[Oneshot] Waiting


waiting2

Uee                       as            Princess Alice

Song Joong Ki    as            Prince Capricorn

Park Ji Yeon        as            Princess Muse

Oke pemirsa.. bukannya update Open Your Mind, atau LITGF yang tinggal part terakhir, terlebih White Wolf yang mengendap selama berjuta-juta tahun karena menunggu Wolf-nya datang (EXO comeback) #abaikan# aku malah bikin FF OS. maaf ya… tapi, nih FF adalah pelarian pikiran #ceilah# dari kejenuhan selama akhir semester ini… Bisa jadi FF ini adalah sebuah pertanda kalo aku bakal hiatus selama seminggu untuk menghaadapi ujian akhir o.O

Maaf buat unnie-unnie, saengie-saengi, dan juga visitor-visitor yang meninggalkan komennya, aku gak bisa bales komen kalian.. Karena saya sibuk…
dan ini pembuktian rasa maaf saya😉

 

Pandangan mata gadis itu kosong. Gadis yang duduk pada salah satu bangku panjang di salah satu stasiun kota Seoul. Sesekali, ia menatap beberapa pasang kaki yang keluar dari kereta yang datang, atau memandangi wajah orang-orang yang hendak memasuki kereta.

Ia menghela nafas saat melihat beberapa pasang kekasih melintas di depannya dengan senyum bahagia sambil berangkulan atau bergandengan tangan. Ia juga iri saat melihat segerombol anak sekolah tertawa riang dan berkejaran satu sama lain entah karena sebuah joke ringan atau hal lain. Yang pasti, mereka akan berhenti berkejaran saat salah satu tas dari mereka jatuh dari punggung mereka. Melihat sebuah keluarga yang rukun pergi piknik bersama pun membuat ia merasa semakin kesepian.

Tak pernah ada seseorang yang peduli padanya. Jika kau berada di tempat umum, terkadang kau dengar seseorang memanggil namamu. Seseorang yang kau kenal dan secara kebetulan bertemu di ruang dan waktu yang sama hingga membuat satu sama lain saling menyapa. Namun itu tak pernah terjadi padanya.

Pada dasarnya, dia tak pernah punya seseorang yang mengenalnya. Hanya seseorang yang ia kenal selama ini. Dan itu yang membuatnya menunggu seorang lelaki di stasiun itu dan enggan beranjak dari bangku putih yang ia duduki…

Selama ratusan tahun.

.

.

.

January 15, 1813

Uee yang menggunakan gaun putih a la vintage dengan rok mengembangnya duduk di bangku putih di tengah taman hijau yang dipenuhi rerumputan bunga dandelion. Ia menatap kesal lelaki yang tertawa riang dengan layang-layang berwarna pelangi yang ia terbangkan ke udara. Lelaki itu telah membawanya pergi dari keluarga yang sangat ia cintai, membawanya pergi ke kerajaan tempat ia dibesarkan, dengan tujuan untuk menjadikan Uee sebagai seorang putri baginya.

Ia memperhatikan gerak-gerik lelaki itu yang masih saja terlihat kekanak-kanakan di depannya. Bukankah dia berumur 17 tahun, sama sepertinya? Kenapa dia masih seperti anak-anak?

.

.

.

Ia masih ingat malam kejadian saat ia diculik. Jendela kamar terbuka lebar, namun bukan angin malam yang membuat jendela yang lupa ia kunci itu terbuka. Tapi seorang lelaki tampan yang menggunakan pakaian khas pangeran yang selalu ada di setiap cerita dongeng yang ada.

Yang ia herankan, kenapa lelaki itu bisa memakai pakaian sebersih dan sebagus itu? Bukankah saat itu sedang gencar-gencarnya peperangan dan penjajahan? Uee saja memakai baju yang sangat kumal dan kotor karena sempat menjadi tawanan di kawasan perbatasan.

Selain itu, bukankah saat itu langit telah diselimuti kegelapan malam? Kenapa langit di belakang pria itu sangat terang, seterang pagi?

“Kau…” Pangeran Capricorn itu menghampiri Uee yang berjalan mundur ke belakang karena takut, “cantik…”

“Siapa kau?” tanya Uee dengan bibir bergetar.

“Kenapa? Kau takut?” Pangeran Capricorn mengernyit, “tenanglah.. aku tak ada maksud buruk.”

Uee masih tak percaya.

“Raja memerintahkanku untuk segera mencari pendamping hidup kalau aku tidak mau dijodohkan. Dan aku rasa, kau cocok denganku. Mau tidak, jadi putri di salah satu kerajaan di 12 kerajaan Atlantis Baru?”

Uee semakin bingung. Lelaki itu muncul tiba-tiba, tersenyum, mengatakan bahwa ia cantik, dan sekarang ia menawarkan posisi putri padanya?! Memangnya lelaki itu siapa?!

