[Ficlet] Every Heart


every-heart

Every Heart

Alice Hello Venus, Nara Hello Venus | Sasphire Storyline
All Age | Friendship, Moment, School Life

sekali lagi, based on the true story… silahkan tebak mana saya mana temen saya… haghaghag…
tapi, endingnya gak kayak gitu kok… cuma aku kolaborasiin sama ide yang berkeliaran aja… kalo yang Love is Paiful itu kan semuanya sama persis sama kehidupanku, tapi ini enggak. soal dia yang bilang aku males itu sebenernya lebih kasar lagi… makanya masih agak sakit hati :”) tapi, terima aja deh… gimanapun, dia temenku :”)

Np : Read it with Listen a song by Boa : Every Heart

Setiap hati pasti memiliki waktu yang berbeda-beda untuk merasakan kesenangan dan kepedihan secara silih berganti. Namun terkadang, waktu berlalu terlalu cepat hingga menyebabkan pergantian perasaan juga berlalu sangat cepat. Membuat semua pemilik hati bingung dan kehilangan arah.

Setidaknya itu yang dialami Alice.

Tentang sahabatnya, Nara. Terkadang, ia cukup bahagia ketika tahu Nara adalah orang yang secara garis besar sama dengannya. Setipe. Sama-sama orang yang berprinsip kuat. Sama-sama tak punya teman di sekolah karena mereka memang bukan orang yang tergolong mampu. Bersekolah mendapatkan beasiswa keringanan pun sudah sangat membantu.

Walau begitu, ada beberapa perbedaan yang malah menjadikan persahabatan mereka semakin erat. Alice adalah orang yang sangat ceria, penuh semangat, suka sekali pada hal-hal baru yang ia coba dan terlebih, ia pecinta musik berat. Ia juga seorang yang tergolong ‘terlalu’ santai dan berprinsip ‘Let it flow’. Sedangkan Nara adalah tipe orang yang cukup pendiam, kalem, pintar, jarang merasa tertantang akan hal baru yang ia dapatkan, tidak terlalu menyukai musik, dan ia mudah sekali merasa gugup.

Contohnya :

“Aduh, Alice!! Bagaimana ini?! PR Matematikaku belum selesai!!” Nara buru-buru mengeluarkan buku PR-nya.

“Bingung sekali?!” Alice mengernyit. Dengan sedikit malas, Alice pun mengeluarkan buku Prnya dan mengerjakan PR-nya, “aku yang belum mengerjakan sama sekali saja tidak bingung.”

Nara mengernyit sambil melihat Alice.

Contoh kedua :

“Nara!!” Alice memperdekat jarak duduknya.

Hm?” Nara menjawab dengan sedikit ketus karena ia masih pusing akan soal matematika yang ia kerjakan.

“Aku punya lagu baru yang cocok untukmu!!”

Eoh? Seperti apa?” Tanya Nara acuh tak acuh.

Alice memasangkan earphone-nya ke telinga kiri Nara. Setelah meresapi kata per-kata, Nara tersenyum kecil.

Girls Day, Expect,” Tambah Alice, “benar kan? Menggambarkan perasaan hatimu pada dia kan?”

Nara mengangguk. Walau hanya pembicaraan antar sahabat, tapi mereka sepakat untuk tidak menyebutkan nama masing-masing pujaan hati mereka. Itu rahasia yang tak boleh orang lain tahu.

Seharusnya dalam keadaan seperti itu, mereka bisa saling memahami satu sama lain. Bahkan terlalu banyak kebetulan yang ada di antara mereka. Bagaimana mungkin mereka jatuh cinta—pada orang yang beda—di waktu yang hampir sama? Dan, kenapa mereka patah hati di waktu yang juga hampir bersamaan? Serta, bagaimana mungkin alasan mereka patah hati juga sama? Orang yang mereka cintai dalam waktu yang sama memiliki kekasih. Kira-kira, itu kebetulan atau sebuah takdir?

