7 words : 02. Hate


7 words : 02. Hate

Main cast : Bae Suzy, Kim Soo hyun

Length : series

Author Words :
Sorry… Judul di ganti tanpa pemberitahuan. awalnya Tears, lalu aku ganti Hate. karena memang, kalau saya baca ulang, fokusnya di rasa “Benci”, bukan “Air mata”. mungkin next part bakal Full of tears
. Maaf ya… nunggu lama. untuk berikutnya, saya usahakan lebih cepat😉
Oiya.. maaf klo lebih pendek.

“Eh…. Soohyun tidak masuk hari ini?”

“Iya….”

“Kenapa, ya? Tidak biasanya Soohyun seperti ini, tidak masuk tanpa alasan yang jelas….”

Salah seorang dari kedua lelaki—teman sekelas Soohyun—yang membicarakan Soohyun itu hanya mengangkat bahu. Ia pun menghampiri kalender yang ada di samping meja guru, “10 Januari….”

Suzy yang memasuki kelas Soohyun untuk mencari lelaki yang dicintainya itu berjalan menghampiri mereka berdua, “Kemana Soohyun?”

Kedua lelaki itu menoleh. Lelaki yang masih memegang lembaran kalender pun menjawab, “Dia tidak masuk….”

Suzy mengernyit, “Tumben. Memangnya kenapa dengannya?”

“Entahlah….”

“Mungkin dia phobia pada tanggal 10 Januari,” Ucap lelaki berambut pirang yang memegang kalender, “Sejak SD, dia selalu begitu….”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Suzy kembali bertanya.

“Wajar. Aku selalu menjadi teman sekelasnya, dari SD sampai SMA. Terkadang aku sedikit kasihan padanya….”

“Kenapa?” Rasa penasaran Suzy semakin bertambah.

“Ayahnya meninggal saat dia masih berumur 5 tahun. Saat itu, dia belum masuk SD.”

“Lalu, apa hubungannya dengan 10 Januari?”

“Ayahnya meninggal pada tanggal itu….”

Suzy berpikir dan mencerna kata-kata lelaki itu. “Apa semua ini ada kaitannya dengan sifatnya yang tak mau menganggap cinta itu ada?”

~***~

Di dalam kamar yang gelap nan kumuh itu, Soohyun merebahkan tubuhnya sambil melingkarkan bantal ke kedua telinganya dengan erat. Ia menutup erat matanya sambil mengerang sesekali. Keringat dingin pun mengucur deras dari keningnya.

“Ibu…. Ibu….”

~*Flashback*~

“Jadi, Kim Dong Won, suamimu itu meninggal karena ingin menjemput Soohyun di Playgroup?”

Ibu Soohyun hanya mengangguk disela-sela isak tangisnya.

“Sudah kubilang, kan?” Nenek Soohyun keluar dari dalam kamarnya dengan angkuh sambil melipat kedua tangannya di dada, “Kau itu pembawa sial? Anakku yang sudah membangkang dari laranganku untuk menikahimu sudah terbukti…”

“Bukan aku yang pembawa sial, ibu….” Ucap Ibu Soohyun sambil menahan amarah, “Anak kecil ini yang sudah membawa sial…”

Soohyun yang saat itu berada dalam pangkuan adik ibunya pun terkejut, “Ibu….”

“Kakak… Jangan bilang begitu!! Dia masih kecil!!”

“Tak apa kan, kalau masih kecil? Dia tak tahu apa-apa atas apa yang diucapkan orang dewasa!!”

“Benar ‘kan, kataku?” Kali ini Nenek Soohyun tersenyum penuh kemenangan, “Kau pembawa sial. Bahkan pada anakmu sekalipun….”

~*End*~

Soohyun PoV

Justru karena aku masih kecil, aku bisa memahami ucapanmu, bu….

Justru karena aku masih kecil, aku selalu berusaha memahami apa yang diucapkan orang dewasa padaku bu….