Beberapa pertanyaan terlintas di benaknya. Namun, belum sempat ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan, lelaki itu berhasil membuatnya kehilangan kesadaran karena sebuah ciuman hangat di bibirnya, lalu membawanya pergi.

Ketika ia membuka matanya, ia berada di sebuah kamar yang indahnya tak terkira, berbanding terbalik dengan kamarnya yang ada di Korea. Ia semakin terkejut melihat tubuhnya dibalut dengan gaun putih dengan kain terbaik dan terhalus yang belum pernah ia kenakan sebelumnya.

Dan ia temukan dirinya sangat cantik ketika melihat refleksinya di depan cermin. Ia nyaris tak mengenali dirinya. Rambut kemerahan yang tak pernah ia sisir, kulit yang kehitaman karena terus-terusan berada di depan tungku, kini berubah menjadi keanggunan yang sulit dilukiskan oleh kata-kata.

.

.

.

Bahkan saat ia duduk di bangku dengan kaki berpijak pada hamparan dandelion saat itu, ia masih bingung atas apa yang terjadi.

“Bisakah kau berhenti bermain layangan dan menjelaskan semuanya, Pangeran?” akhirnya Uee berbicara. Lelaki itu yang pandangannya tak beralih dari layangannya sedari tadi, kimi mengalihkan pandangannya pada pemilik suara. Ia sedikit terkejut, baru menyadari adanya seorang gadis yang duduk tak jauh darinya. Ia tersenyum kecil, lalu menggulung benang keemasan yang ia gunakan untuk bermain layangan. Setelah layangannya turun ke tangannya, ia berjalan menghampiri Uee.

“Sudah bangun rupanya…” desis lelaki itu, lalu duduk di samping Uee. Ia memandangi langit yang ada di atasnya sambil sesekali menyipitkan mata karena silau akan cahaya matahari yang berkilauan.

“Minta dijelaskan apa?” Tanya lelaki itu, lalu menatap Uee, gadis pujaannya.

“Semuanya.”

Pangeran Capricorn mengernyit. Menjelaskan semuanya? Semua yang dimaksudkan gadis itu apa? Tentang Atlantis Baru yang terdiri dari 12 kerajaan dengan nama masing-masing zodiac? Tentang pangeran Capricorn? Atau tentang rencananya mempersunting gadis yang baru saja ia kenal itu?

“Semuanya?” Pangeran Capricorn menyerah karena tak berhasil mendapatkan clue tentang pemikiran Uee.

Uee hanya mengangguk.

“Maksudnya?” Tanya Pangeran Capricorn lagi.

Ya… Semuanya…” Uee sendiri bingung apa yang ia maksudkan. Berada di daerah yang pepohonan dan rerumputannya sangat hijau serta hewan-hewan jinak nan indah saja sudah cukup membuatnya bingung.

“Kalau yang kau maksud semuanya itu termasuk tentang 12 kerajaan ini, bisa-bisa tenggorokanku kering,” Pangeran Capricorn tertawa kecil.

Uee mengernyit. Tapi, ia enggan melontarkan pertanyaan apapun karena ia tahu hasilnya akan sama. Semua akan sulit dijabarkan. Kalaupun mudah dideskripsikan, ia yakin ia tak akan paham maksudnya. Pengetahuannya tak setinggi para putra dan putri koloni yang menjajah negaranya. Bisa baca tulis sudah suatu kebanggaan baginya.

“Ayahku—maksudku Raja—sudah tua. Ia merasa hidupnya tak akan lama lagi. Dia sudah punya satu calon putri untukku, tapi aku tak menyukai gadis itu. Dia cantik dan sexy, namun sombong, angkuh,dan keras kepala.”

Uee hanya diam. Mungkin Pangeran Capricorn akan menjelaskan alasannya kenapa memilih seorang Uee untuk menjadi pendampingnya. Setidaknya itu cukup untuk menjawab satu pertanyaan di benaknya, meskipun tak mampu menyingkap rasa penasarannya pada hal lain yang ada di negara yang terlampau indah alamnya itu.

“Karena aku tidak menyukainya, Raja menyuruhku untuk mencari pendamping yang sesuai dengan hatiku, dalam waktu 15 hari. Dan aku menemukanmu. Makanya, kau ada di sini.”

“Hanya itu?”

Pangeran Capricorn mengangguk, “Iya. Cinta pada pandangan pertama.”

“Kenapa kau bisa menemukanku? Kau ada di Atlantis Baru, sementara aku ada di Korea. Dan kenapa aku bisa mengerti bahasa yang kau ucapkan, dan kau mengerti apa yang aku ucapkan? Bahkan kita berbicara dengan bahasa yang berbeda.”

“Entahlah,” Pangeran Capricorn tersenyum, “mungkin karena kita berjodoh?”

“Hei!!”

