[EXO in Love] Kris – Just One Love


Just One Love

Author : Sasphire

Main cast : Wu Fan (Kris), Moon San Ra (OC)

Ratting : Teen, General

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

BaekYoung | HunRin | NaYeol | JoonJa | DoSung | KaiMi | HyuMin | KrisSan

~*Kris PoV*~

Aku tersenyum memandangi foto masa kecilku bersama San Ra, di album warna merah maroon itu. Sudah usang sih, tapi kenangannya tak akan lapuk.

Foto di halaman awal album itu adalah San Ra. Ia memeluk erat boneka teddy bear warna biru sambil bibirnya sedikit maju, maksudku, cemberut.

Saat itu aku menggodanya.

“Akan ku ambil bonekamu jika kau tak mau di foto!!” ancamku saat itu. Yah, sulit sekali mengajaknya foto bersama. Dia anak yang pemalu.

Dan ancamanku sangat ampuh, walau akhirnya, yang kudapat malah ekspresi jelek dari wajahnya.

“Hyung….” Panggil Luhan, membuyarkan lamunanku.

“Apa?” ucapku dingin.

“Setiap hari, senyum-senyum sendiri….” Ucapnya. “Itu sangat kontras dengan sikap angkuhmu kepada setiap wanita yang kau temui….”

Tao yang sedari tadi focus melihat KungFu panda, kini ikut menatapku. “Iya…. Kenapa Hyung?”

Aku diam saja. Tak penting memberitahu mereka apa yang aku pikirkan. Mereka tak paham.

“Halah….” Ucap Lay ketus. “Paling, yang membuat ia senyum-senyum sendiri itu, Moon San Ra…”

Kali ini aku merespons ucapan anak buahku (?). aku menatap Lay.

“Aku benar ‘kan?” ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

Ya. Kau benar.

~*Flashback : On*~

3 tahun lalu….

“WuFan!!!!!” gadis itu berteriak lagi padaku. Sungguh memekakkan telinga.

“Hyung…. Kasian jika didiamkan….” Ucap Lay padaku.

“Masa bodoh!!” aku terus berjalan ke depan.cepat menghindarinya.

CKITTTT!!!

Aku dan Luhan langsung menutup lubang telinga kami dengan ujung jari telunjuk kami sambil mengernyit setelah mendengar rem mendadak gadis itu. Ah, dia naik sepeda.

Ia menyeka keringatnya sambil tersenyum lebar. “Kau jalan sangat cepat ya?”

Aku diam, mengalihkan pandanganku ke arah lain.

Tiba-tiba, ia menarik tangan kananku, lalu menggenggamkan kotak bekal warna pink berbentuk hati ke tanganku. Aku menatapnya tajam.

“Apa ini?”

Ia masih tersenyum. “Aku tahu, kau tak punya kebiasaan sarapan pagi, jadi, untuk membantumu menambah energy di hari yang cerah ini, aku memasakkan nasi dengan telur mata sapi untukmu….”

Aku tersenyum sinis padanya, lalu menyerahkan kotak nasi itu pada Luhan. “untukmu….”

San Ra menatapku tak percaya.

“Ayo pergi…” Ucapku pada Lay.

“I.. Iya…”

“Heh!!!” San Ra merebut kotak bekal itu dari Lay. “Aku ‘kan, membuatkan sarapan hanya untukmu, bukan untuk dia…”

Ia membuka tutup kotak bekal itu, lalu menyendokkan sesuap nasi.

“Apa yang.. hauph…”

Ia menyumpal mulutku dengan nasi di sendoknya. Sambil mengunyah makanan itu, aku menatapnya terkejut.

“Bagaimana? Enak kan?” ucapnya sambil tersenyum. “Aku dapat nilai 10 di kelas memasak….”

Aku masih menatapnya tak percaya. Lancang sekali ia menyuapiku? Memang dia teman masa kecilku. Tapi karena ia pergi ke Kanada tanpa memberi tahuku 2 tahun lalu, aku jadi sedikit kesal padanya. Yah, meskipun sekarang ia sudah kembali ke Korea, tetap saja, aku kesal padanya.

