[Ficlet] Nightmare Maker – Keep Your Light On!!


nightmare-maker-keep-your-light-on-by-sasphire

Nightmare Maker Series – Keep Your Light On

Sasphire Storyline | PG-16 : Horror, Thriller

Cover by MissFhyJazz

Maaf typo ya.. saya nulisnya malem-malem.. biar kemistrinya dapet.. ok ok?

“Sekyung….” Ucap Yuri dengan manja untuk merayu temannya yang masih sibuk bekerja lewat telpon, “Mau ya?”

Dengan sedikit kesal, Sekyung menjawab pertanyaan Yuri, “Iya, iya. Asal kau ajak teman kita yang lain….”

“Beres. Terima….”

Bip.

Sambungan telepon terputus. Yuri hanya mengangkat bahu, lalu bergegas menelpon temannya yang lain untuk mengajak mereka menginap di rumahnya untuk malam itu. Tak ada orang di rumah barunya. Pembantunya cuti, orang tuanya baru saja meninggal karena kecelakaan pesawat ketika pergi ke Amerika untuk urusan pekerjaan.

“Miyoung….” Wajah Yuri kembali berseri-seri ketika melihat nama sahabat terdekatnya terpampang di contact list handphone-nya.

“Halo….”

“Ya?” Jawab Miyoung, “Ada apa Yuri? Tumben menelpon….”

Yuri tersenyum. Sebelum sempat menjawab, Miyoung sudah melanjutkan perkataannya,

“Kau memintaku untuk menginap di rumahmu malam ini?”

“Darimana kau tahu?”

“Tadi Sekyung menelponku….”

“Iya. Benar. Kau mau kan?”

“Ya….”

“Baiklah, sampai nanti….”

Setelahnya, ia menelpon kedua sahabatnya yang lain untuk perihal yang sama.

Dan malam itu, 4 gadis cantik akan menginap di rumah Yuri untuk menghibur sahabatnya yang orang tuanya baru saja meninggal.

~***~

“Aku senang kalian mau datang….” Yuri memeluk hangat keempat temannya yang baru saja datang malam itu, tepat pukul 10.

Mereka hanya keheranan akan tingkah Yuri yang tak lazim. Di antara mereka berlima, satu-satunya gadis yang tak suka pesta—atau sekedar berkumpul untuk bergosip antar sesama wanita—hanyalah Yuri. Mereka memang sama-sama sibuk, tapi mereka sering menyempatkan waktu bersama agar persahabatan tetap terjalin bersama. Sekali lagi, tanpa Yuri. Entah makhluk aneh seperti apa Yuri itu. Dan terkadang mereka berempat berpikir makhluk aneh seperti apa mereka hingga mau berteman dengan Yuri.

“Tumben kau mengajak kami tinggal di rumah,” Ucap Suzy setelah meletakkan tasnya di sofa ruang tamu berwarna merah maroon.

“Tak apa,” Yuri tersenyum, “aku hanya takut kesepian.”

“Takut…” Sekyung Mengernyit.

“Kesepian?” Lanjut Krystal.

Yuri hanya mengangguk, “Kan aku sudah bilang, orang tuaku tak ada di rumah.”

Miyoung hanya berusaha menerka maksud dari ucapan sahabatnya itu. Setelah ia perhatikan mata Yuri dalam-dalam, pandangan mata sahabatnya yang kesepian itu kosong. Seperti ada suatu Kegelapan yang terperangkap di dalam sana. Terlihat jelas dari senyuman Yuri bahwa jiwanya tengah berusaha mengeluarkan keganjilan di dalam tubuhnya, tapi ia tidak bisa. Ia ingin minta tolong, tapi ada yang mencegah mulutnya untuk mengatakan ketakutannya.

