FINAL DESTINATION (sequel of COACH NANA)


(sequel of)

FINAL DESTINATION

Author : Sasphire

Main Cast : 

  • Park Min Young as Coach Nana
  • Choi Minho Shinee as Himself

Support Cast :

  • All Member Shinee as Junior Member of Badminton Club
  • All member EXO-K as Junior Member of Badminton Club
  • Donghae SJ, Leeteuk SJ, Yesung SJ, as Senior member of Badminton Club
  • Mr. Park as Coach Nana’s Father
  • other character as Rival

Ratting : General

Genre : Sport (?), Friendship, AU

Length : Oneshoot (4608 words)

Contact : FBTwitter | Wallpaper Gallery

 

DISCUSSION

“aku tak menyangka kalian bisa sampai sejauh ini….” Ucap coach Nana saat melihat ke-7 muridnya turun dari bus, sepulang dari semifinal interhigh. “besok kalian akan bertanding di final kan? Melawan SMU dari wilayah Gangnam, yang selalu menjadi juara bertahan interhigh selama 8 tahun terakhir…”

“ya… tapi kali ini kami akan merebut gelar juara itu!!” ucap Minho penuh percaya diri. “ya kan?”

“ya!!” jawab teman-temannya.

Nana tersenyum. “tapi aku juga tak menyangka, Kim Joon Myun yang kabur dari awal latihan ternyata bisa mengimbangi ChanYeol sebagai pasangan gandanya….”

“Ah… Coach bisa saja…” Suho tersipu.

“walau kau sering miss…..” lanjut Nana, membuat semua teman Suho tertawa.

“tapi di final.. aku akan memperbaiki tehnik permainanku, coach…” ucap Suho menahan malu.

“hmph…” Nana mengacak-ngacak rambut Suho yang sedang duduk. “kupegang janjimu ya…”

Suho hanya mengangguk sambil tersenyum.

“baiklah… ayo ke ruang latihan. Kita bahas strategi yang kita gunakan untuk besok. Bagaimanapun, mereka rival yang kuat…”

~***~

Di ruang latihan…

“seperti kemarin… pertandingan pertama, ketiga, dan kelima adalah tunggal putra, sementara itu pertandingan kedua dan keempat adalah ganda.. jadi,… yang maju pertama tunggal…” Ucap Nana dengan nada menggantung. Ia sangat menikmati ekspresi penasaran dari wajah murid-muridnya itu. “Lee Jin Ki?”

Onew terkejut. “tapi, untuk tunggal putra, yang maju pertama biasanya JongHyun. Kenapa kali ini aku?”

“ada yang bisa menjawab pertanyaan bagus ini?” ucap Nana. Ia melihat muridnya yang saling bertatapan.

Nana menghela nafas. “begini… lawan kita untuk tunggal yang pertama, kalau tidak salah, namanya Kim Jun Su… dia itu kelebihannya di smash…”

“berarti kan dia imbang dengan Jong Hyun?” Onew memotong.

“aku belum selesai bicara…” Nana melanjutkan perkataannya. “kalau smash lawan smash… malah sulit di tentukan mana yang akan menang nantinya… karena sama-sama kuat. Beda kalau smash lawan bola lob…”

“tapi… bukannya peluang kemenangan smash jika ditandingkan dengan bola lob akan lebih besar smash?”

“aku tahu kemampuanmu… aku yakin kau bisa menang dari Jun Su…  yah, tapi kalau kau sendiri tak yakin, ya tak menang…. Aku yakin kau bisa….” Nana tersenyum pada Onew. Onew hanya mengangguk, masih ragu.

“untuk pertandingan kedua… permainan ganda….” Nana membuka buku sakunya yang selalu berisi daftar klasifikasi rival yang akan dihadapi rivalnya, yang ia dapatkan dari berbagai sumber. “namanya… Kim Soo Hyun dan Taecyeon…” ia lalu memandangi satu-persatu muridnya. “mereka bermain cepat, sama sepertiku dan ChanYeol… berarti… siapa lawannya?” ia memberikan tebakan itu pada muridnya, barangkali ada yang sudah bisa memahami maksudnya.

