[Freelance] Failed Revenge part 9


Author         : Shafira Firdaus [cloudsungie]
Tags             : All member of Super Junior
Catatan        : Cerita ini adalah cerita fiksi. Semua yang terjadi disini murni buatan

author. Jadi kalau ada kesalahan apapun mohon dimaafkan.
Poster by illuth@parrkyuri.wordpress.com

CHAPTER 9 [HEECHUL]

          Ayo Heenim, berhentilah menangis. Tidak ada gunanya kau menangis karena Hankyung tidak akan bisa kembali.

Aku lebih memilih untuk menutup mataku dibanding melihat Hankyung mati dengan keadaan tragis seperti ini. Baiklah, aku tahu aku penakut tapi aku yakin bila kalian ada di sini kalian bakalan ngerasakan perasaan yang sama denganku. Hankyung mati dengan pisau tertancam di matanya.

          Malam itu juga kami memanggil polisi dan ambulans entah yang keberapa kalinya dalam sehari ini. Aku yakin mereka semua sudah bosan dengan panggilan kami karena saat Jungsoo baru menelpon, polisi disebrang sana langsung menyahut, “Leeteuk-ssi lagi ya? Apa ada yang mati lagi?”

Dan ternyata malam itu tidak hanya Hankyung korbannya, polisi menemukan mayat Kibum yang sudah tidak bernyawa di tangga darurat dengan pisau masih tertancam di perutnya. Aish, sudah berapa kali aku melihat mayat minggu ini?

“A-aku merasa tidak becus menjadi seorang hyung. Harusnya aku melindungi kalian.” Bisik Jungsoo sambil terisak.

“Ani, hyung. Ini mungkin memang sudah digariskan Tuhan. Lagipula ini semua salah pembunuhnya.” Ujar Kangin sambil menepuk-nepuk punggung Jungsoo. Walaupun aku tidak percaya Tuhan, tapi ucapan Kangin memang ada benarnya.

“Ne, Jungsoo. Lagipula seorang Jungsoo yang cengeng sepertimu mana bisa menjaga dongsaengmu dari pembunuh.” Candaku. Jungsoo meninju bahuku.

“Hyung, aku baru dapat kabar dari rumah sakit.” Tiba-tiba Shindong datang. Wajahnya tertekuk ke bawah. “Kyuhyun benar-benar sekarat hyung. Tinggal menunggu waktu saja sampai ajal menjemputnya.”

“Kyuhyun…” Tangisan Jungsoo semakin menjadi-jadi. Mwo? Kyuhyun sekarat? Tidak akan ada lagi yang membantuku mengerjai Yesung dan Eunhyuk. Ah, aku lupa. Mereka juga sudah tidak ada.

***

Dua hari telah berlalu, dan semenjak dua hari itu, pembunuh tidak beraksi sama sekali. Untuk mengantisipasi keadaan, pihak SM mengirim kami ke pulau Jeju untuk berlindung dari pelaku. Ya, kami berempat, aku, Jungsoo, Kangin dan Shindong.

Mungkin jika keadaan membaik kami berempat akan memulai semuanya dari awal. Kami akan debut ulang tentunya dengan lagu-lagu dan gaya baru, entah sebagai Super Junior atau sebagai yang lain. Setidaknya aku masih bisa melihat wajah mereka, wajah-wajah ELF yang bahagia karena kami.

Di pulau Jeju, kami bermalam di sebuah villa besar di tengah hutan. Tapi jangan kalian pikir hutan rimba yang tidak ada penghuninya. Hanya sebuah hutan biasa tanpa ada binatang buas satupun. Ya, setidaknya kami bisa mencuci otak disini. Udaranya sejuk, matahari bersinar terang dan pemandangannya juga tidak mengecewakan.

Aku sedang menikmati udara pagi di balkon vila. Menatap ke arah pohon-pohon yang menjulang tinggi dengan anggunnya. Di depanku ada secangkir cappuchino panas yang tinggal setengah.

“Hyung…” Tiba-tiba Shindong datang dan memelukku. Ada apa gerangan? Apakah dunia sebentar lagi kiamat? Oke, aku berlebihan. “Aku… aku sangat merindukan Donghae, Eunhyuk, Sungmin… hyung, aku merindukan mereka… aku tidak mau menjadi maknae…”

Aku menatap Shindong nanar. Kulihat di sudut matanya terdapat butiran air mata. Tiba-tiba saja di otakku terputar bayangan-bayangan tentang mereka. Bayangan-bayangan dimana kami sedang tertawa, menangis, dan marah saat Kyuhyun mengerjai kami. Aku merindukan mereka. Wajah mereka. Senyum mereka. Senyum Eunhyuk yang selalu memamerkan gusinya. Senyum Donghae yang selalu memamerkan giginya yang tidak rata. Senyum Sungmin yang selalu terlihat aegyo. Dan yang paling membekas di otakku adalah Hankyung. Tak kusangka aku kehilangannya begitu cepat. Sial, aku sudah tidak boleh nangis lagi.