“Kau tak mau bercerita tentang sesuatu?” Langkah Miyoung terdahului oleh Krystal. Di antara mereka berlima, yang bisa menerka kepribadian seseorang hanyalah Krystal dan Miyoung. Dari bentuk wajah, sorot mata, cara hidung mengambil nafas, warna telinga dan rona wajah, serta bahasa tubuh, sangat mereka kuasai maknanya. Dan mereka sangat sadar, tubuh Yuri bergerak secara kaku malam ini.

Yuri menggeleng, lalu tersenyum, “Ayo.. kita ke atas. Aku punya sebuah pesta kecil.”

Suzy dan Sekyung mengikuti langkah Yuri ke lantai atas melewati tangga tulip tanpa memikirkan keganjilan-keganjilan yang ada. Yang mereka inginkan hanya istirahat, melepas lelah setelah seharian bekerja pada kesibukan masing-masing.

Tapi Miyoung dan Krystal merasa bulu roma mereka berdiri. Mereka saling bertatapan dan mengelus pelan tengkuk mereka.

“Ganjil?” Tanya Krystal pelan, lalu mempererat pegangannya pada tas yang ia bawa.

Miyoung hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Hey?” Yuri menghentikan langkahnya dan menoleh pada Krystal dan Miyoung yang masih sibuk mengamati setiap sudut rumah Yuri yang terlampau mewah. Bukan karena kagum, namun berusaha mencari sesuatu hal yang ganjil.

“Ayo!!” Ucap Yuri, kali ini pandangannya dingin menusuk. Takut mengambil resiko, akhirnya Miyoung dan Krystal mengikuti langkah ketiga temannya. Ada hawa dingin yang menakutkan di udara, membuat mereka berdua semakin ketakutan.

“Kalian kenapa?” Tanya Suzy merasa janggal ketika tahu Miyoung dan Krystal memasang wajah waspada. Ia sangat tahu bahwa ketika Miyoung atau Krystal memberi sebuah tanda bahaya, maka sebuah malapetaka akan terjadi. Memang sebelumnya tak pernah terjadi, tapi ia tahu kedua sahabatnya itu memiliki sesuatu yang mirip dengan Sixth Sense. Tapi bukan.

“Tidak… Tidak ada,” Miyoung tersenyum, berusaha menenangkan Suzy dan Sekyung yang mulai khawatir.

Miyoung pun memilih untuk tak mengacuhkan perasaan ganjil yang ia rasakan demi sahabatnya. Dan demi Yuri. Anggap saja Yuri ingin berubah menjadi gadis yang lebih baik karena selama ini tak pernah ada lelaki yang mau mendekatinya, tapi ia tidak tahu caranya berubah. Itu harus dibantu kan?

Sementara Krystal masih berusaha memecahkan masalah yang ia hadapi sekarang. Bukan masalah biasa, karena ini masalah yang menyangkut hawa-hawa jahat yang ada di sekelilingnya.

“Yuri, kau sudah mengunci pintu dan jendela?” Tanya Krystal sambil memandangi satu-persatu pintu dan jendela yang tertutup di lantai bawah.

“Belum.”

Krystal menatap mata Yuri. Entah mengapa, menatap mata Yuri membuatnya sedikit takut. Namun, ia tetap menatap mata itu seolah tak terjadi apa-apa, “boleh aku mengunci semua pintu dan jendelamu?”

Yuri mengangguk, lalu terus menaiki tangga. Sebelumnya ia berpesan, “setelahnya, cepat kembali ke atas.”

Krystal mengiyakan ucapan itu dalam hati, karena ia pribadi tak mungkin berani di rumah seluas itu hanya sendirian di satu lantainya. Apalagi dengan suasana-suasana ganjil seperti ini. Ia segera berlari dan mengunci pintu utama setinggi 3 meter dan jendela-jendela besar bertirai yang memiliki tinggi 2 meter dengan sangat rapat, lalu berlari ke lantai atas menyusul ke empat sahabatnya.

Tanpa ia tahu Kegelapan telah memasuki rumah Yuri.

