[Nightmare Maker] The Secret [2/2]


Terkadang, agar tidak merasakan kesedihan yang mendalam saat kita tahu bahwa kita tidak bisa hidup di masa lalu yang penuh kenangan indah, kita memilih untuk melupakannya, Sehingga yang ada hanyalah rahasia yang kau pendam sendiri.

Dan terkadang, demi menghindari rasa bersalah atas kesalahan yang kau perbuat, baik disengaja atau tidak, kau mengubah kenangan yang ada di benakmu, dan itu terjadi selama beberapa waktu dan kau terbiasa membayangkan kenanganmu yang salah. Membiarkan rahasia kebenaran tinggal di suatu tempat yang sangat tersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk terkuak.

.

.

.

Mereka tak akan pernah menyentuhmu, apalagi membunuhmu…

tapi jika ‘mereka’ menyayangimu…

Sangat menyayangimu…

mungkin akan lain ceritanya…

 

Dan kau tahu?

Ara sangat menyayangi Kakaknya, Chanyeol

.

.

.

the-secret

Yoo Ara as Park Ara (Chanyeol’s younger sister)

Park Chanyeol as Park Chanyeol (Ara’s older brother)

Lee Teuk as Park Jung Soo (Ara and Chanyeol’s Father)

Family, Horror, Sad | Not for under +16 Age

Note :

Inspired by The Devil Twins (Starring Park Shin Hye)

Perhatikan tanda waktu karena di part ini banyak sekali alur campuran

Soundtrack : Son Ho Young – Only Wanted You

[Part 1]  [Part 2 – FINAL]

21 Januari 2013, 02.44 KST

Nafas Chanyeol tersengal-sengal saat mengangkat sebagian tubuhnya untuk bangun. Matanya terbelalak, menatap setiap sudut ruangan dengan awas. Ia tak tahu apakah apa yang ia rasakan itu nyata, tapi ia merasa ada seseorang yang berhasil memasuki kamarnya dan membuat sedikit suara gaduh.

“Tak ada seseorang,” pikirnya. Ia menenangkan pikirannya dan memutuskan untuk kembali tidur.

Baru saja ia memejamkan matanya, ia mendengar adanya suara barang yang berpindah tempat, atau semacam hal mengerikan lainnya jikalau keadaan kamar tengah gelap dan tak ada siapa-siapa di kamar, kecuali dirimu dan roh yang ada di dalam tubuhmu.

Ia tak menemukan keganjilan apapun, tanpa ia sadari celah-celah jendela sedikit terbuka.

“Kalau kau mau main-main, aku sedang tidak nafsu,” ucap Chanyeol, berusaha menenangkan. Kali ini ia benar-benar ketakutan. Kali ini ia merasakannya dengan kelima indranya yang lengkap, tak hanya sekedar menonton di layar kaca televisi maupun di depan laptop bersama teman-temannya. Kali ini nyata.

Chanyeol cukup takut untuk kembali memejamkan mata. Ia takut ada hal-hal yang tidak ia inginkan terjadi saat matanya tak terbuka.

Namun telah lama waktu bergulir, Chanyeol tak merasakan apa-apa. Ia menggerutu kesal, bukan karena dirinya yang terlalu takut, bukan karena ulah ‘makhluk halus’ yang mengganggunya, namun ia menggerutu karena Ayahnya telah membawanya ke sebuah daerah yang ia tidak ingat sama sekali seluk-beluknya.

Ia kembali memutuskan untuk berbaring dan tidur.

Saat ia hampir memasuki alam bawah sadarnya, ia merasakan ada jari-jemari yang dingin dan kaku mulai meraba perutnya. Matanya terbelalak. Bahkan selimut tebalnya tak mampu menahan rasa dingin dari kulit tangan yang kini mendekap perutnya dengan erat.

Dan kini punggungnya merasakan belaian dari sebuah benda yang berbentuk sedikit bulat dengan serabut-serabut halus yang terus membuatnya merasa geli karena bergerak secara liarnya. Kerongkongannya tercekat, bingung hendak berkata apa. Berteriak pun rasanya tak kuat.

Perlahan, ia menoleh ke belakang dan mendapati kepala seorang gadis…

Dan kini gadis itu mengangkat wajahnya yang tertutup oleh seluruh rambutnya.

AAAAA!!!”

Chanyeol melompat dari atas ranjangnya dan menatap sosok asing itu dengan mata terbelalak.

