White Wolf (Sequel of Inveartible) :: Part 02


white-wolf

White Wolf (2)

Author : Sasphire

Main cast : Han Miyoung (oc), Kim Joonmyun – Suho (EXO K), No Min Woo (Boyfriend), Bora (sistar)

Ratting : General

Genre : suka suka author

Length : Chaptered (Sequel of Inveartible)

Preview  ::
Inveartible

Ren | Krystal | Baekhyun | Jeongmin | Ren (2) | Baekhyun (2) | Krystal (2) | Jeongmin (2)

White Wolf
Part 1 | Part 2

Hallo… Nih… Full Version-nya… selamat baca…
untuk part ini, gak ada fighting-nya, sebenernya ada sih, yang Joon Myun ditantang itu… tapi, karena waktu gak mencukupi, mending di taro di part 3 aja deh😀

kemungkinan, White Wolf ada 10 part… masih kemungkinan tapi….
Just support it.. tengkyu😀

“Han Miyoung!!”

Miyoung memilih untuk terus berjalan menyusuri lorong sekolahnya.

“Han Miyoung!!”

Miyoung memasang earphone di telinganya, mendengarkan lagu kesukaannya.

“Han Miyoung!! Berhenti!!”

Ia tahu siapa yang memanggilnya, dan ia tak mau menoleh sedikitpun untuk menanggapi suara itu.

“Pengkhianat!!”

Seorang lelaki berambut pirang yang sedari tadi memanggilnya berhenti tepat di depannya. Miyoung menghela nafas, lalu membalikkan badan.

“Jangan abaikan aku lagi!!” Desis lelaki itu sambil mencengkram kuat tangan kiri Miyoung.

“Apa maumu?” Tanya Miyoung tanpa membalas tatapan mata membunuh dari lelaki itu.

“Aku ini salah satu dari Inveartible tertinggi!! Aku bisa tahu kau manusia atau Inveartible!! Aku tahu kau….”

“Lalu maumu apa?” Akhirnya, Miyoung membalikkan badan dan menatap wajah lelaki itu dengan santai, “Kau mau aku memutuskan untuk menjadi Inveartible sejati?”

“Kau tak akan pernah menjadi Inveartible sejati, meskipun kau adalah Inveartible jenis kedua! Kau sudah membunuh lebih dari 30 Inveartible!! Sampai kapanpun, pengkhianat sepertimu tak akan selamat meskipun kau bersujud pada ketua selama 7 hari 7 malam!!”

“Begitu?” Miyoung tersenyum sinis, “Lalu, apa yang kau mau? Kenapa kau memanggilku terus-menerus dan membicarakan ini? Aku sudah tahu itu semua, bahkan jauh sebelum aku dididik oleh para pengendali Inveartible. Aku sadar nyawaku dalam bahaya, karena Inveartible jenis kedua bertebaran di sini. Tapi, aku tak akan takut. Aku sudah ditugaskan untuk menjaga wilayah ini, dan aku tak akan mengabaikan tugas ini.”

Lelaki itu menelan ludah, kemudian memeluk Miyoung dengan sangat erat.

“Hei!!”

“Kuberi kau lebih dari satu kesempatan…” Bisiknya lembut, “Aku akan menyembunyikan apa yang telah kau lakukan selama ini, dan aku akan membawamu ke markas Inveartible. Dengan begitu, kau akan aman.”

Miyoung berusaha mengelak, namu lelaki itu semakin memeluknya erat.

“Yang tahu kau adalah Inveartible hanya aku dan ketua. Jadi kau akan benar-benar aman. Ketua tahu akan hubungan kita di masa lalu, dia juga masih ingat siapa kau sebenarnya. Sebelum Inveartible lain tahu dan berusaha membunuhmu, aku akan berusaha sebaik mungkin.”

“Ren….”

Chagiya….”

