EXO Series : D.O – Loving You, Losing You


loving you losing you

Loving You, Losing You

Sasphire

Starring D.O EXO, Kim Hye Lim Hello Venus

Romance, Life | General | 3,620 Words

.

.

.

My Love Was Gone….

Note : Maaf Saudara-saudara, saya belum bisa menyelesaikan FF Series saya. maka dari itu, lebih baik saya publish FF ini. semoga suka ya…

Hye Lim menikmati semilir angin pelabuhan dengan memejamkan matanya sambil tersenyum. Beberapa helai rambut panjangnya yang berwarna hitam kecoklatan menyapu wajahnya ketika ia menoleh ke arah lain demi melihat burung-burung putih yang berterbangan bebas menikmati angin musim semi, sama sepertinya. Ia tersenyum kecil, lalu kembali menatap deburan ombak yang menyenangkan. Sesekali terdengar suara kapal yang akan berlayar mengarungi samudra, entah untuk menyeberangi lautan menuju pulau lain atau hanya sekedar bersenang-senang di atas laut, seperti kapal pesiar. Hye Lim hanya berharap tak akan ada Titanic ke dua.

Sepertinya kesenangannya atas hal kecil disekitarnya saat itu membuat ia lupa bahwa beberapa menit sebelumnya ia menggerutu kesal karena orang yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Ia membenarkan kerah kaos rajut bergaris hitam putih yang ia kenakan, lalu menghela napas pelan. Ketika cahaya matahari tak tertutup awan lagi, ia menyipitkan mata saking silaunya pantulan cahaya yang berkilauan di atas laut biru. Andai saja Hye Lim seorang pelukis, mungkin ia akan membawa kanvas dan melukiskan indahnya kerlip keemasan laut itu dengan cat minyaknya. Ya, itu cita-citanya saat masih kecil, sebelum orang tuanya menentangnya.

Tidak berguna, begitu kata orang tuanya, membuat ia harus pasrah menjalani hidup sesuai keinginan orang tuanya, bukan karena dirinya sendiri.

“Hye Lim!!”

Hye Lim menoleh ke arah suara. Ia dapati seorang lelaki dengan kaos bermotif sama berlari kecil menghampirinya setelah keluar dari mobilnya. Hye Lim tersenyum kecil.

“Maaf lama. Tadi jalanan cukup macet.”

Hye Lim hanya mengangguk, lalu mengalihkan pandangan. Lagi-lagi menatap laut luas dengan 2-3 kapal berlayar di depan matanya.

“Kau marah?”

Hye Lim menggeleng.

“Oh…”

Lelaki itu berdiri menatap laut dan memegang pembatas besi setinggi perutnya, sama seperti yang dilakukan kekasihnya. Ia menghela napas ketika rambut pendeknya terkena angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.

“Hye Lim…” Lelaki itu akhirnya berbicara. Hye Lim menoleh.

“Kenapa kau memanggilku kemari? Sebenarnya, hari ini aku masih sibuk dengan kegiatan sekolah demi menyambut ulang tahun sekolah. Bisakah kau percepat urusannya?”

Hye Lim hanya mengernyit, semakin tak mengerti atas ucapan kekasihnya.

“Maaf, tapi aku janji, lain kali aku akan…”

Oppa.”

Lelaki itu diam. Ia siap mendengarkan ucapan marah kekasihnya.

“Do Kyung Soo oppa…”

Lelaki bernama Kyung Soo itu mengangguk.

“Bagaimana kalau kita akhiri?”

Kalau saja lelaki itu makan saat itu, bisa dipastikan ia tersedak. Tapi sayangnya cerita mereka tidak se-dramatis itu. Mungkin cerita mereka nampak seperti drama ketika si lelaki membelalakkan matanya karena terkejut. Oh, ya. Ini biasa terjadi di dunia nyata, jadi ini tidak seperti drama.

“Apanya?” tanya Kyung Soo, berharap pikiran buruknya tidak sesuai kenyataan.

“Ya, hubungan kita.”

Kyung Soo tertawa kecil, lalu berkacak pinggang. “Hye Lim, jangan bercanda! Cepat katakan apa yang ingin kau katakan, aku tak punya banyak waktu.”

