[Ficlet] Mine


mine4

Cast : Alice Song, Yang Yoseob, Son Naeun

Ficlet | Horror, Psychology, Thriller | PG-16

Note : aku kangen ngarang thriller :”) tapi males buat yang detail, jadinya gak thriller malah. maaf :”(

sebenernya FF ini mau aku ikutin lomba FF-nya yang buat blog-nya Nana di event ini. dengan tema, ya, sudah jelas, When i was Your Man. tapi, cerita ini melenceng banget dari tema utama. ya udah, daripada nanti gak jadi dapet EXO XOXO (kayak yang bakal dapet aja), mending gak usah :”)

Nana, aku bakal buat FF dari semua tema yang kamu tentukan. udah ada 3 lo Na, yang aku kirim ke kamu, ini FF, sama Bronze. bronze itu inspirasinya dari Into the New World lho, Na. aku sih pede tuh cerita bagus (EA #pakkk), tapi karena length-nya bablas jadi oneshoot, jadinya gagal.

baca setiap FF yang aku buat ya Na😄 gak bakal ada Yaoi, Yuri atau yang lain kok, Na. soalnya semua FF yang aku buat untuk belakangan ini pasti karena tema dari kamu😄

Inspired : Kim Sori – Dual Life

Suara lembut Bruno Mars dengan lagunya When I Was Your Man terngiang dengan jelas di telinga Alice. ia mengeringkan rambutnya dengan handuk pink lalu membanting tubuhnya di sofa ruang pribadinya. Sejenak menghela nafas. Lagu di MP3 Player-nya mendekati detik-detik terakhir selesainya lagu, namun ia mencegah lagu itu berakhir dengan memencet tombol play. Entah sudah berapa kali ia melakukannya sepagian ini.  Oh, bukan karena lagu itu sesuai dengan keadaannya. Kau tahu? Alice adalah perempuan, tidak mungkin dia menyanyikan lagu penuh putus asa yang seharusnya didengarkan oleh para lelaki brengsek yang melukai wanitanya.

Ia hanya merasa gadis yang ada dalam lagu itu adalah dirinya. Namun, bukan dia yang meninggalkan lelakinya. Tapi lelakinya yang meninggalkan dia. Walaupun Alice telah melakukan segala cara untuk mempertahankan hubungan di antara mereka yang telah berlangsung 3 tahun, namun tetap tak berhasil.

Sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Hanya kalimat itu yang mantan kekasihnya tekankan berkali-kali di depannya hingga ia muak. Alice berusaha memahami arti kalimat itu, tapi ia tetap tidak paham. Apa yang kurang darinya? Apa yang tidak ia miliki yang seharusnya ia miliki sebagai gadis yang sempurna bagi kekasihnya?

She have no clue.

Sudah seminggu lebih ia tak bertemu lelaki yang sangat ia cintai, namun rasanya seperti setahun. Rasa yang memuakkan, menyakitkan, juga memalukan.

My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life

Bagian lagu itu membuat hati Alice terasa tertusuk pedang untuk harakiri. Strong Woman? Tidak. Dia tidak kuat. Bahkan pada kenyataannya dia tidak meninggalkan Yoseob–kekasihnya.

Selebihnya, ia memejamkan mata dan mendalami masing-masing kota kata yang tersusun rapi di setiap bait lagu itu. Oh, biarkan dia, jangan ganggu dia. Ia tengah menghibur hatinya dengan membayangkan semua yang ada di benaknya seolah terjadi di keadaan nyata.

Kronologi di benaknya :

Ia bosan pada sikap Yoseob yang tak terlalu acuh padanya. Di saat para gadis dengan senyum mengembang berjalan di karpet merah untuk berdansa dengan masing-masing pasangan, Yoseob malah memilih untuk diam—ia tak bisa dansa. Yoseob tak pernah membelikannya bunga dan menggenggam tangannya dengan mesra di tengah-tengah taman bunga, yang ada hanya mengajak Alice untuk makan malam dan meminum wine beraroma elegan.