Mereka menganggap itu hanyalah sebuah hal yang memang seharusnya terjadi pada diri setiap anak manusia yang merasakan cinta. Selain merasakan indahnya cinta, mereka juga harus merasakan bagaimana kelamnya cinta. Mereka juga berpikir, mungkin Tuhan ingin tahu bagaimana respons para insan saat jatuh cinta dan patah hati sesuai karakter masing-masing.

Respons jatuh cinta bagi Alice :

“Lelaki itu ternyata tampan ya, bisa dilihat dari cara menatapku. Matanya bersinar begitu terang…”

Respons jatuh cinta bagi Nara :

“Aku mencintainya sejak pandangan pertama. Melihat wajahnya dari jauh pun cukup.”

Alice tak berani mengungkapkannya karena malu, walau dia sangat yakin lelaki yang ia cintai juga memiliki perasaan yang sama padanya. Beda dengan Nara, ia punya keberanian tinggi untuk mengucapkan perasaannya tanpa ragu. Ia pun tak membutuhkan jawaban, yang penting lelaki yang ia cintai tahu bahwa Nara mencintainya, itu cukup.

Saat mereka tahu bahwa lelaki yang mereka cintai ternyata menyukai orang lain, terlebih telah berpacaran dengan gadis yang mereka sukai, mereka hanya bisa termenung. Duduk dengan bertopang dagu di depan kelas mereka, meratapi nasib mereka yang entah kenapa terlalu sial. Sering diejek teman karena tak mau memberikan contekan saat ulangan, dijauhi karena mereka bukan tergolong orang yang mampu, dan sekarang mereka sama-sama patah hati.

Respons patah hati bagi Alice :

“Aku memang salah karena tak mau mengungkapkan perasaanku terus terang padanya. Biarlah, mungkin memang dia bukan untukku.”

Masih ingat prinsip Alice yang let it flow?

Respons patah hati bagi Nara :

“Kenapa aku sulit sekali melupakannya?! Kenapa sulit sekali membuka hati untuk orang lain?!”

Dapat disimpulkan, soal perasaan, Nara adalah orang yang lebih jujur daripada Alice. Tapi, untuk urusan tegar, Alice lebih mumpuni.

Tapi, sebuah hal memilukan bagi seorang Alice datang begitu saja tanpa memberi aba-aba.

“Aku pikir, tidak seharusnya kita sekolah di sini,” Nara mendengus kesal sambil membetulkan tugas seninya untuk membuat maket.

“Kenapa berpikiran begitu?”

“Aku tidak senang sekolah seperti ini,” Nara mendesah, “banyak tugas, banyak ulangan, hanya membuat orang pusing saja.”

Enjoy saja…” Alice tersenyum senang, “lagipula, banyak tugas itu seru kok…”

“Seru apanya?!” Nara tersenyum mengejek, mengingat Alice adalah orang yang cukup malas di benaknya.

“Yah, daripada tidak ada pekerjaan di rumah?” Alice tersenyum kecil, masih tak paham maksud senyuman Nara.

“Yah, memang begitu sih… Tapi,” Nara menatap Alice, “Maaf ya, bukan maksudku menyindir, tapi, bagi siswa-siswa yang malas, pasti mereka tak terlalu memikirkan tugas. Tapi, bagi siswa-siswa yang pintar seperti aku pasti akan memikirkan tugas-tugas mereka cukup serius.”

Seketika itu hati Alice cukup terluka.

Eoh, jadi kau anggap aku orang yang malas?! Hei!! Aku hanya santai!! Bisakah kau membedakan antara malas dan santai?! Kau anggap aku malas?! Anak yang malas itu enggan melakukan apa-apa!! Kalau santai?! Saat mereka punya niatan, pasti mereka akan mengerjakan semuanya dengan sungguh-sungguh!!

Katamu kau benar-benar mengerti aku, kenapa hal sekecil ini kau tak tahu?! Bisakah kau berpikir lebih rasional dan mengatakan sesuatu dengan berpikir terlebih dahulu?! Tersiksakah orang yang mendengarkan ucapanmu?! Terlukakan orang-orang yang mendengarkan celotehanmu?! Wajar kalau kau banyak dibenci orang!! Bahkan kakak kelas pun membencimu tanpa kau perlu mengenali mereka satu-persatu!! Kau selalu menganggap orang lain remeh!!

