Breaking the Case (Series 1)


Breaking-the-case

Starring : Park Min Young, Song Joong Ki, Kim Joo Won

PG 17

Tuesday, January 1, 2013

Min Young tersenyum senang ketika semua list di blocknote-nya telah ia coret. Semua yang akan ia belikan untuk ibunya telah terpenuhi. Tinggal pulang dan memeluk hangat ibunya. Pasti ibunya akan menangis terharu melihat putri semata wayangnya pulang setelah 8 tahun penuh tak kembali ke Korea. Mau bagaimana lagi? Min Young adalah mahasiswa terbaik di Jepang. Banyak profesor yang meminta bantuannya untuk menyusun mata kuliah ketika Min Young sedang senggang.

Ah, tapi dia punya pekerjaan lain.

Walau begitu, Universitas Korea bersedia memasukkan namanya ke dalam daftar baru yang tergabung dalam sebuah kelompok Investigasi Kejahatan. Kedudukannya sebagai Dokter, tentu saja. Dokter yang selalu melakukan autopsi karena kematian-kematian aneh yang tak jelas penyebabnya.

Jadi, hari ini adalah hari pertama ia menjejakkan kakinya di Korea. Ia berpikir untuk menyenangkan ibunya terlebih dahulu yang telah membayanr kuliahnya, sebelum bekerja di Universitas Korea untuk pertama kalinya.

Eomma, aku pulang!!”

Tak ada jawaban. Mungkin ibunya masih tidur? Ah, tidak. Pukul 9.30, mana mungkin masih tidur?

Saat Min Young berdiri di teras rumahnya, ia mencium bau amis yang begitu menusuk indra penciumannya. Darah?

Ia berlari memasuki rumahnya dan meneriakkan kata Eomma berkali-kali, namun nihil. Tak ada jawaban sama sekali. Ia semakin panik.

Hingga akhirnya ia menemukan ibunya di atas ranjang dan bersimbah darah.

Mati.

EOOMMMAA!!!”

.

.

.

Joo Won berkacak pinggang sesaat. Di depannya Min Young duduk dengan mata sembap. Sudah pasti Min Young membawa jasad ibunya ke Universitas Korea. Alasan pertama : karena Universitas Korea adalah tempat bekerjanya. Alasan selanjutnya karena Min Young ingin menangkap siapapun yang dengan bejatnya membunuh ibunya. Hanya Universitas Korea yang mampu menyelidiki dengan cekatan, tegas dan akurat. Bahkan badan investigasi negara pun terkadang mengalihkan penyelidikan-penyelidikan buntu mereka ke tangan para ahli Universitas Korea. Tim dari Universitas Korea memang yang nomor satu, setidaknya sampai saat ini.

“Kau yakin mau diinterogasi?” tanya Joo Won sebelum memulai interogasi yang biasa dilakukan pada saksi utama sebuah kasus. Namun, kali ini ia merasa kesulitan. Bukan, bukan karena saksi tidak mau mengatakan hal yang sesungguhnya. Hanya saja, kali ini saksi adalah keluarga korban sendiri yang sudah pasti memiliki hubungan darah yang kental. Min Young pasti kesulitan menahan air matanya agar tidak keluar.

Min Young mengangguk pasrah menanggapi pertanyaan Joo Won.

“Kalau kau masih shock, aku bisa mengundur interogasi sampai besok. Aku juga menunggu persetujuan autopsi ibumu untuk kami. Meskipun kau tenaga kerja baru di sini, tapi, karena korban adalah ibumu, semua bergantung padamu.”

“Aku tidak mau jadi beban di kasus pertamaku,” ucap Min Young sambil memaksakan diri untuk tersenyum, “tak apa. Interogasi saja sekarang, dan kita autopsi bersama jasad ibuku besok.”

Joo Won mengangguk pelan. Setelah menghela nafas, ia segera duduk di depan komputer.

“Kapan kau temukan ibumu dalam keadaan tak bernyawa?”

“Pagi, sekitar jam 9.”

Joo Won mengetiknya. Kemudian, ia melontarkan pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana keadaan ibumu saat kau temukan?”

“Ibu sudah tak bernyawa, dengan pakaian yang robek di berbagai sisi. Pakaian dalamnya juga berserakan. Ada beberapa luka tusuk, di leher, dada, mungkin ada di tempat lain. Tapi yang terlihat itu.”

Joo Won melirik sekilas wajah Min Young. Tegar sekali gadis itu, pikirnya. Ia tidak menangis saat menceritakan bagaimana ibunya ditemukan. Kalau gadis lain, pasti akan menangis sesengukan. Bukan cengeng, tapi wajar.

“Mungkin ibu diperkosa terlebih dahulu, lalu dibunuh.”

Joo Won manggut-manggut. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kursi. “Kira-kira, ada tidak, teman ibumu yang tahu siapa yang memiliki dendam tersembunyi pada ibumu hingga akhirnya ingin membunuh ibumu?”

“Entahlah, ibu orang yang tertutup. Terlebih, keterbelakangan mental yang ia miliki tidak membuatnya banyak disukai orang.”

Joo Won mengernyit. “Keterbelakangan mental?”

Min Young mengangguk. “Dia sedikit idiot. Saat bicara sedikit gagap. Dia juga jarang mengerti apa yang aku ucapkan. Oh, iya. Aku ingat!”

Joo Won langsung membenahi posisi duduknya untuk mendengarkan ucapan Min Young selanjutnya. Mungkin saja Min Young akan mengatakan sebuah clue. “Apa?”

“Ibu pernah bilang, ada seorang lelaki paruh baya yang memperkerjakan ibu sebagai pegawai di perusahaannya. Kata ibu, para pekerja kasar—seperti pengangkut barang atau urusan berat yang lainnya–di perusahaan itu adalah penderita cacat mental semua. Mungkin ibu punya teman di sana?”

“Baiklah. Akan kuhubungi Detektif Song untuk segera ke perusahaan yang kau sebutkan tadi.”

“Ehm, bisa aku saja?”

Joo Won tersenyum kecil. “Aku mengerti perasaanmu yang sangat ingin menangkap pembunuh ibumu dengan cepat. Tapi…”

“Aku mohon, Detektif Kim. Aku pikir, ini tugas pertamaku. Aku tak ingin mengecewakan pihak yang telah merekrutku.”

