[Nightmare Maker] The Secret [1/2]


Terkadang, agar tidak merasakan kesedihan yang mendalam saat kita tahu bahwa kita tidak bisa hidup di masa lalu yang penuh kenangan indah, kita memilih untuk melupakannya, Sehingga yang ada hanyalah rahasia yang kau pendam sendiri.

.

.

.

Mereka tak akan pernah menyentuhmu, apalagi membunuhmu…

tapi jika ‘mereka’ menyayangimu…

Sangat menyayangimu…

mungkin akan lain ceritanya…

Dan kau tahu?

Ara sangat menyayangi Kakaknya, Chanyeol

.

.

.

the-secret

Yoo Ara as Park Ara (Chanyeol’s younger sister)

Park Chanyeol as Park Chanyeol (Ara’s older brother)

Lee Teuk as Park Jung Soo (Ara and Chanyeol’s Father)

Family, Horror, Sad | Not for under +16 Age

Note :

Inspired by The Devil Twins (Starring Park Shin Hye)

Soundtrack : Son Ho Young – Only Wanted You

.

.

.

[Part 1]  [Part 2 – FINAL]

20 Januari 2013

Chanyeol menggerutu di dalam hatinya saat menggeret koper besar di kedua tangannya. Ia menatap kesal ayahnya yang berjalan begitu cepat setelah turun dari mobil pick up yang secara tak sengaja melewati halte bus dan memberikan mereka tumpangan ke desa yang disebutkan Ayahnya. Bahkan dengan sangat bijaksana Ayahnya menyuruh Chanyeol membawa barang bawaan mereka. Walau hanya 2 koper hitam berukuran besar, itu cukup membuat Chanyeol kewalahan.

Ayahnya yang sedikit mendengar keluhan Chanyeol kini memelankan langkahnya dan menoleh ke belakang.

“Ayo, Chanyeol… tinggal sedikit lagi.”

Chanyeol mengangguk. Walaupun dia termasuk lelaki yang cukup ‘nakal’ di sekolahnya—dalam arti positif tentunya—ia cukup patuh pada Ayahnya. Jika di sekolah ia sangat aktif dalam organisasi, jika di rumah ia menjadi sangat diam dan hanya patuh pada ucapan Ayahnya. Ya, karena hanya Ayah yang ia miliki sekarang.

“Lihat? Rumah di depan adalah rumah yang akan kita tinggali selama 2 minggu ke depan.”

Ugh…” Chanyeol tidak pernah ke desa itu sebelumnya, apalagi melihat rumah bertingkat dua yang nampak seperti gubuk itu. Memang bersih jika dilihat dari kejauhan, tapi di dalamnya nampak gelap walau hanya dilihat sekilas.

“Di sana nampak gelap karena jendela dan pintu yang ada di sana tidak terbuka.”

Chanyeol mendengus mendengar ucapan enteng ayahnya yang merespons pikiran negatifnya tentang rumah tua itu. Baiklah, Ayah Chanyeol memang selalu pintar dalam membaca pikiran anaknya hanya dengan melihat tatapan matanya.

“Paling tidak, bantu aku membawa kedua koper ini, Yah,” ucap Chanyeol pada akhirnya, “berat.”

Bukannya membantu, tuan Park Jung Soo—sang Ayah—hanya tersenyum kecil dan membuka gerbang rumah yang tingginya hanya sepahanya. Gerbang kayu yang lapuk dan… rapuh.

Bahkan tuan Park yang hendak membuka gerbang dengan kunci gembok yang dibawanya pun harus memasukkan kembali kunci emas yang berkarat itu ke dalam saku jasnya. Gerbang itu terbuka dengan mudah bahkan hanya dengan dorongan kecil lututnya.

“Ayo…”

Chanyeol mengikuti intruksi dari Ayahnya. Ya, tidak seburuk yang ia bayangkan. Rumput ilalang yang tingginya hampir sampai pertengahan pahanya memang mengganggu, tapi setidaknya, rumah itu tidaklah terlalu menyeramkan. Mungkin Chanyeol memang berlebihan.

Dan kali ini, tuan Park benar-benar menggunakan kunci yang ia bawa untuk membuka pintu rumah itu.

“Apa dulu Ayah tinggal di sini?”

“Tidak. Mungkin hanya menginap sehari-dua hari.” Tuan Park tersenyum, lalu memasuki rumahnya. Chanyeol tetap mengekor padanya.

