[Freelance] The Power of Love by Shafira


Author             : Shafira Firdaus
Main Cast        : Kim Hyun Ae [OC], Kim Jong Woon, Lee Hyuk Jae
Other Cast       : Kim Taeyeon, Song Soo Hwa, Josephine Amber Liu
Genre              : Romance, Friendship
Rating              : T
Length             : Oneshot; 49 Pages Ms. Word
Disclaimer       : The cast is belong to God and themselves. But the story is mine.
[Poster by sasphire@wordpress.com]

            “Annyeonghaeseyo! Chonun Kim Hyun Ae imnida, bangapta. Aku pindahan dari Gyeongju. Aku tinggal di Jalan Minhyong no. 5A. Aku sangat berharap kalian bisa menyukaiku disini. Gamsahabnida!!” Ujarmu ceria. Murid-murid Daeyoung High School memandangmu dengan tatapan kagum. Kamu tersenyum evil. ‘Ah, itu artinya aku sudah tidak perlu berpura-pura baik lagi agar mereka menyukaiku.’ Gumammu masih menyeringai.

“Siapa yang bertanya alamat rumahmu?! Dasar sok manis.” Tiba-tiba terdengar suara dari deretan bangku belakang. Kalau didengar dari intonasinya sih, sepertinya namja. Ekspresi wajahmu langsung berubah mendengarnya. Kamu langsung mengangkat pandanganmu ke belakang, mencari namja keparat itu. Ah sial. Namja itu tampan.

Tapi tentu saja kamu tidak mau mengorbankan harga dirimu hanya untuk namja tampan yang sialan itu. “Hei, kamu namja yang dibelakang! Apa maksudmu?!” Serumu dengan suara yang dibuat tidak terlalu keras. Kamu masih tahu diri kalau kamu anak baru sekarang. Tanpa menoleh dari laptopnya, dia menjawab, “semua orang juga tau maksudku. Dasar babo!” Serunya. Ini sudah kelewatan. Atas dasar apa dia menyebutku babo?

“Enak sa-”

“Sudah-sudah!!” Mrs. Soo Hwa, guru bahasa inggris di sekolah barumu yang mencakup menjadi wali kelasmu juga, berdiri. Menengahi pertengkaranmu dengan namja tidak tahu diri tadi. “Mian, Hyun… Jong Woon tidak bermaksud seperti itu padamu. Dan Jong Woon…” Kali ini kalimat Mrs. Soo Hwa sedikit di tekan. “Ibu minta bersikaplah baik kepada Hyun. Kau tau kan? Dia anak baru disini. Tolong buat dia merasa nyaman disini.” Lanjut Mrs. Soo Hwa. Yeoja cantik itu kembali duduk. Ya, meskipun sudah tua, Mrs. Soo Hwa masih sangat cantik.

‘Apa hanya itu? Kenapa Mrs. Hwa tidak menyuruhnya berlutut minta maaf di depanku atau kalau perlu dikeluarkan dari kelas?’ Pikirmu mulai kesal kepada Mrs. Soo Hwa.

“Miss…” Namja yang belakangan kamu ketahui bernama Jong Woon berdiri. Namja itu menyeringai. “Kalau Miss Hwa belum mau dipecat dari sekolah ini, lebih baik tarik kata-kata Miss tadi.” Ujarnya. Mrs. Soo Hwa hanya diam. Kamu mencerna kata-kata Jong Woon dengan matang. Dan akhirnya kamu menarik kesimpulan kalau namja itu adalah pemilik sekolah. ‘Sial, kenapa aku harus masuk sekolah namja brengsek ini?’

Mrs. Soo Hwa berdiri. Beliau memegang pundakmu. “Silakan duduk, Kim Hyun Ae.” Pinta Mrs. Soo Hwa, dengan ekspresi tidak secerah tadi. Kamu menuruti perintahnya tanpa berkata apa-apa.

Kamu memandang sekeliling kelas. Hanya ada satu bangku kosong di kelas itu. Ada baik dan buruknya kamu duduk disitu. Kabar baiknya, kamu akan duduk tepat disebelah namja keren yang wajahnya oke banget, yah meskipun masih kalah dibandingkan Jong Woon. Dan kabar buruknya, namja sialan itu duduk tepat di belakangmu. ‘Oh, God. Penderitaanku bakalan berlanjut.’ Ujarmu dalam hati.

“Annyeong…” Sapa namja di sebelahmu. Kamu menoleh sebentar padanya.

“Ne.” Jawabmu cuek kembali menatap Mrs. Soo Hwa yang sudah memulai pelajaran. Namja disebelahmu menjadi heran. Mungkin dia berpikir ekspresimu tadi di depan sangat berbeda dengan ekspresimu sekarang. Ya, kamu sudah kehilangan mood saat bertengkar dengan namja yang sekarang duduk di belakangmu itu. Walaupun sebenarnya keceriaanmu tadi di depan hanyalah pengelabuan untuk menutupi sikap tomboi dan cuekmu itu.

***

Bel istirahat berbunyi. Kamu menunggu seseorang memanggilmu untuk diajak berkeliling atau ke kantin. Alhasil, tidak ada satupun orang yang mengajakmu, menyapamu saj atidak ada! Pasti ini semua hasutan dari namja brengsek itu, pikirmu. Akhirnya, dengan mengorbankan harga dirimu lagi sebagai yeoja tomboi, kamu menarik tangan namja yang duduk disebelahmu.

“Hei…” Ucapmu sambil tersenyum. Namja tadi yang awalnya mau pergi bersama dengan teman-teman namja lainnya menoleh.

“Eh…” Dia sedikit canggung. Mungkin karena kamu memegang tangannya. “Wae?”

“Ng… aku kan anak baru disini… kamu bersedia tidak, mengajakku berkeliling sekolah?” Tanyamu masih tersenyum. Kamu sudah mulai jijik dengan senyuman sok imutmu itu.

Tapi tampaknya senyuman sok imutmu itu berhasil menarik namja tadi. “Ne.” Jawabnya. Dia menoleh ke arah teman-temannya. “Hae, Ming, Siwon! Lain kali saja ya tandingnya! Aku ada perlu nih!!” Serunya kepada ketiga namja yang wajahnya biasa-biasa saja (siap2 ditabok Fishy, Pumpkins dan Siwonest ._.v) menurutmu. 3 namja itu mengacungkan jempol.

“Ayo kita pergi.” Ujar namja tadi.

***

            “Siapa namamu?” Tanyamu kepada namja yang sudah 15 menit mengoceh tentang sekolah ini. Dan kamu tidak mendengarkannya sedikitpun.

“Oh iya, aku belum memperkenalkan diri ya. Chonun Lee Hyuk Jae iminda. Tapi aku biasa dipanggil Eunhyuk atau Hyuk.” Jawabnya. “Mm… aku memanggilmu apa ya? Hyun, Ae atau-”

“Hyuna.” Potongmu cuek. Sisi tomboimu mulai keluar.

Eunhyuk memandangmu heran. “Kau ini labil sekali ya. Waktu di depan tadi, kamu ceria banget sampe aku kira kamu yeoja feminim yang sangat terbuka. Tapi setelah kamu menjawab sapaanku tadi di kelas, aku yakin banget kamu cewek yang moodnya cepat berubah. Dan tadi, waktu kamu mengajakku jalan-jalan, sisi feminimmu keluar lagi. Nah, sekarang… kamu jadi kelihatan kayak yeoja tomboi yang nggak pedulian!” Tutur Hyuk panjang lebar.

“Yah, baguslah kalo kamu sudah tau sifat asliku.” Jawabmu masih cuek. Kamu mulai bosan dengan jalan-jalan ini. “Aku lapar, ayo ke kantin.”

“Ne.” Jawab Hyuk merangkulmu tanpa segan.

Di Kantin…

“Hyuk…”

“Ne. Waeyo, Hyun?” Sahut Hyuk sambil memasukkan segulung ramen ke dalam mulutnya.

“Kamu bisa nggak, ceritain tentang namja kurangajar yang tadi bertengkar denganku?”

“Ohh, dia.” Hyuk menaruk sumpitnya. “Namanya Kim Joong Woon. Dia biasa dipanggil Yesung atau Yeppa bagi anak junior. Dia itu, anak tunggal dari pemilik sekolah ini, Kim Soo Man (cr: Lee Soo Man xp). Karena hal ini, Yesung jadi anak yang songong plus belagu banget. Ditambah jabatannya sebagai ketua OSIS, kesongongannya semakin menjadi-jadi. Dia selalu bersikap bossie pada dongsaeng dan hyungnya di sekolah ini. Dia juga nggak jarang bersikap kurangajar sama gurunya kalau gurunya itu memarahinya. Yah, kau lihat tadi kan? Mrs. Hwa diancam sama Yesung…”

Rasa ibamu mulai muncul kepada murid dan guru-guru di sekolah ini. “Dasar namja kurangajar. Selama aku disini, kujamin dia nggak akan bisa ngapa-ngapain.” Tekadmu.

Hyuk menggeleng-geleng, “Hyuna-Hyuna… pertamakali aku ketemu sama yeoja sepertimu.”

“Lalu Hyuk, apa dia punya teman di sekolah ini? Aku kurang yakin…”

“Ani.” Hyuk menggeleng. “Yesung adalah namja yang cenderung lebih suka bekerja sendirian. Dia memang tidak punya teman namja. Tapi kalau fans yeoja… dari kelas junior sampai senior banyak sekali!” Lanjut Hyuk. Kamu manggut-manggut mengerti.

“Dasar babo! Ngapain menjadikan namja jelek itu sebagai idola.” Gerutumu. Meskipun jujur dalam hatimu Yesung sama sekali tidak jelek. “Dia punya yeojachingu?” Tanyamu lagi mulai penasaran.

“Ng…” Hyuk menggaruk kepalanya. “Jujur ya, walaupun Yesung bukan seorang pribadi yang baik, tapi kisah cintanya lumayan mengharukan.”

Kamu semakin penasaran. “Maksudmu? Ceritakan.”

“Dulu, saat masih duduk di kelas 1 semester 2, Yesung pernah cinta mati dengan seorang yeoja. Namanya Kwon Yuri. Dulu-”

“Pertemukan aku dengan yeoja babo itu!” Sambarmu. Kamu benar-benar ingin melihat tampang yeoja bodoh yang pernah menjadi yeojachingunya Yesung.

“Dengarkan aku dulu!” Hyuk berseru. “Dulu Kwon Yuri juga seorang anak baru di kelas Yesung. Ne, sepertimu.” Hyuk melanjutkan. “Dan yang kamu perlu tau, Yuri adalah yeoja yang memiliki sifat 360 derajat berbeda dengan Yesung. Yuri adalah yeoja yang baik. Dia sabar, perhatian dan penyayang. Meskipun dulu Yesung sering sekali menyuruh-nyuruhnya, dia tidak pernah menyimpan dendam pada Yesung. Ne, tidak sepertimu.” Hyuk menjulurkan lidah. Kamu langsung memasang tampang sinis. “Akhirnya, pada pertengahan semester 2, Yesung dan Yuri pacaran. Sejak menjadi namjachingunya Yuri, sikap Yesung kepada anak-anak lain mulai berubah. Dia mulai sopan, sabar dan nggak marah-marah lagi. Semua anak-anak berterimakasih pada Yuri. Yuri nyaris saja membuat dia berubah 100%…”

“Nyaris?” Tanyamu. Hyuk mengangguk.

“Ne, Nyaris.” Hyuk meneguk air mineralnya. “Tapi semuanya berubah saat Yuri kecelakaan 2 bulan yang lalu.” Sekarang wajah Hyuk mulai serius. “Saat itu Yesung mencari masalah dengan preman-preman di dekat sekolah. Dia nyaris saja mati karena bacokan preman itu, tapi, saat preman itu mengayunkan goloknya, Yuri yang berada di sana… memeluk Yesung, sehingga kepalanya yang terkena tusukan…” Tutur Hyuk, menerawang kejadian 2 bulan yang lalu.

Hatimu mulai tersentuh. Pasti Yuri adalah yeoja yang sangat sempurna, gumammu. Tapi kamu tak habis pikir kenapa yeoja baik itu harus memiliki namjachingu tolol seperti Yesung. “Astaga, yeoja itu kasihan sekali. Dia mengorbankan nyawanya cuman buat namja babo seperti Yesung. Paling sekarang namja tidak tahu diri itu sudah melupakannya.” Ucapmu.

Hyuk menggeleng. “Tampaknya sih tidak.” Sekarang Hyuk menoleh ke kanan dan kiri, seolah-olah ia tidak mau ada yang mendengar perkataannya. “Aku tidak sengaja pernah melihat, Yesung duduk di balkon lantai 3, memandangi foto Yuri sambil menangis. Tampaknya dia sangat mencintai Yuri.”

“Oh ya? Bisa juga namja babo itu mengerti cinta.” Ketusmu. Kamu tetap tidak mau mengakui kalau namja itu punya sisi baik. “Kalau dia beneran mencintai Yuri, kenapa dia masih nyebelin?”

“Soal itu aku juga tidak tahu. Mungkin dia depresi berat karena sudah nggak ada Yuri di sampingnya.” Tambah Hyuk. Kamu mulai penasaran dengan yeoja baik itu. Mungkin suatu saat Yesung mau memperlihatkan fotonya.

“Hyuna, balik yok.” Ajak Hyuk sambil berdiri dari kursinya. Kamu mengangguk.

***

            GUBRAK!!!!

“Babo! Jalan liat-liat dong!” Serumu sambil bersedekap tangan. Memandang namja yang terjatuh karena kamu tabrak. Kamu melihat wajahnya. “Hah, kamu toh.”

Namja itu adalah Yesung. Yesung berdiri mengambil tasnya dan langsung memelototi kamu. “Yang babo siapa?! Ya kamulah! Aku yang jatoh kok kamu yang marah-marah.”

“Dasar payah, ketabrak sama seorang yeoja aja jatohnya sampe jungkir balik gitu.” Balasmu.

“Ya itu karena kamu sengaja menabrakku. Jadi aku yang jatoh.” Yesung tak mau kalah. Kamu berdecak.

“Kamu percaya diri banget! Siapa juga nabrak kamu!? Nggak banget!”

“Berani banget kamu ngebentak aku ya, dasar yeoja tolol, kuadukan kepada appaku baru tau.”

“Adukan aja, emangnya siapa kamu?”

“Kamu belum tau siapa aku? Aku ini-“

“JONG WOON! HYUN AE!!” Tiba-tiba Mrs. Hwa menghampiri kami. “Kalian tahu, kalian berisik sekali! Anak kelas 1 sedang menghadapi ulangan harian. So, close your mouth or I will give you something!” Bentak Mrs. Hwa.

“Mi-mianhae, Miss…” Balasmu sopan. Tapi tampaknya tidak dengan Yesung.

“Miss Hwa berani sekali dengan saya. Miss Hwa pikir-”

“Cukup, Jong Woon.” Potong Mrs. Hwa. Yesung terdiam. “Appamu tidak sedang berada di Seoul dan beliau menitipkanmu pada ibu. Jadi ibu harap, selama di sekolah kamu tidak berbuat macam-macam.” Tegas Mrs. Hwa. Kamu menyeringai. “Dan kamu Hyun Ae, kamu anak baru disini. Tolong jangan cari masalah dengan yang lain dan bersikaplah sopan.”

“Ta-tapi, Miss… yang mencari masalah itu Yesung bukan saya!” Kamu tidak rela kamu dibilang seorang pencari masalah.

“Jangan asal bicara babo! Kamu yang menabrakku!” Balasnya.

“Tapi kan bukan aku-”

“STOP!!!!” Bentak Mrs. Hwa sangat keras. Seluruh murid-murid kelas 1 yang sedang ulangan langsung menoleh ke arah kalian bertiga. “Kalian membuat saya marah, kalian saya hukum mengepel aula sekolah pulang sekolah!”

“Mwo?!” Kamu terkejut. Kamu benar-benar tidak suka melakukan hal itu karena kamu memang tidak punya bakat pembantu sedikitpun.

“Ani. Aku tidak akan melakukannya.” Ujar Jong Woon dengan congkak. Sudah tau Mrs. Hwa sedang marah dia masih saja kurangajar, katamu dalam hati sambil melirik sinis namja itu.

“Tidak bisa. Kalian berdua harus melakukan tugas ini kalau tidak nilai bahasa Inggris kalian di rapor ibu turunkan.” Ancam Mrs. Hwa.

“Ta-tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian, Hyun Ae.” Potong Mrs. Hwa. “Silakan kembali ke kelas sekarang.” Suruh yeoja itu, sambil berjalan memasuki kelas yang tadi dia ajar. Yesung melirikmu tajam.

“Baboae, ini semua gara-gara kamu tau?!” Serunya. Pertama kali ada seorang namja yang memanggilmu Aebabo.

“Namaku Hyun Ae! Bukan baboae!” Ketusmu.

“Apalah itu…” Ucap Yesung cuek. “Tidak penting bagiku.” Tambahnya. Langsung berjalan membelakangimu. Kamu sudah benar-benar naik pitam. Namja itu sudah menguras tenagamu begitu banyak.

Di kelas…

“Hyun, kamu lama sekali. Kemana saja kamu?” Tanya Hyuk sambil membereskan buku-bukunya ke dalam laci ketika kamu baru datang. Matamu langsung menuju ke arah seorang namja di belakang Hyuk yang sedang membaca buku sambil memakan permen karet.