Oppa.…”

Sebelumnya ia merasa iba dengan rintihan itu, tapi sekarang, setelah ia merasakan hawa-hawa aneh yang memancar dari sosok asing itu, ia ketakutan. Ia berlari keluar kamar dan mencari Ayahnya.

“Ayah!!”

Chanyeol membuka pintu kamar Ayahnya dengan tergesa-gesa, namun ia tak menemukan Ayahnya. Chanyeol pun mencari Ayahnya di dapur, di kamar mandi, di ruang tamu, dan di ruangan lain dalam rumahnya, namun ia tetap tak menemukan sosok Ayahnya.

“Ayah!! Ayah!!”

Ia berlari ke luar rumah dalam kepanikan yang sangat luar biasa menghantuinya. Namun kali ini, ia bisa bernafas lega karena ia menemukan sosok Ayahnya sedang berdiri tegap di tengah halaman.

“Ayah…”

“Kenapa, Chanyeol? Kau berteriak sangat kuat tadi, membuat khayalan Ayah menghilang,” ucap Tuan Park sambil terkekeh.

Chanyeol menelan ludah, lalu berbicara, “Ayah, kapan kita pergi dari sini?”

Tuan Park mengernyit. “Kenapa kau menanyakannya?”

“Kapan kita pergi dari sini?” Chanyeol mengulangi pertanyaannya, merasa tak penting untuk menjawab pertanyaan Ayahnya yang tak bisa menangkap rasa takut mendalam yang terpancar dari wajah anak semata wayangnya.

“Kan Ayah sudah bilang, 2 minggu lagi, setelah investor datang ke sini. Kenapa?”

Karena sudah 2 kali Ayahnya melontarkan kata tanya yang sama, akhirnya Chanyeol memilih untuk menceritakannya.

“Dari tadi, seorang gadis—atau mungkin sesosok arwah—mengikutiku terus-menerus dan memanggilku ‘oppa’. Wajahnya sangat menyedihkan, Ayah. Raut wajahnya seperti menangis sepanjang waktu…”

“Baiklah, hentikan.” Tuan Park menghela nafas berat, seolah apa yang diutarakan anaknya berkaitan erat dengan masalah di kehidupan pribadinya.

“Beritahu Ayah di kamar mana kau tidur.”

Chanyeol mengikuti langkah Ayahnya dengan ragu, namun ia memilih untuk memegang erat lengan mantel Ayahnya. Ia benar-benar trauma pada kejadian yang ia alami.

Aish.. kau laki-laki kebanggaan Ayah kan? Kenapa menjadi penakut begini?”

“Ayah tidak tahu apa yang kualami.”

Saat sampai di lantai 2, Chanyeol menunjuk ragu sebuah kamar yang pintunya terbuka lebar. Dapat terlihat jelas hanya ada cahaya redup lilin di sana.

Kamar itu…

“Harusnya kau jangan tidur di situ, itu bukan kamarmu. Tidurlah di kamar lain.”

Chanyeol mengangguk cepat, lalu bertanya pada Ayahnya, “Aku harus tidur di mana?”

Tanpa berkata apapun, Tuan Park menunjuk satu kamar kosong yang juga berada di lantai 2.

“Dulu itu kamarmu. Kau tahu, tidak baik tidur di kamar yang bukan milikmu. Harusnya kau tanya dulu pada Ayah.”

Chanyeol tahu bahwa mood Ayahnya sedang tidak baik setelah Chanyeol bersifat kekanak-kanakan sebelumnya. Sang Anak menyesal dan membungkukkan badan serta meminta maaf, namun Sang Ayah tak memberi respon berarti dan dengan santainya menuruni tangga demi memasuki kamar pribadinya untuk tidur.

Chanyeol menghela nafas, lalu memasuki kamar yang ditunjuk Ayahnya. Namun sial, ia baru ingat bahwa semua barangnya ada di kamar tempat ia tidur sebelumnya.

“Akan kuambil besok pagi,” desahnya pelan. Kali ini ia tak ingin mengambil resiko untuk tidur di kegelapan. Ia memencet saklar lampu dan lampu pun menyala. Kebetulan cahayanya lebih terang dari kamar sebelumnya, bercahaya putih, sementara di kamar sebelumnya cahaya lampu yang menerangi ruangan berwarna kuning kecoklatan hingga tak menimbulkan ketenangan sedikitpun.

Chanyeol pikir kali ini ia bisa bernafas dengan tenang, namun tidak setelah sebuah diary berwarna merah marun tiba-tiba terjatuh di hadapannya.

“Apa lagi, sih?”