Pangeran Capricorn tertawa kecil, lalu berlari kecil ke tengah-tengah halaman dan bermain sambil tertawa riang bersama peri-peri kecil yang berterbangan di sekelilingnya. Mereka terus-terusan mengepak-ngepakkan sayap  keemasan yang mereka miliki. Sesekali, mereka menaburkan butiran debu pixie yang berkilauan ke bunga-bunga dandelion yang tak sengaja diinjak Pangeran Capricorn hingga rusak. Debu-debu itu memulihkan keindahan bunga dandelion.

Pangeran Capricorn berpikir sejenak di sela-sela tawa riangnya. Ia tak mungkin mengatakan tehnologi canggih yang dimiliki Atlantis Baru pada Uee. Bagaimana ia melintasi batas ruang dan waktu hanya untuk mencari gadis yang benar-benar ia sukai. Bagaimana ia bisa tahu bahwa Uee adalah gadis yang paling sesuai untuknya. Itu rahasia besar. Tak menutup kemungkinan Uee kembali ke daerah asalnya dan menceritakan semuanya pada orang lain tentang Atlantis Baru yang notabene tak ada bedanya dengan Atlantis Lama yang telah tenggelam. Bahkan sebuah kesamaan masih melekat pada Atlantis yang lama dan yang baru : sama-sama tersembunyi.

“Pangeran…”

Ia kembali menoleh. Uee pun menoleh ke arah suara. Ia dapati seorang gadis nan cantik jelita menghampiri Pangeran sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Batu Emerald yang menjadi hiasan utama pada mahkotanya memantulkan cahaya hijau yang cukup menyilaukan karena sinar matahari yang jatuh lurus ke batu mulia itu.

“Selamat pagi. Bagaimana kabar anda?”

Pangeran Capricorn tak menggubris gadis yang berpakaian gaun berwarna hijau tua yang berusaha memamerkan kesantunannya pada setiap penghuni istana itu. Ia memilih untuk bermain dengan hewan-hewan jinak yang bermain dengan senangnya di halaman istananya.

“Saya dengar, anda telah mendapatkan gadis yang cocok sebagai pendamping anda. Benarkah itu, Pangeran?”

Pangeran Capricorn tersenyum, mendapatkan sebuah ide. Ia pun membalikkan badan dan berjalan menghampiri Uee yang masih duduk manis memperhatikan kecantikan gadis yang ada di depannya.

“Aku lupa memperkenalkannya padamu,” Pangeran Capricorn meminta Uee berdiri di sampingnya, lalu mencium mesra kening Uee, “Kau benar. Aku telah mendapatkan gadis yang cocok menjadi pendampingku. Namanya Alice.”

Uee mengernyit. Ia menatap Pangeran Capricorn dengan seksama. Menyadari itu, Pangeran Capricorn tersenyum.

Meskipun Uee masih penasaran kenapa Pangeran Capricorn mengganti namanya, ia tak bermaksud menanyakannya di depan orang lain. Walau ia tak cukup pintar, ia selalu sadar keadaan yang ada di sekitarnya. Kapan harus bicara, kapan harus diam.

“Muse,” Pangeran Capricorn mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih tercengang itu, “Kau benar-benar gadis yang cerdas. Bagaimana kau bisa tahu kalau aku telah menemukan gadis yang aku cintai, padahal aku belum mengumumkannya pada rakyatku?”

Gadis bernama Muse yang menjadi putri di Kerajaan Leo itu pun tersenyum kecil, bingung menjawab apa. Lagipula, sebelumnya ia tak pernah dengar tentang gosip mengenai sang Pangeran. Toh, ia mengatakannya hanya sekedar basa-basi saja. Namun ternyata…

“Kau berpikiran untuk menanyakannya karena kau melihat gadis cantik ini duduk di bangku putih ini? Iya?”

Muse ingat. Seorangpun tak boleh duduk di bangku putih itu kecuali Pangeran Capricorn dan istri Pangeran Capricorn kelak. Ia ingat, ia sering dimarahi Pangeran Capricorn karena telah lancang duduk di bangku putih yang sangat disukai Pangeran Capricorn karena keindahan ukirannya yang tak dapat digantikan ornamen manapun di seluruh pelosok negeri. Selain itu, bangku putih itu miliknya. Buatannya.

Muse tersenyum kecut, “Iya Pangeran…”

Waiting

“Namaku Alice?” Tanya Uee.

Pangeran Capricorn mengangguk.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak tahu namamu yang asli…”

Oh, iya. Sejak pertama bertemu, mereka tak pernah memperkenalkan satu sama lain dengan ucapan-ucapan perkenalan yang biasa dilakukan saat pertama bertemu. Siapa namamu? Darimana kau berasal? Berapa umurmu? Mereka sama sekali tak mengucapkannya.

“Mulai sekarang, namamu Alice,” Tegas Pangeran Capricorn, “Tak boleh ada protes. Tak boleh ada penolakan. Nama itu aman bagimu.”

