[Oneshoot] Bronze


bronze

Scriptwriter : Sasphire | General : Family, Sport, School Life | Duration : Oneshoot (3.116 Words)

Mom, that medal bronze just for you

oke… saya lagi kena euforianya Indonesia Open inih *_* check this out.

Ara menyedot susu kemasan yang ada di tangannya sekali lagi demi mengalihkan pikiran negatifnya atas kejadian pagi tadi. Ia tahu makan atau minum sambil berjalan adalah melanggar etika remaja, tapi ia tak ambil pusing soal itu kali ini. MP3 Player-nya memainkan setidaknya 32 lagu, namun telinganya masih saja terasa kosong. Meskipun matanya menatap lurus ke depan memperhatikan jalan, namun matanya kosong, tak menangkap apapun.

“Sudah kubilang ‘kan? Kau bukan atlet bulutangkis yang baik!! Bisa masuk semi final saja untung-untungan!!”

“Kau bukan orang yang cocok untuk menjadi pemenang dalam kejuaraan nasional ini!!”

“Huh!! Dari awal kau lolos turnamen provinsi pun aku ragu kau akan membawa baik provinsi kita. Kau benar-benar berkualitas buruk!!”

Ia menggeleng pelan dan memejamkan mata erat. Benar-benar menjengkelkan. Bukannya masuk semifinal itu sudah baik? Kenapa masih saja salah? Bahkan keesokan harinya ia masih punya kesempatan untuk merebut juara 3. Masihkah buruk? Toh lawannya, Kwon Nara, bukanlah lawan yang mudah dikalahkan bagi atlet pendatang baru sepertinya. Nara pun bisa dibilang senior karena telah menduduki kelas tertinggi di SMA-nya dan akan lulus tahun ini, sementara Ara? Ara baru murid kelas 10 yang secara kebetulan mampu menembus kejuaraan nasional.

Oh, bukan kebetulan. Ara memang telah bekerja keras.

Brukkk!!

Ara membuka matanya. Di bawah kakinya telah ada sesosok lelaki yang mengenakan training panjang berwarna hitam dan kaos berkerah tegak warna putih. Oh, dia seorang pelatih bulutangkis baru yang menggantikan Tuan Ahn karena Tuan Ahn harus pensiun. Lebih muda, pikir Ara.

Lelaki itu hanya melihat Ara cukup lama tanpa berkata sepatah katapun. Tidak sopan, gumamnya dalam hati. Tidak tahukah dia kalau aku termasuk dalam staff guru sekolah ini, meskipun usiaku masih muda?

Ara kesal dan melemparkan kemasan susu yang isinya telah habis, “kau membuatku kesal.”

Pelatih baru itu berdiri dan tersenyum sinis, “kau tidak tahu siapa aku?”

Ara memperhatikan ID card yang menggantung rapi di leher lelaki itu, “Kim Myung Soo, pelatih ekstrakurikuler bulutangkis yang baru,” Ara menatap mata Myungsoo, “pengganti  Mr. Ahn. Benar?”

Myung Soo mengangguk, “benar. Meskipun aku terlihat lebih muda, tapi kau tetap harus menghormatiku. Aku juga guru olahraga di sini, bukan hanya pelatih bulutangkis saja.”

“Gila hormat,” tanpa mempedulikan Myung Soo, Ara bergegas pergi.

“Itu namanya sopan santun! Bukan gila hormat!” Teriak Myung Soo. Tapi rasanya percuma, toh Ara memang tak ingin mendengarkan ucapan siapapun hari ini. Ara juga tak ambil peduli soal pelatihnya.

Ck,” decak Myung Soo, lalu pergi ke kantor guru untuk mengurus surat-surat yang akan mengukuhkannya sebagai guru resmi sekolah itu. Yah, sekolah manapun pasti mengedepankan alumni sebagai tenaga kerja yang unggul, termasuk sekolah tempat Ara menuntut ilmu. Terlebih, mencari guru olahraga profesional sangatlah sulit. Untungnya, Myung Soo adalah alumni Seoul High School 4 tahun sebelumnya. Ia juga unggul di bidang olahraga. Dengan kata lain, Myung Soo adalah kakak kelas Ara, yang pintar berolahraga.