“Tanya saja pada namja sialan itu.” Jawabmu sambil mengempaskan pantat di kursi. Hyuk menoleh sesaat kepada Yesung. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Sudah kubilang jangan cari ribut sama dia.” Komentar Hyuk.

“Enak saja. Tidak sudi aku cari ribut sama dia. Dianya aja yang pengen ribut sama aku.” Gerutumu, masih sebal dengan kejadian tadi.

“Sudah, moodmu nggak akan ngebaik kalo kamu mikirin dia terus.”

“Babo! Nggak mungkin aku mikirin namja sialan itu.” Protesmu memukul Hyuk. Hyuk hanya tertawa.

“Eh, Hyun… pulangan ada acara nggak? Kita makan bareng yuk!” Ajak Hyuk. Kamu menggeleng.

“Ani. Aku tidak bisa, Hyuk.” Jawabmu. Hyuk sedikit heran dengan jawabanmu.

“Wae?” Tanyanya.

“Aku dihukum oleh Miss Hwa ngepel lantai aula sehabis pulang sekolah. Mianhae Hyuk…”

“Mwo?” Hyuk terkejut. “Waeyo?”

“Gara-gara tadi aku dan Yesung bertengkar, Mrs. Hwa menyuruh kami berdua mengepel aula sepulang sekolah.” Jawabmu cuek. Kamu tidak menyadari muncul sedikit amarah di wajah Hyuk.

“Hanya berdua?!” Suara Hyuk sedikit ditekan. Kamu hanya mengangguk.

“Ani.” Tiba-tiba dari belakang Yesung nyerocos. Dia berdiri. “Aku tidak akan ikut. Kau saja. Aku tidak berminat.” Ujarnya langsung berjalan melewati meja kamu dan Hyuk dengan gaya sok cool.

“Kamu nggak bisa seenaknya gitu dong!” Bantahmu langsung berdiri. “Miss Hwa menyuruh kita berdua yang  mengepelnya! Masa kamu membebankan semuanya kepadaku! Jangan seenak udelmu gitu dong!”

“Aku pemilik sekolah disini, aku berhak menolak apa saja yang aku tidak mau.” Balas Yesung masih berjalan.

“Dasar namja brengsek!” Gerutumu. “Bisa-bisanya ya, yeoja baik seperti Kwon Yuri mau pacaran denganmu.”

Yesung langsung menghentikan langkahnya. Eunhyuk terkejut mendengar ucapan terakhirmu. Anak-anak sekelas juga langsung hening.

Kamu menoleh ke penjuru kelas. Kamu bingung karena semua anak menatapmu. Kamu memikirkan apa kesalahanmu. “A-ada apa?” Tanyamu gugup.

Yesung berbalik badan dan langsung berjalan ke arahmu. Wajahnya garang sekali. Tampaknya ini bukan hal yang baik. “Jangan pernah bawa-bawa Yuri ke dalam masalah kita! Kamu tidak tau apa-apa soal dia! Kamu tidak tau apa-apa soal kita berdua!!!!” Bentak Yesung keras sekali. Sial, telingamu sudah mendekati ketulian.

“Ani, aku tau tentang kamu dan Yuri! Aku tau soal cintamu padanya, aku tau soal kecelakaan yang menimpanya, aku tau soal sifatnya dan sikapnya padamu!” Bantahmu tak mau kalah.

Yesung sekarang menatap Hyuk. “Pasti kau kan, namja sialan yang yang menceritakannya pada yeoja tolol ini?!” Hyuk hanya diam.

Yesung masih menatap Hyuk dengan tatapan pembunuh. Seisi kelas belum ada yang berani berbicara.

“Camkan ini sekali lagi semuanya, jangan pernah ada yang bawa-bawa nama Yuri saat berbicara padaku! Ingat kalian semua!” Serunya. “Termasuk kamu, Baboae!” Dia membalikkan badan. “Aku akan datang ke aula sepulang sekolah nanti. Kubuktikan bahwa aku pantas untuk Yuri.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, dia langsung berjalan meninggalkanmu. Seisi kelas kembali normal.

“Baguslah, dengan itu aku tidak perlu kerepotan mengepel sendiri.” Ujarmu sambil duduk.

“Kamu gila ya? Kamu tau nggak sih apa yang barusan kamu lakuin tadi?” Eunhyuk langsung memarahimu. “Yesung sangat tidak suka kalau ada orang yang mengingatkannya kembali pada Yuri! Seorang namja pernah diskors 5 hari hanya karena menyebut nama Yuri dalam pembicaraannya. Padahal sebenarnya hubungan Yesung dirahasiakan sama orang baru…”

“Kamu berlebihan sekali, Hyuk.” Balasmu enteng. Kamu memegang pundah Hyuk. “Aku sama sekali tidak takut dengan Yesung. Dia memang namja lebay. Begitu saja marah.”

“Tapi Hyun…”

“Lagian, kalau memang hal ini rahasia, kenapa kau menceritakannya padaku?”

“Yah kan aku tidak menyangka kalau kamu bakalan mengumbar-ngumbarnya di depan kelas…” Hyuk tampak sangat lelah berbicara denganmu. Kamu nyengir.

“Lagipula…” Hyuk langsung menunduk. Kamu langsung heran dengannya.

“Lagipula apa?” Tanyamu. Hyuk langsung menggeleng.

“Anio! Nggak jadi.” Sekarang Hyuk yang nyengir. Kamu memukulnya.

***

            “Hei, dasar bodoh. Kita disini untuk ngepel! Bukan makan-makan!” Serumu pada Yesung sambil menopangkan badan pada pel yang kamu pegang.

Setelah bel pulangan berbunyi, kamu langsung pergi ke aula, berharap tugas ini akan cepat selesai. Yesung juga menepati janjinya untuk datang ke aula. Tetapi apa yang terjadi? Selama 1 jam dia hanya membaca buku dan makan, sambil sesekali melihatmu yang sedang kesusahan setelah itu tertawa. Tanpa memegang kain pel sedikitpun.

“Diam kau Baboae!” Seru Yesung tanpa mengalihkan padangannya dari buku yang dia baca. Dia melahap potato chips nya sekali lagi.

“Tapi kau sudah janji mau ikut ngepel! Ini demi Yuri kan?!” Serumu kesal tanpa sadar menyebut nama Yuri.

Yesung menutup bukunya. Dia menatapmu. “Aku hanya berjanji untuk datang kesini, bukan untuk mengepel. Dan ini bukan demi siapa-siapa. Kamu ingatkan perkataanku di kelas tadi? Aku tidak suka ada yang menyebut nama Yuri dihadapanku.”

“Aku tidak peduli.” Kamu sudah sangat marah dengan namja songong itu. “Kamu sudah berlebihan! Yuri sudah tiada! Dia sudah nggak ada di dunia ini! Kalau kamu mencintai dia dan merasa menyesal karena telah membuatnya meninggal, tidak usah berlebihan seperti ini! Apapun yang kamu lakukan supaya kamu tidak teringat lagi dengannya, tidak akan berhasil! Karena kenangan memang diciptakan untuk diingat! Pindah, Yesung! Pindah ke lain hati! Berhenti mencintainya! Tidak ada gunanya lagi mencintainya!!!” Bentakmu keras. Kata-kata barusan langsung saja mengalir dari mulutmu. Kamu langsung sadar apa yang baru kamu ucapkan. Kamu langsung menutup mulut dengan kanan kirimu.

Yesung membatu. Dia tidak menjawab apa-apa. Entah karena halusinasi atau keliatannya saja, kamu melihat Yesung menitikkan air mata. Tapi hanya sekilas. Dia berjalan ke arahmu dan langsung merebut pel yang kamu pegang. Kamu tidak melawan. Ya, jelas saja kamu sudah menghancurkan hatinya.

‘Tidak, aku tidak salah. Memang benar dia sudah berlebihan.’ Pikirmu. Kamu benar-benar tidak tega tapi tidak mau juga merasa bersalah. Dilema pun menyerang.

***

            Jam sudah menunjukan pukul setengah 6 sore. Kamu menaruh semua pel dan ember ke dalam kloset. Kamu menyandarkan dirimu di tembok. Kamu sangat lelah. Mana kamu tidak punya minum lagi.

Yesung juga sudah selesai saat itu. Selama 2 jam, kamu dan dia sama sekali tidak berbicara. Benar-benar akward moment. Mau diapakan lagi, memang tidak ada sih yang perlu kalian bicarakan.

Yesung mengambil tasnya. Dia berjalan ke arahmu. Dia melemparkan sebotol air putih yang langsung kamu tangkap. Kamu memandangnya.

“Ternyata pekerjaan seperti ini tidak gampang. Aku benar-benar capek. Apalagi kau, yang sudah memulainya setengah jam sebelum aku. Minumlah itu.” Ucapnya dengan suara sedikit serak. Dugaanmu benar. Dia sempat menangis sekilas.

“Gomawo…” Jawabmu gugup. Kamu langsung meneguk sebotol air putih itu dengan seenaknya tanpa kira-kira. Kamu memang haus saat itu.

Yesung sudah mau pergi. Begitu juga kamu. Tapi kamu baru sadar kalau sebelum pulang harus telpon dulu supaya dijemput.

“Sial! Kenapa batereku pake habis!” Serumu frustasi memandang layar handphonemu yang sudah tidak bisa dinyalakan. “Bagaimana ini? Bakalan tersesat aku kalau pulang sendiri.” Kamu langsung mencari bala bantuan. Kamu melihat Yesung. Dia sedang berjalan sambil memainkan handphonenya.

“Biar saja lah, aku sudah tidak peduli dengan imejku.” Dengan gesit kamu mengejar Yesung. Yesung menoleh saat tau kau mengejarnya.

“Wae?” Tanyanya. Entah karena ada setan lewat atau apa, kamu merasa Yesung cool sekali saat itu.

Plak! Kamu menampar dirimu sendiri. Ini bukan saat yang tepat, Hyuna! Pikirmu. Yesung heran melihatmu.

“Kamu gila ya?” Tanya Yesung dengan muka tanpa dosa. Kamu menjadi manyun.

“Ng, aku mau pinjam handphonemu dong. Aku mau telpon appaku. Hehe, mian ya, soalnya aku nggak tau jalan dan nggak bisa pulang sendiri.” Ujarmu sambil nyengir-nyengir evil. Yesung kembali menoleh ke depan.

“Ani.” Jawabnya. Kamu jadi terkejut.

“To-tolonglah. Aku sangat membu-”

“Biar kamu kuantar pulang.” Potong Yesung. Kamu terkejut mendengarnya.

“A-ani. Tidak usah! Biar aku menelpon appa-”

“Mau ikut denganku atau bermalam disini? Terserah kau saja sih.” Ucap Yesung masih membelakangimu. Terpaksa kau harus mau.

“Ne.” Ucapmu. Yesung tersenyum tanpa kau ketahui dan melanjutkan jalannya. Kamu mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba, secarik kertas jatuh dari salah satu kantong tas Yesung. Kamu mengambilnya.

Ternyata itu bukan kertas biasa, itu sebuah foto. Di dalam foto tersebut ada seorang yeoja cantik berambut panjang yang wajahnya mirip dengan Seohyun, yeoja sekelasmu. Yeoja itu sedang duduk di bangku sekolah dan tersenyum ke arah kamera. Yeoja itu benar-benar cantik. Apa mungkin dia Kwon Yuri?

“Baboae! Kamu lama sekali! Apa yang kamu-” Yesung menoleh ke arahmu. Dia melihatmu sedang membungkuk sambil memandangi foto tadi. Kamu langsung menyadarinya.

“Ah… mian, Yesung. Tadi foto ini jatuh dari salah satu kantong tasmu. Jadi kupungut.” Ujarmu sambil memberikan foto itu kepada Yesung.

Yesung lama sekali memandang foto yeoja cantik itu. ‘Tampaknya yeoja ini memang Kwon Yuri…’ Gumammu. Entah kenapa kamu merasa sedikit kecewa.

“Hmm…” Yesung menangis. Kamu terkejut. “Tampaknya memang ini sudah waktuku untuk melupakannya.”

“A-aah… Yesung? Kenapa kamu menangis? Kamu nggak apa-apa?” Kamu menjadi panik. Kamu sekarang merasa bersalah karena menyuruh Yesung melupakan Yuri. Kamu yakin malam ini hantu Kwon Yuri mendatangi kamarmu.

“Ayo kita pergi.” Ujar Yesung. Ia memasukkan foto tadi ke dalam saku celananya. Dan langsung beranjak pergi. Kamu hanya mengangguk menurutinya.

***

            Mobil Yesung melaju dengan kecepatan penuh. Dadamu berdegup dengan kencang. Tapi bukan karena takut. Soalnya Appamu juga kalau bawa mobil sengebut ini, bahkan bisa lebih ngebut kalau sendirian. Ada hal lain. Ada hal lain yang membuat dadamu tidak berhenti berteriak.

Kamu menatap Yesung yang sedang menyetir. Tangannya begitu lihai membelokkan kemudi dan mengganti perseneling. Pandangannya hampa. Pikirannya sedang melayang-layang.

“Yesung…” Panggilmu.

“Wae?” Sahutnya tanpa menoleh ke arahmu. Dia membelokkan kemudi ke arah kiri.

“Kenapa kamu? Kamu masih memikirkan Yuri ya?” Tanyamu takut-takut salah omong. Yesung hanya diam. “Em… jeongmal mianhae soal perkataanku di aula tadi. Aku sama sekali nggak bermaksud soktau dengan perasaanmu ke Yuri. Aku ngerti kok rasanya ditinggal sama kekasih sendiri.” Akhirnya kata-kata itu berhasil keluar juga setelah 2 jam kamu menahannya. Walaupun sedikit mengorbankan gengsi.

“Gwaenchana, baboae.” Lagi-lagi dia memanggilmu baboae. Suasana yang awalnya dramatis langsung berubah seketika gara-gara perkataannya tadi. “Sebenarnya memang harusnya aku nggak bersikap begini sih. Aku terlalu berlebihan ingin melupakan Yuri. Ng… aku tau kamu anak baru. Tapi boleh aku berbagi?” Tanyanya, menatapmu sekilas dan langsung memandang jalan lagi.

“Ne.” Jawabmu. “Ceritalah.”

“Yuri… dia adalah yeoja paling sempurna yang pernah aku temui. Aku sering dibuat heran olehnya karena setiap aku memerintah atau membentaknya, dia tidak pernah marah dan membantah. Itu hal biasa jika dia salah satu dari fansku. Tapi kenyataannya dia bukan fansku. Dia tidak mau membantahku karena dia merasa aku benar. Meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang benar dari ucapanku selama ini…”

“Akhirnya kamu sadar juga.” Komenmu cuek. Yesung melirikmu sinis.

“Akhirnya 6 bulan sebelum terjadi insiden itu, dia bersedia menjadi yeojachinguku. Aku sangat bahagia saat itu. Aku menganggap tidak ada lagi namja sebahagai aku saat itu…” Yesung melanjutkan. “Dia sering menasihatiku supaya bersifat sopan dan menghargai kepada orang lain, terutama yang lebih tua. Karena cintaku padanya yang begitu kuat aku menurutinya. Dan ternyata itu mudah. Yuri semakin cinta padaku. Begitu sebaliknya…” Yesung tersenyum tipis mengingat masa lalu yang indah itu.

“Ohhh…” Kamu menanggapi dengan senyum. Kentara sekali senyummu itu bukan sebuah senyuman murni. Entah kenapa kamu jadi ingin menutup telinga dan tidak mau mendengar masa lalu Yesung lagi.

“Tapi kecelakaan itu datang, 2 bulan yang lalu. Awalnya aku hanya main-main dengan preman-preman itu. Karena supirku yang jago beladiri itu sedang berada di sampingku, aku sama sekali tidak takut. Tapi, ternyata supirku menghilang. Entah pergi kemana. Kedua preman itupun mengejarku. Meskipun aku mengenali beberapa jurus taekwondo tapi tetap saja aku belum berani mempraktekannya. Apalagi objeknya bukan orang biasa. Aku pun dikejar sampai jalan buntu. Yang benar-benar membuatku takut, kedua preman itu membawa pisau besar sekali. Aku hanya bisa pasrah saat itu. Saat salah satu preman mengayunkan pisaunya, entah kenapa yang kurasakan bukannya rasa sakit malahan pelukan hangat. Aku juga merasa sehelai rambut indah menggelitiki hidungku. Saat aku membuka mata… di-dia… dia…” Seketika air mata Yesung berjatuhan. Kali ini Yesung tidak berusaha menyembunyikannya lagi.

“Hmm…” Kamu menatap Yesung yang masih menangis. “Mian ya, aku bukan orang yang bisa ngehibur orang lain. Aku cuma pengen bilang, kamu sabar ya menghadapi kejadian ini. Mianhae soal omonganku di aula tadi. Sebenarnya bukan masalah kalau kamu masih cinta sama Yuri. Itu artinya, cintamu tulus. Hanya saja tolong jangan lampiaskan kejadian ini kepada orang lain yang nggak bersalah.” Ucapmu. Yesung memberhentikan mobilnya mendadak. Kamu terpelanting ke depan. ‘Sial, namja ini masih suka aja cari masalah.’ Ketusmu dalam hati sambil memegangi kepalamu.