“Uhm…” ucap BaekHyun. “kami?” ia menunjuk dirinya sendiri dan Kai yang duduk disampingnya secara bergantian.

Nana tersenyum bangga. “ya… benar sekali…. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

“mungkin Coach Nana ingin memberikan kami rival yang bertolak belakang dengan kami, untuk mengasah kemampuan kami?”

Nana terlihat berpikir. “mungkin… begitu…”

“oh… atau mungkin…” ucap Kai. “anda ingin membuat rival kami merasa kesal dan kewalahan karena rivalnya sangat tidak bisa ditebak jalan permainannya?”

Nana hanya mengangkat alis sebelahnya, dan tersenyum.

“apa maksudmu?” tanya JongHyun.

“begini… tadi… lawan dari Onew kan pintar smash, sementara Onew sendiri nggak terlalu mahir smash… tapi kalau Onew udah capek, biasanya kan pengin cepat-cepat mengakhiri pertandingan, makanya di akhir pertandingan Onew biasanya main smash yang ancur, tapi sukses buat lawan jadi bingung karena arahnya yang nggak nentu….”

Kai menghela nafas sejenak, “trus, untuk lawan kami… mereka bermain cepat, sama seperti ChanYeol dan Suho… bisa ditebak mereka suka menyerang dengan smash secara bergantian. Tapi, aku dan BaekHyun meresponsnya bukan dengan tangkisan cepat, tapi, biasanya menangkis pelan bola itu, memancing mereka untuk adu netting dengan kami. Yang jago smash biasanya lemah di netting….”

“begitukah, Coach?” tanya Kai. Pandangan matanya kembali tertuju pada Coach Nana. Nana hanya mengangguk sambil tersenyum.

“untuk tunggal kedua… sekaligus pertandingan ketiga…” Nana kembali membuka buku sakunya. “dia Woo Young… ada yang pernah dengar nama itu?”

Sekali lagi, murid-muridnya hanya bertatapan. Nana jengkel.

“itu loh… yang menang bulutangkis terbuka SMA tingkat Nasional tahun lalu… masa’ nggak ada yang pernah denger?”

Mereka menggeleng pelan. Nana menghela nafas. “memangnya, waktu itu, kalian nggak ikut turnamen itu?”

“itu bagiannya Senior. Saat itu kami masih Junior 1 daun…” jawab Onew.

“oh…” Nana kembali membuka buku sakunya. “untuk ganda kedua….”

“loh.. trus… yang main di tunggal kedua siapa?” tanya JongHyun.

“oiya….” Ucap Nana santai. “kau saja….”

“hah? Kenapa?” tanya JongHyun.

“dia bisa semua tehnik bulutangkis. Kau juga bisa, tapi lebih menguasai smash. Hajar saja dia dengan smash-mu itu…” ucap Nana enteng.

“tapi…”

“pasti bisa…” ucap Nana. JongHyun diam dan mengangguk.

“untuk ganda… sudah pasti lawannya ChanYeol dan Suho kan?”

Mereka berdua mengangguk.

“namanya sih… Seung Ho dan Seung Gi….”

“oh… kembar…” gumam Suho.

“aku kurang informasi tentang mereka. Nanti coba kucarikan lagi.. kalian latihan lebih keras saja.. yah?”

“ya!!” jawab ChanYeol dan Suho dengan semangat.

“dan yang terakhir… lawan dari Minho… namanya No Min Woo… sedikit keberuntungan bagimu… dia tidak terlalu menguasai netting….”

Nana menatap Minho yang duduk disampingnya. Minho menumpukan kepalanya di tangan kanannya. Pandangan matanya tertuju pada Nana, melamun sambil tersenyum.

“hei…” ucap Nana. Minho tak bergeming. Teman-temannya tersenyum menahan tawa.

“dia kenapa?” tanya Nana pada murid-muridnya. Mereka hanya menggeleng sambil terus menahan tawa.

