White Wolf (Sequel of Inveartible) :: Part 03


Untitled-1

White Wolf (3)

Author : Sasphire

Main cast : Han Miyoung (oc), Kim Joonmyun – Suho (EXO K), No Min Woo (Boyfriend), Bora (sistar)

Ratting : General

Genre : suka suka author

Length : Chaptered (Sequel of Inveartible)

Preview  ::
Inveartible

Ren | Krystal | Baekhyun | Jeongmin | Ren (2) | Baekhyun (2) | Krystal (2) | Jeongmin (2)

White Wolf
Part 1 | Part 2 | Part 3

ini ff lama banget. adakah yang kangen? haghag… maaf ya… soalnya aku shock gara-gara liat MV Boyfriend yang janus. di sini Minwoo baik dan Jungmin yang jadi Inveartible. lah, kenapa di MV itu Minwoo di Neraka dan Jungmin malah di surga? tuh kan, nge-down aku jadinya -_- ngerasa bersalah gitu liat Jungmin jadi orang baik malah aku jadiin sadis di ceritaku -_-

Malam itu, tepat setelah Miyoung menampar Joon Myun penuh emosi karena sifatnya yang seenaknya mencampuri urusan pribadi Miyoung, Joon Myun, Bora dan Minwoo berdiri di tengah lapangan hanya untuk menjaga wilayah Enertica seperti orang bodoh. 3 jam berlalu tanpa ada satu siluman pun yang memasuki wilayah suci mereka.

“Ketua, tumben Ketua ikut jaga?” ucap Minwoo sambil tertawa kecil, “ada hubungannya dengan Miyoung?”

“Sstt..” Bora menarik ujung celana Minwoo, memberi aba-aba untuk tidak ikut campur walau di dalam hatinya juga ada rasa penasaran. Sorenya, tanpa sengaja, Minwoo dan Bora yang tengah membaca buku di perpustakaan demi mengerjakan tugas sekolah melihat Miyoung menampar Joon Myun dari kejauhan.

Minwoo menatap Bora yang jongkok di samping kakinya dan membulatkan matanya, seolah berbicara, “kau juga penasaran, kan?”

Bora menggeleng tegas. Minwoo memalingkan pandangannya dan tersenyum sinis.

Joon Myun memilih diam. Ia mendongakkan wajahnya dan menatap langit. Ia merasa malu atas tak-tik yang pernah ia lakukan untuk membuat Miyoung lebih hormat padanya. Yang ia lakukan tadi hanya sekadar membuat Miyoung jadi lebih patuh, tak ada alasan lain. Kalau pun benar ada hubungan khusus antara Ren–yang ia duga inveartible–dengan Miyoung, ia juga tak memiliki keinginan untuk mengganggu keduanya. Namun ia tak menyangka Miyoung akan semarah itu. Harusnya ia tahu diri.

Sementara itu, tak jauh dari mereka, Miyoung duduk di atas dahan pohon mengawasi mereka. Walau di benaknya sangat ingin meremehkan mereka dengan pamer kekuatan di depan ketiga atasannya itu, ia hanya bisa diam. Ia masih ingat ucapan remeh Tuan Kim tentang dirinya. Ia hanya asisten, tidak perlu bertindak gegabah saat mengambil keputusan. Ia juga masih ingat tentang Ketua Kerajaan Langit yang memberikan amanat padanya untuk menjaga Enertica sebaik mungkin hingga saatnya ia kembali. Ia bingung harus bagaimana. Kalau dipikir lebih dalam lagi, kedudukan Ketua Kerajaan Langit jauh lebih tinggi dari Tuan Kim, namun pada kenyataannya, pemilik sah ‘Enertica’ adalah Tuan Kim.

Berat.

Belum sempat Miyoung mengatur strategi untuk bekerja di atas Enertica tanpa sepengetahuan Tuan Kim, ia mencium sesuatu. Merasakan aura jahat pula.

“Oh, datang ya,” gumam Miyoung sambil tersenyum sinis. Ia menyandarkan punggungnya pada batang pohon. Di depannya, Joon Myun, Bora dan Minwoo mulai bergerak mencari para siluman yang datang ke wilayah Enertica.

