[EXO in Love] Sehun – Chicken Soup


Chicken Soup

Author : Sasphire

Main cast : Oh Sehun EXO, Shin Heerin (OC)

Ratting : Teen, General

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

~***~

BaekYoung | HunRin

~*Normal PoV*~

            Panti Asuhan Bunda Maria. 29 Januari 2004.

            “Kamu marah ke aku ya?” Tanya Yi Soo kepada Shin Bi, saat ia melihat Shin Bi duduk di sudut ruangan sambil memeluk erat boneka Yi Soo, tokoh animasi ikan badut yang lucu.

            “Kok diem??” Desak Yi Soo, saat Shin Bi tak kunjung menjawab.

            Perlahan, Shin Bi menggerakkan bibirnya, memulai untuk berbicara. “Nggak… Aku seneng kok.. Yi Soo dapat orang tua angkat…” Ucapnya, disertai sisa-sisa isak tangis.

            “Bohong…” Ucap Kata Yi Soo. “Kamu habis nangis kan?”

            Shin Bi diam.

            “Kenapa nangis?”

            “Habis..” Shin Bi kembali menangis. “Temanku kan cuma Yi Soo. Yang lain nggak suka Shin Bi…”

            Yi Soo menepuk pundak Shin Bi. “Tenang saja.. aku bakal sering kesini untuk main denganmu.”

            Shin Bi mengusap air matanya. “Benarkah?”

            Yi Soo mengangguk dan tersenyum. “Ini…” Yi Soo menyodorkan sebuah kalung dari saku celananya. “Kata ayah angkatku, aku harus memberikan kalung berliontin hitam ini pada orang yang paling kusayangi.”

            Yi Soo memakaikan kalung itu ke leher Shin Bi. “Lihat! Aku memakai yang putih! Kata ayah, ini namanya ‘Yang’.”

            Shin Bi terlihat bingung. “Maksudnya?”

            “Jika disatukan, liontin kita itu berbentuk Yin dan Yang. Punyamu itu namanya ‘Yin’, punyaku ‘Yang’. Menurut kepercayaan China, keduanya memiliki energy yang berkesinambungan dan tak terpisahkan. Begitu kata ayah.”

            “Oh.” Ucap Shin Bi. “Trimakasih.”

            Sekali lagi, Yi Soo membalasnya dengan senyuman. “Jangan nangis lagi ya…..”

            Shin Bi mengangguk pelan. “Tapi…”

            “Kenapa?” Yi Soo heran.

            “Kalo kamu sibuk, trus nggak sempat jenguk aku dalam waktu yang lama, apa kamu masih ingat aku?”

            “Apa sih maksudmu?”

            “Dalam sekejap mata, kita akan mengalami pertumbuhan pesat. Jika nanti kita besar, apa kamu akan kenal aku? Apa kamu akan ingat aku? Perubahan dari anak-anak berumur 9 tahun ke remaja atau ke dewasa kan sangat pesat..”

            Yi Soo diam, merenungkan kata-kata Shin Bi.

            “Yah… Aku memang anak aneh.”

            “Yi Soo…” Bbu panti asuhan memanggilnya. “Ayah kamu udah jemput tuh…”

            “Iya Bunda,” Yi Soo menarik tangan Shin Bi. “Ayo Shin Bi, kamu harus mengucapkan salam perpisahan ke aku, dan melambaikan tangan ke aku.”

            “Nggak mau!!” Ucap Shin Bi.

            “Kenapa?”

            “Nanti, aku nangis lagi.”

            Yi Soo menghela nafas. “Baiklah. Tapi, kalung itu jangan di hilangkan ya.”

            Shin Bi mengangguk.

            Yi Soo dan ibu panti asuhan pun meninggalkan Shin Bi sendirian.

            Saat Shin Bi merasa ia sudah sendiri, tak ada yang menemani, ia memejamkan mata erat-erat dan mengucapkan sebuah kalimat yang mirip seperti mantra.

            “Sang waktu… berjalanlah dengan cepat, sampai ke waktu dimana aku dan dia bisa bertemu lagi…”

~*Sehun PoV*~

Panti asuhan tempatku di besarkan kini sudah musnah karena sudah terlalu tua, dan tak ada seorangpun yang melindungi panti asuhan yang berharga bagiku itu. Padahal, satu-satunya harapanku untuk menemui Shin Bi hanya panti asuhan itu, tak ada lagi petunjuk yang lain. Yang aku punya hanya kalung ini.

“Sehun…” Seseorang memanggilku. Oh, Heerin. Manager pribadiku.