“Minho!!” ucap Nana sedikit kasar, membuat Minho tersadar.

“apa?”

Nana menghela nafas. “nanti aku beritahu lagi.”

Nana berdiri, dan berkata, “baiklah.. strateginya seperti yang aku jelaskan tadi. Silahkan latihan dengan baik hari ini. Tapi jangan berlebihan hingga membuat kalian lelah. Istirahat cukup.”

“baik, Coach!!” ucap mereka serempak. Saat Minho melangkah bersama dengan Onew dan JongHyun…

“ikut aku sebentar,” ucap Nana sambil mengenggam tangan Minho. Ia terdiam. Sementara Onew dan JongHyun hanya memandanginya penuh arti.

“Good luck, Bro!!” ucap JongHyun dan Onew.

Minho menoleh ke arah mereka, melintangkan jari telunjuk kirinya ke bibirnya. Ia pun mengikuti langkah Nana.

~***~

SAY ABOUT LOVE

“kau memikirkan apa saat aku menjelaskan padamu tadi?” ucap Nana yang menegur Minho, berada di halaman belakang sekolah.

“tidak Coach. Tidak ada…” ucap Minho dengan ekspresi datar.

“benarkah?” ucap Nana. “baiklah, pertanyaan kuganti. Apa yang membuatmu melamun tadi? Punya masalah?”

Minho hanya menggeleng. Nana mendesah.

“besok final,… konsentrasilah pada hal itu…”

“ya…”

“Tuan Putri…” LeeTeuk berlari secepat mungkin kehadapan Nana. “lihat, aku berhasil menjadi juara turnamen Nasional tunggal putra!! Aku juga berhasil membawa hadiah uang yang banyak!! US $500.000… aku akan menjadi kaya… lalu membangun istana yang megah untuk tuan putri….”

“begitukah?” potong Nana. “sebelum itu, jangan lupa kembalikan utang ayahku dulu ya…”

“eh???” LeeTeuk kaget dengan pernyataan itu.

“hey.. LeeTeuk!! Ayo bantu kami melatih junior 3 daun untuk final interhigh!!” teriak KyuHyun.

LeeTeuk menatap sekilas Nana, lalu pergi.

“Tuan Putri?” tanya Minho.

“ya… dia murid asuhan ayahku… dia berlatih di club bulutangkis yang didirikan ayah sejak dia masih SD kelas 4 sampai sekarang. Dia menganggapku tuan putri karena aku anak kandung pemilik club bulutangkis tempatnya berlatih. Hanya itu.”

“tapi.. dari gelagatnya.. dia cinta sama Coach…” ucap Minho.

“masa’ sih?” Nana cuek.

“dilihat sekilas sudah jelas kalo dia cinta sama Coach…”

“nggak tahu sih.. kalo dia nggak bilang secara langsung, mana aku tahu dia suka sama aku atau nggak…”

“aku cinta Park Nana…” ucap Minho lirih, namun masih terdengar jelas oleh Nana. Nana menatapnya. Ia menatap mata Mino dengan tajam. Ya, ada pancaran cinta yang berbinar kuat didalamnya.

“iya juga ya… kalau nggak bilang secara langsung.. mana mungkin bisa tahu… suka atau nggak…” ucap Minho mengalihkan pembicaraan. “kok bodoh banget sih kamu… pake ngomong secara langsung, tanpa mikir kayak gini??” batin Minho.

“aku juga…” ucap Nana perlahan. “cinta Choi Min Ho….”

“hah?? Dia bilang apa??” tanya Minho dalam hati. Perlahan, Nana berjalan menghampirinya. Memegang pundak Minho, dan menjinjit, berusaha menggapai telinga Minho yang terlalu tinggi baginya.

“besok jangan sampai kalah, ya?” bisik Nana. Minho hanya mengangguk. Nana berdiri biasa, lalu menatap mata Minho sekali lagi. Minho pun begitu. Ia merasa, tatapan mata penuh cintanya dibalas dengan hangat oleh pelatihnya itu. Nana membalikkan badan, dan melangkahkan kaki menuju halaman depan sekolah untuk mengambil mobilnya yang ia parkir, untuk bergegas pulang.

