[Ficlet] Haru-haru


Haru-Haru

Author : Sasphire

Main cast : Cho Jino SM the Ballad, Yoora Kim, Park Chanyeol EXO K

Ratting : Teen, General

Genre : Romance, Sad, Angst

Length : Ficlet (2482 words)

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

Alur cepat…. Sorry… karena proses pembuatannya juga ngebut -_- Typo juga… maaf ya -_-

HARU-HARU

1st Memories

Jino

“Erghhh…..” Aku membuka mataku perlahan, lalu mengerang pelan. Cahaya matahari yang melewati jendela kaca kamarku memaksaku untuk bangun dari tidurku. Sepertinya seseorang telah membuka gorden putih kamarku. Aku membalikkan badan dan menutup kepalaku dengan bantal.

Oppa….” Aku merasakan tarikan manja di punggungku. Aku semakin merapatkan bantal di telingaku.

Oppa…” Semakin lama tarikan itu semakin keras.

“Duhhh….” Aku pun memutuskan untuk bangkit dan menuruti apa maunya seseorang yang sudah membangunkanku ini, “Apa sih?”

Happy Birthday….” Gadis itu tersenyum lebar padaku dengan kue tart di tangannya.

Rasa kesalku berubah menjadi rasa senang ketika tahu gadisku membangunkanku pagi ini demi merayakan ulang tahunku.

Ya. Gadisku.

Siapa lagi kalau bukan Yoora?

“Dasar….” Aku mengacak rambutnya. Yoora hanya tersenyum, lalu duduk disampingku.

Happy Birthday…. To you…. Happy Birthday…. To You…. Happy Birthday, To oppa…. Happy Birthday to Oppa….”

Aku bertepuk tangan. Meskipun suaranya tak terlalu bagus, tapi suaranya selalu bisa membuatku tenang.

“Ucapkan doa….”

Aku mengangguk, “Aku harap, kita bisa selalu bersama…. Kita selalu bahagia….”

Aku melihat raut wajahnya berubah. Aku mengernyit.

“Kenapa? Kau tidak suka?”

“Bukan….” Ia tersenyum kecil, “Doa oppa sama sepertiku….”

Aku tersenyum. Semoga itu benar. Hanya itu yang bisa kuharapkan.

“Sekarang, tiup lilinnya oppa….

Aku tersenyum, lalu meniup lilin angka 2 dan 0 di hadapanku.

Yoora

Aku masih memikirkan ucapan Jino-oppa. Aku tahu dia mencintaiku. Tahu pasti. Begitupun sebaliknya. Tapi tak bisa seperti ini.

Bagaimana ya?

Yang aku takut, dia sedih teramat dalam begitu aku pergi meninggalkannya.

Ya. Tak lama lagi aku akan pergi. Jauh.

Ya Tuhan….

Aku harap dia bisa melupakanku, dan tak akan sedih ketika nanti aku pergi….

~***~

2nd memory

Jino

“Kenapa hari ini kita pergi ke kebun binatang oppa?” Tanya Yoora begitu kami memasuki gerbang kebun binatang.

“Kemarin kau sudah memberi kejutan untukku…. Sekarang giliranku….”

“Ah…. Begitu ya?”

“Kenapa? Kau tak terlihat senang….”

“Ah…. Bukan begitu…. Hanya saja….”

“Sudahlah…. Jangan dipikirkan….” Akupun menunjukkan Handy cam di tangan kiriku, “Kita rekam seluruh kegiatan kita hari ini….”

Oppa…” Ia tersenyum kecil, “Jangan berlebihan….”

“Aku tidak berlebihan,” Ucapku membela diri, “Ini supaya kita punya kenangan indah yang dapat kita perlihatkan pada anak cucu kita nanti….”

“Hahaha….”

“Kenapa tertawa?”

“Iya kalau kita terus bersama…. Kalau kita berpisah, bagaimana?”

Aku mengernyit, “Kenapa kau berbicara seperti itu?”

“Ah…. Tidak…. Aku hanya berpikir, kita harus memikirkan segala macam kemungkinan….”

“Kenapa?”

“Karena jalan pikiranku ini bebas….”

Aku mengacak rambutnya. Lebih baik aku menganggap semua ucapannya itu candaan daripada menganggapnya serius, “Jalan pikiranmu itu terlalu bebas….”

Kamipun memulai petualangan kami di kebun binatang ini. Ia pun mau setelah berkali-kali kupaksa.