Tuan Park membuka 5 Jendela kecil yang tertutup tirai kecil berwarna putih kecoklatan dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Rumah itu berdebu dan pengap, benar-benar menandakan bahwa rumah itu telah lama tak berpenghuni.

“Ayah akan ke kota sebentar untuk mengurus listrik di rumah ini, juga membeli beberapa makanan. Kau bersihkan rumah ini, oke?”

Chanyeol terbelalak. “Membersihkan rumah? Sendirian?”

“Ayolah Chanyeol, rumah ini tak sebesar yang kau kira.”

“Tapi…”

“Bersihkan saja. Oke?” Sang Ayah membelai halus kepala putranya yang lebih tinggi darinya, “dan, untuk jaga-jaga, jangan dekati gudang yang ada di sebelah rumah itu, paham?”

Kini Chanyeol terdiam. Ayahnya lekas pergi dan melambaikan tangan padanya. Oh, Ayahnya belum mengenal Chanyeol sepenuhnya, meskipun mereka telah hidup bersama selama kurang lebih 22 tahun. Chanyeol mulai berpikiran jahil.

“Aku harus ke gudang itu.”

.

.

.

Bodohnya Chanyeol karena tidak memakai masker demi kesehatan hidungnya. Walau baru memasuki gudang beberapa langkah, tak terhitung berapa kali ia bersin. Ia pun membuka satu-satunya jendela yang ada di gudang demi membiarkan udara segar—dan sebersit cahaya—memasuki ruangan.

Chanyeol hanya berbekal sapu untuk membersihkan debu gudang saat itu, namun ia tak tertarik untuk membersihkan gudang itu. Ia hanya tertarik untuk menelusuri gudang itu, menelusuri alasan kenapa Ayahnya melarangnya memasuki gudang itu.

Adakah hantu di sana? Atau, ada hewan buas di sana?

Oh, ini bukan film Werewolf Boy.

Tatapan mata Chanyeol kini tertuju pada setumpuk kotak yang ada di sudut ruangan. Ia menghampri kotak-kotak yang diselimuti debu itu dan membukanya satu persatu.

Ia tersenyum kecil ketika menemukan banyak sekali foto-foto yang menyimpan kenangan indah antara Ayah dan Ibunya. Oh, andai saja ibu tidak meninggal.

Ada beberapa foto yang membuatnya tertawa, entah itu foto saat perayaan ulang tahunnya yang pertama, foto saat ia terjatuh di dekat kursi saat ia baru belajar berjalan, dan kenangan-kenangan lain yang tak mampu dijabarkan.

Namun di kotak terakhir, ia cukup tertegun. Ada foto saat ibunya mengandung dan di sana sang ibu muda tengan memangku Chanyeol kecil yang berumur kurang dari 5 tahun.

Berarti, dia punya adik?

Chanyeol berusaha menggali ingatannya. Benar, kalau diteliti lagi, di foto-foto sebelumnya, foto-foto yang menyimpan kenangan atas keluarga kecilnya, hanya ada Ayah, ibu dan dia, Chanyeol yang berumur kurang dari 5 tahun.

Terlebih, setelah itu, yang ada hanya foto-foto antara Chanyeol, Ayahnya dan Adik perempuannya.

Tapi, kenapa Chanyeol tidak pernah ingat kalau dia punya adik perempuan? Kenapa Ayahnya tidak pernah cerita tentang adik perempuannya? Kemana adik perempuannya?

Bahkan di foto-foto itu, Chanyeol masih berumur 12 tahun dan adiknya berumur 7 tahun.

Siapa nama adik perempuannya? Mereka terlihat sangat akrab di foto-foto sebelumnya, tapi kenapa Chanyeol bisa lupa akan adiknya?

Berarti sudah 10 tahun Chanyeol tidak bersama adiknya.

Oppa…”

Angin yang berhembus tepat di bawah lehernya dan juga menyisir beberapa helai rambutnya yang menutupi telinga membuatnya tersihir, tepat setelah terdengar suara rintihan yang—sepertinya—memanggil dirinya. Tapi… Oppa?

Chanyeol menelusuri setiap sudut ruang dengan pandangan matanya yang awas, berharap ada seseorang di situ, hingga ia tak perlu merasa takut.

