[Ficlet] 10 to 0


1

by Sasphire

Siwan ZE:A, You, Dongho U-Kiss

Teen | AU, Supernatural, Fantasy, slight! Surrealism, Romance | Ficlet

Enjoy it, sorry for some typo

10

Hai,

Aku tahu kau tidak tahu aku ada di sampingmu, berdiri sambil menatapmu pilu, karena yang kau tahu aku tengah berbaring di ranjang itu selama 2 tahun ini, tak kurang dan tak lebih. Kau terus menggenggam erat tanganku sambil tersenyum dan sesekali mengelus rambutku yang kini hampir habis karena efek obat-obatan yang masuk ke tubuhku.

Aku senang ketika kau menceritakan masa lalu kita, saat-saat indah dimana kita berlarian mengejar kupu-kupu di padang ilalang, saat kita menyanyikan lagu ulang tahun ketika salah satu di antara kita berulang tahun sambil meniup dandelion kecil, saat kita mendendangkan syair kekanak-kanakan yang menggambarkan cita-cita kita saat kita masih lugu… Sesekali kau tertawa saat menceritakan kecelakaan kecil yang pernah kita alami ketika pertama kali bermain kembang api di akhir tahun.

Kau tak pernah menangis di depanku, karena kau tahu aku tak pernah suka melihatmu menangis. Kau juga terus mengucapkan banyak kalimat pengandaian ketika nanti aku sadar, seperti membuka album foto yang berisi kenangan kita selama ini, berlarian mengejar satu sama lain di akhir musim semi, bersepeda bersama ketika musim gugur sambil melihat pohon oak yang tinggal batangnya, atau membuat manusia salju saat musim dingin. Padahal kau tahu kita sudah terlalu tua untuk melakukan hal-hal semacam itu.

Aku senang kau setia padaku, padahal selama 2 tahun ini aku tak memberikan kepastian padamu, aku tetap hidup atau pergi. Aku, yang sekarang layaknya angin, selalu mengikutimu kemanapun kau pergi, karena kepercayaanku padamu terlalu lemah. Aku meragukanmu.

Namun kau tak pernah melakukan hal yang mengecewakanku. Setiap kau hadir di pesta pernikahan temanmu dan kau tak membawa siapapun, semua orang menatapmu prihatin karena mereka tahu kau menungguku. Juga banyak orang yang mencemoohmu karena kau menunggu hal yang tak pasti—kesadaranku—seperti orang bodoh, tapi kau hanya tersenyum dan membatin,

“Siwan pasti sadar dan menemaniku suatu hari nanti.”

Itu yang membuatku tetap bertahan sampai sekarang, walau aku tak tahu kenapa aku tak kunjung sadar.

9

Kau tahu?

Sekarang aku hanyalah angin. Aku pergi kemanapun angin pergi membawaku, walau pada akhirnya aku kembali kesini, dan aku tetap menemukanmu di sini, seolah kau tak pernah pergi meninggalkanku.

Kau tahu?

Aku pernah pergi ke planet Mars, terkadang ke Merkurius, sesekali ke Jupiter, bahkan aku sempat tersasar ke Pluto. Aku pikir, para ilmuwan salah besar ketika mereka menyimpulkan tak adanya oksigen dan nitrogen di antariksa membuat makhluk hidup tak dapat hidup selain di Bumi. Manusia tak mungkin bisa bernapas tanpa adanya oksigen, tak bisa hidup tanpa adanya nitrogen, tak bisa makan tanpa adanya kemungkinan bahwa tumbuhan dapat hidup di dunia lain selain Bumi, tak dapat melakukan aktivitas-aktivitas makhluk hidup tanpa adanya litosfer, bahkan kata ilmuwan-ilmuwan berkumis putih, lumut tak mampu hidup di antariksa. Mereka benar-benar salah!

Kenapa aku pikir mereka salah? Karena aku dapat pergi ke semua planet di luar angkasa sana tanpa perlu membawa roket. Aku hanya manusia biasa, iya kan? Tapi aku pernah ke Pluto!

Lalu setelahnya aku ingat, aku tidak bernapas.

Kau tahu?

Aku merasa bodoh saat itu.

8

Kemudian, terdengar decitan pintu yang sedikit mengganggu. Seolah kau tahu siapa yang datang, kau tak membalikkan badan sedikitpun, kemudian menggenggam tanganku lebih erat lagi, seolah kau ingin memberitahukan padanya, bahwa sampai kapanpun kau tak akan meninggalkanku.

Orang yang baru saja hadir , lelaki yang menyayangimu dan mencintaimu, sekaligus sahabat terbaikku, hanya bisa diam membisu. Saat bulan purnama yang dari tadi tertutup oleh bayangan Bumi mulai menampakkan sinarnya lagi, kau menyanyikan lagu milik kita,memamerkan kesetiaanmu padaku di depan lelaki itu. Tanpa kau tahu, lelaki bernama Dongho itu kini tak peduli pada apapun yang kau lakukan demi aku. Yang ia pedulikan hanyalah dirimu.