Kulihat, ia menutup kotak bekal itu, lalu menggenggamkannya lagi ke tanganku. “Karena kau sudah tahu rasanya, pasti kau tak akan membiarkannya pindah ke tangan orang lain….”

Ia pun menaiki sepedanya lagi. Lalu melambaikan tangannya padaku. “Bye….” Ucapnya sambil tersenyum lebar.

Ya, rasanya memang enak. Aku tersenyum memandangi kotak bekal itu. Dari kecil, sifatnya yang semaunya sendiri itu tak berubah.

“Hei….” Ucap Lay.

Aku menatapnya.

“Jadi untukku?” ucapnya lagi.

“Dia kan memasak ini untukku, bukan untukmu….” Aku pun berjalan lagi.

~*Flashback : off*~

Ah, Masa SMA yang menyenangkan. Aku selalu tersenyum jika mengingat kejadian itu.

Yah, sebenarnya, yang bisa memulihkan semangatku saat penat, yang bisa menyembuhkanku saat hatiku lara, ya hanya San Ra.

Sayangnya ia pergi ke Kanada lagi, mengikuti orang tuanya.

Ayahnya orang Kanada, ibunya orang Korea.

Aku tak tahu kapan ia kembali ke Korea, yang pasti, ia pernah berjanji padaku bahwa ia akan kembali ke Korea, tapi ia tak tahu kapan datangnya hari itu.

Saat itu aku percaya begitu saja, tapi setelah berkali-kali kupikir….

Bukankah itu hanya janji semu?

Aku selalu berharap dia bisa di sisiku lagi, mengingat ia selalu rajin mengirimiku E-Mail yang berisikan support padaku di setiap harinya. Terkadang ia menelfonku. Nada riang selalu terdengar di setiap penekanan suku kata yang ia lontarkan, seolah tak ada masalah.

Aku senang jika ia bahagia di sana, tapi…

Hey, aku disini kelimpungan menunggumu, tak tahukah kau, aku lelah menanti? Aku bukan tipe orang yang suka menunggu, tapi ia berhasil menyuruhku untuk menunggunya.

Sebenarnya, aku bukan orang yang menyukai Long Distance Relationship. Aku sering meledek Tao yang pacarnya ada di China untuk mendalami KungFu-nya. Dan Tao hanya menjawabnya dengan senyuman.

Dan sekarang, hukum karma berlaku padaku. Ledekan yang kulemparkan pada Tao kini menyerangku layaknya boomerang.

Aku harus bagaimana?

~**San Ra PoV*~

“Are you sure?” ucap Ayah saat aku berkata bahwa aku ingin tinggal di Korea.

Aku hanya mengangguk.

“Why?”

“I can’t say the reason to you, daddy….” Jawabku sekenanya. Ya, ini masalah pribadi. Ada masalah yang harus diceritakan pada orang tua, ada juga yang tidak.

“Jika begitu, kami tak akan membiarkanmu kembali ke Korea…” ucap ibu sambil menatapku dengan binar mata penuh kebijaksanaan.

“Ibu…. Aku sudah dewasa ‘kan? Ada suatu hal yang harus diketahui Ayah dan Ibu, ada juga yang tidak…”

Ibu menatapku lekat, lalu berbisik pada Ayahku. Entahlah. Tapi, mudah-mudahan ibu mau membantuku. Yang paling pengertian padaku hanya ibu…

Juga Kris.

Ayah pun kembali menatapku. Ia terlihat menghela nafas. “Baiklah….” Ucapnya dengan sedikit patah-patah. Aku heran pada Ayah. Dia sudah menikah lama dengan ibu ‘kan? Kenapa Bahasa Korea dia masih belum lancar?

“Asal kau bisa jaga diri….” Ucapnya lagi.

Fiuh… Syukurlah.

Aku tak perlu baku hantam dengan orang tuaku, seperti saat SMA dulu.