“Barusan kukatakan.”

“Hye Lim!”

Hye Lim tersenyum mendengar Kyung Soo membentaknya. Kyung Soo menghela napas, lalu kembali berbicara dengan nada yang lebih rendah, namun tetap penuh emosi, “Kenapa?”

“Karena oppa membosankan.”

Kyung Soo kembali tertawa kecil, tak habis pikir pada gadis yang ada di hadapannya. “Membosankan? Bukankah kau sendiri yang memberikan syarat-syarat aneh padaku?”

Hye Lim mengernyit, tak paham maksud Kyung Soo.

“Kau sendiri yang bilang bahwa aku tidak boleh memelukmu atau menciummu. Dan lagi…”

“Ah, bukan oppa. Ini tak ada kaitannya dengan kontak fisik yang biasa-biasa saja. Oppa pikir berpacaran sama dengan memperlakukan kekasih dengan semaunya? Ayolah oppa…”

“Lalu kenapa?”

Ya. Dari tadi yang membuat Hye Lim bingung mengatakannya adalah alasan yang harus ia utarakan pada Kyung Soo, kenapa dia ingin sekali menyudahi hubungan yang masih berjalan 4 bulan. Memangnya Kyung Soo salah apa hingga Hye Lim harus menyudahi hubungan mereka? Selama ini Kyung Soo selalu baik padanya, tidak pernah memarahinya, selalu mengalah padanya…

Kyung Soo sempurna baginya. Sial.

Tapi kenapa 2 bulan terakhir ini gadis cantik itu merasakan sesak teramat sangat di dadanya? Ia tidak tahu. Yang ia tahu pasti, rasa sesak itu muncul ketika ia merasa hubungan antara ia dan Kyung Soo tidak pada tempatnya. Tidak sesuai. Meskipun mereka seangkatan, namun pada kenyataannya, Hye Lim lebih tua daripada Kyung Soo. 6 bulan.

Ada satu saat di mana Kyung Soo sangat kekanak-kanakan, tapi Hye Lim berat memutuskan hubungan di antara mereka. Jaman sekarang, lelaki sopan santun, baik hati dan lembut seperti Kyung Soo jarang ditemui. Tapi…

Tidak baik ‘kan, memendam rasa yang membuatmu sesak?

Hye Lim sibuk mencari alasan untuk mengakhiri hubungan di antara mereka berdua belakangan ini, namun nihil. Tak ada alasan yang tepat. Kyung Soo tak pernah melakukan hal yang mengecewakannya.

Mungkin Hye Lim hanya merasa bosan?

Tidak. Hye Lim bukan tipe gadis yang suka mempermainkan hati pria. Bahkan Kyung Soo cinta pertamanya.

Kyung Soo bosan menunggu jawaban Hye Lim. Ia menghela napas dan berdiri di dekat Hye Lim, menatap mata gadis itu cukup intens.

Kali ini Kyung Soo berusaha sabar. Ia mengalihkan pandangannya ke langit, memberikan waktu lebih banyak pada Hye Lim, berharap gadis itu berubah pikiran. Gadis yang terlalu banyak berharap padanya hingga menolak dipanggil Nuna dan malah memanggil Kyung Soo dengan sebutan Oppa.

“Kau tahu alasanku, mengapa aku memanggilmu oppa?”

Kyung Soo kembali menatap wajah gadis itu. Perlahan, Kyung Soo mengangguk. “Karena kau ingin aku menjadi lebih dewasa, ‘kan?”

Hye Lim mengangguk. Sial! Dia tahu jawabannya!

Ia semakin bingung. Kira-kira bagaimana mengatakannya pada Kyung Soo?

Ia pernah menceritakan rasa sesaknya pada Joo Hee, sahabatnya. Dan Joo Hee bilang lebih baik Hye Lim jujur saja. Di awal memang menyakitkan, tapi pasti akhirnya tak akan ada yang dirugikan.

“Maaf, Kyung Soo-shi. Aku pikir, aku tidak bisa melanjutkannya. Itu saja. Aku tidak tahu kenapa…”

“Hye Lim, aku mohon… Jangan ucapkan hal yang tidak ingin aku dengarkan.”