“Kenapa berhenti?” Tanyamu. Yesung diam. Dia menatapmu. Tiba-tiba saja dadamu berdegup tanpa kendali.

“Mianhae, baboae.” Ucapnya masih menatapmu. “Aku sangat mencintai Yuri. Tapi aku tidak mau mengingat apapun tentangnya. Karena itu hanya bisa membuatku sedih. Aku jadi bingung apa yang harus kulakukan supaya aku bisa mengenang Yuri tetapi tidak sedih jika mengingatnya.” Tambahnya.

“Aku pikir…” Kamu tiba-tiba terpikirkan ide cemerlang. “Kalau kamu masih mencintai Yuri, terusilah jejaknya.”

“Mwo?” Yesung menatapmu semakin dalam.

“Jadi, mulai sekarang kamu harus merubah sikapmu kepada orang lain. Kamu harus bisa bersikap baik dan sopan seperti Yuri. Kamu harus menyayangi dongsaengmu dan menghormati hyung serta gurumu. Aku yakin, Yuri bakalan bangga banget padamu di alam sana.” Ujarmu tersenyum. Bukan menyeringai. Tapi benar-benar tersenyum tulus.

Yesung menghadap ke jalan lagi. Tapi belum menjalankan mobilnya. Kamu juga tidak menatapnya. Sekali lagi ini adalah awkward moment.

“Tapi kamu janji ya.” Ucap Yesung menoleh sekilas ke arahmu. Kamu langsung heran.

“Janji? Janji untuk apa?” Tanyamu bingung. Kalian kan sama sekali nggak ada membuat perjanjian.

“Kamu harus janji sama aku buat bantuin aku ngerubah semua ini.” Sekarang Yesung menatapmu. Dadamu berdegup tak keruan lagi. Sialan! Gumammu, kenapa aku deg degan gini!!

Kamu pun menarik nafas panjang-panjang berusaha membuat semuanya biasa saja. “Ne. Aku akan membantumu.” Ujarmu. Yesung tersenyum.

“Bisa juga ya namja seperti kamu tersenyum.” Ucapmu pelan.

“Mwo? Kamu pikir aku saram seperti apa?” Sambar Yesung. Kamu langsung terkejut karena Yesung mendengar perkataanmu.

“Sudah malam, cepat bawa aku pulang!” Serumu.

“Dimana alamat rumahmu?” Tanyanya sambil menarik rem dan menginjak gas. Mobil mulai berjalan.

“Bukankah sudah pernah aku beritahu?” Balasmu.

“Ani. Kapan?”

“Sudahlah, aku capek berdebat denganmu.” Ketusmu. “Minhyong 15.” Yesungpun melajukan kembali mobilnya membelah jalan.

***

            “Tadi malam aku datang ke rumahmu.” Ujar Hyuk sambil menulis catatan Matematika di papan tulis.

“Jinjja?” Sahutmu tanpa menoleh dari buku Matematikamu. “Aku tidak tahu.”

“Memang,” jawab Hyuk. “Sebab kau belum pulang.” Ujarnya, menaruh bolpoinnya di atas meja dan menoleh ke arahmu. “Kamu kemana saja?”

“Loh, bukannya aku sudah bilang aku bersih-bersih aula?” Balasmu masih menatap buku Matematikamu.

“Ne, aku tau. Tapi aku datang pukul setengah 7 malam, masa kamu belum pulang?”

Kamu berhenti membaca dan langsung menoleh ke arah Hyuk. “Ada sedikit hal kecil yang perlu dibereskan. Lagian kau kenapa sih? Pengen tau banget.”

“Hal kecil apa? Aku kan yarrobunmu. Masa aku nggak berhak tau?”

“Ani. Kamu memang nggak berhak tau.” Jawabmu kembali menatap buku Matematika.

“Sudahlah, mianhae. Ayo kita ke kantin.” Ajak Hyuk menutup bolpoin dan bangkit dari bangkunya. Tidak sengaja dia menabrak Yesung yang sedang membawa minuman di belakangnya.

“Aduh!” Gelas minuman itu terjatuh. Untungnya hanya gelas plastik. Tapi isinya berhamburan kemana-mana. Hyuk langsung menoleh ke belakang. Dia tampak gelisah.

“Ah! Mian, Yesung! Aku benar-benar tidak sengaja! Mian!” Hyuk langsung memohon maaf di depan Yesung. Yesung memandangnya sebentar.

“Gwaenchana, itu cuma minuman.” Yesung menepuk pundak Hyuk pelan. Hyuk langsung terkejut. ‘Yakin dia tidak memarahiku?’ Pikir Hyuk. Anak-anak sekelas yang menonton kejadian itu juga ikut terkejut.

Yesung menatapmu. Dia tersenyum. Kamu ikut tersenyum. Hyuk yang tak sengaja melihat kalian berdua saling berbalas senyum menjadi heran. Dan dibalik wajah herannya itu tampak kemarahan yang membara.

“Ayo kita pergi, Hyuk.” Suaramu langsung membuyarkan lamunan Hyuk. Hyuk mengangguk sambil memandang sekilas Yesung.

***

            “Hyun, kamu ada hubungan apa dengan Yesung?” Tanya Hyuk tiba-tiba. Hatimu langsung dag dig dug tak keruan lagi. Kamu langsung tersedak.

“Hei, ada apa? Ini minum!” Hyuk menyuguhkan air mineralnya yang tinggal setengah. Kamu meneguknya tanpa tahu diri.

“Hhh… hhhh…” Kamu berusaha mengembalikan nafasmu. ‘Ada apa sih ini?! Sialan! Kenapa aku gugup kayak gini?!’ Gumammu. “Ta-tadi kamu nanya apa,  Hyuk?”

Dengan sabar, Hyuk mengulang kata-katanya, “kamu ada hubungan apa dengan Yesung?” Ucapnya sekali lagi sambil menatampu dalam. Kamu berusaha mencari kata-kata yang tepat.

“Ng… nggak ada hubungan apa-apa. Dia cuma seorang chingu. Memangnya kenapa?” Tanyamu balik.

“Hmm…” Hyuk kembali menatap jalanan lorong. “Tidak sih, hanya saja tadi aku sempat melihatmu bertukar pandang sama dia. Ya tapi… kalo memang nggak kenapa-napa yaudah.”

“O-ooh…” Kamu menelan ludah. Berusaha terlihat santai. Kamu memukul-mukul dadamu supaya berhenti berdegup.

“Hyun, kemarin kan kita tidak jadi makan bersama, gimana kalo nanti abis pulang sekolah? Kamu mau?” Tawar Hyuk. Kamu tampak berpikir sebentar.

“Ne. Aku nggak ada acara sepulang ini.” Ujarmu. Hyuk tampak senang. “Tapi traktir ya?!!” Godamu. Wajah Hyuk langsung berubah melas. “Hahaha, ani-ani. Bercanda.” Wajah Hyuk berubah normal.

“Omong-omong,” kamu melanjutkan. “Kamu mengerti soal cinta nggak, Hyuk?”

Hyuk sedikit terkejut, tapi kemudian menjawab. “Pertanyaanmu aneh sekali. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

Kamu menaikkan satu alismu. “Mmm… ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu.”

“Mungkin aku mengerti. Apa yang ingin kamu tanyakan?”

Kamu memutar bola matamu. “Kamu percaya nggak sih, kita bisa suka sama seseorang itu dalam pandangan pertama?” Tanyamu. Hyuk kaget mendengar pertanyaanmu.

“Kok kamu nanya gitu?” Tanyanya balik.

“Sudahlah, jawab saja.” Ketusmu.

Hyuk tampak berpikir. “Ng… gimana ya? Kalo menurutku sih bisa aja sih. Soalnya kan cinta itu nggak memilih. Cinta itu nggak pandang waktu, seberapa lama kalian udah kenal.” Ujar Hyuk masih berpikir. “Emangnya kenapa, Hyun? Kamu lagi suka sama orang?”

“Ani!” Bantahmu. “Aku kan cuma bertanya! Dasar sok tau!” Gerutumu. Hyuk tertawa.

“Habisnya kamu juga sih, nanya-nanya kayak begituan.” Ujarnya. “Tapi beneran nggak ada apa-apa? Tumben aja yeoja se tomboi kamu nanyain soal cinta.”

Bola matamu bergerak tak keruan. Ragu apakah perasaan yang kamu rasa ini harus kamu bagi dengan Hyuk. “Sebenarnya… ada sesuatu yang mau aku ceritain.”

“Ceritalah.”

“Jadi begini, kemarin waktu Yesung mengantarku pulang-”

“Mwo?! Yesung mengantarmu pulang?” Hyuk langsung kaget. Kamu memandangnya heran.

“Ne. Memangnya kenapa?” Tanyamu. Hyuk diam.

“A-ani. Lanjutkan.” Ujarnya kembali menatap ke depan.

“Kemarin, waktu Yesung mengantarku pulang, dia bercerita banyak tentang Yuri dan dia. Tentang cintanya, tentang Yuri sendiri, tentang kejadian itu…” Lanjutmu, berusaha menerawang kejadian kemarin sore. “Tapi sebelum itu, aku sempat marah-marah di aula kepadanya karena dia terlalu terobsesi untuk melupakan Yuri dengan melarang orang-orang disekitarnya menyebut nama yeoja itu. Aku jadi sangat kasihan padanya, dia begitu mencintai Yuri…”

“Terus?” Sela Eunhyuk. “Terus apa hubungannya denganmu? Daritadi kamu cuma menceritakan Yesung dan Yuri.”

“Oh itu ya,” kamu nyengir sendiri. “Entah kenapa waktu ngobrol dan dekat dengannya aku tuh ngerasa… mmm… apa ya? Aku sendiri bingung mendeskripsikannya. Yang jelas aku ngerasa ada sesuatu yang beda gitu. Dadaku suka deg-degan sendiri. Menurutmu itu kenapa ya?” Kamu menatap Hyuk. Hyuk hanya diam membeku menatap tanah. “Itu nggak berarti aku suka sama Yesung kan? Dari awal kan aku udah benci banget sama namja belagu kayak dia… hmm… walaupun sebenarnya aku agak ragu sih membenci dia.” Tambahmu. Kamu melihat Hyuk yang hanya diam tanpa menghiraukanmu sedikitpun.

“Hyuk! Eunhyuk! Kamu kenapa? Kok diem aja?” Panggilmu sambil memukul-mukul pundak Hyuk beberapa kali.

“Eh, ne. Waeyo Hyuna?” Hyuk langsung menoleh kepadamu dengan tampang gugup.

“Waeyo?! Jadi dari tadi kamu nggak dengerin aku?!” Serumu kesal. Kamu langsung melipat tanganmu di dada.

“Ng, Hyuna, aku baru ingat ada hal penting yang harus kukerjakan sekarang. To mannayo, Hyuna!” Hyuk melambaikan tangan ke aramu sekilas dan langsung berlari meninggalkanmu di koridor sekolah.

“Hyuk kenapa sih? Biasanya dia penasaran banget kalo aku cerita apa-apa.” Gerutumu sambil memandang Hyuk yang mulai menghilang dari pandanganmu. “Yah, jadi sekarang aku makan sama siapa dong? Hyuk pabbo!”

“Sama aku aja.” Terdengar suara namja dari belakangmu. Kamu menoleh. Yesung berdiri di belakangmu. Dadamu berteriak-teriak lagi.

“Kamu kok ada disini?” Tanyamu gugup. Dia tersenyum.

“Aku juga mau ke kantin. Kebetulan bertemu kamu disini. Kita bersama aja.” Tawarnya.

Kamu hanya bisa mengangguk. “N-ne.”

***

            “Gomawo, baboae.” Ucap Yesung tiba-tiba saat kalian berdua selesai makan.

“Sampai kapan sih kamu memanggilku baboae? Namaku Kim Hyun Ae!” Serumu sebal. “Omong-omong, terimakasih buat apa?”

“Atas usulmu. Karena mengikuti usulmu, sekarang aku mulai bisa merelakan Yuri.” Ucapnya tersenyum tanpa memedulikan pertanyaanmu yang pertama.

“Ohh, begitu. Baguslah. Jadi, sekarang kamu sudah merasa baikan gitu?”

Yesung langsung menatapmu sinis. “Apa yang kamu maksud dengan baikan? Kamu pikir aku sakit?” Suasana yang tadinya romantis langsung buyar gara-gara namja satu ini.

“Yesung-Yesung. Kamu memang nggak pernah bisa serius ya? Udah romantis gini keadaannya malah kamu nanya yang enggak-enggak. Maksudku tuh keadaan kamu udah membaik belum? Kamu udah bisa lupain Yuri belum?”

“Nah, tadi kan aku udah bilang, ‘sekarang aku mulai bisa merelakan Yuri’ masa kamu nggak denger? Kalo denger ngapain nanya lagi?” Balasnya tak mau kalah. Kamu menepuk jidatmu. Memang nggak ada berhentinya kalo berdebat sama orang ini.

“Terserah kamu saja lah. Ayo kita ke kelas!” Ajakmu sambil menarik tangan Yesung. Mau tak mau dengan kekuatanmu sebagai pemegan sabuk dalam ilmu beladiri, Yesung ikut berdiri. Tapi karena tanpa persiapan, tak sengaja Yesung tersandung kaki meja.

‘BRUUK!’ Yesung jatuh menimpamu. Hidungmu mencium lantai dan terdengar bunyi ‘krek’. Darah mengalir dari hidungmu.

“Ah, baboae… mianhae! Aku tadi tersandung! Beneran deh aku nggak sengaja, mianhae baboae! Eh, Hyunae!” Yesung langsung bangkit dan berlutut dihadapanmu. Jujur, kamu sebal. Karena hidungmu jadi terasa sakit banget. Tapi kamu benar-benar tidak tega untuk marah dengannya.

“A-aw…” Semakin banyak darah yang keluar dari hidungmu. Tampaknya tulang hidungmu patah. Yesung jadi semakin panik.

Yesung mengambil saputangan biru dari kantongnya. “Sakit ya? Darahmu banyak banget keluar. Sini kubantu…” Yesung mengelap darah yang membasahi setengah wajahmu. Dia mendekat sehingga mempersempit jarak diantara kalian berdua. Tangannya berhenti. Dia menatapmu.

Menyadari hal itu kamu juga menatap matanya. Dadamu berdegup kencang lagi. Kamu melupakan rasa sakit dihidungmu. Kalian bertatapan cukup lama seolah-olah dunia hanya milik kalian berdua. Kamu merasakan sesuatu yang tidak biasa. Kamu berusaha untuk mengalihkan pandanganmu ke arah lain tapi tidak bisa. Seolah-olah ada magnet yang terus menarikmu agar menatap namja ini.

“Yesung!” Terdengar suara namja dari belakangmu yang langsung membuatmu kaget. Yesung langsung menarik tatapannya dan menjauh darimu dengan terburu-buru. Kalian berdua langsung gugup.

“N-ne! Ada apa?” Sahut Yesung menoleh ke arah namja itu yang tak lain adalah Donghae. Dia terlihat seperti menahan senyum. Mungkin karena melihat kejadian tadi. Kamu malu berat.

“Kamu dipanggil Miss Hwa supaya ke kantornya. Katanya ada hal yang perlu dibicarain tentang pesta kelulusan anak kelas 3 nanti.” Ucap Donghae. Dia mengalihkan pandangannya ke arahmu yang masih terduduk. “Eh, annyeong Hyun Ae!” Sapanya. Kamu hanya mengangguk.

“Oh, yaudah. Aku segera kesana.” Ujar Yesung. Kau pikir dia akan langsung pergi meninggalkanmu. Tapi ternyata dia mengulurkan tangan kepadamu. Kamu menerima uluran itu dan bangkit sambil memegangi hidungmu. “Mianhae, baboae, eh, Hyunae. Aku pergi dulu nanti kucarikan perban.” Bisiknya pelan dan langsung berlari menjauhimu mendekati Donghae. Hanya dalam beberapa detik 2 namja itu sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Kamu menoleh ke bawah. Kamu merasa menginjak sesuatu. Oh, ternyata saputangan Yesung tadi.

‘Namja itu…’ Kamu memandangi saputangan Yesung sambil tersenyum. ‘Plinplan sekali… kadang ngeselin, kadang baik, kadang menyusahkan, kadang…’ Kamu berhenti melanjutkan kalimat dalam pikiranmu itu. Kamu bingung merangkai kata. ‘Kadang mampu membuatku merasa…’

“Hyuna!” Terdengar suara Hyuk dari belakang. Kamu menoleh. Hyuk berdiri disana dengan tampang cemas. Dia berlari ke arahmu. “Hyuna! Kamu kenapa? Hidungmu berdarah banyak! Apa yang terjadi? Kamu nggak kenapa-napa?” Tanya Hyuk panik sambil memegang wajahmu. Kamu tersenyum sambil menangkis tangan Hyuk dengan lembut.

“Gwaenchana, Hyuk. Aku nggak kenapa-napa. Hanya tadi ada insiden kecil aja.” Jawabmu. Tapi jawabanmu tetap tidak membuat Hyuk merasa kamu baik-baik saja.

“Insiden apa?” Tanyanya. Matanya menangkap saputangan yang kau genggam dengan erat. “Itu saputangan siapa? Milikmu?”

Kamu memandang saputangan itu sebentar. Dan tersenyum. “Ani, Hyuk. Sudah abaikan saja. Ayo kita ke kelas.”

