7 Words : 01. Love


7 Words : 01. Love

Main cast : Bae Suzy, Kim Soo hyun

Length : series

Gadis dengan rambut merah kecoklatan itu berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri lorong sekolahnya. Sesekali, ia membenarkan kacamata besarnya—yang membuat ia Nampak seperti Betty La Vea—yang sudah terlalu sering turun karena ukurannya yang tidak cocok dengan hidungnya. Walaupun hidungnya sudah cukup mancung.

“Baiklah…. Proyek pentas seni, selesai….” Ucapnya sambil membolak-balikkan lembaran demi lembaran proposal yang ada di tangannya. “Tinggal tanda tangan dari Kepala Sekolah….”

BRUKKK!!

Dengan susah payah, Suzy membereskan proposalnya dan lembaran-lembaran lain yang menjadi lampiran, seperti anggaran dana, susunan panitia, dan kepentingan-kepentingan lain yang tidak dijadikan satu dengan proposalnya.

“Maaf….” Ucap lelaki yang baru saja menabraknya, tak acuh. Suzy mendongakkan kepalanya.

Soohyun.

Suzy pun berdiri dan membenarkan kacamatanya yang lagi-lagi merosot. “Tak apa-apa….”

Soohyun hanya mengangguk, lalu membalikkan badan dan berjalan.

“E…. Soohyun….” Suzy menggenggam lengan Soohyun, membuat langkah lelaki itu berhenti.

“Apa?”

“Maukah kau ikut berpartisipasi dalam acara pentas seni yang akan diadakan seminggu lagi?”

Soohyun melirik berkas-berkas yang ada di tangan Suzy. Salah satu kertas bertuliskan ‘PROPOSAL PENTAS SENI SMU SEOUL’ dengan font yang sangat besar. Itu cover proposalnya, pikir Soohyun.

“Memang ada untungnya?”

“Yah…. Itu….”

Belum sempat Suzy ber-argumentasi, Soohyun kembali berucap, “Apa proposal itu sudah disetujui Kepala Sekolah?”

“Kalau itu….”

“Aku tidak tertarik,” Dengan angkuhnya, Soohyun melepaskan lengannya secara kasar dan kembali berjalan, membuat Suzy menganga untuk sesaat.

Namun setelahnya, Suzy memutuskan untuk mengejar Soohyun. “Kau ini…. Kau tidak memberiku kesempatan untuk berbicara….”

Soohyun tersenyum sinis, “Tentu saja tidak. Aku tak berminat….”

“Kenapa kau selalu pasif?”

“Aku tidak pasif….” Soohyun membela diri dari ucapan Suzy yang penuh emosi, “Di kelas aku selalu berprestasi, selalu juara satu, dan selalu jadi juara umum….”

“Tapi kau tak pernah bisa bekerja dengan baik saat berkelompok….”

“Karena dalam suatu kelompok, selalu aku yang berpikir…. Lagipula, apa pedulimu?”

“Terang saja aku peduli…. Karena aku mencintaimu!!!”

Suzy langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Bodoh, pikirnya. Bagaimana bisa dia keceplosan mengatakannya?

“Oh ya? Kalau begitu, terima kasih, tapi aku tak butuh cintamu….” Ucap Soohyun tak acuh, walau sebenarnya, didalam hatinya—jauh didalamnya—ia sangat senang mendengar pernyataan cinta itu.

“Kau tak masalah hidup seperti ini?” Suzy mengalihkan pembicaraan, “Hidup tanpa seorang temanpun di hidupmu, apa itu tak menjadi masalah buatmu?”

“Sama sekali tidak….”

“Kalau begitu aku akan membuatnya menjadi masalah untukmu….”

“Apa maumu?” Kali ini ucapan Soohyun disertai nada tinggi.

“Mauku?” Suzy berjalan mendekati tubuh Soohyun, “Mauku adalah, kau hidup normal seperti orang lain….”

“Apa pedulimu?”

“Sudah kubilang ‘kan, aku mencintaimu?” Akhirnya, Suzy tak punya pilihan lain selain mengakui perasaannya. Dia sendiri bingung, kenapa dia bisa begitu bersimpati pada seorang Soohyun. Namun ia tak akan menyerah begitu saja.