Tanpa ia tahu, dengan mengunci pintu dan jendela berarti mengurung Kegelapan di rumah Yuri, membiarkan Kegelapan memuaskan hasrat mereka untuk mencari jiwa-jiwa kelam yang mereka harapkan.

____

Setelah memakai piyama berwarna pastel, masing-masing dari mereka duduk melingkar atas permintaan Yuri.

“Apa pesta kecilnya?” Ucap Suzy.

Yuri tersenyum, lalu meletakkan sebuah senter di tengah-tengah mereka, “Bagaimana kalau kita bercerita tentang Urban Legend?”

Krystal dan Miyoung mengerang pelan. Rumah besar itu hanya berisi 5 orang, itupun hanya di lantai atas, sementara lantai bawah sangat kosong. Mereka pun tahu Yuri telah mematikan  lampu di lantai bawah, entah apa tujuannya. Bukankah itu cukup menakutkan? Ia meminta sahabatnya berkumpul karena ingin mereka—para sahabat Yuri—menghiburnya karena ia sedang sedih bukan? Supaya ia tidak kesepian bukan? Kenapa malah disuruh bercerita horor?

“Kita acak,” lanjut Yuri sambil mengocok 5 sobekan kecil yang bertuliskan nama dari masing-masing orang yang ada, “diurutkan dari yang pertama. 1 orang 1 cerita, lalu kita tidur.”

Krystal dan Miyoung menggeleng pelan. Krystal makin merasa hawa menakutkan yang ada di udara semakin pekat. Miyoung yang tadinya berhasil melupakan seluruh aura negatif yang ia rasakan pun akhirnya kembali ketakutan.

“Pertama, Miyoung.”

Miyoung mendesah.

“Kedua, Sekyung…”

Sekyung tersenyum senang. Ia sudah menemukan satu cerita yang cukup menakutkan.

“Ketiga, Suzy.”

Suzy hanya mengangguk, berpikir keras dalam mencari sebuah cerita horor yang mampu membuat teman-temannya berteriak ketakutan.

“Keempat, Krystal,” Yuri tersenyum puas, “berarti yang terakhir aku.”

Yuri menyeringai, lalu berdiri dan berjalan menghampiri saklar lampu, “Supaya lebih seram, kita matikan.”

“Geumane!!” Teriak Miyoung dan Krystal bersamaan, “Geumanaragu!!”

Yuri mengernyit. Tanpa mengacuhkan ucapan temannya, ia mematikan lampu.

Miyoung segera meraih senter dan menyalakannya. Keringat dingin mengucur di dahinya.

“Bisa dimulai, Miyoung.”

Miyoung menelan ludah. Ia masih ingat satu Urban Legend yang pernah ia baca di google. Ia sampai tak bisa tidur walau lampu kamarnya menyala sampai berhari-hari.

“ini, satu cerita yang membuat aku tidak bisa tidur selama berminggu-minggu,” ucapnya dengan bibir bergetar.

“Urban Legend ini bercerita tentang seorang gadis yang mengundang tiga temannya menginap di rumah. Ia mengajak mereka bercerita hantu bergiliran tapi dengan lampu tetap menyala.

Beberapa saat kemudian, teman-temannya berhasil memaksa gadis pemilik rumah untuk mematikan lampu. Ketika cerita dilanjutkan, gadis itu sangat ketakutan setelah lampu dimatikan. Ia langsung menjerit dan berlari ke arah tombol lampu di dinding. Saat mencari tombol lampu, ia menabrak banyak barang yang seharusnya nggak ada di lantainya.

Dan ketika lampu menyala…” Miyoung kembali menghela nafas, “ia melihat ketiga temannya tersenyum menatapnya, dengan mata yang hilang.”

Semua ketakutan, kecuali Yuri. Ia tersenyum kecil dan bertepuk tangan, “hebat, Miyoung. Cerita yang bagus.”