“siapa sangka, perasaanku sama dengan perasaannya?” batin Nana sambil tersenyum. “yah… 3 bulan berlalu…. Tak menyangka ini terjadi….”

Sementara Minho masih diam mematung ditempatnya, tak menyangka bahwa pelatih yang ia sukai selama ini juga menyukainya. “aku pasti menang, Coach… akan kuberikan kemenangan ini untukmu…”

~***~

1st BATTLE ::: KIM JUN SU VS LEE JIN KI

“semuanya sudah siap?” Nana menghampiri murid-muridnya yang sudah berkumpul di tepi lapangan.

“ya… doakan kami Coach…” ucap Onew.

“tanpa disuruh juga sudah kudoakan…” Nana tersenyum.

“Lee Jin Ki vs Kim Jun Su,” ucap wasit gundul berkacamata yang memimpin pertandingan pertama hari itu.

“semangat!!!” teman-temannya berteriak, bahkan kakak-kakak senior mereka sengaja datang untuk mendukung junior mereka.

Lee Jin ki menghela nafas dalam. Ia mengambil sikap awal untuk menerima serves dari Junsu.

Ya, sesuai intruksi dari Nana, ia bermain dengan sangat santai. Smash keras maupun smash yang —tujuannya— hanya mengecoh lawan berhasil ia tangkis dengan mudah, walaupun terkadang terjadi sedikit kesalahan. Entah tangkisannya tersangkut net, atau bola yang ia kembalikan out.

Skor babak pertama : Kim Jun Su vs Lee Jin Ki >> 21 : 19

“kau masih belum yakin kalau bisa menang?” tanya Nana, duduk di samping Onew saat istirahat.

Onew mengangguk.

Nana hanya menggigit bibir. Lalu berkata, “ya sudah, tak apa…”

“maaf.. aku sudah mengecewakan….”

“meski kalah, kau harus bisa kalah dengan terhormat,” potong Nana.

“apa?” Onew tak mengerti.

“ya. Supaya orang lain tidak menganggapmu remeh. Setidaknya, buat permainan jadi 3 set, atau mungkin dengan jus point.”

Onew menunduk.

“aku yakin kau bisa. Tak perlu meraih target tertinggi. Hanya dengan itu saja, tidak apa-apa…”

Onew mengangguk. Babak kedua dimulai. Onew melangkahkan kaki menuju lapangan.

“semoga bisa…. Tolong dia, Tuhan…” ucap Nana dalam hati.

Serves dari Kim Jun Su. Ya. Serves cepat yang ia gunakan saat ini. Onew membalasnya pelan. Dengan cepat, Junsu meresponsnya dengan smash ke bagian kosong Onew, sebelah kiri. Onew membalasnya dengan backhand smash. Mengenai lutut Junsu.

“service over, 1-0,” ucap wasit. Ya. Giliran Onew.

“kalian lihat tadi?” ucap Kai. “dia kan nggak bisa backhand smash?? Kok tadi bisa??”

Baekhyun hanya menggeleng. Ia hanya sibuk merasakan sakit di lututnya. Sejak semifinal, cedera di lututnya kambuh. Nana memperhatikan BaekHyun. Ia melihat lututnya. Sedikit bengkak.

Pertandingan terus berlanjut. Pada saat Junsu lebih unggul 20-17, Onew sangat kelelahan. Ia menyeka keringatnya.

Saat Junsu serves, Onew menerimanya dengan cepat. Ia memainkan permainan cepat. Membuahkan hasil. Skor : 18-20.

“service over, 18-20.” Ucap wasit itu. Onew melakukan serves pendek, ia arahkan pada net supaya Junsu kesulitan mengambil bola. Junsu memang berhasil mengembalikan bola, namun karena arah bola ke atas dan mudah di jangkau oleh Onew, maka Onew melakukan smash ke wilayah kosong milik Junsu. Masuk. Skor : 19-20.