Menjengukku yang terbaring lemah di rumah sakit hanyalah tujuan keduanya. Tujuan utamanya hanyalah melihat kondisimu: apakah kau baik-baik saja? Kau sehat? Apa kau cukup tidur? Apakah hari ini kau sudah makan 3 kali? Apakah makanan yang kau makan bergizi? Apa kau tidak lelah? Apa kau tidak ingin menyerah dan meneruskan hidup baru, tanpa Siwan?

Aku tahu semua yang Dongho pikirkan karena semua pertanyaan itu pernah ia lontarkan padamu. Saat kau menjagaku, saat kau bekerja paruh waktu di restoran pinggir jalan, saat kau pulang ke rumah, saat ia mengantarmu ke kampus… Banyak variasi pertanyaan yang ia lontarkan, namun intinya sama: mengkhawatirkanmu.

Kau tak pernah marah pada pertanyaan Dongho, sebelum ia menanyakan pertanyaan terakhir yang tadi kusebutkan: apa kau tidak ingin menyerah dan meneruskan hidup baru, tanpa Siwan?

Aku semakin mencintaimu ketika mendengarkan jawabanmu,

“Aku sudah meneruskan hidupku dengan adanya Siwan di hatiku! Tahu apa kau tentang aku?!Maaf, Dongho. Bukan pada tempatnya kau menanyakan hal itu!”

Walau sebenarnya, aku merasa, kau terlalu kejam pada sahabatku.

7

Kemudian, ibuku datang. Kali ini kau beranjak dari kursimu, berdiri dan membungkuk pada ibuku. Wanita berumur 56 tahun itu tersenyum, menunjukkan kerutan-kerutan di wajahnya padamu dengan anggun. Ia berjalan menghampirimu dan mengusap bahumu pelan.

“Istirahatlah,” ucapnya.

Sekali lagi, kau hanya tersenyum dan membungkuk. Kau pernah bilang padaku bahwa kau sudah menganggap ibuku sebagai ibumu sendiri, tapi kau tetap bersikap formal padanya.

Dasar bodoh!

6

Sekarang, seorang dokter berjas putih dan 2 perawat di belakangnya memasuki ruangan. Biasanya aku enggan melihat mereka yang setiap hari hanya memaksa keluargaku untuk menandatangani pelepasan alat bantu di tubuhku, dengan alasan aku tak mungkin hidup. Kau sama denganku, sangat enggan melihat mereka mendekati tubuhku.

Bagaimana bisa seorang dokter yang harusnya menyembuhkan pasien, malah ingin membiarkan pasiennya mati?

Di saat seperti ini, biasanya ada angin kencang yang mengajakku pergi ke tempat-tempat tertentu yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Tapi sekarang tak ada.

Yang ada hanyalah bayangan hitam yang tengah menyeringai padaku memaksaku masuk ke dalam jasadku yang terbaring lemah, dan aku bertanya-tanya,

2 tahun ini aku mencari cara untuk masuk ke dalam tubuhku, kenapa baru sekarang….

5. 9

Aku membuka mataku perlahan.

5.8

Kau menangis bahagia sambil menyebut namaku, memastikan aku bisa mendengar suaramu. Saat kau tahu bibirku tersenyum di balik alat bantu pernapasanku, kau tersenyum. Kau pikir aku akan terus menemanimu setelah aku menatapmu sekarang. Aku pun begitu. Aku sama senangnya sepertimu.

Tapi bayangan hitam yang tadi memaksaku masuk ke dalam tubuh menatapku tajam, memaksaku untuk mengucapkan sebuah kata pada semua orang di sini.

Seperti salam perpisahan.

5.7

Sial. Padahal aku sangat bahagia saat menatap matamu seperti yang sering kulakukan dulu. Aku ingin menghindar dari bayangan hitam itu, tapi aku tahu.

Aku tak akan bisa.

5.6

Eomma…”

5.5

Saranghaeyo…”

5.4

“Kekasihku…”

5.3

“Aku mencintaimu…”

Tentu kau tahu ‘kan?

5.2

“Dongho…”

5.1

“Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu…”

5

Aku kembali menutup mataku lagi, entah mengapa. Aku sangat ingin menatap mata teduhmu, maka dari itu aku memaksakan diri untuk membuka mataku lagi. Kau, ibuku dan Dongho melihatku panik, sementara dokter dan 2 perawat yang tadi hanya terdiam melihatku kini bergerak menghampiriku ketika tanda-tanda vital di kardiogram menurun.

4

Perlahan, aku keluar dari tubuhku. Bisakah kau dengarkan jeritan hatiku yang memohon pertolonganmu? Aku benar-benar tersiksa melihat dirimu meronta, terlebih ketika ibu mulai kehilangan kesadarannya lagi. Kalian berdua terlalu lelah menunggu diriku. Kalian terlalu putus asa saat ini. Kalian terlalu….