“Makanya,” Bibir Miyoung bergetar hebat, merasa ada tangan-tangan kotor berusaha meraih bahunya, “Aku mohon, nyalakan lampunya.”

“Kau bilang itu hanya Urban Legend kan?” Yuri tersenyum, lalu merebut senter di tangan Miyoung dan memberikannya pada Sekyung, “itu tak akan menjadi kenyataan sayang…”

Sekyung tahu sekarang adalah bagiannya. Dan ia tahu ceritanya sangat menakutkan. Tapi, perlahan, ia tertular rasa takut yang Miyoung rasakan. Cerita yang Miyoung ceritakan itu hampir sama dengan apa yang mereka alami, hanya saja mereka masih sampai bagian tengah, belum sampai akhir. Bagaimana kalau cerita itu menjadi nyata? Bagaimana kalau cerita yang akan ia bacakan juga menjadi nyata?

“Sekyung..” Desis Yuri. Dengan terpaksa, ia mulai bercerita,

Urban Legend ini, berasal dari Amerika,” Sekyung menggenggam erat senter itu,

“Suatu hari, seorang gadis muda tengah menunggu di sebuah stasiun kereta ketika ia mendengar seseorang bergumam di belakangnya. Ia berbalik dan melihat seorang wanita duduk di sebuah bangku.

Gadis itu menyadari saat itu hanya ada mereka berdua di stasiun tersebut.
Wanita itu sangat aneh, pikir gadis itu. Wanita itu berumur 40-an dan duduk dengan tidak tenang. Ia menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang sambil bergumam,
‘21…21…21..’. 

Gadis itu bisa melihat kalau wanita itu terlihat agak ‘stress’, bahkan mungkin gila.
Ia berniat untuk mengacuhkan saja wanita itu. Namun wanita itu terus saja bergumam,
‘..21…21…21..’
Lama-kelamaan gadis itu menjadi penasaran. Iapun bangkit dari kursinya dan menghampiri wanita itu.”

Sekyung menelan ludah, lalu meneruskan ceritanya,

 “Ibu, apa yang sedang ibu hitung?”

Wanita tua itu tak menjawab, bahkan tak menatap gadis itu. Ia hanya terus bergumam,
‘….21….21…21…’ Gadis itu melihat di sekitarnya, mencoba mencari tahu apa yang sedang wanita itu hitung. Di saat yang sama, gadis itu heran.

Jika ia memang menghitung sesuatu, mengapa angkanya selalu sama. Kemudian terdengar suara kereta datang.

Tiba-tiba saja wanita itu menerjang gadis muda dan mendorongnya ke arah rel.
“Aaaaaa!!!” teriak gadis itu, namun terlambat. Kereta yang melaju kencang itu terlanjur menyambar tubuhnya.
Warna merah dari darah gadis itu bercipratan hingga ke dinding dan kursi-kursi di stasiun itu.
Wanita itu kembali duduk seolah tak terjadi apa-apa dan mulai bergumam.
“…22….22…22…”

Yuri tersenyum puas. Kegelapan benar-benar telah merasuki jiwanya. Ia pun merebut senter yang Sekyung pegang kepada Suzy. Keganjilan mulai terasa. Baterai senter itu mati. Jendela yang tadinya tertutup rapat terbuka. Angin dingin memasuki kamar dan dahan-dahan pohon mengetuk pelan jendela kamar Yuri.

“Tak apa, lanjutkan,” Ucap Yuri.

“Yang aku pikirkan sekarang adalah urban legend yang sudah sering kalian dengar,” Suzy berkeringat, merasakan bahwa bahaya mulai mendekat. Ia menutup rapat matanya, takut bahwa cerita pertama akan segera terwujud, “Kalian pasti bosan mendengarnya.”

“Tak apa, lanjutkan,” Ucap Yuri sekali lagi. Tanpa ekspresi.

