[Ficlet] Real Love


my-real-love

A Story by Sasphire

My Real Love

Angst, Romance, Tragedy| General | Ficlet (1.875 Word)

Okey, aku udah lama gak update yak, sudah saya kira, ini karena saya sibuk liburan😆

saya gak nemu couple yang pas untuk cerita ini, dan saya pikir couple ini adalah satu-satunya kandidat yang tersisa😄

hope u enjoy ^^

Myungsoo menatap pilu gadis yang tengah berbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai macam kabel menempel di tubuhnya. Suasana di ruang ICU sangat sunyi. Yang terdengar hanyalah desahan napas gadis itu dengan alat bantu berupa selang yang dimasukkan melalui kerongkongannya, juga bunyi kardiogram yang terus terdengar selagi jantung gadis itu tetap berdetak.

“Soojung.”

Perlahan, Myungsoo menggenggam tangan kanan Krystal—satu-satunya bagian tubuh gadis itu yang tak tersentuh benda medis—dengan erat. Selama 4 tahun penuh, kondisinya tak berubah sama sekali setelah sebuah kecelakaan yang menimpanya. Bukan kesalahan siapapun sebenarnya, karena semua yang terjadi adalah kuasa Tuhan. Namun Myungsoo terus-terusan merutuki dirinya sendiri.

Ia menangis, sembari mencium lembut tangan Krystal. Entah sudah berapa kali ia melakukannya, tapi yang jelas ia tak akan pernah lepas dari rasa bersalahnya kalau Krystal tak juga sadar.

“Maaf.”

.

.

.

“Oppa,” ucap Krystal setelah ia tahu Myungsoo mengangkat teleponnya.

“Oh, iya. Ada apa?” Myungsoo sibuk membenarkan rompinya demi pementasannya bersama Infinite. Saat itu mereka masih sibuk mempromosikan Be Mine.

“Aku ingin mengambil kostum kalian di daerah Cheongdamdong. Oppa bisa antarkan aku kesana?”

“Maaf Soojung. Tapi, hari ini aku masih sibuk. Kau tahu, hari ini aku ada pementasan di Music Bank? Nanti juga ada Fan Meeting.”

“Ehm, kalau besok?” tanya Krystal penuh harap.

Myungsoo sedikit berdecak. Dalam hatinya menggerutu. Tidak tahukah gadis itu bahwa keesokan harinya mereka diberi kesempatan untuk free? Mencari waktu luang sangatlah sulit, tidak bisakah gadis itu memberi waktu bersantai untuknya?

“Aku ada acara penting, jadi tidak bisa. Maaf ya?”

Krystal mengernyit. “Acara penting?”

Setahu Krystal, tidak ada acara untuk hari Sabtu setelahnya. Krystal memang hanya asisten manager dari Infinite, tapi ia selalu tahu jadwal-jadwal penting mereka. Hanya saja, terkadang ia lupa.

Seperti hari itu. Ia lupa tentang jadwal mereka di Music Bank dan juga fan meeting setelahnya. Tapi ia benar-benar tak ingat kalau ada acara penting di hari setelahnya.

“Iya. Sudah ya.”

PIP.

Krystal hanya tersenyum kecil. Berarti, memang seharusnya dia mengambil kostum di Cheodamdong sendirian. Di sisi lain, ia merasa bersalah pada Myungsoo karena sudah mengganggu kegiatannya sebagai seorang entertainer.

Setelah  menghela napas cukup dalam, Krystal segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah.

Sementara itu, Myungsoo segera menon-aktifkan handphone-nya dan meletakkannya di atas meja riasnya.

“L, setelah ini,” ucap Hoya sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke arloji yang ia kenakan.

Myungsoo mengangguk sambil tersenyum. Ia bergegas berlari, namun tangannya menyenggol kabel lampu hingga lampu itu jatuh. Myungsoo sempat kaget, namun untungnya tak terjadi apa-apa.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Hoya.

Myungsoo menggeleng pelan. Ia hendak menunduk untuk membersihkan serpihan kaca lampu, namun para staff mencegahnya dan dengan cekatan segera membereskannya.

“Baiklah. Ayo.”

Myungsoo mengangguk menanggapi ucapan Hoya dan mengikuti langkahnya untuk segera naik ke atas panggung. Tapi, detak jantungnya berdetak 2 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Bukan karena nervous atau demam panggung, tapi dia memiliki firasat buruk.