Yoora

Oppa…. aku bersungguh-sungguh. Bagaimana kalau kita berpisah? Apakah kenangan-kenangan yang kita lalui hari ini, kenangan-kenangan yang kita buat selama 3 tahun ini, kenangan-kenangan saat kita hanyut dalam suka dan duka, apakah masih berarti nantinya? Apakah berkesan indah pada anak cucumu nanti?

Kau punya kehidupan yang lebih panjang lagi oppa…. Sementara aku?

Kau bisa memiliki keturunan dengan gadis lain di masa yang akan datang, sementara aku?

Oppa….

Apakah aku harus melakukan sesuatu untuk membuatmu membenciku, lalu melupakanku?

~***~

3rd memory

Jino

Aku mengunjungi Flower Shop tempat Yoora bekerja. Aku tersenyum ketika melihat Yoora sedang merawat bunga di teras toko bunga itu.

“Ehm….”

“Ya tuan?”

Begitulah Yoora ketika serius. Ia tak akan menoleh barang sedetikpun pada sesuatu yang mengusik keseriusannya. Ia baru akan mengalihkan perhatian kalau apa yang ia kerjakan sudah selesai.

“Apakah ada bunga mawar yang….”

“Sebentar tuan….”

Padahal sudah berkali-kali ia dimarahi atasannya karena sikapnya yang acuh pada pelanggan hanya karena ia terlalu serius merawat tanaman di toko itu. Tapi ia tak pernah jera.

“Adakah bunga mawar putih yang cantik…. Yang sesuai dengan paras seorang gadis bernama Yoora?”

Kali ini usahaku berhasil. Perlahan, Yoora menoleh dan mendongakkan wajahnya.

Oppa?”

Ia berdiri dan memberikan senyum hangatnya untukku.

“Kau itu sudah ditegur berkali-kali, tetap saja seperti itu….”

Ia menggarukkan kepalanya yang aku yakin tidak gatal.

“Dasar….”

Yoora

Aku mengajak Jino-oppa untuk makan siang di cafe dekat toko bunga tempatku bekerja. Kebetulan sekali ia datang pada saat jam istirahat.

“Jadi….” Aku membuka pembicaraan, “Untuk apa oppa kemari?”

Duh…. Apakah untuk bertemu denganmu aku harus buat janji?”

“Bukan…. Bukan begitu….”

Belum sempat aku meneruskan ucapanku, Jino-oppa tersenyum padaku, lalu menarik paksa tanganku. Dan kemudian….

Memakaikan cincin di tangan kiriku.

Ia pun membolak-balikkan tanganku. Matanya begitu berbinar bersamaan dengan senyumnya yang manis.

“Wah…. Cocok…. Cocok….”

Oppa…. Ini….”

Ia bertopang dagu di depanku dan memasang Puppy eyes, “Bagaimana? Kau suka?”

Aku tersenyum, “Suka….”

Ia memperlihatkan tangan kirinya, “Lihat…. Aku juga memakai cincin yang sama dengan milikmu….”

Untuk saat ini, aku sangat senang. Air mataku hampir tak terbendung.

“Oh…. Ayolah…. Jangan menangis terharu, Honey….” Kedua tangannya yang lembut membelai pelan pipiku yang ternyata sudah tumpah, tak terbendung, “Simpan air mata harumu itu saat kita menikah nantinya….”

Aku berubah pikiran.

Oppa…. Kau berlebihan. Kau tak bisa terus seperti ini….

~***~

4th Memory

Jino

Aku melangkahkan kakiku ke teras rumahku untuk memandangi langit malam. Sudah 3 hari ini aku kehilangan kontak dengan Yoora. Aku sudah menghubungi handphone-nya, namun tak aktif. Aku juga sudah mendatangi Flower shop tempat ia bekerja. Tapi, kata pemilik toko, ia sudah mengundurkan diri.

Ada apa ya?

Saat aku mengalihkan pandangan mataku dari langit, aku terkejut melihat apa yang ada di hadapanku.

Yoora….

Bersenda gurau dengan seorang lelaki di dalam mobil, berangkulan!!!

Bahkan ia tak pernah mengijinkanku memeluknya. Ia hanya memperbolehkanku untuk menggenggam tangannya.

Aku memperhatikan dengan seksama siapa lelaki brengsek itu.

Tunggu!!