Dan jendela yang awalnya tertutup rapat kini terbuka dengan cara tak wajar hingga angin yang cukup besar memasuki ruangan, membuat lembar demi lembar buku harian itu tersingkap. Mau tak mau, Chanyeol harus membaca apa yang tertulis di buku harian itu, setidaknya itu maksud dari keganjilan pertama yang Chanyeol rasakan di kamar yang baru ia masuki itu.

.

.

.

21 Januari 2013, 03.04 KST

Park Jung Soo, seorang kepala keluarga Park yang sukses dan memiliki harta yang tak terkira itu tak segagah yang banyak orang kira. Ia hanyalah orang tamak dan kikir, namun berusaha bersikap bijak di depan calon pewaris tahtanya. Tak jarang para karyawannya berbisik di belakangnya, membicarakan sikapnya yang terlalu berambisi dalam mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan.

Kehidupannya pun tak selancar yang ia inginkan. Ia selalu bekerja keras selama ini hanya demi mengalihkan pikirannya atas kejadian 10 tahun yang lalu.

Kejadian yang membuat ia selalu dihantui rasa bersalah.

19 Januari 2003

“Hei, kau!!” Chanyeol menggoda adik perempuannya, Ara, dengan merebut boneka beruang kesayangan Ara, lalu membawa boneka itu lari ke papan kayu yang menjorok ke tengah danau.

“Dasar adik jelek!!” Chanyeol tertawa puas melihat adik kecilnya jatuh bangun mengejarnya. Adiknya memang lemah dalam urusan olahraga, namun ia cukup pintar dibandingkan kakaknya. Itu yang membuat ia sedikit membenci adiknya.

Oppa, hentikan! Aku lelah!”

Chanyeol berhenti di ujung papan karena memang tak memungkinkan baginya untuk terus berlari. Ia tetap tertawa dan menggoda adiknya dengan mengangkat boneka beruang itu cukup tinggi, hingga adiknya kepayahan untuk terus melompat demi mendapatkan bonekanya kembali.

Oppa, berikan padaku!”

“Tidak mau! Kau kan orang jahat!”

Ara menghela nafas pelan setelah berlari, jatuh, dan kini harus melompat. “Kenapa oppa terus-terusan mengataiku ‘jahat’? Ayolah Oppa, kembalikan bonekaku.”

“Oh, kau tidak tahu? Ibu meninggal tepat setelah melahirkanmu! Maka dari itu kau orang jahat!”

Oppa!” jerit Ara, “aku akan mengadu pada Ayah kalau Oppa…”

“Apa?!” Gertak Chanyeol, lalu kemudian ia tertawa nakal, “Ayah juga membencimu tahu!”

Dan saat itu Tuan Park hanya mengawasi mereka dari tepi danau, menangkap sebagian percakapan yang keluar dari mulut kecil mereka. Ya, Tuan Park hanya merasa apa yang dikatakan Chanyeol memang benar adanya. Setelah melahirkan putri mereka, sang istri yang sangat ia cintai harus meninggal karena kehabisan banyak darah. Ada sedikit rasa benci di dalam hati Tuan Park.

Di saat ia mengenang beberapa kenangan indah saat sang istri masih hidup, ia harus mengakhiri kegiatannya dan berlari menghampiri kedua anaknya yang jatuh ke danau.

“Ayah!! Ayah!!”

Keduanya berteriak.

Mereka berdua jatuh saat Ara berhasil merebut boneka beruangnya, namun Chanyeol tetap menarik paksa boneka beruang itu, hingga keduanya kehilangan keseimbangan dan jatuh.

“Ayah!!”

Tentu saja naluri seorang Ayah terdapat dalam diri seorang Park Jung Soo. Ia mengulurkan kedua tangannya yang langsung digenggam oleh kedua anaknya.

“Ayah!!” Ara memegang tangan kanan Tuan Park dan Chanyeol memegang tangan kirinya.

“Ayah!! Tolong aku!!”

Tentu saja sulit untuk menarik keduanya secara bersamaan. Tuan Park terlalu bingung memikirkan bagaimana caranya agar kedua anaknya selamat.

Kau tak perlu menolong anak perempuanmu… Dia tak berhak menjadi pewaris sah harta keluarga Park… Pertahankan Chanyeol, kau butuh lelaki tangguh untuk menjadi penerusmu.”

“Jangan, tolonglah keduanya, bagaimanapun, Ara adalah putrimu, kau tahu?”

