[EXO in Love] Lay – I Love You, Noona


I Love You, Noona

Author : Sasphire

Main cast :Zhang Yixing (Lay), Han Min Ah (OC)

Ratting : Teen, General

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

BaekYoung | HunRin | NaYeol | JoonJa | DoSung | KaiMi | HyuMin | KrisSan | HanRi | JinDae | MinLay |

~*Normal PoV*~

“Hai manis….” Ucap Lay sambil sesekali cegukan. Ia sudah terlalu banyak minum malam itu. Ada sekitar 4-5 gadis duduk mengitarinya sambil mengelus-elus tubuhnya. Mereka tersenyum senang berada di samping Lay.

“Minum lagi….” Ucap salah satu dari gadis itu sambil menuangkan bir ke gelas yang di pegang Lay. Lay masih memasang senyum di wajahnya yang memerah.

“Oh…. Tentu….” Ucap Lay. “Hik…. Hik…”

Hingga akhirnya, Tao mendapat mandat dari Kris untuk menjemput Lay di tempat clubbing langganan Lay.

“Huh… selalu aku….” Gerutu Tao.

Ia memasuki tempat itu dengan ekspresi wajah yang merasa jijik dengan tempat itu.

“Eugh…. Apa sih, istimewanya?” gumamnya. Matanya pun memandang ke seluruh sudut ruangan hanya untuk mencari Lay. Hingga pada akhirnya, ia berhasil menemukan Lay yang dikerubungi para wanita. Ia pun berjalan cepat menghampirinya.

“Hyung!! Ayo pulang!! Jangan terus-terusan seperti ini!! Mau bersenang-senang pun ada batasnya!!”

“Eh…. Kau cantik sekali,…” Ucap Lay saat melihat Tao berdiri di depannya. Ia benar-benar mabuk. Ia menarik kerah baju Tao. “Mau ikut pesta, cantik?”

“Hey…. Aku Tao Hyung…. Lelaki….” Ucap Tao jengkel. “Benar-benar mabuk….” Batinnya. Ia melepaskan cengkeraman Lay, lalu memukul kepala Lay (bukan wajah, kepala). Beberapa gadis yang mengelilingi Lay langsung berteriak histeris melihat Lay langsung pingsan.

“Berisik!!” bentak Tao. Ia pun menggendong Lay di pundak kanannya dan membawanya pulang.

~*Lay PoV*~

Uh, pusing sekali. Saat aku sadar dari tidurku pagi ini. Aku menatap jam di mejaku.

9.45.

Tumben Tao tidak membangunkanku dengan ember yang berisi air? Apakah hari ini kami tak ada jadwal?

Aku bergegas turun dari kasurku dan membuka jendela kamarku. Cahaya Matahari yang terik itu membuatku mengerjap-ngerjapkan mataku.

Setelahnya, aku menghampiri kalender di dindingku yang biasa ku tulisi jadwal harian.

Yah, hari ini memang tak ada jadwal.

Aku pun keluar dari kamar. “Selamat pagi semua!!!!” teriakku.

Sunyi.

Tak ada seorangpun di ruang tengah. Mereka kemana?

Aku mencari ke seluruh sudut ruangan dorm kami, dari lantai bawah, ke lantai atas. Tak ada seorangpun. Mereka mau main petak umpet denganku?

Aku mendesah, lalu menyandarkan punggungku ke sofa saat duduk di ruang tengah. Dengan malas, aku menyalakan tv.

Acaranya hanya itu-itu saja. Membosankan.

Aku segera mematikan tv, dan berusaha memutar otak, mencari akal untuk menghilangkan rasa bosan ini.

“Waaa…. Kau sudah bangun??” teriak Kris saat membuka pintu.

“Hey…. Kemana saja kalian?”

“Kami??” ucap Xiumin sambil tersenyum. “Menjemput tamu special….”

“tamu special?” aku mengernyit.

“Holla…. Lay….”

Ya Ampun!! 12 orang bergerumbul masuk ke dorm kami. Seluruh anggota EXO K beserta pasangannya!

