[Drabble] Love is Painful


love-is-painful
Love is Painful
 Author : Sasphire
 Main cast : Yoo Ara Hello Venus, Choi Minho
 Ratting : General
 Genre : Angst, Romance
 Length : Drabble

Note : Based on true story -_-

Okey… Yoo Ara disini adalah sebagai aku, dan Minho adalah sebagai *tiiiiit* yang ada di kehidupan aku. yah… aku harap kalian gak menaruh belas kasihan ke aku… karena tujuanku nulis ini adalah untuk menghibur diriku sendiri, untuk menjadi bahan tertawaan kalian atas kepolosan seorang “SASA” soal cinta, untuk jadi sebuah cerita unik yang nantinya bakal jadi kenangan tersendiri saat aku udah gak SMA lagi. setidaknya aku bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah (Tuhan) untuk merasakan indahnya jatuh cinta kepada lawan jenis, sebagaimana orang lain merasakannya. dan setidaknya aku harus bersyukur karena berkali-kali merasa nyesek ketika tahu orang yang kita cintai itu ternyata menyukai orang lain.
Mudah-mudahan kalian bisa ngambil pelajaran dari cerita ini, entah apa. mungkin jangan terlalu berharap atas sesuatu yang gak pasti karena itu absurd banget dan bahkan kita sendiri yang sakit, mungkin juga jangan pernah jatuh cinta sama seseorang yang jelas-jelas gak punya kriteria seperti kita, ato mungkin, jangan pernah memberik harapan palsu ke seseorang kalo kamu emang gak cinta.. bisa jadi itu kan?

Hanya satu yang aku harapkan dari para readers :
Jangan iba ke aku. Aku udah biasa jatuh cinta bertepuk sebelah tangan gitu. mungkin udah 4 kali.

Hobi Ara sejak resmi menjadi murid kelas 10 SMA Seoul adalah memandangi Minho, teman sekelasnya, secara diam-diam. Ia hanya berani memandanginya dari jauh, tanpa mampu berkata apapun secara langsung di depan lelaki pujaannya itu karena memang ia tak punya keberanian. Hanya saling melempar senyum saja hatinya berdetak tak karuan, apalagi berbicara?

Semua itu karena kejadian beberapa waktu lalu yang Ara anggap sebagai sebuah kecelakaan. Hari yang begitu tenang kala itu, saat ia duduk di kursi paling kanan, bangku nomor dua dari depan, dengan tenangnya memandang keluar kaca jendela, melihat beberapa siswa berlalu lalang sambil tertawa ria. Sesekali ia menopang dagunya dengan genggaman tangannya sambil tersenyum.

“Beginikah jadi anak SMA?” Gumamnya saat itu, “apa benar kata orang, bahwa masa yang paling indah adalah masa-masa saat SMA?”

Entah mengapa, tiba-tiba, ia merasa seseorang melihatnya secara diam-diam. Mengikuti perasaan dan kata hatinya, ia pun menoleh. Ia dapati Choi Minho, sang ketua kelas, melihatnya dengan memberikan sebuah senyuman dari bangku paling depan. Tapi, saat itu Ara tidak tahu kalau itu adalah senyuman, saking tipisnya sunggingan senyum lelaki itu. Ara hanya mengernyit.

Sepintas, ia teringat nasihat temannya, Alice.

“kalau kau tidak suka dilihat oleh lelaki dengan tatapan mata yang kau anggap dalam, tatap balik matanya!! Lebih dalam daripada lelaki itu menatapmu!!”

Ara mengernyit mendengar ucapan Alice yang terdengar sangat menggebu-gebu, “haruskah?”

“Harus!!” Alice mengangguk mantap, “Tatap dia selama mungkin!! Kalau lelaki itu hanya berniat untuk menggodamu atau memberikanmu harapan palsu, dia akan takut dan berhenti melihat matamu, karena dia tidak tulus!! Percaya padaku!!”

“Eoh?” Ara kembali mengernyit, “kalau ternyata dia punya niat tulus, bagaimana?”

“Secara alamiah, hati wanita pasti akan merasa bergetar,” Ucap Alice sambil memegang dada tempat jantungnya berada dengan gaya yang dibuat-buat, membuat Ara tersenyum kecil, “pasti, kau yang akan berhenti menatap mata lelaki itu karena malu. Coba saja.”

Ara mengangkat alisnya.

“Oh, Ara-ku sayang,” Alice menggeleng karena kurangnya pengalaman Ara tentang lelaki, “aku sudah mencobanya berkali-kali.”

