[Ficlet] Saxophone


Saxophone

Ficlet || Song Joong Ki, Moon Chae Won || PG +15

Surrealism, Romance, Angst, Pshycology

.

.

.

“Saxophone membuat aku menggenggam dunia…. tak percaya?”

Saxophone
Saxophone

Note :

ide pasaran, typo banyak, alur terlalu cepat.

London, June 13, 2013

The winner is Song Joongki from Korea!”

Suara tepuk tangan bergema ke seluruh sudut ruangan demi menyambut teriakan pembawa acara  wanita. Sang juara tersenyum tipis sambil menggenggam erat saxophone-nya dan naik ke atas panggung.

I think he is the only one who called ‘the next Kenny G’,” lanjut pembawa acara yang masih tersenyum senang mengetahui prediksi kemenangan Song Joongki yang ada di pikirannya benar-benar terjadi.

Agree to you. He plays saxophone very well like Kenny G,” sahut pembawa acara pria sambil memberikan piala keemasan berbentuk simbol nada G, “congratulations.”

Setelah kedua pembawa acara meninggalkan Joongki sendirian di panggung tempat ia berdiri, ia menghela nafas dan mulai mengatakan ucapan terima kasihnya.

First, i will thank to God for His blessing, so i can win in this challenge.”

The second, thanks for my girl who always be mine, Moon Chae Won.”

Kembali terdengar riuh rendah suara tepuk tangan yang memantul di daun telinganya, membuat ia tersenyum bangga pada seorang gadis yang duduk paling depan di antara orang-orang Eropa yang menyukai musik klasik. Gadis itu tak membalas senyum Joongki, bahkan tidak menatapnya sama sekali. Matanya tertutup. Ia tertidur.

Untuk selamanya.

.

.

.

Dari kecil, Joongki sangat menyukai musik klasik berkat orang tuanya. Ayahnya seorang pemain saxophone yang tak terlalu terkenal berdarah London, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga biasa yang tergila-gila pada musik klasik.

Dari kedua orang tuanya pula, ia belajar banyak hal tentang musik klasik. Baginya, musik klasik adalah bagian terpenting dari hidupnya. Tak dapat bernafas tanpanya dan tak dapat bernyawa tanpanya. Selalu terhembus bersama nafas dan selalu berdetak beriringan dengan jantungnya, itulah musik pada diri Joongki.

Meskipun pada kenyataannya musik tidaklah selalu baik, namun Joongki mengabaikan kenyataan itu. Ia tahu musik klasik dapat mengalun dengan indahnya bagaikan denting harpa para malaikat di surga, namun terkadang sama menyedihkannya dengan bara api neraka.

Musik dapat membangkitkan gairah orang yang sedang bercinta hingga akhirnya menjadi terlalu cinta, tapi musik juga dapat menjerumuskan setiap hati yang patah menjadi sangat terpuruk.

Setiap kali ia mendengar cemoohan orang lain karena kesibukannya yang hanya berkutat pada saxophone pemberian ayahnya, ia tersenyum sinis dan berdesis, “suatu saat kalian akan tahu, aku tidak bermain-main.”

Lihat? Tanpa Joongki sadari, musik telah merubahnya menjadi sesosok lelaki yang memiliki dua kepribadian yang memiliki makna sangat dalam namun bertolak belakang, layaknya baik dan buruk, ada dan tiada, depan dan belakang, kanan dan kiri. Yang terpenting, surga dan neraka.

Oppa!”

Awalnya ia kesal mendengar jeritan yang membuatnya berhenti bermain saxophone. Namun setelah menoleh ke arah suara dan tahu bahwa gadis yang memanggilnya adalah orang yang ia cintai, ia tersenyum. Ia rela menyingkirkan saxophone-nya yang menjadi sepertiga jiwanya. Karena sepertiga dari jiwanya yang lain adalah gadis itu.

Oppa, ada berita bagus!” gadis itu kembali memekik walau kini telah berdiri tepat di depan Joongki. Ia tersenyum sambil menyodorkan sebuah amplop putih pada Joongki.

Joongki mengernyit sekilas sebelum akhirnya menerima surat itu dan membukanya. Sebelum membacanya, ia kembali menatap gadisnya tanpa sepatah katapun, namun matanya seolah bertanya, ‘aku boleh membukanya?’