“Bodoh,” desis Miyoung kesal. Entah kenapa ia kesal melihat ketiga manusia itu lari demi mengejar siluman. Satu hal yang ia tahu tentang siluman adalah : mereka akan mencari kekuatan terbesar yang ada di suatu tanah dengan berkeliling tempat itu, lalu pergi setelah mendapatkan apa yang mereka cari. Tanah yang memiliki kekuatan besar di Enertica adalah tempat lapangan basket tempat mereka berdiri tadi, kenapa mereka malah lari?

Ia yang awalnya hanya ingin mengawasi di atas pohon akhirnya mengikuti langkah mereka secara diam-diam dengan meloncati dahan pohon satu dengan yang lainnya. Sesekali, kepalanya tergores oleh ranting pohon hingga membuat dahinya berdarah, namun ia abaikan. Tingkat kepeduliannya mulai hidup.

“Kalau kau pikir kau hanya bisa merusak, maka mulailah untuk bisa membenahi apa yang rusak.”

Kalimat yang terlintas di benaknya pernah diucapkan oleh Ketua Kerajaan Langit padanya, namun kerap kali ia melupakan kalimat itu karena ia sangat yakin, sampai kapanpun kenyataan tak akan berubah.

Salah satu alasan kenapa Ketua memerintahkan Miyoung, bukan orang lain, adalah untuk meyakinkan Miyoung bahwa kalau ia mau, ia bisa merubah apa yang telah menjadi garis kehidupannya. Ia boleh memilih, mau jadi apa dia, dan bagaimana jadinya ia.

“Sial…” desis Miyoung saat melihat Bora tersudut dengan taring-taring ganas sebuah siluman bermata lima dengan tubuh mirip seperti gurita berwarna gelap. Miyoung hampir saja loncat untuk membungkam mulut tinta siluman itu, namun Minwoo bergerak cepat dengan menggerakkan pedangnya ke wajah siluman. Tinta merah dari mulut siluman langsung menyembur pada keduanya dan siluman itu hilang seketika. Miyoung belum ingin menghela nafas lega karena di tempat lain, ia melihat Joon Myun bertarung dengan siluman yang tak kalah mengerikannya. Siluman itu adalah Inveartible.

“Oh.. Bau ini..” Miyoung segera meloncat ke dahan pohon yang dekat dengan posisi Joon Myun. Sesungguhnya ia hampir terkesima dengan gerakan cepat Joon Myun disertai kelihaiannya bermain pedang, tapi ia segera memfokuskan perhatiannya pada Inveartible tingkat satu yang menyerang Joon Myun. Dari baunya, ia tahu Inveartible itu berasal dari Inveartible tingkat dua. Sebelumnya ia manusia.

Miyoung mengenal Inveartible itu.

“Oh, Kau, Han Miyoung,” Inveartible berbentuk kuda hitam itu mendorong Joon Myun cukup keras hingga terbentur ke dinding belakangnya setelah melihat Miyoung berdiri di atas pohon. Indra penciuman Inveartible sangat tajam.

“Sial,” desis Miyoung dalam hati. Tanpa berpikir lebih jauh, ia segera meloncat turun dan mendekati Inveartible itu seraya tersenyum.

“Masih ingat aku?” ucap siluman itu disertai suara ringikan kuda, tertawa menyeringai.

“Tidak ingat, dan tak mau ingat.”

“Kau akan mendapatkan karmanya!!”

Siluman kuda itu berlari menyerang Miyoung. Miyoung hanya berdiri tenang, sementara Bora yang lemah hingga tak mampu melawan teman-temannya bertarung berteriak padanya, “Miyoung!! Minggir!!”

Miyoung mengangguk pelan dan tersenyum pada Bora, lalu meladeni kuda yang dalam sekejap berkobaran api. Ia mengangkat kedua tangannya dan membanting siluman itu dengan cukup keras hingga terdengar bunyi berdebam di lantai. Kuda itu meringkik kesakitan, lalu segera bangkit dan hendak menghajar Miyoung. Namun Miyoung mengeluarkan cakar putihnya dan menggoreskannya tepat ke bibir kuda hingga kuda tersebut jatuh tersungkur. Saat ia kembali bangkit, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghantam tubuh Miyoung.