“Ada apa sih?”

“Tak apa lah….” Ucap Luhan santai. “sudah lama kita tak berkumpul seperti ini….”

“Yah…. Betul….” Ucap BaekHyun. “rencananya, kami akan menginap di sini selama 2 hari….”

“Hah??!!”

“Jangan heboh begitu Lay….” Kini Sehun yang berbicara. Ia duduk di sampingku, lalu menepuk-nepuk pundakku. “Lagipula, dorm EXO K dan EXO M kan, lebih luas EXO M,….”

Aku hanya melongo mendengar ucapan Sehun. Setelahnya, aku melihat rekan-rekanku tertawa puas. Ada yang bermain perang bantal, ada yang bermain PSP, ada jga yang hanya bercengkerama satu sama lain. Ramai sekali.

Aku langsung berniat keluar rumah.

“Hey…. Mau kemana?” aku menoleh. Tao berjalan menghampiriku.

“Cari angin segar….”

“sementara kau belum mandi?” ia tersenyum meledek. “Kau belum mandi ‘kan?”

Aku melangkah gontai memasuki kamarku, lalu mengambil handukku dan bergegas memasuki kamar mandi. Sebelumnya, aku menoleh dan menatap Tao. “itu kan, yang kau minta?”

Ia mengangguk, tersenyum padaku, lalu mengacungkan ibu jarinya untukku. Dasar!!

~***~

Aku bergegas keluar dari dorm. Memang dorm EXO M luas, tapi kalau seperti itu bisa jadi pengap. Sulit bernapas.

“Keluarkan aku!!! Dasar bodoh!!! Cepat buka resletingnya!!!”

Aku terkejut mendengar teriakkan seorang wanita di dalam tenda resleting yang ada di halaman samping dorm-ku.

“Cepat buka!!!”

“Ah… i… iya…” aku berlari menghampiri tenda itu lalu membuka resletingnya.

“PLAKKK!!!”

Aku mengelus pipiku pelan sambil melongo memperhatikan gadis itu berlari ke dalam rumahnya. “dasar lelaki bodoh!! Bisa-bisanya ia mengerjaiku!!” gerutunya.

Dia kenapa sih? Masih untung aku mau membukakan resleting tenda itu untuknya, kenapa dia malah menamparku?

Aku harus menunggunya keluar untuk minta kejelasan atas apa yang ia lakukan.

~*Min Ah PoV*~

Adikku kurang ajar!! Selagi aku berkemah di halaman depan rumah, ia mengunci resleting tendaku hingga tak bisa keluar.

Awalnya kubiarkan, tapi lama kelamaan aku ingin buang air kecil. Tak mungkin ‘kan, aku melakukannya di tenda?

Ah, lega.

Aku berjalan santai ke luar rumah.

“Lo? Kak? Kok bisa keluar?” tanya adikku yang sedang melihat tv. Ia terperanjat kaget melihatku berada di rumah.

“Lo? Kan kau yang membuka resletingnya?” ucapku pada So Hee, adik perempuanku. Jarak 5 tahun dengannya.

“Bukan!!” ia mengelak. “dari tadi aku nonton doraemon….”

“Lho?? Terus, yang membuka….”

Aku berusaha menggali ingatanku. Laki-laki!!!

Aku bergegas berlari keluar rumah, barangkali lelaki yang membukakan resleting tendaku masih berdiri disana.

Benar dugaanku.

Aku berlari menghampirinya. “Maaf… Maaf… aku tidak sengaja… aku kira kau adikku… maaf… maaf…” berkali-kali aku membungkukkan punggungku. Aku benar-benar malu.

“Akh…. Begitu…. Iya… tak apa….”

“tapi….”

“sudahlah…. Tak apa….” Ucapnya lagi. Dari ucapannya yang sejuk itu, aku memberanikan diri menatap wajahnya. Ia tersenyum padaku.

“Maaf…” ucapku lagi. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Padahal, pipinya memerah karena tamparan dariku tadi.

