya tersendat, bahkan mungkin tak terwujud. Iya ‘kan?” Ara menatap Hoya sambil tersenyum, “dan aku tidak suka kau pergi.”

Ara berdiri dan berjalan cepat melewati Hoya yang duduk di sampingnya. Hoya bergegas mengejar Ara dan sekali lagi berhasil menggenggam lengan Ara. Ara menghela napas keras, lalu menatap mata Hoya, “Mau apa lagi? Kau sudah mengatakan apa yang ingin kau katakan, semua selesai ‘kan?”

“Aku tidak ingin pergi dalam keadaan kau memusuhiku.”

“Aku sama sekali tidak memusuhimu.”

“Ara, tolonglah. Besok aku akan berangkat dan kau tak bersikap baik padaku!”

“Aku akan tetap bersikap baik padamu, aku janji. Aku akan bilang pada Aron, Minhyun dan juga Yoonjo bahwa kau telah mengerjakan separuh tugas kelompok kita, jadi kau tak perlu repot memikirkan nilaimu yang anjlok.”

“Bukan begitu, Ara…”

“Istirahatlah, besok kau akan berangkat.” Ara menepis tangan Hoya dan dengan menguatkan hatinya, ia bertekad untuk tidak kembali menoleh ke belakang meskipun Hoya memanggil namanya sampai 100 kali.

ia menggenggam erat handle bag-nya, bersikeras menahan air mata yang jelas-jelas sudah berada di pelupuk mata. Namun Ara bukan tipe orang yang suka menangis meskipun tak ada seorangpun di sampingnya. Menurutnya itu kekanakan.

.

.

.

Walau begitu, tak dapat ia pungkiri, rasa sesak benar-benar membuat hati nuraninya terasa mengering. Paru-paru dan jantungnya terasa tak bergerak sesuai fungsinya.

Kalau sudah begini, Ara akan berteriak. Ia sangat kesal ketika organ dalam tubuhnya harus ikut merasakan rasa sakit di batinnya. Atau mungkin organ dalamnya memang dikendalikan oleh batinnya, bukan otaknya?

Ara merutuki dirinya sendiri yang sangat bodoh. Harusnya ia tahu, sahabat hanyalah sahabat, tak akan pernah lebih. Kenyataan semakin memilukan ketika Ara ingat, ia pernah menyatakan cinta pada Hoya, namun dengan manis Hoya menolaknya. Ia bilang, persahabatan akan selalu indah sepanjang waktu, berbeda dengan hubungan sepasang kekasih. Hoya takut suatu saat nanti, ia akan kehilangan Ara hanya karena cinta.

Namun kini, bukan Hoya yang merasa kehilangan, melainkan Ara.

.

.

.

Setelah duduk di sudut kamarnya selama beberapa lama, Ara berdiri dan membereskan kamarnya. Sebenarnya kamar Ara sudah cukup rapi, namun Ara pikir ada yang harus dirapikan—atau mungkin dilenyapkan—di kamarnya. Ia mengambil tas kertas yang ia gantung rapi di dekat lemari pakaiannya, lalu mulai membereskan benda-benda yang menurutnya tak berguna lagi.

Benda-benda yang menyimpan kenangannya bersama Hoya.

.

.

.

Selasa, 12 Oktober 2010

Hoya menggerutu pelan saat mendengar suara bel rumah yang cukup mengganggu tidurnya. Pukul 6.50, siapa yang mau bertamu di saat semua orang tengah bersiap berangkat bekerja—atau sekolah? Ya, harusnya Hoya sekolah pada waktu itu, tapi ia harus mempersiapkan kepindahannya ke Seoul.

gerutuan Hoya terhenti saat mendapati Ara tengah berdiri di depan pintu.

“Ara?” Hoya menyipitkan matanya dan melihat Ara dengan seksama, mengira bahwa apa yang dilihatnya hanyalah ilusi. Namun ia yakin bahwa gadis itu Ara setelah melihat Ara menatapnya datar, memancarkan sikap tidak sukanya. Ara masih marah dan Hoya memakluminya. Kau tahu?  Jangka waktu amarah Ara minimal 3 hari

“Maaf.”

Hoya mengernyit. Maaf? Ara sangat jarang mengatakannya—kecuali pada saat tertentu. Kalau Hoya mengingat kenangan mereka, Hoya baru mendengar 2 ucapan maaf dari Ara. Sekarang menjadi 3.

“Untuk.. apa?”

“Aku tahu aku tidak pada tempatnya untuk marah padamu. Kau pindah juga bukan kemauanmu sendiri, iya kan?”