Seolah mengerti isyarat itu, gadis itu tersenyum dan mengangguk, “buka,” ucapnya untuk meyakinkan Joongki. Akhirnya Joongki membaca dengan seksama surat itu.

“Moon, ini,” Joongki masih bingung apa yang akan ia katakan pada gadis di depannya, Moon Chae Won. Apa ia harus senang atau sedih?

“Beasiswa oppa di Harvard University diterima!” Moon tertawa riang sambil bertepuk tangan.

Entah mengapa, Joongki merasa enggan mengambil beasiswanya, padahal awalnya ia sangat berapi-api demi mendapatkannya.

Wae?” raut wajah Moon berangsur-angsur berubah melihat Joongki merespons ucapan senangnya hanya dengan senyum tipis penuh keraguan.

“Bagaimana dengan kau?” akhirnya Joongki mengucapkan sebuah kalimat pada Moon, walau Moon tak mengharapkan sebuah kalimat tanya yang terlontar, “jika aku pergi, bagaimana dengan kau?”

Moon menelan ludah. Ia menatap ke arah lain, bahkan membalikkan badannya, hanya untuk menghindari sorot mata Joongki yang memaksanya turut merasa tertekan. Benar kata Joongki. Kalau Joongki pergi, bagaimana dengan Moon? Selama ini, yang Moon punya hanyalah Joongki, bukan orang lain. Hidup terlalu menyusahkannya sampai Joongki datang dan membuat alur cerita kehidupannya menjadi lebih sederhana.

Beberapa menit kemudian, gadis berpenampilan sederhana itu membalikkan badan dan tersenyum, “aku harus membenci oppa.”

“Apa?”

“Jujur saja, sehari tidak bertemu oppa, aku akan merasa kesakitan, aku akan menangis. Itu karena aku mencintai oppa. Tapi, kalau aku membenci oppa, mungkin jadinya..”

“Moon!”

“Mungkin oppa akan lebih fokus pada beasiswa oppa,” lanjut Moon tanpa mempedulikan bentakan Joongki, “maafkan aku karena aku mencintai oppa, hingga oppa lupa akan cita-cita oppa untuk menjadi pemain saxophone handal.”

Joongki tertawa sinis mendengar kata demi kata yang Moon ucapkan. Walau tak dapat dipungkiri ucapan Moon memang benar adanya. Joongki menjadi lebih hidup, setidaknya tidak hanya berkutat pada saxophone terus-menerus seperti sebelumnya. Ia jadi manusia yang lebih realistik, bahkan hampir lupa tentang saxophone.

“Aku akan membenci oppa, walau aku tak yakin aku bisa atau tidak. Tapi, 4 tahun lagi, saat kita kembali bertemu…”

“Lakukan semua yang kau mau,” desis Joongki pelan. Tatapan matanya berubah menjadi sangat liar. Ia berjalan maju perlahan, membuat Moon ketakutan dan berjalan mundur demi menenangkan dirinya, walau pada akhirnya punggungnya terhenti pada tembok putih yang cukup besar.

“4 tahun lagi… Akan kupastikan kau akan menyesal telah membenciku…”

~***~

4 years later

Joongki pergi ke sebuah perumahan mewah di tengah kota Seoul yang kebetulan tengah di serang perampok. Joongki memainkan saxophone-nya dan mengalunkan sebuah nada merdu yang memikat setiap orang yang mendengarnya. Bagi orang-orang tak bersalah, pasti mendengarkan irama-irama lembut laksana rayuan para bidadari surga, namun bagi orang-orang keji, dalam nyanyiannya terdengar jelas jeritan-jeritan siksaan yang tak terkira sakitnya. Para perampok melepas seluruh barang jarahannya dan mengikuti arah suara yang seperti magnet bagi mereka. Joongki menggiring mereka dengan melangkahkan kaki cukup santai, menikmati permainannya yang sempurna.

Berkilo-kilometer jarak yang mereka tempuh tak membuat mereka lelah. Justru mereka semakin tersiksa oleh raungan siksaan yang keluar dari saxophone milik Joongki, namun mereka tak mampu menghindar karena mereka terlanjur terhipnotis. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah jurang yang tak terkira dalamnya. Joongki tetap memainkan saxophone-nya, membuat para perampok tanpa sadar menerjunkan tubuh mereka.