“Maaf ya….” Ucapku lagi.

“Ya…. Tapi lain kali, lihat dulu orangnya, cocok di tampar atau tidak….”

Aku tertawa kecil. “iya….”

“siapa namamu?” kali ini ia menatapku heran. “aku jarang melihatmu di wilayah ini….”

“Iya… aku baru pindah….” Aku mengulurkan tanganku. “Han Min Ah…”

Ia membalas jabatan tanganku. “Yi Xing…. Tapi kau bisa memanggilku Lay….”

“Lai?” aku mengernyit. “Bohong?”

“Bukan L-I-E…. tapi Lay…. L-A-Y….”

“ah… begitu…” aku tersenyum. “senang bertemu denganmu….”

Ia hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu pergi begitu saja.

Cuek sekali.

~*Normal PoV*~

Malamnya….

“Lay kemana? Dari tadi pagi belum pulang juga….” Ucap Suho khawatir.

“Kalau jam segini, biasanya clubbing…” Tao berkata dengan cuek.

“Ya sudah…. Kris…. Jemput dia!!” Suho berucap dengan tegas.

“Lho?? Kok aku? Tao tuh, yang biasa jemput!!”

“Kan yang punya untuk mengajak kami kesini adalah kau. Mungkin Lay kesal, lalu berusaha menghindari kita….”

“Hey….”

“Benar itu, Benar…” ucap Tao dengan semangat. “cepat jemput dia, Hyung!! Kau tahu dimana tempatnya ‘kan?”

“Masalahnya, mobilku sedang di servis di bengkel….”

“Kau pinjam saja ke tetangga sebelah…. Dia orang baik kok….” Sekali lagi, Tao berucap penuh semangat.

“Ya sudahlah….” Kris melangkah gontai keluar dari dorm dan berjalan menuju rumah Min Ah.

Tao tersenyum riang.

“Kenapa Tao?” tanya Baekhyun keheranan. “Kau terlihat sangat senang….”

“tidak, tidak ada apa-apa,” ucapnya masih tersenyum penuh arti. “akhirnya, aku bisa menyuruh Kris untuk menjemput Lay…. Kesempatan yang langka sekali…. Trimakasih Suho….” Gumamnya.

~***~

“Pinjam mobil?” Min Ah mengernyit.

“Iya… boleh kan? Untuk menjemput temanku di club malam….”

“Oh….” Min Ah berteriak ke adiknya. “Saengie…. Aku pergi sebentar…. Jaga rumah baik-baik ya….”

“Lho? Kenapa?” tanya Kris. “Aku hanya pinjam mobilnya….”

“Kau tak akan bisa mengendarai mobilku… yang bisa mengendarai mobilku hanya aku saja….”

Kris masih belum mengerti.

“Ayo….”

“I… iya…”

Kris mengikuti langkah Min Ah ke bagasi mobilnya. Perlahan, Min Ah membuka pintu bagasi, lalu mengeluarkan mobilnya. Mobil Jeep tahun 60-an. Sangat tua.

“Ayo….” Ucap Min Ah membuyarkan lamunan Kris. Tanpa banyak bicara, Kris langsung menaiki mobil itu. Min Ah pun melaju ke club malam dengan santainya.

~***~

Saat sampai….

“Kau tunggu di sini ya….” Ucap Kris, lalu memasuki club itu, sama seperti Tao.

Saat di dalam, ia melihat Lay berdiri di samping meja bar sambil merangkul 2 gadis cantik. Ia tersenyum senang.

“Hey!!” Kris menghampiri. “Pulang!!” ucapnya singkat.

“Tidak mau!!” ucap Lay. “di asrama sangat pengap….”

“Hey…. Jangan begitu…. Mereka keluarga kita….”

“Ya. Aku tahu. Tapi aku sedang tak ada mood untuk ke sana. Aku akan pulang saat malam…. Saat semua sudah terlelap….”

“Tapi…”

“Ayo gadisku…. Kita pindah tempat…. Disini ada pengganggu….”