Dan baru kali ini Kyung Soo memohon padanya, setelah selama ini Hye Lim yang terlalu banyak memohon pada Kyung Soo.

“Tapi…”

Hye Lim menggigit bibirnya. Ia sangat ingin hubungan antara mereka berdua berubah. Lebih baik berteman, tak perlu menjalin hubungan yang lebih serius. Hye Lim terlalu cepat mengambil keputusan saat itu. Saat Kyung Soo menyatakan cintanya melalui pesan singkat.

Sama sekali tidak jantan.

“Aku hanya tidak bisa meneruskannya. Maaf. Aku yakin kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dariku.”

Kyung Soo cukup berat mendengarnya, namun akhirnya ia hanya tersenyum dan berkata, “Baiklah. Terserah Nuna.”

Hye Lim mengangguk. Ia menghela napas lega, walau tak sepenuhnya lega. Masih saja ada yang mengganjal di hatinya. Namun tak apa, sebagian bebannya telah terangkat, maka ia tak perlu pusing akan sisanya. Bisa dipikirkan sambil lalu.

Kini ia tak acuh pada Kyung Soo yang berdiri mematung menatap langit dengan kedua tangannya di dalam saku jeans-nya. Bukankah tadi ia bilang ia ada acara di sekolah? Kenapa sekarang ia masih di sini?

Hanya sesaat Hye Lim mengernyit dan bertanya-tanya, lalu kini pikirannya melayang ke hal lain. Yah, sekarang urusan Kyung Soo bukan lagi urusannya.

Ia membuka handphone-nya dan membuka aplikasi internet, berniat untuk memberitahukan pada dunia bahwa sekarang ia merasa lega. Namun ia terkejut ketika salah satu adik kelasnya memamerkan foto mesranya bersama orang yang ia kenal.

Kyung Soo.

Oh, iya. Hye Lim baru ingat. Kyung Soo adalah salah satu anggota OSIS yang cukup populer di kalangan adik kelas. Pernah ia lihat Kyung Soo berduaan dengan adik kelas perempuannya sedang tertawa—entah karena apa—di sudut kantin. Mungkin itu alasan utamanya?

Tapi belum tentu Kyung Soo selingkuh ‘kan?

Hye Lim tersenyum lebar ketika di bawah foto itu tertulis jelas status si adik kelas “bersama pacarku, Kyung Soo oppa.”

Baiklah. Kini ia punya alasan yang tidak akan membuat Kyung Soo sakit hati ataupun ia yang sakit hati. Ia sungguh percaya diri bahwa tak akan ada pihak yang merasa tersakiti.

“Kyung Soo-shi..” Hye Lim berjalan menghampiri Kyung Soo dan menggenggamkan handphone miliknya—hadiah ulang tahun dari Kyung Soo 3 bulan lalu—dan juga melepaskan kalung berliontin bunga mawar—hadiah dari Kyung Soo ketika tahu Hye Lim menjadi juara umum di sekolah mereka.

Kyung Soo mengernyit, lalu matanya terbelalak ketika melihat foto yang ada di handphone Hye Lim.

Nuna, aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Tidak perlu. Aku pikir dia lebih cantik dariku. Ah, aku terlalu tertutup pada adik kelas, jadi aku tidak terlalu terkenal. Sementara kau sangat populer di kalangan adik kelas. Ngomong-ngomong, siapa namanya? Dia sangat manis, sungguh.”

Nuna… Aku…”

“Kira-kira, masih adakah lowongan untuk menjadi bagian dari OSIS? Aku ingin sama populernya denganmu, mungkin aku bisa mendapatkan pacar yang lebih tampan darimu.” Hye Lim tertawa lepas. Sungguh, ia tidak berniat menyindir. Dia hanya terlalu senang ketika tahu Kyung Soo selingkuh di belakangnya. Aneh memang. Mungkin rasa sesaknya adalah peringatan baginya.

“Oh, kalau dipikir ulang, mungkin tidak usah. Aku trauma berpacaran dengan lelaki yang lebih muda.”

Kali ini Kyung Soo tak berniat untuk membantah ataupun menjelaskan semuanya.

“Terima kasih atas segalanya, Kyung Soo-shi. Aku mencintaimu. Aku turut senang ketika kau mendapatkan gadis yang lebih baik dariku!!”