Akhirnya, Miyoung mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorongnya, “Apa kau bodoh?! Jika kau ketahuan menyembunyikan apa yang terjadi sebenarnya, nyawamu juga terancam!! Kau mau mengorbankan dirimu hanya untuk melindungi orang sepertiku?! Aku tidak pantas untuk kau lindungi!!”

“Tak apa, asal kau bisa kembali bersamaku!! Kau tahu, membiarkanmu dididik oleh mereka adalah suatu kesalahan besar bagiku!! Aku tak menyangka, kita akan berada di jalan yang berbeda seperti ini!!”

Miyoung terdiam, mengingat kenangan mereka sebelumnya. Kenangan saat mereka masih berumur 17 tahun kembali melintasi pikirannya. Bersikeras ia melupakannya, namun tak pernah berhasil.

“Asal kau bersamaku, aku akan bahagia…” Ren berdesis, “Lagipula, apa yang kau harapkan dari tugas konyol menjaga Enertica ini?”

Miyoung tertegun.

“Kau tak dibayar ‘kan? Kau hanya disuruh untuk menjaga tanpa ada imbalan apapun ‘kan? Lalu apa yang kau harapkan?”

Ren pun tersadarkan atas sesuatu, “Ah, apa karena nenek moyang Inveartible meninggalkan energi di sini saat ia kalah ratusan tahun yang lalu, jadi kau mengincar energi itu untuk menambah kekuatanmu?!”

“Bukan… Tapi…”

“Sadarlah, Miyoung!! Energi itu seluruhnya hanya pantas untuk Inveartible asli!! Maka dari itu, kau harus bergabung dengan kami.”

“Mereka tak tahu…” Batin Miyoung dalam hati, “Energi itu malah merugikan mereka cepat atau lambat. Energi ini hanya bisa dimiliki oleh keluarga Kim yang menempati wilayah ini sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum Inveartible lahir ke dunia.”

“Kau akan dalam bahaya kalau berpendapat seperti itu….” Miyoung berkata, “Aku tak bisa menjelaskan, tapi yang pasti, kau salah kalau kau menganggap Inveartible adalah pemilik sah energi yang ada di Enertica.”

Chagiya….”

Saranghaeyo…. Choi Min Ki-ssi…” Miyoung mengangkat tumit kakinya, berpegangan pada tengkuk Ren, lalu mencium bibirnya dengan mesra dan menutup matanya. Ren terkejut, namun dengan cepat ia membalas ciuman itu sambil menutup matanya.

Cukup lama mereka berciuman, akhirnya Miyoung menghentikannya.

“Cukup sampai di sini,” Miyoung kembali memasang earphone-nya, “Kau memilih untuk menjadi Inveartible sesungguhnya, dan aku memilih untuk menjadi orang yang lebih manusiawi. Aku hanya punya sedikit darah Inveartible, jadi aku tak akan diterima Inveartible lain, sekeras apapun aku berusaha. Sementara kau, sudah menjadi Inveartible sesungguhnya. Kita berbeda.”

Chagiya….”

“Jika kau ingin membunuhku karena aku telah menyakiti hatimu, silahkan…” Suara Miyoung bergetar saat mengatakannya, berusaha menegarkan hati yang sedikit goyah karena kenangan mereka berdua, “Tapi, jika saat itu datang, aku ingin kau membunuhku saat aku berhasil menjaga wilayah ini dengan baik.”

Ren menitikkan air mata, “Jadi, kau menciumku hanya untuk mengatakan itu?”

Miyoung menggelengkan kepalanya. Air matanya pun mengalir di pipinya, “Karena aku mencintaimu. Hanya itu.”

Miyoung membalikkan badan, lalu melambaikan tangan, “Selamat tinggal…”

Miyoung menenangkan dirinya dengan memasukkan kedua tangannya ke saku jas almamaternya. Ia menghirup oksigen sedalam mungkin, walau sebenarnya yang ia hirup hanya aroma pengap di lorong itu.