Nana menggenggam erat kedua tangannya. Ia menggigit bibir. Semua yang ada di situ tampak tegang.

Onew melakukan serves. Entah karena kelelahan atau karena apa, Onew melakukan kesalahan saat serves. Shuttlecock mengenai net. Games berakhir. Skor : 19-21.

Junsu tersenyum penuh kemenangan, sambil tersenyum sedikit mengejek pada Onew, seolah berkata, ‘lihat? Usahamu sia-sia…’. Onew hanya membalas senyumannya. Lalu mereka bersalaman dan berpelukan.

Onew melangkah menghampiri teman-temannya. Mengambil air minum. Lalu mengambil handuk dan menyeka keringat yang bercucuran hampir di seluruh tubuhnya.

“Maaf Coach…”

Nana hanya menepuk-nepuk pundak Onew yang kini duduk di samping kirinya. “it’s ok….”

~***~

2nd  BATTLE ::: KIM SOO HYUN & TAECYEON vs BAEKHYUN & KAI

Setelah pemanasan, Baekhyun dan Kai mengambil posisi mereka. Kai bersiap untuk melakukan serves pendeknya. Mereka pun menikmati permainan. Di kubu BaekHyun dan Kai, mereka terlalu santai.

Bukan karena meremehkan. Tapi ada satu masalah yang membuat mereka harus santai dan tidak “bekerja keras”.

Keduanya cedera. Baekhyun cedera di lutut kanan. Kai sama. Dia mengalami cedera di engsel pergelangan kaki kiri.

Apalagi, sebelum mereka bertanding, Nana sudah member mereka pengarahan, “kaki kalian cedera. Sepertinya agak parah. Maka dari itu, bermainlah biasa saja, jangan terlalu ngotot. Tapi tampilkan yang terbaik.”

Skor babak pertama : 21-17. SMU Gangnam lebih unggul.

Mereka bersiap untuk bertukar tempat tanding. Lapangan di pel oleh petugas, karena lapangan itu sudah dipenuhi oleh keringat yang berjatuhan.

“Coach…” ucap BaekHyun. “maaf… kalo…”

“tak apa. Kalian sudah memberikan yang terbaik.” Nana tersenyum bangga. Lalu menatap JongHyun. “kalau kamu kalah, kita semua beneran kalah…”

JongHyun tersenyum. “iya…. Aku sudah pasti menang…”

Babak kedua dimulai. Tentu saja, Kubu Taecyeon dapat menang dengan mudah. Mereka mengetahui cedera yang dialami BaekHyun dan Kai, hingga mereka terus-terusan melakukan serangan yang membuat BaekHyun dan Kai kewalahan. Skor : 21-18.

~***~

3rd BATTLE ::: WOO YOUNG vs KIM JONG HYUN

JongHyun telah memasuki lapangan. Ia  sudah bermain bulutangkis dibuka dengan serves dari WooYoung.

“benar kata Coach Nana…” gumamnya sambil menangkis bola demi bola. “dia memang menguasai semua tehnik, tapi tidak terlalu mahir dalam menangkis smash.”

“Coach… maaf…” ucap Onew lagi.

“kenapa? Kan aku sudah bilang, nggak pa-pa….”

“tapi….”

Nana tersenyum. Lalu mengumpulkan Onew, BaekHyun dan Kai untuk duduk didepannya. “meski kalian kalah… aku tetap bangga pada kalian. Aku yakin, sekolah juga akan bangga pada kalian…”

“kenapa begitu?” tanya Kai.

“kalian tidak dalam kondisi fit kan, hari ini?” Nana menghela nafas. “BaekHyun cedera lutut, Kai cedera di pergelangan kaki kanan. Sementara Onew…”

Nana menatap Onew. “hari ini kamu demam ‘kan?”

Onew terkejut. “kok bisa tahu?” gumamnya.