Tapi, sepertinya Chanyeol terlalu banyak berharap. Tak ada seorang pun di sana. Tak ada manusia lain selain dia.

Chanyeol meredamkan rasa takutnya dengan mengelus tengkuknya, berusaha menidurkan seluruh bulu romanya yang berdiri tegak, namun sia-sia. Lagi-lagi, semilir angin membelai kulitnya, padahal angin di luar jendela sama sekali tidak berhembus masuk.

Chanyeol memutuskan untuk mengabaikan rasa takutnya dengan terus memperhatikan beberapa lembar foto yang kini ada di tangannya. Tapi betapa terkejutnya ia saat foto seorang gadis kecil yang duduk di pangkuannya mendadak mengeluarkan air mata!

Ia melempar seluruh lembaran foto yang ada di tangannya.

Padahal lelaki jangkung itu bukan tipe lelaki penakut. Bahkan ia sanggup melihat Insidious setiap Minggu malam tepat jam 12, di lanjutkan dengan menonton The Tale of Two Sisters dan film horror ber-rating tinggi lainnya. Namun rasanya, gelar itu akan menghilang setelah suara gadis memanggilnya ‘oppa’ tadi.

Perlahan, Chanyeol pun meninggalkan gudang. Namun ia melangkah dengan ragu. Sesekali ia menengok kembali ke dalam gudang yang telah lapuk dimakan usia itu. Sebelumnya ia memang merasa ketakutan, tapi sekarang ia merasakan adanya hawa kesepian di dalam gudang itu. Bahkan suara lembut yang ia dengar tadi terdengar sangat memilukan, bukannya menakutkan.

Yah, Chanyeol merasa ketakutan hanya karena suara itu terdengar saat tak ada orang lain di dekatnya.

Namun segera ia abaikan rasa penasarannya dan memilih membersihkan rumah agar saat Ayahnya pulang, ia tak perlu mendengar celotehan panjang dari Ayahnya.

Tanpa ia tahu ada seorang gadis yang menatapnya pilu sejak kehadirannya.

Oppa…” Ia merintih. Ia sangat kesal karena ia dapat melihat Chanyeol, namun Chanyeol tak dapat melihatnya.

.

.

.

Waktu 5 jam hanya Chanyeol habiskan dengan membersihkan rumah sebersih yang ia bisa hingga akhirnya ia kehausan. Karena rumah itu telah lama terbengkalai, maka tak ada setetes airpun untuk membersihkan ujung hidung sekalipun. Dengan berbekal beberapa lembar uang, ia berjalan santai ke toko kecil yang terdekat dengan rumahnya.

Dan Chanyeol semakin sering mengucapkan umpatan-umpatan yang cukup mengganggu para burung gereja yang terbang menukik rendah di hadapannya hingga memilih untuk terbang ke arah lain. Bagaimana tidak? Toko terdekat dari rumahnya ternyata berjarak 2 km dan ia harus berjalan kaki. Oh, dia tidak pernah berjalan sejauh ini sebelumnya. Mau tak mau ia harus menerima kenyataan bahwa pada dasarnya Ayahnya terlalu memanjakannya.

“Bibi, ada air mineral di sini?”

Wanita paruh baya yang dipanggil Bibi pun menyodorkan satu buah botol minuman dari dalam kotak sterofoam putih yang dipenuhi botol-botol serupa dan juga balok es. Ia sedikit mengernyit ketika melihat wajah bersih pemuda yang ada di depannya, berbeda dengan pemuda desa yang biasa ia temui.

“Kau warga baru?”

Chanyeol mengangguk, lalu tersenyum.

“Kau tinggal di mana? Sepertinya, di sekitar sini tidak ada rumah kosong lagi.”

“Aku dan Ayahku tinggal di rumah yang cukup jauh dari sini Bi, kira-kira 2 km ke barat.”

“Oh, rumah yang dekat danau itu? Danau yang sering dijadikan tempat memancing ikan itu?”

Chanyeol mengangguk sekenanya. Sebenarnya ia tak yakin rumahnya berada di dekat danau karena ia hanya fokus pada rumah itu saja, tak peduli pada keadaan alam di sekitar rumahnya. Mungkin nanti ia akan mengecek apakah benar rumahnya berada di dekat danau atau tidak setelah ia pulang nanti.