Sementara itu, Ara masih merasa kesal saat memasuki kelas untuk mengambil tas-nya. Ia diperbolehkan pulang lebih awal di jam pelajaran kelas sore ini demi mengikuti babak perebutan Medali Perunggu keesokan harinya.

Terlintas di benaknya akan janji yang ia ucapkan pada ibunya kemarin.

“Eomma, kalau aku menang membawa medali emas, aku akan mengalungkannya untuk Eomma.”

“Tidak perlu, Yoo Ara. Kau menang atas hasil kerja kerasmu sendiri, harusnya medali itu untukmu saja,” ibu Ara tersenyum mendengar niatan baik Ara, namun sebagai ibu yang memiliki perasaan sayang yang sangat lebih, ia pikir ia tak pantas mendapatkan medali itu. Ia tak banyak membantu dengan kondisinya yang…

Cacat mental.

“Aku sudah bertekad, Eomma,” Ara menyanggah, “hadiahnya 500.000 won. Lumayan ‘kan? Eomma tak perlu membelikan aku roti lagi, biar aku yang membelikan roti untuk Eomma.”

“Iya. Terserah Yoo Ara,” Kata Ibunya, sekali lagi sambil tersenyum.

Ibunya memang selalu tersenyum, bahkan saat hatinya sedih pun ia selalu tersenyum. Semua demi Ara, supaya Ara tak sedih. Yang ada dipikirannya hanyalah pikiran negatif bahwa Ara malu mempunyai ibu sepertinya. Ia tak mau membebani Ara dengan keluhan-keluhannya tentang apapun. Tentang rasa lapar, rasa letih, terkadang rasa sakit. Walau Ara selalu tahu apa yang ia rasakan tanpa pernah ia mengatakannya, tapi ia selalu berusaha untuk menyembunyikannya, berkali-kali. Dan Ara selalu mengetahuinya, juga berkali-kali.

Yoo Ara membalas senyuman ibunya.

“Ini, makan roti yang Eomma belikan.”

Kali ini Ara tertawa kecil. Saat-saat yang paling menyenangkan dalam hidupnya adalah disuapi oleh ibunya. Entah kenapa, rasa hangat selalu ada di dirinya ketika bersama ibunya, terutama saat makan.

“Eomma harus pegang janjiku!!”

Ara menangis. Ia bingung harus berkata apa pada ibunya saat sampai di rumah nanti. Pertandingannya disiarkan secara langsung di televisi. Ibunya berjanji akan menonton Ara. Meskipun mereka tidak punya tv, tapi mereka bisa saja melihat tv di rumah tetangga, walau sedikit merepotkan. Tapi sang ibu sangat ingin melihat anak satu-satunya bertanding dengan baik. Toh, tidak setiap hari ia melihat tv di rumah tetangga.

____

“Yoo Ara!!” Sang ibu yang menanti cemas anaknya di depan pintu rumahnya kini tertawa riang melihat Ara telah berjalan menghampirinya.

Eomma!!” Ara berlari menghampiri ibunya dan memeluk erat tubuh ibunya yang lebih pendek darinya, “Mianhae…” lirihnya sambil menangis sesengukan.

“Tidak apa-apa. Yoo Ara sudah bertanding dengan kuat!!” ucap ibunya sambil menepuk pelan pundak anaknya.

“Aku tidak bisa membawa medali emas untuk Eomma,” lirihnya lagi, “Mianhae.”

“Yoo Ara-ku, kau pulang selarut ini, pasti kau lelah. Ayo masuk. Ibu sudah belikan banyak roti untukmu.”

Ibu Ara melepas dekapan Ara dan mengajaknya masuk. Ketika Ara melihat sebungkus roti yang harganya hanya 500 won, Ara kembali menangis. Di atas mejapun terdapat setumpuk roti-roti serupa.

Waeyo? Yoo Ara-ku, kenapa?” ibunya masih kebingungan melihat anaknya kembali menangis, bahkan kali ini disertai jeritan.

“Aku tidak bisa membelikan roti untuk Eomma...”

“Kau itu anak Eomma yang terbaik. Jadi, jangan menangis lagi, ya?”