***

            Sebulan telah berlalu sejak hari pertamamu menginjak Daeyoung High School. Sekarang kamu dan Yesung sudah dekat sekali. Tetapi hubunganmu dengan Hyuk juga tidak memburuk. Kini Yesung sudah berubah total. Sekarang dia sudah bisa menghargai orang lain dengan tulus. Seantero sekolah juga sudah mengenalmu karena kedekatanmu dengan Yesung. Khususnya karena kamu yang telah merubah Yesung. Kini semua orang tau kalau kamu adalah Yuri kedua.

Yuri kedua… setiap kamu mendengar itu entah kenapa hatimu menjadi sesak. ‘Ah, chukkae, Hyun! Kamu adalah Yuri kedua!’ ‘Gomawo, Hyun! Kamu memang benar-benar Yuri kedua!’ Kata-kata itu keluar dari mulut teman-temanmu. Memang semua menganggapmu sebagai Yuri kedua karena berhasil meneruskan jejak Yuri. Ya, kamu cuma Yuri kedua. Kamu tidak bisa jadi Hyuna pertama yang berhasil merubah Yesung, tapi kamu adalah Yuri kedua yang berhasil meneruskan jejak Yuri.

“Annyeong baboae!” Yesung menepuk pundakmu dari belakang. “Sepagi ini ngapain kamu melamun?” Tanyanya sambil melempar tasnya ke bangku belakang, bangkunya. Sekarang dia menduduki tempat Eunhyuk.

“Yesung…” Panggilmu pelan masih menatap ke bawah. “Menurutmu aku siapa sih?”

Yesung sedikit heran mendengar pertanyaanmu. “Hahaha, kamu ngapain sih bertanya kayak gitu? Ya kamu Hyuna lah! Memangnya kamu mau jadi siapa?” Sahutnya. Kamu menoleh ke arahnya pelan.

“Kamu yakin aku adalah Hyuna? Bukan Yuri kedua?” Tanyamu. Kini Yesung terdiam. Kamu yang menyadari respon dari Yesung langsung berkata, “tuhkan? Menurutmu aku juga adalah Yuri kedua. Padahal maksudku membantumu berubah bukan karena aku ingin menjadi Yuri…”

Yesung langsung mengenggam tanganmu. Kamu terkejut. Yesung menatapmu. Dadamu kembali memukul-mukul tak keruan. “Hyuna… aku sudah memikirkan hal ini secara matang selama berminggu-minggu. Apakah kamu tidak menyadarinya? Aku sayang padamu Kim Hyun Ae, tidak peduli siapa kamu… saranghaeyo…”

JDERR!! Tiba-tiba kamu merasakan petir menyambar hatimu. Kamu mematung tidak sanggup berkata apa. Semua ini terlalu mendadak. Kamu belum bersiap untuk hal ini. “Ta-tapi, Yesung… aku bukan Yuri. Aku tidak bisa mencintaimu karena aku bukan Yuri yang sesungguhnya. Aku hanya Yuri kedua. Aku tidak-”

“Hyuna! Cukup! Aku mencintaimu karena kamu adalah Kim Hyun Ae! Bukan karena kamu adalah Yuri atau siapapun! Berhenti mengatakan kalau kamu adalah Yuri kedua! Kamu bukan Kwon Yuri, tapi kamu adalah Kim Hyun Ae! Kamu adalah Kim Hyun Ae yang kucintai! Bukan yang lain!” Seru Yesung memegang pundakmu. Kini tubuh kalian hanya berjarak sekitar 5 sentimeter. “Dan kau tahu? Apa alasanku berubah menjadi baik, berubah menjadi sopan, dan berubah menjadi diriku sendiri? Ini semua bukan karena Yuri. Tapi karena kamu, Hyuna. Ini semua demi kamu…” Yesung semakin mendekat. Kamu sadar apa yang akan dia lakukan. Kamu menutup mata. Bibir Yesung terasa begitu lembut saat bibir kalian mulai beradu.

Kamu membalas ciuman Yesung. Memang hanya sekilas, tapi kamu merasakannya. Merasakan cinta yang membara dalam diri Yesung. Yesung memelukmu saat dia sudah melepaskan bibirnya dari bibirmu.

“Hyuna… mungkin kesanmu saat pertamakali bertemu denganku memang tidak baik. Tapi kali ini aku benar-benar jujur. Aku sangat mencintaimu. Jeongmal saranghaeyo…” Ucapnya. Kamu tidak sanggup menjawab. Kamu sudah terlanjut tenggelam dalam pelukan Yesung yang begitu hangat. Kamu tidak ingin melepaskannya. Tapi Yesung melepaskan diri dan langsung menatapmu dalam-dalam. “Hyuna… kenapa kau diam? Apa jawabanmu?”

“Aku… aku…” Kamu menjawab dengan gugup. “Aku… aku juga mencintaimu. Saranghaeyo, Oppa.” Ucapmu sambil tersenyum. Yesung terlihat sangat bahagia. Tapi seketika senyumnya berubah menjadi manyun.

“Mwo? Tadi kau panggil aku apa? Oppa?” Tanyanya. Namja satu ini memang tidak bisa mempertahankan keadaan yang romantis.

“Ne. Waeyo?”

“Aku kan tidak lebih tua darimu. Kenapa kau memanggilku Oppa?” Tanyanya lagi. Kedua alisnya tertekut.

“Ne, aku tahu. Waeyo? Aku kan menghormatimu artinya.” Jawabmu.

“Tapi panggilan itu membuatku kelihatan tua! Memangnya mukaku setua itu ya?” Tanyanya sebal. Kamu tersenyum dan langsung memeluk Yesung.

“Kamu memang selalu apa adanya, Oppa. Saranghae.” Ucapmu.

“Berhenti memanggilku Oppa, baboae!” Serunya berusaha melepaskan pelukan kalian. Tapi kamu tetap bertahan.

“Tidak sampai kau berhenti memanggilku baboae.” Ujarmu masih memeluk namja yang daritadi memberontak. Benar-benar pasangan aneh-_-

***

            Bel masukan berbunyi. Murid-murid kelas 2 langsung berhamburan memasuki kelas. Walaupun sejak tadi pagi kamu dan Yesung tetap berada di kelas.

Eunhyuk yang habis latihan basket bersama Donghae dan Siwon terkejut saat melihatmu dan Yesung sedang mengobrol asyik.

“Hyuna?” Dia mendekatimu masih dengan wajah yang sudah disetel seheran mungkin. Kamu tersenyum ke arahnya.

“Eh, Hyuk… kau sudah balik ya? Mian-mian, aku segera pindah kok.” Ucap Yesung sambil berdiri dari bangku Hyuk dan pindah ke bangku belakang, bangkunya. Tapi tetap tidak melepaskan matanya kepadamu.

“Waeyo Hyuk? Kenapa kamu?” Tanyamu saat Hyuk masih mematung memandangi kalian berdua. “Duduklah.”

“N-ne, Hyuna.” Ujarnya masih gugup sambil mengempaskan pantat di atas bangkunya. Kamu mendekat ke arahnya yang masih berkeringat.

“Hyuk, ada yang mau aku ceritain penting sekali! Aku bahagia pokoknya hari ini! Kamu harus dengarkan!” Serumu sambil mengacungkan telunjuk.

“Mwo? Hal apa?” Tanyanya sudah kembali normal.

“Nanti saja…” Ujarmu sambil memutar badan ke belakang untuk mengambil buku di tas. Tapi tanganmu ditarik olehnya.

“Hal apa, Hyun? Sekarang saja, aku sangat penasaran…” Ucapnya sebal.

“Ya! Hyuk kamu memang orang yang selalu pengen tau. Okedeh…” Kamu menyerah. “Mau from the start atau langsung to the point?” Tanyamu.

“To the point.” Jawabnya tanpa berpikir sedetikpun. Kamu mengangkat bahu. Ne, kamu memang sudah tau sifat yarrobunmu ini yang praktis dan tidak menye-menye.

Kamu mendorong tengkuk Hyuk mendekat seolah-olah kamu tidak mau ada seorangpun yang mendengar ucapanmu. Dan tampaknya Yesung sedikit terganggu dengan itu karena wajahnya langsung cemberut saat melihat wajah kalian berdua yang dekat sekali.

“Sekarang aku adalah yeojachingunya Yesung.” Ucapmu singkat tapi sukses membuat Hyuk terdiam beberapa saat.

“MWO!!!???” Serunya kaget se kaget-kagetnya. Satu kelas juga dibuat kaget oleh Hyuk. Buktinya semua mata langsung menatapnya. Tidak terkecuali Yesung dan kamu. Kamu menarik tengkuknya lagi.

“Hyukie pabbo! Bisa nggak sih kamu nggak usah terlalu berlebihan? Ngeselin banget deh!” Serumu cemberut. Tapi Hyuk tidak menghiraukannya sedikitpun. Wajahnya masih terkejut sekali. Sekilas kamu melihat amarah dalam matanya. “Gwaenchana, Hyukie? Waeyo? Wajahmu kok…” Kamu ingin menyentuh wajah Hyuk tapi langsung ditangkis kasar oleh Hyuk. Kamu terkejut. Kamu menoleh ke belakang. Untung saja Yesung sedang tidak melihat. Mungkin dia juga bakalan marah kalo dia melihat Hyuk mengasarimu.

Sudah, sekarang permasalahannya adalah Hyuk. Bukan Yesung. Ada apa dengan satu-satunya yarrobonmu itu? Kamu menggoyang-goyang pundaknya. Tapi dia masih diam tanpa menoleh sedikitpun. Kamu memukul kepalanya dengan buku. Tapi dia tetap bergeming. Kamu jadi semakin bingung. Kamu berpikir pasti ada yang salah dengan kata-katamu tadi. ‘Aku tadi cuma mengatakan kalau aku sudah menjadi yeojachingunya Yesung. Memangnya apa yang salah? Apa yang salah kalau aku menjadi yeojachingunya?’ Kamu terus bertanya-tanya dalam hati tanpa menemukan satupun jawaban. Akhirnya kamu memutuskan untuk membiarkan Eunhyuk.

***

            “Hyuna! Traktiran dong, kamu kan abis jadian!” Tiba-tiba entah kesambet setan apa Hyuk memelukmu dari belakang dengan manja. Padahal sejak tadi pagi sampai pelajaran ketiga berakhir namja ini tidak berbicara sedikitpun denganmu.

“Eunhyuk! Apa-apaan sih kamu?” Kamu berbalik badan dan langsung menatapnya.

“Mwo? Apa yang salah?” Tanyanya dengan wajah innoncent. Kamu jadi semakin sebal.

“Apa yang salah? Ya banyak lah! Pertama, kamu nyuekin aku. Kamu diam walaupun udah aku pukulin. Nah sekarang meluk-meluk aku dan sok manja gitu. Kamu kenapa sih?” Tanyamu serius. Wajah Hyuk yang tadi happy seketika berubah.

“Ani. Gwaenchana. Aku tidak apa-apa. Hanya saja tadi aku perlu waktu untuk mencerna apa yang kamu katakan.” Ucapnya sambil tersenyum tipis. Kamu merasa dia bohong karena senyumannya tidak meyakinkan.

“Kamu memang namja yang berlebihan, Hyuk. Masa’ buat mengerti perkataanku saja butuh waktu 3 jam pelajaran?” Serumu kesal, tidak memedulikan instingmu yang mengatakan bahwa Hyuk berbohong.

“Hahaha… mianhae, Hyun. Aku memang pabbo.” Ucapnya sambil menggaruk rambutnya. “Omong-omong… hari ini kamu harus bayarin aku makan!” Serunya. Tubuhmu langsung lemas.

“Omo, Hyukie… dompetku tipis sekali hanya ada beberapa won di dalamnya. Masa’ kau tega sih…” Tuturmu melas.

Hyuk tampak iba melihatmu. “Oh, mianhae, Hyuna… aku cuma bercanda, aku nggak bermaksud…”

“Tapi bohong!” Serumu keras sambil tertawa. Kamu langsung memamerkan uangmu yang jumlahnya banyak sekali. Kamu tertawa keras melihat ekspresi Hyuk tadi.

“Kim Hyun Ae!!! Babo!!! Sialan kamu!” Serunya sambil mengejarmu. Melihat kecepatan lari Hyuk yang sudah seperti pelari marathon kawakan, kamupun berlari dengan random tanpa memedulikan siapapun yang kamu tabrak.

BRUAK!!! Kali ini orang yang kamu tabrak benar-benar seperti batu. Kamu terjatuh ke belakang dan ditangkap indah oleh Eunhyuk. Untung saja, kalau tidak mungkin sekarang kamu sudah amnesia.

“Chagi?” Yesung menatapmu. Ah! Kamu terkejut melihat namjachingumu itu berdiri dihadapanmu yang sedang ada dalam pelukan Eunhyuk. Kamu buru-buru melepaskan diri darinya.

“Oppa?” Kamu berjalan mendekati Yesung.

“Baboae! Bisakah kamu tidak memanggilku oppa di depan khalayak umum seperti ini? Itu sangat mengganggu!” Seru Yesung sebal sambil membuang muka ke arah lain. Ketakutanmu langsung terpecah saat melihat sikapnya itu.

“Mianhae, oppa!” Serumu sambil tersenyum mengacak-ngacak rambut Yesung. “Badanmu seperti batu, oppa. Saat aku menabrak yang lain, badanku sama sekali tidak bergerak. Tapi saat menabrakmu aku langsung terdorong jauh.” Sekarang kamu yang sebal. “Pantas saja waktu itu hidungku patah gara-gara kamu.”

“Mwo?” Eunhyuk yang daritadi diam langsung bersuara. “Ja-jadi Yesung yang membuatmu berdarah saat itu?” Tanyanya. Kamu mengangguk.

“Anio! Jangan percaya yeoja ini, Hyuk. Dia sendiri yang salah, siapa suruh narik-narik tanganku. Lagian waktu itu hidungmu kepentuk lantai! Bukan kepentuk tubuhku!” Bantah Yesung tidak rela disalahkan. Kamu menatap Yesung sinis.

“Sudah-sudah ah! Kalian ini sudah menjadi pasangan masih saja berantem!” Seru Hyuk keras. Satu kelas langsung memandang kalian berdua. Yesung buru-buru membekap mulut Hyuk.

“Yeszh… shugh…” Ucapnya memberontak saat Yesung membekapnya.

“Yesung-ssi, Hyun-ah… kalian pacaran? Se-sejak kapan?” Tanya Taeyeon mendekati kalian dengan wajah… hmm… mungkin bisa dibilang marah.

“Yesung? Serius?” Ryeowook yang akhir-akhir ini dekat dekat dengan Yesung menepuk bahu Yesung. “Kapan bro? Kenapa kamu nggak bilang?” Tambahnya. Kamu dan Yesung langsung panik. Padahal kalian berdua tidak mau berita ini menyebar. Anak-anak sekalaspun mulai menanyai kalian dengan seabrek-abrek pertanyaan yang nggak ada hentinya. Kamu tidak bisa berhenti mencubiti Eunhyuk yang sudah memprovokasi mereka.

“Ne-ne!” Yesung mengangkat tangannya ke atas. Satu kelas hening. “Ne, aku mengakui sekarang aku adalah namjachingunya Hyun Ae. Kami baru memulai hubungan ini sejak tadi pagi. Dan gara-gara namja sialan satu ini semuanya terbongkar…” Yesung melirik Hyuk sinis. Begitu juga dengan kamu. Hyuk hanya nyengir. “Aku minta tolong ya, cuma kalian aja yang tau. Jangan sampai anak kelas lain tau apalagi guru-guru. Pasti mereka akan melapor kepada Appaku. Oke, itu aja. Gomawo chingu.”

“Tidak semudah itu, Yesung!” Tiba-tiba Shindong bersuara. Kamu memandangnya.

“Maksudmu, Shindong?” Tanyamu dengan Yesung bersamaan. Kalian berdua bertatapan sebentar dan langsung kembali menoleh ke arah Shindong.

“Di dunia ini tidak ada yang gratis, Hyuna, Yesung… gimana kalo kalian nraktir kita hari ini makan siang dan kita janji nggak akan membocorkannya pada siapapun?” Usul Shindong yang langsung membuatmu kembali lemas. Anak-anak bersorak girang dan pada setuju pada Shindong. Cuma Taeyeon yang wajahnya kurang gembira.

“Shut up-shut up!” Seru Yesung lagi. Dia melirik sebal ke arah Shindong. “Oke-oke. Aku bayarin kalian makan hari ini tapi-”

“HORE!!!” Satu kelas langsung melompat-lompat girang tanpa mengizinkan Yesung melanjutkan kata-katanya. Yesung menghembuskan nafas capek dan merangkulmu.

“Oppa? Gwaenchana? Nggak papa kah kalo kamu bayarin mereka hari ini?” Tanyamu sedikit cemas. Soalnya meskipun kaya Yesung tidak sering membawa uang lebih.

“Gwaenchana, chagi. Kebetulan hari ini aku bawa uang banyak kok.” Jawabnya. Hal itu membuatmu tenang.

“Ya! Yesung-ssi, kamu mentraktirku juga kan?” Tanya Hyuk tiba-tiba. Kamu masih sebal dengan namja itu.

“Anio! Kamu tidak boleh!” Serumu kesal. Hyuk manyun.