“Kurang Ajar!!” batin Kris. Ingin rasanya ia memukul Lay, tapi ia tak berani membuat malu Lay di tempat ramai seperti ini. Dengan kecewa, ia keluar club itu dan memasuki mobil Min Ah.

“Mana temanmu itu?” tanya Min Ah heran.

Kris menghela nafas. “Dia tak mau pulang….”

“Wae?”

“Yah, begitulah….”

“Siapa namanya?”

“Lay….”

“Oh, dia,… aku kenal dia….” Min Ah tersenyum. “Biar aku saja yang mengajaknya pulang….”

“Eh….” Kris memengang lengan Min Ah. “Bagaimana caranya?”

Min Ah tersenyum, melepaskan genggaman tangan Kris, lalu berkata, “tenang saja….”

Min Ah segera turun dari mobil dan memasui club itu.  Kris pun turun dari mobil itu dan melangkah cepat mengikuti derap langkah Min Ah yang tak kalah cepatnya.

Saat memasuki club….

“dasar suami tak tahu diuntung!!!”

Semua mata memandang Min Ah yang baru saja berteriak, tak terkecuali Lay. Ia terkejut. “Min Ah?”

“Kau kenal dia??” tanya salah seorang gadis yang merangkul Lay.

“Dia tetanggaku….”

Lay lebih terkejut lagi saat melihat Min Ah berjalan menghampirinya dengan wajah amarah.

“Benar dia tetanggamu? Bukan istrimu?”

“Bukan!!” ucap Lay.

“Hah…. Jadi kau disini berduaan dengan gadis lain, bersenang-senang dengan alcohol, tersenyum riang begini, tanpa peduli dengan anak istrimu dirumah?? Hah!!”

“Hey….”

Min Ah menyiram Lay dengan segelas air putih yang ada di meja dekat bar yang baru saja ia ambil. Dan dengan penuh emosi, ia meletakkan gelas kosong yang ia pegang dengan kasar.

“Sekarang, Ayo pulang!!!” Min Ah menarik paksa tangan Lay.

Gemuruh cibiran terdengar jelas untuk Lay karena kejadian itu. Lay merasa sangat malu dan kesal. Kris yang melihat kejadian itu hanya menahan tawa.

Saat di luar….

Lay melepaskan genggaman Min Ah dan menatap Min Ah penuh kekesalan.

“Masuk…..” ucap Min Ah sambil menunjuk mobil dengan ujung dahinya.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Lay menatap Min Ah dengan tajam.

“Sebuah pelajaran, supaya kau tidak datang ke club itu lagi….”

Lay masih berdiri mematung menaap kesal Min Ah, padahal Min Ah dan Kris sudah memasuki mobil.

“Kenapa?” Tanya Min Ah. “Kau ingin masuk ke club itu lagi, lalu menjelaskan ke semua orang yang ada disana bahwa aku bukan istrimu?” Min Ah tersenyum sinis. “percuma….”

“Ahhh!!!” Lay bergegas menduduki jok belakang setelah menutup pintu mobil dengan cara membantingnya.

“Jalan!!!” ucap Lay kasar. Min Ah hanya tersenyum sambil bergumam, “kekanak-kanakan sekali….”

~***~

“Hey… Bro…. akhirnya aku pulang juga….” Pekik Suho gembira.

“Cerewet!!” Lay langsung memasuki kamarnya lalu menutup into kamarnya dengan kasar.

“Kau apakan dia?” tanya BaekHyun pada Kris. Kris hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.

~***~

Paginya….

Min Ah mengetuk pintu dorm EXO. Kebetulan, Kris yang membuka pintu. “Min Ah…. Silahkan masuk….” Ucapnya sambil tersenyum senang.

Min Ah memasuki rumah dan duduk di sofa ruang tamu. “Kenapa Sepi?”

“Ah…. Para anggota EXO yang sudah punya pacar mengadakan acara dengan pasangannya masing-masing….” Jawab Kris. “Aku juga akan pergi setelah ini, bersama San Ra….”