Eomma..” Ara menghapus air matanya dengan punggung tangannya, lalu menatap mata ibunya yang teduh.

“Iya?” ibunya masih menepuk-nepuk pundaknya. Meskipun kini sinar mata Ara tidak memancarkan keputusasaan melainkan sebuah semangat yang membara, ia masih khawatir karena Ara masih cegukan di sela-sela bicaranya.

“Besok, aku pasti akan memenangkan pertandingan dan mengambil medali perunggu untuk Eomma.”

Ibunya mengangguk. Air matanya mengalir meskipun bibirnya tersungging sebuah senyuman.

Eomma harus datang dan memberikan semangat untukku.”

Kali ini, senyum di wajahnya memudar.

_____

“Loh?” Myung Soo cukup terkejut melihat foto Ara tertempel pada sebuah daftar riwayat hidup yang tertumpuk di meja kerjanya.

“Kenapa?” tanya Hyeri, sang dokter UKS yang juga turut menemani Myung Soo untuk begadang malam ini. Yah, begadang demi menyelesaikan seluruh berkas-berkasnya agar dapat langsung bekerja di lapangan keesokan harinya. Melelahkan.

“Ara itu anggota ekskul bulutangkis?”

Hyeri mengangguk pelan, “dia cerdas lho. Aku pikir dengan kondisi keluarganya yang sederhana—bahkan mungkin terlalu sederhana—ia tak mampu menggeluti dunia bulutangkis yang menjadi olahraga termahal ini. Tapi, ternyata dia tangguh juga.”

Hyeri yang awalnya tergeletak di sofa yang biasa diduduki wali murid kini duduk tegap, antusias membahas Ara, “aku mengikuti permainannya sejak babak penyisihan tingkat kota. Dia bermain dengan cukup santai, siapapun lawannya. Dia benar-benar memiliki mental juara. Kalau atlet lain, biasanya ketika lawan mengarahkan smash ke badan mereka, dengan spontan mereka menangkis bola ke arah yang tak tentu. Tapi Ara berbeda. Dia malah menggerakkan pergelangan tangannya dengan lihai namun perlahan, lalu shuttlekock akan bergerak ke sangat tipis melewati net dan keadaan akan berbalik—lawan malah kewalahan melawan bola yang dikendalikan oleh Ara. Ara juga bagus untuk tehnik netting. Angin pun bukan masalah besar baginya. Jumping smash-nya juga patut diperhitungkan.”

“Oh.”

“Aku terlalu banyak bicara?” Hyeri tertawa kecil, lalu kembali merebahkan tubuhnya, “maaf. Teruskan kerjaanmu, aku ngantuk.”

“Iya. Tidurlah. Terima kasih mau menemaniku.”

“Tak apa. Toh kita sama-sama alumni lulusan 2009 ‘kan?”

Myung Soo tersenyum kecil.

Beberapa saat kemudian, berkas-berkas yang harus ia tangani selesai. Ia merenggangkan tubuhnya, setelahnya menguap. Ia melirik jam dinding. Hampir jam 12 malam. Tidak biasanya ia bekerja selarut ini.

Saat ia memutuskan untuk tetap tidur di ruang guru, tak sengaja matanya kembali menatap foto Yoo Ara. Itu membuatnya mengurungkan niatnya untuk tidur di ruang guru. Myung Soo membereskan berkas-berkasnya seadanya dan memasukkan semuanya asal ke lacinya, lalu bergegas menghampiri Hyeri.

“Hyeri.”

“Hm?”

“Pulang.”

Hyeri menyembunyikan kepalanya dengan tas tangannya, “berisik.”

“Ayo pulang.”

“Tanggung ah…”

Myung Soo berdecak kecil. Sebentar kemudian, ia tersenyum nakal, “mau kupanggilkan Pak Yoshiyama1)?”

Hyeri langsung duduk dan membelalakkan matanya, “Hei!!”

“Hari ini hari sabtu. Sabtu malam Minggu. Seperti kata beberapa teman kita yang punya indra keenam, Pak Yoshiyama selalu bergentayangan…”

“Ayo pulang!!”