“Kau memang jahat, Hyun… masa yerrobonmu sendiri nggak dibolehin ikut. Huuh!” Sekarang malah Hyuk yang kesal. Kalian berdua memang aneh.

“Sudah-sudah. Kamu boleh ikut kok Hyuk.” Ujar Yesung tersenyum.

“Wee!” Hyuk menjulurkan lidah ke arahmu. Ingin rasanya kamu tarik lidah itu. “Dasar babo!”

“Kau yang babo!” Dengan ranggas kau menjenggut rambut Eunhyuk hingga ia menjerit pelan. Yesung tertawa melihat kalian berdua.

***

            “Gomawo, Yesung-ssi! Kami kenyang sekali!”

5 menit lagi istirahat akan berakhir. Seluruh anak-anak sekelas sudah dibuat kenyang olehnya. Yah, tepatnya uangnya sih. Sekarang dia capek sekali karena permintaan anak-anak pada macem-macem. Dia menghempaskan diri ke dinding.

“Huff…” Dia menghembuskan nafas sambil mengelap keringatnya. Pemandangan itu tampak indah dimatamu.

“Oppa, kau capek ya? Mianhae ya tidak membantumu tadi.” Ucapmu sambil menatapnya. Yesung tersenyum.

“Gwaenchana, chagi.” Jawabnya. “By the way, saranghae.” Kamu terdiam. 3 kata terakhir yang dikatakan Yesung begitu menghipnotismu.

“Yesung-ssi! Kau benar-benar baik!” Tiba-tiba Hyuk datang. Namja ini memang pengganggu sekali. “Aku kenyang sekali sekarang. Wah, aku jadi teringat saat kau baru jadian dengan Yuri ya? Saat itu kau mentraktir kita di kafe mewah sih, tidak hanya di kantin. Oya, saat itu kan kau cinta sekali sama Yuri sampai berani mengorbankan apapun.”

Jleb. Keadaan yang awalnya romantis seketika suram saat Hyuk berbicara seperti itu. Wajahmu yang tadi cerah berubah menjadi mendung saat mendengar nama Yuri. Nama itu terus terngiang-ngiang ditelingamu. Kamu mematung.

“A-aah…” Hyuk menutup mulutnya. Dia sadar akan apa kesalahannya. “Mi-mianhae.”

Yesung menatap Hyuk tajam. Tapi dia langsung menoleh ke arahmu. “Chagi? Gwaenchana? Ka-kamu nggak papa?”

Kamu masih terdiam. Melihat hal itu Yesung langsung mendorong bahu Hyuk. “Ya! Hyuk! Apa-apaan kamu sih? Maksudmu apa mengucapkan kata-kata tadi?” Seru Yesung marah.

“Mianhae Yesung-ssi… aku… aku tidak sengaja.” Ucapnya tampak cemas.

“Gwaenchana, Oppa. Jangan marahi Eunhyuk.” Tiba-tiba kamu menyela. “A-aku ada urusan lain.” Kamu langsung berlari meninggalkan dua namja itu berdiri menatap kepergianmu.

“Kali ini aku memaafkanmu, Hyuk. Tapi sekali lagi kau mengungkit-ngungkit nama Yuri dihadapan Hyuna, habis kau.” Ancam Yesung tajam dan berjalan meninggalkan Hyuk. Sekilas tampak seringai kejam di bibir Eunhyuk.

Kamu berlari ke taman belakang. Kamu butuh menyendiri saat itu.

“Ya Tuhan… Hyukie benar… Yesung memang mencintai Yuri. Aku memang terlalu cepat menerima Yesung. Aku bukan Yuri yang sangat dicintainya! Aku takut dia akan meninggalkanku…” Bisikmu kepada dirimu sendiri.

Tiba-tiba kamu merasakan sekeliling lehermu menjadi hangat. Kamu mendongak. Yesung melingkarkan tangannya di lehermu. “Hyuna… saranghaeyo. Jeongmal saranghaeyo. Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Aku benar-benar cinta padamu. Jangan berpikir begitu.” Tuturnya lembut. Nafasnya menggelitik telingamu. Penyakit dadamu kambuh. “Jangan dengarkan kata-kata orang lain. Sekali aku bilang aku mencintaimu aku akan tetap mencintaimu. Dan aku mencintaimu sebagai kamu, sebagai dirimu sendiri. Bukan orang lain.” Tambahnya. Dia memelukmu semakin erat.

“Oppa…” Kamu melepaskan diri dari rangkulan tangan Yesung, berbalik badan dan memeluknya. “Mianhae. Mian karena telah meragukan cintamu. Jeongmal mianhae…” Ucapmu dalam pelukan namja tersebut.

“Jangan nangis yah,” ucapnya lembut sambil melepaskanmu dari pelukannya dan mengelus pipimu. Tapi ia langsung terkejut saat meraba pipimu yang masih kering.

“Nangis? Enak saja! Aku bukan yeoja cengeng yang dikit-dikit nangis! Ih, kamu ngeremehin aku banget.” Ucapmu sebal langsung bersedekap.

“Ah! Kamu nggak asik ah! Kalo di drama-drama kan yeojanya nangis lalu namjanya ngelapin air matanya! Kan kalo gini nggak jadi romantis!” Serunya lebih kesal.

“Kamu kebanyakan nonton k-drama! Dasar, namja apaan tontonannya drama. Lagian diantara kita berdua yang paling nggak romantis tuh kamu!” Balasmu tak mau kalah.

“Yee, biar aja. Yang punya TV juga aku! Siapa bilang aku nggak romantis? Aku romantis kok, buktinya aku datengin kamu disini!” Serunya lagi membuang muka. Akhirnya kalian terus berdebat sampai waktu istirahat benar-benar habis. Kalian memang pasangan yang benar-benar aneh. Nggak ada habisnya berantem. Tinggal ngitung hari aja nih putusnya-_-v

***

            2 tahun terlewat begitu cepat. Hubunganmu dengan Yesung masih tetap berjalan. Meskipun banyak sekali halangan, misalkan Taeyeon yang tidak berhenti-berhentinya menyindirmu, kalian berdua tetap berada dalam satu ikatan. Kini kalian sudah menginjak kelas 3. Bahkan sebentar lagi kamu akan lulus. Ya, seminggu yang lalu kamu telah melewati ujian akhir sekolah dan besok adalah hari yang sangat penting, pesta perpisahan dan pengumuman kelulusan.

“Hei, oppa…” Kamu memanggil namja disampingmu sambil menunduk. Namja yang melingkarkan tangannya dibahumu itu menoleh.

“Ne, chagi. Mwo?” Sahutnya tersenyum ke arahmu.

“Besok adalalah hari perpisahan…” Kamu melanjutkan. “Tidakkah kamu merasa gelisah? Mungkin saja ada hal buruk yang bakalan terjadi. Bisa jadi kita tidak akan bisa bertemu lagi…”

“Mwo?!” Yesung menatapmu. “Apa yang kamu bilang tadi? Anio! Kita akan satu universitas nanti! Aku juga sudah bilang kepada appaku supaya pindah rumah ke kompleksmu. Kita akan selalu sama-sama. Aku janji.” Namja itu mengacungkan kelingkingnya. Meskipun kamu masih gelisah, kamu tetap mempercayainya. Kamu kaitkan kelingkingmu dikelingkingnya…

Tapi tetap saja hal itu tidak membuatmu tenang. Selama kencan hari ini, kamu benar-benar tidak mood untuk berbicara apapun. Meskipun Yesung bersedia mentraktir es krim coklat yang paling kamu suka kamu tetap menolak. Yesung mencium keningmu tapi kamu tetap saja belum merasa tenang.

“Chagi! Waeyo? Kenapa sih kamu? Kamu nggak suka ya date kita hari ini?” Tanya Yesung di mobil dalam perjalanan pulang. Wajahnya menampakkan amarah.

“Mianhae, oppa. Aku benar-benar kehilangan mood hari ini. Aku takut-”

“Pasti kamu masih memikirkan pesta perpisahan besok ya? Buat apa sih chagi? Masa kamu nggak percaya denganku sih? Aku janji selalu ada disampingmu sampai kita kuliah. Kalo perlu sampai kita kerja nanti.” Nada suara Yesung melembut. Ia mengelus rambutmu.

“Ta-tapi… perasaanku bilang…”

“Sudah! Buang perasaan negatifmu itu! Cukup dengarkan aku sekarang. Intinya aku tidak akan meninggalkanmu! Kamu mengerti?” Sekarang intonasinya mirip dengan orangtua yang sedang marah dengan anaknya.

Kamu hanya bisa mengangguk. Bisa gawat kalau Yesung benar-benar marah. “Ne, oppa. I trust you. Mianhae…” Ucapmu sambil tersenyum. Tersenyum paksa.

“Gwaenchana, chagi. Saranghaeyo…” Ucap Yesung sambil mengecup pipimu sekilas.

“Neomu saranghaeyo.” Ucapmu pelan, dan kembali menatap jalan.

***

            “Chukkae, Hyuna! Kamu daebak banget! Berhasil ngeraih juara pertama!” Eunhyuk menyalamimu saat kamu baru turun dari panggung. Kamu tersenyum ke arah Hyuk.

Ya, sekarang kamu sudah berada di ballrom Seoul Hotel untuk merayakan hari kelulusan dan perpisahanmu bersama seluruh murid-murid senior lainnya dari Daeyoung High School. Kamu bahagia sekali karena kamu sudah diberitakan lulus. Dan kebahagiaanmu bertambah saat diberitahukan kalau kamu mendapat nilai tertinggi di kota untuk semua mata pelajaran.

“Chukkae, Hyun Ae. Kamu benar-benar murid yang pintar.” Kali ini giliran Mrs. Hwa yang menyalamimu. Kamu mengangguk sambil tersenyum.

“Ng…” Kamu menoleh ke kanan-kiri. “Mana Yesung? Kok dia tidak menghampiriku?” Tanyamu pada Hyuk yang masih setia menemani disampingmu.

“Yesung?” Hyuk menyerngitkan dahinya. “Tau tuh. Lagian kenapa sih kau mikirin dia mulu? Kayak dia segala-galanya di hidupmu.”

“Dia memang segala-galanya, Hyuk!” Kamu menoleh ke arah Eunhyuk, sebal atas perkataannya tadi. “Kamu benar tidak lihat?”

“Tidak Hyun. Beneran!” Seru Hyuk. Kamu semakin cemas. Seharusnya kalau dia ada disini dia bakalan memberimu selamat atas apa yang sudah kamu peroleh. Tapi kenapa dia tidak melakukan itu? Apa dia tidak ada disini?

“Chagi…” Yesung berjalan kearahmu lemas.

“Ka-kau kenapa oppa? Kok lemes banget?” Tanyamu sambil memegang pipi Yesung.

“Gwaenchana, chagi. Chukkae ne kamu hebat banget bisa jadi orang yang meraih peringkat pertama sekota.” Puji Yesung sambil mengelus rambutmu.

“Gomawo, oppa. Gwaenchana?” Tanyamu khawatir dengan keadaan Yesung yang nggak seperti biasanya.

“Ne.” Jawabnya sambil tersenyum. Tapi entah kenapa kamu langsung menyadari kalau itu bukan senyuman tulus.

Tiba-tiba lampu padam. Kamu dan Yesung terkejut. Tamu-tamu yang sedang menikmati hidangan juga tampak terkejut dan bingung. Terdengar keriuhan orang-orang yang takut kegelapan. Tapi tak beberapa lama, tampak seberkas sinar di atas panggung. Di bawah sinar lampu sorot itu, tampak seorang namja berdiri didepan standmicrophone.

“Annyeonghaeseyo ladies and gentleman.” Ucap namja itu. Kamu dan Yesung langsung saling bertatap saat mengetahui siapa namja itu. “Chonun Eunhyuk imnida. Mianhae karena telah membuat kalian terkejut dengan padamnya lampu ini.” Tambah namja tersebut yang belakangan diketahui adalah Eunhyuk. “Saya hanya menambahkan efek dramatis, karena hari ini saya akan membawakan sebuah lagu untuk orang yang sangat spesial di ruangan ini.”

“Mwo? Eunhyuk punya yeojachingu?” Tanyamu kaget.

“Anio. Kayaknya dia mencintai seorang yeoja disini. Tapi mungkin yeoja itu belum tau perasaannya.” Jawab Yesung tenang. Kamu menoleh ke arahnya.

“Darimana kamu tahu?”

“Lihat saja nanti.” Jawab Yesung.

“Itu kamu…” Eunhyuk mulai bernyanyi. Kalau boleh jujur kamu memang tidak pernah menganggap suara Eunhyuk bagus. Dia lebih cocok nge-rap, beda dengan Yesung yang suaranya benar-benar membuatmu kelepek-kelepek. Tapi entah kenapa sore ini kamu merasakan sesuatu dari suara Eunhyuk.

Itu kamu…
Hanya kamu…
Itu kamu…
Aku tak butuh orang lain, hanya kamu…
Ketika kau bertanya lagi, itu hanya kamu…
Walaupun kau sudah memiliki cinta yang lain
Aku tidak bisa melupakanmu, aku tak bisa kembali…
Ketika mataku mulai terlihat sedih
Ketika kau memerangkap hatiku
Aku tidak menyesal aku memilihmu…
Benar, itu kamu…
Oh, apapun yang orang katakan,
Itu tidak masalah untukku…
Siapapun yang mencaciku,
aku hanya akan melihatmu…
Bahkan, jika aku terlahir kembali,
Itu masih tetap kamu
(masih-masih) bahkan seiring berjalannya waktu…
Ketika kau mengatakan kau mencintaiku
Ketika kau mengatakan ribuan dan jutaan kali
Bahkan saat hatiku berdetak lebih kencang,
saat bibirku sudah menjadi kering
Bahkan jika aku terlahir kembali,
Itu masih tetap kamu,
(masih-masih) bahkan seiring berjalannya waktu…
Oh-oh-only for you o-o-only for you
oh-oh only for you o-o-nly for you…
Itu kamu… itu kamu…
Mengapa kau tidak tahu?
Itu kamu… itu kamu…
(Super Junior – It’s You Indo ver.)

Pikiranmu langsung dipenuhi dengan pertanyaan. Kamu masih bingung menebak siapa orang yang dimaksud Eunhyuk dalam lagu tersebut. Yesung memandangmu sambil tersenyum pahit.

“Kenapa kamu tersenyum kayak gitu ke aku?” Tanyamu. Yesung hanya kembali menoleh ke depan tanpa memberikanmu jawaban.

Semenit kemudian Eunhyuk menyelesaikan lagunya. Seluruh tamu langsung bertepuk tangan saat ia sudah membungkuk untuk memberikan salam.

“Eunhyuk, boleh aku bertanya?” Tanyamu masih dalam rangkulan Yesung saat Eunhyuk sudah turun panggung.

“N-ne? M-mwo?” Tiba-tiba saja Eunhyuk langsung gugup. Padahal kamu tidak merasa mengatakan hal yang aneh.

“Lagu tadi buat siapa? Kenapa kamu tidak pernah menceritakan padaku soal yeoja yang ada dalam lagu tersebut? Kalau kudengar, bodoh sekali ya yeoja itu tidak menyadarimu. Kamu kan baik.” Ujarmu lagi dengan muka polos. Eunhyuk yang awalnya panik plus gugup sekarang tampak terlihat sedih.

“Ani. Kamu tidak perlu tahu siapa. Kamu tidak mengenalnya.” Jawab Eunhyuk dengan muka datar dan langsung meninggalkan kalian berdua.

“Eunhyuk! Tunggu!” Kamu hendak mengejarnya, tapi Yesung tidak melepaskanmu.

“Sudah, biarkan dia berpikir dulu.” Ujar Yesung menarikmu. “Sekarang ada hal yang perlu aku bicarakan. Ayo kita ke belakang.”

Kamu mengikutinya. Akhirnya kalian sampai di tempat yang dimaksud Yesung. Backstage Ballroom Seoul Hotel.

“Kamu kenapa membawaku ke tempat sesepi ini?” Tanyamu mulai cemas. Karena pikiran yadong terlintas di otakmu.

“Jangan khawatir aku tidak akan macam-macam.” Jawab Yesung tersenyum. “Aku hanya ingin, pembicaraan kita ini menjadi pembicaraan hanya kita berdua. Aku tidak mau ada yang mendengarnya.”

“Me-memangnya apa yang mau kau bicarakan, oppa? Tampaknya penting sekali.”

“Ne. Memang.” Jawab Yesung. “Chagi, kamu mempercayaiku?”

“Ne! Tentu saja oppa! Apa yang kau bicarakan?” Ujarmu cemas. Feeling buruk.

“Berarti kau percaya denganku dong kalau aku mengatakan kita tidak akan berpisah?”

“Te-tentu saja.” Jawabmu ragu.

“Kau juga percaya dong kalau aku bilang aku mencintaimu apa adanya?”

“N-ne.”

“Berarti kau juga percaya dong, meskipun aku pindah… aku akan tetap mencintaimu?” Kini wajah Yesung muram.

Pertanyaan Yesung yang terakhir jelas membuat jantungmu berhenti berdetak. “Mwo?! Apa maksudmu, oppa?! Apa yang kau katakan barusan?!”