Saat aku dipaksa ikut ke Kanada oleh kedua orang tuaku. Saat sampai di rumah ini, aku langsung memecahkan gelas-gelas yang terjajar rapi di dapur untuk meluapkan rasa marahku yang sudah sampai ke ubun-ubun.

Aku dikurung di kamar selama 2 minggu.

~*Kris PoV*~

Menjadi leader sebuah Boyband membuatku stress belakangan ini. Maksudku, bagaimana ya?

Super sibuk pokoknya.

Mempersiapkan debut, launching album, dan yang lainnya, yang membuatku senewen.

Tapi untunglah, aku tak perlu membuat video teaser yang banyak seperti Kai. Aku jadi tak terlalu membuang-buang tenagaku hanya demi Teaser.

Tapi, tetap saja. Kesibukan ini membuatku tak ada waktu untuk membuka e-mail, ataupun menerima telpon dari San Ra. Padahal dia satu-satunya orang yang bisa menyegarkanku di saat-saat seperti ini.

Memang, sesibuk-sibuknya orang pasti ada waktu luangnya. Tapi, kalau aku?

Waktu luang yang kumiliki hanya malam, saat semua orang harus terlelap dalam tidurnya.

Yah, andai saja Pak Tua Lee Soo Man itu mau mengerti keaadanku sedikit saja.

San Ra memang pernah menasihatiku, apapun keadaannya, aku tak boleh mengeluh. Tapi, jika keadaan ini membuatku semakin jauh darimu, apa aku tak boleh mengeluh, Lee San Ra?

Andai saja kau ada di sini.

“Hyung….” Panggil Chen, membuyarkan lamunanku. “Giliranmu…”

“Ya…” Aku melangkah gontai ke kamar mandi. Dari tadi, kami ber-enam antri ke kamar mandi di dorm EXO M. dan apesnya, aku mendapat giliran terakhir.

Yah, sudah nasib. Yang tua selalu mengalah.

Aku yakin Suho juga begitu.

~***~

“Yeah Women bao jin wei yiti zai dansheng de shunjian….Que kaishi xiguan shūli he yige ren de shijie….” Ucapku di latihan vocal hari itu.

“Cukup!! Cukup!” ucap pelatih vokalku sambil menepuk tangannya. “Suaramu fals sekali….”

Ya, memang fals. Ingin kusesuaikan nada fals-ku dengan pendeknya tubuhmu, gerutuku dalam hati.

“Baiklah… Chen, ganti kau…”

Chen hanya mengangguk, lalu berjalan menghampiri pelatih vocal kami.

Kalau dia sih, aku tak ragu akan kemampuannya. High note-nya kuat. Dia juga punya power. Dia yang paling sedikit kena omelan pelatih vocal kami (atau mungkin tidak pernah sama sekali). Selain itu, tidak ada factor luar yang mempengaruhi emosinya saat bernyanyi.

Tahu kan, maksudku factor luar?

Itu lo, perasaan cinta, perasaan kesepian, atau yang lain, seperti yang ku alami.

Beda dengan Luhan atau XiuMin. Mereka dekat dengan tambatan hati mereka. Mereka sangat bisa menguasai lagu, karena perasaan mereka berbunga-bunga sekarang.

Kapan ya, aku seperti mereka?

~***~

“Hyung….” Kali ini, Lay yang memanggilku. Ia pun duduk di sampingku.

“Apa?” ucapku dingin.

“Hyung tak apa, terus-terusan begini?”

“begini apa?” aku balik bertanya.

“Ya begini…. Kelimpungan hanya karena San Ra….”

Dia bilang apa? Hanya karena San Ra? Wah, dia tak tahu siapa San Ra.

Aku diamkan saja dia. Jika kuladeni, amarahku malah memuncak nantinya.

“Hyung tak punya keinginan untuk mencari gadis lain?”

Kali ini aku menatapnya tajam, penuh amarah. Bara api kemarahan sudah meluap, membuat batinku mendidih.