Bayangan Ara beralih pada kejadian lain. Ia pernah mempraktikkan apa yang Alice ucapkan. Dan sekali itu benar, lelaki yang tak berniat serius padanya langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, lalu pergi dari hadapan Ara.

Ara pun memilih untuk melakukan saran Alice sekali lagi, untuk lelaki itu.

Tapi, bukannya mengalihkan tatapan mata dari Ara, Minho malah menatap mata Ara semakin dalam. Ara sempat gugup, lalu membalas tatapan Minho semakin dalam. Begitu seterusnya.

Hingga Ara yang menyerah dan kembali menatap ke luar jendela sambil menahan malu.

“Alice, sialan!!” Umpatnya dalam hati.

_____

Entah mengapa, setelah itu Ara malah sering bermimpi tentang Minho. Minho menyatakan cinta padanya, Minho menjadi pacarnya, Minho menjadi pelindungnya, dan mimpi aneh lainnya.

Dan sejak saat itu, ia tak mampu mengendalikan perasaannya.

“Tidak!!” Ara menggeleng pelan, terus berusaha menyangkal perasaannya, “yang aku cintai itu Taemin, bukan Minho!!”

Ya, pada awal Masa Orientasi Siswa, siswa pertama yang akrab pada Ara adalah Taemin. Sementara Alice, sahabatnya sejak SD diterima di SMA lain.

Taemin begitu tampan dan menawan. Ia pintar. Ia humoris. Ara sendiri masih bingung, yang ia rasakan itu cinta atau kagum. Yang penting, ketika melihat Taemin, ia selalu tersenyum.

Dan berubah setelah kejadian itu.

Pada awalnya ia terus menyangkal, namun perlahan ia tak mampu mengalahkan perasaannya. Jatuh cinta pada ahli fisika nasional seperti Minho, itulah dia saat ini.

Beberapa kali, Minho selalu memberi sinyal-sinyal positif pada Ara, membuat Ara semakin melayang. Tersenyum sendiri saat pulang sekolah, bangun lebih pagi agar tak terlambat ke sekolah, pulang sedikit terlambat hanya untuk menunggu Minho keluar sekolah, serta semakin semangat mempelajari pelajaran Fisika yang bahkan sebelumnya tak pernah ia sukai. Saat ia lelah mempelajari Fisika, sebisa mungkin ia membuat moodnya kembali dengan mendengarkan lagu-lagu tentang ‘jatuh cinta’, sangat sesuai dengan suasana hatinya.

Walau ia tak tahu, Minho benar-benar menyukainya atau tidak. Yang ia tahu pasti, ia menyukainya, dan Minho tidak berpaling saat menatap matanya. Ia pikir, Minho benar-benar tulus mencintainya dengan tatapan mata itu.

“Kenapa kau tak berani menanyakannya pada dia tentang tatapan matanya hari itu?” Tanya Alice setelah berkali-kali mendengarkan curahan hati sahabatnya itu, “mungkin saja dia punya maksud lain.”

”Iya, maunya begitu,” Ara menghela nafas, “tapi, itu sudah terjadi lama sekali. Kalau aku menanyakannya sekarang, apa yang ia pikirkan?”

Alice diam, melipat kedua tangannya di atas meja dan bersiap untuk mendengarkan ucapan Ara selanjutnya.

“Bisa saja dia pikir, aku terlalu menganggap itu serius, padahal ia hanya bermain-main. Atau mungkin, bisa saja dia pikir, aku terpesona pada tatapan matanya saat itu, lalu aku berharap lebih.”

“Ya memang kau begitu, kan?” Alice mengernyit.

Ara berhenti berbicara.

_____

Ara mulai berpikir, mungkin sebaiknya, ia hentikan perasaan cintanya yang sepertinya bertepuk sebelah tangan itu. Mungkin benar kata Alice, selama ini, dia hanya terlalu berharap. Lagipula, lelaki seperti Minho, cerdas dan banyak dikagumi oleh semua orang—bahkan menjadi murid terfavorit di kalangan para guru—mana mungkin mencintai wanita biasa seperti Ara yang bahkan ulangan pun selalu remidi?

Tapi, tentu saja sulit.

Dia pernah punya niatan untuk mengucapkan rasa cintanya, supaya hatinya lega. Sekedar mengucapkan cinta, tanpa harus ada jawaban dari Minho, karena tujuannya hanya menyatakan cinta. Walau itu tak bisa menghilangkan teka-teki tentang perasaan Minho padanya, tapi biarlah. Yang penting tak ada beban lagi di hati, begitu pemikiran sederhana Ara.