“Hoo, setahuku rumah itu tidak berpenghuni, tidak berpemilik, tidak bersertifikasi…”

“Ayahku yang punya rumah itu, Bi.”

“Tapi, kenapa rumah itu tak berpenghuni selama bertahun-tahun?”

“Ayahku terlalu sibuk dengan pekerjaannya, saat liburan pun Ayah tak pernah ada di rumah. Walau kami serumah, kami jarang bertemu. Makanya, baru liburan kali ini Ayah bisa menyediakan waktu luang untukku, jadi wajar kalau rumah itu kosong. Kata Ayah, rumah itu ada sejak kakek dan nenekku masih muda.” Chanyeol tanpa ragu menceritakan kehidupannya dengan ayahnya. Lelaki itu memang terlalu ramah dan baik, bahkan pada orang yang tak ia ketahui namanya.

“Oh.” Bibi pemilik toko itu tersadar setelah sepersekian detik mulutnya ternganga karena terkejut akan cara bicara Chanyeol yang tak dapat disela.

“Aku hanya ingin memperingatkan kau untuk berhati-hati,” ucap Bibi itu sambil menerima uang yang diberikan Chanyeol, lalu bergegas mengambil uang yang ada di dalam kotak kayunya sebagai kembalian untuk Chanyeol, “danau itu telah membawa banyak korban sejak 10 tahun lalu.”

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. “Maksud bibi?”

“Kami warga desa tidak tahu apa penyebabnya, kenapa selalu saja ada orang yang meninggal di dekat sana, selalu saat musim semi seperti ini. Danau itu selalu berkabut sepanjang waktu. Musim dingin, musim semi, musim gugur, musim panas…”

“Kalau begitu, kenapa masih banyak orang yang memancing di sana kalau banyak orang yang jadi korban?”

“Karena satu-satunya tempat memancing yang dekat hanyalah danau itu. Mata pencaharian kami bertumpu pada danau itu, jadi mau tak mau kami harus bersahabat dengan danau itu.”

Chanyeol yang ingin bergegas pergi pada awalnya, kini malah mengaitkan kedua tangannya di atas etalase kaca dan bersiap mendengarkan ucapan si Bibi. Ia pikir, mungkin ada kaitannya dengan panggilan ‘oppa’ yang ia dengar di gudang tadi. Ia lupa tentang foto-foto yang ia temukan di gudang dan menganggap gangguan kecil yang ia alami hanyalah ulah usil arwah gentayangan, seperti yang biasa ia lihat di film-film horror.

“Banyak warga yang meninggal karena jatuh ke danau itu, namun untungnya, mayatnya selalu dapat ditemukan. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki luka parah, mungkin kecelakaan. Tapi, semua persepsi warga berubah setelah Pak Jeong selamat.”

Si Bibi menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan, “Kata Pak Jeong sebelum ia terjatuh ke danau, ia melihat seperti ada seorang gadis yang berada di sekitar danau, menatapnya sedih, mimik wajahnya seakan meminta tolong agar dibebaskan. Setelahnya, Pak Jeong seperti melihat gadis itu tenggelam. Pak Jeong yang ahli renang pun bergegas ingin menolongnya, tapi, tiba-tiba tubuhnya tak bisa bergerak saat menceburkan diri. Untung saja, ada Pak Choi yang mendengar permintaan tolong Pak Jeong dan bergegas menolongnya.”

Chanyeol mengelus tengkuknya pelan. Entah mengapa, rasa penasarannya kali ini sukses membuat ia merinding. Sudah tak terhitung berapa kali ia merasakan hawa-hawa tak mengenakkan. Penampilan rumah tua itu, rasa penasaran pada gudang yang terasa seperti magnet, suara gadis yang tengah menahan tangis dan memanggilnya ‘oppa’ dan cerita tentang danau yang ada di dekat rumahnya. Sudah ia duga, seumur hidupnya ia tak mungkin mendapatkan liburan yang menyenangkan, dengan atau tanpa ayahnya.

Baru saja Chanyeol membuka mulutnya untuk menanggapi cerita si Bibi, ia mendengar suara klakson mobil yang memekakkan telinga hingga membuat Bibi pemilik toko dan Chanyeol menoleh.

“Ternyata benar, Chanyeol,” ucap lelaki yang duduk di bangku kemudi yang tak lain adalah Ayah Chanyeol. “Ayo pulang.”