“Miyoung…. Apa cita-citamu?”

“Cita-citaku? Banyak… Terkadang aku ingin menjadi pengacara, kadang dokter, kadang animator….” Ucap Miyoung saat tengkurap di atas Ren yang tengah berbaring di padang rumput saat liburan musim semi.

“Cita-cita terbesar?” Tanya Ren lagi.

“Cita-cita terbesar?” Wajah Miyoung berseri-seri saat Ren mengatakannya. Ia pun memilin tali baju Ren dengan manja, lalu menjawab pertanyaan Ren dengan pasti, “Menjadi pasangan hidup yang setia untukmu….”

Ren tersenyum dan mencubit pipi kanan Miyoung, “Cita-cita bagus, Chagiya…”

Sementara Ren berjalan ke arah yang berbeda dan mengenang kenangan terakhir mereka, tepat di padang rumput yang sama, namun saat itu musim dingin, sehingga rumput-rumput hijau di sana tertimbun oleh salju.

“Min Ki-ssi…”

“Hm?”

“Sebenarnya, aku telah dididik oleh Pengendali Inveartible, dan juga Extearmined.”

“Apa?”

“Mereka mendidikku sejak kecil dengan pengawasan Ayahku, tapi aku tak menyadarinya karena mereka melatihku tanpa mengatakannya padaku.”

“Bagaimana bisa begitu?!” Ren emosi, “Kau hanya bercanda ‘kan?”

“Tidak. Untuk apa aku bercanda….” Miyoung menghela nafas, “Aku mengajakmu ke sini, untuk memberitahukan padamu, bahwa mulai besok, aku akan mengikuti pendidikan intensif dari mereka. Sebenarnya aku tidak mau, tapi, karena aku terlanjur menjalaninya sejak kecil, aku tak bisa menolaknya.”

“Tak apa…” Ren menatap Miyoung yang tengah tertegun atas jawaban itu, “Aku tahu, kau disuruh Ayahmu ‘kan? Aku tahu, kau begitu dekat dengan Ayahmu. Salah satu cita-citamu adalah membuat Ayahmu bahagia. Jika apa yang kau lakukan sekarang adalah untuk membuat Ayahmu bahagia, silahkan saja.”

“Oh, begitu…” Miyoung menggenggam tangan Ren, “Kau tak mau mencegahku?”

“Itu bersangkutan denganmu, aku tak bisa seenaknya saja mengatur kehidupan orang lain…”

“Tapi….”

“Miyoung…” Kedua tangan Ren mengelus pipi Miyoung dengan lembut. Ia pun menatap lembut mata Miyoung, “Aku selalu menghargai keputusanmu.”

“Itu bukan keputusanku… Itu keputusan Ayah…” Mata Miyoung berkaca-kaca, “Kalau aku dididik oleh mereka, kita akan berada di jalan yang benar-benar berbeda.”

“Aku tahu…” Ren tersenyum, “Tapi, ini adalah salah satu cara untuk membahagiakan Ayahmu. Kau tak mau membuat Ayahmu kecewa ‘kan? Miyoung yang aku tahu adalah Miyoung yang selalu memikirkan Ayahnya, lebih dari siapapun.”

“Ya… Kau benar…” Miyoung melepaskan tangan Ren dari pipinya. Ia pun berjalan menjauh dari Ren.

“Jika kau memanggilku, aku akan berhenti dan mengikutimu….” Gumam Miyoung.

Namun setelah ia melangkah jauh, tak terdengar sekalipun suara lelaki yang ia cintai. Ia pun benar-benar memutuskan untuk melepas jiwa Inveartible dalam dirinya.

“Aku bodoh… Benar-benar bodoh…”

~***~

Miyoung merebahkan tubuhnya di atas atap sekolahnya saat istirahat kedua. Matanya menerawang jauh ke sela-sela awan putih di langit.

Apa aku bisa menjalankan tugasku di sini?