“Miyoung!!” Minwoo berteriak. Ia pun memutuskan untuk segera mengakhiri perkelahian dengan menusukkan tombak perak yang ada ke leher siluman rubah putih yang menyerangnya. Joon Myun ingin mengakhiri perkelahiannya juga, namun musuhnya bukanlah musuh yang mudah dikalahkan.

Di waktu itu, Minwoo sempat melupakan Bora yang dahinya masih bersimbah darah karena serangan para siluman yang terlalu cepat menghajarnya sebelum ia bersiap menyerang mereka.

Saat Minwoo hendak menyerang kuda hitam yang menghantam tubuh Miyoung, tiba-tiba tubuh kuda itu menghantarkan listrik. Salah satu pertahanan siluman kuda itu adalah listrik saat ia benar-benar merasa tersakiti atau ia kehabisan energi. Listrik yang memancar itu tentunya untuk menyingkirkan musuh-musuhnya.

“Menjauh!!” Teriak Joon Myun pada Min Woo. Melihat arus listrik yang bersinar ganas membuatnya spontan berlari ke arah Bora dan memeluknya.

Bora tersenyum kecil setelah melihat kuda itu tertuduk lemas. Ia melihat beberapa bekas cakaran di perutnya, tanda bahwa Miyoung telah menghabisinya dengan cakar kuatnya. Tak lama kemudian, Miyoung merangkak keluar dan mendinginkan cakarnya. Ia membersihkan tubuhnya dari serpihan-serpihan kulit kuda yang gosong.

“Oh… Hebat…” Minwoo menganga saat melihat tubuh Miyoung baik-baik saja, tanpa luka sedikitpun. Kecuali bekas goresan ranting di dahinya.

Miyoung mengalihkan pandangannya pada Joon Myun yang masih bertarung di saat siluman lain berhasil dikalahkan oleh Minwoo. Miyoung cukup emosi saat siluman rubah yang dihadapi Joonmyun mencaakr sebagian tangan Joon Myun hingga Joon Myun sedikit lemah. Ia melempar sebuah batu sebesar kepalan tangannya dan mengenai pantat sang rubah.

Rubah itu menoleh ke Miyoung. Belum sempat ia memperlihatkan taring ganasnya untuk menakuti Miyoung, cakar putihnya yang membara api—tanda bahwa ia marah—telah melukai perutnya. Rubah itu tergelepar cukup jauh. Saat Miyoung bergegas memberikan serangan balasan, rubah itu menghilang terbawa angin. Ia mendengar sebuah bisikan-bisikan yang memarahinya, namun ia tak mengacuhkannya dan berlari menghampiri Joon Myun yang terduduk lemas dan menyandarkan punggungnya.

“Na gwenchana,” ucap Joon Myun saat melihat Miyoung merobek ujung pakaiannya untuk membalut luka di tangannya. Miyoung tak menjawab ucapannya.

“Aku bisa obati luka itu sendiri,” lanjut Joon Myun. Joon Myun pun akhirnya berhenti berbicara saat merasakan setetes air jatuh ke tangannya. Ia menatap wajah Miyoung yang tengah menunduk sangat dalam untuk fokus mengobati luka Joon Myun.

Juga menutupi kesedihannya.

“Ketua tidak apa-apa?” Minwoo membantu Joon Myun berdiri. Bora berdiri di samping Minwoo dan menatap cemas ketuanya.

“Tidak apa-apa,” Joon Myun mengangkat lengan kanannya yang sudah diperban secara asal, “sudah mendingan.”

Bora dan Minwoo menghela nafas lega.

“Kau bagaimana?” Bora menatap Miyoung, “tidak ada yang terluka ‘kan?”

Miyoung mengangguk pelan dan pergi. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari bisikan-bisikan yang ia dengar, namun pada akhirnya ia tetap memikirkannya.

“Mereka sudah tahu,” desisnya. Maka Enertica bukanlah tempat yang aman baginya.

~***~

Paginya, Joon Myun mengawasi Miyoung dari kejauhan.