Chanyeol menunduk hormat pada sang Bibi yang telah menceritakan tentang misteri danau yang ada di dekat rumahnya. Hormatnya itu hanya sebagai rasa terima kasih, walau sebenarnya ia ragu bibi itu tahu atau tidak.

“Maaf lama,” ucap Ayah Chanyeol, “Ayah masih harus mengurus berkas-berkas yang berkaitan tentang rumah tua itu.”

Chanyeol mengangguk, lalu mulai mengungkapkan rasa penasarannya pada Ayahnya. Mungkin Ayahnya tahu sesuatu. Namun baru saja ia membuka mulutnya untuk berbicara, handphone Ayahnya berdering.

“Halo? Ah, ya. Saya baru saja mengurus berkas-berkas rumah itu. Kapan anda akan kemari untuk meninjau lokasi di sekitar sini? Saya yakin kondisi desa yang tenang dan sejuk sangat sesuai dengan anda…”

Dan Chanyeol terus memperhatikan mata Ayahnya yang tengah berbinar karena mendengar ucapan-ucapan bisnis dari lawan bicaranya. Mulut Ayahnya hampir berbuih karena tak sedetikpun ia menutup mulutnya untuk berhenti mempromosikan apa yang ia punya pada orang berjas di ujung sana. Huh… Liburan kali ini tetaplah untuk bisnis. Chanyeol kecewa karena Ayahnya tak memberikan liburan yang benar-benar hangat untuknya.

“Siapa, Yah?”

Tuan Park menutup teleponnya dan membelokkan mobilnya ke kanan demi memasuki pekarangan rumah yang dihiasi ilalang. “Teman kerja Ayah yang berencana mendirikan ressort di sekitar sini. Udara yang bersih, sejuk dan belum terkontaminasi oleh kendaraan-kendaraan mewah sangat cocok dengan konsep ramah lingkungan yang ia bawa.”

Tuan Park pun turun dari mobil dan mengangkat beberapa barang dibantu oleh Chanyeol.

Huft, selesai…”

Ayah Chanyeol bergegas memasuki kamar mandi dan membasuh tubuhnya, tak peduli pada Chanyeol yang masih penuh debu setelah seharian membersihkan rumah tua itu.

.

.

.

Ketika malam datang…

Chanyeol terus-terusan merutuki Ayahnya yang bertingkah ‘sok sibuk’ dengan berjalan kesana-kemari di depannya. Alasannya mencari berkas-berkas yang harusnya ia tanda tangani. Oh, dia benar-benar salah persepsi tentang niatan Ayahnya untuk mengajaknya berlibur ke desa yang bersih, tenang dan damai.

Berkali-kali Chanyeol bergegas ingin mengatakan sesuatu, namun Ayahnya selalu berkata, “Nanti dulu, Nak. Ayah masih sibuk.”

Lihat? Sekarang Tuan Park tengah duduk di tengah ruang tamu dengan memangku laptop berwarna merah cherry sambil sesekali mengumpat karena sedikitnya sinyal yang diterima modemnya.

Chanyeol memutuskan untuk keluar rumah malam itu, tepat saat bulan menampakkan keanggunannya dengan kesempurnaan bulatnya.

“Ayah, aku keluar sebentar.”

“Ya… Jangan jauh-jauh ya…”

Chanyeol semakin kesal saat pandangan Ayahnya tak lepas dari layar laptop. Kalau saja laptop itu tidak mahal, ia yakin ia akan membanting laptop yang telah merebut kasih sayang Ayahnya itu.

Chanyeol merapatkan jaket hijau lumutnya begitu angin malam berdesir pelan menerpa wajahnya. Ia menghembuskan nafas dari mulutnya dan kepulan asap putih terlihat jelas.

Dia benar-benar kesal. Liburan yang ia pikir akan berbeda dengan liburan-liburan sebelumnya, ternyata malah lebih parah. Ia menatap semburat cahaya bulan yang kekuningan. Dan entah kenapa, ia merasa berbeda. Baru sedetik menatap sinar itu, ia merasa ada suatu hal mistis di sekitarnya. Namun, rasa penasaran yang menguasai batin Chanyeol memaksanya untuk kembali menatap bulan purnama yang menggantung indah di langit. Namun apa daya, bulan itu kini sedikit tertutup oleh gumpalan awan yang berwarna kelam.