Dan entah mengapa, terlintas seorang gadis bernama Krystal di benaknya.

.

.

.

Masih terlintas di benak Myungsoo kabar-kabar tak enak tentang kronologi kecelakaan yang dialami Krystal. Yang lebih menyedihkan lagi adalah saat di mana sang dokter memvonis Krystal bahwa dia mati otak. Meskipun jantungnya berdetak, namun sebenarnya ia tak lagi hidup.

Seringkali ia mendengar ucapan-ucapan para saksi mata, namun ia tetap kesulitan membayangkannya. Kecelakaan yang terlalu tragis, bahkan mengenai seorang gadis yang ia cintai, mana mungkin ia sanggup membayangkannya?

“Ada kecelakaan beruntun di ruas jalan tol menuju Cheongcamdong. Saat itu, nona Jung kehilangan kendali karena ada sebuah motor dari arah berlawanan yang jatuh di depannya. Setelah itu, ia banting setir dan mobilnya menabrak truk di depannya. Nona Jung sepertinya lupa memakai sabuk pengaman. Ia terpental ke luar mobil lewat kaca depan mobil.”

Myungsoo menggenggamkan tangan Krystal dan memukul pelan keningnya. Dan untuk ratusan kalinya selama 4 tahun ini, air matanya terus mengalir meratapi rasa bersalahnya.

“Harusnya hari itu aku menyanggupi permintaannya.”

Dan entah berapa kali kalimat itu terdengar dengan baik di telinga Krystal.

.

.

.

Krystal berada di tempat yang cukup indah. Pakaiannya serba putih, di sekitarnya pun terlihat sangat indah dengan bunga-bunga yang jarang ia lihat di Seoul sebelumnya.

“Kemana kau akan pergi selanjutnya?” Sesosok lelaki berjalan menghampirinya dengan wajah yang sangat bercahaya. Tidak menyilaukan, namun paras tampannya tak terlihat, tertutup oleh sinarnya.

Krystal bimbang. Hamparan bunga beserta wanginya begitu menggodanya untuk segera menikmati pesona taman yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi, di sisi lain…

“Soojung!!”

Seorang lelaki yang sangat ia cintai berdiri sambil membuka telapak tangannya, berharap Krystal menerimanya dan mau kembali ke sisinya.

“Kemarilah.”

Soojung berpikir sejenak. Ia benar-benar ingin pergi dari dunianya. Ia terlalu sering membuat Myungsoo khawatir, merepotkan Myungsoo, juga membuat Myungsoo kesal. Tak ada gunanya ia hidup kalau yang ia lakukan hanyalah menjadi parasit bagi Myungsoo.

Tapi Krystal sangat mencintai Myungsoo.

Oh, dia belum pernah sekali pun menyatakan cinta pada Myungsoo.

Krystal menoleh pada sesosok lelaki yang tadi memberikannya pertanyaan akan tujuan hidupnya. Lelaki itu hanya mengangguk, menyetujui keputusan Krystal.

.

.

.

Oppa…”

.

.

.

Setengah kaget sekaligus tak percaya. Gadis yang telah 4 tahun lamanya berbaring, kini duduk bersila di atas ranjangnya sambil melahap bubur sayur yang telah disediakan oleh perawat.

“Oh, sudah lamakah aku tidur? Kenapa rasanya lapar sekali? Bahkan satu mangkuk pun kurang,” gerutu Krystal. Ia memalingkan wajahnya ke Myungsoo yang duduk termenung di sampingnya.

Oppa, bisakah kau ajak aku makan selain ini? Kalau bisa, dalam porsi dua kali lipat dari ini!!”

Myungsoo tersenyum kecil. “Iya. Kalau kau sudah sembuh total, akan kubelikan.”

Myungsoo merasa lega, setidaknya Krystal tidak merintih kesakitan setelah ia sadar dari tidur panjangnya. Aneh memang, mengingat dokter telah memvonisnya mati otak. Kalaupun Krystal hidup, kemungkinan terbesarnya adalah dia hidup lumpuh untuk selamanya. Itu kalimat analisis dokter yang sangat Myungsoo benci. Namun, tak apa. Toh, itu tak terjadi pada Krystal.