Ia masih ingat ucapan Tuan Kim sehari sebelumnya. Ia hanya asisten, tidak pada tempatnya ia bertindak gegabah untuk membunuh para Inveartible.

Aku ‘kan, hanya bisa merusak, kenapa ketua menyuruhku menjaga wilayah yang begitu ia cintai?

Baru saja ia memikirkannya, handphone-nya berdering keras ketika ketua menelponnya. Miyoung menghela nafas.

“Bagaimana keadaan di sana?”

Miyoung kembali menghela nafas, “Baik-baik saja. Tak ada masalah…”

“Baiklah…”

Miyoung terdiam untuk beberapa saat.

“Hei… Kau masih di situ?”

“Ya…”

“Apa ada hal yang membuatmu risau? Atau, ada sesuatu hal yang kau sembunyikan? Katakan padaku….”

“Baru hari pertama saja aku sudah dimarahi Tuan Kim karena sifatku yang gegabah. Bukankah itu membuktikan bahwa aku tak pantas ditugaskan di sini?”

“Lho? Miyoung yang kukenal itu tak pernah mendengarkan cemoohan orang lain… kenapa sekarang berbeda?”

“Aku…”

“Ah…” Ketua Kim memotong, “Kau terpengaruh oleh mantanmu yang seorang inveartible itu ‘kan?”

Miyoung hanya diam untuk berpikir. Bisa jadi itu salah satu alasan yang menggoyahkan kekuatan pendiriannya untuk menjadi Extearmined. Dan bisa jadi bukan.

“Jangan heran. Aku tahu semua hal tentang dirimu…”

“Aku tidak kaget Ketua tahu hal itu. Sayangnya, alasan yang membuatku ragu bukan itu.”

“Lalu apa? Karena Kakekku? Abaikan saja…” Tuan Kim tersenyum, “Oh ya, bagaimana menurutmu tentang adikku?”

Kim Joon Myun.

“Tidak ada istimewanya…”

“Hey… Walau meragukan begitu, dia adikku lho… Aku tidak terima kalau kau menganggapnya remeh…”

Ketua Kim menerawang jauh ke bawah langit, mencoba mencari di mana seorang Miyoung berada. Namun percuma. Ia tak dapat melihat wilayah Enertica sedikitpun. Tugasnya harus selesai terlebih dahulu kalau ingin kembali ke tempat yang sangat ia cintai.

“Aku berniat mempertemukanmu dengan dia…”

“Untuk apa?”

Ketua Kim tersenyum, “Kau dan dia punya banyak kesamaan.”

Miyoung tersenyum sinis, “Dia? Mana mungkin…”

“Tunggu sampai dia punya niatan untuk bertarung. Setelahnya, kau akan menyadari kalau dia sepadan denganmu, dan dia cocok untuk jadi partner-mu.”

“Tapi…”

Pip.

Miyoung melihat layar handphone-nya. Sudah terputus.

“Gila…” Desisnya.

Saat ia akan memasukkan kembali handphone-nya ke dalam saku jas-nya, handphone-nya kembali berdering.

Choi Min Ki-ssi.

Mata Miyoung kembali berkaca-kaca. Ia pun berdiri tegap sambil memandangi gedung-gedung tinggi dan bangunan-bangunan kecil lainnya yang terhampar di depan matanya. Ia menghela nafas untuk menguatkan batinnya, lalu mengangkat telponnya, “Kenapa tidak dari dulu?!”

Miyoung memilih untuk mengucapkan kalimat itu sebelum Ren mengucapkan kalimat bujukan yang lainnya. Ia benar-benar tak mau terpengaruh lagi oleh siapapun.

“Miyoung, aku tak…”

“Kenapa tidak dari dulu?!” Miyoung membentak. Air matanya kembali jatuh, “Kalau saja hari itu kau mencegahku, aku tak akan memilih jalan ini!! Aku akan memilih untuk terus berada di sampingmu, melakukan hal-hal yang kita senangi dengan tertawa!! Kau tahu itu yang aku inginkan ‘kan?!”