Untuk kesekian kalinya, Uee—yang sekarang bernama Alice itu—mengernyit. Terlalu banyak ucapan Pangeran Capricorn yang membuatnya bingung.

“Kau ada di Atlantis Baru, bukan di negerimu sendiri. Aku yakin struktur namamu dan struktur nama orang Atlantis Baru berbeda. Jadi aku yakin, namamu akan terdengar aneh bagi orang lain. Itu akan menimbulkan kecurigaan.”

Sekali lagi, Alice memilih diam. Semakin Pangeran Capricorn menjelaskan, maka ia semakin bingung. Ia memutuskan untuk menjalani semuanya dan mengalir apa adanya. Dengan begitu, ia akan mengerti dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Waiting

Benar pemikirannya, setelah lama tinggal di Atlantis Baru, ia semakin tahu semuanya. Ia mampu berbaur dengan masyarakat Atlantis Baru dan sedikit demi sedikit melupakan semua yang pernah ia alami di Korea. Kehidupan penuh penderitaannya berubah menjadi kebahagiaan yang tak terperi. Masyarakat Atlantis Baru pun mengagumi pribadinya yang ramah dan sopan kepada setiap orang secara alami, tanpa ada maksud mencari perhatian pada orang lain.

Pangeran Capricorn juga semakin dewasa berkat bantuan Alice. Bertahun-tahun setelah ia menyelamatkan Alice dari kondisi memprihatinkannya di Korea, ia bersiap untuk segera meminang Alice untuk menjadi istrinya. Membangun Kerajaan yang aman, tentram dan damai.

“Pangeran…” Muse menghampiri Alice dan Pangeran Capricorn yang sibuk menanami taman belakang kerajaan dengan beberapa benih bunga.

Pangeran Capricorn ingin mengusirnya, namun Alice menggeleng. Ia memberi isyarat pada Pangeran Capricorn untuk menghampiri Muse yang hari itu berpakaian serba merah, dilengkapi batu permata warna merah di mahkotanya.

“Tak apa?” Tanya Pangeran Capricorn meyakinkan. Alice mengangguk sambil tersenyum.

Dengan berat hati, Pangeran Capricorn berjalan mendekati Muse dan Muse mengajaknya pergi agak jauh dari taman. Alice sedikit cemburu, namun sebisa mungkin ia menyingkirkan rasa cemburu itu. Ia tahu, kekasihnya akan menjadi seorang pemimpin Atlantis Baru. Maka ia harus mempersiapkan diri menjadi istri yang baik dan selalu mendukung apapun yang Pangeran Capricorn lakukan. Walau itu artinya, Pangeran Capricorn harus menjalin hubungan baik dengan negeri lain yang terkadang pemimpin negerinya adalah wanita. Contohnya, Kerajaan Virgo yang dari tahun ke tahun dipimpin oleh seorang Ratu, bukan Raja.

Setelah menanam benih terakhir Bunga Matahari, ia berdiri sambil merenggangkan badan. Ia melihat keadaan sekitar. Hanya ada beberapa peri bunga yang menaburkan debu pixie-nya untuk menyuburkan tanah dan mempercepat bunga-bunga yang baru saja di tanam untuk segera berbunga, hewan-hewan jinak yang bermain dengan peri-peri hewan, dan juga musik indah yang mengalun dari kicauan burung dan desiran angin. Ia menatap awan yang berarak menutupi cahaya matahari hingga membuatnya teduh dan leluasa menatap langit biru.

Ia merasa kesepian. Ia ingat Korea dan kenangan bersama keluarganya.

“Mereka sedang apa ya?”

Waiting

Pangeran Capricorn membuka gulungan kertas yang baru saja diberikan oleh Muse dan membaca tulisan-tulisan yang tertata rapi di atasnya secara seksama. Beberapa saat kemudian, ia mengernyit.

“Pesta topeng?”

Muse tersenyum sambil mengangguk. Ia telah merencanakan semuanya secara rapi demi pesta di hari ulang tahunnya.

“Pesta itu akan jadi pesta yang sangat menawan, Pangeran. Saya harap, Pangeran dan Alice…”

“Putri Alice,” Ralat Pangeran Capricorn.

Muse menahan kesal di hatinya, namun ia tetap memasang senyuman di wajahnya. Kali ini senyuman palsu, “Saya harap, Pangeran dan Putri Alice mau mendatangi pesta ulang tahun saya kali ini.”

Pangeran mengangguk dan berpaling, “Kudiskusikan nanti…”

Muse berhenti tersenyum melihat Pangeran Capricorn menjauhinya. Setelahnya, ia tersenyum sinis.