Hye Lim membalikkan badan dan melompat setinggi mungkin, tak peduli perasaan bersalah bertubi-tubi menghantam hati nurani Kyung Soo. Hye Lim merasa terbang sekarang. Hye Lim tertawa sekeras-kerasnya. Ia mulai membayangkan apa saja yang ingin ia lakukan demi merayakan status barunya sebagai seorang single.

Dulu ia pikir, orang berstatus single sama sekali tak berarti di dunia ini, melihat teman-temannya selalu mengadakan kencan di hari-hari tertentu. Setiap tanggal 14 misalnya. Ia hanya akan merayakan Black Day pada tanggal 14 April atau Yellow Day pada tanggal 14 Mei. Ya, menikmati jjangmyun—mi hitam—atau memakai baju berwarna kuning pada tanggal-tanggal yang dikhususkan untuk para single, diiringi tatapan mengejek dari pasangan kekasih yang lewat di depannya.

Tapi sekarang Hye Lim sadar, ia sama sekali tidak cocok dengan hal semacam itu : bergandengan tangan, bermesraan di depan umum, pamer foto selca berdua… itu sama sekali bukan dirinya. Bebas, satu kata yang mampu menjelaskan Hye Lim apa adanya.

.

.

.

Kyung Soo menghela napas pelan. Kini ia berada di kamarnya yang bernuansa biru, berantakan sekali. Ia baru saja melampiaskan seluruh kekesalannya karena hari yang baru saja ia jalani kurang memihak padanya. Berpisah dengan Hye Lim, gagal menjadi ketua panitia Acara pentas seni Sekolah,bahkan ia dimarahi kakaknya karena pulang larut malam.

“ARGGHHH!!” Kali ini ia melemparkan fotonya bersama Hye Lim ke cermin lemarinya hingga pigura antik yang membingkai foto itu pecah bersamaan dengan runtuhnya serpihan kaca lemari.

“Berisik!!”

Joon Myun, kakak angkatnya yang awalnya akan kembali menasihati Kyung Soo dengan lebih panjang lebar—melebihi ibu mereka—kini terdiam melihat kondisi adiknya. Ya, tidak seperti biasanya ia begitu.

Tanpa berkata apa-apa, Joonmyun menarik tangan Kyung Soo dan mengajaknya ke ruang keluarga.

.

.

.

“Benar tidak apa-apa?” Joonmyun mengulangi pertanyaannya. Yang membuatnya kesal, sang adik hanya menjawab dengan anggukan sembari tersenyum, menyembunyikan segalanya.

Joonmyun mengerucutkan bibirnya, lalu menghela napas dan melipat tangannya. “Tapi hari ini kau aneh. Kau boleh mengatakan apa yang mengganjal di hatimu. Meskipun kau bukan adik kandungku, tapi tetap saja kau saudaraku. Maka berhentilah merasa canggung.”

“Aku benar-benar tidak apa-apa Hyung. Kau tidak percaya?”

“Iya. Tidak percaya. Seorang Do Kyung Soo tidak pernah marah sampai memecahkan kaca lemari seperti itu. “Joonmyun berdecak, “entah berapa kerugian yang sudah ditimbulkan dari ulahmu hari ini.”

Baiklah. Joonmyun berlebihan.

“Apa kau diejek temanmu lagi atas statusmu sebagai anak angkat?” Kali ini Joonmyun mulai menerka apa yang membuat Kyung Soo menjadi seorang monster, setidaknya di kamarnya sendiri.

Kyung Soo menggeleng.

“Kau dapat nilai E lagi untuk matematika? Aku sudah bilang ‘kan, kalau tidak bisa, kau harus minta Baekhyun untuk mengajarimu. Dia sangat baik.”

Kyung Soo kembali menggeleng.

“Apa..”

Hyung, kalau aku bilang aku tidak apa-apa, berarti tidak ada masalah.”

“Baiklah.” Joonmyun menyerah, lalu mengomel pada Kyung Soo, “kalau begitu, bersihkan kamarmu sendiri! Ingat! Selama seminggu penuh, Ayah dan Ibu pergi ke rumah nenek, jadi aku bertanggung jawab penuh atas dirimu! Mengerti?”