Joongki tersenyum sinis, lalu bergegas kembali ke perumahan yang baru saja ia selamatkan, tempat ia dibesarkan sejak 24 tahun lalu.

“Siapa dia?”

“Oh, saxophone itu..”

“Joongki?”

Joongki melepas kacamata hitamnya. Menjadi mahasiswa terbaik di Harvard membuatnya lupa diri. Ditambah pengalaman-pengalamannya mengikuti kontes musik klasik tingkat internasional, ia semakin melambung dan tak ada yang mampu menghentikannya. Musik telah membuatnya hilang akal sehatnya.

“Bagaimana kalau kalian membayar musik indahku tadi?” ucapnya kemudian, “kalian lihat sendiri ‘kan? Permainan saxophone-ku mampu mengusir mereka. Tanpa bekas.”

“Hanya seperti itu saja sombong.”

“Iya. Kenapa seperti itu saja harus bayar?”

“Apakah ucapan terima kasih tak cukup?”

Joongki mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum dan membalikkan badan. Ia kembali memainkan saxophone-nya, namun kali ini bukan lagu yang mengalun indah yang ia mainkan. Jika sebelumnya ia memainkan perasaan marah pada para perampok di balik keindahan nadanya, kali ini ia lebih berterus terang meneriakkan kekesalannya karena orang-orang disekitarnya tidak mengakui kehebatannya.

“Joongki!!”

Ia tak menghiraukan teriakan-teriakan orang-orang disekitarnya. Yang ia pikirkan hanyalah kesenangan batin karena sebentar lagi orang-orang yang meremehkannya tak akan merendahkannya lagi.

“Selesai.” Joongki tersenyum dan pergi meninggalkan mereka.

.

.

.

Mati. Kota yang awalnya sangat gemerlapan dan berkilauan itu kini hanyalah berupa tumpukan debu. Jasad manusia-manusia congak tergeletak begitu saja di setiap sudut jalan dan rumah. Begitu sunyi, sepi… bahkan desiran angin dapat terdengar sangat jelas.

Satu alasan yang sangat jelas mengapa Joongki begitu yakin bahwa mereka yang meremehkannya tak akan merendahkannya lagi. Mereka akan terbunuh.

Joongki selalu memasukkan jiwanya pada musik yang ia alunkan, terlebih musik juga memasrahkan seluruh keindahannya pada Joongki. Ia pintar memainkan berbagai macam emosi pada lagu yang ia lantunkan.

Nyanyian surga akan terngiang indah saat hati Joongki senang, bahkan burung-burung yang berkicauan dan terbang kesana-kemari pun berhenti di tempat yang terdekat dengan Joongki untuk mendengarkan setiap nada yang keluar. Ia menguasai dengan baik instrumen lagu What a Wonderful World, That Somebody Was You, dan instrumen indah lainnya.

Lantunan kesedihan juga dapat menggema ke seluruh sel-sel tubuh saat Joongki menginginkannya. Ia mengendalikan emosi di sekitarnya hanya dengan saxophone. Kesedihan, rasa bersalah, putus asa, kemurungan yang mendalam, membuat setiap jiwa yang mendengarnya merasa ingin mengakhiri hidupnya.

Dan yang terjadi pada Kota Mewah yang menjelma menjadi Kota Hantu dalam waktu semalam hanyalah Histeria massa*) karena musik yang mereka dengarkan dari Joongki. Musik penuh amarah yang mengguncang jiwa mereka. Mereka marah pada diri mereka sendiri, membanting seluruh perabot rumah mereka, menghancurkannya dengan palu, membakar rumah masing masing, menghujatkan benda-benda tajam pada tubuh mereka satu sama lain hingga akhirnya tak bernyawa. Mereka mati mengenaskan di atas tanah debu yang dulu sangat mereka banggakan sebagai tanah termahal di Seoul.

.

.

.

Breaking News, June 1, 2013

“Perumahan bergaya villa di daerah Samsung-dong berubah menjadi kota hantu dalam waktu semalam. Tak ada satupun orang yang selamat dalam kejadian aneh nan misterius yang baru saja terjadi Jum’at malam lalu. Seperti yang kita tahu, banyak sekali orang-orang berpengaruh di Korea Selatan tinggal di perumahan ini, salah satunya, Song Joongki sang pemain saxophone yang baru-baru ini menjadi mahasiswa terbaik di Harvard University.” reporter Yoon Joo Hee berdiri di tengah gundukan debu dan mayat-mayat yang berserakan demi menyampaikan sebuah berita yang menggemparkan Seoul itu.