“Aku akan meyakinkanmu, cinta itu penting bagi setiap orang. Aku akan memberi tahumu arti tentang ‘Cinta’. Walaupun kau akan membantahnya beribu kalipun, aku akan tetap berusaha dengan caraku sendiri…. Sampai kau bisa hidup damai dengan cinta yang sudah sewajarnya dirasakan oleh setiap manusia…..”

“Keras kepala….” Desis Soohyun. “Kau juga tak akan pernah mendapatkan cintaku….”

“Aku tak berharap kau mencintaiku…. Asal kau tahu bagaimana rasanya ‘cinta’, bagaimana rasanya ‘kasih sayang’, asal kau tahu betapa berwarnanya bila kita hidup dengan ‘cinta’, itu sudah cukup bagiku….”

“Huh….” Soohyun kembali tersenyum sinis, “Kau pintar berdalih. Sayangnya, aku sudah pernah hidup dengan cinta, namun cinta sudah membuatku muak akan rasa benci, hingga aku tak bisa membedakan cinta dan benci….”

“Itu juga salah satu dalam misiku….” Suzy tersenyum, “Membuatmu bisa membedakan cinta dan benci….”

Soohyun menyerah. Ia baru saja ingat, Suzy ahli dalam berdebat, bahkan dalam bahasa Inggris sekalipun. Hanya buang waktu ber-adu argumentasi dengan Suzy. Itu tak menguntungkannya.

“Terserah….” Ucap Soohyun pada akhirnya.

~***~

Saat Soohyun membuka loker keesokan harinya, ia menemukan satu kotak bekal. Ia mengambilnya dan membukanya untuk melihat isi di dalamnya. Ia tersenyum. Seporsi nasi berbentuk hati dan disekelilingnya terdapat telur dadar dan berbagai macam sayuran hijau.

Soohyun menoleh ke kanan-kirinya. Tak ada siapapun. Iapun membawa kotak bekal itu di tengah taman sekolah yang sunyi.

“Aku akan meyakinkanmu, cinta itu penting bagi setiap orang. Aku akan memberi tahumu arti tentang ‘Cinta’. Walaupun kau akan membantahnya beribu kalipun, aku akan tetap berusaha dengan caraku sendiri…. Sampai kau bisa hidup damai dengan cinta yang sudah sewajarnya dirasakan oleh setiap manusia…..”

Soohyun tersenyum sendiri. Dia terlalu percaya diri, batinnya.

Soohyun memang memilih untuk melupakan apa itu cinta. Dia sudah dibuat sakit oleh apa yang disebut ‘cinta’, yang disebabkan oleh keluarganya sendiri. Dia memutuskan untuk hidup tanpa cinta, selamanya.

Sebelum bertemu Suzy.

Suzy juga yang sudah membuat Soohyun perlahan kembali ingat apa itu cinta. Cinta memang indah pada awalnya.

Hanya pada awalnya.

Selebihnya, itu racun.

Begitu yang dipikirkan Soohyun.

Bagaimanapun, dia tak akan berhasil….

Soohyun mengambil sendok lipat plastic didalamnya, lalu mulai memakan nasi itu, sesuap.

“Enak….” Gumamnya sambil tersenyum.

Ia pun makan dengan lahapnya, hingga tak menyadari kehadiran seseorang.

“Kau ini…. Kucari kemanapun tak ketemu, ternyata disini….” Suzy tersenyum senang ketika ia melihat kotak bekal miliknya berada di tangan Soohyun.

Soohyun tersentak. Ia menoleh ke belakang, dan mendapati Suzy tengah tersenyum riang.

Suzy tambah gembira ketika mendapati Soohyun menatapnya dengan pipi menggelembung, tanda bahwa dia sedang memakan makanan yang ia buatkan.

Soohyun memelototi Suzy. Namun percuma. Bukannya takut, Suzy malah duduk di samping Soohyun. Iapun membuka nasi kotak yang ia bawa untuk dirinya sendiri.

“Bagaimana? Enak tidak?” Tanya Suzy, “Aku dapat nilai 10 saat kursus masak….”

Soohyun bangkit dari duduknya, dan meletakkan nasi kotaknya ke bangku taman, persis di samping Suzy. Ia pun menelan makanannya dengan cepat. Hampir saja ia tersedak. Untungnya dia tak benar-benar tersedak. Ia bisa mati karena malu kalau Suzy berhasil menemukan Soohyun yang kikuk karena melihat wajahnya yang cantik.