“Pesta itu akan menjadi pesta yang sangat istimewa, spesial, sexy, misterius, dan juga…”

Muse berjalan santai, “aku akan mendapatkan hadiah istimewa. Pangeran Capricorn…”

Waiting

Seminggu berlalu. Malam yang paling dinanti-nantikan oleh Muse datang juga. Muse tersenyum senang saat melihat Pangeran Capricorn datang ke pestanya. Meskipun topeng hitam menutupi mata Pangeran Capricorn, namun bibir menawan yang hanya dimiliki olehnya itu mampu membuat Muse berteriak kegirangan dalam hati.

“Selamat datang, Pangeran Capricorn…” Muse membenarkan topeng matanya yang berwarna biru dengan ornamen emas yang berlebihan. Pangeran Capricorn tersenyum palsu sambil membungkukkan badan.

Muse mengalihkan pandangannya pada Putri Alice yang berdiri di samping Pangeran Capricorn sambil menggenggam erat tangan sang Pangeran. Muse membungkukkan badab sambil tersenyum untuk menghormati Putri Alice. membuat banyak orang di sekitarnya merasa kagum dengan pribadinya yang mampu berlapang dada menerima kenyataan bahwa Pangeran Capricorn memilih gadis lain. Tapi di sisi lain, banyak orang menghina sang Pangeran karena melepaskan wanita secantik Putri Muse, anak kedua sang Raja Leo.

“Selamat datang pula, Tuan Putri Alice…”

Alice balas mengangguk. Pangeran merangkul bahu Alice dan mengajaknya sedikit menjauh dari keramaian

“Dari tadi, tanganmu gemetaran. Kenapa?” Tanya Pangeran.

Alice menggeleng sambil tersenyum, “Tidak ada pangeran…”

“Kau takut dengan Singa putih yang ada di depan tadi?” Tebak Pangeran. Dan akhirnya, Alice mengakuinya.

“Entah mengapa, setelah melihat singa putih itu, perasaanku tidak enak.”

Pangeran iba melihat mimik wajah khawatir yang ada di bibir Alice. walau sorot matanya tak terlalu terlihat karena penerangan seadanya—beberapa lilin di sudut ruangan dan cahaya bulan—tapi dapat ia lihat dengan jelas Alice ketakutan dengan gerakan hidungnya yang tak teratur dalam mengambil nafas.

Pangeran Capricorn menyentuh dagu Alice, mendekatkan bibirnya pada bibir Alice sambil memejamkan matanya. Cukup lama. Setidaknya cukup untuk membuat Alice lebih tenang walau hanya sedikit.

“Masih ada aku. Ya? Mau ‘kan, menemaniku sampai pesta topeng ini berakhir?”

Alice mengangguk. Mereka kembali memasuki tenda besar yang memiliki pintu berupa tirai sutra berwarna merah marun dan di setiap ujungnya terdapat tenunan kain emas yang menambah aura mewah pada desain interior yang ada.

Muse menatap mereka dari kejauhan dengan sinis.

“Manusia Bumi murahan…” desisnya.

Waiting

“Kepada seluruh Pangeran dari 12 Kerajaan Zodiac segera berkumpul di Aula Utama.”

Setidaknya itu yang mereka dengar ketika pesta dansa berlangsung. Alice langsung melepas kedua tangannya dan membiarkan Pangeran Capricorn pergi.

“Tak apa?”

Seperti sebelumnya, Alice tersenyum.

Selang beberapa waktu, sesuatu hal yang menakutkan terjadi. Singa Putih—hewan peliharaan Muse—terlepas dari kandangnya dan mengamuk. Singa Atlantis Baru bukanlah Singa yang buas. Makanannya hanyalah rerumputan liar dan daging hewan pemberian majikannya. Ia mengamuk jika ia merasakan sebuah pertanda bahaya : manusia yang bukan asli bangsa Atlantis Baru.

Ia berlari kesana kemari mengikuti indra penciumannya yang tajam. Ia mencium bau darah yang tidak sama dengan manusia yang selama ini ia temui. Bola matanya yang biru sejuk berubah menjadi merah menyala layaknya kobaran api ketika melihat seorang gadis berambut hitam duduk di sudut ruangan sambil menyesapi teh yang terbuat dari sari pati bunga mawar yang dipermanis oleh butiran debu pixie para peri.

Ia semakin mengamuk, membuat keributan dan kegaduhan suasana pesta topeng ini. Alice terkejut dan berlari ke luar ruangan secepat mungkin.

Namun apa daya, tenaga Singa itu untuk berlari lebih banyak daripada Alice. Alice ditikamnya. Alice meronta sekuat tenaga, namun tak ada seorang pun yang berani menolong. Muse tersenyum senang melihatnya dari kejauhan.

“Penciumanku memang tak bisa ditandingi…” Ia tertawa kecil. Tebakannya benar. Alice bukanlah manusia Atlantis Baru. Ia hanya manusia biasa.