“Makan dulu…” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak bekal.

“Nanti dulu.. Aku belum lapar…” Ucapku, sedikit malas.

“Hari ini jadwalmu padat… Aku tak mau kau pingsan saat pemotretan, atau bahkan pingsan saat bernyanyi di atas panggung bersama temanmu… Aku juga tak ingin kau sakit mendadak, apalagi seperti BaekHyun kapan hari, yang kena sirosis itu…. ”

Ya ampun. Masih pagi sudah mengeluarkan senjata ampuhnya, cerewet.

Heerin adalah seorang gadis yang mewarnai hidupku, selain Shin Bi. Walaupun Heerin lebih muda setahun dariku, tapi dia lebih bijaksana dariku. Mau tahu seberapa besar bijaksananya? Saat ia cerewet seperti tadi. Entah mengapa, ketika ia menceramahiku hatiku malah tenang, berbeda jika di ceramahi Lee Soo Man. Bukannya hati tenang, tangan rasa-rasanya ingin melandas lepas di pipi orang tua itu.

Heerin juga yang telah mengingatkanku pada Shin Bi. Maksudku, 5 tahun setelah panti asuhan itu dibongkar, aku hampir lupa akan keberadaan Shin Bi. Tapi, ketika Heerin datang dengan segala kemiripannya dengan Shin Bi, aku jadi ingat Shin Bi. Dan jadi punya keinginan untuk bertemu kembali dengan Shin Bi. Seandainya nanti aku bisa bertemu kembali dengan Shin Bi, orang pertama yang akan kuberikan ucapan terima kasih adalah Heerin.

“Iya… iya…” Kubuka kotak bekal itu. Isinya steak sapi panggang. Aku menatapnya lekat-lekat.

“Kenapa? Kau tidak suka sapi panggang?” ucapnya cemas.

“Bukan.. Bukan begitu…”

“Lalu?” tanyanya lagi.

“Tak apa…” Aku menyantapnya, berusaha memberhentikan pertanyaan darinya. Sebenarnya aku ingin ‘Chicken Soup’ buatan bunda Kim, pemilik panti asuhanku dulu. Entah kenapa, aku jadi kangen.

Rasa Chicken Soup buatan Bunda Kim memang beda. Ada rasa istimewa di dalamnya, aku sendiri tidak tahu kenapa. Yang pasti, rasanya berbeda dengan Chicken Soup buatan orang lain.

“Nanti siang… Mau kumasakkan apa?” Tanyanya lagi.

“Aku mau….”

Ia menantikan lanjutan perkataanku.

“Ah.. tidak usah… terserah kau saja…” Lanjutku kemudian. Aku mau ia memasakkan Chicken Soup untukku, tapi kuurungkan. Rasanya pasti berbeda dengan buatan Bunda Kim. Yang kuinginkan sekarang ‘kan, Chicken Soup buatan Bunda.

“Hei… bilang saja… pasti kumasakkan…”

“Tapi…”

“Sehun…” Ia menatapku sangat dalam.  Kalau dibegitukan, aku tak berkutik.

“Chicken Soup….”

~***~

Pemotretan sesi pertama untuk Vogue Girl edisi Juni sudah selesai. Kulihat jam tangan digitalku. 11.05 PM. Berarti, sebentar lagi waktu makan siang. Kira-kira, Heerin membuatkan Chicken Soup atau tidak ya?

“Sehun….” Aku menoleh ke arah pekikkan suara manja itu. Heerin??

“Nih… Aku bawa Chicken Soup…”

Aku menahan tawa. “Kau benar-benar memasakknya untukku?”

“Ya iyalah…” Diapun menarikku dan mengajakku duduk di meja makan yang di sediakan staff. Kulihat, disana sudah ada BaekHyun dan Miyoung memakan mie instan di pojok ruangan. Oh, romantis. Sepiring berdua.

“Mau makan?” Tanya BaekHyun melihatku dan Heerin memasuki ruangan. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Aku duduk di meja makan yang terletak ‘agak’ tengah di ruangan itu. Aku membuka rantangan itu.

“Kau makan juga…” Ucapku.

“Ah.. tidak… kebetulan aku juga ingin makan Chicken Soup.. Jadi aku memasak cukup banyak di rumah…”

Aku hanya tersenyum. “Sebentar…”

Aku mengambil 2 piring plastik yang sudah di sediakan staff, lalu membawanya kembali ke meja makan. Aku mengambil nasi beserta sup-nya dan menaruhnya ke kedua piring itu. Aku menyodorkan salah satunya ke Heerin.