“Loh? Kenapa?” Dengan wajah polos, Suzy bertanya. Lalu membetulkan posisi kacamatanya.

Soohyun memilih diam dan pergi berlalu.

~***~

“Soohyun….” Suzy kembali memanggil Soohyun saat melihat lelaki itu berjalan santai sambil memegang handle tas-nya.

Saat mendengar suara itu, jantung Soohyun kembali berdetak tak karuan. Iapun mempercepat langkahnya.

Namun tak berhasil. Suzy mengambil keputusan untuk berlari dan merengkuh lengan Soohyun dalam waktu sekian detik.

“Kau tidak punya telinga ya?”

Ya. Soohyun sangat ingin mendamprat gadis lugu berkacamata itu. Tapi, degupan keras jantungnya itu berhasil mencegahnya melakukan itu. Bukannya marah, malah jadinya yang keluar ucapan gugup. Lebih baik dia diam.

“Soohyun….”

“Apa?” Akhirnya Soohyun meresponnya, dengan wajah menghadap ke arah lain.

“Kau mau menemaniku meminta tanda tangan Kepala Sekolah untuk proposal kita?”

“Kita? Kapan aku membuat proposal bersamamu?”

“Loh? Kau tak ingat?” Suzy balik bertanya. “Seminggu sebelum ini, aku merengek padamu untuk membuat garis besar proposal acara ini. Aku meminta bantuanmu karena pengetahuanmu tentang seni sangat luar biasa. Tak ada orang lain yang bisa kumintai bantuan selain kau….”

Soohyun menggali ingatannya lebih dalam. Sebentar. Proposal Pentas Seni.

Garis Besar.

Apa ya?

Soohyun memejamkan mata dan berusaha memutar seluruh memorinya dalam kurun waktu seminggu terakhir.

Ah ya.

~***~

“Soohyun….” Suzy menghampiri tempat duduk Soohyun, membuat seluruh teman sekelas Soohyun tersentak kaget. Seorang Suzy menghampiri Soohyun?

“Mereka berpacaran?”

“Entahlah….”

“Seorang ketua OSIS ternyata bisa kenal dengan Kim Soohyun….”

“Siapa yang tak kenal Kim Soohyun?”

“Pertanyaan yang benar, apakah seorang Soohyun mengenal ketua OSIS?”

“Soohyun dan Suzy sama populernya, bedanya, Soohyun itu populer di bidang akademik, sementara Suzy di non-akademik….”

“Benar. Tak terhitung berapa banyak Ekstra kurikuler yang diikuti Suzy….”

“bedanya lagi, Suzy periang dan ramah. Sementara Soohyun pendiam dan angkuh….”

“Aku ragu mereka saling kenal….”

Begitu seterusnya bisik-bisik yang terjadi diantara para murid.

Soohyun yang sedang dibicarakan malah tertidur, dengan posisi kepala berada di antara kedua tangannya yang terlipat di mejanya.

“Soohyun….”

Suzy menggerakkan tubuh Soohyun. Perlahan, lelaki itu membuka matanya. Samar-samar, ia menemukan sosok seorang gadis berkacamata besar dengan frame pink yang memberi kesan kekanak-kanakan.

Soohyun menegakkan tubuh, dan merenggangkan badan.

“Akhirnya bangun juga….”

Masih setengah sadar, Soohyun berbicara, “Ada apa?”

Seluruh temannya terkejut. Soohyun mengenal Suzy. Soohyun mengenal Suzy. Keren.

Padahal sebenarnya, Soohyun merespons ucapan Suzy karena ia tak tahu pasti siapa gadis yang ada di depannya itu. Yang ada dipikirannya hanyalah : mungkin dia gadis yang kebingungan dalam pelajaran matematika, atau biologi, atau pelajaran lainnya, dan meminta Soohyun untuk mengajarinya.

Kalau dia tahu gadis itu Suzy, dia lebih memilih untuk mengusirnya. Dia tak mau Suzy mencintainya.

Tidak baik bagi Suzy untuk mencintainya.

“Begini, aku ingin membuat acara Pentas Seni untuk merayakan ulang tahun sekolah kita…. Aku kan tidak tahu-menahu soal seni, yang aku tahu hanya seni musik. Kau mau membantuku dalam membuat Proposal Pentas Seni?”

Soohyun masih menguap.