Yoseob tak pernah menyanyikan lagu untuknya karena ia terlalu sibuk untuk menyanyikan lagu-lagunya untuk gadis-gadis lain yang merupakan penggemarnya. Oh ya, Alice juga salah satu penggemarnya. Apa mungkin Yoseob pikir menyanyikan lagu untuk para penggemarnya cukup bagi Alice?  Tidak. Memangnya Alice sama dengan gadis-gadis itu? Tidak. Meskipun Alice adalah salah satu penggemarnya, tapi ia kekasih Yoseob. Itu membuat Alice berbeda dengan semua fans-nya, hanya hal itu saja, masa’ seorang Yoseob tak paham?

Hal itu membuat Alice muak, lalu memutuskannya. Pergi dan menghilang dari kehidupan Yoseob.

Sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Itu yang Alice ucapkan.

Setelah semuanya selesai, spontan ia membuka mata dan duduk tegap. Ia mendesis kesal dan mengacak rambutnya yang masih basah.

“Sial!” umpatnya kemudian. Pada kenyataan, sekali lagi, kronologinya tidak begitu. Bagian akhirnya tidak seperti yang ia bayangkan.

Yoseob mengajaknya makan malam seminggu yang lalu.

.

.

.

Alice memutar pandangannya ke lantai atas gedung restoran termewah milik keluarga Yang hanya untuk mencari kekasihnya, Yoseob. Setelahnya, ia tersenyum kecil saat melihat seorang lelaki tersenyum padanya sambil melambaikan tangan.

“Mau wine?” tanya Yoseob saat akan menuangkan wine.

“Oh, sudahlah, aku bosan dengan Tequilla,” desis Alice melihat huruf-huruf yang tertera di label botol itu.

“Oh,” Yoseob menarik botol Wine dan menutup rapat botol itu. Ia tersenyum lagi dan melontarkan penawaran pada Alice, “kalau begitu, kau mau apa? Vodka? Bourbon? Chianti?”

“Aku muak dengan wine,” Alice menegaskan.

Senyum Yoseob perlahan memudar. Tadi ia sangat percaya diri akan mampu membuat Alice tersenyum puas atas apa yang telah ia lakukan—seperti biasa—namun ternyata tidak. Oh, Yoseob sangat tahu gadisnya itu merasa bosan dengan sikapnya yang perlahan berubah. Sangat bosan.

Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak punya waktu untuk duduk diam dan menerka apa yang harus dibenahi pada dirinya dan apa hal baik yang seharusnya tetap terjaga di dalam jiwanya. Kesibukannya sebagai penyanyi tak memberinya kesempatan. Oh, dia juga punya alasan lain kenapa dia begitu membosankan akhir-akhir ini. Dan Alice tidak tahu alasan itu.

“Lalu kau maunya apa?”

Alice menghela nafas sejenak, lalu berkata, “air putih saja.”

“Air putih?” kali ini Yoseob menahan tawa, terlihat dari tekanannya saat berbicara sambil sedikit tersenyum, “oh, ayolah Alice. kau tahu kan kita ada di mana sekarang?”

“Memang kenapa?” kali ini Alice yang menahan tawa, merasa hina untuk ditertawakan, “apa di restoran semewah ini tidak ada air putih? Lucu.”

“Baiklah, baiklah. Kumintakan air putih.”

Alice tetap menatap lelaki pujaannya dengan tatapan mata penuh tanda tanya. Ada yang aneh memang. Sikap Yoseob sedikit arogan, tidak seperti Yoseob yang pertama ia kenal, yang membuat ia tergila-gila padanya. Atau mungkin Yoseob bersikap manis, baik hati dan rendah hati hanya untuk membuat fans-fansnya berteriak histeris?

Baru saja Alice membuka mulut untuk bicara, Yoseob sudah bersuara, “ada yang ingin kubicarakan.”

Alice menghela nafas, “apa?”

“Kau mencintaiku ‘kan?”

Alice mengangguk, belum mengerti apa maksud Yoseob menanyakannya.

“Kalau kau mencintaiku, kau mau melakukan apapun asal aku bahagia ‘kan?”

Alice butuh waktu untuk berpikir hingga ujung-ujungnya dia kembali mengangguk.

“Kalau begitu…”

Jantung Alice rasanya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya.

“Aku benar-benar memohon, kita akhiri saja sampai sini.”

“Apanya yang diakhiri?” tanya Alice, masih belum mengerti arah ucapan Yoseob.

“Ya, hubungan kita.”