Aku kenal rambut keriting merah itu. Itu rambut milik….

Chanyeol?!

Sempurna!! Benar-benar sempurna!!

Gadis yang kucintai berkhianat dengan sahabatku sendiri!!

Dengan penuh luapan emosi, aku berjalan cepat menghampiri mobil putih itu.

BRAKKK!!!

Aku memukul bagian depan mobil itu dengan kepalan tanganku.

Dengan terkejut, mereka bergegas keluar dari mobil.

“Pengkhianat!!”

Aku berjalan menghampiri Chanyeol dan memukulinya bertubi-tubi.

Oppa….”

Tak kupedulikan jeritan Yoora.

“Brengsek!!”

“Pengkhianat!!”

“Penjahat!!”

Oppa!!!”

Aku terkejut merasakan dorongan kasar dari Yoora.

“Chanyeol…. Kau tidak apa-apa?”

Chanyeol hanya meringis kesakitan, lalu berdiri dengan bantuan Yoora.

“Yoora…. apa yang membuatmu memilihnya? Lihat saja, dia begitu ringkih… begitu lemah!! Bahkan membalas seranganku pun ia tak bisa!!”

Apa yang terjadi?

Yoora malah menatapku dengan pandangan mata tak suka, lalu memilih untuk pergi.

“Yoora….”

“Kita berakhir sampai sini….”

“A… apa?”

“Jika oppa butuh alasan…. alasannya hanyalah satu : aku sudah tak mencintaimu lagi….”

“Yoo…. Yoora….”

Aku melihat Yoora membopong Chanyeol ke dalam mobil. Ia pun memasuki mobil dan duduk di bangku kemudi.

Perlahan, mobil itu menjauh dari hadapanku.

Aku masih bingung mencerna kejadian yang terlalu cepat ini.

Apakah ini nyata?

Apakah hati wanita memang mudah berubah seperti itu?

Aku tak percaya kalau Yoora seperti itu….

~***~

5th Memory

Yoora

Aku menyusuri lorong rumah sakit yang malam itu memang sepi. Aku menggenggam erat sebungkus obat-obatan yang baru saja kubeli di apotik rumah sakit ini.

Malam-malam seperti ini berkeliaran di puar kamar pasien, membuatku tampak seperti ‘zombie rumah sakit’—wajah pucat, tubuh kurus kering, seragam pasien kebesaran, serta kepala botak karena rambut rontok sehabis di Kemoteraphy– yang tengah kelaparan

Untuk apa beli obat, kalau umurku tak lama lagi?

Ya Tuhan….

Kesadaranku lama-lama memudar. Kepalaku pusing.

Dan tiba-tiba,… semuanya gelap.

~***~

6th Memory

Yoora

Satu-satunya sahabatku yang tahu kalau hidupku tak lama lagi adalah orang pertama yang kulihat setelah aku tertidur cukup lama.

“Akhirnya…. sadar juga….” Ucap Chanyeol sambil tersenyum.

Aku pun bergegas duduk dan menyandarkan punggungku ke dinding rumah sakit.

“Kau yakin, mau begini?”

“Begini bagaimana?”

“Ya begini…. Terus-menerus membohongi diri sendiri….”

“Oh….” Aku memaksakan diri untuk tersenyum, walau pada akhirnya senyumanku hanyalah senyum getir, “Mau bagaimana lagi? Hanya ini cara yang kulakukan, supaya ia tak sedih saat aku pergi meninggalkannya nanti….”

“Kalau aku jadi kau sih…. Aku tak akan melakukan hal bodoh semacam itu….”

Aku mengernyit.

“Sebelum aku meninggal…. Justru aku akan membuat semua orang disekitarku senang. Jadi, saat aku meninggal nanti, yang tertinggal adalah kenangan indah antara kami semua, bukannya kenangan pahit. Aku juga tak mau dianggap penjahat oleh semua orang di sekitarku….”

“Benar juga….” Ucapku pasrah, “Tapi, yang aku takut…. Jino-oppa…. Malah tak bisa menatap masa depan dengan kenangan indah ini….”

Aku melepas cincin di tangan kiriku, lalu menggenggamkannya ke tangan Chanyeol, “Kembalikan ini pada Jino-oppa…. saat aku sudah tiada nanti….”

~***~

7th Memory

Jino

“Wah…. Wah….”