“Ya! Kalian liat Kangin tidak?” Aku menoleh. Kulihat Jungsoo tampak mencari sesuatu.

“Kangin? Ani. Bukankah dia di kamar?” Balasku.

“Ne, terakhir aku melihat Kangin dia ada di kamar.” Tambah Shindong.

“Tidak ada. Aku sudah mencarinya ke kamar tapi dia tidak ada.” Jungsoo menggeleng. “Gawat, dia dimana ya?”

“Apa mungkin dia pergi keluar?” Ujar Shindong.

“Ani, pasti dia izin dulu jika mau pergi keluar.” Aku membantah perkataannya.

“Kalau begitu ayo kita cari. Villa ini luas, kita berpencar.” Usul Jungsoo. Aku dan Shindong langsung mengangguk.

Aku berlari ke lantai bawah. Shindong di lantai dua dan Jungsoo di lantai tiga. Kubuka pintu dapur, ruang makan, kamar mandi dan semua ruangan-ruangan kosong di villa itu. Kangin tidak ada dimana-mana.

Aku punya perasaan buruk tentang ini. Apa… apa pembunuh itu kembali? Apa pembunuh itu kembali untuk menghabisi kami berempat? Siapapun, tolong lindungilah Kangin sekarang. Aku sudah tidak mau kehilangan dongsaengku lagi.

Tapi bagaimana pembunuh itu tau kami ada disini? Bagaimana dia tau kami menginap di villa ini? Bagaimana caranya ia memasuki villa ini tanpa sepengetahuan kami?

Baiklah, sebaiknya kubuang pikiran ini jauh-jauh. Tidak mungkin si pelaku comeback. Tidak mungkin dia membunuh Kangin. Paling Kangin hanya mengerjai kami saja.

Aku merebahkan diri di sofa. Sudah berapa menit aku berlari-lari? Semua ruangan sudah kuperiksa tapi Kangin tetap tidak berada dimana-mana.

“Kangin!!! Dimana kau?! Jangan bercanda!!” Seruku meneriaki namanya. Tidak ada jawaban. Sial, kemana sih pemabuk itu?

Oiya, ada satu tempat yang belum kuperiksa. Taman belakang. Akupun berdiri dan berjalan menuju pintu taman belakang yang terletak di dalam dapur.

Sriing… Tidak ada apa-apa. Taman itu masih hijau tanpa ada jejak sedikitpun. Loh? Aku memandang ke arah bangunan kecil sebesar toilet di ujung taman. Menurut pemilik villa ini, bangunan itu adalah gudang tua yang dulunya dipakai oleh orang jaman dulu untuk menyimpan hewan penjagalan. Kami berempat belum pernah menyentuh gudang itu. Tapi aku bisa melihat. Melewati ventilasi di atas gudang kecil itu aku melihat ada bayangan sebuah tali. Ya, aku yakin sekali itu tali. Dan yang lebih anehnya lagi, lampu gudang itu menyala sehingga bayangan tali itu semakin terlihat jelas.

Kudekati gudang itu perlahan. Langsung tercium bau bangkai dari dalam. Wajar saja karena banyak hewan yang dipotong di dalam sini. Kudorong pintu gudang itu perlahan. Bergeming.

Sial, tampaknya perlu kekuatan yang besar untuk membukanya. Kudorong pintu itu dengan keras sampai bunyi krieeet memekakkan telinga. Sial, bau amis plus busuk ini semakin menusuk hidungku.

Aku mengangkat mata ke arah titik dimana aku melihat bayangan tali lagi. Mataku langsung terbelalak. Aku mundur beberapa langkah sambil menutup mulutku.

Aku melihatnya, ya aku melihatnya. Aku melihat Kangin dengan wajah yang sudah pucat tergantung dengan tali tambang yang besar. Aku ingin berteriak. Sumpah. Tapi aku tahu pasti pembunuh itu masih berkeliaran disini dan bisa saja aku menjadi korban selanjutnya. Aku menoleh ke kanan dan kiri waspada. Tidak ada siapa-siapa. Baiklah, aku tahu apa yang akan kulakukan sekarang. Pergi ke atas, peringatkan Shindong dan Jungsoo, setelah itu kabur lewat balkon lantai tiga ke kantor polisi. Oke, aku bisa melakukannya.

Aku kembali masuk ke dalam villa. Suasana villa masih hening dan aku tak melihat siapapun. Kamu bisa Heenim. Aku menghembuskan nafas dan langsung berlari ke arah tangga lantai dua.

Aku sudah ada di lantai dua saat ini. Tapi aku belum melihat siapa-siapa. Shindong mana? Aish, jangan bilang dia sudah dibunuh.