Aku tahu pasti arti kata yang ibu ucapkan padaku secara tak langsung itu bu….

Ibu membenciku karena aku yang menyebabkan kematian ayah… Karena aku pembawa sial….

Dan karena perkataan ibu itu aku jadi tahu satu hal….

Ibu mencintaiku karena Ayah…. Dan ibu membenciku karena Ayah….

Lalu apa yang ibu rasakan padaku sesungguhnya? Cinta atau benci?

Kau tak pernah membiarkanku untuk tahu yang sebenarnya. Kenapa bu?

Bahkan kau pun lebih memilih menyusul ayah dengan bunuh diri di tanggal yang sama setahun setelah meninggalnya Ayah…

Bukankah itu berarti, aku tak lebih dari seorang anak kecil yang membawa keburukan untuk Ayah dan ibu? Lalu apa artinya untukku dilahirkan bu? Apa artinya aku hidup sekarang??

Sudah berkali-kali aku ingin mengakhiri hidupku, namun sering juga aku gagal.

Ingin memotong urat nadi di tangan, pisau yang kugunakan patah. Ingin terjun, orang lain selalu datang menolongku. Ingin gantung diri, pemilik rumah yang kusewa ini selalu datang menagih uang sewa rumah yang menunggak.

Hanya satu hal yang memberiku secercah harapan untuk mengakhiri hidup.

Penyakitku….

Tapi, mana bisa aku menunggu waktu lama untuk mati?

“Soohyun….”

Suara itu lagi.

Kenapa suara itu kembali terdengar di telingaku? Sudah sering aku menghindar darinya, kenapa dia masih saja mendekat padaku? Apa istimewanya aku sehingga ia begitu bersemangat untuk mendekat padaku?

Dan sialnya, suara itu menarikku kembali ke sebuah dunia yang berisi cinta dan benci. Bukankah kehidupan manusia yang erat kaitannya dengan bersosialisasi dan interaksi itu sangat kental dengan kedua hal yang membuat hidupku linglung itu?

Hidupku sudah nyaman setelah selama ini aku berhasil hidup diantara kehampaan. Tanpa adanya rasa apapun di hati ini. Kenapa dia harus datang dan merubah semuanya?

“Soohyun….”

Kudengar ketukan pintu darinya. Aku semakin merapatkan bantal ke telingaku.

Tuhan…. buat dia pergi….

“Soohyun….”

Kali ini dia mengetuk pintu lebih keras lagi.

“Buka pintunya….”

Aku bergegas duduk. Gadis itu berhasil membuat aku merasa bersalah karena mengabaikannya.

Bukankah, harusnya dia yang merasa bersalah karena menggangguku tidur?

“Ini aku Suzy…..”

Aku turun dari ranjangku, lalu berjalan cepat menghampiri pintu ruang tamu sambil menghapus sisa air mataku yang sedari tadi membasahi bantal putihku.

“Soo….”

Nada suaranya melemah begitu melihatku membuka pintu secara kasar dengan wajah kesal. Ia hanya melihatku sambil terkekeh tak jelas.

“Apa?” Tanyaku ketus, “Kalau tak ada kepentingan, pulang….”

“Kenapa ketus begitu?” Ucapnya dengan wajah polos. Dia itu…..

Aku heran, kenapa banyak orang di sekolah bilang bahwa dia adalah anak pintar? Kenapa baca kondisi di sekitarnya saja tidak bisa? Atau memang benar apa kata pepatah, kalau bodoh dan pintar itu beda tipis?

“Aku sama sekali tak menginginkan kehadiranmu….” Jawabku, “Sudah jelas? Sekarang pulang?”

Ia hanya menatapku dengan pandangan mata penuh tanda tanya. Hh…. Ya sudahlah….

Aku berbalik dan bergegas menutup pintu.

“Hei….”

Jantungku berdebar kencang saat dia memegang lenganku. Kurang ajar!!