“Chagi…” Yesung menggenggam tangamu. “Mi-mianhae… mianhae karena aku telah mengingkari janjiku kemaren, sayang. A-aku… aku tidak bisa berada disampingmu besok dan beberapa tahun kedepan. Appaku tahu tentang hubungan kita, chagi. Taeyeon yang memberitahunya. Dan beliau memaksaku untuk kuliah di Kanada bersama Tae… tapi asal kau tahu, aku sudah menolak setengah mati! Aku sudah berusaha agar aku tetap tinggal, tapi appaku bersikeras! Aku minta maaf chagi. Jeongmal mianhae…” Yesung memelukmu. Kamu langsung menangkis pelukannya.

“YESUNG! APA MAKSUDMU?! KENAPA HARUS SEPERTI INI?! KEMARIN AKU MENDENGAR DENGAN TELINGAKU SENDIRI KALAU KAU BERJANJI TIDAK AKAN MENINGGALKANKU HARI INI!! KAU MENENANGKANKU SUPAYA AKU TIDAK BERPIKIRAN NEGATIF… TAPI SEKARANG APA KENYATAANNYA?!! KAU PERGI YESUNG! KAU PERGI! KAU BERBOHONG PADAKU!!!!!” Jeritmu keras sekali. Tanpa sadar pipimu sudah basah dengan air mata. Yesung memandangmu.

“Chagi, aku minta maaf! Ini semua benar-benar tidak sesuai dengan kehendakku! Aku tau ini semua salahku. Aku minta maaf karena kata-kataku kemarin tidak sesuai dengan hal ini. Mianhae… MIANHAE!!!!” Sekarang Yesung mendorongmu ke dinding belakang. Tangannya ada di kedua sisimu. Dia menciummu. Hangat sekali. Kamu bisa merasakan rasa bersalahnya dalam ciuman lembut itu. Tapi tetap saja itu tidak bisa mengembalikan emosimu.

Tiba-tiba kamu terjatuh. Bibirmu langsung lepas dari ciuman Yesung. Yesung mundur. Dia terkejut melihat kejadian itu. Seketika, semuanya langsung menjadi gelap.

***

            “YESUNG!” Jeritmu dengan keras. Kamu membuka mata. Yang pertamakali kamu lihat adalah wajah Hyuk yang penuh dengan rasa cemas.

“Hyuna!” Serunya mendekatimu. “Kamu sudah sadar! Biar aku panggilkan dokter.” Ujar Hyuk.

Kamu menarik tangannya. “Hyuk, dimana ini? Ke-kenapa aku seperti ini?”

Hyuk menatapmu. “Tadi kamu pingsan gara-gara kecapean, nanti selanjutnya aku ceritakan lagi ya setelah memanggil dokter.” Ujarnya kembali berjalan. Tapi kamu menariknya lagi.

“Ani, Hyuk. Beritahu aku sekarang. Dan omong-omong… dimana Yesung?”

Hyuk terdiam mendengar perkataanmu yang terakhir. Dia memandangmu dengan sedih. Ia kembali duduk di kursi samping tempat tidurmu.

“Tadi, saat perpisahan hampir berakhir Yesung tiba-tiba saja datang sambil menggendongmu yang pingsan di tangannya. Aku dan teman-teman langsung panik dan membawamu ke rumah sakit. Waktu kutanya kepada Yesung, apakah dia ikut, dia bilang tidak. Akhirnya karena aku penasaran aku mendesaknya untuk menceritakan yang terjadi. Dan ternyata… belakangan aku tahu dia akan pindah ke Kanada bersama Taeyeon. Pesawatnya sudah berangkat sejam yang lalu…” Tutur Hyuk pelan. Dia menunduk ke bawah.

Seketika petir menyambar hatimu. Air matamu turun lagi membasahi pipimu. Kamu sudah tidak tahan. Hatimu benar-benar hancur kali ini.

“Hyuna… Yesung bilang kepadaku agar tidak membiarkanmu menangis. Jadi, berhentilah membuang-buang air matamu, Hyuna.” Ujar Hyuk lembut.

“Hyuk…” Kamu mengelap air matamu. “Kamu bisa tidak merasakan apa yang aku rasakan sekarang? Kamu tau, aku sudah mencintainya selama 2 tahun. Kemarin aku sudah memiliki feeling akan berpisah dengannya hari ini. Tapi dia menenangkanku bahwa dia tidak akan pergi kemana-mana hari ini. Karena kata-katanya aku menjadi tenang, Hyuk. Aku sudah berpikiran negatif lagi. Tapi, ternyata, hari ini dia benar-benar meninggalkanku Hyuk. Dia berbohong Hyuk. Dia berbohong!!!!” Serumu keras. Tangisanmu semakin menjadi-jadi. Hyuk langsung panik dan memegang pundakmu.

“Tenang, Hyuna… tenang. Aku mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi sudah tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi sekarang. Yesung sudah pergi. Kamu hanya dapat berdoa untuk keselamatannya dan berharap supaya ia cepat kembali. Tidak ada gunanya lagi kamu menangisinya, Hyuna. Yesung sudah berpesan padaku supaya kamu tidak menangis demi dia. Di luar sana dia mencintaimu, Hyuna. Kamu tidak perlu khawatir.” Ujar Hyuk menengangkanmu. “Lagipula… aku akan selalu ada disini untukmu. Aku akan selalu menemanimu selama dia tidak ada.”

Kamu menatap Hyuk dalam. Begitu juga dengan Hyuk. Kamu langsung memeluknya sambil menangis.

***

            Tiga tahun telah terlewat. Sejak kejadian hari itu, kamu memutuskan untuk pindah ke Incheon bersama Eunhyuk agar bisa melupakan kenangan-kenangan Yesung. Orangtuamu pun mempercayakan dirimu kepada Eunhyuk sehingga kalian tinggal satu apartemen. Kalian berdua kuliah di Universitas yang sama dengan fakultas yang sama. Kalian menjadi teman yang benar-benar akrab.

Kehidupanmu sejak ditinggal Yesung berubah. Di kampus, kamu bersikap sebagaimananya kamu. Kamu ceria, iseng dan sopan pada teman-teman serta dosen-dosenmu. Tapi ketika kamu sudah sampai di rumah, keadaanmu berubah. Kamu jadi pemurung, jarang makan dan terkadang suka menangis sendiri. Eunhyuk sering sekali menginap dikamarmu jika keadaanmu sedang tidak stabil. Kamu pernah nyaris terjatuh dari balkon gara-gara ngantuk. Untung saja Eunhyuk selalu ada disampingmu dan melindungimu. Tanpa dia mungkin sekarang kamu adalah butiran debu (wkwk).

“Eunhyuk…” Kamu berjalan ke arah Hyuk yang sedang sibuk di depan laptopnya. Saat ini kalian ada di ruang tamu apartemenmu. Hyuk langsung menoleh saat melihatmu datang.

“Oh, Hyuna… waeyo? Duduk sini.” Ujarnya sambil menepuk-nepuk sofa disebelahmu. Kamu duduk disitu. “Ada apa?”

“Aku… aku…” Kamu tampak sulit berkata-kata. Keadaanmu memang tidak baik sekarang. “Aku merindukan Yesung, Hyuk…”

Hyuk terkejut. Sudah lama sekali kamu dan dia tidak membahas topik ini secara langsung. Hyuk membalikkan badan agar berhadapan denganmu. “Kok, tiba-tiba…”

“Aku tidak tahu, Hyuk. Tiba-tiba saja aku jadi sangat merindukan Yesung. Aku tidak tidur semalam karena memikirkan dia…”

“Mwo? Kamu tidak tidur?!” Hyuk sekarang tampak marah. “Apa-apaan sih kamu Hyun?! Kamu tau nggak nggak tidur itu bisa merusak kesehatan dan konsentrasimu loh. Pantas saja tedak tadi siang kantung matamu hitam.” Serunya keras. Persis seperti seorang ibu yang menasihati anaknya.

“Hyuk, aku tidak peduli soal itu. Yang aku inginkan hanya bertemu Yesung! Tak bisakah kamu membantuku untuk bertemu dengannya?” Tanyamu melas. Suaramu sudah parau dan wajahmu sudah urak-urakan.

Hyuk menatapmu. Dia sangat iba terhadapmu. Tapi ada satu sisi dalam hatinya yang membuatnya tidak ingin melihatmu kembali bersama Yesung. “Baiklah, nanti aku akan mencari informasi tentangnya. Sekarang yang ingin aku lihat adalah kamu yang segar. Jadi kamu tidur nyenyak dan jangan bangun sebelum benar-benar segar.” Ujarnya.

“Jinjja?! Gomawo, Eunhyuk! Kamu memang yarrobon terbaikku!” Serumu gembira. Eunhyuk mengangguk. Kamupun mengikuti perintah Hyuk dan berjalan menuju kamarmu untuk tidur.

Kamu menjatuhkan diri dikasurmu yang empuk dan tanpa banyak cingcong kamu sudah tenggelam di bantalmu.

Sementara itu…

Eunhyuk kembali membuka laptopnya. Dia meng-exit segala kerjaannya di Microsoft Excel dan Word dan langsung membuka aplikasi internet. Dia mengklik new tab dan langsung mengetikkan google.com pada kotak address.

“Hmm… apa dulu yang kucari ya? Namanya saja kali ya. Pasti dia terkenal disana.” Gumam Hyuk. Dia mengetikkan beberapa kata dengan tulisan hangul pada box yang tersedia. Dia langsung sibuk mencari site yang mengandung informasi yang dibutuhkan. Hingga akhirnya, ada sebuah website berita Kanada yang membawanya pada sebuah informasi.

“Apa ini?” Hyuk mengklik beberapa link yang ada disitu. “Kebakaran sekolah?” Hyuk terus men-scroll ke bawah. Sampai akhirnya dia melihat sebuah nama yang tak asing di salah satu list. “Loh? Apa sih ini…” Hyuk mengklik nama tersebut. Ada foto yang keluar saat Hyuk mengkliknya. Hyuk langsung melempar mouse laptopnya. “MWO!!!???”

***

            “Hyuna! Hyuna!” Kamu menoleh ke belakang. Hyuk tampak sedang panik berlari dari kelasnya ke arahmu.

“Kenapatuh Eunhyuk? Panik banget kayaknya.” Ujar Amber yang sekarang adalah teman dekatmu di kampus. “Samperin gih.”

“Ne.” Ujarmu. “Duluan ya, Amber!” Kamu melambaikan tangan ke arah Amber. Yeoja tomboi itu mengangkat tangannya sekilas dan langsung melanjutkan jalannya.

“Hyuna-Hyuna… hh-hh…” Hyuk membungkuk, menopangkan badannya pada lututnya. Dia masih ngos-ngosan.

“Waeyo? Buru-buru banget.” Ucapmu sambil melipat tangan di dada menunggu Eunhyuk yang masih mengatur nafasnya.

“Kamu kenapa sih tadi pagi nggak berangkat bareng aku? Malah berangkat duluan.” Seru Hyuk.

“Kamu ngaret! Aku malas menunggumu, jadi aku minta Amber menjemputku.” Balasmu. “Memangnya kenapa? Masa seperti itu saja kamu marah.”

“Bukan…” Hyuk mengelap keringatnya. “Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu…”

Kamu memiringkan kepalamu. “Hal apa? Sudah lama kamu tidak menceritakan hal-hal penting kepadaku. Tentang apa? Tentangmu? Yeoja yang kamu suka? Atau…”

“Tentang Yesung.” Tembak Eunhyuk. Bibirmu langsung terkatup rapat mendengarnya. Matamu tak berkedip. “Yang kuketahui akhirnya Yesung…”

Triring-triring! Terdengar deringan ponsel dari dalam tasmu. Kamu mengerjap-ngerjapkan mata.

“Angkat saja dulu.” Ujar Hyuk. Kamu mengangguk. Ternyata tidak ada panggilan masuk, hanya sebuah pesan dari nomor yang tidak kamu kenal.

— Annyeong, HyunA! Aku sudah menyelesaikan kuliahku. Aku akan ke Incheon menyusulmu. Eommamu memberitahukan aku kalau kau sudah ada di Incheon. Jemput aku di bandara ya^^ — YESUNG.

Jantungmu berhenti berdetak. Kamu mencerna kata-kata dalam pesan itu benar-benar. Dan… “YEAAAAAAAAYYYY!!!!!!” Jeritmu keras sekali. Hyuk terkejut melihatmu berteriak. Orang-orang yang ada di dekatmu langsung menoleh.

“Hyuna! Kamu ngapain sih teriak-teriak gitu?” Seru Hyuk pelan sambil memandangi orang-orang yang melirik kalian berdua.

“Eunhyuk!” Kamu meloncat sambil memegang pundak Hyuk. “Aku tau apa yang akan kamu bilang tadi…”

Hyuk tambah terkejut. “Mwo?”

“Ne! Pasti kamu mau bilang kan kalo hari ini Yesung datang ke Korea!” Serumu girang. Hyuk malah makin terkejut.

“Hah? Kamu ngomong apa sih, Hyun? Aku…”

“Sudahlah, gak usah rahasia-rahasiaan lagi. Ini aku udah dapet pesan dari Yesung!” Tambahmu memberikan ponselmu pada Eunhyuk. Eunhyuk membaca kata demi kata yang terdapat pada pesan tersebut. Wajahnya tampak ketakutan. “Sudah ya, aku mau buru-buru ke bandara. Kamu pasti nggak bisa kan? To mannayo, Eunhyuk!!” Kamu melambaikan tangan sambil berlari dengan kencang ke arah jalan.

“Hyuna! Tunggu! Bukan itu yang tadi mau aku bilang!” Seru Hyuk berusaha mengejarmu tapi apa daya, larimu memang cepat selain itu kamu juga sudah memberhentikan taksi. “Ada apa sih ini? Kenapa Yesung kembali ke Korea? Apa mungkin berita yang tadi malam aku cari salah?” Hyuk menyimpan pertanyaan-pertanyaannya dalam hati. Ia langsung mencari taksi dan pulang ke apartemen.

***

            Ckiitt. Taksi yang tadi kamu order sudah berhenti tepat di depan Incheon Airport. Kamu langsung berhambur keluar taksi dan kembali lagi karena lupa membayar.

“Aduh, Yesung dimana, ya…” Kamu mencari sekeliling dan sama sekali tidak melihat batang hidung Yesung. Kamupun meneruskan larimu semakin ke dalam bandara.

Secara tiba-tiba kamu berhenti. Sehingga beberapa orang di belakangmu tak sengaja menyenggolmu. Tapi kamu tidak peduli. Sekarang matamu tidak bisa lepas dari bayangan seorang namja di ujung sana. Namja yang sangat kamu rindukan.

“Yesung!!!!” Kamu langsung berlari ke arah namja itu tanpa peduli berapa banyak orang yang kamu senggol. Kamu memeluk namja yang kamu yakini sebagai Yesung. Orang-orang langsung memandangi kejadian itu. Mereka menyerngitkan alis tapi kamu tidak peduli. Yang penting sekarang Yesung sudah ada dipelukanmu.

“Yesung… apakah kamu tahu seberapa besar rasa rinduku kepadamu selama 3 tahun ini? Kenapa sih kamu tidak menghubungiku? Aku sangat mencintaimu Yesung. Akhirnya kau kembali.” Serumu. Tak sadar air matamu keluar. Kamu melepaskan pelukanmu dan menatap namja itu.

Yesung tersenyum tipis. Wajahnya sedikit berbeda dengan yang terakhir kamu lihat. Lebih pucat dan putih. Kamu mengelus pipinya. “Waeyo, oppa? Kenapa wajahmu seperti mayat sih? Pucat banget…” Ujarmu. Yesung tidak menjawab. Dia masih tersenyum. “Aku sudah tidak sabar menghabiskan waktu bersamamu. Ayo kita pergi! Jangan buang-buang waktu!” Ajakmu menarik tangan Yesung. Yesung mengikutimu.

Kamu berjalan dengan santai, meskipun yang terlihat sekarang hampir semua orang yang kamu lewati memandang kalian berdua dengan tatapan heran. Bahkan ada yang mengetawaimu. “Kenapa sih orang-orang ini? Kayak nggak pernah bahagia aja.” Gumammu.

***

            Eunhyuk membuka laptopnya. Dia mengklik link website berita Kanada yang ia buka semalam. Ia membaca berita ‘Kebakaran Sekolah’ yang baru-baru ini terjadi di Ottawa, Kanada dengan hati-hati. Ia juga berulang kali membaca daftar korban-korbannya.

“Mwo? Apa yang terjadi? Jika hal ini benar seharusnya Yesung tidak kembali ke Korea. Apa mungkin…” Eunhyuk kembali mengotak-atik website itu.

Kririring-kririring!! Bunyi telepon berteriak-teriak dari dalam kamarmu. Eunhyuk berjalan ke kamarmu dan membuka pintunya. Telepon itu masih belum berhenti berbunyi.

“Annyeong, rumah Kim Hyun Ae disini. Dengan siapa ya?” Ujar Eunhyuk mengangkat telepon itu. “Mwo?… Siapa?… Jinjja?!… Taeyeon?… Ini dengan Taeyeon?… Waeyo?… oh, ini memang bukan Hyuna, ini Eunhyuk. Hyunanya sedang pergi bersama…” Eunhyuk berhenti menyelesaikan kalimatnya. “MWO?!!!”

Sementara itu…

Kamu dan Yesung sedang berada di salah satu taman kota Incheon. Kalian berlari dan berkejar-kejaran dengan bahagia. Sudah lama sekali kamu tidak merasakan kebahagiaan sebesar ini.