Alice tahu ia dibekali pisau belati oleh Pangeran Capricorn, barangkali sewaktu-waktu ada bahaya datang menghampirinya. Dan sangat tepat untuk digunakan sekarang. Tapi ia tak mau melukai Singa pribadi sang Putri Muse. Ia tak tahu apa hukuman yang ia dapatkan kalau sampai berani melukai hewan suci kerajaan Leo itu.

“Alice!!” Pangeran Capricorn datang setelah berhasil melewati kerumunan orang yang hanya bisa menyaksikan sang tuan putri berusaha mati-matian mempertahankan hidupnya.

SRETT!!

Tangan Alice terlukai oleh kuku tajam sang Singa. Pangeran Capricorn langsung menyingkirkan Singa putih yang besar itu hanya dengan satu gerakan, lalu bergegas menghampiri Alice. Ia berusaha menutupi lengan Alice yang berdarah.

“Hah?!!” beberapa orang berteriak terkejut. Darah yang mengalir berwarna merah, bukan biru. Darah orang Atlantis Baru berwarna biru. Kenapa Tuan Putri Alice memiliki darah berwarna merah? Lantas siapa dia?

“Capricorn!!” Gertak Raja saat melihat Pangeran Capricorn membersihkan darah Alice dengan jubah hitamnya. Di wajahnya terlihat kemarahan yang amat sangat besar. Pangeran Capricorn menatap Alice. Alice tersenyum kecut, berusaha menenangkan Pangeran yang nampak khawatir dengan kelangsungan hidup Alice. Tapi tak dapat dipungkiri, setetes air mata telah mengalir dari ujung matanya.

Waiting

“Kembalikan dia ke tempat asalnya!!”

“Tapi, Yang Mulia… Saya…”

“Cepat kembalikan atau dia akan dalam bahaya!!”

Pangeran Capricorn mendesah. Ia pun memikirkan beberapa rangkaian kata untuk dapat berargumentasi di depan raja.

“Anda bilang, saya boleh mencari pendamping hidup sesuka hati saya… yang sesuai dengan..”

“Bukan berarti kau bisa memilih wanita dari belahan bumi yang lain!!” Teriak Raja Capricorn, “Kau pikir, kerajaan kita akan aman, tentram dan damai seperti sebelumnya kalau kau menikah dengan orang yang tidak berasal dari Atlantis Baru?!”

“Tapi….”

“Kalau kau masih mau mempertahankan gadis itu.. Ayah akan menjatuhkan hukuman mati padanya!!”

Dan sekarang, Pangeran Capricorn bungkam.

Waiting

“Yah… Dari awal aku sudah mengira akan jadi seperti ini…” Alice berusaha menghibur diri saat Pangeran Capricorn dan Alice berjalan bersama menyusuri taman belakang istana. Untuk yang terakhir kalinya. Tak ada lagi tarian penuh tawa yang dilakukan oleh Alice, tak ada lagi syair-syair cinta dari tetua Atlantis Baru yang dibacakan Pangeran Capricorn saat Alice hendak tertidur di pangkuannya di bawah pohon maple. Tak ada lagi senyum tulus yang bersumber dari kebahagiaan. Yang ada hanya senyum yang terpaksa ada untuk menegarkan hati masing-masing. Para peri hutan yang sering menaburkan debu pixie demi membantu mereka terbang di langit merasa iba. Mereka tahu betul detail cerita asmara mereka, sejak awal bertemu hingga sekarang akan berpisah. Rasanya berat untuk melihat akhir cerita yang menyedihkan ini.

“Luka di tanganmu?”

Alice mengangkat lengan kirinya sambil tersenyum, “Sembuh. Berkat peri kesehatan.”

Pangeran Capricorn tersenyum kecil. Saat mereka berada di sebuah pintu yang tingginya 1,5 meter, harusnya Pangeran Capricorn melepaskan genggaman tangannya. Tapi ia tak mau.

“Kau mau berpisah seperti ini?” Tanya Pangeran Capricorn. Alice menggeleng pelan.

“Tapi, mau bagaimana lagi?” Ucap Alice setelah lama saling bertukar pandang.

Alice menatap lama jendela itu. Jendela yang menghubungkan Atlantis Baru dengan jendela kamarnya. Itu berarti, dia akan kembali menjadi manusia hina. Bahkan mungkin, ia akan sebatang kara karena orang tuanya telah lama mati. Telah lama ia meninggalkan keluarganya. Mungkin keluarganya telah melupakannya.

“Pangeran…” Alice tak mengalihkan pandangannya dari jendela itu, masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Pangeran Capricorn.

Hm?”

“Terima kasih, malam itu kau menculikku.”

“Kenapa?”

Alice akhirnya mengalihkan pandangannya.