“Hanya garis besarnya saja….” Ucap Suzy, takut kalau Soohyun tak mau menerima tawarannya, seperti biasa. Harap-harap cemas.

“Iya…. Garis besarnya saja ‘kan?” Ucap Soohyun kemudian. Membuat Suzy terkejut. Tak percaya namun juga gembira. Itu pertama kalinya Soohyun mau membantunya.

“Tapi, setelah ini…. Aku tak mau berpartisipasi lagi,” Lanjut Soohyun.

“Gampang…. Kita lihat nanti….” Suzy tersenyum senang, lalu duduk di samping Soohyun.

“Hm….” Soohyun menyobek satu kertas di buku tulisnya, dan mencari polpen yang ada di jas almamaternya.

Yang ada di pikiran Soohyun bukannya Ketua OSIS, tapi Seksi Apresiasi dan Karya Seni dari OSIS yang memintainya bantuan.

Iapun menggoreskan tulisan-tulisan ke atas kertas yang baru saja ia sobek. Lengkap dengan kata-kata yang cukup meyakinkan supaya acara itu diadakan.

Suzy berdecak kagum. Dalam keadaan setengah sadar-pun dia bisa menulis sebuah program yang sangat baik—walau tulisannya sendiri sangat tidak rapi, mengingat ia menulis dalam keadaan setengah sadar. Namun bagi Suzy, itu sudah cukup.

“Nih….” Ucap Soohyun sambil menyerahkan sobekan kertas itu pada Suzy.

“Terima kasih….”

“Ya ya….” Soohyun mengangkat telapak tangannya, lalu bergegas untuk melanjutkan tidurnya.

Karena suatu alasan, dia selalu Insomnia di setiap malamnya.

~***~

“Jadi, yang waktu itu, Kau?” Ucap Soohyun sambil membelalakkan matanya. Akhirnya, dia mengingatnya.

“Iya…. Aku…. Kau pikir, siapa?”

Soohyun memilih diam. Ia mengumpat dalam hati. Kenapa saat itu ia tidak jeli? Kenapa dia tidak tanggap kalau yang memintainya bantuan itu ketua OSIS?

Soohyun bodoh. Bodoh sekali.

“Saat itu, bukankah aku sudah bilang, aku hanya ingin membantu garis besarnya saja. Selebihnya, kau yang melakukannya. Sendiri. Tanpa bantuanku,” Soohyun berkilah.

“Kau tidak boleh membantu secara setengah-setengah. Apa kau bisa lega kalau hanya membantu dari awal? Kau harus membantuku sampai akhir….”

“Memang, kau siapaku?” Soohyun berusaha untuk menghindari Suzy. Semakin banyak ia terlibat dengan Suzy, maka itu akan membawa pengaruh buruk bagi Suzy.

“Kau tak lebih dari fans-ku….” Lanjut Soohyun kemudian.

“Iya…. Tapi kau sudah terlanjur membantuku,” Ucap Suzy santai, walau di dalam hatinya sedikit tak terima karena Soohyun bilang dia hanya fans-nya, “Aku memang sudah mengembangkan garis besar yang sudah kau buatkan itu, tapi, untuk meyakinkan Kepala Sekolah, aku membutuhkanmu….”

Suzy menghela nafas sebelum melanjutkan, “Kan kau yang tahu garis besarnya. Kau juga yang mempunyai wawasan tentang gagasan-gagasan yang ada di dalamnya. Aku yakin, Kepala Sekolah akan percaya padamu. Lagipula, Kepala Sekolah sangat menyukai murid yang idealis sepertimu….”

“Oh…. Aku sangat berterima kasih karena pujianmu…. Tapi aku tidak tertarik untuk melakukannya….”

“Ah…. Tolonglah….” Suzy memegang tangan kiri Soohyun dengan kedua tangannya, lalu mengayun-ayunkannya dengan manja. “Tolong bantu aku….”

“Kau sudah memasukkanku dalam banyak perangkapmu….”

“Siapa yang memasukkanmu ke perangkap? Kan kau yang mau membantuku dengan sepenuh hati?”

Ah, ya. Sepenuh hati. Kata yang memuakkan bagi Soohyun.

“Saat itu aku membantumu, karena aku kira kau bukan Suzy. Aku kira kau orang lain. Saat itu aku dalam keadaan setengah sadar. Kau puas? Kalau saat itu aku tahu yang meminta bantuanku itu kau, aku tak akan mau membantumu….”