Tahan dirimu Soohyun… Jangan sampai kau mengingkari janjimu untuk tidak mencintai orang lain untuk kedua kalinya hanya karena seorang gadis culun seperti dia…

“Apa lagi?”

“Kenapa hari ini kau tidak masuk?”

“Terserah aku ‘kan? Siapa kau? Mengurus kehidupan pribadi orang lain? Urusi hidupmu sendiri sana!!”

“Aku ‘kan, tanya baik-baik padamu. Kenapa kau menjawab pertanyaanku ketus begitu?”

Anak ini… Benar-benar….

“Karena aku membencimu!! Puas?!” Nada ucapanku semakin tinggi, tanda bahwa aku tidak bisa mengatur emosiku dengan baik.

Kulihat, matanya berkaca-kaca. Oh, Tuhan…. Lemah sekali gadis ini?

Dan sialnya aku merasa bersalah ketika air matanya benar-benar terjatuh di pipinya.

“Kenapa menangis?”

Ia tak menjawab. Malah menatap mataku semakin dalam.

“Kenapa menangis??!!” Kali ini aku bertanya sambil membentaknya, “Karena aku mengucapkan kata-kata kasar padamu?? Iya??!! Karena kau merasa aku orang yang kejam, begitu?! Rasakan!! Itu balasan bagimu yang sudah menggangguku berkali-kali!!”

“Bukan….” Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya, lalu membetulkan posisi kacamatanya, “Aku kasihan padamu.”

“Kasihan??”

“Iya. Kau terlalu sering membohongi diri sendiri. Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana kau bisa hidup dengan penuh kebohongan selama ini…”

“Apa maksudmu?”

“Kau berpura-pura tak acuh padaku. Kau juga berpura-pura tak acuh pada orang lain. Padahal aku tahu, kau sangat tersiksa dengan kesendirianmu selama ini. Aku juga tahu, kau senang saat bernyanyi di pentas seni minggu lalu, iya kan? Kau tak bisa membohongiku, bahkan membohongi dirimu sendiri….”

“Kau siapa?! Berani sekali menilaiku seperti itu!!” Aku membentaknya sambil tersenyum sinis.

Suzy…. Kumohon, sakit hatilah padaku, dan jauhilah aku…. Orang penyakitan yang memiliki masa lalu kelam ini tak akan pernah memberikan kebahagiaan untukmu….

“Hanya aku, yang bisa menilai diriku baik atau buruk. Kau hanya orang asing. Kau tak tahu bagaimana diriku yang sebenarnya….”

Aku membalikkan badan dan bergegas memasuki rumah.

“Soohyun….”

Cobaan apa lagi ini Tuhan??

Jantungku berdegup lebih kencang lagi saat ia memeluk punggungku. Apakah kata-kata kasar yang kuucapkan padanya tadi tak cukup untuk meyakinkannya bahwa aku bukan orang baik?

Aku melepaskan tangannya kasar, lalu dengan cepat memasuki rumah.

“Sekali lagi kutegaskan, aku bukan orang baik….”

Setelahnya, kututup pintu dengan kasar.

~***~

Tumpukan salju yang menebal di jalan ini tak menghalangiku untuk berangkat ke sekolah pagi ini. Sesekali, aku dapat melihat hembusan nafasku yang berbentuk asap dingin. Aku tersenyum.

Kira-kira, kapan aku mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini ya?

“Lihat itu!! Ada orang gila!!”

Aku bergegas mencari pekikan suara yang terdengar di telingaku.

Ternyata, suara itu berasal dari seorang anak kecil bersama sekelompok anak-anak dari daerah kumuh. Suara-suara keceriaan pun terdengar begitu nyaring bersamaan dengan ujung bibir yang terangkat.

“Orang gila…. Orang gila….”

Mereka bertepuk tangan riang sambil meneriaki seseorang yang….

Bagaimana aku bisa mendeskripsikannya?

Baju kumal dengan banyak tambalan kusam, kulit keriput, gigi-gigi keropos dan beberapa gigi utuhnya berwarna hitam, dan rambutnya berwarna putih dan acak-acakan.