“Aku manusia biasa yang memiliki sedikit darah vampire yang diturunkan oleh nenek moyangku yang ratusan tahun lalu hidup. Saat aku tahu kenyataan itu dari ibuku saat menjadi tawanan, aku jadi takut. Meskipun ibu bilang, kemungkinan aku akan menjadi vampire seutuhnya adalah kecil, tapi aku takut kalau suatu saat nanti aku jadi vampire keji yang memakan darah manusia tak bersalah. Seumur hidup, aku selalu dihantui rasa takut tentang hal itu. Tapi, aku tak perlu takut lagi saat Pangeran datang dan menculikku.”

Pangeran Capricorn tersenyum.

“Karena semua orang Atlantis Baru baik dan selalu memberiku makanan enak, aku tak perlu memakan darah orang lain lagi. Lagipula, darah orang Atlantis Baru beda dengan darah manusia biasa.”

Pangeran Capricorn tertawa kecil.

“Jangan menganggap ini sebuah guyonan…” Desis Alice.

“Tidak. Aku tidak menganggap itu sebuah hal yang lucu.”

“Lantas, kenapa tertawa?”

“Hanya ingin tertawa..”

Mereka tertawa bersama. Namun berhenti saat pandangan mereka kembali tertuju pada jendela itu.

“Akan kuantarkan kau…”

Waiting

Saat melewati mesin waktu yang ajaib itu, Alice terus-terusan menolak untuk kembali. Bukan karena ia tak suka peperangan di zaman penjajahan tempat ia hidup sebelum penculikan itu. Bukan karena ia membenci keluarga vampirenya. Tapi karena ia enggan berpisah dengan lelaki yang telah mengajarkannya keindahan cinta, yang sebelumnya tak pernah ia tahu. Karena yang ia rasakan hanyalah perihnya sebuah siksaan.

“Ini di mana?” Tanya Pangeran Capricorn saat keluar dari jendela putih yang cahayanya hampir redup, membuktikan bahwa mereka mengalami penyimpangan ruang dan waktu saat menggunakan mesin waktu.

“Stasiun kota Seoul…” Desis Alice saat melihat keadaan sekitar. Terlebih, ia baru menyadari kalau di belakang mereka adalah kereta yang baru saja berhenti. Mereka keluar dari pintu kereta.

“Tujuan kita ‘kan, jendela kamarmu, tahun 1813? Kenapa sekarang kita ada di Stasiun ini” Pangeran Capricorn melihat jadwal di papan pengumuman yang bertuliskan jadwal berangkat kereta api, lalu melanjutkan perkataannya, “tahun 1873?”

Alice menggeleng pelan. Ia tak berniat untuk mencari jawaban atas keganjilan itu. Ia tak tahu dan tak mau tahu. Di manapun tujuannya, kalau telah sampai, berarti Pangeran Capricorn harus kembali ke dunianya dan tak akan bertemu lagi dengannya.

“Alice…” panggil Pangeran Capricorn lembut. Tahu bagaimana perasaan Alice yang tak menentu.

“Dengarkan aku…” Ucapnya saat Alice tak meresponf panggilannya. Alice pun menatap mata Pangeran Capricorn sedalam mungkin.

“Aku akan berusaha meyakinkan raja. Tapi aku tak tahu berhasil atau tidak.”

Alice mengangguk. Ia melihat ada sedikit harapan di sorot mata Pangeran Capricorn.

“Kalau kita memang ditakdirkan bersatu, maka kita akan bertemu lagi. Tapi, kalau tidak…” Pangeran Capricorn tak berniat melanjutkan ucapannya. Ia tahu, kalau kalimatnya diteruskan, bukan hanya menusuk hati Alice. tapi juga menusuk hatinya.

“Kau mau menungguku?” Tanya Pangeran Capricorn.

Alice tersenyum, lalu mengangguk.

Dan perlahan, Pangeran Capricorn melepas genggaman tangannya dan berjalan mundur. Memasuki jendela putih yang perlahan menghilang seiring hembusan angin.

.

,

,

January 15, 2013

Dia kesal pada lelaki yang telah menyuruhnya menunggu 140 tahun. Ia lelah terus-terusan duduk di bangku putih itu selama 140 tahun, tanpa siapapun. Tanpa orang tua, tanpa saudara, tanpa teman, tanpa sahabat…

Tanpa kekasih.

Korea 200 tahun lalu sungguh berbeda jauh dengan Korea tempat ia duduk manis menunggu sekarang. Ia tak tahu harus berjalan kemana, harus berbuat apa… Semuanya berbeda.

Ingin sekali ia memutar waktu dan kembali ke masa lalu. Ke masa sebelum ia bertemu dengan Pangeran Capricorn. Ia tahu jadinya akan seperti ini, maka ia akan memperbaiki semuanya. Ia harus mengunci rapat jendela kamarnya agar tak seorangpun mampu menerobos kamarnya. Ia akan melawan penjajahan sampai Korea merdeka. Kalaupun tak bisa, ia akan menghisap habis darah para koloni yang telah menyiksanya dengan semena-mena. Lebih baik seperti itu daripada harus mengalami kebahagiaan di Atlantis Baru, namun pada akhirnya ia hidup sengsara.