Joo Won melipat tangannya.

.

.

.

Wednesday, January 2, 2013

“Ini Dokter Park Min Young yang mulai hari ini akan bergabung dalam Tim Forensik kita,” ucap Song Joong Ki sambil memperkenalkan gadis yang sedari tadi mengikuti langkahnya.

Min Young hanya membungkukkan badan dan dibalas oleh anggota Tim Forensik lainnya.

“Baiklah. Sebelum kita mulai mengautopsi Jasad Nyonya Kim, mari kita berdoa sesuai kepercayaan masing-masing,” lanjut Joong Ki.

Semua berdoa dengan hikmat, namun tidak dengan Min Young. Kepalanya menunduk dan pandangan matanya tertuju pada jasad ibunya yang kini berwarna putih kebiruan. Ia menghela nafas cukup berat. Joong Ki yang berdiri di sampingnya melirik sekilas. Terlintas sekilas ingatannya tentang perdebatannya dengan Joo Won, rekan kerjanya, sehari sebelumnya.

“Bagaimana mungkin kau mengijinkan Min Young untuk menyelidikinya? Joo Won, ingat! Dia adalah keluarga korban dan dia adalah orang pertama yang menemukan korban. Bisa jadi dia pembunuhnya kan? Kemungkinan itu selalu ada! Kau tak tahu itu?! Berapa lama kau bekerja?!”

Joo Won hanya membersihkan telinganya dengan ujung kelingkingnya sambil memejamkan mata.

“Joo Won!”

“Joong Ki… Aku tahu gadis seperti apa dia. Walaupun baru mengenalnya, aku tahu kalau dia itu baik dan kompeten. Tak mungkin dia tega membunuh ibunya.”

“Tapi, di pisau yang bersimbah darah yang ditemukan di TKP, terdapat sidik jari Min Young!”

“Tapi ada sidik jari lain di pisau itu. Min Young hanya emosi ketika ibunya tewas dengan pisau yang menghujam perutnya, lalu mencabutnya tanpa menggunakan sapu tangan terlebih dahulu. Sudahlah Joong Ki, terima dia sebagai partner-mu dan lihat betapa pantasnya ia disejajarkan denganmu. Mengerti?”

Setelah ingatannya berakhir, ia bergegas mengangkat kepalanya dan berkata, “Terima kasih.”

“Yak. Mari kita mulai autopsinya…” ucap Dokter Shin Hye Jung.

.

.

.

“Kematiannya sudah jelas, yaitu karena kehabisan darah yang diakibatkan oleh beberapa tusukan pisau dapur,” papar Dokter Kim Tae Yeon.

“Ya,” sahut Min Young, “kemungkinan, tusukan pertama di bagian sini.” Min Young menunjuk ke bagian dada yang menjuru ke jantung. “Lalu ke perut, selanjutnya ke paha. Dan yang terakhir leher. Perbedaan waktu saat menghujatkan pisau dapat dianalisa dari kedalaman bekas tusukan, berapa banyak darah yang keluar dan juga perkiraan mengeringnya darah yang ada. Dalam autopsi hari ini memang kita tidak menemui adanya darah karena mayat korban telah dibersihkan setelah tim forensik mengambil gambarnya. Namun, saat kemarin aku bergabung dengan tim forensik, darah yang keluar dari masing-masing bekas tusukan memiliki waktu pengeringan yang berbeda. Darah manusia membutuhkan waktu sekitar setengah jam sampai 1 jam untuk membeku, tergantung sistem kekebalan masing-masing orang. Dan setelah kuperiksa, perbedaan dari masing-masing tusukan menunjukkan urutan tusukan yang ada.”

Kelima dokter lain—termasuk Joong Ki—tercengang ketika mendengarkan penuturan Min Young yang ternyata jauh lebih detil dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Melihat mereka hanya menatapnya dengan mulut ternganga, Min Young mengernyit keheranan.

“Kenapa? Kalian dengar aku atau tidak?”

“Oh, iya. Dengar, dengar,” ucap Dokter Choi Minho akhirnya, “berarti, menurut kesimpulanmu, tusukan pertama mengarah ke dada. Begitu?”

Bingo!”

“Ehm…” Dokter muda Lee Tae Min melipat tangannya, “aku lihat bekas tusukan yang ke dada sangat dalam hingga merobek bilik kiri jantungnya. Aku pikir korban tewas setelah tusukan pertama. Lalu kenapa dia menghujatkan tusukan-tusukan lain yang tak penting?”

“Tujuannya mungkin bukan hanya membunuh, tapi balas dendam.” Joong Ki menarik kesimpulan, “bagaimana keadaan saat kau menemukan ibumu?”

Dokter lain cukup terkejut. Ibumu? Berarti, Min Young adalah anak dari korban?

“Kemarin aku telah menjelaskan semuanya pada detektif Kim. Tapi, memang ada sinkronasi yang tepat dengan kesimpulanmu, Dokter Song.”

Joong Ki menganggukkan kepala tanda mengerti. “Baiklah. Setelah ini, aku dan Min Young akan pergi ke perusahaan makanan ringan tempat ibu Min Young bekerja. Kalian yang akan mengecek darah korban di laboratorium, seperti biasanya.”

“Baiklah, baiklah. Serahkan pada kami,” ucap Dokter Lee penuh percaya diri.

Min Young tersenyum kecil.

.

.

.

“Tapi, benarkah tidak apa-apa?” tanya dokter Choi sebelum Joong Ki melangkahkan kakinya menuju mobil, “dia juga bisa masuk dalam daftar tersangka, terlebih kita belum tahu pasti siapa yang membunuh korban. Apalagi, dia terlihat baik-baik saja, seolah tak ada masalah.”

Joong Ki tersenyum, lalu berkata, “Aku juga berpikiran sama pada awalnya. Tapi, Detektif Kim bersikeras untuk menerimanya sebagai partner-ku. Mau bagaimana lagi? Lagipula, dia adalah Mahasiswa terbaik di Jepang dan masuk ke sini berkat rekrutmen dari rektor Universitas kita. Bagaimana?”

“Oh? Oh.”

.

.

.

Min Young menuruni mobil dan melangkah santai memasuki pabrik pengemasan snack yang cukup jauh dari kantor utama perusahaan itu, sementara Joong Ki masih memarkirkan mobilnya.