Miyoung masih saja memasang wajah muram. Memang biasanya begitu, tapi ia sangat tahu, rasa murungnya hari ini karena hal lain. Mungkin karena pertarungan mereka semalam. Walau samar, ia menangkap sebuah suara dari Inveartible kuda yang ditujukan untuk Miyoung. Ia berpikir semalaman penuh setelah Miyoung menangis.

Apa Siluman kuda itu kenal Miyoung? Apa itu akan membawa Miyoung ke dalam bahaya? Harusnya ia lega, karena siluman itu berhasil dimusnahkan. Mana mungkin Siluman itu mampu mengabarkan berita pada Inveartible lain?

Saat ia ingin menegurnya yang tengah melangkah gontai ke kelasnya, seseorang menarik lengannya.

“Ketua.”

“Oh, Minwoo,” Joon Myun tersenyum. Minwoo membalas senyumannya, lalu memberikan beberapa berkas yang ada di tangannya pada Joon Myun.

“Itu berkas dari para Extearmined yang ada di seluruh pelosok negeri. Dari bulan Juni sampai bulan Agustus ini, mereka cukup bekerja dengan baik. Walau begitu, yang bisa mereka taklukkan masih saja Inveartible tingkat pertama. Mereka belum menguasai pencarian Inveartible tingkat kedua maupun tingkat ketiga.”

Joon Myun mengangguk, “tak apa. Mereka sudah melakukan yang terbaik.”

Minwoo Mengangguk. Saat ia bergegas pergi meninggalkan Joon Myun, sang ketua mengucapkan sebuah kalimat untuk mencegahnya pergi,

“Tapi, meski begitu, kau bisa mendeteksi mereka ‘kan?”

Minwoo menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada ketua dengan tatapan mata heran.

“Kau dan Bora bisa mendeteksi keberadaan mereka ‘kan? Para Inveartible tingkat kedua dan tingkat ketiga?”

Minwoo mengernyit, belum mengerti maksud ucapan Joon Myun. Bisa mendeteksi? Tidak. Mulai kapan? Kalaupun sebentar-sebentar mereka tersenyum sinis kepada seseorang yang berpapasan dengan mereka, itu hanya karena mereka merasakan aura jahat dari dalam diri mereka. Aura jahat yang biasa dimiliki manusia, bukan Inveartible.

“Kau bilang, Ren Inveartible tingkat kedua?”

Minwoo mengangguk pelan.

“Dan Bora pernah bilang, Jungmin juga Inveartible tingkat kedua?”

Minwoo mengangguk pelan.

Joon Myun tersenyum dan melangkah pergi, “tanyakan pada Miyoung kebenarannya.”

Minwoo mengernyit.

~***~

Jam pelajaran dimulai. Joon Myun mengintip lewat jendela kelas tempat Bora dan Miyoung belajar bersama. Bora duduk di depan, sendirian tanpa ada teman sebangku. Sementara Miyoung duduk di belakang, sendirian pula.

“Ck,” Joon Myun berdecak.

“Bora,” Ucap Mr. Cho selaku guru Matematika.

“Iya?” perasaan Bora tidak enak. ia selalu jadi korban bagi Tuan Cho karena ia tak bisa sama sekali soal matematika. Ia pernah bisa, tapi itu sudah lama sekali. Sekitar 6 tahun lalu. Dan sekarang ia harus mempelajarinya lagi?

Oh, menjadi Extearmined ternyata tak semudah yang ia kira. Menjadi Extearmined utama yang dipekerjakan di Enertica pun malah membuatnya harus menyamar jadi murid sekolah.

“Kerjakan soal yang ada di papan tulis. Nomor 3.”

Bora tersenyum kecut. Setelah mengambil spidol hitam di meja guru, ia berdiri terpaku di depan papan tulis. Terdengar tawa kecil di belakangnya. Mereka terbiasa melihat Bora dipermalukan oleh guru Matematika.

Diketahui 2 log 3 = 1,6 dan 2 log 5 = 2,3. Nilai dari 2log 125/9 adalah

Miyoung merasa cukup kasihan pada Bora. Perlahan, ia maju dan duduk di bangku Bora dan meletakkan tas punggungnya di samping tas Bora. Saat Tuan Cho lengah, Miyoung menarik rompi yang Bora kenakan.

“Apa?” bisik Bora.