Keparat! Umpat Alice dalam hati. Hanya ingin mengatakan kalimat menyebalkan itu, dia harus mengajak Alice makan malam, bahkan menawarinya wine? Oh, pintar. Alice nyaris tak dapat membaca jalan pikiran Yoseob.

“Aku tahu, aku sudah mengatakannya berkali-kali dan berkali-kali pula kau menolaknya. Tapi, aku benar-benar tidak sanggup meneruskannya.”

Alice tetap diam, berusaha menahan air mata yang beranjak keluar dari persembunyiannya. Dimana harga dirinya sebagai seorang gadis? Harusnya dia yang mencampakkan Yoseob, kenapa sebaliknya?

“Kalau kau tanya alasannya kenapa, karena kau berubah.”

Huh? Alice tersenyum kecil. Berubah? Bukannya Yoseob yang berubah? Menggelikan.

“Aku juga tak bisa kembali seperti dulu. Maaf.”

Oppa!”

Alice mencondongkan sebagian badannya ke kanan, mengikuti gerakan kepala Yoseob yang menoleh ke belakang. Berdiri seorang gadis cukup cantik dengan simple dress warna putihnya. Rambutnya juga dibiarkan terurai. Manis.

Yoseob kembali menatap ke depan dan memperhatikan gelagat Alice yang mengernyit heran. Wajar. Alice belum pernah bertemu gadis itu sebelumnya.

“Alice, perkenalkan,” ucap Yoseob, “Naeun. Calon tunanganku.”

Eoh?” seketika itu juga hati Alice terasa remuk. Di saat ia belum mengatakan iya untuk menyetujui keinginan Yoseob mengakhiri hubungan mereka, Yoseob malah mengenalkan tunangannya dengan senyuman?! Pintar.

“Naeun, ini Alice. temanku.”

Oke, teman.

“Senang bertemu denganmu, Alice,” Naeun tersenyum lebar sambil mengacungkan tangannya, seperti yang dilakukan setiap orang untuk berkenalan. Alice tersenyum, berdiri dan menatap wajah gadis itu lamat-lamat.

“Jelek,” Alice menepis telapak tangan itu dan pergi begitu saja tanpa mempedulikan bagaimana reaksi Naeun dan Yoseob.

.

.

.

Alice sudah berusaha melupakan Yoseob dengan membakar semua foto-foto di masa lalunya bersama Yoseob, menghapus nomor teleponnya, mencaci maki Yoseob jauh di dalam hatinya, namun nihil. Ia tak bisa melupakannya. Ia benci kenyataan bahwa Cinta tak harus memiliki.

Persetan.

Alice juga benci kalimat yang berbunyi : ‘Kalau aku tak bisa mendapatkannya, maka orang lain tidak boleh’.

Konyol. Kalimat itu punya makna lain yang tersirat cukup jelas : ‘Kalau aku berhasil mendapatkannya, orang lain pun boleh’.

Tidakkah mereka-mereka yang psikopat menyadari itu?!

Bagi Alice, sekali miliknya, untuk selamanya akan jadi miliknya. Orang lain tak akan bisa merebut apa yang ia miliki.

Alice tersenyum sinis memandangi bayangannya di cermin malam itu. Angin yang cukup liar menyusup ke jendela besarnya dan membuat gorden sutra putihnya melambai-lambai.

“Son Naeun.”

“Yang Yoseob.”

.

.

.

Malam itu, Naeun tengah asyik menemani keponakannya melihat channel tv anak-anak kesukaannya, sambil mengajari berhitung anak lelaki yang baru saja berumur 2 tahun itu.

“Mau sampai kapan kau mengajari anak-anak untuk berfantasi layaknya orang bodoh?”

Naeun terkejut ketika mendapati Alice dengan blazer hitamnya berdiri di sudut ruang tamunya. Ia tahu pintu rumahnya memang tak terkunci untuk menunggu kakaknya menjemput Min Woo, keponakannya untuk pulang. Tapi, bagaimana bisa Naeun tidak menyadari keberadaan Alice sampai ia berdiri di sudut ruang itu?

“Oh, Alice,” Naeun sedikit gugup. Belum sempat Naeun melontarkan pertanyaan, kakak perempuannya datang.

“Naeun, aku langsung pulang. Terima kasih sudah menjaga Min Woo.”