Dan ternyata, pikiran akan harta telah mengalahkan semua kebaikannya sebagai seorang Ayah. Ia melepaskan tangan Ara dan menggendong Chanyeol ke tepi danau di saat Chanyeol mulai kehilangan kesadarannya, membiarkan Ara menatapnya sedih dan larut dalam genangan kesedihan yang amat menyakitkan.

“Ayah… Oppa…”

.

.

.

20 Januari 2003

Karena Tuan Park termasuk orang yang tertutup dengan lingkungan sekitar, maka tak ada seorangpun yang menyadarinya bergegas pergi untuk pindah. Chanyeol masih shock setelah melihat adiknya tenggelam dan sampai saat itu tubuh Ara tak muncul ke permukaan.

“Ayah… Bagaimana dengan Ara?”

.

.

.

Present

Ayah Chanyeol akhirnya terlelap setelah menangisi perbuatannya di masa lalu. Namun terlambat. Tak ada gunanya menyesal.

.

.

.

Terkadang, demi menghindari rasa bersalah atas kesalahan yang kau perbuat, baik disengaja atau tidak, kau mengubah kenangan yang ada di benakmu, dan itu terjadi selama beberapa waktu dan kau terbiasa membayangkan kenanganmu yang salah. Membiarkan rahasia kebenaran tinggal di suatu tempat yang sangat tersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk terkuak.

 

.

.

.

Chanyeol telah membaca beberapa lembar halaman awal dan kini ia membaca sampai pertengahan halaman.

Buku Harian Park Ara

15 Januari 2003

Aku sangat senang memiliki kakak seperti Chanyeol Oppa. Meskipun ia sering bilang bahwa ia membenciku, namun aku tahu dia menyayangiku sama seperti aku menyayanginya.

Dulu sekali, aku pernah jatuh di bak pasir karena didorong oleh teman-temanku saat di TK. Chanyeol Oppa yang saat itu SD kelas 4 langsung datang menghampiriku dan menggendongku yang menangis tersedu-sedu karena lututku terluka. Chanyeol Oppa juga memarahi teman-teman yang mengejekku—karena aku tak punya ibu, teman-teman juga ragu kalau aku punya Ayah—dengan berkata,

“dia adikku. Jangan ganggu dia lagi.”

Chanyeol Oppa terlihat keren…

 

16 Januari 2003

Belakangan ini, Chanyeol Oppa sering mengajakku bermain, walau disela-sela candaannya ia tetap berkata padaku bahwa aku adalah penyihir jahat. Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kami bisa bermain bersama. Setidaknya aku harus berterima kasih pada Ayah. Karena Ayah sibuk dan tidak mempedulikan kami, maka Chanyeol Oppa merasa kesepian dan hanya akulah satu-satunya teman bagi Oppa di rumah tua ini.

 

17 Januari 2003

Kata Oppa, liburan tidak pernah menyenangkan karena Ayah selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Liburan kali ini pun Ayah menitipkan kami pada tetangga. Tapi, mau liburan seperti apapun, bagiku akan selalu menyenangkan asalkan Oppa yang selalu kukagumi ada di sisiku.

Bahkan sekarang Oppa bisa tersenyum lebar di depanku. Aku tidak pernah merasakan kebahagian sebagai seorang adik seperti ini.

 

18 Januari 2003

Aku ingat perkataan temanku yang katanya iri padaku karena aku punya seorang kakak lelaki yang gagah berani. Berbagai temanku banyak yang mengeluh karena keinginan mereka untuk punya kakak laki-laki yang hampir sempurnya sepertiku tidak terwujud. Ada yang malah punya adik laki-laki yang merepotkan, punya adik kembar yang selalu merobek baju boneka barbie mereka, punya saudara kembar yang lawan jenis, atau punya kakak perempuan yang umurnya sudah terpaut jauh.

Aku semakin bangga pada kakakku. Ia memang selalu melindungiku, apapun yang terjadi padaku, meskipun ia bilang ia benci padaku. Suatu saat, aku pasti akan dengar dari mulut Oppa bahwa Oppa menyayangiku sama seperti yang biasa kulakukan setiap hari.

Hati Chanyeol tersentuh melihat barisan-barisan huruf yang masih kekanak-kanakan itu. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan melihat Ara—adiknya yang kini ia yakini sebagai arwah—menatapnya sedih.

Ara sangat ingin menyentuhnya, terlebih memeluknya. Namun tak bisa. Chanyeol telah berteriak ketakutan sebelumnya, dan Ara tak ingin Chanyeol pergi menjauhinya karena ketakutan.