“Oh….”

“Baiklah…. Lay sedang mandi…. Tunggu saja….”

Min Ah mengernyit. “Darimana kau tahu kalau aku mencari Lay?”

“Yah, Entahlah,” ucap Kris santai. “mungkin kau merasa bersalah karena telah mempermalukannya?”

Min Ah diam. “benar sih….” Gumamnya.

“Ya sudah…. Aku tinggal ya…. San Ra sudah menunggu….”

Tanpa menunggu jawaban dari So Ra, ia langsung keluar rumah dan menutup pintu.

~*Min Ah PoV*~

Seenaknya saja keluar. Tak sopan sekali pada yang lebih tua. Eh, iya. Dia kan belum tahu berapa umurku?

Tak lama kemudian, aku melihat seorang lelaki yang memakai kaus putih yang ada strip berwarna hitamnya yang tertidur di sofa itu. Kenapa aku tak menyadari keberadaannya, padahal ia sudah dari tadi di situ?

“Kenapa kau disini?” aku menoleh. Lay. Ia memakai baju handuk berwarna putih.

“A… aku….”

Tanpa menunggu jawabanku, ia bergegas memasuki kamarnya dan menutup pintunya. Tak sopan sekali.

Aku melihat seorang lelaki yang rambutnya acak-acakan sambil membawa seember penuh air. Ia berjalan menghampiri lelaki yang sedari tadi tidur di sofa, lalu….

“Byur!!!!”

Aku mengangkat kedua kakiku, menghindari cipratan airnya.

“Bangun!!! Dasar!! Mau bangun jam berapa kau hingga puas??”

“Tao!!” lelaki yang tidur tadi langsung bangun dan mengusap wajahnya. “Kenapa cara membangunkanmu selalu pakai air? Tak ada cara yang lebih lembut??”

“Aku juga tak ingin melakukannya, karena membawa air di ember sangat berat!! Tapi karena kau susah dibangunkan, makanya ku siram saja!!”

Aku hanya menahan tawa mendengar pertengkaran antara mereka. Mereka masih sangat kekanak-kanakan, padahal mereka public figure.

Aku memang tak kenal mereka, tapi kata adikku, mereka adalah anggota EXO M. aku masih ingat betul saat ia berteriak histeris begitu tahu rumah di samping kami adalah asrama EXO M.

“Sudah!! Cepat mandi!!”

“Ya ya….”

“Eh… ada tamu…” ia tersenyum padaku, lelaki yang berambut acak-acakan. “maaf atas pemandangan tak sedap barusan….”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian, Lay keluar dari kamarnya. Mendapati diriku masih duduk di sofa ruang tamu, ia langsung menatapku kesal. “Pulang sana….”

“Aku hanya ingin~”

“Minta maaf?” ia tersenyum sinis. “Kau sudah menghancurkan masa depanku….”

Masa depan? Di club malam seperti itu memangnya ada masa depan yang cerah?

“Aku pikir club malam itu bukan tempat yang baik bagimu…. Jadi aku lakukan hal seperti itu supaya kau tak kembali lagi ke sana…. Itu kebiasaan buruk….”

“Dasar!! Pakai menasihatiku segala, padahal baru kenal,” kini, ia berjalan menghampiriku, lalu membungkuk. Wajahnya kini tepat di depanku. “Jangan sok menasihatiku, bahkan aku tahu kau lebih muda 3 tahun dariku….”

“Kau kelahiran tahun berapa?” tanyaku terus terang.

“1991, tepatnya, 7 oktober 1991….” Ia kembali tersenyum sinis. “bagaimana? Benar ‘kan kataku?”

“Kalau boleh jujur sih, sebenarnya aku lebih tua 3 tahun darimu….”

~*Lay PoV*~

“Hah??” aku langsung berdiri mendengar perkataannya tadi. “Hey, jika ingin bohong, lebih bermutulah sedikit…. Setiap orang yang melihatmu, pasti mengira kau umur 17 tahun….”