Suzy berusaha menenangkan diri dan yakin bahwa ketakutannya tak akan terjadi. Setelahnya, ia mulai bercerita,

Kisah ini adalah sebuah kisah urban legend yang sangat menakutkan tentang seorang gadis yang di bunuh pada malam hari di sebuah lift/elevator. Kasus ini sangat terkenal sebagai ”Pembunuhan di Lift”.

Ada seorang gadis Korea berusia 19 tahun berinisial “A” yang menghadiri sebuah acara di universitas besar Korea. Suatu malam, ia harus tetap berada di ruang perpustakaan untuk menyelesaikan sebuah proyek dan membuat gadis itu pulang pada larut malam.

Gadis itu tinggal di lantai 14 di sebuah gedung apartemen yang tidak begitu jauh dari universitas, proyek yang ia kerjakan di universitas pun telah selesai. Kemudian ia bergegas pulang dan sampai di sebuah apartemen. ia berdiri di pintu masuk dan menekan tombol untuk memanggil lift. Ketika lift tiba dan pintu lift terbuka ia pun langsung melangkah masuk dan menekan tombol untuk menuju ke lantai yang ditujunya. Sesaat setelah pintu lift akan segera menutup, ada seorang pria yang sedang berlari menuju lift. Pria itu sungguh terlihat lelah dan mengulurkan tangannya untuk menghentikan penutupan pintu. Kemudian, ia melangkah masuk ke lift dan berdiri di sampingnya.

“Permisi, apakah anda tinggal di lantai 14?”, tanya pria itu, sambil melihat tombol lift menyala.

“Ya”, jawab gadis itu sambil terdiam.

“Ohh”, kata pria itu sambil tersenyum padanya.

“Kebetulan sekali ya, saya tinggal di lantai 13 hanya beda 1 lantai.” sahut pria itu sambil menekan tombol lift nomor 13.

Melalui jendela di pintu lift, gadis itu hanya menyaksikan lantai yang sedang berlalu menuju ke atas, dan keduanya pun berdiri dalam keadaan hening dan terdiam. Gadis itu melirik beberapa kali kepada pria itu, kemudian mereka kebetulan berpapasan dalam satu pandangan. Pria itu tersenyum manis kepadanya, dan gadis itu merasa malu. Pipinya pun memerah. Saat itu, lift berhenti di lantai 13, pintu lift terbuka dan pria itu melangkah keluar dari lift.

“Sampai nanti ya..” kata pria itu sambil tersenyum.

“Ya dengan senang hati, sampai ketemu lagi,” jawab gadis itu dengan nada riang.

Kemudian pintu lift itu menutup, dan tiba-tiba saja pria itu berbalik dan menoleh kepadanya, lalu menarik sebuah benda dari dalam jasnya. Benda itu adalah pisau dapur tajam. Dan pria itu berkata pada gadis itu, dengan suara mengancam.

“Hey! Lantai atas, aku tunggu kau!” kemudian pria itu tertawa seperti orang gila berlari menuju tangga menuju lantai 14.

Gadis itu mulai merasa panik dan takut.Ia memukul-mukul tombol lift dengan keras dan berusaha untuk menghentikan laju lift, tetapi usahanya itu pun tidak ada gunanya dan ia putus asa. Ketika ia sampai di lantai 14 dan pintu lift telah terbuka, pria yang membawa pisau itu sudah berdiri di sana, menunggunya, dan siap untuk membunuhnya.”

Krystal tahu temannya Yuri tak akan menghentikan acara konyol yang mengundang maut ini, maka dari itu ia bercerita tanpa Yuri perintah agar semua ini berakhir. Agar ia dapat menyalakan lampu dengan cepat.

Tapi, belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, Miyoung berteriak.

“AAAAA!!!!”

Ia merasa temannya itu berusaha berdiri. Namun kembali terduduk. Tak ada seberkas cahaya pun meskipun jendela terbuka lebar, karena pada kenyataannya, Kegelapan telah memborgol rumah Yuri dengan erat.