Lagipula Ara butuh mengerahkan seluruh tenaganya hanya demi menyentuh benda sekecil jarum pun, mengingat bahwa sekarang ia adalah makhluk yang tinggal di dimensi yang berbeda.

Ara mengambil sebuah pensil tua yang lapuk—bekas pensilnya 10 tahun yang lalu—dan mulai menuliskan lanjutan dari buku hariannya supaya Chanyeol dapat mengetahui bagaimana perasaannya di hari kematiannya. Agar Chanyeol mengingat semuanya.

19 Januari 2003

Aku dan Chanyeol Oppa berkejar-kejaran satu sama lain di atas papan yang menjorok ke danau pada pukul 10 pagi. Aku tertawa kecil melihat senyum nakal Oppa menghiasi wajahnya, seperti yang biasa ia lakukan selama ini. Ia merebut bonekaku, membuatku harus berlari.

Perlahan Chanyeol mengingat kejadian itu.

Namun, lama-kelamaan aku kesal karena aku kesulitan menggapai boneka beruangku yang ia pegang dengan erat dan terkadang ia lempar ke atas, membuatku semakin lelah untuk melompat.

Akhirnya aku berhasil menyentuh boneka itu, namun Chanyeol Oppa menggodaku lagi dengan menarik kasar boneka itu. Aku pun kehilangan keseimbangan dan jatuh ke danau.

Oppa!!”

Aku ketakutan karena aku punya penyakit asma. Chanyeol Oppa yang saat itu panik spontan melempar boneka beruangku ke segala arah dan mengulurkan tangannya padaku.

Namun, tubuh Oppa yang lebih besar dariku tetap tak mampu mengangkatku. Chanyeol Oppa ingin melepaskan tanganku, namun aku tidak mau. Aku terlalu takut, terlebih sekarang aku mulai sesak nafas.

“Tenang, Ara. Oppa akan segera kembali dengan Ayah. Oppa pasti akan menolongmu, ya? Untuk sementara, berpeganganlah pada tiang penyangga papan ini, ya?”

Oppa!!”

Oppa tak akan membiarkanmu sendirian di sini… kumohon, percayalah pada Oppa! Oppa akan segera kembali!”

Setelah itu, Chanyeol Oppa melepaskan tanganku dan…

“Cukup!!”

Ara menjatuhkan pensilnya karena kaget atas sentakan Chanyeol. Chanyeol merasa ketakutan karena ia pikir Ara akan balas dendam padanya.

Chanyeol kini ingat, saat itu ia mencari Ayahnya sambil berlari ketakutan. Ia cemas pada Ara, takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada Adik kecilnya yang harus ia jaga. Namun tidak mungkin juga kalau Chanyeol terus menemani Ara tanpa mencari bantuan.

Ia kesal pada Ayahnya karena meninggalkan mereka begitu saja. Selalu begitu, tanpa peduli anaknya selamat atau tidak, bertengkar atau tidak, bahkan kalau Chanyeol dan Ara mati kelaparan saat itu, tidak menutup kemungkinan Ayahnya tak peduli.

Akhirnya Chanyeol berhasil menemukan Ayahnya sedang sibuk mengatur orang-orang yang tengah mengukur luas lapangan rumpur yang berada di pinggiran desa. Chanyeol langsung menarik tangan Ayahnya dan pergi ke danau.

Namun saat Chanyeol kembali dengan Ayahnya, Ara tak lagi nampak di permukaan.

“Kau ingin balas dendam padaku?”

“Tidak Oppa, aku tahu itu bukan salah Oppa...”

Chanyeol benar-benar ketakutan. Kini ia berlari ke belakang rumah bagai orang kerasukan. Ia tak tahu harus pergi ke mana, yang penting ia harus lari.

25 Januari 2003

Ayah Chanyeol gelisah saat melihat Chanyeol terus-terusan menangis dalam diam setelah kejadian di danau. Chanyeol benar-benar merasa bersalah, terlebih ia mulai menyayangi adiknya. Bahkan ia membuat Ara mempercayainya. Chanyeol pikir ia tak pantas menjadi seorang kakak bagi adik yang terlalu baik padanya.

Ayah Chanyeol pun menghampiri anaknya di suatu pagi yang cerah.

“Chanyeol… Kejadian di danau, biar jadi rahasia kita berdua. Jangan pernah ceritakan pada siapapun, sekalipun pada orang yang paling kau percayai. Mengerti?”