“tadi ibu kamu telfon, dan menjelaskan semuanya….” Ucap Nana, seolah bisa mendengar gumaman Onew. “tak apa. Dalam keadaan demam kau bisa menahan skor hingga 21-19 di kedua babak, itu sudah baik….”

Onew, BaekHyun dan Kai bertatapan, lalu tersenyum.

“yah… karena kalian dalam kondisi tidak fit, kalian masih bisa membanggakan sekolah, apalagi hasilnya sudah memuaskan. Sekarang tinggal menunggu hasil dari teman-teman kalian yang sehat. Untuk JongHyun….”

“game point, 21-15.” Ucap wasit. Nana termenung. Ia melihat di tribun khusus pendukung SMU-nya, seluruh penonton berteriak kegirangan. Lalu, ia mengalihkan pandangan matanya menuju papan skor.

“loh… tadi…??”

“iya… yang menang JongHyun…” ucap MinHo sambil meminum air putihnya. “tuh anak hebat banget… bisa menyelesaikan babak pertama hanya 15 menit.”

Nana terbelalak. “15 menit??!!”

MinHo mengangguk.

3 menit kemudian, babak kedua dimulai. JongHyun memulai serves, dan memainkan game yang berbeda.

Jika di babak pertama ia terus-terusan menggempur lawan dengan smash, kini dia bermain dengan memainkan permainan yang sulit dimengerti lawannya. Dan itu membuatnya sukses memenangkan pertandingan. Skor babak kedua : 21-13.

“hebat Bro….” MinHo merangkul sahabatnya itu. “nggak nyangka kamu bisa ngalahin WooYoung, si juara nasional itu… Wooa… hebat deh pokoknya… padahal dulu kamu nggak pernah menang… sekarang, sekalinya menang waktu lawan juara nasional kayak gitu….”

JongHyun hanya tersenyum, sambil membatin, “Minho… jadi nggak tahu itu tadi pujian apa celaan….”

Nana melihat tingkah Minho membatin, “kaya’ yang kamu selalu menang aja….”

~***~

4th BATTLE ::: SEUNG HO & SEUNG GI vs CHANYEOL & SUHO

Mereka bersiap menerima serves dari Seung Gi ke arah Suho. Sesuai perjanjian antara ChanYeol dan Suho, mereka akan menggempur lawan dengan smash, sama seperti JongHyun, hanya saja smash-nya lebih kasar.

Dan sebelum mereka bertanding, Nana memberi pengarahan, “aku tidak mendapat informasi banyak tentang mereka, karena mereka atlit baru di kalangan SMU. Mereka baru memulai karir di event ini. Jadi kalian tidak usah khawatir. Mereka juga sering kalah di babak penyisihan. Pada semifinal, mereka bisa menang karena kebetulan lawannya juga pemula, sama seperti mereka. Ibaratkan di sekolah kita, mereka masih Junior 1 daun. Usahakan yang terbaik, tapi jangan lengah….”

Ya, seperti yang diperkirakan. Mereka bisa menang dengan mudah. Babak pertama, skor : 21-13.

Saat istirahat, mereka menaburkan bedak pada telapak tangan mereka yang berkeringat. ChanYeol mengganti raketnya dengan raket cadangan karena senarnya putus, karena terlalu semangat menggempur pemula yang jadi lawannya.

Dan, babak kedua dimulai. Sekali lagi, mereka menggunakan permainan cepat mengandalkan smash mereka.

“game point, 21-10.”

“yeahh!!!” ChanYeol dan Suho berteriak penuh kemenangan, lalu berpelukan satu sama lain.

~***~

LAST BATTLE ::: NO MIN WOO vs CHOI MIN HO

SMA Gangnam kini mulai khawatir. Mereka melihat Minho yang masih terlihat segar bugar merasa ciut.

“harapan kami tinggal kamu…” ucap pelatih berkumis itu pada Min Wo.

“aku tahu…”

“ternyata.. mereka tak bisa diremehkan…” bisik asisten pelatih kepada pelatihnya. Lelaki yang mengenakan topi hitam itu hanya mengangguk.