Sebenarnya Min Young ingin memasuki pabrik langsung dengan memperlihatkan ID Card-nya, namun Joong Ki memintanya untuk menunggu Joong Ki selesai memarkirkan mobil.

Tak lama setelahnya, Min Young melihat Joong Ki berlari menghampirinya. Min Young tersenyum sekilas, lalu bergegas menghampiri satpam dan menunjukkan ID-nya.

Joong Ki mengikuti langkah Min Young dan memberi penjelasan pada kedua satpam yang ada, “Kami datang ke sini hanya untuk kepentingan penyelidikan.”

Tanpa kesulitan yang berarti, satpam mengijinkan mereka masuk ke dalam.

Joong Ki cukup prihatin melihat wajah-wajah para tenaga kerja yang menderita cacat mental, atau mungkin sakit jiwa. Ada perbedaan yang cukup signifikan antara cacat mental dan sakit jiwa. Cacat mental berarti bawaan sejak lahir dan tak bisa disembuhkan, sementara sakit jiwa muncul karena suatu alasan tertentu dan dapat disembuhkan. Namun terkadang ada yang tak bisa disembuhkan, karena si penderita tidak menginginkan kesembuhan pada dirinya.

Joong Ki melihat Min Young yang telah terlebih dahulu menanyai masing-masing pegawai dengan sabarnya, disertai senyuman manis di wajahnya. Sementara Joong Ki masih belum yakin apakah mereka akan menemukan hasil yang mereka inginkan dengan kondisi para ‘calon’ saksi yang seperti itu. Ia memilih diam dan membiarkan Min Young bekerja. Toh, Min Young juga butuh banyak belajar di kasus pertamanya. Joong Ki yang bekerja sebagai partner kali ini sadar bahwa ia adalah mentor pula bagi Min Young. Sejauh ini, apa yang Min Young lakukan cukup bagus.

Cukup lama Joong Ki menunggu di sudut ruangan, sampai-sampai ia hampir tertidur dalam posisi berdiri. Namun, Min Young memanggil namanya hingga ia tersadar dan bergegas menghampiri Min Young.

“Ada apa?”

“Benar dugaanku, ibuku tak terlalu akrab dengan karyawan lainnya meskipun mereka bernasib sama. Ibuku tipe orang yang tertutup. Hanya padaku dan Bibi Kwon saja ibuku bisa akrab. Dulu ibuku juga pernah cerita bahwa ia punya teman bernama Cho Na Ri, tapi ibu dan dia telah kehilangan kontak selama bertahun-tahun.”

“Bagaimana kalau kita bertanya pada Bibi Kwon yang kau sebut tadi? Apa hubungan di antara ibumu dan Bibi Kwon?”

“Hanya tetangga dekat. Ibu sering minta tolong pada Bibi Kwon untuk menuliskan surat untukku karena ibuku buta huruf.”

“Baiklah. Ayo…”

“Hye Ri…”

Min Young menoleh. Ia mendapati seorang wanita paruh baya yang juga cacat mental berjalan menghampirinya dengan senyum lebar.

“Hye Ri, lama tak bertemu, kenapa wajahmu semakin muda? Apa kau operasi plastik dan menghilangkan keriput di wajahmu?”

Wanita itu berdiri mengitari Min Young dan melihat dari ujung kaki ke ujung kepala, “Iya. Ini benar Hye Ri. Sudah 2 tahun yang lalu tidak bertemu, kau semakin cantik.”

Belum sempat Joong Ki menjelaskan, Min Young telah terlebih dahulu menjelaskan, “Maaf, bibi. Tapi, aku bukan Hye Ri. Aku Park Min Young. Bibi kenal Jung Hye Ri?”

Joong Ki mengernyit. Melalui gerak bibir, ia bertanya pada Min Young, “Jung Hye Ri?”

“Nama ibuku.”

Oh, iya. Joong Ki lupa nama korban yang ia tangani. Ehm, sepertinya dia harus turun jabatan.

“Oh, Park Min Young?” Mata wanita itu berbinar-binar, “anaknya Hye Ri?” Wanita itu tertawa keras.

“Senang bertemu denganmu! Siapa sangka Hye Ri menurunkan wajah cantiknya padamu. Ngomong-ngomong, dimana Hye Ri? Setelah 2 tahun yang lalu ia dipecat karena berkali-kali merusak alat pengemasan yang katanya impor dari Eropa itu, kami berdua sama sekali tak pernah bertemu.”

Min Young tertegun. Ia bingung harus menjawab apa, sementara wanita itu dengan senyumnya yang menyejukkan terus menceritakan bagaimana akrabnya dia dengan Hye Ri, ibunya.

“Aku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri, bahkan aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Ia sering cerita bahwa ia akan terus bekerja demi anaknya. Ah, aku jadi merindukan Hye Ri. Di mana Hye Ri?”

“Bibi, dia..”

Min Young memotong ucapan Joong Ki dengan menyenggol kasar perut Joong Ki menggunakan lengannya.

“Ibu lelah, jadi, pagi ini dia tidur.”

“Oh, baiklah. Titip salam untuk ibumu.”

Min Young tersenyum tipis sambil membungkukkan badan.

“Kami permisi, bi.”

.

.

.

“Kenapa kau membohonginya?” tanya Joong Ki setelah keduanya memasuki mobil, “kau tidak tahu kalau berbohong itu dosa?!”

Min Young menggeleng pelan, “Aku hanya tak ingin melihat bibi itu menangis saat satu-satunya orang yang mau menjadi sahabatnya meninggal, seperti aku.”

Joong Ki tertegun. Ia melihat Min Young membuang pandangannya jauh ke luar kaca mobil. Min Young pasti menahan air matanya agar tidak jatuh. Prinsip Min Young cukup kuat. Tidak akan menangis sebelum pelakunya ditemukan. Ia harus menyimpan air mata itu untuk menangis gembira karena berhasil menemukan pelaku sebenarnya.

“Berarti, selanjutnya, kita temui Bibi Kwon,” ucap Min Young sambil tersenyum pada Joong Ki, seolah mengisyaratkan bahwa ia tak butuh dikasihani.

.

.

.

Kini Min Young dan Joong Ki telah berdiri di depan pintu rumah Bibi Kwon. Berkali-kali mereka memencet bel rumah dan berbicara lewat interphone, tapi tak ada respons dari dalam.