Apa yang bisa kau andalkan dari otak kirimu?! Kau selalu saja mengedepankan perasaanmu sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain!! Kau tak pernah peka pada lingkungan di sekitarmu!!

Aku sudah sering menasihatimu agar berhati-hati saat berbicara dengan orang lain!! Itu sesuatu hal yang penting untuk menjaga hubungan kita di masyarakat!! Apa kau tak tahu itu?! Eoh, kau merasa kau sudah pintar, makanya kau tak perlu memikirkan orang lain, begitu?! Hebat!!

Walau hatinya terus-menerus merutuki Nara, Alice hanya tersenyum pada Nara. Nara pun membalas senyuman Alice dan meneruskan tugasnya. Beberapa saat kemudian, Nara dipanggil oleh guru yang membimbingnya untuk ikut olimpiade Sains tingkat provinsi. Saat Nara pergi, seketika itu juga Alice menyendiri di sudut ruangan dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis. Ia menyetel lagu kesukaannya dengan volume paling tinggi di MP3 Playernya agar teman-temannya tak sadar bahwa ia sedang menangis. Ia butuh sendiri.

Kenapa aku begitu sensitif?

Mungkin saja ucapan Nara benar, tapi perlukah ia mengucapkan kalimat itu? Kalau saja Nara tidak mengucapkan kata ‘Maaf’ sebelum mengucapkan kalimat itu, mungkin saja aku tak akan merasa tersinggung. Tapi, dia mengucapkan kata ‘maaf’, seolah-olah anak malas itu ada dalam diriku. Bahkan dia bilang ‘anak pintar sepertiku’. Bukankah itu berarti, dia menganggapku bodoh?!

Saat Nara kembali, Alice menghapus air matanya dan duduk di bangkunya. Alice memilih diam. Alice bukan tipe orang yang suka mengungkit masalah. Baginya, itu seperti anak kecil. Ia hanya perlu diam untuk menenangkan hatinya. Untuk memulihkan hatinya.

Selama pelajaran berlangsung hari itu, Alice tak mengucapkan sepatah katapun pada Nara, membuat Nara bingung. Memang pada awalnya Nara risih pada kecerewetan Alice, tapi lama-kelamaan, celotehan Alice seperti sebuah penyemangat bagi Nara.

“Alice, kau kenapa?”

Alice hanya menggeleng.

“Kau ada masalah?”

Alice menggeleng. Hatinya masih merasa sesak. Air mata mulai menggenangi matanya.

“Yakin?”

Alice mengangguk.

“Kenapa diam saja?” Nara benar-benar bingung. Apalagi, Alice kembali menjawab pertanyaannya dengan sebuah gelengan kepala.

“Kalau ada masalah, cerita ya…”

Alice bingung harus tertawa atau menjerit. Harusnya Nara sadar kalau yang membuat Alice berubah seperti itu adalah dirinya sendiri. Jelas-jelas, sebelum pembicaraan itu, Alice masih saja cerewet. Setelah pembicaraan itu, Alice bungkam seribu bahasa. Tidak merasakah Nara?

Setelah beberapa saat, Alice masih saja diam. Saat Nara bercerita pun, Alice hanya menjawab setiap cerita Nara dengan senyum tipis dan anggukan.

“Hari ini kau benar-benar aneh.”

Alice tersenyum.

“Kau seperti bukan dirimu kalau tidak cerewet seperti biasa. Malhaebwa.”

Alice menggeleng.

“Kau sedang tidak mood?”

Alice memilih mengangguk. Satu kelebihan Alice adalah, meskipun temannya telah menyakiti hatinya, ia tak pernah punya maksud membalas atau membahas kesalahan temannya. Biarlah dia yang sakit, asalkan jangan temannya. Entahlah, itu kelebihan yang membuatnya malah lebih sakit hati lagi. Ia tahu itu, tapi tetap mempertahankan sifat itu.