“M-ma… maksudku… begini… aduh… gimana ya?” ucapnya bingung.

“Sudahlah!! Hentikan omong kosongmu itu!!” ucapku penuh emosi padanya.

“Bukan…. Maksudku…. Kau harus mencoba untuk melupakan masa lalu, dan cobalah menghadapi masa depanmu yang penuh misteri…. Kau tak bisa terus-terusan hanyut dalam masa lalumu…. Iya jika San Ra masih mengingatmu, masih mengingat janjinya untuk kembali menemuimu…. Bagaimana jika tidak? Kau akan kesepian…”

“Dia bukan tipe orang yang seperti itu!!” bentakku padanya, berusaha menghentikan omong kosongnya, dan berusaha menguatkan hatiku yang mulai goyah oleh ucapan Lay.

“Tapi, belakangan ini kau terlihat ragu…”

“Itu karena aku kehilangan kontak dengannya!!” sergahku cepat.

“tapi, di dalam benakmu, sudah terlihat jelas kebimbanganmu….”

“Apa?”

“Ya… bukan sesuatu yang kasat mata sih, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas….” Ucapnya santai, seolah-olah tak merasa takut akan amarahku, padahal di matanya terlihat jelas ketakutan yang nyata.

“Apa yang kau lihat?”

“Tanda….” Ia menggerakkan ujung jari telunjuknya untuk membuat tanda tanya.

Aku diam. Aku membalikkan badan dan memasuki kamarku. Aku tak peduli dengannya. Sebelum memasuki kamar, aku bilang padanya, “yang tahu betul apa yang ada di benakku, hanya aku seorang!!”

BLAM!!

Aku menutup pintu dengan keras. Dasar!! Sok tahu sekali, seolah-olah dia adalah dewa cinta di dunia ini.

Aku membanting tubuhku di kasur, lalu berbantalkan kedua lenganku sambil menatap langit-langit kamar.

San Ra…. Tolong datanglah….

Sebelum aku berpaling ke yang lain….

~***~

Hari ini libur. Tumben sekali. Biasanya, hari Minggu tetap kerja, maksudku, perform ke acara music yang sudah di tandatangani Pak Tua Lee.

Yah, tak apa lah. Kami memang butuh refreshing.

Aku segera membuka laptopku yang, yah, 5 minggu ini tak kusentuh sama sekali. Setelahnya, aku menancapkan modem di laptop ASUS warna hitam itu dan seera membuka E-Mail.

San Ra…. Aku datang….

Benar dugaanku. Seluruh pesan yang ada di Mail-boxku hanya darinya. Aku tersenyum, lalu membukanya satu-persatu.

 

Hallo oppa…

Bagaimana pagimu? Cerah-kah? Atau mendung? Bagaimanapun cuacanya, aku harap oppa selalu cerah ^_^

Yah, dan berbagai e-mail singkat lainnya. Semuanya selalu membuatku tersenyum, tapi entah mengapa….

Satu kalimat yang selalu kuharapkan di setiap e-mailnya sama sekali tak tertulis sejak 3 tahun lalu.

Kau pasti bisa menebak kalimat yang ku inginkan.

Oppa, aku akan kembali ke Korea besok…. Tunggu aku ya ^_^

Selama ini, tak ada satupun e-mail darinya yang berisi kalimat itu.

~*San Ra PoV*~

“Pindah?” ucapku terkejut, saat menemui rumah Kris telah ditinggali seorang wanita tua.

Wanita tua itu hanya mengangguk pelan. “sejak jadi anggota EXO, dia tak tinggal disini lagi. Dia sudah beli rumah baru, atau mungkin ia tinggal di asrama EXO…”

Ah, dasar bodoh!! Umpatku dalam hati. Aku juga sudah tahu kalau dia anggota EXO, tapi kenapa aku masih berpikiran primitive bahwa ia masih tinggal di rumah lamanya?

“Baiklah…. Trimakasih bi…”

Tanpa menunggu respons dari bibi itu, aku segera pergi dari situ. Sekarang, aku harus menemuinya di mana?