“Tulis di papan tulis apa yang kuucapkan.”

Bora mengernyit.

“125 = 5 x 5 x 5 = 53 . 9 = 32.”

Bora segera menulisnya.

“2 log 125/9 = 2 log 53/32

Mata Miyoung tetap mengawasi Mr. Cho yang sedang membolak-balikkan berkas yang ada di depannya.

“sifat logaritma yang digunakan : alog  = alog b – alog c, maka  = 3 – 2 log 32

Saat Tuan Cho menoleh, Miyoung langsung duduk tegap, seolah tak terjadi apa-apa. Joon Myun yang mengintip dari luar tersenyum kecil.

“Oh, mulai akrab ya.”

Setelah Tuan Cho kembali pada berkasnya, Miyoung kembali membisiki Bora,

“sifat logaritma yang digunakan kali ini : alog bn = n. a log b. Maka selanjutnya,

                = 3. 2log 5 – 2. 2log 3

= 3 (2,3) – 2 (1,6)

= 6,9 – 3,2

= 3,7”

Miyoung menyandarkan tubuhnya. Bora menahan nafas lega, lalu meletakkan spidol hitam di meja Tuan Cho.

“Kau diajari Miyoung kan?”

Seluruh siswa di ruang kelas itu tertawa terbahak-bahak.

“Mana mungkin seorang Bora bisa mengerjakan sebuah soal matematika dengan cepat dan tepat tanpa bantuan orang lain? Hanya Miyoung yang bisa membantumu. Nilai matematikanya selalu di atas rata-rata.”

Bora menggaruk kulit kepalanya.

“Kalian berdua, keluar!!”

~***~

“Maaf ya, karena mengajariku, kau dihukum,” Bora memulai pembicaraan saat mereka berdua berdiri di depan koridor. Tidak ada Joon Myun di sana, karena Joon Myun pindah tempat untuk mengikuti perkembangan pertemanan antara Miyoung dan Bora.

“Aku sendiri yang ingin mengajarimu, jadi kau tak perlu khawatir, “Miyoung mendesah, “lagipula, harusnya aku yang minta maaf. Aku yang membuatmu berdiri di sini, dan membuatmu terluka tadi malam.”

“Tidak. Tadi malam, aku hanya kurang persiapan.”

Mereka terdiam beberapa saat. Kemudian, Bora kembali memulai pembicaraan.

“Tadi malam, kenapa kau menangis?”

Miyoung menatap ke arah lain. Menerawang jauh ke masa lalunya bersama para Inveartible lain. Walau darah Inveartible dalam dirinya tidahlah kental—mungkin hanya 0,06 %– tapi para Inveartible mampu menerima kehadirannya dengan baik. Kalau dipikir, selama ini ia tertutup mungkin karena berteman dengan manusia biasa tidak pantas baginya. Ia merasa hina karena di dalam tubuhnya mengalir darah Inveartible, pemakan jantung manusia.

“Kalau kau tak mau menjelaskannya, tak apa.”

“Seperti yang kau tahu, aku adalah manusia berdarah Inveartible,” Miyoung memulai penjelasannya.

“Siluman kuda yang tadi malam menyerang adalah sahabatku. Dulu,” Miyoung langsung menoleh ke arah Bora karena lupa mengatakan ‘dulu’ di depan kalimat yang ia ucapkan. Bora mengangguk tanda mengerti.

“Kau lihat energi listrik yang ia pancarkan tadi malam? Ujungnya berwarna merah?!”

Bora mengernyit. Ia berusaha mengingat kembali kejadian tadi malam. Dan benar, ujung arus listrik yang terlihat berwarna merah.

“Setiap Inveartible yang memiliki kekuatan listrik selalu mengeluarkan arus listrik saat mereka terperangkap. Kalau mereka mati di tangan Extearmined, berarti arus listriknya berwarna biru. Tak ada pertumpahan darah antara sesama Inveartible. Kalau ujungnya merah, kau tahu sendiri, Bora.”

Bora ternganga. Berarti, nyawa Miyoung…

“Aku sangat ingin menjaga wilayah suci ini sampai aku diberhentikan. Tapi, sepertinya, belum sampai aku menyempurnakan tugasku sebagai asisten Extearmined, mungkin aku sudah..”