___

Myung Soo tertawa kecil ketika berjalan bersama Hyeri di tengah perjalanan menuju halte bus.

“Apa?!” sentak Hyeri.

“Taktik Pak Yoshiyama selalu manjur untukmu.”

Hyeri mendengus kesal. Niatan baiknya menemani Myung Soo ternyata sangatlah salah.

Oh, Pak Yoshiyama. Ingin tahu ceritanya? Jangan. Hanya cerita hantu kekanak-kanakan yang dimiliki Seoul High School. Bukankah masing-masing sekolah punya cerita hantu yang melegenda?

“Soal Ara, aku ingin tahu tentangnya.”

“Oh, kau tertarik padanya?” Hyeri tersenyum penuh arti, lalu menyenggol lengan Myung Soo. Ah, seorang Myung Soo ingin tahu tentang seorang gadis bernama Yoo Ara. Bukankah Myung Soo orang yang sulit jatuh cinta?

“Bukan begitu. Kau tahu ‘kan, aku pelatih ekskul bulutangkis? Aku harus tahu banyak tentang…”

“Oh, pintar sekali kau mencari dalil,” Hyeri kembali meledek.

“Oke,” desis Myung Soo, “Yoshiyama sensei, watashi wa anata no tasuke ga hitsuyō2)…”

“Iya, iya!!” Hyeri berteriak jengkel, “Ara itu hanya punya ibu. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil. Kudengar, ayahnya sama seperti ibunya, sama-sama cacat mental. Namun untungnya, Ara normal.”

Myung Soo mengangguk pelan, paham atas apa yang diucapkan Hyeri.

“Ara juga mudah akrab dengan siapa saja. Hanya saja, karena kondisi keluarganya, banyak orang menganggap remeh keberadaannya. Aku juga akrab dengannya. Dia baik, pengertian, bertanggung jawab. Yang terpenting, penuh kasih sayang. Ibunya pasti telah mendidiknya dengan baik.”

“Penuh kasih sayang apanya?” Myung Soo tersenyum sinis, “dia sangat ketus padaku.”

“Oh, kalian sudah bertemu?”

Myung Soo mengangguk, “tingkah lakunya kurang ajar sekali.”

“Benarkah? Oh, mungkin karena ia tertekan karena kekalahannya di semifinal. Banyak orang semakin mencemoohnya. Banyak juga yang meragukan kemenangannya di perebutan medali perunggu nanti.”

Myung Soo tertegun.

Hmph, berarti besok aku harus mendukungnya. Dia berjanji padaku dia tak akan tinggal diam lagi saat orang lain mengejeknya. Dia berjanji ia akan membuktikan pada orang lain bahwa ia juga berbakat.”

“Oh,” Hyeri melihat sebuah bus berhenti di halte tujuan mereka. Tepat sekali, bus yang datang adalah jurusan yang Hyeri tuju, “aku duluan, Myung.”

“Hm.”

“Sampai jumpa besok.”

Myung Soo melambaikan tangan pada sahabatnya yang memang mudah bergaul dengan tipe orang macam apapun itu.

Karena penuturan Hyeri tentang Ara, Myung Soo sedikit merasa bersalah telah berprasangka buruk pada Ara.

_____

Sunday Morning, 8.30 KST

Eomma!!” Ara memekik saat ibunya malah berkebun di saat ia telah siap dengan tas raket dipunggungnya, rambut yang telah dikuncir, serta seragam kaosnya yang dibiayai oleh sekolah.

“Kenapa Eomma belum bersiap untuk berangkat?”

“Yoo Ara-ku, Mianhae,” ucap ibu Ara sambil berjalan menghampiri Ara, “eomma tidak bisa.”

Wae?!”

Eomma malu dengan keadaan Eomma seperti ini. Eomma takut, kau diejek temanmu karena keadaan Eomma yang seperti ini. Eomma sedih saat kau dipermalukan karena eomma. Eomma tidak usah datang, ya? Eomma sering menyusahkan Ara, tetapi Ara anak pintar. Tanpa Eomma dukung dari dekat pun, Ara pasti bisa menang!!”

Ara menangis, “Eomma pikir Ara anak yang seperti apa?!”