3

“Nyonya, bukankah sudah kubilang, putra anda telah mengalami kematian otak? Seluruh tubuhnya kini bergerak tanpa kontrol dari otak.”

Lalu Dongho mulai mendekap ibu dan berpaling darimu. Sekarang ia tahu, ia harus menjaga ibuku dan dirimu sebagai orang yang paling kucintai, dan juga yang paling ia cintai. Ia tahu, untuk saat ini, kau lebih membutuhkan aku daripada ketenangan darinya. Ia juga tahu, ibuku butuh seseorang untuk menopang tubuhnya, sekaligus menenangkannya.

Kau terus menyebut namaku sambil menangis. Sekarang kau tak peduli aku membencimu atau tidak, yang kau pedulikan adalah rasa sesak yang tak ada habisnya meskipun kau menangis.

Dan aku yakin, yang bisa menghentikan rasa sesakmu adalah aku.

2

Tolong, dengarkan aku, sekali ini saja.

Dan isak tangismu perlahan berhenti ketika mendengar suaraku.

Aku sangat mencintaimu.

Aku ingin menemanimu seperti kau menemaniku selama ini.

Tapi aku harus pergi.

Kalau dipikir lagi, selama 2 tahun ini aku hanya bisa berbaring lemah di sana—ranjang itu—karena kau tak bisa melepaskanku.

Kau tak ingin aku pergi.

Aku tahu bagaimana perasaanmu, kalau aku menjadi dirimu pun, aku pasti melakukan hal yang sama.

Tapi, tahukah kau? Suatu saat nanti, di ruang dan waktu yang berbeda, kita akan bertemu.

Jaga dirimu baik-baik.

Jaga ibuku baik-baik.

Dan aku tahu, Dongho pria yang baik.

1

Perlahan, kau tersenyum. Kau menghela nafas berat, seolah mengeluarkan berpuluh-puluh ton masalah yang ada di hatimu. Kau sudah puas menangis setelah 2 tahun ini kau hanya tersenyum palsu demi aku. Kini kau tersenyum ketika kau telah mendapatkan kepastian dariku, bahwa aku akan pergi. Bahwa sebentar lagi tubuhku akan menjadi abu, dan tak hanya arwahku yang menjadi pengikut embusan angin, tapi abu jasadku juga.

Kau menghampiri ibuku yang berkali-kali hampir kehilangan kesadarannya, memeluknya, menepuk-nepuk pundaknya, lalu berbisik di telinganya,

“Tenang, ibu. Siwan baik-baik saja…”

Kulihat Dongho terdiam melihat kau sangat tegar, menerima kenyataan bahwa sekarang aku telah menggenggam ‘nol’-ku. Namun sekarang, giliran Dongho yang menitikkan air mata, karena selama ini, ia juga menyimpan air matanya. Ia menyembunyikan kesedihannya demi menghibur 2 wanita yang sangat kucintai di dunia ini. Ia pikir, ia tidak boleh bersedih ketika semua orang terpuruk. Ia tak ada waktu untuk bersedih demi kau dan ibuku.

Sekarang,ia pikir, kini waktu yang tepat untuk menangis di hadapanku. Bukan menangisi kepergianku, tapi menangis bahagia ketika mengingat kenangan-kenangan antara kami. Ia bersyukur karena memiliki sahabat sepertiku, sama seperti aku yang bersyukur memiliki sahabat sepertinya.

Ia juga menangis bahagia, karena sekarang aku dapat pergi dengan tenang.

Kau tahu, Cinta?

Dongho tengah tersenyum padaku, tak peduli pada bayangan hitam yang kini telah menggenggam tanganku erat.

Aku pun tersenyum padanya sambil mengangguk. Aku tak ingin mengucapkan salam perpisahan padanya, aku juga tak ingin menitipkan salam perpisahan untukmu kepada Dongho, karena aku yakin, hari ini, kita tidak berpisah.

0

Nah, sekarang, aku ada di mana?

2 thoughts on “[Ficlet] 10 to 0

  1. Fin!!😀

    awalny aq kurang ngrti. cz cast yg kedua itu You. wkwk..
    aq baca dengan detail.. nd d ujung cerita aq mulai paham🙂

    siwan mnggal slm 2 tahun .😦 ksian kksihny nd shbtny Dongho…

    and sllu 10 jmpol utk kmu saeng.. aq sk sm FF nya🙂

  2. hai sasa, kakak datang dimari sesuai janji..hehehe sebenerny kak uda baca dri lama cuma maaf baru dateng skarang..heuuu ;;;

    jadi maksud dari itungan mundur itu semacam counting down si siwan bakal meniun? setelah 2 taun koma, dy bisa balik masuk tubuhnya walau berujung tetep say bubye..ahhh, serasa uda kode itu karna mmg terkadang dalam RL terjadi hal yg sama uhuhu ;;;

    waktu siwan berusaha ungkapin apa yg uda terpendam lama, itu bikin sedih. dy bilang itu bukan salam perpisahan tapi tetep aja bikin sedih T T

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s