Tiba-tiba, camera-man memberi tanda pada Joo Hee bahwa seseorang berjalan di belakangnya dengan wajah muram. Joo Hee menoleh dan mendapati seorang lelaki yang baru saja ia bicarakan, Song Joongki adalah lelaki yang dimaksud sang camera-man.

“Song Joongki-ssi, bagaimana perasaan anda saat tahu tempat ini hancur tanpa sebuah sebab yang pasti?”

Joongki menatap Joo Hee cukup lama, setelahnya ia menatap hamparan debu di depannya dengan tatapan mata sedih.

“4 tahun yang lalu aku meninggalkan tempat ini. Ketika aku kembali dan ingin melepaskan semua kerinduan yang mendalam pada kampung halamanku, tempat ini telah hancur…”

Air mata Joongki mengalir. Entahlah, itu air mata sedih atau air mata bahagia. Ia sendiri bingung apakah dia sedih atau bahagia. Ia tak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Musik yang ia jadikan Dewa Kehidupan baginya telah membuatnya sesat.

Yang pasti alibinya sangat kuat. Tak ada satu pun saksi mata yang mampu menjelaskan kronologi kejadian pada Jum’at malam itu.

Joo Hee mengakhiri pemberitaannya untuk Stasiun TV Swasta tempat ia bekerja. Ia sempat mengucapkan ungkapan belasungkawanya pada Joongki yang hanya dijawab dengan anggukan, lalu staff acara pergi meninggalkan tempat menyeramkan itu.

Joongki tersenyum sinis.

.

.

.

Pergi ke perumahan kumuh tempat Moon Chae Won tinggal adalah tujuan Joongki selanjutnya. Kali ini ia tak ada niatan untuk mengambil keuntungan seperti saat ia kembali ke tempat tinggalnya semula. Murni karena rasa rindunya yang memuncak pada Moon. Oh, tak lupa ia membawa nyawanya, saxophone. Ia tak bisa lepas dari benda itu.

Joongki tersenyum melihat Moon tengah menanam bunga di halaman rumahnya yang kecil.

“Moon!”

Gadis yang disebut namanya menoleh. Ia tersenyum lebar melihat Joongki berdiri di pekarangan rumahnya. Moon mengangkat rok panjangnya dan bergegas berlari menghampiri Joongki.

Oppa!”

Joongki merengkuh tubuh kecil Moon demi melepaskan semua rasa rindunya yang tertanam lama selama 4 tahun ini. Entah mengapa, rasa benci pun turut ada dalam pikirannya. Mungkin karena Moon pernah bilang bahwa ia akan membenci Joongki?

Bahkan tidak menutup kemungkinan Joongki membunuh Moon dengan cara yang sama.

Joongki punya senjata mematikan yang tersembunyi dalam balutan indah guratan-guratan nada yang tergores di udara.

Oppa, maaf,” Moon melepas pelukan hangat Joongki dan menatap Joongki cukup intens.

“Kenapa? Baru saja aku pulang, kau sudah minta maaf.”

“Aku sering lihat performance oppa di layar tv parabola milik tetanggaku. Oppa terlihat sangat lembut, namun angkuh.”

Joongki mengangkat sebelah alisnya, “apa?”

Moon menggigit bibirnya.

“Apa maksudmu, Moon?” tanya Joongki sekali lagi.

“Joongki oppa yang kukenal adalah orang yang mencintai musik karena orang tuanya. Mencintai musik karena musik adalah sebagian dari jiwanya. Tapi oppa bukan orang yang seperti itu lagi. Oppa memamerkan senyum oppa seolah berkata, ‘lihatlah aku, Song Joongki yang berbakat. Kalian tak bisa menyaingiku’.”

Joongki tersenyum kecil, namun di dalam hatinya ia menggerutu dan mengucapkan umpatan-umpatan yang tak baik untuk ia ucapkan di depan Moon.

“Kurang ajar!! Tahu apa kau tentang diriku?! Jangan kau pikir kau mengenaliku selama 8 tahun terakhir telah membuatmu tahu diriku yang sebenarnya. Kau ingin tahu diriku yang sebenarnya?”