Tapi ia urungkan.

Toh, Ara sudah berpengalaman menahan rasa cintanya, memendam rasa cintanya, dan tentu saja berpengalaman merasakan rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan. Saat SMP pernah jatuh cinta 2 kali, tapi dua-duanya bertepuk sebelah tangan. Sepertinya, Ara belum diperbolehkan untuk merasakan cinta yang indah oleh Tuhan.

Dan, sebuah hari yang benar-benar membuat Ara bingung kembali datang.

Ara pergi ke kantin seusainya pelajaran Olahraga untuk membeli minuman. Dari jauh, ia lihat ibu Minho yang juga pegawai kantin tengah berbincang-bincang dengan teman sekelasnya, Nara.

“Minho selalu cerita tentag kehidupannya bu?” Nara bertanya. Bukan karena Nara mencintai Minho, tapi mengetahui kehidupan sang ketua kelas menjadi sebuah hal menarik bagi seluruh siswa di kelasnya.

“Iya, dari kecil selalu kulatih seperti itu…” Ucap Ibu Minho sambil meletakkan pesanan Nara di depannya. Ia pun duduk di samping Nara untuk sekedar beristirahat. Kantin memang sepi karena masih jam pelajaran. Hanya beberapa anak yang baru selesai pelajaran olahraga saja yang diperbolehkan berkeliaran di luar kelas.

“Berarti, soal gadis yang ia taksir pun ia cerita, bu?”

Ibu Minho mengangguk sambil tersenyum.

“Benarkah?” mata Nara berbinar-binar, “berarti, sekarang dia menyukai Yoonjo pun ia cerita?”

“Iya. Aku juga tak pernah memarahinya, kubiarkan mengalir saja. Toh, aku juga pernah muda.”

Seketika itu juga Ara terkejut. Berpikir cukup dalam. Berarti, gosip yang sering ia dengat di kelas bahwa Minho menyukai Yoonjo itu benar? Bukankah itu hanya gurauan, candaan semata? Toh, Minho dan Yoonjo juga tak pernah memperlihatkan tanda-tanda bahwa mereka berdua saling menyukai. Oh, bukan-bukan. Minho tak pernah terlihat menyukai Yoonjo, kenapa…?

“Ara…” Ucap ibu kantin yang menjadi langganannya.

“Eh, ya?” Lamunan Ara pun terbuyarkan.

“Tuh, dengarkan kata ibu kantin yang itu…” tambah ibu kantin sambil menunjuk ibu Minho.

“Apa?”

“Kalau menjalin hubungan atau mencintai seseorang, jangan terlalu dalam, nanti malah ada yang disesalkan…”

“Oh.. Iya…” Ara pun mengambil botol minuman yang ada di depannya setelah menyodorkan uang, “tapi, sekarang aku tidak punya pacar,” ucap Ara sebelum pergi.

Sepanjang jalan, ia hanya merenung. Kenapa sejak dulu, yang ia alami hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan? Cinta yang penuh harapan kosong?

Padahal, beberapa waktu sebelumnya, ia mulai berani bercakap-cakap dengan Minho. Ia berani merasakan rasa hangat yang lebih indah lagi di hatinya. Rasa bahagia ketika berada di dekatnya. Kenapa sekarang ia harus mendengarkan hal seperti itu?

Ia juga bisa tertawa bersama dengannya. Apa Minho hanya menganggapnya teman?

“Huh, bagus,” Gumam Ara.

Entah mengapa, saat memasuki kelas, orang pertama yang ia lihat adalah Minho. Padahal ia bersikeras untuk melupakan semuanya, melupakan pandangan itu, melupakan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, melupakan harapan-harapan kosong yang selama ini ia bangun.

“Kau kenapa?” Ucap Minho saat melihat Ara melangkah gontai menghampiri bangkunya, “kau terlihat pucat.”

Ara hanya menggeleng pelan. Tanpa menatap Minho, ia mengambil seragamnya dan bergegas pergi ke kamar ganti untuk mengganti pakaiannya sebelum bel pelajaran berganti.

Setelah itu, lagu yang sering ia dengarkan hanyalah lagu yang menggambarkan ‘patah hati’. Duduk di pojok kelas saat jam pelajaran kosong sambil menggenggam erat handphone-nya yang juga berfungsi sebagai MP3 Player baginya.

Di saat yang sama, di sudut ruang kelas yang berseberangan dengannya, ia melihat Minho dan Yoonjo tengah tertawa bersama. Berdua. Tanpa adanya orang ketiga atau teman mereka yang lain.