“Miyoung… Maaf… Aku…”

“Brengsek!!”

Miyoung pun menutup telponnya. Dengan kesal, ia melempar handphone itu dengan sekuat tenaga, tanpa ia tahu handphone-nya hanya jatuh ke bawah dan mengenai kepala Joon Myun.

Aw!!”

Joon Myun mengelus kepalanya pelan. Ia melihat handphone putih terjatuh di depannya. Ia pun memungutnya dan memandangi handphone itu dengan heran.

“Kenapa bisa handphone jatuh dari langit?”

~***~

Saat kembali ke ruangannya, Joon Myun bergegas mengirimkan pesan untuk para Extearmined.

Ada rapat hari ini. Segera ke ruanganku.

Setelah ia mengirimkan pesan itu, ia dikejutkan oleh dering handphone yang baru saja ia ambil setelah mengenai kepalanya.

Kenapa handphone ini berdering?

Ia membuka pesan yang baru saja sampai.

Ini ‘kan, pesan yang kukirimkan untuk para Extearmined utama?

Selagi Joon Myun masih kebingungan perihal pemilik handphone itu, Min Woo dan Bora telah datang memasuki ruangannya.

“Oh, kalian sudah datang?”

Min Woo dan Bora menduduki kursi yang telah disediakan Joon Myun.

“Mana Miyoung?”

Hm?” Tanya Minwoo, “Bukankah, dia hanya asisten Extearmined? Apa dia ikut rapat ini juga?”

“Iya… Benar…” Sambung Bora, “Dia hanya asisten. Aku kira, dia tak akan mengikuti rapat ini. Lagipula, bukankah di hari pertama kemarin ia sudah mendapatkan teguran dari Tuan Kim karena ia bertindak terlalu gegabah?”

Joon Myun menghela nafas lalu memijat pelan keningnya, menyadari perlakuan arogan dari kakeknya telah membuat Miyoung cukup sakit hati, “Gila…”

Min Woo dan Bora bertatapan, lalu menunduk. Setelahnya, Bora melirik ke meja kerja Joon Myun dan melihat tangan Joon Myun tengah memegang handphone putih itu.

“Oh…” Bora langsung mengangkat kepalanya, “Apa ketua menghubungi Miyoung lewat pesan singkat, seperti kami?”

Joon Myun mengangguk, “Iya. Kenapa?”

“Terang saja dia tak datang. Handphone-nya ada di tangan ketua.”

Joon Myun mengamati handphone putih itu, “Ini?”

Bora mengangguk sambil tersenyum, “Lalu, kapan rapat ini dimulai? Setelah ini, aku ada acara.”

“Ya. Aku juga ada PR.”

Joon Myun hanya mengangguk, lalu meletakkan handphone itu di tepi meja kerjanya dan memulai rapat tertutupnya.

~***~

Sesaat setelah rapat itu berakhir, Joon Myun bergegas pulang dengan berjalan menyusuri lorong sekolah yang gelap dan pengap layaknya bekas rumah sakit jaman penjajahan. Ia menghela nafas, tak ia pedulikan udara yang telah tercemari oleh bau darah busuk yang ditinggalkan oleh para Inveartible yang terkadang lolos dari pengawasan mereka.

“Oh…” Joon Myun melihat seorang gadis yang tengah berjalan dari arah berlawanan, “Han Mi Young…”

Tatapan mata Miyoung masih basah. Hidungnya merah.

“Ada apa?”

“Bukan urusanmu…”

Miyoung pun berjalan melewati Joon Myun, namun Joon Myun mencengkeram tangan kiri Miyoung untuk mencegahnya berjalan lebih jauh.

“Kenapa kau tak ikut rapat tadi? Rapat tadi penting untuk membahas cara untuk membasmi para Inveartible yang semakin lama semakin ganas.”