“Miyoung!! Wae?!” Jerit Sekyung. Tak lama, ia merasa ada tangan kekar membungkam mulutnya. Tangan-tangan lain menikam jantungnya dengan kuku tajam yang tak nampak.

Krystal ketakutan merasakan hentakan-hentakan kaki Sekyung yang seolah berusaha melepaskan diri dari bahaya yang menimpanya. Ia berdiri untuk bergegas mencari tombol lampu dan menyalakannya, setelah Suzy juga merasa sesak nafas karena tangan-tangan jahil Kegelapan.

Namun Krystal terdorong ke sudut kamar. Kepalanya terbentur kasar oleh tembok. Ia merasa pusing dan sulit mengontrol diri.

Dan kesadaran Yuri kembali. Kegelapan sudah puas menyewa tubuhnya untuk mencari tumbal-tumbal untuk ia mangsa.

Yuri benar-benar bingung kenapa kamarnya dimatikan. Kenapa semua temannya ada di rumahnya dan berteriak ketakutan. Satu-satunya ingatan terakhir yang membekas di benaknya sebelum ia kerasukan adalah : ia tertidur di atas makam Ayah ibunya.

Ia menangis ketakutan, “AYAH!! IBU!!!”

Ia berlari menghampiri saklar lampu. Kegelapan marah dan berusaha meraih kakinya. Namun ia berhasil memberontak, lalu menyalakan lampu.

Betapa kagetnya ia ketika melihat teman-temannya dalam kondisi mengenaskan.

Miyoung tergeletak dengan wajah tertutup rambut pendeknya dan tubuhnya berlumuran darah. Wajah Sekyung pun tertutup beberapa helai rambutnya dengan jantung yang terlepas dari raganya. Suzy telentang dengan darah yang bercucuran di tubuh bagian samping kanannya, sementara Krystal tewas dengan posisi duduk menyandarkan punggungnya ke tembok. Dan kepala berlumuran darah, serta rambut menutupi wajah mereka.

Begitu angin kembali memasuki kamarnya lewat jendela, rambut mereka tersibak. Terlihat jelas mereka tersenyum, dan…

Mata mereka hilang!!

“AAAA!!!”

Ia berlari keluar. Ia pun dengan tergesa-gesa membuka kunci pintu. Ia berlari sekuat tenaga dan berteriak meminta pertolongan, tanpa ada seorang pun yang meresponsnya. Masih pukul 12 malam, siapa yang terjaga di malam hari seperti itu?

Entah kemana ia berlari, ia hanya menangis dan terus berlari, hingga tanpa sadar ia sampai di sebuah stasiun kereta api. Hanya beberapa lampu yang menyala, hingga suasanapun temaram.

Pandangannya mengelilingi setiap sudut stasiun, masih merasakan keganjilan di sekitarnya. Ingatan saat ia kerasukan pun sedikit terlintas. Saat Sekyung menceritakan sebuah urban legend dari Amerika. Setting tempat di stasiun, membuat rasa takutnya berada pada level tertinggi.

Ia semakin terkejut saat mendengar sayup-sayup suara seorang wanita tua menghitung angka ‘21’.

Ia tahu Kegelapan mengincar nyawanya karena ia berhasil melarikan diri. Ia juga berani mengusir Kegelapan dengan menyalakan lampu kamarnya.

Ia berlari sejauh mungkin dari nenek itu. Tapi, ia tak tahu jalan keluar dari stasiun itu. Ia terus-terusan berlari. Hingga akhirnya, nenek itu tiba-tiba berdiri di depan Yuri dan mendorong tubuhnya ke rel saat kereta api melaju ke arahnya.

AAARRGG!!”

Darah terciprat ke wajah nenek itu, lalu nenek itu hanya tersenyum tipis, lalu menghitung lagi.

“22… 22…. 22….”