Chanyeol mengangguk pelan dan menatap Ayahnya heran. Matanya masih berkaca-kaca, sisa dari kesedihannya.

“Semua yang terjadi hanyalah kecelakaan. Jangan pernah mengingatnya lagi, mengerti? Kalau suatu saat nanti kau mengingatnya, ingatlah, hari itu Ayah yang salah. Anggap saja kalian berdua sama-sama dalam keadaan bahaya dan Ayah memilihmu, karena Ayah lebih menyayangimu dari Ara.”

“Tapi, Ayah…”

“Kau tidak boleh larut dalam kesedihan. Kau tidak boleh hidup dalam kenangan, karena itu akan membuat langkahmu terhenti. Hidupmu masih panjang nak…”

Chanyeol yang polos bisa mencerna perkataan Ayahnya, namun ia tak mengerti kenapa Ayahnya melontarkan kalimat-kalimat berat untuk anak seusianya.

Ayah Chanyeol pikir, Chanyeol harus melakukannya. Melupakan adiknya dan terus hidup menatap masa depan.

.

.

.

Chanyeol berlari mengikuti kakinya yang bergerak liar, tanpa tahu akan di mana ia berhenti. Yang terpenting, ia harus berlari sejauh mungkin. Ia benar-benar ketakutan. Minta tolong pada Ayahnya pun rasanya percuma. Ia sudah berlari terlalu jauh di saat Ayahnya terlelap.

Dan akhirnya Chanyeol berhenti ketika sekilas melihat sekelebat bayangan Ayahnya di tengah-tengah hutan lebat yang ada di pinggir desa. Ia ingat, dulu di hutan itu, ia, Ara dan Ayahnya pernah bermain petak umpet. Mereka tak takut sama sekali karena nyatanya di hutan itu tak ada hewan buas sama sekali.

“Ayah?”

Ayahnya tersenyum padanya, lalu pergi ke arah yang berbeda.

“Ayah!! Jangan kembali!! Bisa saja Ara akan…”

Namun Ayahnya terlalu jauh. Ia mendengus kesal dan memutuskan untuk mengejar Ayahnya. Tapi, sangat mengherankan, Chanyeol yang selalu gesit dalam berlari, kini rasanya ia hanya berjalan. Lambat sekali.

“Ayah!! Kalau kau kembali ke rumah itu, kau dalam bahaya!!”

Ayah Chanyeol kembali menatap anaknya, dan tanpa berkata apa-apa, ia terus berjalan.

“Ayah!!”

.

.

.

Chanyeol menjerit sekeras-kerasnya saat melihat Ayahnya melompat dari atas papan ke dalam danau.

“Ayah!!”

Ia berlari menghampiri Ayahnya yang belum sampai satu menit tenggelam ke dalam danau. Ia menangis dan mengulurkan tangannya, berharap Ayahnya akan menyambut tangannya.

Namun betapa kagetnya ia ketika sebuah tangan putih pucat, dingin dan kaku memegang tangannya dengan erat. Ara pun muncul ke permukaan dengan menatap mata Chanyeol sendu.

Chanyeol menggerak-gerakkan tangan kanannya dengan penuh rasa takut. Tapi percuma, Ara punya kekuatan lebih demi menahan kakaknya agar tidak pergi.

“Lepaskan!! Lepaskan!!”

Ara tersenyum kecil. Bukan senyum sinis ataupun senyum angkuh yang biasa diperlihatkan oleh adik yang ingin mencelakakan kakaknya, namun senyum penuh ketulusan.

Oppa…” Air mata Ara jatuh. Bibirnya bergetar karena merasakan dinginnya air danau, juga dingin tubuhnya. Ia benar-benar lelah. Berusaha menampakkan diri saat ada orang yang pergi ke danau, berharap kakaknya akan kembali ke danau dan memanggil namanya. Namun bayangnya yang misterius malah membuat banyak orang terperangkap masuk ke dalam danau. Sungguh, Ara sangat tak ingin semua yang tewas di danau itu mengalami hal yang sama sepertinya. Ia hanya ingin menemui kakaknya.

Saat ia tahu kakaknya kembali, ia sangat senang, berharap dapat bermain bersama seperti saat mereka masih kecil. Namun kenyataan bahwa kakaknya tak dapat melihatnya semakin membuatnya sedih. Ia pun menampakkan diri di depan kakaknya, bersikeras mengeluarkan tenaganya untuk mencegah Chanyeol pergi dengan membuat kaki Chanyeol tak dapat bergerak di malam sebelumnya, memaksa Chanyeol untuk menatap wajahnya meskipun terbentang jarak yang cukup jauh di antara mereka berdua, bahkan sampai harus menggenggam pensil dan menulis di dinding juga membuat tenaganya berkurang.