“Iya iya…. Tapi, kau harus membantuku lagi…. Aku benar-benar butuh bantuanmu…. Ya ya?”

Suzy memasang wajah innocent. Sebenarnya, wajahnya yang tenggelam oleh kacamata besarnya itu sudah cukup membuatnya seperti orang yang membutuhkan belas kasihan. Memasang wajah innocent malah membuatnya tampak lucu.

“Saat itu, aku bilang, aku hanya bisa membantumu sekali…. Hanya garis besar….” Soohyun kembali ke dalil pertamanya.

“Tapi…. Aku tidak menyetujui ucapanmu…. Aku tidak bilang ‘ya’ saat itu….”

Dan itu membuat Soohyun tampak lebih bodoh di mata Suzy.

“Ahhh…. Baik baik…. Kuturuti maumu….” Akhirnya Soohyun menyerah. Ia menengadahkan tangan kanannya. “Mana proposalnya?” Ucapnya kasar.

Suzy tersenyum senang, lalu bergegas mengambil proposal yang ada di dalam tas-nya. “Sebentar….” Setelah beberapa detik, akhirnya ia menemukannya. Proposal bersampul hijau. “Ini….”

Soohyun menyahutnya kasar dan menatap kesal gadis itu. Namun gadis itu malah tersenyum senang.

“Kau bilang kau akan meyakinkanku tentang arti cinta. Apanya? Kau malah membuatku semakin membencimu….” Gerutu Soohyun.

Maksud Soohyun itu adalah : “Kau berhasil membuatku semakin mencintaimu….”

Soohyun tak bisa membedakan cinta dan benci. Baginya, kedua hal itu sama. Tak berbeda. Sama-sama memuakkan. Sama-sama tidak pantas untuk ada di dunia.

“Sebentar lagi…. Sebentar lagi….” Ucap Suzy sambil tersenyum riang.

~***~

“Selamat pagi….” Soohyun mengetuk pelan pintu ruangan Kepala Sekolah.

“Selamat pagi….” Sahut suara dari dalam, dan dilanjutkan, “Masuk….”

Perlahan, Soohyun membuka pintu kayu yang di pelitur itu dan memasuki ruangan, di ikuti Suzy.

“Ah…. Soohyun….” Ucap Kepala Sekolah itu sambil tersenyum senang. Anak emasku, pikirnya, “Ayo…. Masuk….”

Soohyun dan Suzy memasuki ruangan lebih dalam lagi, dan duduk di kursi yang berada tepat di depan meja Kepala Sekolah. Mereka bertatapan langsung dengan orang terpenting di sekolah mereka.

Membuat Suzy gugup.

“Ada apa, Soohyun?” Ucap Kepala Sekolah, lalu buru-buru membetulkan ucapannya setelah menyadari kehadiran Suzy yang duduk di samping Soohyun, “dan Suzy?”

“Begini….” Soohyun tersenyum, “Kami berencana untuk mengadakan Pentas Seni untuk merayakan Ulang Tahun sekolah kita. Bagaimana menurut Bapak? Maksud saya, dari dulu, sekolah kita tak pernah mengadakan acara apapun yang berguna untuk merayakan Ulang Tahun sekolah kita. Itu penting, karena Ulang Tahun sekolah selalu memberikan makna tersendiri bagi semua warga sekolah, juga bagi para pendiri Sekolah khususnya, karena jerih payah mereka saat mendirikan sekolah ini akan dihargai….”

Begitu seterusnya. Soohyun berkata dengan manisnya, dengan penuh senyuman. Suzy menatap Soohyun dari samping. Ternyata dia tampan kalau tersenyum, pikirnya.

“Nah…. Ini proposalnya….” Pada akhirnya, setelah berbicara panjang lebar, Soohyun menyerahkan proposal itu pada Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah—bernama Mrs. Lee, seperti tercantum di nama mejanya—manggut-manggut membaca isi proposal itu.

“Sayangnya tidak bisa….”

Soohyun terkejut. Suzy yang sedari tadi hanya memperhatikan Soohyun pun tersadar dari lamunannya.

“Kenapa?” Tanya Soohyun dan Suzy hampir bersamaan.

“Sekolah kita tak pernah mengadakan acara yang buang-buang uang seperti ini….”