“Ara-ku…”

Eomma pikir Ara anak yang bagaimana?! Bagaimana bisa Eomma berpikiran Ara akan malu tentang kondisi Eomma?! Sebenarnya Ara ini anak Eomma atau bukan?!”

“Ara…”

“Justru Ara bangga punya ibu seperti Eomma!! Tidak pernah mengeluh saat Ara sakit, tidak pernah memikirkan dirinya sendiri dan hanya memikirkan Ara!! Mengurusi Ara dari kecil hingga saat ini di tengah-tengah cemoohan orang lain tentang kondisinya!! Siapa bilang Eomma sering menyusahkan Ara?! Siapa bilang Eomma memalukan?!”

“Mianhae, Ara.”

“Ara tidak mau tahu, Eomma harus datang ke tempat pertandingan Ara!!”

Ibu Ara menitikkan air mata, menyalahkan diri sendiri karena telah membuat anak satu-satunya menangis.

“Kalau Eomma tidak datang, jangan harap Eomma memiliki anak bernama Yoo Ara.”

Ara membalikkan badan dan bergegas pergi. Waktu pertandingan hampir saja dimulai, jadi ia harus bergegas. Ia tak mempedulikan teriakan ibunya yang memanggil namanya, ia terlalu kesal pada ibunya yang tak tahu betapa besar cinta Ara pada ibunya.

____

Set pertama dimenangkan oleh lawan, Shin Yoon Joo. Skor 23-21. Sebisa apapun dia mengendalikan shuttlecock, tetap saja Yoon Joo lebih lihai mempermainkan laju bola. Bisa menahan skor hingga deuce 2 kali pun sudah bagus. Padahal ia ingin sekali merebut set pertama. Ia benci kalau harus rubber game. Tapi mau bagaimana? Ia sudah janji pada ibunya akan membawa pulang perunggu.

Ah.. ibu…

Ara memukul-mukulkan tepian raket pada kepalanya saat istirahat pergantian set. Sekarang pikirannya cukup jernih, tidak semarah tadi saat berangkat.

“harusnya aku tak sekasar itu pada Eomma.”

Ia mendongakkan wajahnya, mencari wajah ibunya, berharap ibunya termakan ucapan terakhirnya sebelum ia berangkat tadi. Tapi nihil. Ia tak menemukannya.

Dengan peluh yang membasahi sebagian kaosnya, ia memasang kuda-kuda untuk menerima serve dari Yoon Joo.

Detik demi detik berlalu. Waktu terus berjalan. Bahkan sejauh ini Yoon Joo masih memimpin, membuat Ara sedikit putus asa. Untungnya Yoon Joo kelelahan dan meminta time break untuk menyeka keringatnya.

Ara berdiri di tengah lapangan, memainkan raketnya. Ia tak mengambil waktu istirahat dan merenungkan sikapnya yang cukup tempramen pada ibunya. Ia terus merutuki dirinya sendiri. Ia pun menoleh untuk melihat papan skor-nya. 15-17. Yoon Joo memimpin.

____

Myung Soo merenggangkan tubuhnya saat terbangun karena dering alarm handphone-nya.

“Uh,” ia berusaha melebarkan matanya untuk melihat jam di layar handphonenya.

“8.45?!” ia memekik. Dengan cepat, ia bersiap untuk segera melihat pertandingan antara Yoo Ara dan Shin Yoon Joo. Beberapa kali ia mengumpat karena begadang terlalu malam hingga membuat ia merasa gagal untuk menjadi pelatih bulutangkis di hari pertama.

____

9. 15

Myung Soo tiba di GOR tempat perebutan medali perunggu berlangsung. Ia berlari secepat mungkin, hingga akhirnya langkahnya terhenti karena seorang wanita paruh baya memegang lengannya.

“Maaf, tempat bertandingnya Yoo Ara, dimana ya?”

Myung Soo memperhatikan gelagat wanita itu. Cacat mental. Sesekali, wanita itu menggaruk tengkuknya. Wanita itu mengenakan daster berlengan pendek. Oh, dengan cuaca yang cukup dingin seperti ini, ia mengenakan pakaian setipis itu?

“Anda siapa?”

“Aku ibunya.”