“Eh…”

Aku tersenyum. “Makan saja…”

“Trimakasih…”

Aku takut aku tak bisa menghabiskan Chicken soupnya, jadi secara tidak langsung aku memintanya untuk membantuku menghabiskan Chicken Soup itu.

Aku melahapnya. Aku terkejut.

“Kenapa? Kau tak suka?” Tanya Heerin melihat ekspresiku yang seperti orang marah. Memang. Mataku mendelik karena terkejut.

“Ah… tidak..”

“Lalu kenapa?”

“Rasanya enak sekali…” Aku melahapnya lagi. Rasanya sama persis dengan buatan Bunda Kim. Rasanya aku mau menangis. Untungnya, air mata ini masih bisa kutahan.

Heerin… siapa kau sebenarnya? Sifatmu sangat persis dengan Shin Bi, bahkan rasa Chicken Soup buatanmu juga sama dengan buatan Bunda Kim….

~*Heerin PoV*~

Melelahkan. Jadi manager ternyata lebih melelahkan daripada artisnya. Jika artisnya tertimpa gossip yang tidak mengenakkan, manager selalu melindungi.

Aku membanting tubuhku di spring bed-ku tanpa mengganti bajuku. Aku benar-benar lelah hari ini.

Dasar, Yi Soo.. Yi Soo…

Aku tahu kalau Sehun itu Yi Soo. Aku tahu dia mempunyai kalung yang liontinnya sepasang dengan liontinku. Aku masih menyimpannya. Selalu kubawa kemanapun aku pergi. Kutaruh dalam tasku. Kalau tidur, kuletakkan kalung itu di samping bantalku.

Walau aku tahu dia Yi Soo-ku, tapi aku tak punya niatan untuk mengaku padanya bahwa “akulah Shin Bi”. Mungkin dia akan senang melihatku. Tapi, aku pasti akan merasa bersalah terus padanya. Apalagi jika melihat bekas luka yang ada di punggungnya. Dulu, aku sempat membuatnya hampir mati karena menolongku.

Saat itu, aku sedang menangis tersedu-sedu karena ia akan meninggalkanku dari panti asuhan. Padahal dia berjanji untuk tidak meninggalkanku sendirian. Saat itu aku benar-benar marah padanya. Aku berlari ke jalan raya. Tiba-tiba ada truk besar melintas di jalan itu dengan kecepatan. Aku kaget. Disaat aku pasrah, Yi Soo menolongku dengan mendorongku ke tepi jalan, dan ia malah tertabrak oleh truk itu. Punggungnya membentur aspal dengan keras.

Bayangkan saja, anak umur 10 tahun ditabrak truk besar. Ia koma 10 hari.

Tapi setelah sadar, orang yang ia cari pertama kali adalah aku. Di saat seperti itu, yang ia khawatirkan hanyalah aku. Dia bilang, “Mana Shin Bi?? Apa dia selamat? Apa dia baik-baik saja??”

Itu malah membuatku merasa bersalah. Lalu membiarkannya pergi bersama orang tua angkatnya. Saat itu aku bertekad, ketika aku bisa menemui Yi Soo di kemudian hari, aku akan menjaganya, walaupun diam-diam, untuk menebus kesalahanku.

Andai saja aku tidak marah padanya, mungkin dia tak perlu mendapatkan luka di punggungnya.

~***~

Esoknya…

Hari itu tak ada jadwal bagi Sehun. Entah mengapa, ia memintaku menemaninya di dorm-nya. Katanya, dia kesepian.

Yak!! Sudah sampai. Aku bergegas memencet bel asramanya.

Ting Tong!!

Ia membuka pintu. Ia tersenyum lebar padaku. Tumben. “Ayo masuk…”

Aku mengikuti langkahnya. Ia pun duduk di sofa depan tv. “Duduklah…”

Sedikit sungkan sebenarnya, apalagi di dalam rumah itu hanya ada aku dan dia.

“Hei.. duduk…” Ucapnya lagi. Baiklah, aku duduk disampingnya.

Hening beberapa saat. Yang terdengar jelas hanyalah suara tv. Sesekali, Sehun memindahkan saluran tv.

Bosan. Akupun memulai berbicara untuk memecahkan keheningan. “Kenapa kau sendirian di sini? Yang lain kemana?”

Ia menatapku. “Suho, KyungSoo dan ChanYeol ada pemotretan untuk CF baru.. Kai sedang latihan break dance…”

Aku mengernyit. “Lalu.. BaekHyun?”

“Kencan dengan Miyoung…” Ucapnya santai.