“Pak, ini bukan masalah uang…. Ini masalah seni….” Ucap Soohyun kemudian. “Banyak sekali murid disini yang punya bakat tinggi dalam bidang seni, percuma kalau tidak dikembangkan. Maksudnya, mereka hanya tahu bakat mereka saat di kelas, tapi orang lain di luar kelas tidak tahu akan hal itu….”

Soohyun menghela nafas sebelum melanjutkan, “Misalnya…. Si A punya bakat dalam menyanyi. Dia tahu dia bisa bernyanyi, hanya saat pelajaran seni music di kelasnya dan dia bernyanyi di depan kelas. Nah, adanya acara ini juga bisa untuk mengukur kemampuan para murid, apakah mereka punya bakat yang cocok bagi semua orang, atau hanya bagus di kelas? Selain itu, kita juga bisa menambah rasa cinta kita pada seni tradisional. Tinggal tampilkan seni tari tradisional korea, misalnya, seperti yang ada di dalam proposal pada halaman 13….”

Suzy semakin kagum. Hanya membaca proposal itu sekilas, Soohyun langsung hafal luar kepala isi proposal itu, bahkan dia hafal letaknya.

“Atau mungkin menampilkan drama kolosal…. Mengambil cerita-cerita pada jaman kerajaan Korea, pada saat Dinasti Joseon misalnya, atau mungkin, mengambil cerita saat Korea belum berdiri, namun yang ada adalah adanya 3 kerajaan Besar—Silla, Baekje, dan Gogeryou—atau yang lainnya, seperti yang telah dijabarkan pada halaman 15….”

Kepala Sekolah ternganga, namun tindakan selanjutnya adalah membuka proposal itu sesuai dengan halaman yang disebutkan Soohyun. Dan semuanya, sesuai.

“Ini bisa meningkatkan nama baik SMU Seoul pak….” Soohyun kembali tersenyum, “Mari kita buktikan pada masyarakat luar, bahwa SMU Seoul tidak hanya berpresttasi di bidang akademik, namun SMU Seoul juga punya murid-murid yang berprestasi di bidang non-akademik….”

Entah mengapa, Soohyun begitu bersemangat. Mungkin karena ia sangat mencintai Seni. Seni adalah hidupnya. Itu tak bisa di ganggu gugat.

“Kami membuat acara ini, supaya murid-murid yang tidak terlalu pintar di bidang akademik tidak merasakan adanya diskriminasi pak….”

Setelah sedari tadi membiarkan Soohyun berbicara, kini Kepala Sekolah berbicara, “Diskriminasi?”

Soohyun mengangguk. “Selama ini, yang selalu dibangga-banggakan adalah murid berprestasi yang bisa memberikan medali emas di olimpiade matematika, sains, atau lainnya. Sementara murid-murid yang menguasai seni dan tidak begitu menyukai pelajaran eksak jadi tersingkirkan. Oleh guru-guru, mereka diabaikan. Hanya karena tidak bisa, mereka diberi nilai jelek, padahal mereka sudah berusaha. Bukankah itu sebuah diskriminasi? Makanya, dengan adanya acara ini, kami berharap, murid-murid yang bisa seni juga bisa disejajarkan dengan murid yang pintar matematika….”

Rasa-rasanya, apa yang diucapkan oleh Soohyun untuk meyakinkan Kepala Sekolah, sudah keluar dari PROPOSAL PENTAS SENI. Namun biarlah. Yang penting masih dalam konteks seni. Apapun boleh.

“Baiklah….” Akhirnya, Kepala Sekolah mengambil bolpoint yang ada di saku dada kirinya, lalu menandatangani Proposal itu. “Aku setujui….”

“Yeeaahh….” Soohyun berteriak senang sambil melakukan toast dengan Suzy. Suzy tersenyum senang.

Soohyun segera sadar akan kebodohan yang ia lakukan, lalu kembali duduk tenang dan no expression.

“Tapi….” Ujar Kepala Sekolah, “Aku pegang janjimu…. Adanya acara ini, harus dapat meningkatkan nama baik sekolah….”

“Baik Pak….” Soohyun membungkuk.

“Kami permisi dulu….” Lanjut Suzy.

~***~

“Kenapa kau bisa begitu gugup di depan Kepala Sekolah? Kau nyaris tak berbicara sepatah katapun, kecuali ‘kenapa’ dan ‘kami permisi dulu’,” Gerutu Soohyun.