“Shindong?” Ujarku berbisik. Aku takut sekali jika tiba-tiba saja pembunuh itu menyadari keberadaanku. Aku kembali melanjutkan perjalananku mencari Shindong sambil menoleh kanan-kiri. Takut-takut kalau pembunuh itu sudah bersiap menghabisiku.

Aku menghentikan langkahku. Aku mendengar sesuatu. Aku yakin sekali itu suara Shindong yang bercampur dengan suara lain. Arahnya dari paviliun lantai dua. Dengan perlahan aku berjalan ke arah ruangan itu. Paviliun di villa ini bisa dibayangkan seperti teras pada rumah-rumah biasa, hanya saja dengan atap, tertutup, dan lebih luas. Ruangan itu biasanya kami gunakan sebagai tempat berkumpul. Aku menengok perlahan ke dalam paviliun.

Kali ini aku benar-benar sudah tidak bisa menahan suaraku. Spontan aku berteriak. Aku buru-buru menutup mulutku. Berusaha sadar dengan kejadian yang ada di depanku.

Aku bisa melihatnya dengan jelas, Shindong… tersungkur lemas dengan tubuh berlumuran darah. Dan tidak hanya itu. Di depannya terdapat sesosok namja masih dengan pisau yang berlumuran darah Shindong. Namja itu langsung menoleh ke arahku. Dan aku mengenalnya. Lekukan wajahnya, matanya, bibirnya, aku benar-benar mengenalnya. A-apakah dia yang membunuh Shindong?

Bisa kulihat wajahnya berubah menjadi panik. Tapi seketika muncul seringai jahat di bibirnya. Aku mundur beberapa langkah. Dan langsung berlari saat kulihat namja itu mulai mendekatiku.

A-apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa ada disini? Apakah selama ini dia yang membunuh dongsaeng-dongsaengku? Gawat, ini benar-benar gawat.

Aku nggak mau mati. Aku belum mau mati! Apalagi di tangan namja itu. Ayo, Heenim. Yang perlu kamu lakukan hanya ke lantai 3, temui Jungsoo, kunci pintunya, dan kabur lewat jendela setelah itu telpon manajer hyung dan kantor polisi. Itu saja, tidak lebih. Ayo, berlarilah lebih kencang!

“Ya! Heechul-ah! Kembalilah! Jangan kau pikir aku tidak bisa menangkapmu!”

DEG. Dadaku berdegup kencang. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Aku langsung mempercepat lariku.

Sialan! Ternyata dialah pelakunya selama ini! Kenapa kami semua tidak bisa menyadarinya? Padahal kelakuannya kentara sekali dengan wajahnya itu! Sial-sial-sial! Kenapa kau tidak menyadarinya dari awal? Seharusnya saat itu aku percaya dengan kata-kata Kibum! Sial!!

Tapi… apa motifnya membunuh kami semua? Bukankah dia bagian dari kami? Apa gunanya? Dan, apa ada hubungannya dengan Hye Jung? Oh, ada satu pertanyaan yang lebih penting. Bukankah seharusnya dia sudah mati?

Aku terduduk lemah. Benar-benar melelahkan. Sekarang aku sudah ada di lantai tiga. Suara namja brengsek itu sudah tidak terdengar lagi. Semoga saja dia kecapekan dan beli minum dulu di luar villa. Aku kembali melanjutkan langkahku.

“Jungsoo! Dimana kau?!” Seruku meneriaki namanya.

“Ah! Chullie!” Jungsoo keluar dari kamarnya dengan tatapan tanpa dosa seolah-olah sekarang nyawa kami tidak terancam. “Mian, hehe. Tadi aku capek jadi istirahat dulu. Mana Kangin? Kamu sudah menemukannya?”

Pabo! Aku langsung berlari dan menyeretnya ke dalam kamar.

“Jungsoo, apa kamu tau apa yang kudapatkan di bawah?” Jungsoo menggeleng.

“Apa yang terjadi? Mana Kangin?”

“Soal Kangin kujelaskan nanti. Kamu tau? Ternyata selama ini pelaku pembunuhan dongsaeng-dongsaeng kita adalah—” Leherku tercekat. Punggungku terasa sakit sekali.

“Chu-Chullie?” Jungsoo menatapku dengan nanar.

Aku menoleh ke belakang. Sial, aku terlambat. Namja itu menyeringai kejam ke arahku. Dan perlahan, pandanganku menjadi gelap.

***

To be continued

2 thoughts on “[Freelance] Failed Revenge part 9

  1. Aaarrkkkhhh
    author lnjut donk
    pnsran bnget
    psti pmbnuh.a tu kyuhyun kan?
    haaah ku mhon chullie brthan hdup yahh
    thor lnjut yahhh#puppy eyes…#author yg liat psang mka ingin mntah
    tpi lnjutan.a jngan lma lma ya d’posting….
    fighting

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s