Miyoung menatap Joon Myun, “Kau tidak memberitahuku.”

“Aku mengirimimu pesan singkat.”

Miyoung menatap ke arah lain, lalu melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Joon Myun, “Handphone-ku hilang.”

Ia kembali berjalan menjauh dari Joon Myun.

“Oh, ngomong-ngomong soal handphone,” Joon Myun mengeluarkan handphone dari jas almamaternya, lalu melempar-lemparkan handphone itu ke atas, “Aku baru saja kejatuhan handphone putih ini. Kau tahu tidak, ini handphone siapa?”

Miyoung tak acuh atas ucapan Joon Myun, “Tidak.”

“Oh… Ada telpon…” Ucap Joon Myun saat handphone itu berdering, lalu melihat nama yang ada di layar handphone itu, “Choi Min Ki.”

Langkah Miyoung terhenti.

“Choi Min Ki,” Ulang Joon Myun, “Bukan Choi Min Ki kelas 11-2 ‘kan? Bukan Choi Min Ki yang biasa dipanggil Ren itu ‘kan?”

Miyoung membalikkan badan dan berjalan cepat menghampiri Joon Myun untuk merebut handphone-nya. Namun Joon Myun mengangkat handphone itu hingga Miyoung tak dapat meraihnya, sekalipun ia melompat setinggi mungkin.

“Ren itu, Inveartible tingkat 2, sepertimu ‘kan?” Kali ini Joon Myun tersenyum sinis, “Akhirnya, aku berhasil menemukan kelemahanmu, seorang Han Mi Young yang angkuh.”

“Apa maumu?! Kembalikan handphone-ku!!”

“Aku telah diberi tahu oleh ketua Divisi Pengawasan tentang masa lalumu dengan Ren,” Joon Myun mengabaikan ucapan Miyoung, “Kurasa kau tahu bahwa kau harus mengesampingkan sifat Inveartible-mu saat kau menjadi Extearmined. Apa kau tak diajari itu?”

“Ini semua terlepas dari permasalahan antara Extearmined dan Inveartible. Ini masalah pribadiku. Kuharap kau mengerti.”

“Tidak bisa. Aku tahu, yang bisa menghentikan Inveartible tingkat 2 hanyalah orang sepertimu. Kau harus benar-benar melupakan jati dirimu sebagai Inveartible dan memulai hidupmu untuk mengabdikan dirimu sebagai Extearmined sepenuhnya.”

“Kim Joon Myun!!”

“Kau harus berjanji untuk mengabdikan dirimu seutuhnya untuk Extearmined… Lalu akan kukembalikan handphone-mu.”

“Ya,” Miyoung kembali merebut handphone-nya.

“Buktikan padaku…” Joon Myun melihat handphone itu masih berdering, “Kita buat strategi untuk membunuh Inveartible ini.”

“Hei!!”

“Bagaimana kalau kau menelponnya, lalu mengajaknya untuk bertemu di suatu tempat? Saat itu, kau harus bekerja sama dengan Min Woo dan Bora untuk menghabisinya. Sepakat?”

Joon Myun tersenyum, lalu mengangkat telpon dari Ren dan mengaktifkan fitur speaker yang ada di handphone-nya. Miyoung geram, lalu merebut handphone itu dan menon-aktifkannya.

“Brengsek!!”

PAKK!!

Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Joon Myun.

“Kau memang ketuaku, dan aku memang bawahanmu yang tak bisa diandalkan dan tak bisa bekerja sama karena aku memang payah!!”

Joon Myun tertegun mendengar ucapan Miyoung yang terdengar penuh emosi. Ia pun menatap mata Miyoung yang penuh dengan kebencian.

“Tapi, tidak pada tempatnya untuk dirimu mencampuri urusan antara aku dan Ren!! Ada kalanya nanti, dia membunuhku, dan kau yang membunuhnya!! Kau puas mendengarnya?!”