“Aku senang, kau masih ingat aku.”

Krystal memainkan sendok makanannya sembari menatap Myungsoo. Ah, 4 tahun ini ia melihat wajah Myungsoo penuh dengan tangisan. Dan sekarang, lelaki itu tersenyum. Harusnya Krystal sadar bahwa ia bukanlah parasit bagi Myungsoo. Harusnya ia tahu bahwa ia adalah oksigen bagi Myungsoo.

“Aku juga senang, kau tidak lumpuh, seperti diagnosa dokter Kim.”

Krystal tersenyum kecut.

“Aku janji, setelah ini, aku akan menjagamu lebih baik dari sebelumnya.”

Krystal mengangguk. Ada kegelisahan dalam hatinya.

“Itu tak akan terjadi oppa.”

.

.

.

1 week later

Sesekali, Krystal memijat pelan bahu kirinya. Jujur saja, saat ia terbangun dari komanya, seluruh tubuhnya seakan tak dapat bergerak. 4 tahun tergeletak di atas ranjang membuat seluruh otot tubuhnya kaku. Bahkan menggerakkan ujung jarinya pun tak sanggup. Tapi, melihat Myungsoo yang selalu setia menemaninya duduk di sampingnya membuat Krystal bertekad untuk tidak membuat Myungsoo kembali menangis. Setidaknya untuk hari itu.

“Aku mohon, untuk sekali ini, biarkan aku melihat senyumannya lagi…”

Entah mendapat kekuatan atau apa, ia melepas alat bantu pernapasannya dan duduk tegap di depan Myungsoo.

“Oh, ternyata berbaring itu melelahkan. Oppa, aku lapar. Tak adakah sesuatu yang bisa mengganjal perutku?”

Krystal tersenyum mengingat ulah konyolnya saat itu. Bodoh memang. Apalagi, setelah ia selesai makan, seluruh otot tubuhnya terasa mengeras hingga ia berteriak kesakitan.

“Kau memang tidak bisa diam ya?” tanya Myungsoo sambil berdecak. Ia menggenggam erat tangan kanan Krystal, membuat lamunan Krystal memudar begitu saja.

“Memangnya kau benar-benar merasa lebih baik hingga kau sangat ingin keluar dari rumah sakit? Bahkan wajahmu masih pucat!”

“Aku memang sudah lebih baik!!” bela Krystal, “lihat? Setelah ini aku tak akan dirawat di rumah sakit. Aku benci tempat itu.”

Myungsoo tersenyum mengejek, “Wae? Kau hanya sekali seumur hidup ke rumah sakit. Itupun kau dalam keadaan tak sadarkan diri. Memangnya kau ingat bagaimana suasana di rumah sakit saat kau koma?”

Krystal tersenyum kecil, lalu menggeleng. Tidak salah kalau aku ingat, oppa. Bisiknya dalam hati.

Oppa.”

Hm?”

Sebuah kecupan mesra Krystal berikan pada Myungsoo tepat di pipi kirinya.

Saranghaeyo.”

Myungsoo menatap dalam mata Krystal, “Nado.”

Myungsoo telah merencanakan sebuah liburan indah bagi mereka berdua, mengingat 4 tahun sebelumnya hanya ia habiskan untuk menangis, menangis dan menangis. Mereka memang bersama, namun rasanya terpisahkan. Myungsoo kerap kali berbicara, namun Krystal hanya sanggup bernapas.

Krystal merasa kasihan pada Myungsoo yang terus-terusan tersenyum bahagia sambil mengayunkan genggaman tangan mereka. Melihat burung-burung berterbangan, merasakan lembutnya desiran angin, melihat langit biru yang indahnya tak pernah tergantikan telah Myungsoo lakukan pagi ini untuk mengucapkan terima kasih tak terhingga pada Tuhan karena telah mengizinkan Krystal sadar dan berada di sampingnya. Tanpa ia tahu rencana Krystal demi hubungan mereka berdua.

Tak lama kemudian, handphone Krystal berdering keras.

“Sebentar, oppa.”

Krystal segera merogoh handphone yang ada di saku kanannya, membuatnya melepas genggaman tangannya.

“Hallo?”

“Kau sialan!!”

Terdengar suara seseorang yang disamarkan penuh dengan tekanan, membuat Krystal cukup ketakutan, namun ia berusaha untuk tetap tenang.