“Maaf…. Bagaimanapun, aku ini baru pertama kali jadi Ketua OSIS….”

Soohyun hanya tersenyum sinis.

“Tapi, terimakasih ya, yang tadi…. Kau hebat….”

“Hm….”

Soohyun hanya merasa, hidupnya sedikit berwarna setelah berhasil meyakinkan Kepala Sekolah tentang Pentas Seni.

Dia tahu, dia sangat mencintai Seni.

Sekarang ia tahu sedikit apa itu cinta.

“Tapi, aku boleh minta tolong lagi? Kau ikut ya…. Jadi pengisi acara Pentas Seni 10 hari lagi….”

“Tuh kan? Sudah kukira kau begini,…. Jika dibantu, pasti akan minta lagi dan lagi. Ibaratkan, dikasih hati minta jantung. Kau ini kenapa?”

“Tidak…. Aku tak bermaksud begitu kok…. Ini salah satu misiku, untuk membuatmu tahu apa itu arti cinta.”

Soohyun tersentak.

“Aku tahu, kau jadi sadar akan cintamu pada seni, setelah kau ber-argumentasi panjang lebar didepan Kepala Sekolah. Aku sudah berhasil dalam satu poin, bukan?”

Ya. Soohyun mengakuinya dalam hati.

“Dan, selanjutnya, aku akan membuatmu mencintai semuanya. Sudah kukira, kau pasti menyukai alunan musik yang mengiringi suatu lagu karena itu bagian dari seni. Makanya, aku ingin kau mencintai sesuatu hal yang berkaitan dengan seni—musik terutama—seperti panggung tempatmu mengapresiasikan senimu, audience yang bertepuk tangan atas suaramu yang merdu.”

Soohyun terdiam sejenak.

Menarik.

~***~

2 minggu kemudian….

“Bukankah kalian puas atas penampilan-penampilan beragam macam dari awal?” Teriak Suzy selaku MC acara Pentas Seni itu, lalu mengayunkan mikrofonnya pada para audience. Hari itu Suzy berpenampilan istimewa. Tak terlalu istimewa sebenarnya. Style berpakaiannya sama seperti biasa. Yang berubah darinya hanyalah : ia tak memakai kacamatanya dan memakai contact lens transparent.

“Ya….” Jawab mereka—yang mayoritas remaja—dengan penuh semangat. Hari itu, kurang lebih 800 murid beserta wali murid dan para staff Sekolah beserta keluarga menghadiri acara Pentas Seni itu. Dari respons yang ada sampai saat itu, Suzy dan Soohyun—beserta panitia—sudah berhasil menyelenggarakan acara itu. Dan sudah menepati janji mereka pada Kepala Sekolah, untuk meningkatkan nama baik sekolah.

“Baiklah…. Sebagai penampilan penutup, kita sambut, Kim Soohyun dari kelas XI-IPA 3….”

Suzy menuruni tangga yang ada di panggung. Ia berpapasan dengan Soohyun.

Good Luck….” Bisik Suzy pada Soohyun.

Sebelum Suzy melanjutkan langkahnya, Soohyun menggenggam siku tangan Suzy dengan erat, dan balas berbisik, “aku melakukannya karena paksaan, bukan karena suka. Kalau aku tak bisa memahami cinta seperti yang kau janjikan, aku tak akan pernah mencintaimu, selamanya….”

Soohyun pun menaiki panggung.

Suzy ternganga. Namun selanjutnya, ia menuruni tangga dan pergi ke tempat duduk para panitia.

“jo molli hwimihejineun

naye kkumeul barabomyo

monghani soissotjyo

do isang nameun ge obso

modu pogihalkka hessotjiman

dasi ironayo

han-goreum han-goreum

oneuldo josimseuropge nedidyoyo

gaseum gadeukhi duryoumgwa

solleimeul aneun che

biteulgorigo heundeullyodo

nan tto han-goreumeul nedidyoyo

onjen-ga mannal ne kkumeul hyanghe

idero

kkeutnaneun gon anilji

duryoumi nal jakkuman

mangsorige hajiman

gaseum sok gipeun goseso

momchuji anneun ullimi nal

apeuro ikkeuljyo

han-goreum han-goreum

oneuldo josimseuropge nedidyoyo

gaseum gadeukhi duryoumgwa

solleimeul aneun che

biteulgorigo heundeullyodo

nan tto han-goreumeul nedidyoyo

onjen-ga

mannal ne kkumeul hyanghe

han-goreum han-goreum

oneuldo josimseuropge nedidyoyo

gaseum gadeukhi duryoumgwa

solleimeul aneun che

biteulgorigo

heundeullyodo

nan tto han-goreumeul nedidyoyo

onjen-ga

mannal ne kkumeul hyanghae

onjen-ga

mannal ne kkumeul

hyang~he”

Seluruh audience bertepuk tangan gembira mendengar suaranya.