“Mungkin benar, aku belum boleh jatuh cinta.”

______

Oh sarang, apeumboda apeun geu mal
hajiman sarang, tto nareul utge haneun mal
hangsang gyeote isseo mollatdeon
sojunghaetdeon

Oh love, is a word more painful than pain itself
But love, is a word that makes me smile
You were always by my side
So I didn’t know the value

12 thoughts on “[Drabble] Love is Painful

  1. ya, mungkin memang blum saatnya saja kamu diperkenalkan dengan yg namanya cinta..ya anggep saja waktunya belum pas..
    karna terkadang cinta itu memang ga sejalan dgn apa yg kita harapkan..
    yg penting km tetep smangat ya saeng ^^

    1. iya juga unn… aku juga mikirnya gitu.. malah enak, berarti aku bisa fokus ke sekolah, sama proyekku untuk nulis novel :3

      ok unn… makacih unn ^^

  2. duh adek…. *pukpukpuk*

    dunia percintaan itu emg keras kok sa *ceilah*
    kalo menurutku, nemuin cowok yg bisa buat dijadiin pacar itu emg gak mudah, butuh suatu “klik” biar bisa dapet feelnya…
    soalnya aku lebih demen punya sohib cowok drpd pacar, sohib kan bisa banyak xp kalo pacar 1 aja srg bikin repot xppp

    fokus sekolah, fokus masa depan dulu sa, syemangaaaat! :)))

    1. iya unn… emang keras.. buktinya Miyoung sampe stress #apaantuh?

      iya sih unn… kebanyakan temen yang enak diajak ngobrol juga temen cowok😄

      ok unn… makacih ^^

      1. iyaaap! tapi ada suatu hal yg kadang gak bisa kita share in sama temen cowok, makanya itu dibutuhin sohib cewek. nah, kalo tu sohib suportif dan enak diajakin buat curhatlah, supportif masalah sekolah, masalah maen, masalah keluarga dkk, dan kamu ngerasa nyaman banget sama tu orang, gotcha! you’ve find your truely friend! butuh trial n erorr jg loh sa nyari temen tuh, apalagi pas kuliah, beeh -____- dunia pertemenan tu lebih kejem lagi Sa, apalagi kalo disambungin sama dunia percintaan, setdah gak ngerti lagi, yg penting, jalanin dulu aktivitas yg skrg dan coba lebih terbuka aja ya dek sama orang laen, kalo dicoba pasti bisa kok, sasa fightiiiing!

  3. saya nggak mau mengiba-i seperti kata unnie🙂 buat saya semua orang punya segmen hidupnya, makin banyak orang iba, makin sulit seseorang keep moving🙂 jadi kalau unnie sudah berkeputusan untuk tidak di-iba-i maka saya nggak akan mengiba-i karena itu artinya unnie cukup kuat untuk bertahan dan tetap berjalan🙂

    anyway lampu kamar lagi kriyep kriyep unn jadi kagak jelas banget liatnya😆
    typo yang ketangkep aja cuma ini ““Minho selalu cerita tentag kehidupannya bu?””

    keep writing unn😀

    1. iya.. betul.. setuju saeng…
      iya… aku cukup kuat saeng😄 #angkat 2 tangan #nunjukin tulang (?)
      haghag… masa’ cuma 1 ituh? ada 2 kemungkinan saeng… pertama, ya karena lampumu itu, yang kedua, ini kan drabble, cuma sedikit jadinya😄

      ok saeng.. tengkyuh😉

  4. aku ga tau harus komentar apa
    tapi ini memang cerita yang banyak terjadi di kehidupan nyata, dan beberapa gadis memang mengalami perasaan seperti itu

    karena disini castnya minho dan gatau real seperti apa.
    kalo aku ditatap oleh orang yang memiliki tatapan seperti minho, yaaa… pasti akhirnya begitu

  5. cup cup.. yg sabar saeng😀
    aq tau koq prsaan kamu. aq mlah lbh srg brtpuk sblah tangan xD nd prnah skli ptus cinta n jd sngat trpuruk. hehe

    suatu sat kmu psti bklan ngrsain cnta koq. toh, smw manusia psti ad pasanganny, mskipun ga tau kpan dtengnya.

    lgipula..lbh enak sndri koq. ga ad yg gnggu klo lgi kumpul ma tmen2/saat gy bkin ff. hehehe

    fighting ^^

    nd soal ff… selalu bagus..

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s