“Baiklah. Kita ke sini besok.”

“Tidak.” Min Young menyipitkan matanya sambil berjalan ke samping rumah. Ada sebuah pintu lagi, nampaknya tak terkunci.

“Lihat? Ada alas kaki di sana.”

“Barangkali salah satu anggota keluarganya yang tertidur?”

“Tidak. Bibi Kwon tidak punya satu anggota keluargapun. Aku tinggal di samping rumah ini bertahun-tahun.”

Joong Ki memilih diam dan menuruti apa kata Min Young. Min Young berlari kecil ke depan pintu samping.

“Bibi Kwon, aku tahu kau ada di dalam!”

Min Young menggedor pintu dengan keras.

“Bibi Kwon!”

“Min Young! Biarkan saja-”

Belum sempat Joong Ki meneruskan katanya, Min Young sudah menghancurkan pintu itu dengan sekali tendangan, membuat Joong Ki—sekali lagi—ternganga.

“Bibi Kwon!” Jerit Min Young.

.

.

.

Joong Ki, Joo Won dan Min Young berjalan cepat menyusuri lorong Rumah Sakit Universitas Korea karena mereka terdesak oleh waktu. Autopsi pertama pada jasad Bibi Kwon akan segera dilakukan.

“Bagaimana kondisi Nyonya Kwon saat kalian temukan?” tanya Joo Won.

“Ada tikaman di daerah leher dan kemungkinan ada tikaman-tikaman lainnya di sekujur tubuhnya karena bajunya terkoyak. Tak ada tanda-tanda kekerasan seksual di tubuhnya,” papar Min Young.

“Benar. Kemungkinan yang aku dan Min Young dapatkan adalah : pelaku membunuh Nyonya Kwon dengan motif berbeda. Ketika membunuh ibu Min Young, motif utamanya adalah balas dendam, sementara ketika membunuh Nyonya Kwon, motif utamanya adalah membungkam mulut bibi Kwon,” lanjut Joong Ki.

Setelahnya, mereka berpapasan dengan Dokter Kim Taeyeon yang juga menderapkan langkahnya dengan cepat.

“Dokter Kim, maaf kami langsung meminta autopsi hari ini juga. Keadaan sangat mendesak hingga kami harus segera mengautopsinya,” ucap Min Young.

“Ah, jangan ucapkan itu, Min Young. Itu sudah tugas kami. Tapi, kenapa begitu mendesak?”

“Karena darah yang kami temukan di TKP masih sangat segar,” jawab Joong Ki yakin.

“Iya. Tim forensik yang tadi sempat memindahkan mayat Nyonya Kwon memperkirakan waktu kematiannya tak terlalu lama, sekitar 15 menit sebelum kami datang ke TKP,” kini Min Young yang melanjutkan pernyataan Joong Ki.

“Oh, kalau begitu bagus! Bagaimana dengan tanda-tanda lain?”

“Aku telah menyuruh tim polisi untuk menyelidiki kemungkinan masih adanya tersangka di sekitar TKP,” ucap Joo Won.

Dokter Kim mengangguk, lalu bergegas membuka ruang autopsi.

.

.

.

“Bagaimana, Min Young? Kau menemukan sesuatu?” tanya Dokter Choi setelah mereka selesai mengautopsi.

Ehm,” Min Young menghela nafas, “sama seperti sebelumnya. Semua luka yang ada berupa tikaman dari pisau dapur. Di sekitar bibirnya membiru, kemungkinannya dia diracun. Atau kemungkinan lainnya, dia dibungkam saat berteriak minta tolong. Intinya, dia kehabisan nafas sebelum akhirnya ditikam.”

“Kalau penyakit dalam, bagaimana dokter Lee?”

“Berat tubuh berlebihan di usianya yang paruh baya dan adanya luka basah di sekitar mata kakinya membuatku menganalisis kalau korban memiliki penyakit Diabetes Mellitus basah. Dan pasti lukanya semakin melebar karena kejadian hari ini.”

“Oh, kenapa bisa begitu?” tanya dokter Choi. Maklum saja, karena dokter Choi adalah ahli penyakit jantung, berbeda dengan dokter Lee yang basic-nya adalah spesialis penyakit dalam.

“Penyakit Diabetes Mellitus terutama yang basah, pantangannya adalah jatuh ataupun terluka. Pasokan glukosa dalam darah yang melebihi 70-110mg/liter biasanya membuat kinerja darah menurun dan saat salah satu bagian tubuh terluka, darah tidak bisa menutup luka dengan baik. Biasanya lukanya malah melebar.”

“Oh..” dokter Choi manggut-manggut tanda mengerti.

“Baiklah, yang pasti, kita sudah tahu penyebab kematiannya,” ucap dokter Kim, “berarti, untuk selanjutnya, kalian bertiga yang meneruskan penyelidikan ‘kan? Tapi, kalau kalian butuh bantuan dari kami, jangan sungkan untuk segera menyatakannya. Ok?”

Joo Won, Joong Ki dan Min Young tersenyum. “Ok.”

.

.

.

Thursday, January 4, 2013

“Kali ini kita mendapatkan clue yang sangat berarti,” ucap Joo Won lalu duduk di kursi kerjanya yang ada di kantor polisi. Joong Ki mendekatkan kursinya ke dekat Joo Won.

“Ada bekas sidik jari korban di pisau yang ditemukan di TKP.”

“Lho?” Joong Ki mengernyit, “apanya yang berarti?”

“Ah, kau ini,” desis Joo Won, “di pisau itu juga ditemukan sidik jari pelaku. Ada kemungkinan, korban berhasil merebut pisau dan menusukkan pisau itu ke salah satu bagian tubuh tersangka. Aku sudah meminta dokter Shin Hye Jung untuk memeriksa DNA darah yang ada di pisau itu. Mungkin akan ditemukan darah tersangka.”

“Oh, kau cerdas juga!”

Joo Won tersenyum bangga. Tak lama kemudian, handphone Joo Won berdering.

“Detektif Joo Won, aku telah mendapatkan apa yang kau minta.”

“Ok, ok. Cepat katakan!” ucap Joo Won tak sabar. Ia mengaktifkan fitur speaker di handphone-nya agar Joong Ki dapat mendengarkan penjabarannya.