Kyung Soo mengangguk. Joonmyun pun mengambil sapu dan mulai menyapu setiap sudut ruang keluarga. Mata Kyung Soo mengikuti gerak-gerik ujung sapu, agaknya ia masih sedih. Sisa air matanya yang mengalir sebentar terlihat sekilas di mata Joonmyun, namun ketika adiknya bersikeras menutupi penyebab jatuhnya air mata seorang Kyung Soo, ia tak bisa berbuat apa-apa.

Hyung.”

Hm?”

Kyung Soo mengambil sesuatu di bawah kaki kakaknya. Sebuah plastik putih yang memiliki bulatan-bulatan kecil yang mengembung.

“Kenapa kau ambil bungkus televisi itu?” tanya Joonmyun dengan kernyitan di dahinya. Ya. Buat apa seorang Kyung Soo mengambil plastik itu? Plastik pengaman yang selalu ada di dalam kardus barang elektronik.

“Aku ambil.”

Kyung Soo melangkah gontai menuju kamarnya, meninggalkan Joonmyun yang masih ternganga atas ulahnya.

.

.

.

“Kau tahu ‘kan, Kyung Soo anak angkat di keluarga Kim?”

“Ya… betapa bodohnya dia. Mana mungkin ia tak ingin mengganti marganya demi keluarga barunya? Benar-benar tak tahu terima kasih!”

“Betapa beruntungnya dia diangkat menjadi bagian keluarga Kim yang hartanya tak akan habis sampai 17 turunan… Tapi dia tidak membalas kebaikan mereka! Dasar!”

Kyung Soo menggeleng pelan sambil memejamkan matanya saat ia mendengarkan bisik-bisik yang sangat jelas di telinganya. Sebentar kemudian, ia memilih untuk tak ambil pusing dan terus memakan sup iga sapi yang ia pesan.

“Hai.”

Kyung Soo tidak jadi memakan sesuap nasi yang akan ia santap, malah ternganga karena kedatangan seorang gadis yang duduk di depannya secara tiba-tiba.

“Bisa bantu pecahkan gelembung-gelembung kecil di plastik ini?”

Kyung Soo mengernyit. Terlebih saat sang gadis memaksakan tangannya memegang ujung plastik.

“Kau tahu ‘kan? Pecahkan seperti ini.” Gadis itu memecahkan gelembung-gelembung plastik dengan lincahnya. Kyung Soo hanya mengangguk, lalu mengikuti apa yang dilakukan gadis itu, walaupun ia masih bingung pada gadis itu. Mereka tak pernah bertemu sama sekali, sekalinya bertemu…

“Aku selalu melakukannya saat aku stres,” ucap gadis itu, “rasa penatku berkurang setelah memecahkan gelembung-gelembung plastik ini.”

Kyung Soo hanya menatap gadis itu lamat-lamat, masih tetap bingung atas tingkah gadis itu yang sangat aneh.

“Tadi aku dapat nilai E dalam pelajaran matematika. Aku juga dapat nilai C untuk ulangan Bahasa Inggris. Sial! Aku pikir aku dapat nilai A!”

Kyung Soo mengalihkan pandangannya pada gelembung-gelembung kecil itu. Ia berpikir sejenak. Bagaimana bisa memecahkan gelembung-gelembung kecil itu dapat membuat rasa penat berkurang?

“Aku senang ketika jari-jemariku mendapatkan tekanan udara yang keluar dari gelembung kecil ini. Mendengar bunyi ‘tik’ setiap gelembung ini pecah juga membuatku terhibur.”

Kyung Soo tertawa kecil. Ada-ada saja, pikirnya.

“Baiklah, aku rasa sudah pecah semua.” Gadis itu tersenyum setelah waktu berjalan di tengah keheningan antara mereka berdua. Ia pun pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan membawa plastik yang kini tak ada gunanya setelah semua gelembung-gelembung kecil itu pecah.

.

.

.