“Ke kebun binatang??”

“Hahaha….” Yah, malah tertawa. “Mana mungkin mereka kencan di kebun binatang lagi?? Kali ini, mereka kencan di Seoul tower…”

“Oh…” Ucapku. “Apa mereka tidak takut pada media massa?”

“Sepertinya tidak…” ucap Sehun. “Ngomong-ngomong….”

Ia berbicara dengan nada menggantung, membuatku penasaran.

“Chicken Soup kemarin itu buatanmu, atau beli? Kalau beli, beli dimana?”

Waduh.. Gawat!! Jangan-jangan, dia mulai curiga?? Harusnya, kemarin aku beli saja… tapi dia tak pernah mau makan Chicken Soup selain buatan Bunda Kim. Dan yang bisa memasak Chicken Soup seperti Bunda Kim hanya aku.

“Ah.. Eh.. Ke.. Kemar..rin…”

Ia menatapku lekat.

“A.. A..ku…”

“Iya?”

“Aku baru ingat… Aku belum memberi makan kucing peliharaanku…”

“Eh…”

“Aku pulang dulu ya…” Aku segera berlari keluar asramanya, lalu mengendarai mobilku secepat mungkin. Menjauh darinya. Dia tak boleh tahu.

~*Sehun PoV*~

Sialan!! Kok malah mikirin kucing??!!

Aku kembali duduk di depan tv. Kesepian lagi. Kenapa begitu kutanya seperti itu dia gugup?

Ting Tong!!

Aku segera berlari membuka pintu. Tapi ternyata…

“Hello Bro…” BaekHyun-Hyung sudah pulang, bersama Miyoung sambil membawa oleh-oleh. “Aku tahu kau sendirian di rumah, jadi aku membatalkan kencanku dengan Miyoung, dan membawa banyak makanan untuk kita makan di depan tv…” Ucapnya tersenyum lebar. Dasar!!

“Ayo…” Ia segera berjalan ke depan tv, diikuti oleh Miyoung. Aku mengikuti dari belakang.

Kami duduk bersila di atas karpet China yang terbentang di depan tv.

“Trimakasih.. Demi menemaniku, kalian jadi batal kencan…”

“Jangan anggap serius…” Ucap BaekHyun-Hyung sambil membuka bungkus snack. Oh, Potato chips kesukaanku. Aku segera mengambilnya.

Akupun bertanya pada mereka, “Pacaran itu enak atau tidak?”

“Tergantung…” Jawab Miyoung yang masih berkonsentrasi dengan acara tv fashion kesukaannya. “Kalau pacaran hanya untuk menyamar seperti yang biasa dilakukan para FBI, tidak enak, karena tidak di dasari oleh hati…”

Setelahnya, Hyung melanjutkan, “Tapi.. jika didasari hati seperti aku dan Miyoung… maka itu akan menyenangkan…” Miyoung tersenyum pada BaekHyun-Hyun, dan melakukan toast dengannya.

“Oh…”

“Kenapa? Kau ingin pacaran?” Tanya BaekHyun-Hyung kemudian.

Aku menggeleng.

“Atau jangan-jangan…” Kini Miyoung duduk menghadapku. “Ada gadis yang kau suka?”

“Ah.. tidak…” Aku tersenyum. “Jangan mengada-ada…”

“Dasar pembohong!!” Ucap BaekHyun-Hyung.

“Hei.. Siapa yang pembohong??”

“Kau… Pipimu memerah ketika Miyoung bilang ‘ada gadis yang kau suka’…”

Aku hanya diam.

Aku melihat BaekHyun-Hyung dan Miyoung malah terus memakan snack setelah mendesakku tadi, seolah tak terjadi apa-apa.

“Tanda-tandanya orang jatuh cinta itu… Apa?” Tanyaku kemudian. BaekHyun-Hyung dan Miyoung menatapku, lalu saling bertatapan.

“Kau tak pernah jatuh cinta??” Tanya BaekHyun-Hyung padaku, seolah tak percaya. Aku hanya mengangguk lugu.

BaekHyun-Hyung dan Miyoung bertatapan, lalu kemudian, tertawa.

“Hei… jangan menertawakanku seperti itu.. di umurku yang sekarang, aku belum pernah merasakan jatuh cinta… itu sudah aib yang memalukan bagiku…” Aku mendengus kesal.

“Haduh… maaf.. maaf…” BaekHyun-Hyung memegangi perutnya. Kampret!! Mereka benar-benar menganggap ini lelucon!!

Aku berdiri, ingin meninggalkan mereka.