Joon Myun sedikit tertegun mengucapkannya. Ia ingin sekali mengeluarkan umpatan-umpatan untuk bawahannya yang telah lancang menamparnya. Namun lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah katapun.

“Aku akan mengabdikan diriku sepenuhnya untuk kalian, walau aku tak tahu kapan aku akan berhenti. Tapi, tolong jangan mencampuri kehidupan pribadiku. Mengerti?”

Dengan kesal, Miyoung membanting handphone-nya dan menginjak handphone itu sampai remuk.

“Aku akan beli handphone baru dan nomor baru. Aku akan memberitahukannya padamu.”

Saat Miyoung baru berjalan beberapa langkah, ia teringatkan sesuatu.

“Ah, ya,” Miyoung kembali membalikkan badan dan menatap Joon Myun yang masih berdiri terpaku karena merasa bersalah telah mencampuri privasi anak buahnya, “Aku ingin kau bertarung malam ini.”

Joon Myun mengernyit.

“Kau merasa bersalah ‘kan?” Miyoung tersenyum sinis, “Kalau kau merasa bersalah, maka bertarunglah nanti malam, jika ada Inveartible yang menyusup ke sini. Kalau tak ada, kau bertarung besok malam. Setelahnya, aku akan memaafkanmu.”

Sekali lagi, Joon Myun hanya terdiam mendengar ucapan Miyoung.

~***~

9 thoughts on “White Wolf (Sequel of Inveartible) :: Part 02

  1. ahhh, tnyata krn itu toh miyoung akhirnya putus sama ren. bener tuh kata miyoung jg, knapa ga dari dulu, knapa hrs skg stelah dy uda dilatih skian lama~ dan itu jd pgn liat gmn ekspresi junmyeon pas dy diem dengerin omongannya miyoung. mungkin bener tuh klo junmyeon bakal akur jd partner miyoung..hehehe

  2. Wahhhh biarpun chapter ini singkat
    tapi permainan emosinya nyampe
    penyusunan narasinya itu loh❤ aku suka
    sederhana tapi bener2 deh 'nancep' langsung ke aku😀
    apalagi pas bagian Miyoung berantem sama Joomyun itu
    berasa banget deh sakitnya jadi Miyoung itu u.u

    Ehhh aku kira pas awal2 Ren itu Baekhyun loh o.O *masih kena virus BaekYoung Couple
    Bener deh sa gegara ffmu yang itu aku jadi ngefans sama couple ini A.A *plak *curcol dadakan
    Hmm sebenernya Miyoung lebih enak jadi Inveartible loh kyknya kalo dia jadi Extearmined
    dia ga terlalu diterima gtu apalagi sama Tuan Kim u.u

    Di chapter ini aku nemuin masih ada kesalahan narasi, sa
    mungkin kamunya cepet2 pas ngetik
    itu dibagian Ketua Kim nelpon Miyoung ada kata-kata Tuan Kim tersenyum padahal harusnya Ketua Kim tersenyum.

    Ditunggu kelanjutannya Sasa ;D
    semangat ^__^

  3. miaaaaaannnnnnnnnn baru bisa komen sekarang komennya pas di teaser lagi…cz nae jarang ol jadi jarang buka wp, maklum derita anak kuliahan dikejar2 tugasT__T yah DAEBAK deh pokoknya…nae tunggu sealu karya2 mu…keep writing^^….FIGHTING

  4. yey, yang terbaru! ^^ ini keren banget (perasaan dari kemarin bilang keren mulu deh…) tapi emang kenyataannya ini keren, dan aku gatau harus ngomong apa lagi eonnie. aku udh hampir jantungan denger ren mau dibunuh, astaga -__- untung aja gak jadi. itu suho kenapa jadi jahat yah? ih, padahal dia kan guardian angel. keseelll! *marah sendiri* *aneh*
    part 3-nya jangan kelamaan dong eonni, ya?😀

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s