Karena bulu romanya kembali berdiri, ia memutuskan untuk memutar badan dan masuk ke dalam rumah. Tapi ia harus kembali terkejut ketika matanya menangkap sosok seorang gadis yang berdiri cukup jauh darinya—di samping danau—dan menatapnya nanar.

Chanyeol sangat ingin berlari ke dalam rumahnya, namun kakinya seolah kaku, tak dapat digerakkan.

“Sial!!”

Gadis itu menangis tanpa suara. Chanyeol yang awalnya dilanda ketakutan kini malah penasaran. Kenapa gadis itu menangis? Kenapa dia ada di tepi danau malam-malam begini?

Oh, satu pertanyaan yang harusnya ada sejak awal melihat gadis itu : Dia manusia atau bukan?

Oppa…”

Suara itu kembali terdengar. Chanyeol merasa, gadis yang kini terus-menerus menatap matanya itulah yang memanggilnya ‘oppa’. Walau ia tak melihat gadis itu menggerakkan bibirnya, tapi ia yakin suara itu berasal dari gadis itu. Chanyeol sendiri merasa tertekan mendegar suara penuh keputus-asaan yang telah ia dengar dua kali pada hari itu. Seolah ada ikatan batin di antara keduanya, layaknya adik dan kakak.

“Oppa…”

Kaki Chanyeol tak lagi kaku. Chanyeol bernafas lega, lalu melangkahkan kakinya demi mendekati gadis itu.

“Aku menunggumu, Oppa…”

Suara itu tak hanya terdengar di telinga Chanyeol, namun juga sangat jelas terpantul di setiap sudut ruang hati kecilnya. Kalau ia bukan lelaki, pasti sekarang ia menangis karena rasa sesak yang terlalu dalam, entah karena apa.

“Walau dulu Oppa membenciku, tapi aku tak pernah membenci Oppa…”

Chanyeol ingin sekali menyebut nama gadis itu, atau memanggilnya ‘adik kecilku’. Tapi bisa saja gadis itu salah orang, ‘kan? Meskipun kini Chanyeol tak lagi merasa takut, tapi ia tetap tak tahu siapa gadis yang telah menyuarakan kata-kata menyedihkan itu.

“Chanyeol…”

Chanyeol menoleh. Pintu rumahnya terbuka. Ia melihat sosok Ayahnya tengah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum padanya.

“Ayo, masuk ke dalam. Kau belum makan malam ‘kan? Jangan terlalu lama di luar, cuaca sedang tak bersahabat sekarang.”

Ayah Chanyeol memang tak peduli apapun yang ingin dikatakan anaknya, terbukti saat Chanyeol ingin menanyakan sesuatu pada Ayahnya, lelaki paruh baya itu hanya menarik tangan Chanyeol dan memaksa masuk ke rumah. Rumah yang kini tak menyisakan kenangan indah apapun bagi Ayahnya, kecuali wilayah strategis di sekitar rumah yang menjadi ladang uang bagi Tuan Park.

Chanyeol memperhatikan tepian danau, namun sekarang gadis misterius itu menghilang. Gadis yang memperlihatkan air mata kesedihannya pada Chanyeol.

.

.

.

“Ayah…”

“Ayah sudah pernah bilang, ‘kan, jangan bicara saat kau sedang makan.”

Chanyeol langsung meletakkan sendok makannya ke samping mangkok dan menatap serius Ayahnya, membuat Ayahnya cukup heran pada tingkah putra semata wayangnya yang tak seperti biasa.

“Seharian ini aku ingin menanyakan banyak hal pada Ayah, tapi Ayah tak pernah memberikanku satu kesempatan pun untuk berbicara. Oh, ralat. Selama hidupku, bukan seharian ini.”

Kepala keluarga Park itu pun meletakkan sendok makannya dan membenahi posisi duduknya, demi mendengarkan apa yang ingin diucapkan anaknya, walau ia tak ingin. Ia sudah cukup lelah akan kegiatannya selama ini, yang ia inginkan hanyalah makan dan istirahat.

“Liburan kita kali ini, aku merasa sangat menyesal. Pertama, karena aku pikir liburan kali ini Ayah akan lebih meluangkan waktu untukku dan melupakan soal pekerjaan. Tak tahukah Ayah, di luar sana banyak anak-anak beruntung yang bermain golf bersama Ayahnya, memasak di hari Minggu untuk piknik keluarga bersama Ibunya, atau sekedar main playstation dengan kedua orang tuanya?”