“Kau telah merebut Myungsoo-ku!!”

Oh, berarti orang yang menelponnya sekarang adalah fans fanatik seorang Myungsoo, atau lebih tepatnya seorang anggota boyband Infinite bernama panggung L.

“Kubunuh!!”

Krystal segera mencari orang mencurigakan yang ada di sekitarnya, barangkali targetnya bukan Krystal, melainkan Myungsoo.

Dan Krystal menemukan seorang lelaki—mungkin pembunuh bayaran—mengarahkan sebuah pistol ke tubuh Myungsoo dari lantai 12 sebuah gedung yang tak terlalu jauh dari tempat mereka.

“Soojung, ada apa?”

Tak ada waktu bagi Krystal untuk menjawab pertanyaan Myungsoo. Gadis keras kepala itu bergegas memeluk erat Myungsoo hingga akhirnya secara bertubi-tubi butiran peluru menghujam tubuhnya.

“Soojung!!”

Krystal ingin sekali mempererat dekapannya, namun dalam waktu sekejap ia merasa ia tak punya cukup tenaga untuk melakukannya. Perlahan tubuhnya ambruk, namun dengan sigapnya Myungsoo mendekap tubuh gadis itu di pangkuannya.

Rasa sakit tak mampu lagi Soojung tahan. Beberapa peluru bersarang di daerah vital. Ada yang bersarang tepat di samping jantung hingga membuat jantungnya berdetak tak normal, ada pula yang mengenai paru-paru kirinya hingga ia kesulitan bernapas.

“Aku sudah menelpon ambulans untuk segera menjemputmu, bertahanlah!!” Air mata Myungsoo kembali turun melihat Krystal bersusah payah mengumpulkan udara untuk ia hirup.

Op…pa…”

Tangan Myungsoo yang berdarah karena dengan spontan memegangi punggung Krystal bergegas menghapus air mata Krystal yang mulai turun, sama seperti air matanya.

Gwen..chan..na?”

“Diam dan jangan pikirkan aku yang baik-baik saja ini! Kau bisa kehilangan banyak darah!!”

Selanjutnya, hentakan-hentakan nafas yang semakin lama semakin keras, menunjukkan betapa sakitnya paru-paru Krystal saat ini.

Meskipun rasanya bernapas sudah sangat sulit, namun Krystal bersikeras untuk menyisakan kekuatannya pada tangan kirinya untuk bergerak menghapus air mata Myungsoo.

Ter..seny..nyumm… op..pa…” Krystal menyunggingkan bibirnya, “sam..ma… ak..kuu…”

Ingin sekali Krystal mengucapkan kalimat yang lebih lengkap lagi. Tersenyumlah untukku, oppa. Sama sepertiku yang saat ini tersenyum untukmu. Tapi ia terlalu lelah untuk berbicara.

“Aku akan tersenyum saat aku tahu kau baik-baik saja. Ya?”

Krystal mengangguk pelan. Walau ambulans bisa sampai dalam waktu 4 menit, rasanya seperti 4 tahun bagi Krystal. Ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit karena 6 peluru yang menyakiti tubuh bagian belakangnya. Perlahan, ia menutup matanya dengan sebuah senyum manis menghiasi wajahnya, walau dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.

.

.

.

“Tunggu! Aku bukannya ingin kembali seutuhnya pada oppa.”

Lelaki berparas cahaya—yang mungkin malaikat—merasa heran. “Lalu?”

“Aku hanya ingin berkata padanya, bahwa aku mencintainya. Setelahnya, aku akan pergi ke hamparan bunga itu.”

“Kau yakin?”

Krystal mengangguk pelan, “Aku telah membuatnya menangis selama 4 tahun ini. Ia harus mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku. Aku yakin dia akan lebih bahagia suatu saat nanti.”

Krystal tersenyum riang, “Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mempersembahkan rasa cintaku yang sesungguhnya.”

 End

10 thoughts on “[Ficlet] Real Love

  1. Sasphire, km juga punya akun SW kan?? Aku penggemar beratmu. setiap hari aku ngunjungi WP kamu. hehehe.

    Aku kira, ff ini bklan happy ending, eh tpi dugaanku salah. 5 jempol buat kamu. *kalopunya xD

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s