Myung Soo tertegun. Ia ingat akan penjelasan Hyeri sebelumnya. Myung Soo pun menggandeng tangan ibu Ara dan mengajaknya memasuki GOR.

_____

Ibu Ara duduk di samping Myung Soo. Untungnya Hyeri duduk di tribun yang cukup jauh, jadi masih aman dari ejekannya.

“Maaf. Itu, skornya berapa?” ibu Ara bertanya pada Myung Soo, “aku tidak bisa baca.”

“Babak pertama, 23-21. Ara kalah. Sekarang, 20-19. Untuk sementara, Ara kalah.”

“Oh…”

Ara belum mengetahui keberadaan ibunya. Shuttlecock memang ada di tangannya sekarang, tapi dengan kondisi tubuhnya yang sangat lelah sepertinya tidak memungkinkan untuk deuce, bahkan rubber game.

Eomma, mianhae,” desisnya pelan. Saat ia akan serve…

“Ara!!!”

Ara terkejut. Ia segera menoleh ke arah suara, “Eomma?!” desisnya dalam hati.

Eomma di sini!! Belikan roti yang banyak!!”

Ara tersenyum pasti. Terdengar suara wasit yang berusaha menenangkan teriakan para penonton.

“Pasti Eomma…”

Terjadi rally yang cukup panjang. Semangat Ara kembali berkobar karena kehadiran ibunya. Berkali-kali ia jatuh bangun demi mengejar bola, namun tetap saja ia berhasil melambungkan bola.

Namun sialnya, saat posisinya berada di depan net, Yoon Joo mengarahkan bola ke belakang.

“Aku harus dapat bola itu!! Harus!!”

Ara menjatuhkan tubuhnya, namun sayang, cock terlanjur jatuh.

“Game over.”

“Challenge!!” Teriak Ara. Ia meminta wasit melihat pada gerak lambat laju bola karena ia merasa cock jatuh di luar garis. Dan ternyata…

20-20.

Ara menghela nafas lega ketika tahu bola benar-benar jatuh di luar lapangan.

Lagi-lagi, semangat ara berhasil membawanya menang di game kedua dengan skor 22-20. Maka dengan itu, diadakan game ketiga.

Kali ini, senyum mengembang jelas terlihat di wajah Ara. Setelah ia mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan handuk, ia menaburkan bedak di tangannya yang mulai berkeringat. Setelahnya, ia menggenggam raket yang dibelikan ibunya sejak 3 tahun lalu dan belum tergantikan hingga sekarang. Bahkan ia tak punya raket cadangan.

“Kau suka bulutangkis? Eomma belikan raket untukmu. Sering-seringlah berlatih.”

Ara melangkah dengan penuh percaya diri ke tengah lapangan, membuat Myung Soo semakin penasaran dengan Ara. Ya, begini logikanya. Anak jaman sekarang, mana ada yang menyayangi ibunya lebih seperti Ara menyayangi ibunya? Apa yang membuat Ara begitu mencintai ibunya?

Sepanjang pertandingan berlangsung, Myung Soo memperhatikan cara bermain Ara. Benar kata Hyeri tentang semuanya. Ia menggerakkan pergelangan tangannya dengan baik saat ada smash ataupun netting. Bahkan Yoon Joo sering kewalahan dengan jatuhnya cock yang selalu tipis di dekat net. Kalau tidak, Yoon Joo sering terkecok karena dropshoot silang dari Ara yang ia kira jumping smash. Yang benar saja. Pemula seperti Ara mana berani melakukan Jumping smash?

Penentuan akhir…

Ara melakukan serve pendek. Seperti yang ia pikirkan, Yoon Joo akan menggerakkannya lurus ke depan. Ia menangkisnya dengan pukulan menyilang, hingga cock melewati bibir net. Yoon Joo sempat terkecoh, tapi ia berhasil menangkis cock melambung hingga membuat Ara terpaksa mundur untuk mengejar cock.

“Kurang tipis, sial,” umpatnya dalam hati. Ia pun melakukan dropshot dengan gerak tipu. Seolah menggerakannya miring, namun ternyata lurus. Membuat Yoon Joo yang tadinya melangkah ke kanan tak dapat menangkisnya dengan baik.