“Hei.. jangan marah dong… duduk… duduk…” Ucapnya, memegangi tanganku. Akupun kembali duduk.

“Begini.. ketika kau sedang berada di dekat seorang wanita.. kau merasa bahagia.. hingga ingin memeluknya… mengecupnya.. itu berarti kau sedang jatuh cinta…”

“Hah??”

“Aduh.. iya… terlalu berat bagimu..” Ucap Hyung. Ia terlihat berpikir.

“Setiap waktu… kau selalu terbayang wajah seorang wanita…” Ucap Miyoung. “Saat akan makan, kau ingat wajahnya.. saat akan mandi… ingat wajahnya.. bahkan.. saat akan tidurpun.. kau ingat wajahnya…”

“Ah iya.. itu…” Sahut Hyung.

Kalau seperti itu tandanya.. berarti, aku telah jatuh cinta pada… Heerin?

“Masih terlalu berat bagimu??” Tanya Hyung lagi. Tanpa sadar, aku mengangguk.

Kulihat, Hyung hanya menggelengkan kepalanya. “Benar-benar.. pengalaman cintamu sangat minim…”

Aku hanya termenung.

“Saat kau melihat seorang wanita.. dan wanita itu tampak terlihat sangat manis.. atau terlihat sangat cantik… berartu kau sudah jatuh cinta padanya.. walaupun sebenarnya gadis itu jelek…” Ucap Hyung terang-terangan.

“Coba kau bayangkan.. adakah gadis yang seperti itu?” Ucapnya lagi.

Yang melintas dibayanganku tetap Heerin.

“Ada….” Ucapku pelan.

“Yeaaahh!!!” Hyung dan Miyoung melompat kegirangan, lalu berpelukan. “Akhirnya.. dia tahu apa itu cinta!!”

Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

“Jadi.. siapa gadis yang beruntung itu??” Tanya Miyoung sambil menatapku.

“Iya.. siapa?” Hyung pun bertanya.

Aku menoleh ke arah lain, menghindari kilatan mata memaksa dari mereka. “aku tak bisa bilang….”

~***~

Malamnya, aku mengunjungi Heerin kerumahnya. Aku masih penasaran dengan Chicken Soup yang ia buatkan untukku kemarin. Kalau ku serang kerumahnya seperti ini, dia mau kabur kemana??

Aku mengetuk pintu rumahnya. Lalu, ia membukanya. Ia tampak terkejut melihatku berdiri di depan rumahnya.

“Bolehkah aku masuk.. nona?”

“Ah.. Ehm.. ru.. rumah.. rumahku…”

“Kenapa?”

“Rumahku berantakan…”

“Tak apa… ijinkan aku masuk…” Desakku lagi.

“Maaf.. mungkin lain kali…”

Dia kenapa sih?

Ia menutup pintunya.. Namun ku cegah. “Heerin!!”

“Ah!!” Kakiku sengaja ku jepitkan di pintu untuk mencegahnya menutup pintu. Sakit. Seharusnya aku yang berteriak, tapi malah dia yang berteriak.

“Kakiku.. terluka…” Ucapku sambil beberapa kali mengernyit menahan rasa sakit. “Bolehkah aku masuk?” Aku sudah masuk kerumahnya beberapa langkah sambil tertatih-tatih. “Tolong obati kakiku…”

“B..b..baik..” Ia membopongku masuk kerumahnya. Yes!! Berhasil!!

Ia mendudukkanku di sofa ruang tamu. Hey, rumah serapi ini bagian mananya yang berantakan??

Berarti dia berbohong padaku, dan berusaha menyembunyikan sesuatu. Kenapa ia lakukan itu?? Memangnya, apa yang tidak boleh ku ketahui darinya?

Tanpa sadar, dia sudah duduk di bawahku, perlahan, melepaskan sepatu cats yang kukenakan, lalu melepaskan kaos kaki yang kukenakan. Ia mengompres kakiku yang terlihat memerah dan sedikit bengkak. Ia mengompresnya dengan sangat hati-hati. Selagi ia sibuk mengobati kakiku, aku menatapnya lekat-lekat.

Sekali lagi, aku teringatkan Shin Bi.

“Shin Bi…” Ucapku pelan. Ia mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Apa?”

“Ah.. tidak.. lupakan..” Ucapku. Aduh, aku terbawa suasana.

Setelah selesai, ia membalut kakiku dengan perban. “Lain kali jangan ceroboh….”

“Ini salahmu ‘kan?” Ucapku jengkel. “Ingin berkunjung ke rumahmu, tapi tak boleh…”

Ia hanya diam.