Tuan Park menghela nafas.

“Kedua, karena Ayah tak memberitahuku tentang rumah ini. Kenapa kita ke rumah yang sudah lama Ayah tinggalkan dan menjualnya pada orang lain hanya demi uang? Kalau ini semua hanya demi bisnis, harusnya Ayah tinggal menyuruh orang yang punya bisnis di sini untuk datang kemari dan kita tak perlu menginap di rumah yang hampir rubuh ini!”

“Chanyeol… Ayah hanya…”

“Dan yang terakhir…”

Tuan Park mengernyit melihat anaknya seolah ragu akan mengatakan apa isi hatinya.

“Ayah membiarkanku membersihkan rumah ini sampai 5 jam dan tidak membiarkanku mandi, sementara Ayah malah merasakan sejuknya air yang ada di rumah ini!”

Mungkin alasan ketiga cukup membuat Ayah Chanyeol tertawa.

“Chanyeol, tak seperti biasanya kau memasang wajah serius seperti itu. Kau terlihat sangat lucu, nak.”

Chanyeol tak ingin marah pada Ayahnya, walaupun kini Ayahnya menertawakannya. Lagipula, Chanyeol merasa ia pantas ditertawakan karena ia tak berani mengungkapkan alasan yang sebenarnya.

Ia ragu karena yang ketiga bukanlah sebuah alasan, melainkan pertanyaan.

“Ayah…”

“Ya?”

“Apa aku bukan anak Ayah?”

Tuan Park terkejut. Tawanya kini memudar dari wajahnya, berganti dengan ekspresi wajah yang tak kalah seriusnya dari anaknya.

“Selama aku tinggal bersama Ayah, Ayah tak pernah peduli padaku. Tak pernah memberikan kartu ucapan saat ulang tahunku, tak pernah tahu berapa tinggiku, tak pernah menanyakan prestasiku, bahkan saat pengambilan raport, Ayah selalu menyuruh Sekretaris Lee untuk mengambilnya. Ayah juga tak pernah memberitahukan pada media tentang aku. Bagi Ayah, siapa aku?”

“Chanyeol….”

“Lalu, soal ibu. Apa Ayah tak merindukan Ibu? Kenapa aku jarang melihat Ayah berziarah ke makam Ibu saat peringatan hari kematiannya?”

“Chanyeol, cukup!”

Chanyeol masih ingin menanyakan satu hal lagi pada Ayahnya, “Dan yang terakhir, kenapa Ayah selalu menyembunyikan sesuatu padaku? Walau Ayah merasa aku tak tahu akan hal itu, tapi aku merasa aneh pada tingkah laku Ayah. Tadi Ayah bilang, aku tidak boleh pergi ke gudang. Apa karena di gudang ada sesuatu hal yang Ayah sembunyikan dan tidak boleh aku ketahui?”

“Chanyeol!!!”

Chanyeol cukup terkejut melihat Ayahnya yang selalu memasang wajah penuh kesabaran kini membentaknya.

“Ada hal yang harus kau ketahui dan ada hal yang tak boleh kau ketahui, Ayah pernah mengatakannya, kau ingat ‘kan?!”

Chanyeol kini diam.

“Pertama, Ayah tetap menganggapmu sebagai anak Ayah, hanya saja, Ayah sibuk hingga tak bisa melakukan banyak hal yang ingin kau lakukan bersama Ayah! Kedua, Ayah masih sangat mencintai ibu! Dan ketiga…”

Suasana cukup hening di antara mereka ketika waktu yang berjalan hanya terbuang sia-sia demi Ayah Park yang terus memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan ketiga.

“Chanyeol, anakku, bisakah kau berhenti mempersulit Ayah?”

Chanyeol tertawa kecil, lalu tanpa sepatah katapun, ia berdiri dan menaiki tangga untuk memasuki ruang kamarnya.

“Chanyeol… Maaf… Ayah tak bermaksud…”

“Iya…” Chanyeol menghela nafas, lalu menatap Ayahnya yang kini berdiri di samping meja makan, “harusnya aku tahu, sejak awal, Ayah adalah seseorang yang gila kerja dan tak bisa hidup tanpa kerja. Tapi Ayah bukanlah orang yang cinta keluarga dan tetap bisa hidup meskipun seluruh keluarganya pergi meninggalkannya, benar ‘kan?”