“aku tak yakin Min Woo menang….” Batinnya.

Permainan dimulai oleh serves dari Min Woo. Dengan santai, Minho memaksa lawannya untuk bermain netting. Ia terus-terusan mengarahkan shuttlecock ke net. Sekalipun ia smash, ia arahkan cock kea rah net, tanpa takut bola tidak sampai ke daerah lawan. Ia melakukannya dengan penuh percaya diri tanpa ragu.

Pelatih di kubu Min Woo berusaha menenangkan diri dengan berdoa, tapi tak bisa. Ia tak berkonsentrasi dengan doanya saat mendengar riuh rendah suara pendukung SMU lawannya. Saat Minho berhasil mencetak angka baru.

“bantu kami mempertahankan ju….”

“Wooooo!!!!!!!!” suara penonton terdengar lagi.

“game point, 21-13…..”

Minho menyeka keringatnya. Ia melihat Nana yang terus menatapnya khawatir.

“Nana takut cedera punggungku kambuh?” ucap Minho manja, membuat pipi Nana memerah.

“loh?? Emang mereka udah pacaran?” bisik Kai pada Onew.

Onew tersenyum, lalu membalas bisikan Kai, “nggak tahu… mungkin udah…”

“Oh….” Kai tersenyum.

“cuit.. cuit…” ucap Suho karena ia tak bisa bersiul.

“siapa yang khawatir?” Nana berusaha menutupi rasa malunya, namun tak berhasil.

“aku nggak akan cedera untuk hari ini, tenang aja…”

Nana hanya menjawab pernyataannya dengan anggukan.

Minho kembali ke lapangan. Memulai babak kedua dengan serves darinya. Beberapa waktu berlalu. Nana memejamkan matanya, takut cedera punggung yang dimiliki Minho kambuh tiba-tiba. Ia memang tidak pernah melihat bagaimana ekspresi Minho saat punggungnya cedera, tapi ia merasa takut melihatnya.

“game over, 21-16.”

“WAAAAA!!!!” Spontan, penonton yang ada di tribun kanan berdiri kegirangan menyambut kemenangan Minho, yang berarti kemenangan SMA mereka. Skor akhir : 3-2. Dengan itu, piala interhigh resmi pindah tangan ke SMA mereka.

Minho berlari keluar lapangan, memeluk Nana erat. “kami menang… kami menang…” bisiknya.

“ya….” Nana menangis terharu.

“sebenernya pengen pelukan lagi sama Coach Nana, kaya’ waktu dulu di hari terakhir pelatihan neraka itu….” Ucap BaekHyun.

“tapi dia udah punya Minho…” Onew melanjutkan.

“jadi kita nggak boleh….” Ucap ChanYeol.

“pelukan sendiri yok…” Kai berkata.

“ayok…” jawab JongHyun. Mereka pun berpelukan. Suho yang tak tahu apa-apa tentang pelatihan neraka hanya terdiam. Lalu ikut berpelukan dengan Onew dkk untuk merayakan kemenangan mereka.

Tiba-tiba, LeeTeuk menghampiri Minho dan Nana.

“Hyung…” panggil Minho.

“ku pasrahkan….” Ucap Lee Teuk. “kupasrahkan Tuan Putri padamu…” ia berkata sambil menunjuk Minho. Lalu pergi berlalu. Langkahnya gontai, karena ia patah hati.

“ini yang terbaik untuk Tuan Putri.. yaitu bersama Pangeran Cintanya….” Batinnya. Ya, dia bisa berkata seperti itu karena secara tak sengaja ia mendengarkan percakapan antara Minho dan Nana di belakang halaman sekolah.

“LeeTeuk….” Nana memanggilnya.

Leeteuk hanya menghentikan langkahnya.

“trimakasih….” Ucap Nana.

Leeteuk tersenyum, lalu melangkahkan kaki keluar ruangan.

~***~

One thought on “FINAL DESTINATION (sequel of COACH NANA)

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s