“Benar perkiraanmu, di pisau itu terdapat darah korban dan juga darah si pelaku. Sidik jari yang diperkirakan milik si pelaku juga sama dengan yang ada di pisau pada kasus pertama.”

“Ok. Terima kasih dokter Shin!”

“Tunggu dulu!” cegah dokter Shin saat merasa Joo Won akan menutup sambungan teleponnya.

Wae?”

Ehm, Min Young ada di sana tidak?”

Joo Won baru menyadari kalau tidak ada Min Young di dekatnya. Joo Won dan Joong Ki pun saling bertatapan karena heran, lalu Joo Won pun menjawab pertanyaan dokter Shin, “Tidak. Kenapa?”

“Oh, syukurlah. Kabar ini mungkin akan membuat Min Young shock.”

“Apa?”

“Di dalam darah ibu Min Young terdapat virus HIV.”

Joo Won dan Joong Ki terkejut.

“Makanya, kalian harus segera mendapatkan petunjuk lain, apakah ibu Min Young memang menderita HIV atau tertular HIV dari pelaku.”

“Baiklah. Boleh kututup teleponnya sekarang? Aku dan Joong Ki akan mencari pelakunya secepatnya.”

Dokter Shin menutup handphone-nya. Menghela nafas sesaat, tanpa ia tahu Min Young berdiri mematung di balik pintu ruang kerjanya.

“HIV?” desisnya.

.

.

.

Friday, January 5, 2013

Saat Joo Won dan Joong Ki tengah serius mendiskusikan rencana selanjutnya, mereka dikejutkan oleh kedatangan Min Young dengan wajah ceria.

“Ada apa?”

“Aku dengar ada 3 pasien baru di rumah sakit Universitas Hanguk. Ada yang terkena serangan jantung, ada yang terkena komplikasi ginjal dan ada yang terserang thypus. Ketiganya memasuki rumah sakit di hari yang bersamaan dengan kematian Bibi Kwon, yaitu kemarin. Mau coba pakai caraku? Dulu, dosen-dosenku sering mengajariku teori ini, dan sekarang saatnya aku mempraktekkannya.”

“Sebentar. Apa maksudmu?” tanya Joo Won. Sementara Joong Ki langsung berdiri dan tersenyum cerah.

“Ayo kita bodohi mereka! Aku harus bawa jas dokterku! Detektif Kim, kau kupinjami pakaian Dokter ya?”

Min Young tersenyum sambil berkata, “Aku juga sudah memakai pakaian suster di balik jasku ini. Let’s go.”

Joong Ki dan Joo Won mengikuti langkah Min Young. Namun Joo Won masih belum mengerti maksud Min Young.

“Joong Ki, apa yang akan kita lakukan sih?”

“Ikuti sajalah.” Joong Ki tersenyum penuh arti.

.

.

.

Min Young berjalan santai saat pergi ke dapur rumah sakit setelah menanyakan ruang kamar tuan Jung pada resepsionis. Ia memasuki dapur rumah sakit yang hanya ada seorang suster di sana, menyiapkan makan siang untuk tuan Jung.

Dari belakang, Min Young segera membungkam mulut suster  itu dengan sapu tangan yang telah ia olesi obat bius. Seketika itu juga suster itu pingsan. Min Young segera melepas rompinya dan memasang topi suster yang ia bawa di dalam rompinya. Ia pun menata piring-piring untuk tuan Jung ke meja dorong dan mengantarnya ke kamar tuan Jung.

Sementara Joong Ki dan Joo Won mengintip kamar tuan Cho. Joong Ki memberi tanda pada Joo Won bahwa Joong Ki akan mengalihkan perhatian kedua penjaga di depan pintu kamar tuan Cho, sementara Joo Won harus memilih jalan memutar dengan memakai pakaian dokter. Joo Won mengangguk mengerti.

“Aku dari Universitas Korea ingin menemui tuan Cho yang diperkirakan terkait dengan kasus penggelapan dana pada perusahaan food and beverage-nya.”

“Tidak bisa,” jawab salah satu penjaga dengan tegas, “tuan kami tidak boleh diganggu.”

“Maaf, tapi ini perintah dari atasan!”

Dan ketika kedua penjaga pintu tengah bersitegang dengan Joong Ki, Joo Won berhasil masuk dengan tenangnya.

.

.

.

Min Young telah kembali dengan rompinya dan berjalan santai keluar dapur rumah sakit setelah meninggalkan pesan singkat pada suster yang masih tergeletak lemah di lantai. Joong Ki dan Joo Won pun berpapasan dengan Min Young, lalu saling melambaikan tangan.

“Tinggal tuan Bae?” tanya Min Young.

“Iya, tapi aku pikir, itu tidak perlu.”

Min Young mengernyit. Joo Won dan Joong Ki tersenyum pasti.

.

.

.

Para Tim Penyelidik dan juga Detektif Joo Won telah berkumpul di ruang meeting, menyaksikan Joong Ki melakukan presentasinya.

“Dalam catatan kesehatan tuan Jung, tercatat bahwa tuan Jung menderita Diabetes dan Komplikasi Ginjal lainnya. Min Young telah memeriksa menu makanannya dan juga obat yang dikonsumsi tuan Jung, sekaligus keadaan tubuh tuan Jung. Semuanya cocok. Terlebih, kondisi tubuh tuan Jung sangat lemah, bahkan dalam kondisi koma. Tuan Jung bukan tersangka.”

“Yang aneh adalah Tuan Cho. Tadi Joo Won memeriksa catatan kesehatannya dan tertulis bahwa tuan Cho terkena serangan jantung. Harusnya, obat yang diberikan adalah obat penekan darah. Atau mungkin, harusnya ditemukan nama-nama obat jenis Anti-Aritmia, Calcium Channel Blockers, Beta Blockers atau Antikoagulan. Tapi,”

“Sebentar. Kau bilang serangan jantung ‘kan? Kenapa yang kau sebutkan obat-obatan yang berkaitan dengan Aritmia Jantung?” potong dokter Choi.

“Karena penyebab Aritmia Jantung adalah serangan jantung. Lagipula,” Joong Ki membenarkan posisi berdirinya, “di sela-sela tidurnya yang pulas, begitu menyadari kedatangan seorang dokter, ia langsung bilang, ‘dokter, tolong berikan obat yang paling ampuh. Sial, luka ini semakin sakit’.”