“Hentikan. Jangan lanjutkan lagi.”

Bora berdiri di depan Miyoung.

“Kalau kau takut, masih ada aku dan Minwoo. Kalau kau ragu, masih ada ketua. Setiap ketua di masing-masing kelompok Extearmined selalu menjaga dan melindungi anak buahnya. Jangan khawatir.”

“Kau tidak tahu, Bora.”

“Aku memang tidak tahu, maka dari itu, untuk seterusnya, biarkan aku tahu. Jangan pendam semuanya sendirian. Paham?”

Miyoung terkejut melihat sifat Bora yang ternyata perhatian padanya.

“Anggap saja ini sebagai balas budi karena kau sudah mengajariku matematika tadi.”

Perlahan, Bora memeluk Miyoung dan menepuk pundaknya. Miyoung tersenyum kecil. Sedikit rasa hangat menyelimuti hatinya setelah beberapa tahun terakhir hanya dipenuhi rasa keterpaksaan dan rasa ketidakbebasan.

~***~

9 thoughts on “White Wolf (Sequel of Inveartible) :: Part 03

  1. AAAAA~! Akhirnya keluar juga White Wolfnya ^0^ nunggunya agak lama sih, tapi gapapalah😀 disini Bora sama Miyoung beda banget, serius eonnie. Miyoung kan biasanya dingin, rada sok gitu. Bora juga, rada sombong. Beda banget, tapi tetep suka, mereka jadi gimanaaaa gituh >////<
    Inveartible yang temennya Miyoung itu (siluman kuda) siapa sih sebenernya? terus para inveartible kemana? Ren? *ditendang* *kebanyakan nanya*
    pengennya nanti pas part 4 itu, Miyoung ada scandal *asek, bahasanya* sama Ren, terus kaya jadi masalah besar gitu. oiya, jangan bilang ternyata nantinya itu Suho jatuh cinta sama Miyoung? kalo iya, ITU KEREN!😀 scandal cinta segitiga antara inveartible, ketua extearmined, sama Miyoung yang setengah inveartible tapi jadi extearmined *pusing bacanya* cinta segitiga besar tuh, HAHA~
    ditunggu next partnya eonnie😀
    babai'-')/

    1. okey.. mianhae saeng… seperti yang aku tulis di atas aku jadi bingung sama jatidirinya Minwoo ama Jungmin, aduh, tahu gitu aku download mp3-nya aja jangan liat videonya. eh, tapi videonya bagus deng.. arghh!! what the hell??! (rusuh)

      yah.. di awal Miyoung juga rada sok gitu kan. tapi aku cukup sadar sih, Miyoung itu di semua ceritaku orangnya Sok, jadi mending aku ganti dikit-dikit deh, haghag

      iya.. pokoknya temen deh. tapi karena fokusnya cuma di Extearmined makanya si kuda gak aku jelasin masa kelamnya, hahah. para Inveartible? di sarangnya dong (oke, ini tidak memuaskan).

      loh? emang alurnya gitu kok..😀
      maksudnya cinta segitiga besar itu apa coba? hey?

      ok ok… ^^ makasih komennya saeng ^^

      1. oke, maksudnya kaya cinta segitiga yang besar gitu, eonnie. scandal cinta segitiga yang W O W *ini apabanget-_-* aku juga ga ngerti sih eonnie… cuma intinya ‘cinta segitiga yang cukup besar antara inveartible, extearmined, dan manusia dengan sedikit darah inveartible’ gitu ._.

  2. Sudah berapa lama yah aku nggak baca ini?
    kayaknya udah agak lama.
    dan fic ini masih keren sama seperti yang dulunya. *tapi, masih keren yang ini*
    Disini, Bora jadi ramah ya ^^ bahkan dia care banget sama Miyoung😀
    sedangkan Minwoo… yah… dia keren kok😀
    Aku masih penasaran, kapan inveartible lain kayak Ren, Baekhyun, Jungmin, Krystal bisa muncul di White Wolf ini..
    Mereka bakal muncul kan walau cuma jadi cameo disini? T.T
    Oke~ kelanjutannya ditungguuu ^^

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s