Hingga akhirnya, kemenangan diperoleh Ara dengan skor yang lagi-lagi tipis, 21-19.

Ara menangis bahagia, diikuti gemuruh sorak sorai para penonton. Ia menyalami Yoon Joo dan seluruh wasit, lalu bergegas berdiri di podium.

“Lihat?! Yoo Araku memang hebat,” ucap ibu Ara pada Myung Soo yang hanya dijawab oleh senyuman.

____

“Untuk Ara, kepada siapakah ucapan terima kasih akan kau ucapkan?”

Dengan berkalungkan medali perunggu dan mengenakan jaket seragamnya, ia berkata terbata-bata, “terima kasih untuk Tuhan yang telah mengizinkanku untuk menang, juga terima kasih untuk Eomma.”

Ibunya berdiri tak jauh dari podium, tetap di samping Myung Soo. Myung Soo hanya merasa bertanggung jawab karena telah menuntun ibu Ara untuk memasuki GOR yang ramai ini.

Eomma yang telah melahirkan dan membesarkanku tanpa seorang suami di sampingnya, tanpa sedikitpun mengeluh. Eomma yang selalu memikirkan perasaanku, yang selalu mengetahui apa keinginanku, yang selalu mendukungku apapun yang aku lakukan.”

Ara tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Nara sang juara 1 yang berdiri di podium setingkat lebih tinggi langsung turun dan mengusap pundak Ara untuk menenangkannya.

“Tanpa dia, pasti aku tidak bisa berdiri di sini,” lanjut Ara, “dengan keterbatasan yang ia miliki, aku sangat bangga padanya.”

Sang penyelenggara acara yang menanyakan tentang ucapan terima kasihnya merasa terharu, “hampiri ibumu.”

Ara meletakkan piala yang ada di kedua tangannya dan berlari menghampiri ibunya.

Ara tersenyum lebar ketika beridir di depan ibunya. Ia melepas jaketnya dan memakaikan jaketnya ke ibunya. Begitu juga dengan medali perunggunya.

Eomma, Ara menang!!”

Ibu Ara menyentuh lembut pipi Ara dan menghapus air matanya Ara, “iya. Ara-ku, bermain dengan bagus sekali hari ini.”

Semua orang yang awalnya mencemooh keduanya kini merasa terharu, menyesal, merasa bersalah, dan rasa lain yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Terlebih saat ibu Ara harus mengangkat tumitnya dan menciumi pipi Ara, tanda bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain. Ara tersenyum dan memeluk ibunya erat.

Eomma… saat kita pulang, kita harus beli roti yang banyak.”

Myung Soo yang berdiri di samping mereka hanya tersenyum. Tanpa terasa, ia menitikkan air matanya. Ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

“Pulang nanti, aku harus bertemu Eomma. Aku harus bilang padanya, bahwa betapa bersyukurnya aku memiliki Eomma.”

catatan :

catatan :

1) ada yang mau tahu Nightmare Maker selanjutnya? judulnya : Yoshiyama Sensei

2) tuan yoshiyama, aku butuh bantuanmu. itu terjemahannya. nah, itu mantra untuk memanggil tuan Yoshiyama. maukah? komen di bawah ^^

9 thoughts on “[Oneshoot] Bronze

  1. ya Allah kak, terharu sama perjuangannya Ara, sayang banget sama ibunya
    padahal anak jaman sekarang hampir gak ada yang kayak begitu
    demam Indonesia Open, tapi aku juga agak sedih, kemarin banyak yang kalah, trus Taufik Hidayat harus pensiun..:(

  2. feelnya dapet banget ampe nangis gue baca ff ini :”( tanggung jawab lu author/? ._. yoo ara, i proud of you kkk wah penasaran ama ff nightmare selanjutnya xD nexxxtt😀

  3. Sa, beneran Sa, rasanya terharu banget mbacanya
    Ara sayang banget sama ibunya, kalo aja mbacanya tengah malam mesti aku nangis ini.
    Salut banget sama Ara yangsemangatnya berkobar demi ibunya. ARA FIGHTING!!!!
    Good Job, Sa!
    MAU!!! YOSHIYAMA SENSEI!!!

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s