“Fiuuh…” Kamu menghembuskan nafas pelan sambil menghempaskan pantat di salah satu kursi taman. Begitu juga dengan Yesung. “Oppa! Daritadi kamu tidak ada berbicara sama sekali! Waeyo? Masa pulang dari Kanada kamu jadi orang bisu sih?” Tanyamu bercanda. Yesung hanya tersenyum ke arahmu. Benar-benar menyebalkan.

Kamu memandang ke arah namja itu. Memang sejak bertemu di pesawat tadi Yesung tidak mengucapkan hal apapun. Dia hanya tersenyum, cemberut, dan sesekali menyeringai. Tapi ada hal yang lebih aneh daripada itu. Entah kenapa kamu merasa Yesung sama sekali tidak berkeringat. Padahal kalian sudah berlari-lari lebih dari sejam dan kamu sendiripun sudah menghabiskan 3 botol air saking capeknya. Tapi tidak dengan Yesung. Rambut namja itu masih berdiri tegak dan bajunya sama sekali tidak basah.

“Hyun Ae!” Tiba-tiba terdengar suara seorang yeoja dari arah kanan. Kamu menoleh. Amber berlari ke arahmu.

“Oh, annyeong Amber!” Sapamu berdiri dan melepaskan rangkulan Yesung. “Sedang apa kau disini, Amber?”

“Mau tau aja kamu.” Jawab Amber cuek. “Kamu sendiri ngapain disini?”

“Aku…” Kamu langsung melirik ke arah Yesung yang masih tersenyum ke arahmu. “Aku sedang bersama namjachinguku, Amber.” Katamu menoleh lagi kepada Amber.

“Mwo?!” Amber tampak terkejut. Kamu sudah menceritakan Yesung kepadanya. “Bersama Yesung?! Mana dia? Aku mau lihat namja yang berani-beraninya ninggalin kamu.”

“Hahaha, jangan begitu, Amber.” Kamu menepuk pundah Amber. “Itu dia… Yesung!” Kamu menunjuk ke arah Yesung yang masih tersenyum. Tuh orang nggak cape apa senyum mulu, pikirmu sebal ke arah Yesung yang sama sekali tidak memberikan respon kepada Amber.

“Ma-mana, Hyun?” Tanya Amber bingung. Kamu terkejut. Bisa-bisanya badan Yesung yang besar begitu tidak kelihatan.

“Amber…” Kamu melambaikan tangan didepan wajah Amber. “Ada apa dengan matamu. Jelas-jelas Yesung duduk disitu… dikursi itu…” Ujarmu masih menunjuk Yesung.

Amber mengucek-ngucek matanya. Matanya masih mengelilingi daerah itu tapi belum bisa menangkap sosok Yesung. Amber menggeleng ke arahmu.

“Mwo?” Kamu semakin terkejut. “Masa sih kau tidak lihat? Jelas-jelas dia disitu Amber!” Kamu menoleh ke arah Yesung. Ya, dia masih duduk anteng disana.

“Hah, sudahlah aku capek ngomong denganmu, Hyun. Aku duluan ya, banyak yang harus kukerjakan habis ini. To mannayo, Hyun Ae!” Amber pergi meninggalkanmu dan masih meninggalkan sejuta pertanyaan. ‘Apa sih maksud Amber? Jelas-jelas Yesung ada disini. Tidak mungkin aku yang salah.’ Gumammu sambil kembali duduk disebelah Yesung.

“Ya! Yesung, kau tahu masa yeoja… eh, yeoja sedikit namja tadi tidak melihatmu. Apa dia buta ya? Semua orang juga tahu kamu daritadi duduk disini.” Keluhmu ke arah Yesung. Yesung hanya tersenyum. Kamu menepuk pundaknya. “Ya! Yesung! Aku bosan melihatmu hanya tersenyum. Berikan jawaban kek, ngomong apa gitu kek, bikin aku badmood aja.” Gerutumu kesal. Tapi Yesung tetap tidak mengatakan apapun. ‘Amber buta, Yesung bisu… apa Hyuk bakalan tuli?’ Gumammu sebal.

Kalian menghabiskan beberapa menit hanya duduk di bangku taman. Sebenarnya ada sesuatu yang kamu ingin berikan kepada Yesung. Sebuah surat tentang perasaanmu yang tidak bisa kamu ungkapkan secara langsung yang kamu tulis selama Yesung masih di Kanada. Akhirnya, setelah kamu menarik nafas berkali-kali kamu membuka tasmu dan menyodorkan selembar amplop ke arah Yesung. “Ini. Terimalah oppa.” Ujarmu sambil tersenyum. Yesung memandang amplop itu dan langsung mengambilnya. “Sebelum kamu bertanya itu apa, aku akan menjelaskan. Itu adalah ungkapan perasaanku selama kamu pergi. Saking rindunya denganmu aku sampai membuat puisi yang sebenarnya bukan bakatku dari SD looh… jadi kamu harus baca dan menghargainya. Tapi jangan sekarang!! Tunggu kau sampai rumah nanti.” Ujarmu sambil tersenyum. Yesung memandangi surat itu beberapa lama, tersenyum ke arahmu dan langsung memasukkan surat itu ke kantung pada bajunya.

Tak lama ponselmu berdering. Kamu melihat nama Eunhyuk tertera di display ponselmu. Kamu mengangkatnya. “Ne, Hyuk, waeyo?… pulang? Secepatnya?… hal apa?… tapi aku dan Yesung… hah! Kau memang menyebalkan, Hyuk!… ne-ne! Aku pulang.” Kamu menutup ponselmu dengan kasar. Yesung menatapmu.

“Mianhae, oppa. Kamu masih ingat Eunhyuk kan? Ya, namja menyebalkan yang harus kuakui menjadi yarrobunku itu menyuruhku segera pulang. Selama kau pergi kami berdua satu apartemen loh! Tapi tidak usah khawatir, oppa. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya.” Ujarmu panjang lebar. Orang-orang disekelilingmu langsung menatapmu dengan pandangan heran, persis seperti di bandara tadi. Tapi kamu tidka menghiraukannya. “Baiklah, aku pulang dulu ya, oppa. Malam ini kau harus berjanji datang ke apartemenku di simpangan blok 2! Pukul 8 ya! Kutunggu kau!” Ujarmu hendak berbalik badan.

“Annyeonghi gyeseyo, chagi…” Kamu berhenti. Kamu mendengar Yesung berbicara. Kamu menoleh ke belakang. Tapi sosok Yesung sudah tidak ada lagi disitu.

‘Loh? Cepat sekali namja itu menghilang? Padahal baru sedetik yang lalu dia mengatakan… mengatakan… mwo? Apa yang tadi dia katakan? Annyeonghi gyeseyo?’ Seketika bulu kudukmu langsung merinding. Kamu memandang arlojimu. ‘Pukul 5 sore, memang sudah sore sekali sih.’ Ujarmu langsung berlari ke arah jalan mencari taksi.

***

            “Aku pulang!” Serumu sambil melepas sepatumu. Eunhyuk yang tadinya sedang minum teh langsung menghambur ke arahmu.

“Hyuna!” Panggilnya keras.

“Apa apa sih, Hyuk?” Ujarmu ketus sambil menutup telingamu.

“Ada hal penting yang benar-benar harus aku bicarakan padamu sekarang. Ayo ikut aku.” Eunhyuk menarikmu ke kamar. Dengan sebal kamu duduk di kasur melempar tasmu dan langsung melipat kedua tangan di dada.

“Mwo? Apa yang mau kamu bicarakan?” Tanyamu sebal.

“Ini tentan Yesung.” Ucapnya. Tapi kata ‘Yesung’ tidak membuatmu memperhatikannya.

“Untuk apa? Barusan saja aku berkencan dengannya di taman. Kalau kamu mau memberitahuku kalau dia bisu aku sudah tau. Dia sama sekali tidak berbicara apapun sejak kami bertemu…”

“Mwo? Dia sama sekali tidak berbicara?” Hyuk bertanya. Kamu mengangguk.

“Ne. Orang-orang juga aneh. Masa setiap aku berbicara dengan Yesung pasti mereka SEMUA menatapku dengan tatapan heran. Bahkan ada beberapa namja bandel yang menertawai kami berdua. Apa sih sebenarnya yang terjadi sekarang hiih!” Keluhmu sebal. Eunhyuk terdiam sesaat. Dia langsung menghembuskan nafas.

“Sudah kuduga…” Ucapnya dengan wajah sedih. “Hyun, kamu mau mendengarkan ceritaku dari awal atau to the point?” Tanya Hyuk.

Entah kenapa saat ini hatimu mendorong untuk berkata, “dari awal.”

Hyuk sedikit terkejut dengan jawabanmu. Tapi dia tetap bercerita. “Tadi malam dan tadi siang aku mencari informasi mengenai Yesung di website-website Kanada. Hingga akhirnya sebuah link membawaku ke sebuah website berita Kanada…”

“Tidak usah berlebihan! Lanjut saja.” Ucapmu kesal karena perkataan Hyuk hiperbola sekali.

“Ne-ne.” Hyuk menyandarkan diri di pintu lemari bajumu. “Saat kuklik, langsung terbuka sebuah kronologis berita yang baru-baru saja terjadi di Ottawa…”

“Tunggu. Ottawa itu apa?” Tanyamu polos. Eunhyuk memukul dahinya.

“Nilai sejarahmu berapa sih dulu?! Ottawa ibukota Kanada!” Geramnya kesal. Kamu manggut-manggut mengerti. Hyukpun melanjutkan ceritanya. “Ternyata berita yang terbuka itu adalah berita tentang terbakarnya kompleks sekolah di pusat kota Ottawa. Kebakaran itu terjadi seminggu yang lalu. Saat itu nyaris seluruh murid SD, SMP, SMA dan mahasiswa kampusnya sedang dalam kegiatan belajar-mengajar. Sehingga saat kebakaran terjadi banyak sekali korban jiwa termasuk dari kalangan anak-anak SD yang tidak sempat menyelamatkan diri. Aku melihat daftar korban-korban yang meninggal dan dirawat di website itu. Ada sekitar lebih dari 50 anak SD yang meninggal dunia, 27 anak SMP yang meninggal, dan 6 murid SMA…”

“Bagaimana dengan mahasiswanya?” Potongmu penasaran.

“Bisa nggak sih setiap aku bercerita kamu tidak usah memotongnya dulu?” Ucap Hyuk sebal. “Tidak ada korban jiwa untuk mahasiswa, karena letak bangunan kampus cukup jauh dari sumber kebakaran. Tapi ada seorang mahasiswa yang mengalami luka bakar parah di daftar itu. Mahasiswa itu menarik perhatianku karena menurut keterangannya mahasiswa itu terluka karena berusaha menyelamatkan murid-murid SD yang terperangkap di dalam gedung. Dan apa kamu tau? Hal ini langsung membuat jantungku tak berdetak. Nama mahasiswa itu adalah Kim Jong Woon…”

Jantungmu ikut berhenti berdetak. Bibirmu terkatup rapat. Matamu tidak bisa berhenti menatap wajah Hyuk.

“Awalnya aku ragu itu adalah Jong Woon kita… karena mahasiswa dari Korea yang kutahu banyak sekali yang sekolah disana, tidak hanya dia dan Taeyeon. Maka aku membuka profil mahasiswa itu. Dan… ketika aku mengklik namanya… fo-fotonya… foto Yesung yang keluar mengenakan seragam Daeyoung High School…”

JDERRR!!! Kali ini petir beneran menyambar-nyambar diluar sana. Tak lama hujanpun turun. Hyuk menoleh ke jendela sebentar. “Hujan…”

Ya, benar hujan. Benar-benar cocok dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Apalagi guntur terus berteriak-teriak dari luar sana. Hujanpun semakin deras. Tiba-tiba kamu langsung tertawa.

Hyuk terkejut melihatmu tertawa terbahak-bahak. Bahkan sampai berguling-guling di kasur. “Kau lucu sekali, Hyuk! Bisa-bisanya mengarang cerita sebegitu masuk akalnya.”

“Hyuna! Apa maksudmu? Aku tidak mengarang!!” Seru Hyuk memberhentikan gerakan guling-gulingmu (?) di kasur.

“Sudah tewa masih saja berbohong. Jelas-jelas seharian ini aku menghabiskan waktu bersama Yesung oppa! Dan aku melihatnya! Dia tersenyum padaku, Hyuk! Kamu pasti bercanda.” Ujarmu sambil menyeringai.

“Makanya!” Hyuk menarikmu duduk. “Sejak siang tadi itu yang kupikirkan! Jika Yesung ada bersamamu seharian ini, berarti berita kebakaran yang kulihat itu salah. Akupun terus mencari informasi mengenai Yesung. Dan tetap saja, setiap nama KIM JONG WOON di website itu aku klik selalu muncul biodata Yesung. Itu kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri. Hingga akhirnya Taeyeon menelpon…”

Kamu terkejut. ‘Taeyeon? Yeoja jahat yang membuatku berpisah dengan Yesung?’ Ingatanmu tentang yeoja cantik yang tergabung dalam grup menyanyi sekolah TTS di sekolahmu dulu langsung muncul.

“Ne. Dia menelponku dari Ottawa. Dia sebenarnya mencarimu. Tapi kubilang saja kau sedang pergi. Hingga akhirnya dia bercerita kepadaku. Bahwa sekarang Yesung sedang koma di rumah sakit karena suatu kebakaran di kampus mereka. Dia juga bilang kepadaku kalau Yesung tidak bisa berhenti meneriakkan namamu. Taeyeon memintamu dan aku datang ke Kanada menjenguknya. Besok pagi dia akan menjemput…”

“BOHONG!!!!” Serumu keras sambil menangis. “KAMU BOHONG, HYUK! YESUNG MASIH HIDUP DAN DIA MASIH SEHAT!! TADI SIANG DIA BERSAMAKU! DIA MENGIRIMKANKU PESAN, HYUK! KAU JUGA MELIHATNYA SENDIRI KAN?!” Jeritmu semakin menjadi-jadi.

Hyuk memelukmu. “Tenang, Hyun. Jangan emosi. Dengarkan aku dulu. Aku tau ini sangat sulit kau terima, tapi kamu harus menerima kenyataan, Hyun…”

Kamu melempar Hyuk hingga ia membentur pintu lemari. “KENYATAAN APA HAH? KENYATAAN APA!? KAMU YANG SEHARUSNYA MENERIMA KENYATAAN KALAU YESUNG MASIH BERSAMAKU SEJAK TADI SIANG! APA KAMU BISA MENJAWAB KENAPA YESUNG YANG SEHARUSNYA DIRAWAT DI RS BISA ADA BERSAMAKU TADI SIANG!??” Bentakmu masih menangis. Kamu benar-benar tidak bisa menahan emosi lagi.

“Soal itu…” Hyuk tidak menatapmu. “Aku merasa… itu bukan Yesung, Hyun. Itu hanya khayalanmu saja…”

“MWO!? KHAYALAN?! KHAYALAN?!!” Kemarahanmu semakin menjadi-jadi. Hyuk semakin panik melihatmu.

“Ne, Hyun. Meskipun aku tidak mau mengatakannya tapi aku harus mengatakannya padamu. Menurutku, karena kekuatan cintamu yang begitu besar kepada Yesung membuat arwah Yesung yang koma keluar dari tubuhnya dan menemuimu, Hyun. Aku tau, aku tau omonganku memang tidak bisa dipercaya. Bahkan aku saja tidak memercayai hal ini, Hyun. Tapi hanya hal itu yang mungkin terjadi. Apalagi dugaanku dikuatkan dengan ceritamu mengenai Yesung yang sama sekali tidak berbicara dan orang-orang di taman yang menertawakanmu. Tadi saat aku menelepon Amber juga dia berkata kau sedang bersama Yesung, tapi dia sama sekali tidak melihatnya. Akupun menjadi semakin yakin…”

“Tapi sebelum dia pergi aku sempat memberinya surat, Hyuk! Dia menerimanya! Bahkan dia menaruhnya di saku bajunya!” Serumu lagi tapi kali ini suaramu lebih pelan. Tenagamu sudah terkuras habis.

“Jinjja?!” Hyuk tampak terkejut.

“Ne!” Jawabmu. “Apa kamu juga lupa, aku kan datang ke bandara karena Yesung mengirimiku pesan. Kau lihat sendiri kan pesannya?!”

Hyuk mengangguk. Kali ini dia tidak menjelaskan apa-apa.

“Aku tidak percaya pada hantu dan roh, Hyuk! Duniaku realistis, tidak mistis seperti itu! Lagipula… lagipula tadi Yesung tidak sama sekali diam kok…” Hyuk menoleh ke arahmu. “Sebelum kita berpisah… dia… dia mengatakan annyeonghi gyeseyo kepadaku…”

“Selamat tinggal?” Tanya Hyuk meyakinkan. Kamu mengangguk.

“Meskipun selamat tinggal tapi minimal dia berbicara kan? Itu sudah membuktikan kalau dia bukan roh atau halusinasiku! Malam ini dia juga berjanji datang kesini pukul 8! Kita lihat saja. Aku tidak mau berbicara padamu lagi, Hyuk jika dia datang malam ini.” Ujarmu sambil menutup wajahmu dengan bantal.

“Hyuna…” Hyuk mendekatimu.