“Heh!!” Orang itu berteriak. Ketika ia bersiap untuk melemparkan kayu ke anak-anak kecil itu, aku bergegas menghampirinya dan menggenggam lengannya.

“Hentikan!!”

Lelaki itu memelototiku. Aku hanya membalasnya dengan tatapan mata dingin.

Tangannya mulai melemas dan melepaskan tongkat yang tadinya ia genggam dengan kuat.

“Kalian juga pergi….” Aku mengalihkan pandangan pada anak-anak kecil yang wajah cerianya berubah menjadi wajah-wajah tegang hanya karena sebuah kayu yang digenggam seseorang yang naik pitam.

Mereka hanya mengangguk di sisa-sisa ketegangan yang mereka rasakan.

“Asal kalian tahu, jika kalian mengejek orang lain, maka kalian tak ada bedanya dengan orang yang kalian ejek.  Dengan kata lain, kalian adalah orang gila….”

Anak-anak kecil itu berlari ketakutan mendengar ucapanku. Aku bingung, apa yang membuat mereka takut dengan ucapanku barusan.

Aku berdecak sambil menggeleng pelan dan kembali menatap lelaki itu.

“Jangan pikirkan ucapan mereka. Mereka masih kecil….”

Lelaki itu hanya mengangguk pelan, lalu menatap mataku sekilas.

“Ikut aku…” Aku menarik paksa tangan lelaki yang ringkih itu. Ia sempat mengelak, namun aku mencengkeram tangannya semakin erat, lalu menatapnya sambil tersenyum.

“Aku tak bermaksud jahat…. Percayalah padaku…”

Lambat laun, ia pun percaya dan mengikuti langkahku yang begitu bersemangat. Entahlah. Aku memang orang yang cuek pada keadaan sekitar. Namun, ketika melihat ada orang yang umurnya telah lapuk dimakan waktu—terlebih ia diasingkan oleh lingkungan sepertiku—hatiku selalu tersentuh untuk menemani mereka, atau melakukan hal yang membuat mereka senang walau hanya sekejap. Kebahagiaan bagi orang-orang itu adalah kebahagiaanku walau aku sama sekali tak mengenal mereka.

Aku juga bingung pada diriku sendiri.

“Mi China 2 mangkok….” Ucapku pada pelayan saat aku dan lelaki itu duduk di salah satu tempat di restoran Mi China terdekat dari sekolahku.

“Maaf?” Pelayan itu mengangkat alis sebelah sambil menatap jijik orang yang duduk di sampingku. Kulihat, lelaki itu menahan malu sambil menatap lantai, seolah tak terjadi apa-apa.

“Mi China 2 mangkok. Kenapa? Ada yang salah?” Tanyaku padanya dengan nada ketus, “Bukankah, ada pepatah yang bilang, pelayan selalu benar?”

Aku tidak tahu aku berbicara apa. Karena pada dasarnya aku bukan pelayan, jadi aku tidak tahu apa saja yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari oleh pelayan. Tapi, setidaknya, merendahkan pelanggan termasuk hal yang harus dihindari kan?

“Baiklah….” Pelayan itu hanya menghela nafas pelan sambil mencatat pesanan kami di black-note kecilnya, lalu membungkukkan badan pada kami dan berlalu.

“Jangan dipikirkan apa pun yang dilihat orang lain padamu….” Ucapku sambil menatap matanya, “Jalani hidupmu dengan jalanmu sendiri. Itu akan membuatmu merasakan hidup yang sesungguhnya…”

Lelaki itu hanya menatapku dengan penuh rasa kagum pada matanya. Aku tersenyum bangga.

Eh…. Tapi dia tidak bilang dengan terus terang apa dia benar-benar kagum atau tak mengerti ucapanku.

Bisa saja sorot matanya itu adalah sorot mata penuh tanda tanya.