140 tahun hidup berteman bangku putih.

Ia menghela nafas, lalu berdiri. Entah bagaimana caranya, ia harus pergi dan melupakan semuanya. Ia harus memulai hidup baru, entah sebagai manusia biasa, atau sebagai vampire. Toh, tak ada vampire lain yang berkeliaran di masa kini, jadi dia bisa menghabiskan darah siapapun yang ia inginkan. Ia tak perlu berebut dengan vampire lain karena vampire lain telah musnah sejak ratusan tahun lalu. Sarang mereka dibakar habis oleh masyarakat karena keberadaan mereka sangat mudah ditemukan. Mereka pun sangat mudah dikenali : bertaring. Dan itu membuat Alice tersenyum. Ia tak punya taring.

Saat ia hendak melangkahkan kaki dan memasuki kereta—tanpa ia tahu ada kewajiban membayar karcis untuk menaikinya—seseorang berpakaian putih berdiri di ambang pintu, tersenyum pada Alice.

“Alice…” lelaki itu tersenyum. Alice sedikit ternganga, tak percaya atas apa yang ia lihat.

“Alice…” lelaki itu menjulurkan tangannya pada Alice dan mengajaknya memasuki kereta.

“Pangeran…” Setelah sekian tahun diam, akhirnya ia berbicara. Pangeran Capricorn mengangguk.

“Kemana saja?” Tanya Alice. ia tersenyum senang disertai air mata haru yang mengalir di pipinya. Dan setelah sekian tahun menekuk wajah tanpa ekspresi, akhirnya ia menggerakkan kembali setiap syaraf yang ada di wajahnya.

“Setelah ada meteor yang jatuh ke Atlantis Baru dan menenggelamkan Atlantis Baru, baru aku bisa kesini.”

Alice tak peduli soal itu, yang penting Pangeran Capricorn tetap selamat.

“Semuanya tenggelam, namun hanya aku dan mesin waktu yang selamat. Sialnya, para peri yang dulu menyaksikan kita bermesraan pun punah, tenggelam ke dasar laut.”

Kali ini, Alice merasa tersentuh.

Pangeran Capricorn menggenggam erat tangan Alice dan berjalan mengikuti lorong putih bercahaya yang ada di depan mereka.

“Kenapa kau menungguku?”

Alice tak memiliki hasrat untuk menjawab. Harusnya Pangeran Capricorn tahu apa yang membuatnya menunggu. Menunggu layaknya Hachiko. Bedanya, penantian Hachiko sia-sia karena orang yang ia tunggu telah meninggal. Namun Alice tahu penantiannya tak akan berakhir sia-sia. Namun begitu, pengalaman hidup menunggu seseorang yang ia cintai—selama 140 tahun—adalah pengalaman yang paling membuatnya menderita batin selama ratusan tahun ia hidup. Ia tak ingin kejadian yang sama terulang lagi.

“Karena kau mencintaiku?”

Alice tetap tak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil sambil mempererat genggaman tangannya.

“Kalau aku bukan seorang Pangeran Capricorn lagi, melainkan manusia biasa—karena Atlantis Baru telah punah, kau masih mencintaiku?”

Alice memandang wajah Pangeran Capricorn cukup lama. Wajah yang selama ini hanya ada di benaknya, kini dapat terproyeksikan secara sempurnya di depan matanya. Ia tersenyum kecil.

“Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?”

Daripada menjawab pertanyaan-pertanyaan absurd dari sang Pangeran, Alice memilih untuk mengangkat tumit kakinya dan mencium mesra bibir Pangeran dengan hangat sambil memejamkan matanya.

7 thoughts on “[Oneshot] Waiting

  1. kisah yg romantis~~~ :3
    suka suka, alice / UEE nya lapang dada banget :3 nunggu 140 tahun juga bisa, gimana kalau aku nunggu (?) /keburu tua/
    like it eonni~ :3

  2. langsung ketarik (?) waktu liat poster ff ini. Bahkan aku gak ngeliat castnya dan langsung baca. awalnya sih masih bingung soalnya flashback-flashback yang bertebaran (?)😄
    tapi terusnya jadi paham, kok bisa sih eonni dapat ide kayak gini? keren lho, dua dunia gitu jadinya😄
    eh kan Capricornnya jadi manusia biasa, sedangkan alicenya vampire, berarti nanti alicenya tetap muda dan Capricornnya menua?😄
    keren deh eon, tapi aku masih menunggu Nightmare Maker😄

  3. Keren bnget eonnii!
    Aku suka sm ff buatan eonni😄
    Ceritanya keren-keren banget masa…
    Terus berkarya yaa eonni! Fighting! :3

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s