Masih sibuk mengatur nafas setelah berkali-kali melampiaskan amarahku pada benda mati, aku menoleh ke pintu kamarku. Sesosok lelaki bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu.

“Kenapa berantakan begini?”

“Kau tahu lah….” ucapku ketus.

Lelaki itu berjalan menghampiriku. Lelaki yang tak mau ku sebutkan lagi namanya. Sekalipun.

“Hey….”

Ia sudah berjongkok di depanku. Aku membuang muka.

“Masih marah?”

Brengsek!! Ya iya lah!!

“Ini….”

Lelaki itu membuka genggaman tangannya di depanku. Mau tak mau, aku melihat ke arah telapak tangannya yang membuka.

Cincin?

“Apakah kau pernah memberikan cincin ini pada Yoora?”

“Kenapa cincin ini ada padamu?”Aku balik bertanya.

“Berarti benar….” Ucapnya sambil tersenyum padaku, lalu menggenggamkan cincin itu ke tanganku, “Yoora menyuruhku mengembalikan  cincin ini….”

“Kenapa?”

Ia terlihat menghela nafas, “Selama ini, dia sudah menyembunyikan kenyataan darimu. Dia…. terkena kanker otak, sekarang stadium akhir….”

“Bohong….”

“Apa yang pernah ia lakukan denganku,… Semua itu hanya sandiwara. Supaya kau membencinya, supaya saat nanti ia tiada, kau tak akan mengingatnya lagi, dan terus membencinya…. Sehingga kau bisa menjalani masa depanmu tanpa terpuruk memikirkannya lagi….”

“Tidak mungkin….”

“Cepat ke rumah sakit sekarang….”

Aku bergegas bangkit dan berlari menuju rumah sakit, berhubung mobilku sedang diperbaiki.

Yoora-ku…. Yoora-ku…..

Yoora

Kini aku berbaring di ruang operasi. Entah apa yang akan mereka lakukan padaku saat ini.

Aku sudah putus asa.

Melihat lampu ruang  operasi yang berada tepat di atas kepalaku membuatku berpikir….

Apakah hari esok masih bisa kujalani?

Sinar matahari yang cerah, apakah aku masih bisa menyipitkan mata karena silaunya?

Angin yang berhembus  pelan, masihkah kulit ini merasakannya?

Dan…

Jino-oppa yang paling kukasihi, masihkah aku memeluk erat tubuhnya?

Tapi, sepertinya…. Sudah tidak lagi….

Saat Dokter memasangkan alat bantu pernafasan padaku, aku memejamkan mata.

Oppa….

Andai saja hidupku bisa lebih lama lagi…. Hanya satu hal yang ingin kulakukan untukmu….

Aku mencintaimu Oppa…. Sampai kapanpun…. Yang kucintai hanya kau….

~***~

Haru-haru

Jino

Hari demi hari berlalu begitu saja semenjak kepergian Yoora.

Aku pergi ke apartemennya untuk membereskan barang-barangnya. Barangkali ada barang yang menjadi kenangan kami, akan ku bawa pulang ke rumahku.

Saat aku memasuki kamarnya, perhatianku tertuju ke jendala kamarnya.

Aku membuka gorden besarnya. Akupun menyipitkan mata saat sinar mentari menyilaukan pandangan mataku.

Setelah jendela besar ini kubuka lebar, udara segar mulai masuk dan memenuhi kamar ini untuk mengganti udara yang pengap di dalam sini.

Sebegitu putus-asakah kau Yoora, hingga kau tak peduli pada dirimu sendiri?

Aku merapikan kamarnya yang….

Sedikit tercium bau darah kering. Aku melipat selimut putihnya yang tebal. Di bawahnya terdapat noda darah yang cukup banyak. Mungkin darah itu adalah darah Yoora ketika ia muntah.

Kenapa kau tak mau membagi penderitaanmu denganku? Kenapa kau memendamnya sendiri?

Setelah selesai membereskan kasurnya, aku membereskan meja belajarnya.

Di atasnya terdapat buku harian berwarna merah maroon.

Aku ingat, dia suka menulis.

Aku membuka lembaran demi lembaran buku harian itu. Dari situ aku memahami sesuatu hal.

Ia divonis kanker otak stadium lanjut oleh dokter sejak 5 bulan lalu.

Dari halaman tengah diary itu berisikan seluruh curahan hatinya yang bersikukuh untuk ingin tetap hidup, walau di akhir kata selalu tersirat keputus-asaan yang mendalam.