Joo Won tersenyum.

“Setelah aku memeriksa salah satu sample obat yang Joo Won ambil, itu adalah obat penahan rasa sakit, bukan obat-obatan jantung yang tadi kusebutkan.”

“Oh, berarti ada kemungkinan dia terkena luka tusuk dari Bibi Kwon,” Min Young menyimpulkan.

Bingo!” ucap Joong Ki.

Min Young pun bertanya pada Joo Won, “Detektif Kim, siapa nama lengkap tuan Cho?”

“Cho Hyun Woo.”

Min Young terdiam sejenak. Ia berusaha menggali ingatannya saat ia masih kecil.

Oh, ya. Ibunya pernah punya teman bernama Cho Na Ri. Cho Na Ri pernah menculiknya dan mengatakan kata-kata kotor tentang ibunya.

“Ibumu murahan! Ibumu pelacur! Ibumu telah merebut lelakiku! Satu-satunya hal yang pantas untuk ibumu adalah mati!”

Min Young menggelengkan kepalanya dengan kencang. Oh, Cho Na Ri.

“Kenapa Min Young?” tanya Joong Ki melihat Min Young terlihat mengingat sesuatu.

“Ah, tidak ada. Aku hanya ingat, bukannya tuan Cho adalah pemimpin perusahaan tempat ibuku bekerja 8 tahun yang lalu?”

“Oh, iya!” Joo Won memekik, “Kebetulan sekali, para polisi tengah menyelidiki laporan dari salah satu staff karyawannya yang melaporkan penggelapan keuangan di perusahaan tuan Cho secara sembunyi. Bagaimana kalau..”

“Tidak, ini harus diselidiki secara terpisah,” potong Min Young, “soal penggelapan dana itu pasti berkaitan dengan sifatnya yang serakah. Tapi, kasus ini berkaitan dengan pembalasan dendam.”

“Balas dendam?” Joong Ki mengernyit.

“Detektif Kim, bagaimana ciri-ciri tuan Cho?” Min Young bertanya pada Joo Won tanpa mengacuhkan pertanyaan Joong Ki.

“Oh, rahangnya tidak terlalu tegas seperti para pria kebanyakan. Jakunnya juga tidak terlalu terlihat. Bahunya juga tidak bidang. Saat pertama kali melihat, aku hampir saja mengira dia perempuan.”

Min Young memetikkan jarinya, “Itu dia!”

Wae?”

Min Young sangat ingin menjelaskan secara detail, tapi saat itu ia  harus menemui rektor karena sesuatu hal.

“Maaf, aku dimintai tolong oleh Rektor Kim untuk menemuinya pukul 4 sore ini. Bagaimana kalau kita mulai penyelidikan di kantor tuan Choi nanti malam?”

Dan Joo Won dan Joong Ki memilih setuju.

.

.

.

“Min Young…” ucap Rektor Kim ketika tahu Min Young memasuki ruangannya dengan mendengar derap langkah kaki gadis itu. Lelaki paruh baya itu memutar kursi kerjanya. Di depan matanya Min Young berdiri dengan menundukkan kepalanya.

“Kau bekerja dengan baik untuk kasus ini. Aku berharap banyak padamu untuk kasus selanjutnya.”

Min Young mengangguk. “Iya, tuan.”

“Yang pasti, jangan lupa, kau telah kubebaskan dari hukuman mati yang harusnya kau terima.”

Min Young memilih diam.

.

.

.

7.00 PM

Min Young, Joong Ki dan Joo Won telah berdiri di depan lift kantor pemasaran makanan ringan milik tuan Choi. Saat pintu lift terbuka, Joo Won dan Joong Ki segera memasuki lift, namun tidak dengan Min Young.

“Min Young, ada apa?” tanya Joong Ki dan langsung keluar lift menghampiri Min Young. Min Young hanya menatap heran sebuah pintu tangga darurat.

“Kita masih di lantai pertama ‘kan?” Min Young balik bertanya.

Joong Ki mengangguk.

“Detektif Kim, Detektif Song, ikuti aku.”

Tanpa banyak bicara, Joo Won dan Joong Ki mengikuti langkah Min Young dari belakang. Mereka sangat ingin bertanya pada Min Young, mengapa ia sangat penasaran pada tangga darurat yang memang letaknya sangat tersembunyi, namun mereka menahannya. Dalam kasus ini, mereka sangat percaya pada insting Min Young.

“Tangga ke bawah?” bisik Joo Won dan Joong Ki hampir bersamaan.

Min Young juga terkejut. Ia segera menuruni tangga ke ruang bawah tanah.

Dan apa yang mereka temukan?

Sebuah ruangan remang-remang yang dipenuhi oleh orang-orang yang dengan asiknya melakukan perbuatan sex.

Min Young memberanikan diri menghampiri seorang wanita yang tengah bercumbu dengan tubuh bagian atasnya telanjang.

“Aku Park Min Young dari kepolisian pusat.”

Sementara Joo Won dan Joong Ki hanya sibuk menahan ludah mereka.

“Oh, mau menginterogasi soal tuan Cho-kah?” tanya gadis itu tak acuh dan masih meneruskan desahannya. Min Young menghela nafas dan mendorong lelaki hidung belang itu dan melepas jas yang ia pakai untuk menutupi tubuh bagian atas gadis itu.

“Kami tak punya banyak waktu untuk melihat kalian bermesraan. Kami hanya minta waktu sebentar untuk menanyakan kesaksikanmu tentang tuan Cho.”

Gadis itu hanya tertegun sejenak, sementara lelaki yang tadi berada untuknya kini pergi entah kemana. Ia sangat enggan berurusan dengan polisi.

“Baiklah, apa yang ingin kalian ketahui tentang tuan Cho? Mungkin kalian orang yang tepat. Aku adalah wanita kesayangan lelaki busuk itu.”

Joong Ki hanya tersenyum sinis. Lelaki busuk? Kalau ia berani memanggil ‘tuannya’ sebagi lelaki busuk, bukankah itu berarti dia juga gadis busuk? Bodoh!

“Apa kau kenal wanita ini?” Joo Won menunjukkan sebuah foto yang menggambarkan ibu Min Young, Jung Hye Ri, “dia meninggal 5 hari yang lalu.”