Hoya mengangguk. Ia merasa aneh pada diri Ara, terlebih melihat apa yang dibawa Ara hari itu. Satu tas kertas berisi barang-barang yang tak asing baginya.

Belum sempat Hoya bertanya, Ara menyodorkan tas itu, memaksa Hoya menerimanya.

“Apa maksudmu mengembalikan semua ini?”

“Menyimpan barang-barang itu selagi kau tak ada, pasti membuatku sakit hati.”

“Oh, Ara, ayolah.. Aku masih di Korea. Bedanya, kau di Gwangju dan aku di Seoul…”

“Aku belum selesai bicara!” Ara menatap tajam Hoya, sebisa mungkin membuat pandangan mata penuh kebencian, walau akhirnya malah terlihat jelas bahwa ia berusaha menghibur dirinya.

“Kau bisa pergi ke sana karena kau punya keluarga dan uang! Sementara aku? Jika aku ingin bertemu denganmu, harus berapa banyak uang yang kukumpulkan? Aku harus menahan lapar berapa hari supaya bisa bertemu denganmu?! Aku tidak punya siapa-siapa yang bisa kupercaya saat ini, bahkan sekarang aku tahu kau juga tak bisa kupercaya!”

“Kalau kau ingin bertemu  denganku, kau bisa menghubungiku lewat telpon dan aku akan datang ke sini.. tolong jangan besar-besarkan masalah…”

“Terima kasih sudah mau jadi sahabat bagiku selama ini,” Ara tersenyum, namun ia sangat benci pada air matanya yang mengalir di saat yang tak tepat. Sekarang ia nampak rapuh di depan Hoya. Hoya merasa bersalah dan melangkah maju, ingin memeluk hangat Ara.

Namun Ara menolaknya dengan berjalan mundur sambil menggeleng. “Karena aku gagal menunjukkan padamu bahwa aku adalah gadis yang tegar, maka aku akan mengatakan semua yang menjadi bebanku.”

Ara mengambil napas sampai bahunya terangkat, tanda bahwa ia butuh banyak oksigen. “Aku selalu benci kata ‘Selamat tinggal’, karena di hari orang tuaku meninggal, keduanya mengatakan kalimat itu. Saat nenek yang mengasuhku meninggal, beliau juga mengatakan kalimat itu.”

Hoya tertegun. Ia ingat, malam setelah Ara pulang dari rumahnya sambil menyimpan rasa kesal, Hoya langsung mengirimkan pesan singkat pada Ara.

Maafkan aku, Ara. Aku akan selalu menyayangimu, Selamat tinggal.

“Ara.. Maaf…”

“Aku membencimu,” ucap Ara, lalu napasnya tersengal-sengal, tanda bahwa ia lelah menahan amarahnya, menahan tangisnya, menahan semuanya sendirian.

Ara membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga sembari menghapus air matanya.

Hoya hanya bisa melihat Ara berlari menjauh darinya sampai bayangnya menghilang. Ia tahu Ara butuh sendiri. Ia menatap sendu benda-benda yang pernah ia berikan pada Ara, termasuk handphone dengan pesan singkat darinya yang belum Ara hapus.

Dan baru kali ini, Hoya menangisi persahabatannya yang mungkin berakhir.

.

.

.

Ah, ini absurd banget ya? tapi… komennya yah😀

3 thoughts on “[Ficlet Series] B – Bye

  1. Ksian Ara.. d tgl prgi sm Hoya😦
    bnr sh ap yg d blg Hoya.. klo pcrn psti bklan pisah. smntra shbtn ga akan prnh ptus.

    oh..rpanya Ara pny crt sdh tntg kta slamat tgl. pnts aj Ara jd bnci bngt ma Hoya..

    kren saeng🙂 aq suka sm ficletny..

    aq bc yg laen lgi ah.. hehehe

  2. sasaaaa, yampyun ternyata kak belum komen yg ini juga ;;;
    btw sebelumny kak msh nemuin typo kaya masalah kapital di awal kalimat tapi ga ngeganggu keseluruhan cerita koq..
    dan sekaranggg, mulai ke cerita..huhuhu T-T kak pikir kenapa sih ara smpe sebegitunya pisah sama hoya toh memang sahabat itu lebih abadi dibanding cinta (konon katanya) dan ga ngerti kenapa sampe sebegitunya sikap ara ke hoya, smpe benci perpisahan…
    ternyata ada cerita dibalik “selamat tinggal”…dan aduhhh, kak jdi ngebayanginnya klo hoya bakal bernasib sama kaya sebelum2nya T-T /salah

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s