Aku juga tak membawa handphone. Haduh, bodohnya aku.

Sambil menarik koperku, aku segera menaiki taxi yang lewat. Tempat tujuanku sekarang adalah rumah ibuku. Memang sudah 3 tahun di tinggal, tapi aku yakin masih terawat dengan baik, karena pembantu ibu masih setia untuk merawat rumah itu.

Saat sampai….

“Nona Lee?”

Bibi yang turut serta mendidikku dari kecil sampai aku SMA ini sangat sumringah melihatku berdiri di depan pintu rumah itu. Ia langsung memelukku.

“Sekarang, kau lebih cantik dari dulu….” Ucapnya sambil mengelus-elus rambutku.

Ya ya ya. Aku dulu memang dekil. Suka sekali memanjat pohon, bermain di lumpur, bermain sepak bola dengan teman lelakiku, termasuk Kris dan Lay. Walaupun aku suka boneka teddy bear biru. Yah, boneka yang aku suka hanya itu. Mainanku saat kecil, kebanyakan robot.

Tapi, semenjak aku pindah ke Kanada, aku harus merubah penampilanku menjadi lebih feminine. Disana tak ada teman lelaki. Aku bisa dikucilkan dari masyarakat jika aku tetap pada diriku yang dulu.

“Kebetulan sekali, Nona… Anda datang tepat waktu….” Senyumnya semakin lebar padaku.

“Kenapa memangnya?”

“Ada yang datang untuk menemui anda…”

“sia~”

“San Ra?”

Aku terkejut memandangi sesosok pria yang tinggi tegap tengah berdiri di samping Bibi Min.

“Kau San Ra ‘kan?” ucapnya lagi.

Aku mengangguk, setengah tak percaya. Ia langsung memelukku erat. Daguku terangkat untuk meraih pundaknya. Dia terlalu tinggi.

“Akhirnya kau pulang juga….” Ucapnya. Air matanya jatuh membasahi pundakku. Akupun tak kuasa menahan air mata ini untuk mengaliri pipiku.

“Ya… oppa….” Ucapku padanya.

~***~

Ia mengajakku bersepeda dengan sepeda lamaku hari ini. Ia memboncengku. Di wajahnya jelas terpatri kebahagiaan yang tak terkira.

“Kau ingat kenangan kita yang berkaitan dengan sepeda ini?” tanyanya.

Aku tersenyum, lalu mengangguk.

Aduh, bodoh!! Kan dia membelakangiku, mana ia tahu kalau aku mengangguk?

“Iya…. Tentu saja ingat…” Ucapku penuh percaya diri. “Yang aku membuatkan bekal untuk oppa itu ‘kan?”

“Ya…” Ucapnya lagi. “Kapan-kapan, buatkan lagi ya….”

“Iya….”

Ia belok kiri, dan memarkir sepedaku di halaman. Di SMA Seoul.

“Kenapa kita kesini?” Tanyaku.

“Kau tak suka?” ia malah balik bertanya.

“Bukan begitu….” Ucapku padanya, lalu menatap suasana sekolah yang sepi. “Hanya saja,.. jadi teringatkan masa lalu….”

Ia menggenggam tanganku, membuatku menatapnya. “memang itu tujuanku… ayo….”

Ia menarik tanganku sambil berlari. “Eh??!”

~*Kris PoV*~

Entahlah. Aku tadi hanya ingin datang ke rumah San Ra, tanpa ada pikiran, ‘barangkali ia sudah pulang… ia sengaja tak memberitahuku untuk memberiku surprise’

Aku sama sekali tak berfikir seperti itu. Yang ada di pikiranku hanyalah, aku merindukan San Ra, satu-satunya gadis yang mengisi hatiku. Makanya, aku datang kerumahnya, ingin mengenang semua hal yang pernah kami lakukan di rumahnya. Ternyata, aku malah bertemu dengannya. Trimakasih Tuhan.

Kini aku dan San Ra tengah duduk di tengah lapangan sepak bola. Diantara kami terdapat sebuah bola sepak.