“Oh, Hye Ri? Wanita idiot itu?” Gadis itu tersenyum sinis. “Awalnya ia bekerja di bagian pengemasan 8 tahun lalu, tapi 2 tahun lalu ia dipecat oleh tuan Cho. Dan entah mengapa, 6 bulan kemudian, ketika tuan Cho menemukannya mengemis di tengah jalan, dia membawanya kembali. Lucu.”

Min Young menyembunyikan tangannya ke dalam saku celana jeans-nya, berusaha menahan emosinya yang hampir saja meletup.

“Kau tahu apa yang tuan Cho lakukan padanya? Menjadikannya salah satu dari seluruh wanita yang ada di sini.”

“Pelacur?” tanya Joong Ki.

“Hei! Kami bukan pelacur yang menerima semua jenis pelanggan! Kami hanya melayani orang-orang elite!”

Joong Ki dan Joo Won menggeleng. Sementara Min Young masih berdiri tegap menunggu kalimat selanjutnya.

“Yang aku herankan dari wanita idiot itu, di balik kekurangannya, ternyata dia memiliki wajah dan tubuh yang bagus. Banyak pria yang ingin tidur dengannya, tanpa peduli dia idiot. Aku pernah tanya pada Hye Ri, kenapa dia mau melakukan hal ini. Ia menjawab, ia ingin membiayai sekolah anaknya. Oh, Tuhan.”

Min Young menggigit bibirnya.

“Tapi, kenapa dia bisa mati, aku tidak tahu. Kalau kalian mengira Cho Hyun Woo itu orang yang membunuh Hye Ri, bisa jadi. Pernah suatu hari ia berkata padaku di tengah-tengah euforianya karena alkohol, dia sangat ingin balas dendam pada Hye Ri.”

“Kapan Cho Hyun Woo membawa kembali Jung Hye Ri?” tanya Min Young sebelum beranjak pergi.

“Sekitar tanggal 6 Juli 2012. Oh, mungkin kalian bisa melihat kamera CCTV di ruang pribadi tuan Cho yang ada di lantai 10 pada tanggal itu. Mungkin masih terekam kejadian yang ada, tapi, itu juga kalau tuan Cho belum menghapusnya. Dia lelaki yang sangat teliti.”

Min Young mengangguk pelan. Tanpa permisi, ia segera pergi meninggalkan tempat yang ia benci itu.

“Baiklah,” ucap Joo Won, “kita lanjutkan besok.”

“Bagaimana kalau kita periksa ke ruang pribadi yang tadi gadis itu sebutkan?” tanya Min Young, “tadi gadis itu bilang, tuan Cho adalah lelaki yang sangat teliti. Bisa saja rekaman CCTV itu sudah ia sembunyikan di ruangan itu?”

“Tapi, bisa saja tuan Cho menyembunyikannya di rumah, atau kemungkinan terburuknya, dia sudah menghancurkannya,” Joong Ki berargumen.

“Oh, tuan Cho tidak punya rumah,” ucap Joo Won, “saat aku melihat papan nama yang ada di ranjangnya, alamat yang tertulis adalah alamat gedung ini, bukan alamat rumahnya.”

“Kita coba saja ke ruangan itu. Ya?”

Joong Ki menghela nafas sejenak, lalu mengangguk.

“Biar aku dan Detektif Kim saja yang ke atas. Kau pulanglah.”

Min Young menatap mata Joong Ki heran. “Wae?”

“Kau terlihat sangat kelelahan. Aku yakin saat malam pun tak kau gunakan untuk istirahat, melainkan memikirkan kasus ini. Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Beristirahatlah.”

“Tapi-”

“Percayalah pada kami,” kali ini Joo Won berkata, “kami akan menyelesaikan ini dengan cepat.”

Min Young menatap Joong Ki dan Joo Won bergantian. Perlahan ia tersenyum. “Terima kasih.”

.

.

.

Saturday, January 6, 2013.

Pukul 3 sore, Joo Won dan Joong Ki sudah menyuruh seluruh staff penyelidik untuk berkumpul di ruang meeting untuk melihat rekaman CCTV yang ternyata memang ditemukan di brankas yang ada di ruang pribadi tuan Cho.

“Ya, mari kita lihat percakapan yang kami dapatkan dari rekaman CCTV itu,” ucap Joong Ki dengan wajah berseri-seri, senang karena mereka semakin dekat dengan penyelesaian kasus.

“Memang bisa? Bukannya kamera CCTV hanya merekam kejadian yang ada, tidak menangkap suara yang terdengar?” tanya Min Young.

“Oh, bukan. Bukan suara asli, tapi kami telah meminta rekan kerja kami, Lee Jong Suk, dengan membaca gerak bibir yang dilakukan tuan Cho dan korban Jung Hye Ri, lalu merekam suara Jong Suk dan mengedit video CCTV ini dengan menambah suaranya. Semacam dubbing,” papar Joo Won.

Min Young dan staff penyelidik lainnya manggut-manggut tanda mengerti.

Joong Ki pun menayangkan video tersebut di layar proyektor.

“Hye Ri, kau benar-benar tak ingat aku? Aku Cho Na Ri….”

Hye Ri mengangkat wajahnya. “Na Ri…”

PAKK!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Hye Ri.

“Siapa yang memperbolehkanmu memanggilku nama itu?!”

“Maaf, tuan Cho…” Hye Ri menunduk.

“Baiklah. Kau tahu, kenapa aku rela melakukan transgender dan membuang tubuh indahku?”

Hye Ri menggeleng ketakutan.

“Karena kau telah merebut lelakiku dan menikah dengannya! Kau harus membayarnya! Bagaimana mungkin, lelaki konglomerat seperti Park Min Soo itu mencintai seorang pelacur sepertimu dan membuang diriku yang dulu sangat cantik?! Kau tahu? Bertahun-tahun aku hanya menangisi kehidupan bahagia yang gagal kudapatkan! Ironisnya, aku melihat kau dan lelakiku bermain riang dengan bayi perempuan berusia 3 tahun di taman kota saat itu!”

“Maaf, tuan Cho. Aku tidak tahu soal hubunganmu dengan suamiku, sungguh.”

“Aku tetap tidak peduli! Makanya, hari itu juga, aku membunuh suamimu yang mencampakkan aku.”