“Iya, unnie. Hati-hati.”

Naeun membalikkan badan demi menatap Alice yang kini tersenyum kecil padanya.

“Darimana kau tahu rumahku?”

“Kalau kau terus-terusan memperlihatkan dunia yang penuh fantasi pada anak kecil dan membiarkan mereka berimajinasi tentang kantung ajaib dan peta yang bisa berbicara, saat mereka besar nanti, mereka akan sangat sedih demi menghadapi kenyataan yang ada, bahwa dunia tak seindah yang mereka bayangkan ketika masih kecil,” Alice tak menghiraukan pertanyaan Naeun.

“Maaf, tapi, aku tidak mengerti.”

“Dunia yang nyata tidak sesuai dengan dunia kartun ataupun Fairy Tale, kau tahu itu ‘kan? Cinta abadi, cinta sejati, bahagia selamanya kalau kau meyakininya. Persetan dengan itu semua,” Alice berjalan menghampiri Naeun dengan perlahan, kali ini tatapan matanya membunuh. Ekspresi dinginnya membuat suasana seolah membeku.

“Kenapa kau seperti ini padaku?” Naeun berusaha mencairkan keadaan dengan tersenyum ramah pada Alice, “apa aku pernah salah padamu?”

“Iya. Kau punya kesalahan yang sangat besar,” Alice mendekatkan wajahnya pada Naeun hingga bagian belakang kepala Naeun menyentuh tembok rumahnya, “kau adalah penyihir jahat yang ada di setiap cerita. Kau Gothel, kau Laverna, kau ibu tiri Cinderella. Kau selalu mengganggu sang putri yang menjadi pemeran utama.”

“Apa maksudmu, Alice? Kita baru bertemu pertama kali, dan…”

“Kau merebut Yoseob-ku! Yoseob adalah pangeranku, dan aku adalah putrinya. Kau tahu? Kami telah menjalin cinta selama 3 tahun dan ketika kau datang, kau merusak semuanya! Harusnya aku bisa hidup bahagia selamanya, tapi lihat? Hidupku tak seindah itu karena kau, cantik.”

Naeun cukup terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tak tahu apa-apa. Ketika ia membuka mulut untuk berbicara…

JLEBB!!

Sebuah benda dingin nan tajam menghujam perutnya. Ia membelalakkan matanya, lalu merintih kesakitan. Ia jatuh tergeletak di lantai. Erangannya terdengar jelas di telinga Alice.

 Bukan rasa bersalah yang ada, Alice malah tertawa kecil melihat darah mengalir dari perut gadis malang itu. Alice pun segera mencabut pisau miliknya dan menghujamkan pisau itu ke jantung Naeun. Tewas seketika.

“Yoseob, aku datang.”

.

.

.

Oppa!”

Yoseob membalikkan badannya dengan senyum mengembang, namun senyum itu segera menghilang ketika yang ia dapati bukanlah Naeun, melainkan Alice, malam hari itu.

“Oh, Alice?” Yoseob meletakkan kopi hangatnya di meja.

“Untuk apa malam-malam begini datang ke rumah?”

Alice mengalihkan pandangannya ke jam dinding.

“Baru jam 11.”

“Tapi…”

Oppa sendiri? Kenapa belum tidur?”

“Oh, aku,” Yoseob bingung akan menjawab apa. Ia tahu ia telah mencampakkan Alice, dan ia merasa bersalah untuk itu. Ia tak ingin membuat Alice merasa sedih lagi jika ia menjawab ‘aku menunggu Naeun’.

Dan jika nantinya Yoseob menjawabnya dengan pernyataan itu, pasti Alice akan kembali bertanya, mengingat Alice adalah orang yang cukup kritis mengenai segala hal. Mungkin seperti ini pertanyaannya : ‘malam-malam begini menunggu Naeun? Mau apa?

Tidak mungkin Yoseob menjawab pertanyaan itu ‘kan? Jawaban untuk pertanyaan itu adalah rahasia. Rahasia antara Yoseob dan Naeun.

“Kenapa kau memanggilku ‘oppa’?” akhirnya Yoseob memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Itu lebih aman, “sudah sangat lama sekali kau memanggilku oppa. Mungkin 2 tahun lalu? Saat kau masih tidak percaya bahwa aku adalah kekasihmu dan kau masih menganggap dirimu hanyalah penggemarku, bukan kekasihku.”