Pertemuan pertamanya dengan Hye Lim benar-benar tak terbayangkan sebelumnya. Kyung Soo tersenyum kecil demi mengenang masa-masa indah yang ia lalui bersama Hye Lim. Namun setelahnya, ia pikir itu sama sekali tidak membantu, malah membuat penyesalannya semakin besar. Ia melempar plastik yang dari tadi ia pegang ke segala arah, lalu berjalan menghampiri tape radio-nya dan mencari gelombang radio favoritnya.

No matter what they tell us
No matter what they do
No matter what they teach us
What we believe is true

No matter what they call us
However they attack
No matter where they take us
We’ll find our own way back

 

Tak dapat ia pungkiri, air matanya kembali mengalir. Sial.

.

.

.

“Hey, kau dengar berita terbaru? Kyung Soo menduduki peringkat satu lagi. Paralel.”

“Tidak heran. Dia anak keluarga Kim ‘kan? Bisa saja orang tuanya menyuap guru-guru di sini.”

“Tidak mungkin. Keluarga Kim bukan Keluarga gampangan seperti itu. Mungkin Kyung Soo memang pintar ‘kan? Keluarga Kim selalu memiliki generasi yang otaknya mumpuni.”

“Hey, apa kau lupa? Kyung Soo bukan keturunan asli keluarga Kim!”

Walau saat itu Kyung Soo tengah sibuk memilih buku pelajaran yang berderet rapi di rak buku perpustakaan, ia tetap merasa risih atas bisikan-bisikan yang selalu menimpanya. Apa mereka tidak punya hal positif yang harus dikerjakan? Kenapa harus menggosipkan Kyung Soo—bahkan ketika berada di dekat Kyung Soo?

Tapi Kyung Soo orang yang cukup sabar. Sekali lagi, ia hanya menghela napas dan mengabaikan ucapan-ucapan buruk tentangnya.

Kyung Soo memilih tempat duduk yang cukup jauh dari sekumpulan anak-anak yang menggosipkannya tadi. Ia rasa ia harus menjauhi mereka demi menjaga kesabarannya yang untuk saat itu masih stabil.

Namun mereka mengikuti Kyung Soo dan mulai menggosipkannya lagi.

Saat Kyung Soo beranjak pergi, Hye Lim duduk di sampingnya dan memasangkan headset di telinga Kyung Soo.

“Aku tidak suka genre lagu semacam ini.” Kyung Soo melepas headset sambil berkata lirih, mengingat kini mereka berada di ruangan yang tidak memperbolehkan siapapun bersuara.

Hye Lim masih sibuk merangkum pelajaran dari buku paket yang baru saja ia ambil. “Diam dan dengarkan saja.”

Entah mengapa, Kyung Soo mematuhi ucapan Hye Lim. Ia pun memasang kembali headset yang sempat ia lepaskan dan mendalami setiap kosa kata yang ia dengarkan.

And I will keep you safe and strong
And shelter from the storm
No matter where it’s barren
A dream is being born
No matter who they follow
No matter where they lead
No matter how they judge us
I’ll be everyone you need
No matter if the sun don’t shine
Or if the skies are blue
No matter what the end is
My life began with you

.

.

.

Air mata Kyung Soo kembali keluar walau hanya setitik. Ia  mematikan radionya, lalu berkacak pinggang.

“Kyung Soo bodoh!!”

Ya. Dia memang pantas mendapatkan julukan ‘bodoh’ di belakang namanya.

Hye Lim sudah berbaik hati menyatakan cinta terlebih dulu padanya, membuktikan pada orang lain bahwa Kyung Soo punya sisi lain yang tak pernah orang lain lihat, bahwa Kyung Soo jauh dari kata buruk. Hye Lim juga orang pertama yang mengetahui suara Kyung Soo bagai kicauan burung. Bukan. Bukan dari segi suara, tapi dari kesamaan efek samping ketika kau mendengarkan kedua suara yang jauh berbeda itu. Sama-sama menyejukkan. Sama-sama menenangkan.

Dan karena seorang Kyung Soo menjadi kekasih seorang Hye Lim, maka beberapa orang yang sempat menganggapnya remeh kini berubah pikiran.

.

.

.