“Aku ingin mengajakmu bermain sepakbola,…” ucapku padanya. “Tapi sepertinya, kau tak bisa bermain sepakbola lagi….”

Ia tersenyum padaku. “Yah…. Bagaimana ya? Aku sudah menjadi wanita seutuhnya selama 3 tahun ini…. Jadi, permainan seperti sepak bola sudah tak kukuasai lagi…”

“Dasar!!” ucapku sambil mendorong pelan keningku.

Ia tersenyum kecut sambil mengelus pelan keningnya. Ya, ia memang terlihat lebih anggun, terlihat lebih cantik. Beda dengan San Ra yang dulu. Tapi satu hal yang tak berubah darinya.

Perasaannya yang selalu sejuk di hatiku.

“Aku kesal denganmu, Oppa….” Ucapnya.

“Kenapa?”

“Kau tak pernah membalas e-mailku….” Dengusnya.

“Kau lupa kalau aku member EXO? Kami sibuk, San Ra….”

“Iya sih…”

Bahkan ia masih sama lugunya dengan ia yang dulu.

“Makanya….” Aku menggenggam kedua tangannya. “Jangan tinggalkan aku.. tetaplah disampingku, teruslah memberiku semangat, hanya dengan kau ada di sampingku, semuanya terasa baik…”

Ia menatapku lekat.

“Jika kau tetap di sampingku, kau tak perlu menunggu balasan e-mailku ‘kan?”

Ia tersenyum. “Iya….”

Untuk selanjutnya, kami malah hanya saling melempar senyum. Suasana apa ini?

“Oppa…” Akhirnya ia berbicara.

“Apa?” respons-ku lembut.

“Aku ingin mendengar satu kalimat dari oppa…. Yang sejak dulu belum pernah oppa katakana padaku, yang membuat status di antara kita menjadi tak jelas….”

Aku mengernyit, menatapnya penuh tanda tanya. Ia malah meresponsnya dengan senyuman nakal.

Oh, kalimat itu. Aku memang selalu merasa canggung jika mengatakannya terus-terusan. Aku lebih suka menyatakannya secara sikap daripada perkataan.

“Haruskah?” tanyaku padanya. Ia mengangguk mantap.

“Kalau tidak, aku akan kembali ke Kanada!!”

Ancaman paling ampuh!!

“Ya ya ya…. Baiklah…” aku menggaruk kulit kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aduh, harus mulai dari mana ya?

“Uhm… San Ra…. Aku sangat mencintaimu….” Aku menggenggam kedua tangannya lagi. Senyumnya semakin lebar. Huh, puaskah kau mengerjaiku?

“Aku tak bisa hidup tanpamu…” Lanjutku. Yeah, sebenarnya aku tak ingin mengatakan kata-kata yang sudah sering dilontarkan para lelaki untuk merayu kekasihnya itu. Tapi, tak ada kalimat lain yang ampuh lagi. Lain kali akan ku cari kalimat lain.

“Maukah~”

“Ya!!! Aku mau aku mau aku mau!!!” ia tertawa. Ia pun melepas genggamanku dan menyingkirkan bola sepak di antara kami dan bergegas memelukku. “Trimakasih oppa….” Bisiknya pelan.

Aku membalas pelukannya dengan erat. “Tidak… harusnya aku yang berterimakasih…”

15 thoughts on “[EXO in Love] Kris – Just One Love

  1. Ff ttg kris ya, aku suka bgt nieh.
    Emg bnr klo pacaran long distance ga enak, slalu byk godaan n slalu punya byk pikiran negatif ke pasangan kita, hubungan itu akan awet & harmonis klo ada kepercayaan n komunikasi..untung kris spt itu..
    Hayoo buat ff mrka lagi ya.

  2. O oooomoo my lris fluff sekali. Walaupun kondisinya agak comedy, tp kesannya fluuf. Authornya ontr bgt ngasak kosakata. Fighting authorr… ffnya daebaaaakksss

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s