Alice mengangguk kecil, “iya. Lama sekali. Saat itu aku benar-benar tak percaya, seorang Alice Song menjadi kekasih Yang Yoseob, soloist yang dicintai banyak gadis di Korea ini.”

Yoseob tersenyum mengingat kenangan lama itu. Oh, cukup. Bukankah Yoseob telah memiliki Naeun yang lebih baik dari Alice? Kenapa sekarang malah tertawa bersama Alice, mantannya?

“Apa yang Naeun miliki, sementara aku tidak?” tanya Alice pada akhirnya.

“Apa?”

“Jawab pertanyaanku tadi. Aku akan berusaha mendapatkan apa yang bisa kudapatkan, lalu aku akan berada di samping oppa lagi.”

“Alice, ini berbeda dengan apa yang kau pikirkan.”

“Kau mau aku memanggilmu ‘oppa’ seperti yang Naeun lakukan? Baik. Kau mau aku menjadi gadis manis seperti Naeun? Baik. Akan kulakukan, asal kau jadi milikku, seperti 3 tahun yang pernah kita lewati bersama.”

“Alice… Apakah kalimat yang pernah kuucapkan itu tidak cukup jelas bagimu? Bahkan tak terhitung berapa kali aku mengucapkannya.”

Sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Kalimat memuakkan itu. Bahkan telinga Alice memerah walau hanya membayangkan kalimat itu dibenaknya, tanpa perlu mendengarkannya.

“You’re mine and i’m yours.”

Yoseob menghela nafas ketika Alice mengucapkan kalimat yang telah menjadi semboyan mereka sejak mereka berlibur ke pulau Jeju 2 tahun lalu saat musim panas.

Saat Alice telah berdiri tepat di depannya, perlahan Yoseob menghirup bau amis.

Bau darah.

“Alice, kau…”

Oppa milikku, tidakkah oppa mau menyadari itu?! Tidakkah oppa menerima kenyataan itu?! Karena oppa, aku jadi gila!!”

Perlahan, Yoseob merasa ketakutan. Apalagi, sorot mata Alice yang tadinya sendu kini berubah menjadi sangat liar.

“Aku akan melakukan apapun supaya oppa bisa jadi milikku seutuhnya!!”

“Alice, apa yang terjadi padamu?!”

Alice mengeluarkan sebuah benda dari saku dalam blazernya. Yoseob spontan melompat, terkejut bukan main. Jantung?! Jantung yang robek?! Itu jantung siapa?!

“Naeun.”

Yoseob semakin terkejut mendengar nama seorang gadis yang disebutkan oleh Alice.

“Aku akan melakukan apapun demi membuat oppa menjadi milikku.”

“Alice!! hentikan!! Ini tidak benar!! Kumohon!!”

Sekali lagi, darah segar menyembur ke wajah Alice setelah pisaunya yang penuh dengan darah Naeun kembali memakan korban, mantan kekasihnya.

“Alice…” Rintih Yoseob.

“Aku sangat ingin kembali ke masa lalu, saat kita sering bersama. Saat kau sering disampingku, dan aku sering disampingmu.”

Alice merangkul tubuh Yoseob yang perlahan kehilangan kesadarannya karena kehilangan banyak darah, lalu membawanya ke mobil merah miliknya.

“Dan dengan begini, kau akan terus ada disampingku, selamanya.”

.

.

.

Alice tersenyum puas ketika menyusuri jalanan Seoul yang lampu-lampunya mulai meredup. Pukul 12 malam. Tak ada yang perlu ia khawatirkan. Yoseob ada di sampingnya sekarang, membuatnya tenang. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Yoseob yang dingin. Tak ada darah yang mengalir di tangannya.

Alice menghentikan mobilnya di sebuah jalanan yang sempit dan gelap. Mungkin tidak terlalu gelap, masih ada sedikit cahaya seadanya dari lampu jalanan.

“Dan Alice memiliki pangerannya, Yang Yoseob, lalu bahagia, selamanya. Ending yang bagus bukan, oppa?”

Alice menutup harinya dengan mengecup mesra bibir Yoseob.

5 thoughts on “[Ficlet] Mine

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s