Sial…. Aku tidak bisa membaca pikiran orang lewat sorot matanya.

Kalaupun lelaki ini kagum pada ucapanku, mungkin ini yang ia ucapkan :

“Wah…. Rumit sekali ucapanmu sampai aku tidak bisa mencernanya dengan baik….”

Aku menggelengkan kepalaku pelan, dan memukul ringan keningku dengan kepalan tanganku.

Bukankah kau sudah tahu kalau dia ini tak punya akal? Kenapa kau berbicara hal serumit itu?

“Mi China….”

“Oh… Ya….”

Di hadapanku kini sudah ada dua mangkok Mi China. Kugeser salah satu mangkok ke hadapan lelaki tua itu.

“Makanlah….”

Aku menyantap Mi China itu dengan lahapnya. Aku baru sadar, sejak kemarin aku belum makan sama sekali karena terus-menerus berbaring di atas kasur.

Lelaki itu hanya melihatku dengan seksama.

“Kenapa?” Tanyaku, “Kau sudah kubelikan ‘kan? Kau tinggal memakannya, tak perlu melihatku makan….”

Ia masih diam.

“Makanlah. Aku tahu kau pasti lapar. Kau jarang makan ‘kan?”

Ia hanya tersenyum kecil, lalu meraih mangkok di hadapannya dan memakan Mi China di dalamnya secara perlahan.

“Nah…. Begitu….” Aku tersenyum senang, lalu melanjutkan makanku.

“Anakku….”

Aku menoleh ketika mendengar seucap kata yang baru saja keluar dari bibirnya. Aku tahu pasti ia menahan air mata yang bersiap-siap untuk mengalir di pipinya.

“Kalau anakku masih hidup, pasti dia sudah besar sepertimu….”

Baiklah. Sekarang aku tahu apa permasalahan hidupnya. Dia kehilangan anaknya.

Kubiarkan dia berbicara sesuka hatinya. Aku bersedia menjadi pendengar yang baik, namun aku tak tertarik untuk mengorek kehidupannya lebih dalam. Bukan karena aku tak peduli. Tapi karena aku tahu, mengorek kehidupan seseorang itu hanya membuat kita risih.

Sama seperti yang dilakukan Suzy padaku.

Hey…. Kenapa aku memikirkannya?

“Dia meninggal saat aku bekerja di luar negeri. Dan sialnya, setelah itu, seluruh hartaku hilang karena banyak karyawanku yang berkhianat ke perusahaan lain….”

“Kalau itu alasan hidupmu untuk berubah menjadi seperti ini,” Potongku sambil menunjuk penampilannya yang kumuh, “Lebih baik kau mati saja. Orang yang hidup dalam keputus-asaan itu tak pantas untuk hidup.”

“Apa?”

“Hidup itu untuk dijalani, bukan untuk diratapi. Itu intinya….” Ucapku cuek. Namun setelahnya, aku berpikir dalam-dalam atas apa yang kuucapkan barusan.

Aku hampir saja tertawa. Maksudku, bagaimana mungkin aku mengucapkan sebuah nasihat pada orang lain, sementara aku sendiri adalah orang yang selalu hidup dalam keputus asaan dan kehampaan?

“Aku sudah selesai….” Aku mengelus perutku cepat setelah aku bersendawa, “Mi-nya sudah kubayar. Kau tinggal pergi dari restoran ini jika sudah selesai makan.”

“Terima kasih….”

Hm….” Aku mengangguk. Setelahnya, aku bergegas keluar dari restoran itu dan berjalan menuju sekolahku.

Baiklah, Soohyun. Menurut dokter, 3 bulan lagi. Jalani hidup ini seperti biasanya. Bangun, sekolah, dan tidur. Tak perlu lakukan kegiatan pengobatan yang lain karena itu akan menambah umurmu. Semakin sedikit sisa umurku, semakin baik.

“Soohyun….”

Suara itu lagi?