“Jadi, hari itu…”

“Iya! Aku yang menabrak lari suamimu!”

Cho Hyun Woo tertawa sekeras mungkin.

“Jadi, apa rencanamu selanjutnya?”

“Tentu saja, membunuh anakmu. Aku ingin sekali melihat kau menderita, lalu perlahan membunuhmu! Aku tidak puas hanya dengan melihatmu gila setelah kematian lelaki bangsat itu! Itu tidak cukup!”

Hye Ri berlutut di depan tuan Cho sambil menggenggam erat kakinya, “Aku mohon, biarkan Min Young bebas! Dia tak tahu apa-apa!”

Tuan Cho tersenyum sinis, lalu menendang tubuh lemah Hye Ri.

“Baiklah. Yang pasti, aku tetap ingin balas dendam padamu.” Tuan Cho menyeringai. Ia menghampiri Hye Ri, lalu melepas satu persatu kancing baju Hye Ri.

“Aku ingin tahu, seberapa pintar kau melayani Park Min Soo, hingga membuat ia berpaling dariku…” desisnya.

“Hentikan!” teriak Min Young. Ia menelan ludah.

“Oh, Min Young. Maaf.”

Min Young segera berlari ke luar ruangan.

“Min Young!”

Joong Ki dan Joo Won berlari secepat mungkin untuk mengejar Min Young.

“Min Young!” Joong Ki berhasil memegang lengan Min Young dengan nafas tersengal-sengal, “bersabarlah. Kita baru menguak kebenaran hari ini, kita belum memiliki surat perintah untuk menangkapnya.”

Min Young melepaskan tangannya dari genggaman tangan Joong Ki.

“Kau pikir aku bisa diam saja setelah tahu kenyataannya?!”

Joo Won yang melihat Min Young begitu marah langsung pergi ke kantor polisi pusat untuk segera membuat surat perintah penangkapan.

“Tapi Min Young..”

Min Young tak punya keinginan untuk menghiraukan ucapan Joong Ki. Ia terus berlari, berlari dan berlari.

.

.

.

BUGG!!

Min Young menghajar kedua penjaga pintu kamar tuan Cho dengan pukulannya yang telah dikuasai oleh amarah. Ia pun bergegas memasuki ruangan dan melihat tuan Cho tengah meminum obatnya.

“Hye Ri?!”

Min Young memukul wajah tuan Cho, lalu bertubi-tubi memukul bagian tubuh tuan Cho sembari mengatakan kata-kata kasar yang sangat ingin ia keluarkan.

“Kalau kau membunuh Hye Ri karena balas dendammu pada Hye Ri, maka aku datang kemari demi membalas dendamkan Hye Ri!!”

Tak lama kemudian, Joong Ki dan beberapa polisi lainnya datang. Joong Ki segera menarik tubuh Min Young.

“Min Young! Kendalikan dirimu!”

Mata Min Young kini berkaca-kaca.

“Tak hanya membuang harga diri dan kebahagiaanmu sebagai wanita, kau juga membuang rasa manusiawimu sebagai manusia! Kau binatang! Kau iblis!”

Joong Ki berusaha menenangkan Min Young dengan memeluknya. Min Young sempat memberontak, namun setelah melihat tuan Cho pergi dengan tangan diborgol, tubuhnya melemas. Ia menangis sekeras mungkin. Ia benar-benar lelah mengingat semua kenangan pahit yang ibunya alami.

Eomma…” lirihnya.

8 thoughts on “Breaking the Case (Series 1)

  1. Sasa maaf ya kmrn aku baru like aja commentnya skr haha ^^v
    Project baru ya sa? keren nih ^^
    aku bakalan suka ff ini karena genrenya berbau misteri😀 suka :* *emangadayangnanya *plak
    hmm pengetahuannya banyak di ff ini sekalian belajar deh😀
    hebat ih kamu
    tapi ada satu moment yang ganjil menurut aku pas bagian bibi kwon kan dibilang berat tubuhnya berlebih klo dia kenal diabetes bukannya harusnya dia tambah kurus ya?
    ehh maaf loh sa klo aku sok tahu soalny itu berdasarkan pengetahuanku saja sih ^^v

    Aku bru sadar dri beberapa ff kmu yang aku baca
    klo sebenernya di tiap ff kmu punya gaya yang berbeda
    jdi seolah2 yg nulis bukan kamu tapi entah kenapa justru karena itulah gaya penulisanmu jadi unik
    walaupun terkesan beda2 tapi pas aku baca pasti pikiranku ‘Wahhh FF-nya Sasa banget’
    pokoknya beda dehh
    teruskan gayamu saeng ^^V
    semangat!
    ditunggu series berikutnya dan yang pasti bakalan seru😄

    1. soal diabetes itu gini kak :
      kan kadar gula nambah, kinerja darah menurun, terus banyak komplikasi penyakit, justru itu malah bikin gendut (?) #pakk

      enggak sih, tergantung tingkat parahnya diabetes kak. kebetulan semua nenek aku yang kena diabetes gendut semua, #makanya disini kutulis gendut #soalnya kan bibi kwon paruh baya, lain cerita kalo bibi kwon itu masih muda kak ^^

      iya kak.. soalnya masih banyak belajar.. aduh… jangan baca FF lama kak, FF lama masih mau aku revisi biar bahasanya bisa bagus kayak sekarang #ceilaaahhh #kalo ada waktu aja seh

      haghag.. makasih kakak… ^^

  2. Sumpah aku sebenernya ngeri sama ff ini, banyak kata darah yg keselip di ff ini. Bikin aku merinding & panas dingin -akuphobiadarah-. Tp entah kenapa aku malah semakin penasaran setiap ngebaca dari 1 kalimat ke kalimat lainnya. ff ini bagus banget-banget saeng.. Kamu nguasain banget semua tentang dunia penyelidikan, otopsi & obatan2an. DAEBAK!!!!
    Next part ditunggu yah~ hwaitinggggg~ (9ˆ▽ˆ)9

  3. sasa masih ingat denganku,,,
    aku dah stgh taun tak berkunjung ke blog mu
    bgt liat breaking the case
    WOW penjelasannya eksplisit bgt dan yg penting inti critanya ngenaaa bgt
    DAEBAK MANNNNN!!!
    ASAP yaa

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s