Sekarang pun ia harus berpura-pura menjadi Ayah mereka dan membawa Chanyeol pergi ke danau. Ia lelah setelah melakukan semua itu.

“Di sini dingin sekali…”

Chanyeol yang awalnya menangis ketakutan kini menatap wajah adiknya. Terlihat jelas keputus-asaan di wajahnya. Ia tertegun ketika menyadari bahwa wajah adiknya sangat mirip wajah ibunya, Park Min Young. Kalau diperhatikan lebih teliti, wajah Ara juga mirip dengan wajah Chanyeol.

“Aku tidak bisa membedakan pagi ataupun malam karena di sini sangat gelap. Aku juga tidak bisa merasakan hangatnya musim semi, membuat manusia salju di musim dingin, melihat indahnya daun maple berguguran di musim gugur, atau sekedar pergi ke pantai saat musim panas, karena di sini sangatlah hampa…”

Hati Chanyeol merasa tersentuh atas ucapan Ara. Bagaimanapun, dia adalah kakak kandung Ara, meskipun selama 10 tahun ini ia melupakan Adiknya.

“Walau begitu, aku tak pernah berniat meninggalkan tempat ini, karena aku yakin, Oppa akan kembali kesini, memanggil namaku, mengingat kenangan kita saat masih kecil sambil tersenyum. Aku yakin Oppa akan menyayangiku, sama seperti aku menyayangi Oppa.”

Kali ini tangisan Chanyeol bermakna kesedihan, rasa terharu, dan juga penyesalan. Ia tak menyangka, selama ia melupakan Ara, Ara malah mengharapkan Chanyeol kembali. Ara masih ingat janji yang Chanyeol ucapkan sebelum Ara pergi.

“Oppa tak akan membiarkanmu sendirian di sini… kumohon, percayalah pada Oppa! Oppa akan segera kembali!”

.

.

.

Tuan Park terbangun ketika mendengar teriakan Chanyeol dari arah danau yang memanggilnya. Sedikit menggerutu kesal karena tidurnya terganggu, Tuan Park berjalan terseok dan keluar rumah mencari anaknya di sekitar danau.

“Pasti tidur sambil berjalan lagi,” pikirnya.

Namun matanya terbelalak ketika melihat Chanyeol duduk bertumpu dengan lututnya. Terlebih Chanyeol mengulurkan tangannya. Ia tak dapat melihat sosok Ara yang membuat Chanyeol menitikkan air mata.

“Chanyeol!! Apa yang kau lakukan?! Bahaya!! Kau bisa jatuh!!”

Ayah Chanyeol berlari, namun langkahnya tercekat hingga ia hanya bisa melihat Chanyeol menatapnya. Arti tatapannya membuat Ayah Chanyeol was-was : kepedihan, kekecewaan, juga kebencian.

Bersamaan dengan itu, Ara mengendurkan genggamannya hingga Chanyeol tak merasakan sakit lagi di tangan kanannya. Hanya saja, Ara masih memegangnya. Tenaga terakhir Ara digunakan untuk menghentikan langkah Ayahnya, agar Ara bisa menatap kakaknya lebih lama.

“Apa Oppa akan melepaskan tanganku lagi? Apa Oppa akan pergi meninggalkan aku lagi?”

Chanyeol menatap adiknya, lalu tersenyum. Ia pun kembali menatap Ayahnya, kali ini dengan senyuman.

Ya, Chanyeol telah membuat keputusan.

Ara tersenyum senang ketika kakakknya mengulurkan tangan kirinya dan tidak mengelak saat Ara menariknya ke dalam danau.

“Chanyeol!!! Chanyeol!!”

Saat itu, kaki Tuan Park tak lagi kaku. Ia segera berlari ke tepi danau sambil menjulurkan tangannya ke danau, berharap Chanyeol menyambut tangannya. Ia meneriakkan nama Chanyeol sambil menangis tersedu-sedu. Namun Chanyeol tak akan pernah ia lihat lagi sejak saat itu.

.

.

.

“Maafkan Oppa, Ara. Telah membuatmu menunggu lama.”

Ara membalas pelukan Chanyeol dengan mendekapnya lebih erat.

Oppa sangat menyayangimu.”