“Kau marah padaku?”

Alice menggeleng.

Nara hanya mengangguk, “Ok, berarti tak ada masalah bagiku.”

Alice menggeleng pelan. Haruskah aku bilang padamu kalau kau yang membuatku drop hari ini?! Haruskah aku bilang kaulah yang membuatku menangis hari ini?! Haruskah aku menamparmu baru kau sadar bahwa ucapan-ucapan penuh keterus-terangan darimu itu terkadang menusuk orang lain?!

Ah, kupikir tidak perlu. Bisa saja kau pikir aku tak tahu diri karena tak terima kau cap sebagai ‘pemalas’ karena di kehidupan yang sesungguhnya aku orang ‘pemalas’. Iya kan? Sementara kau adalah orang rajin yang terkadang tidur sampai jam 10 malam demi mengerjakan tugas-tugas sekolah yang menumpuk!!

Saat melewati koridor, Alice merenung. Persahabatan memang harus saling pengertian, saling memahami, saling mendukung, saling menerima, saling menjaga. Termasuk menjaga hati dan perasaan. Mungkin dia sudah melakukannya, tapi Alice yang merasakan, Nara belum menjaga perasaannya sama sekali. Biarlah, seiring berjalannya waktu, pasti Nara akan tahu arti persahabatan itu.

Langkah awal persahabatan yang indah telah dimulai oleh Alice. Memahami Nara, mengerti Nara, mendukung Nara, menerima Nara, dan sebisa mungkin menjaga Nara. Kalau ia mau sabar, pasti Nara akan melakukannya juga untuk dirinya.

Persahabatan juga tak boleh terlalu banyak menuntut. Persahabatan tidak ada yang kuat. Semua persahabatan itu rapuh, lemah. Namun, dengan kerapuhan dan kelemahan yang dimiliki, justru persahabatan akan menjadi hangat dan perasaanpun akan berbalas. Karena dengan kerapuhan dan kelemahan yang ada, para sahabat akan menerima masing-masing kelemahan dan pengertian satu sama lain.

Saat Alice mengangkat kepalanya, ia melihat Nara berjalan ke luar gerbang.

“NARA!!!” Alice melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.

“Oh, HEY!” Nara membalas lambaian tangannya.

Alice pun berlari menghampiri Nara lalu merangkulnya, “Pulang bareng?”

Nara mengangguk, “Alice…” Nara menatap matahari yang hampir tenggelam.

Hm…”

Mianhae….”

Alice mengecup pelan pipi Nara. Nara tersenyum senang. Mereka sudah seperti saudara sendiri. Satu perjanjian yang pernah mereka buat adalah : saat salah seorang dari mereka berdua marah, lalu ketika yang lain meminta maaf, maka tanda bahwa permintaan maaf diterima adalah kecupan pipi.

Alice tersenyum penuh arti.

Goes and goes the time goes on, we are not alone….”

Nara tersenyum mendengar Alice bersenandung, lalu melanjutkan bait lagu itu, “We’ll live on together and we will find some precious peace…”

Mereka pun bernyanyi bersama sambil bergandengan tangan erat,

Sometime we will smile, sometime we will cry somehow…. Don’t forget believing yourself, tomorrows never die….”

 

3 thoughts on “[Ficlet] Every Heart

  1. bener bangetttt~ terkadang seseorang itu suka ga peka, mungkin termasuk diri sndiri..
    tpi yg penting, jgn smpe masalah sepele merusak persahabatan yg uda terjalin lama..
    dibutuhkan pengertian dan komunikasi yg baik🙂

  2. setiap orang psti brbda. nd prshabatan bs trjalin krna adany prbedaan. ya… meskipun perbedaan tu sk sulit diterima diri sendiri. ya sprti contoh d atas… Nara yg asal ngmng ceplas ceplos, smntara Alice yg lbh mlih diem ketimbang mngtkan yg ia rskan pd shbtnya.

    aq sk ff nya.. jrg2 nemu ff tntg prshbtan. bysany cintaaaa mlu yg d bahas xD

    keren … hehe

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s