Oh….. Tuhan…. Kenapa Engkau tak mengabulkan permintaanku untuk membuatnya menjauh dariku?

Aku tak berniat untuk membalikkan badan dan menatap wajahnya. Aku menatap lurus jalan yang ada di depanku.

“Soohyun…”

Sial. Apa dia perlu se-agresif ini untuk mendekatiku? Memelukku lagi dari belakang?

“Aku sudah tahu kau orang baik….” Ia menggerakkan kepalanya dengan manja ke punggungku. Kurasakan jantung ini semakin berdetak tak karuan.

“Tadi, aku melihatmu memberi makan orang tua itu….”

Apa dia tak punya kerjaan lain selain mengikutiku?

Aku langsung melepaskan tangannya dengan kasar.

“Sudah kubilang, aku membencimu. Jadi jangan berani-beraninya mendekat padaku….”

“Kenapa kau terus-terusan membenciku? Apa salahku hingga membuatmu begitu benci padaku?”

Kini ia berdiri tepat di depanku, bersamaan dengan rasa sakit yang menyerang tiba—tiba pada kepalaku. Aku mencengkeram kuat keningku. Sial. Kenapa rasa sakit ini menyerangku saat berada di depannya?

“Soohyun, kau kenapa?”

Aku menampik tangannya yang berusaha memegang kepalaku.

“Bukan urusanmu.”

Ia memandangku khawatir. Sial. Rasa sakit ini semakin menjadi.

“Dan kau ingin kenapa aku membencimu?”

Ia memilih diam.

“Alasannya hanya satu. Aku benci semua orang yang ada di sekitarku. Mengerti?”

“Soohyun…. Hidungmu berdarah….”

Tangan kananku bergegas menutup hidungku yang mimisan. Kenapa semua ini terjadi di hadapannya? Bagaimana jika ia ingin tahu apa yang kualami? Bagaimana jika ia iba padaku? Bagaimana jika itu membuatnya sedih?

Aku berjalan cepat mendahuluinya. Aku tak boleh berlama-lama di depannya saat aku seperti ini walau sesungguhnya aku ingin berada di dekatnya.

“Soohyun….”

Ia memberikan sapu tangan putihnya padaku. Aku menampik sapu tangannya dengan kasar dan bergegas pergi dari hadapannya.

Suzy, jangan mencegahku untuk pergi lagi. Semakin aku melihatmu, yang kurasakan hanyalah perih karena aku tak pantas ada di sampingmu. Dan rasa benci yang sangat besar pada diriku sendiri karena aku terlalu buruk untukmu.

~***~

Cooming Soon :

BaekYoung Story (Double Part)
Chocolate Pink

Miyoung is My Girlfriend

cover by :: Nana saengie

9 thoughts on “7 words : 02. Hate

  1. soohyun skit apa?
    Kanker otak?
    Ksian dy,ibu.a jhat bgt..
    Trs dy skrg krja bwt khdpn.a apa dpt uang dr kluarga.a?
    Klo masa hdp.a tgl 3bln gmn nasib suzy?
    Lnjt!!

  2. weee, ga nyangka ternyata soohyun ad sakit bahkan uda smpe bisa mimisan segala -__-
    ahh, itu toh alesan kenapa soohyun ga mau masuk ke dunia cinta tapi sepertinya kehadiran suzy uda mengusik janjinya, ya bisa dibilang uda mulai mengalami pertanda ‘cinta’..maybe sih..hehehe

  3. Mnederita banget hidup Soo Hyun d sini..jgn jahat2 dong author… ><. Btw..dia kerja apa untuk menuhin kehidupannya..? Akan lebih bagus jika dijelaskan….

  4. mianhe .. baru ninggalin jejak😦
    feel dalam ceritanya dapat banget🙂 jadi kebawa dalam alurnya😥
    part selanjutnya kapan ya ?udah lama juga nunggu fanfic ini,tpi part lanjutannya belum ada juga😦
    tolong di lanjutnya😉
    salam kenal🙂

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s