“Memangnya ada sesuatu hal yang kau sembunyikan??”

Ia masih diam.

Beberapa saat kemudian, di duduk di sampingku, lalu bertanya, “Mau apa kau kesini? Mau tanya soal Chicken soup lagi?”

Aku menggeleng pelan, walau sebenarnya iya. “Aku hanya ingin mengungkapkan rahasiaku padamu. Tolong jadi pendengar yang baik….”

Ia mengangguk.

“Dulu.. aku di besarkan di panti asuhan sampai umurku 10 tahun.. tepatnya 7 tahun lalu…”

Aku menoleh ke arah lain. “Aku punya teman baik.. Namanya Shin Bi. Teman bermainku hanya dia, dan teman bermainnya hanyalah aku. Kami selalu membutuhkan satu sama lain. Sifat kami sama-sama tertutup saat itu, tapi saat kami bermain bersama, kami selalu terlihat ceria,.. ah.. bukan.. benar-benar ceria…”

“Untuk apa ka~”

“Ssstt…” Aku menoleh padanya dan menatap matanya. “Jangan sela aku selagi aku berbicara…”

Ia mengangguk lagi.

“Tapi.. yah.. karena aku sudah mendapatkan orang tua angkat, aku harus meninggalkannya di sana. Berat untukku meninggalkannya.. tapi mau bagaimana lagi?? Aku sudah berusaha menolaknya, tapi banyak sekali paksaan untukku menerimanya… dan akhirnya.. aku berpisah dengannya…”

Ia menatapku lagi.

“Kenangan yang aku punya hanyalah ini…” Aku menunjukkan kalung berliontin ‘Yang’ ini. “Dia punya kalung yang berliontin ‘Yin’.”

“Lalu.. Apa yang kau lakukan jika kau berhasil menemukan Shin Bi?” Tanyanya. Bagus. Pertanyaan itu yang kunantikan.

“Aku akan memeluknya.. dan tak akan membiarkannya pergi lagi dari kehidupanku… aku juga tak akan pergi lagi dari kehidupannya.. aku tak mau melakukan kesalahan yang sama…”

Ia terlihat murung, termenung. Berarti benar dugaanku, dia Shin Bi. Yang masih aku bingungkan, kenapa dia berusaha menyembunyikan kebenaran bahwa ‘dia adalah Shin Bi-ku’? Untuk apa? Padahal aku selalu menantikan kehadirannya dalam hidupku.

Beberapa menit berlalu. Aku dan dia masih membisu.

Dasar!! Masih tetap tak mau mengaku??

“Heerin…”

“Ya?”

“Trimakasih.. sudah mau mendengarkan curhatanku tadi…”

“Ya…”

Setelahnya, ia tak berkata apapun. Kami kembali masuk ke ruang kesunyian.

“Baiklah.. aku pulang dulu… sudah malam…”

Aku berjalan keluar sambil sedikit pincang karena kaki kiriku yang tadi terjepit. Aku segera mengendarai mobilku dan pulang ke asrama.

Aku ingin tahu bagaimana reaksinya setelah mendengar rahasia cintaku bersama Shin Bi dulu. Aku ingin melihatnya besok. Semoga dia mau membuat pengakuan.

~*Heerin PoV*~

Aku tak mengerti maksudnya. Kenapa ia tiba-tiba membeberkan kenangannya di masa lalu padaku? Apa jangan-jangan dia sudah tahu bahwa aku adalah Shin Bi?

Tapi untunglah, dia tak menayakan tentang Chicken Soup. Kalau ia bertanya lagi tentang itu, aku harus jawab apa?

Aku memasuki kamarku, lalu mengambil sebuah album di laci meja riasku. Album panti asuhan Bunda Maria. Sebelum panti asuhan itu ditutup, dan sebelum Bunda Kim meninggal, dia menyerahkan album ini padaku. Alasannya, karena aku satu-satunya orang yang tak mempunyai orang tua baru di panti asuhan itu.

Ya, seharusnya kau bisa tahu apa alasannya aku tak mau menerima orang tua baru, walau banyak yang memintaku.

Aku takut, saat Yi Soo kembali ke panti asuhan, dan aku tidak ada disana, ia malah kecewa. Tapi, sekarang malah aku yang kecewa. Ia tak pernah mengunjungiku di panti asuhan, dan sampai panti asuhan itu di tutup, aku tak punya orang tua.

Untungnya, Bunda Kim mau membantuku. Ia mengasuhku di rumahnya, sampai aku bisa bekerja sendiri, kira-kira umur 16 tahun. Aku berpisah dengan beliau, karena beliau wafat.