Dan berkali-kali ia tuliskan, kalau ia tak mau aku tahu dia sakit. Yang ia inginkan di sisa hidupnya hanyalah : ‘melihat senyum di wajahku’. Ia tak mau merusak itu dengan memberitahukan penyakitnya padaku.

Dasar bodoh.

Saat kubuka halaman terakhir….

Love Letter

Jino-oppa….

Kau tahu aku orang yang pemalu ‘kan? Haha…. Aku jadi malu sendiri ketika harus mengakui kalau aku adalah orang yang pemalu.

Oppa…. Ingat tidak, bagaimana kita bertemu pertama kali?

Aku yang pemalu, tak sengaja menemukan dompetmu yang terjatuh di jalan…. Dan ketika aku berniat mengembalikannya, kau sudah berdiri di depanku, dan membentakku secara kasar,

“Kau mau mencuri dompetku, ya?”

Bukan hanya itu. Setelah kejadian itu, kita malah sering bertemu. Kau pindah ke sekolahku, dan duduk di kelas yang sama denganku, dan duduk sebangku denganku!!

Saat itu aku berpikir, mungkin kita jodoh ya?

Haha…. aku malu mengakuinya…. Bahwa, sejujurnya, aku mencintaimu sejak awal bertemu.

Apalagi saat oppa menyatakan cinta padaku, tepat saat mid semester—aku sendiri tak tahu apa hubungannya menyatakan cinta dan mid semester, mungkin soal waktu—aku merasa sangat senang, dan berkali-kali berteriak dalam hati, “Kita memang jodoh!!!”

Setelahnya, kenangan indah, kenangan saat suka dan duka di antara kita mengalir begitu saja, dan begitu meyakinkan aku tentang tali perjodohan di antara kita (aku sangat sadar oppa, kalau aku berpikir terlalu dewasa di umurku yang saat itu masih 17 tahun).

Namun, setelah 5 bulan terakhir ini, aku tidak berpikir seperti itu.

Aku harus menghadapi sebuah penyakit yang,… Yah…. Bagaimana ya bilangnya?

Singkatnya orang bilang, ini penyakit yang parah.

Kanker otak stadium akhir.

Aku sendiri tak terlalu mengerti kenapa ini terjadi padaku. Kenapa ini terjadi begitu saja.

Di saat aku senang sekali menjalani hidup dengan segala warnanya, kenapa aku harus pergi?

Mungkin ini hukuman dari Tuhan untukku, karena sebelum bertemu oppa, aku adalah orang yang tak memiliki warna dalam hidup. Berkali-kali aku minta pada Tuhan supaya Tuhan mengambil nyawaku lebih cepat.

Dan itu membuat setiap detik yang terjadi, hanya membuatku tegang.

Akankah aku mati sekarang? Akankah aku mati sekarang?

Tapi, aku terus-menerus meyakinkan hati bahwa aku bisa melewatinya dengan baik. Walaupun tak bisa hidup secara utuh, setidaknya aku bisa memperpanjang umurku sedikit lebih lama dari perkiraan ilmu kedokteran.

Kau yang sudah memberiku semangat oppa…. Kau….

Aku bisa hidup lebih lama 2 bulan (hanya 2 bulan saja, tapi aku puas) karena melihat senyummu yang sangat manis. Di saat aku putus asa dan ingin sekali mati saat itu juga karena rasa sakit yang menyerang kepalaku ini, senyummu yang juga ada di benakku selalu berhasil membuatku semangat, walaupun hanya sekilas.

Jauh di dalam hati ini, aku tak pernah ingin kehilangan senyummu oppa…. Tak pernah ingin….

Tapi…. Mungkin…. Saat kau membaca surat ini, aku sudah tak ada ya?

Itu yang ku inginkan, maksudku….

Bagaimana mungkin kau membaca surat perpisahan semacam ini, sementara penulisnya masih hidup?

Saat kau menemukan buku ini…. Aku ingin, oppa membuka lembaran hidup baru bagi oppa…. Aku ingin, Oppa hidup dengan bahagia.

Saat oppa putus asa, ingatlah…. Oppa adalah orang beruntung yang masih bisa merasakan indahnya kehidupan…. Banyak sekali orang yang tak bisa merasakan kehidupan, termasuk aku.

Oppa…. Terima kasih, sudah mau menjadi bagian terpenting dalam hidup seorang Yoora, walau hanya sesaat.