~***~

“Jadi, bisakah kau nyalakan lampu kamarmu sekarang?”

15 thoughts on “[Ficlet] Nightmare Maker – Keep Your Light On!!

  1. Typo :
    1. “Mau ya?”; “Iya, iya.; “Ada apa Yuri?; dan beberapa lagi — Adanya setelah koma dan bukan panggilan / kata ganti orang jadi huruf kecil awalnya.
    2. “aku hanya — ini kebalik, harusnya “Aku…” karena aku itu kata ganti orang
    3. “Makanya,” Bibir — setelah ‘makanya’ kan tanda ‘,’, jadi ‘Bibir’ harusnya ‘bibir’
    4. Ia berniat untuk mengacuhkan — Ia berniat untuk tak mengacuhkan
    5. lanjutkan,” Ucap — nomor 3
    6. lalu nenek itu hanya tersenyum tipis, lalu menghitung lagi. — terlalu banyak ‘lalu’ mungkin akan lebih baik kalau salah satunya diubah. Contoh : ” lalu nenek itu hanya tersenyum tipis dan menghitung lagi.”

    Uhhh mama uhh papa TT.TT
    scarry benjet.-.. untung saya bacanya pagi-pagi.-. kalau nggak bisa mati gk bisa tidur saya😐
    Yuri kyu teraniaya pula TT.TT

    1. lampu di kamarmu udah benerkah? kok udah bisa mendeteksi typo-ku?😄
      katanya gak mau baca cerita inih 3:
      kalo pin ke 6 itu soalnya ceritanya aku copas di blog mana.. gitu.. tentang urban legend yang itu😄

      Yuri-myu?😄 kamu Yurisistable? sama dong😄 #barutahu

      1. nggak, ini belum bener.-. kaya lampu diskotik.-. tapi saya bukanya di kamar mama *ulalalalalaal XD*
        nana terdorong untuk baca karena nana bacanya wkt pagi *apa ini*😄

        iyep, tapi nggak terlalu sih.-. maksudnya saya suka bangettttttt bangettttttt aja sama dia (itu terlalu sebenernya)XD

  2. hai sasa saeng~ tau ga sih ini eonni bacanya bener2 tengah malem jadi merinding sendiri astagaaaa > <
    tapi maap ya baru komen skg, kmrn mata uda sepet ngeri2 gitu sih~
    apalagi urban legendnya beneran kejadian itu..hiiiii

  3. Sa, Sa, harus tanggung jawab, Sa.
    pokoknya harus tanggung jawab! aku takut banget!
    huwee, aku kira Krystal sama Miyoung bakalan selamat, teryata engga.
    Urband legend itu beneran apa engga ya?
    serem amat, ih. beneran deh.
    itu kisahnya nyata semua?
    Eh, Sa, tapi sering sering buat yang beginian ya? ahaha, thriller lebih seru
    Keep Writing and FIGHTING!!!😀

    1. ya maap unn…😳
      kalo mereka berdua selamet, jadinya malah kayak Final Destination unn😄

      gak unn… gak nyata… tapi masing-masing negara yang punya itu nyata.. dan yang lantai 14 itu “NYATA”. kalo yang lain gak tahu😆

      haghag.. ok unn… sereman mana sama Inveartible?😄

      makasih unn ^^

      1. eh iya ya? kalo mereka berdua selamet gak seru dong,
        yang lantai 14 itu nyata? sumpah itu serem amat.
        sama inveartible? uhm… sereman mana yak? mungkin sereman ini, soalnya menyangkut tentang sesuatu di dunia lain,
        sama sama, Sa ^^

  4. merindingnya berasa… oh.. rupanya yuri kesurupan toh. pntesan miyoung sama krystal ud merasakan.
    yang paling srem ceritanya miyoung sama sekyung.

    keren kmu saeng brni ngtik ff macam bgnian mlem2. aq mah ud ga tahan xD hehe

    bgus crtanya…

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s