Ya. Chanyeol memilih untuk bersama Ara, adik yang selama ini menyayanginya dengan tulus. Ia tahu Ayahnya juga pasti menyayanginya, tapi Ayahnya tak pernah ingin menunjukkannya pada Chanyeol, membuat Chanyeol merasa tak berarti.

–2nd Part : END–

Maaf sekali saudara-saudara, kalo ceritanya sangat absurd… dan genre horror di sini saya tuliskan di nomor 2 karena emang yang saya tonjolkan emang segi Family-nya, so sorry kalo gak bikin bulu kuduk berdiri.. Hahaha😆

dan maaf kalo nanti ketika kalian baca alurnya terasa terburu-buru… terlebih ceritanya gak bagus

dan baru pertama kali ini aku ngarang FF 2shoot langsung selesai, hahaha #pakk

dikarenakan, awalnya FF ini oneshot, tapi karena ada 23 halaman, aku takut readers pada mabok jadi malah males baca.

hope u like, and don’t forget to leave a comment

17 thoughts on “[Nightmare Maker] The Secret [2/2]

  1. hihi pas lagi liat halaman awal wp eh muncul ini. aku kira salah liat tapi emg bener udah chap. 2😄 capcus deh bacaa~~
    emang ya eon aku rada ga dapet feel horrornya, terus aku kebayangnya ara pas dewasa, bukan pas kecil jadi emang rada kurang srek gitu ._.
    overall, ceritanya bagus kok, lanjut nulis lagi yaa😄

  2. pada akhirnya Chanyeol ikutan mati ToT tapi aku suka. bukan, bukannya aku kepengen si Chanyeol mati. tapi aku… err… kasian sama si Ara. udah sepuluh tahun ya dia nungguin si Chanyeol? aduh, yaampun, kasian, pasti kesepian bgt!

    tadi awal awal baca, aku sempet prasangka ngirain di danau itu ada hantu yang memendam dendam kesumat dan bunuhin orang orang untuk melampiaskan amarahnya–dan skrg aku nyesel udah prasangka buruk.

    mmg sih, ini lebih menonjol di genre family, tapi aku juga suka genre family. bosan sih baca romance melulu. tp aku suka koneksi antara Chanyeol dan Ara. terus juga… ini, si Ara juga setia banget nungguin Chanyeol. jujur tadi aku sempet terharu :’) dan actually, aku juga ga berapa suka horror yang terlalu banyak masukin adegan pembunuhan dan blablabla itu. aku sukanya yang lebih banyak cerita ttg arwah arwah gitu.

    nice fanfic! d^^b

    1. iya… pasti kesepian banget :”)

      iya.. aku cuma pengen merubah persepsi kebanyakan orang yang selalu takut sama hantu, bahwa gak semua hantu itu jahat (contohnya saya #abaikan)

      llho? bosen? wah.. padahal abis gini aku pengen bikin FF Romance lho T_T #terpuruk

      makasih ya ^^

  3. Chanyeol nyusul Ara? Horornya udah dapet kok beneran. Baca ini tengah malem sambil anjing tetangga nggonggong udah bikin merinding. Semangat sasa buat tulisan yang lain!

  4. Bagus bangeeeet thor, ini waw daebak banget kayanya aku baru pertama kali baca fanfict genre horror tapi yg lebih ditunjukkin yang segi familynya yeaaay
    Tapi aku prihatin juga sama Ara dan harusnya yg mati itu Park Jeong Su a.k.a Leeteuk kekeke
    Keep writing! Aku reader baru loh disini ;;)

  5. holaaa sasa, kak berkunjung..hehehe
    btw kak lupa uda komen blum crita ini di ifk tapi gpp deh komen lagi aja xD gpp ya langsung di part2nya > <

    awalnya kak baca, beneran deh nyangka memang si yeol yg bikin ara tenggelem di danau, aplg ingetan yg ada di kepala yeol jg gitu kan..sempet kaget jg sih tnyata aslinya ga gitu..tnyata yeol wktu itu telat bawa ayahnya dateng buat nolongin ara yg tenggelem T-T
    trus itu waktu yeol semacam disuruh milih antara ara dan ayahnya, bener deh kak nangis..akhirnya yeol bisa nepatin janjinya gitu..huhu ;;;

  6. ini horor sangat. ampe merinding ngebayanginnya, apalagi pas bagian ara meluk chanyeol dari belakang…bulu matanya menempel hiiii ._. ya salah ayahnya juga sih, punya keluarga tp disia2in -.- endingnya miris juga ._. oh ya sa maap ya komennya kadang 2, ngekliknya kelebihan ._.

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s