Oppa?”

Joongki merangkul Moon dan mengajaknya memasuki rumah Moon.

“Tak apa, Moon. Ayo ke dalam, kumainkan sebuah lagu yang menjadi andalanku.”

“Benarkah?” Moon tersenyum lega ketika tahu Joongki tak marah padanya. Tanpa ia tahu Joongki yang sekarang bukanlah Joongki yang ia kenal 4 tahun lalu.

Joongki mengangguk pelan, “lagu andalanku ini sangat istimewa,” tambahnya.

.

.

.

Malam setelah ia memainkan Kemurungan Jupiter**) di depan Moon, ia tersadarkan sesuatu. Moon tidak seharusnya mendengarkan lagu itu. Bisa saja Moon bunuh diri.

Sebisa mungkin Joongki berlari ke rumah Moon dari apartemennya untuk mencegah Moon melakukan hal yang biasa terjadi pada semua orang yang mendengar lagu itu.

Namun terlambat. Moon mengakhiri hidupnya dengan mencelupkan diri dalam bak mandi yang berisi air panas dan ia menyayat urat nadinya hingga warna air berubah menjadi merah pekat.

“Moon, Moon…” Joongki menangisi kepergian gadisnya. Namun setelahnya, ia terpikirkan oleh suatu hal.

“Tapi, bukankah dengan begini dia akan menjadi milikku seutuhnya? Bahkan ia tak akan pernah mengkritikku,” ia tertawa kecil, “luar biasa.”

.

.

.

Present

Setelah satu persatu penonton pergi setelah kontes musik klasik selesai, Joong Ki turun dari panggung dan duduk di samping Moon yang nyatanya memang tak mampu bergerak meninggalkan tempat itu. Tubuhnya telah diawetkan oleh Joong Ki, entah bagaimana caranya. Yang jelas, kini Moon benar-benar menjadi miliknya tanpa ia harus sakit hati setiap Moon mengatakan sebuah nasihat untuknya.

“Bagaimana, Moon? Penampilanku bagus? Kau suka ‘kan?”

Joong Ki mencium mesra bibir Moon yang dingin bagaikan es.

THE END

footnote :

*) Histeria massa adalah sebuah pandangan irasional atau perilaku tidak wajar yang menyebar luas kepada sejumlah orang yang sebenarnya bukanlah bentuk tindakan sosial tiada arti yang diarahkan kepada orang lain.

**) Instrumen lagu yang diciptakan tahun 1800-an berjudul Kemurungan Jupiter adalah lagu yang mampu membuat Dewa Kesenangan Yunani, Jupiter, menjadi murung. Setiap nada yang tersusun menghasilkan efek suara yang sangat menyedihkan dan menyayat hati. Partiturnya telah hilang dari museum resmi Yunani dan berkali-kali ditemukan oleh pihak yang salah.

 

9 thoughts on “[Ficlet] Saxophone

  1. masa aku baru saja nemuin ff ini di indofanfict kpop eonnie ._. top’-‘)b Joongkinya keren, soalnya ga nyangka manusia imut seperti dia bisa punya penyakit psychology yang beginian -_-” tapi sepertinya agak cocok juga sih😀
    oiya eonnie, bukannya ini ff yang eonnie kirim waktu OFWC ya? ._.

    1. haha. gak pa2 kok ^^

      ya iya dong, yang imut itu biasanya malah jahat lho… mau tahu siapa contohnya? aku😄 #slap

      iya.. dan kamu lihat ff ini gak masuk kan? aku udah memprediksi gak masuk, jadinya aku publish😄 ff ini gaje sih, jadinya gak masuk.. typo juga banyak😄

      makasih komennya sayang :”)

        1. haghag.. typo mah banyak dek😄
          ok ok.. tapi selamat ya, punya kamu masuk kan? X) kalo dapet EXO, bagi-bagi ya, kasih aku Albumnya setengah, kamu itung pake penggaris waktu bagi jadi 2, biar adil ._.v

        2. iya, punyaku masuk. padahal itu buruk banget loh, aku ga nyangka ._. yah, mudah-mudahan menang deh eonnie😀 masa dibagi dua sih exo-nya, kasian dong .-.
          hehe, gomawo eonnie🙂

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s