“Chanyeol!”

Chanyeol mengabaikan Ayahnya dan bergegas memasuki kamarnya. Sekarang, dadanya terasa sesak karena bentakan Ayahnya. Biarlah orang berkata Chanyeol adalah seorang anak yang terlalu haus akan kasih sayang Ayahnya, karena Chanyeol merasa dirinya memang begitu. Ia tak pernah ingat kenangan indahnya bersama Ayahnya, yang ia ingat hanyalah kenangan-kenangan manis yang ia jalani bersama teman-temannya.

Beruntung dia bukan anak yang pendiam. Meskipun ia tak punya kenangan masa kecil yang indah bersama orang tua, tapi setidaknya ia adalah lelaki yang kaya akan impian di masa kecilnya.

Masa kecil….

Mungkin kalau diingat-ingat lagi, Chanyeol tak pernah ingat masa kecilnya sebelum ia berumur 10 tahun. Yang ada di memorinya hanyalah kenangan 12 tahun lalu sampai sekarang ia berumur 22 tahun. Sekali lagi, Chanyeol menghela nafas.

Lelaki jangkung itu berjalan menghampiri jendelanya yang sedikit terbuka. Cahaya bulan kini tersirat ke dalam ruangannya. Kali ini ia tak ragu lagi menatap bulan yang misterius itu ataupun memalingkan pandangan ke tepi danau. Ia tahu ia tak perlu takut, setidaknya untuk saat ini.

Namun ia tak menemui sosok gadis yang tadi ia lihat di tepi danau, namun cerminan wajahnya yang membekas di ingatannya terpatri dalam benaknya hingga bayangnya terproyeksikan pada bulan di langit. Rambut bergelombang berwarna kecoklatan yang terurai dan nampak tak pernah di sisir, bibir yang mengelupas hingga terdapat bekas-bekas darah mengering, wajah putih pucat yang memancarkan mimik muka kesedihan, kesepian… namun Chanyeol menangkap sedikit kebahagiaan di mata gadis itu. Mungkin hanya setitik dari derasnya hujan, jika diumpamakan.

Karena ia pikir terlalu lama memikirkan sesuatu hal yang tak pasti itu membuang waktu berharganya, ia bergegas menyalakan lilin dan meletakkannya di meja kecil dekat ranjang tidurnya, lalu mematikan lampu kamarnya yang bersinar tak terlalu terang. Ia menutup jendela kamarnya rapat-rapat dan menutup dirinya dengan selimut tebal bermotif leopard.

.

.

.

–1st Part : END–

5 thoughts on “[Nightmare Maker] The Secret [1/2]

  1. first?
    Horrornya belum kerasa banget ya. mungkin karena chanyeolnya juga belum berani nemuin ara-nya secara langsung. Apa ara-nya itu dibunuh dekat danau/ditenggelemin? masih penasaran😄
    next yaaa~~

  2. tadi aku nyasar kemari waktu lagi main main di IFK. dan, taraaa! ada fanfic horror!😄

    um, jadi, sosok perempuan yang bisik bisik ‘oppa’ ke Chanyeol itu Ara? adik Chanyeol yang udah meninggal? dan kenapa Chanyeol bisa ga inget apa apa ttg adiknya itu yaa… karena kenangan masa lalu yang buruk? trauma?

    wah, aku dan Chanyeol kompak ya. kami sama sama suka Insidious dan A Tale of Two Sisters nih. /tos Chanyeol

    segera meluncur ke part 2~

  3. Aduh, eon! Aku aja nightmake maker yang pertama belum berani baca, baru nyampe pas adegan masuk apartemennya Yuri (/.\)
    DAN INI SUDAH NIGHTMARE KEDUA???!!
    Oya, eon, katanya pas di Bronze NM kedua bakalan 5 cowok sama Yoshiyama (?) Sensei itu :3
    Yacudade~ paitiiiingg!!

  4. bacanya udah meriinding duluan wkw ._. ini banyak rahasianya banget. itu si aranya mati kenapa? tenggelem di danau apa di bunuh bapaknya? (auzubillahiminzalik) ._.
    tentang film a tale two sisters itu seru ya? jadi penasaran ._.
    next ke part dua😀

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s