Ia malah tersenyum, lalu mengambil dompetnya yang ada di saku celana jeans-nya. Ia pun menyodorkan kartu identitasnya padaku. “Lihat saja kalau tak percaya….”

Aku langsung melihat tempat tanggal lahirnya di bawah namanya.

Seoul, 3 April 1988.

“Hah…. Dasar!! Kau menipuku lagi!!” aku melemparkan kartu identitasnya, lalu bergegas keluar rumah, menghindarinya. Sialnya, ia malah mengikutiku.

“Aku tak akan pergi meninggalkanmu sebelum kau memaafkanku!!”

Iya lah, terserahmu.

Aku berjalan kemanapun aku mau, walaupun tak tentu arah, dan tak tahu harus kemana. Aku hanya terus berjalan, membuat Min Ah lelah mengikutiku.

Nihil.

Ia malah terus-terusan berjalan di sampingku sambil bernyanyi lagu kesukaannya dengan riang, padahal lagu yang ia lakukan adalah lagu sendu.

Let it be, by The Beatles.

Lama-kelamaan malah aku yang lelah. Aku pun duduk di bangku taman. Ya, sekarang tujuanku hanyalah mencari tempat istirahat karena sudah terlalu lama jalan, bukan lagi karena ingin menghindar dari Min Ah.

“Mau kubelikan Es Krim?” ucapnya saat melihat orang yang berjualan Es Krim lewat di depan kami.

“Aku bisa membelinya sendiri kalau aku ingin…” ucapku ketus.

“Ku kira tidak….”

“Kenapa?”

“Kau tak membawa dompet kan?”

Aku segera meraba celana jeans-ku. Sial. Benar katanya. Aku menatapnya. Ia tersenyum penuh arti.

“Aku belikan….”

“Eh….”

Belum sempat aku berkata, dia sudah berlari menghampiri penjual es krim itu.

Aku memperhatikannya dari jauh. Dia cantik. Sangat cantik. Itu yang membuatku mengira ia 3 tahun lebih muda dari aku. Ternyata, kebalikannya.

Tak lama kemudian, ia tersenyum dan berjalan menghampiriku. “Nih….”

Aku memandang ke arah lain. “aku tak mau….”

“Sudahlah…. Ambil saja, tak usah sungkan….”

Aku mengambil es krim yang ia pegang, tanpa melihat wajahnya. “Iya iya….”

Terdengar kekehan pelan darinya. Dasar.

Aku hanya melihat ujung es krim yang menjulang tinggi itu. Topping chocolate. Aku tak terlalu suka coklat sih.

“pergi dari sini….” Ucapnya tiba-tiba sambil menarik tanganku dan berlari ke semak-semak yang ada di taman itu, membuat es krim yang ada di tanganku terlepas dan jatuh.

“Kau ini bagaimana? Membelikanku es krim, malah membuatku tak sengaja membuangnya!!”

“Ssssttt!!” ia meletakkan jari telunjuknya ke bibirku, membuat jantungku berdebar seketika itu juga.

Ia pun menyibakkan semak-semak yang menghalangi wajahnya. Aku melihat seorang lelaki dan seorang perempuan tengah duduk di bangku taman, bermesraan.

“Laki-laki itu, kurang ajar!!” ucap Min Ah penuh emosi.

“dia siapa?”

“pacarku!!” kulihat, ia keluar dari semak-semak dengan emosi yang meluap. “dan mulai detik ini bukan!!!”

Ia berjalan cepat menghampiri lelaki itu. Aku berjalan di belakangnya.

“PLAKKK!!”

Reflex, aku memegang pipiku. Bukan pipiku yang di tampar, tapi suara tamparan tadi membuatku seperti merasakan sakit.

“Dasar lelaki tak tahu diri!!” ucap Min Ah. “selama 2 bulan terakhir ini, aku selalu menguatkan hatiku untuk terus bersamamu!! Walau aku bosan, tapi aku tetap berusaha setia padamu, karena kukira kau tak pernah menyakitiku!! Walau aku sudah tak mencintaimu lagi, aku tetap meyakinkan diriku bahwa kau yang terbaik…. Ternyata….”