Pada dasarnya sih, Yoora tak pernah punya seseorang yang dekat dengan Yoora, saking pemalunya dia. Tapi…. Oppa datang membawa sejuta cinta yang terindah…. termasuk sahabat terbaik, Chanyeol.

Sekali lagi…. Oppa harus senang karena berhasil memberikan banyak warna bagi seorang pendiam seperti Yoora. Aku yakin, dengan hati baik yang oppa miliki, akan banyak sekali orang yang tersenyum senang karena warna yang oppa berikan.

Fighting Oppa…. ^^

 

Halaman terakhir buku itu dipenuhi bercak darah, dan beberapa bekas tetesan air mata. Kulihat tanggal penulisan surat itu.

Tanggal hari kematian Yoora. Pantas saja tulisannya jelek. Ia mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya hanya untuk menulis surat untukku.

Aku menutup buku harian itu dan mendekapnya erat. Air mataku mengalir deras. Dan kurasakan aku kesulitan bernafas dan jantungku berdetak kencang.

Yoora….

 

 

 

14 thoughts on “[Ficlet] Haru-haru

  1. Keren. Aku baca ff ini sambil mutar lagu haru-haru dan feel ny dpt bgt. Kasian Jino (˘̩̩̩╭╮˘̩̩̩)
    Walaupun ga sedetil yg di mv haru-haru tp ini keren. Mungkin kalau Chanyeol diganti sm Tao / Kris / Baekhyun feelnya makin dpt ._.v
    Nice ff ^^

  2. little typo :
    – berangkulan!!! — kata ini sebenernya kurang baku unn, jadi sedikit kurang pas. ‘pria itu memeluk yoora’ semacam itu lebih pas, supaya deskripsinya juga lebih dimengerti.
    – yang bagian jino mengenali si pria itu chanyeol terlalu sering di enter, jadi penjelasan untuk setiap kalimatnya sedikit kurang.
    – deskripsi ceritanya kurang, lebih banyak di dialognya, tapi masih keren kok unn😀
    – “Apa yang pernah ia lakukan denganku,… ; Aku harus menghadapi sebuah penyakit yang,… — setelah ‘,’ tidak boleh ada tanda ‘.’

    ulalala😀 ternyata segera diluncurkan ff nya!
    keren unn! sebenernya ff apapun yang ngambil haru haru jadi based story nya pasti keren.-. serius-an😀

    1. Wah…. typo-ku menurun ya?😄 makasih saeng yah… udah benerin typo-ku trus😄

      kalo soal deskripsi yang kurang.. maaf yah… emang aku buatnya sambil ngerjain tugas sih -_-

      iya saeng…. setuju banget.. selalu keren :3

  3. ceritanya bagussss saeng~
    pasti nyesek bgt pas liat sang kekasih malah berangkulan sama lelaki laen yg notabene sahabat sndiri, tapi lbh nyesek lagi tau plg ahir klo si kekasih itu sakit..

  4. Unnie! Bagus! Sangat bagus!
    Kasian Jinonya T^T
    Setuju sama saran typonya Nana unnie
    Eumm.. Boleh nambahin kan? Tapi cuman berdasarkan pengetahuan sempitku😀

    ‘”Aku tidak berlebihan,” Ucapku membela diri, “Ini supaya kita punya kenangan indah yang dapat kita perlihatkan pada anak cucu kita nanti….”’
    Nah.. ketika dialog berakhir, dan unnie mau kasih pemjelasan tambahan, memang menggunakan tanda ‘,’ tapi setelah itu pake huruf kecil (“Aku tidak berlebihan,” ucapku membela diri)
    Dan setelah itu, jangan dikasih koma lagi. (… ucapku membela diri. “Ini supaya …) Seperti itu aja unn.

    Hehe
    Itu aja dulu un, tetap berkarya yaa😀

  5. huaaaa😥, sedih bgt crtany thor.
    salt deh sm author2 yg bisa bikin crta mnrik n d bagi k smua org.
    pengen jg kyk gitu, tp sygny ga bisa

    ok ff selanjutny n seterusny ttp d tguin.
    fighting thor.
    hehe

  6. Hikz hikz hikz…!! Kasihan banget yoora..!! Pergi dg cepatnya padahal ada orang yg menyayangi dan Masih membutuhkan nya .. Huuuhh.. Jadi ikutan nangis.😥

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s