Yah, tapi aku senang dia mau membeberkan ‘Little Secret’ yang ia miliki. Berarti, dia sudah membuka hatinya untukku. Seperti yang ia bilang tadi, ia tertutup. Jika dia sudah berani mengungkapkan apa yang ada di hatinya kepada seseorang, berarti hatinya yang dingin telah luluh.

~*Sehun PoV*~

Pagi ini, kuputuskan untuk menjemput Heerin di rumahnya. Aku bangun lebih pagi dari biasanya, dan mempersiapkan semuanya sendirian tanpa bantuan Heerin.

TIN! TIN!!

Aku memencet klakson sekeras mungkin. Berhasil. Ia membuka pintunya dan berlari ke arahku.

“Kenapa~”

“Ayo berangkat…” Potongku cepat.

“Tapi~”

“Ayo…” Desakku lagi.

“Baik.. tunggu sebentar…”

Aku tersenyum lebar. Aku menunggu Heerin untuk mengambil tas dan mantelnya. Ya, cuaca hari ini sedikit dingin. Mungkin akan turun salju.

Tak lama kemudian, ia keluar dari rumahnya. Sambil tetap duduk di jokku, aku membukakan pintu untuknya.

“Kita jalan-jalan…” Ucapku santai.

“Hah?”

“Kau tahu ‘kan.. hari ini aku tak ada jadwal?” Ucapku padanya. Ku lihat lewat kaca mobil, ia mengangguk.

“Yah.. Sesekali kita harus refreshing ‘kan? Apa kau tak penat bekerja terus??”

“Ya… Penat sih…”

Aku tersenyum.

Lalu, kubiarkan suasana hening beberapa saat. Aku kembali menatapnya lewat kaca mobil. Ia sedang memandangi jalanan Seoul yang saat itu tidak terlalu macet.

Dia masih diam saja, seolah tak terjadi apa-apa. Benar dugaanku. Dia tak mau mengakuinya lagi.

Kenapa Shin Bi?

“Chicken Soup buatanmu kemarin sangat enak…” Ucapku kemudian. Ia menatapku. Ia terkejut.

“Kapan-kapan… buatkan lagi ya…” Lanjutku.

“I.. i.. iya…”

Ku tunggu beberapa saat lagi. Dia tak mengatakan apapun juga, namun masih kubiarkan keadaan dalam suasana hening. Dengan sabarnya, kutunggu pengakuan darinya.

Tapi, masih saja ia diam.

“Sebenarnya….”

Akhirnya, terlontar sebuah kata dari bibirnya yang mungil itu.

“Kita mau kemana?”

GUBRAKK!! Aku kira mau mengakui. Padahal aku sudah terlanjur berharap.

“Tidak kemanapun…” Jawabku.

“Oh…”

Hanya ‘oh’?

“Heerin…” Baiklah, harus aku yang mulai. Aku menghentikan mobilku di tepi jalan. “Kau pernah dengar cerita rakyat dari Jepang yang berjudul ‘Wanita salju berbaju perak’?”

Ia menggeleng. Bohong. Aku yakin kau pernah kuceritakan tentang cerita ini saat dulu kita masih di panti asuhan.

 Aku menatapnya lekat-lekat. “Mau kuceritakan?”

Ia mengangguk.

Aku mulai bercerita. “Di suatu malam bersalju, seorang pria bernama Mokichi bergegas turun gunung untuk pulang kerumahnya.. di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik, yang memakai pakaian warna perak…”

Aku menghela nafas, lalu melanjutkan, “Dengan tatapan mata penuh harap, ia berkata pada Mokichi, ‘kakiku keseleo.. aku tak bisa berjalan selangkahpun… bisakah antar aku kerumahku?’ Lalu, Mokichi bertanya dimana rumah wanita itu.. dan wanita itu hanya diam dan menunjuk hutan yang gelap gulita dan ta ada jalan…”

Aku menatap matanya yang hitam itu. Sempurna. Tak berubah seperti dulu. “Mokichi menjawab tegas, ‘baiklah’, lalu dia memasukkan wanita itu ke dalam keranjang yang dipikulnya… Kemudian pergi memasuki pedalaman gunung… Semakin jauh berjalan, Salju semakin tebal. Rumah wanita itu tak kunjung terlihat… Mokichi bertanya, ‘Kita tak salah jalan kan?’… Wanita itu hanya mengangguk tanpa bicara.”