“Min Ah… a-aku…”

“Panggil aku Noona!! Bodoh!! Kau pikir setelah aku menamparku, kau masih memilikiku sebagai kekasih??”

“A….”

“Ayo, Sayang…” ia merangkul lenganku, kembali membuat jantungku bergetar. “Kita pergi dari sini…”

Aku terpaku menatapnya. Setelahnya, Min Ah berbisik padaku, “bantu aku….”

“Ayo kita pergi….” Ucapnya lagi.

Tanpa sadar, aku berkata, “Ya….”

“Min Ah…. Kenapa….”

“Kau pikir hanya kau yang bisa selingkuh?” ucap Min Ah selingkuh. “Aku juga bisa!! Lagipula, tadi sudah ku bilang kan, aku sudah lama bosan padamu!!”

Min Ah tak mempedulikan lelaki itu lagi, lalu mengajakku pergi dari sana.

“Kau benar tak apa??” tanyaku khawatir. Entah mengapa, aku bisa khawatir padanya.

“Taka pa kok….” Ia menjawab di sertai tawa renyah darinya. “aku sudah bilang kan? Aku sudah lama bosan padanya, tapi aku takut memutuskannya karena aku tak punya alasan untuk memutuskannya.”

“Kenapa bosan?”

“Dia kekanak-kanakan, egois, membosankan…. Seperti itulah dia….” Ia menatapku. “dia juga…. Agak….”

Ia hanya menggerakkan ke empat jari tangan kanannya ke bawah. Aku mengernyit. “Banci?”

Ia mengangguk sambil menyengir jijik.

“Kenpa dia bisa jadi seperti itu? Selingkuh di belakangmu?”

“Entahlah, tapi, dia punya kesan yang baik kepada kebanyakan wanita saat memandangnya pertama kali….”

“Bagaimana?”

“Dia itu, anak yang pendiam, penurut, wajahnya juga lumayan, pokoknya terlihat sempurna saat pertama di lihat…. Lama kelamaan, hilang….”

Aku hanya tersenyum.

“Kau sudah memaafkanku?”

Ah, lupa. Aku berusaha jual mahal padanya, setelah kejadian tadi, aku malah jadi akrab padanya.

“Menurutmu?” tanyaku, lalu berjalan cepat mendahuluinya.

“SUDAH!!!” teriaknya. Dasar.

~***~

Malamnya….

“Kak… tolong….”

Aku berlari keluar kamarku dan bergegas membuka pintu. “Ada apa?”

“Kak Min Ah….”

“Kenapa?” tanyaku.

“sampai jam segini dia belum pulang….”

Aku mengalihkan pandanganku pada jam dinding. 22.45.

“Memangnya, dia kemana?”

“Ke club malam….”

Dia.

Padahal tadi pagi dia bilang itu bukan tempat yang baik, tapi sekarang ia malah ke club malam.

“kau tunggu saja di rumahmu…. Aku akan menjemputnya….”

~***~

Saat sampai, aku melihat Min Ah sedang duduk di tepi meja bar sambil menggenggam gelas kecil berisi bir yang ada di tangan kanannya. Wajahnya terantuk di meja.

“Hey…. Adikmu khawatir tuh….” Aku menepuk pundaknya.

“Masa bodoh!!” bentaknya.

Aku langsung memutar otak untuk bisa mengajaknya pulang.

Ah, pakai caranya yang kemarin saja.

“Ma!!! Malah membuang waktu disini!! Kau tak tahu anak kita kelimpungan di rumah menunggumu!!”

“Ah??” ia menatapku dengan pandangan mata sayu. Ia sudah terlalu banyak minum.

“Ayo pulang!!”

“Pa…. aku masih ingin disini….”

Respons yang bagus!! Dia benar-benar mabuk.

“Dasar!! Kau tak cocok untuk jadi ibu!!!”