“Suara yang indah….”

“Lelaki bersuara tampan….”

“Dia luar biasa….”

“Dia anakku….”

Banyak sekali ucapan-ucapan bahagia—yang beberapa diantaranya berlebihan—yang terdengar di telinga Soohyun. Ia tersenyum bangga.

Namun, lama kelamaan ia menangis.

Ia terperangkap lagi dalam cinta, karena Suzy.

Dari kejauhan, ia melihat Suzy mengacungkan 2 jempolnya pada Soohyun, lalu bertepuk tangan sambil tersenyum penuh kemenangan.

Bagaimana hidupku selanjutnya? Bagaimana jika rasa cintanya padaku semakin menjadi? Aku benar-benar tak mau dia berada disisiku yang hina ini….

Aku harus bagaimana?

36 thoughts on “7 Words : 01. Love

  1. Wah~
    keren bgt ff nya*_*

    soohyun bkin melting❤❤❤
    perjuangan nya suzy kayaknya bkal smakin mudah ke depan nya ? iya kah ?🙂

    alurnya keren ~ sempurna ^^
    kata-katanya .. bagus bgt , mana rapi lagi u,u

  2. Isi dari part 1nya bagus bgt, Sasa. Sasa sukses ngegambarin karakter utamanya di part ini. Sasa jg detil bgt ngegambarin jalan pikiran dan perasaan” yg timbul dri karakter utamanya. Dan jgn lupakan soal pemilihan kata-kata di part ini yg bener” bkn reader bisa ngerti jalan pikiran karakter utamanya sekaligus ngerasain feelnya. Terakhir, Sasa lgi” bkn aku kagum buat kata” bijaknya. Kdg aku smp lupa klo Sasa itu saengnya aku.^^

    1. makasih unn ^^ sebenernya soal Proposal itu ada pengalamannya unn… tapi aku dulu cuma sekretaris OSIS, yang di bahas juga Bazar bukan Pensi, tapi saat itu ditolak sama pembina OSIS -_- makanya bisa detil,😀

      hehe… makasih unn ^^

  3. wow, keren banget deh ini pemilihan kata2nya smpe ngerasa ikut kebawa. penjabarannya jg cukup mendetail..hehehe
    bikin penasaran deh kenapa begini..mengapa bgitu..dtunggu next updateny y ^^

  4. Ceritanya aku suka, hyunzy couple!
    Tapi, kenapa soohyun jadi nggak bisa nedain antara cinta dan benci? Sampe gak mau suzy semakin cinta sama dia? bingung ! Yang jelas ditunggu next part nya ~^^

  5. wah ffnya ini bagus banget , kayaknya si soohyun emang mulai hilang kendali lantaran deket sama suzy tapi lebih ditailnya yang dipikirkan soohyun yang sama sekali ngak bisa ngebedain mana Cinta dan mana Benci itu yaitu terjebak dalam perangkapnya suzy , coba aja klo si soohyun memberanikan diri buat nembak si suzy, kan si soohyun sebenernya mencintai suzy , wah… pasti bagus banget . oh ya kenapa emangnya kok si soohyun ngak bisa bedain antara benci sama cinta gara- gara keluarganya ? . oh ya maaf ya coment q kepanjangan dan 10 kata yg mau kuucapin yaitu *aku tunggu ya next partnya ya, berjuang terus ya author *

  6. daebak ! ini yg namanya ff berkualitas..
    alur ceritanya bagus,, apalagi dgn cast Hyunzy couple…🙂
    thor, Lanjutkan! Lanjutkan! Lanjutkan!

  7. karakter suzy beda banget dari film2 dia sebelumnya seru tuh kalo dibikin film aslinya ceritanya terbalik dari dream high sekarang si suzy yg ngejar2 soo hyun top pasti nih kalo jadi filmnya

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s