Ia terlihat terkejut akan sikapku yang berubah lembut padanya. Akupun melanjutkan dongengku. “Wanita itu menunggu Mokichi kelelahan dan menjatuhkan dirinya.. Karena wanita itu sebenarnya adalah wanita salju yang suka memancing pria ke pedalaman gunung yang jau dari tempat manusia, untuk memakan roh pria itu saat tenaganya telah habis.. Akhirnya, langkah Mokichi semakin lamban,.. mulut Mokichi yang terdiam, beberapa saat kemudian bergerak perlahan dan berkata ‘nona’…”

“Seolah telah menunggu saat itu, wanita itu menjawab sambil tersenyum,.. ‘ya, ada apa?’ dengan nafas tersengal-sengal,.. Mokichi berkata dengan suara yang seolah tertahan… ‘Kau tidak kedinginan?’ begitu katanya…”

Aku melanjutkan lagi. “Pertanyaan Mokichi yang tak terduga itu membuat si wanita terkejut sampai tak bisa berbicara… Mokichi terus berusaha keras melangkah dengan kakinya yang sudah mati rasa akibat dingin… ‘Keranjangnya tidak sempit ‘kan? Kau tidak lapar? Bertahanlah sedikit lagi! Bertahanlah!!’ Ucap Mokichi berkali-kali. Wanita salju itu hanya menjawab, ‘ya..’ tapi, suaranya semakin lemah dan akhirnya tak terdengar lagi… Mokichi cemas, lalu menghentikan langkahnya dan mengintip ke arah ranjang… Kau tahu apa yang terjadi?”

Heerin menggeleng. Kau bohong, atau memang lupa ceritanya?

“Wanita itu tak ada lagi di dalam ranjangnya… yang ada hanyalah gumpalan salju yang terbungkus baju warna perak….”

Ia masih menatapku lekat, sama seperti aku menatapnya.

“Kau tahu, apa kesimpulan dari cerita ini?”

Ia menggeleng. Tapi aku menangkap cahaya kebohongan di matanya.

“Dinginnya hati Wanita salju yang dipenuhi kekejaman itu telah dilelehkan oleh hangatnya hati Mokichi yang penuh belas kasih…” Aku menggenggam tangannya erat. “Sama seperti aku dan Kau…”

Ia lebih terkejut lagi.

“Shin Bi…”

Kali ini, dia benar-benar tak berkutik. Matanya berkaca-kaca.

“Bedanya.. Wanita salju itu adalah aku, dan kau adalah Mokichi… kau telah meruntuhkan benteng hatiku yang dingin sejak 7 tahun yang lalu….”

Ia menunduk. Aku tak suka. Ku pegang dagunya dan mengangkat wajahnya, memaksanya untuk kembali menatapku.

“Sekarang… perlihatkan kalung berliontin ‘Yin’ yang kuberikan padamu dulu….”

Kini air matanya benar-benar mengalir membasahi pipinya.

“Kenapa? Kalung itu hilang?”

Ia menggeleng. Ia mengeluarkan kalungnya dari saku mantelnya. Aku mengambil kalung itu dan melepaskan kalung yang ku pakai hari ini. Lalu, menyatukan kedua liontin itu. Cocok.

“Ternyata benar… Kau Shin Bi…” Aku tersenyum padanya. “Kenapa kau tak bilang.. kalau kau adalah Shin Bi?”

Ia malah menunduk lagi, berusaha menyembunyikan wajahnya yang berurai air mata. Tapi nihil. Aku masih bisa mendengar isakannya.

“Kau marah padaku karena aku tak pernah mengunjungimu di panti asuhan?” Ucapku. “Kalau begitu.. maaf…”

“Bukan.. Bukan karena itu…” Ucapnya.

“Lalu apa?”

“Gara-gara Shin Bi, Yi Soo hampir mati… andai saja Shin Bi tidak marah pada Yi Soo saat itu… Yi Soo tak perlu mendapatkan luka mendalam di punggungnya… Shin Bi pikir.. Shin Bi hanya bisa menebus kesalahan Shin Bi waktu itu dengan menjaga Yi Soo diam-diam…”

“Salah…”

Ia menatapku.

“Aku bisa bertemu lagi dengan Shin Bi… maka kejadian itu tak pernah ku anggap ada…”

Aku mendekapnya, lalu membelai rambutnya, berusaha menenangkannya.

“Jangan pernah merasa bersalah lagi akan masa lalu.. Sekarang, hadapilah masa sekarang dan masa depan lebih baik lagi… ya?” ucapku lembut. Ia mengangguk.

14 thoughts on “[EXO in Love] Sehun – Chicken Soup

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s