Kyung Soo berjalan menyusuri koridor sekolah. Telinganya berusaha menangkap suara-suara ganjil, mengingat kemarin Hye Lim memutuskannya. Mungkin sekolah akan gempar dan siswa-siswa yang telah lelah menggosipkan kejelekan Kyung Soo akan kembali menuai aksinya. Seorang Hye Lim memutuskan Kyung Soo, pasti ada yang tidak baik dari Kyung Soo, mengingat Hye Lim adalah orang yang perfeksionis. Ya. Itu yang membuat Hye Lim tidak pernah jatuh hati pada seorang pria, kecuali Kyung Soo.

Tapi, nyatanya sekolah tidak dihebohkan oleh berita tentang mereka. Di majalah dinding pun hanya terpampang ramalan zodiak dan artikel-artikel tentang prestasi yang baru-baru ini diraih oleh siswa-siswa kebanggaan sekolah mereka.

Kyung Soo memelankan langkah kakinya ketika melewati kelas Hye Lim. Sayangnya, ia tak menemukan Hye Lim.

“Mungkin ia belum datang,” pikirnya. Ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.

Meskipun ia ingin mengalihkan pikirannya dari Hye Lim, ia  tak bisa mengalihkannya. Rasa bersalahnya malah membesar karena ia tak mau mematuhi ucapan Jong In, sahabatnya.

.

.

.

“Hei, apa-apaan ini?!”

Kyung Soo langsung merebut handphone-nya yang dipegang Jong In.

“Wah wah… Setelah mendapatkan Hye Lim dan image-mu berubah di mata orang, kau jadi playboy? Ck..Ck..”

“Bukan begitu!!” Saat Kyung Soo berusaha menjelaskan, Jong In memotong perkataannya,

“Kalau bukan, lalu apa? Kenapa di handphone-mu banyak sekali foto-foto mesra dengan gadis selain Hye Lim? Lalu di kotak masukmu, kenapa semuanya memanggilmu ‘Sayang’ selain Hye Lim?”

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan! Aku hanya menyayangi mereka sebagai seorang adik! Sungguh!”

“Oh, Adik? Kalau begitu batasi hubunganmu dengan mereka, kau berlebihan!”

.

.

.

Kalau dipikir ulang, Kyung Soo memang berlebihan. Untuk kesekian kalinya, ia menghela napas, menyesali ulahnya. Dia lupa diri untuk sesaat. Padahal tanpa seorang Hye Lim, ia tak tahu bagaimana nasibnya sekarang. Mungkin masih banyak siswa yang mengejeknya hanya karena masalah sepele.

Tapi, sungguh… Meskipun Kyung Soo mulai berani mempermainkan gadis di sekolahnya, satu-satunya gadis yang mengisi ruang di hatinya hanyalah Hye Lim, tak ada yang lain.

Mungkin Kyung Soo masih butuh belajar bagaimana cara menjaga orang yang kita sayangi.

“Oh, Do Dio!!”

Kyung Soo menoleh. Ia mendapati Jong In berlari kecil menghampirinya.

“Ada apa?”

Jong In tersenyum kecil, lalu memberikan sebuah amplop berwarna biru padanya.

“Entahlah, tadi Hye Lim datang padaku dan memberikanku ini. Katanya ‘berikan pada Kyung Soo-ssi’. Kalian sudah putus?”

Kyung Soo memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Jong In dan mengambil surat di tangan Jong In dengan kasar.

.

.

.

Hello Kyung Soo…

Maaf di surat ini aku tidak menyampaikan ucapan pembuka atau penutup. Isinya saja ya…

Hari ini aku berangkat ke London bersama kedua orang tuaku. Kau tahu ‘kan, aku ingin jadi ballerina?

Ah, sial! Padahal aku ingin bertemu dengan pacar barumu. Aku benar-benar penasaran padanya. Jika di lain waktu kita bertemu lagi, bisakah kau perkenalkan dia padaku?

Tapi, aku pikir, sebaiknya tidak usah. Mungkin sebaiknya kita tak pernah bertemu lagi. Kau tahu? Demi mendapatkan apa yang kita inginkan, harus ada yang kita korbankan. Suatu saat nanti, kita pasti akan mendapatkan yang lebih baik dari pada yang kita korbankan.