“Pergi Hyuk! Aku percaya Yesung ada di sini! Lebih baik sekarang kamu keluar. Aku ingin beristirahat agar bisa segar nanti malam saat aku dan Yesung makan malam.” Pintamu. Hyuk hanya bisa pasrah. Iapun berjalan keluar kamarmu dan menutup pintu.

***

            ‘Hyuna… Hyuna…’ Yesung berbisik pelan ditelingamu. ‘Oppa?’ Balasmu saat dia mulai menjauh. ‘Oppa mau kemana? Jangan tinggalkan aku lagi.’ Tapi Yesung tetap menjauh. Kamu mengejarnya tapi dia keburu menghilang.

“OPPA!!!!!!!!!” Jeritmu keras. Dadamu langsung terasa sesak. Kamu memandang sekeliling. Kamu berada di kamarmu. “Huff… cuma mimpi…” Ujarmu. Kamu melirik ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu kamarmu. Pukul 9 malam. Kamu buru-buru keluar kamar.

“Eunhyuk!!!” Serumu berlari ke ruang tamu. Kepala Eunhyuk langsung muncul dari balik sofa sambil menatapmu.

“Ne, Hyuna. Mwo?” Tanyanya berdiri dan menaruh remote tv di atas meja.

“Mana Yesung oppa? Dia udah datang? Apa dia menungguku lama sekali?” Tanyamu panik melihat sekeliling. “Mana dia, Hyuk?”

Hyuk membuang tatapannya darimu. Wajahnya langsung berubah menjadi sedih. “Dia tidak datang, Hyun.” Jawab Hyuk jujur.

“Apa maksudmu? Yesung sudah berjanji padaku akan datang malam ini. Mana mungkin dia mengingkariku!” Serumu sebal.

“HYUNA!” Kali ini Eunhyuk tidak bisa menahan amarahnya. “BERHENTI BERKHAYAL! YESUNG TIDAK ADA DI KOREA! DIA KOMA DI KANADA, HYUN! KAMU HARUS BISA MENERIMANYA! KAMU TIDAK BISA BEGINI TERUS! KAMU HARUS MELIHAT KE DUNIA NYATA!” Seru Hyuk mendorongmu hingga kalian berada di pojok ruang tamu. Kamu merasakan sesuatu bakalan terjadi. “INI BUKTINYA! YESUNG TIDAK DATANG! DIA TIDAK DATANG KARENA DIA MEMANG TIDAK MENDENGARMU, HYUN! DIA TIDAK ADA!!” Serunya semakin keras. Kamu tidak bisa membantah saking tegangnya. Jarakmu dengannya tidak lebih dari 10 cm.

Kamu tidak menjawabnya. Kalian diam untuk beberapa saat dalam keadaan sedekat itu. Hingga akhrinya…

“Saranghaeyo.”

Dadamu langsung berhenti berdegup. Kamu melotot ke arah Hyuk yang memejamkan matanya dan mendekatkan bibirnya ke arah milikmu.

Ia menciummu. Tangannya memeluk pinggangmu. Kamu terlalu kaget menerima kejadian ini sehingga tidak bisa melepaskan badan Hyuk dari badanmu.

“Saranghae, Hyun.” Ucapnya saat dia melepas bibirnya dari bibirmu. “Aku sangat mencintaimu. Lagu yang dulu kubawakan saat perpisahan adalah lagu untukmu. Aku sudah menyimpan rasa ini selama 5 tahun, Hyun. Bahkan saat kau bersama Yesung aku tetap tidak bisa melupakanmu…” Tutur Hyuk menjauh beberapa langkah darimu. Kamu masih belum sadar dari keterkejutanmu. “Tapi kau tidak usah menjawab. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sesungguhnya.” Hyuk membalikkan badan dan berjalan menjauhimu.

“Eunhyuk!” Panggilmu. Hyuk berhenti berjalan. Kamu mengejarnya. “Hyuk… aku benar-benar tidak menyangka kau mencintaiku. Selama ini aku menganggap kepedulianmu kepadaku hanyalah kepedulian seorang chingu. Aku benar-benar tidak tau, Hyuk. Mianhae.” Tuturmu menunduk. Hyuk tidak berani melihatmu. “Tapi mian, Hyuk. Aku tidak bisa menerimamu. Aku masih milik Yesung. Yesung akan datang malam ini…”

Hyuk mendelik ke arahmu. “Hyuna… kamu masih belum mengerti apa yang kukatakan tadi? Yesung tidak ada di Korea Hyuna. Yesung masih di Kanada dan luka parah. Dia tidak akan datang malam ini. Dia tidak akan dat…”

TINGTONG!! Terdengar suara bel pintu dibunyikan. Kamu dan Hyuk berpandangan sebentar.

“Itu pasti Yesung, Hyuk! Haha! Kau kalah! Yesung datang! Itu artinya kau yang gila, Hyuk!” Kamu meninggalkan Hyuk yang masih berdiri terpaku memandangmu yang berlari ke arah pintu.

Kamu membuka pintu. “ANNYEONG YE… sung…?” Kamu terkejut memandang yeoja yang ternyata sama sekali buka Yesung. Yeoja itu berdiri memandangmu sambil menangis. “Taeyeon!?” Serumu kaget. Mendengar nama itu disebut Eunhyuk menyusulmu ke arah pintu. “Apa yang kau lakukan disini?!” Serumu galak. Kamu masih mengingat kenangan burukmu dengan yeoja itu. Tapi kamu langsung iba saat melihat air matanya.

“Hyuna! Jangan begitu!” Tegur Hyuk. “Masuk, Tae.” Eunhyuk menggiring Taeyeon yang masih sesenggukan masuk ke dalam apartemenmu. Kamu memandang mereka berdua.

“I-ini… minum dulu…” Kamu memberikan segelas teh hangat kepada Taeyeon. Yeoja itu masih belum bisa berhenti menangis.

“Ga-gamsahabnida, Hyun Ae…” Jawabnya disela tangisnya. Kamu mengambil tempat duduk tepat disamping Eunhyuk dan di depan Taeyeon.

“Ada apa, Tae? Kenapa kau datang kemari? Dan kenapa kau tidak datang dengan Yesung?” Pancing Hyuk sambil melirikmu sekilas.

Tae terlihat terkejut. “Hyuk? Apa maksudmu? Bukankah aku sudah menceritakan apa yang terjadi dengan Yesung?” Sekarang kamu yang terkejut mendengar perkataan Taeyeon.

“Ne. Tapi tampaknya yeoja disebelahku belum bisa menerimanya.” Ujar Hyuk. Taeyeon menatapmu.

“Hyuna…” Taeyeon mengelap air matanya. “Aku tau ini berat untukmu. Tapi kamu harus menerimanya…”

“Lalu?!” Kamu berdiri. Emosimu kembali jumpalikan. “Buat apa kamu kesini Taeyeon? Buat apa?! Cuma buat menangis dan membuktikan ucapan Eunhyuk!? Cuma buat melukai hatiku untuk yang kedua kalinya?! Buat apa!? Kalau seandainya kamu tidak bilang apa-apa kepada appanya Yesung pasti dia masih sehat sampai detik ini, Tae! Ini semua gara-gara kamu!” Serumu.

Taeyeon menunduk. “Mianhae, Hyuna… aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya saja tidak mau kehilangan Yesung. Aku mencintainya sebelum ia dan Yuri pacaran. Tapi dia sama sekali tidak melihatku! Dia hanya melihat Yuri! Hingga akhirnya puncak kehancuran hatiku sampai ketika Yesung menembak Yuri. Aku sangat membenci Yuri mulai detik itu…” Tiba-tiba saja Taeyeon malah mencerintakan kisahnya. “Dan kalau aku boleh jujur… aku… akulah penyewa preman yang membunuh Yuri 6 tahun yang lalu…”

“MWO?!” Kamu dan Eunhyuk sangat terkejut. Kalian berdua bertatapan.

“Ne! Aku tau aku memang salah. Tapi memang semua cinta butuh pengorbanan, Hyuk… Hyun… hingga setelah kejadian itu Yesung sendiri lagi. Akupun berusaha menonjolkan diri agar dia melihatku. Tapi ternyata… kau datang… kau datang HYUNA!!!” Kini intonasi pada suara Taeyeon menaik. Kau bergidik. Yeoja yang paling kamu takuti di dunia adalah yeoja yang sedang patah hati. “Akhirnya dia pacaran denganmu! Padahal aku yang mencintainya! Bukan kamu! Kamu baru saja datang! Kamu tidak mengerti apa-apa tentang dia! Hingga akhirnya… aku mengambil jalan pintas dengan membawa Yesung pergi ke Kanada, jauh darimu Hyuna. Kamu saja pasti tak tahu kan kalau Kanada adalah negara yang sangat ingin dikunjungi Yesung?” Tanya Taeyeon sinis. Kamu membatu. Kamu memang tidak tahu soal hal itu. “Disana aku memaksanya satu kamar denganku. Menggodanya dengan segala pesonaku. Bahkan aku telah memblokir nomormu di ponselnya dan membuang segala barang yang mengingatkannya tentangmu! Tapi semuanya gagal. Dia hanya memikirkanmu. Yang ada di otaknya hanyalah kamu, kamu dan kamu. Hingga akhirnya kebakaran itu terjadi. Kebakaran yang menghanguskan kampus kami berdua…”

“Cukup, Taeyeon!” Kamu menggebrak meja. Taeyeon dan Hyuk tampak terkejut. “Kupikir kau adalah yeoja manis yang baik, tapi belakangan aku tahu kalau kau adalah yeoja yang penuh dengan dendam, Tae. Kamu seharusnya bisa menerima kenyataan bahwa Yesung tidak mencintaimu. Apa kau tidak pernah tahu malu, mengejar-ngejar namjachingu yeoja lain bahkan membunuhnya? Kau keterlaluan, Tae. Kalau aku tidak punya hati nurani pasti aku sudah melaporkanmu ke polisi.” Bentakmu. “Dan satu hal lagi, kamu tidak tahu apa-apa tentang perasaanku. Sudah jelas cintaku kepada Yesung lebih besar daripada kau! Kau tidak mencintainya! Kau hanya terobsesi dengannya!”

Taeyeon hanya bisa diam. Dia pasti sadar kalau ucapanmu tadi adalah benar.

“Su-sudah-sudah. Jangan bertengkar lagi. Mendingan sekarang kita segera pergi ke Ottawa sebelum terjadi sesuatu yang buruk.” Ujar Hyuk menenangkan kalian berdua.

“Ottawa? Buat apa?” Tanya Taeyeon. Hyuk terkejut.

“Loh? Bukankah kamu bilang di telepon kamu akan menjemputku dan Hyuna ke Ottawa? Kamu datang kesini untuk itu kan?”

Taeyeon kembali diam. “Ng… sebenarnya… ada hal yang lebih penting yang harus kukabarkan.” Ujar Taeyeon. Air matanya kembali keluar. Kamu sudah sangat sebal melihat air mata picik itu. “Yesung telah meninggal.”

DEGDEG. Lagi-lagi jantungmu berhenti berdetak. Kata-kata Taeyeon tadi seolah-olah pisau yang langsung membelah hatimu menjadi dua. Kamu langsung terjatuh. Hyuk langsung menangkap tubuhmu.

“Ini tidak mungkin… tidak mungkin… tidak mungkin!!!!” Tangisanmu meledak. “Kamu pasti bohong, Tae! Kamu pasti bohong supaya aku tidak mencintai Yesung lagi! Kamu pasti bohong!”

“Ani, Hyuna!” Balas Taeyeon berdiri mendekatimu. “Aku sama sekali tidak bohong. Buat apa aku susah payah datang kesini kalau hanya ingin membohongimu? Lagipula aku sadar atas kesalahan yang sudah aku perbuat, Hyun. Aku sadar! Aku kesini justru karena aku sudah tidak mau menghancurkan perasaanmu dan Yesung oppa lagi.”

“Tapi, tadi siang aku bertemu dengannya! Kami berkencan bahkan! Aku juga dikirimi pesan olehnya! Kalau kamu tidak percaya, ini lihat ponselku!” Kamu melempar ponsel ke arah Tae yang untungnya dia tangkap dengan indah.

“Mwo?” Tae tampak terkejut. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya. Tak lama dia menatapmu. “Hyuna, nomor yang mengirimimu pesan ini adalah nomor ponselku.”

“Mwo?!” Sekarang kamu dan Hyuk yang dibuat terkejut olehnya. “Bagaimana bisa?”

“Aku juga kurang tau, kalau kuingat-ingat sih sebelum meninggal Yesung memang sempat meminjam ponselku. Dia bilang dia ingin mengerjaimu untuk yang terakhir kalinya. Tapi aku tidak tahu kalau inilah maksudnya.”

Hyuk menatapmu. “Sudahlah, Hyuna… terima saja kalau Yesung telah tia…”

“Lalu bagaimana dengan suratnya?! Aku telah memberikan surat padanya tadi siang dan dia benar-benar mengambilnya! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri!” Bantahmu tidak mau menyerah. Kamu masih belum bisa terima Yesung sudah meninggal.

“Surat?” Taeyeon teringat akan sesuatu. Dia langsung mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Apa maksudmu surat ini, Hyuna?” Taeyeon menggenggal sebuah amplop bewarna putih yang sudah lecek dan robek. Di depannya tertulis ‘for you, Yesung’.

“Ne! Ne! Itu adalah surat yang kumaksud!” Serumu. “Kenapa bisa ada padamu, Taeyeon? Aku memberikannya ke Yesung tadi siang!”

“Tadi, ketika Yesung masih sadar, aku menemukan surat ini tergeletak disamping tempat tidur Yesung. Ketika mengambilnya aku pikir ini dari teman-teman satu kampus. Akupun memberikan ini kepadanya. Dia membaca surat ini sambil menangis. Tak beberapa lama, dia menyuruhku menuliskan balasannya…” Taeyeon mengambil selembar surat lagi. “Ini Hyuna… Yesung memintaku untuk memberikannya padamu…”

Kamu mengambil secarik amplop dari tangan Taeyeon dengan hati-hati. Kamu memandangnya. Beberapa tetes air mata membasahi bagian depannya.

“Bagaimana, Hyun? Kamu sudah mengerti sekarang? Kenapa kamu melihat bayangan Yesung tadi siang… kenapa kamu mendapatkan pesan darinya… dan kenapa surat itu bisa ada di tangannya padahal kau di Korea dan dia di Kanada? Itu karena kekuatan cinta kalian berdua, Hyuna. Pasti Tuhan yang telah menggariskan takdirnya hingga seperti ini. Dan mau tidak mau kau harus menerimanya…” Ujar Hyuk sambil memelukmu.

“Taeyeon… boleh aku tau kapan tepatnya Yesung menghembuskan nafas terakhirnya?” Tanyamu.

“Kalau di Korea…” Taeyeon tampak berpikir. “Mungkin sekitar pukul 5, Hyuna.”

Pukul 5… kamu mengingat-ngingat apa yang sedang kamu lakukan saat itu. Hingga akhirnya kamu sadar bahwa saat itu roh Yesung mengatakan ‘annyeonghi gyeseyo’ kepadamu….

***

Annyeonghaeseyo, Hyuna?^^
Kabarmu baik-baik saja kan? Aku sangat merindukanmu, chagi…
Aku menangis saat membaca suratmu. Hal pertama yang ingin aku ucapkan kepadamu adalah MIANHAE.
Mianhae karena selama 3 tahun ini aku tidak menghubungimu dan memberimu kabar, chagi…
Aku minta maaf. Jeongmal mianhae…
Yang kamu harus tau selama aku dirawat di RS aku selalu memikirkanmu
Aku selalu cemas dengan apa yang bakalan kamu lakukan jika Taeyeon atau appaku memberitahukan hal ini padamu
Aku tidak ingin mati. Aku masih ingin bertemu denganmu.
Aku masih ingin menikah denganmu dan memberi anak kita nama…
Tapi apa daya… aku sudah tidak bisa…
Rasa sakit selalu menghujam tubuhku jika aku bergerak sedikit saja…
Aku membutuhkan pengorbanan besar saat membaca suratmu…
Rasanya aku sudah tidak tahan. Aku mengurungkan niatku untuk tidak mati.
Aku jadi ingin mati saja saat ini.
Jadi… sebelum aku pergi, aku hanya ingin memberitahu 2 hal…
Yang pertama GAMSAHABNIDA
Karena telah membuat kehidupanku lebih bewarna, membuat aku menilai arti kehidupan, membuatku merasakan cinta…
Dan yang kedua… SARANGHAEYO.
Meskipun menurutmu 3 kata di atas tidak mengandung makna apa-apa, tapi itu sangat berarti untukku. Aku masih bisa hidup sampai saat ini karena mencintaimu Hyuna…
Sekarang waktunya aku menyusul Yuri ke dunia yang lain…
Maafkan aku karena tidak bisa bertahan lebih lama lagi untuk memperjuangkan cinta kita…
Dan ku harap, kamu tidak berpikiran untuk menyusulku, Hyuna
Aku selalu ada disampingmu. Aku selalu mengawasimu disini. Aku akan selalu bahagia setiap melihatmu tersenyum. Tapi aku akan menangis jika melihatmu sedih, terutama karena aku…
Jangan lupakan aku ya? Kamu sendiri kan yang bilang kenangan diciptakan untuk diingat?
Terimakasih Hyuna… untuk segalanya…

Kim Jong Woon

–END–

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s