Semua orang memandangku aneh. Ya, awalnya mereka temanku. Setelahnya, mereka malah mengucilkanku gara-gara Min Ah. Tapi kalau Min Ah tak melakukannya, mungkin aku tak akan punya kenangan yang menggelikan darinya.

Ah, Lay!! Kau berfikir apa?

Aku segera menarik tangan Min Ah, lalu mendudukknya di jok sampingku.

“Semua laki-laki brengsek!!!”

Aku tertegun mendengar ucapannya. “Maaf deh…. Lain kali tak akan kulakukan lagi….”

“Bukan kau, Pa….”

Masih memanggilku Pa. aku malah tersenyum senang.

“Katanya tak apa….”

“Iya sich….”

Tanpa sadar, kepalanya bersandar di bahuku. “untung ada kau ya….”

Aku tersenyum, lalu segera mengendarai mobilku, tanpa menyuruhnya menjauhkan kepalanya dari bahuku.

~***~

“Kakak….” Pekik adiknya saat melihatku menggendong kakaknya dan memasuki rumah.

“Kamarnya dimana?” tanyaku padanya.

“Di… atas….” Ia berlari menyusuri tangga. Aku mengikuti langkahnya sambil menahan berat beban Min Ah.

“Disini….” Adiknya pun membuka pintu kamar Min Ah.

Aku segera menurunkan Min Ah ke kasurnya begitu memasuki ruangannya. Akupun melepaskan sepatunya.

“Tidurlah yang nyenyak….”

“Jangan Pergi!!!”

Ia menarik lenganku, membuatku terjatuh di kasurnya.

“Temani aku…. Malam ini saja….”

Aku menatapnya lekat-lekat. Wajahnya yang membulat sempurna, alisnya yang terukir indah, bibirnya yang ranum….

“Aku harus pulang….” Ucapku lirih.

“Kumohon….”

Aku menatap adiknya. Ia hanya mengangguk, tanda mengijinkanku. “Jangan macam-macam!!!”

Ia pun meninggalkan kami dan menutup pintu dengan pelan.

“Baiklah….”

Ia hanya tersenyum, lalu benar-benar terlelap.

~***~

Aku bangun terlebih dulu daripada dia. Aku tersenyum menatap wajahnya. Meski tidur, ia tetap cantik.

Aku membuka jendela kamarnya, dan menyibakkan gordennya, membiarkan cahaya terik matahari menyinari kamarnya.

“Lay….”

“Kau sudah bangun?”

Ia pun duduk, lalu tersenyum padaku. “Trimakasih ya….”

Aku hanya mengangguk.

Entahlah, jantungku rasanya berdebar-debar sejak aku bangun tadi. Ada rasa hangat yang sebelumnya belum pernah kurasakan.

Aku berjalan menghampiri Min Ah, lalu duduk di sampingnya, menatapnya lekat.

“I Love You…. Noona….”

Hey, aku bilang apa sih? Bagaimana mungkin kalimat itu keluar begitu saja? Bahkan kami baru kenal 2 hari yang lalu!!

Ah, bodoh!!

“taka pa….” ia tersenyum padaku. “tapi, mungkin aku akan menerimanya lain kali….”

Aku diam.

“kita butuh perkenalan lebih jauh lagi ‘kan?”

Aku hanya mengangguk, lalu tersenyum.

“Lagipula, aku… baru saja….”

“Iya aku tahu….” Potongku cepat. “lagi pula, kita masih bisa berteman kan?”

Dia mengangguk. “oh ya, jangan panggil aku Noona, panggil saja Min Ah….”

Aku mengernyit. “kenapa?”

Ia tersenyum. “suatu hari nanti, di saat yang tepat, aku akan menerima cintamu. Janji….”

Ia mengacungkan jari kelingkingnya di depan wajahku. Aku tersenyum, lalu melingkarkan jari kelingkingku ke jarinya. “Janji….”

~***~

4 thoughts on “[EXO in Love] Lay – I Love You, Noona

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s