Maaf kalau selama ini aku punya salah padamu. Aku terlalu banyak menuntut padamu, aku ingin kau begini, aku ingin kau begitu… Aku tak pernah membiarkanmu bebas. Aku pikir aku telah melakukan banyak kesalahan padamu, maka dari itu aku pikir sebaiknya kita akhiri. Kau tak pernah salah padaku, Kyung Soo… Aku hanyalah gadis yang tak pantas memiliki lelaki sepertimu.

Bahkan teman-temanku bilang, pukulanku sama dengan colekanmu. Ya… Menurutku kau terlalu baik padaku. Ketika aku marah padamu, kau selalu tersenyum padaku, berusaha membuatku tersenyum lagi, padahal sudah jelas aku yang salah. Aku yang egois. Tapi kau selalu mengalah untukku.

Makanya, aku pikir, jika lain waktu kita bertemu lagi, aku hanya bisa menyakitimu. Aku harap kau bisa menemukan gadis yang lebih baik dariku.

Ah, pasti kau bisa! Kau lelaki terbaik yang pernah kutemui!

Maaf sekali lagi, kalau…

Isi suratku terlalu absurd. Aku ingin mengucapkan kalimat perpisahan padamu secara langsung kemarin, tapi aku bingung. Aku tidak bisa menyakitimu, rasanya berat sekali saat ingin mengutarakan keinginanku untuk berpisah denganmu. Kau terlalu baik.

Dan akhirnya…

.

.

.

Kyung Soo meremas surat itu tepat setelah setetes air matanya turun.

“Hey? Kau kenapa?”

Kyung Soo mengabaikan Jong In dan berjalan gontai, entah kemana. Ia pergi menjauh dari ruang kelasnya. Ia terlalu putus asa dan terlalu menyesal. Akhirnya ia kehilangan gadis yang paling ia cintai.

Bahkan saking terpuruknya, ia tak sanggup membaca lanjutan suratnya.

.

.

.

Aku hanya ingin bilang, aku mencintaimu. Aku tak akan pernah melupakanmu.

.

.

//

6 thoughts on “EXO Series : D.O – Loving You, Losing You

  1. halo saaasaaa, saya muncuuuulll😀
    pas buka email muncul sasphire baekhyun blue cactus, dan karena saya senggang saya muncul deeeh \(‾▿‾\) \(´▽`)/ (/‾▿‾)/
    hee, ternyata ada series D.O ya sudah saya baca dulu yg ini😀

    waah, ffmu selalu keren, gaya bahasanya juga tambah rapi, makin meningkat terus kamunya saeng.
    tapi tapi ini karena akunya yg gag konsen ato emg otakku lagi error ffnya gag nyesek sampai ke hati😦
    hmm, aku bingung disini mau nyalahin kyungsoo atau hye lim, mereka sama sama salah siih, trus trus kyungsoo-nya ganjen amat sih -_-
    si suho malah udh kyk emak emak mikirin hutang -_- aduh ini ff entah kenapa bikin akunya bingun harus kayak mana😀

    heee, karena udh buntu sampai disini aja deh komen.nya
    saengiieee, hwaiting nee😀

  2. sasa itu maksud di ahir apaan? kyungsoo sempet baca tapi sedih ato saking sedihnya dy ga baca itu kalimat terakhir??? huhuhu T-T
    brarti sebenernya mreka saling cinta kan tapi tapi …harus berpisah karna hyelim pergi ke london demi impiannya sbg balerina…

  3. Anyeong ^^
    aq yg mnt review FF Aboji tuh loh..hehehe.. stlh aq baca profilny, rpny dongsaeng toh😀
    ga nyngka ya msh unyu tp brhsil buat FF bhkan wallpaper yg aq liat d blog ini dgan bgtu apik nya. aq sbg eonni kalah saing.. kkk~

    ok dh lgsg aj k comment FF Loving You Losing You ini. ..
    keterlaluan banget si Hye Lim ya. OMG.. udh dptn D.O mlah mutusin. Ya aq tau mksdny Hye Lim apa.. di mutusin DO krna mau pergi ke London kan? nd psti dy ga mau DO sedih klo msih sttus pcran n dy mlah nggal k luar negri *sok tau bnget ni reader… -____-

    keren crtny… brasa nonton film di khayalanku. hhehehe…
    aq tggu saeng FF slnjutnya ^^

    fighting

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s