[EXO in Love] Chanyeol – She’s My Right Hand


She’s My Right Hand

Author : Sasphire

Main cast : Park Chan Yeol EXO, Goo Nana(OC)

Other Cast : Yi Soo as Sehun-Childhood, Shin Bi as Heerin-Childhood

Ratting : Teen, General

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

INSPIRED BY :: MIDORI NO HIBI – INOUE KAZUHOU

BaekYoung | HunRin | NaYeol |

~*ChanYeol PoV*~

Bukan. Dia bukan orang kepercayaanku. Tapi dia benar-benar tangan kananku. Lihat saja…

“ChanYeol-ah…” ucap tangan kananku manja. Namanya Goo Nana. “Ayo.. makan-makan….” Kedua tangan mungilnya memegang sendok yang –bahkan—ukurannya 2 kali lebih besar dari tubuhnya yang menyatu dengan tangan kananku.

“Nana… Aku sudah bilang berkali-kali ‘kan? Aku bisa makan pakai tangan kiri…”

Ya. Entahlah. Tiba-tiba dia muncul menjadi tangan kananku sejak setengah tahun lalu.

“AAAAAA!!!!!” aku berteriak keras saat aku bangun tidur di pagi yang cerah hari Minggu itu, saat melihat tangan kananku berubah menjadi seorang gadis berambut panjang.

Ia langsung mengangkat lengan bajuku yang panjang untuk menutupi sebagian tubuhnya.

“S..Si.. Sia.. Siapa.. Kau?” Aku benar-benar gugup.

Sialan!! Dia malah tersenyum sambil tersipu malu.

“Namaku Goo Nana.. sudah sejak lama aku menyukai Park Chan Yeol…”

Aku semakin terkejut lagi. Aku langsung melompat dari kasurku dan berlari menuju kotak P3K yang menempel lekat di dinding kamarku. Aku segera melapisi tubuh mungilnya dengan perban.

“Kenapa aku malah di perban?” Tanyanya lugu.

“WOEII!!!” aku membentaknya. “Kalau orang lain tahu kau adalah tangan kananku.. apa kata mereka??!!”

“Hahaha…”

“Malah tertawa!!!!”

Saat itu aku benar-benar bingung mau berbuat apa. Tapi, lama kelamaan, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Di setiap harinya, dengan penuh kepolosan dan keluguan, ia terus berkata begini padaku, “aku menyukai Chan Yeol… cita-citaku yang terbesar adalah menjadi istri yang baik bagi Chan Yeol…”

Lucu ‘kan? Ya. Dia memang lucu. Awalnya, kukira ia hanya bercanda. Tapi, ternyata tidak.

Yang membuatnya menjadi tangan kananku adalah perasaan cintanya yang dalam sekali dari hatinya. Memang dia tak bilang begitu padaku, bahkan sampai sekarang dia tak tahu apa yang membuatnya menjadi tangan kananku. Tapi, aku merasakannya. Merasakan cinta yang hangat darinya, yang belum pernah kurasakan sebelum kehadirannya.

Aku sudah berusaha mencari tahu penyebabnya menjadi tangan kananku pada mulanya.

“Wah!!! Rumahmu besar banget!!!” ucapku terkagum-kagum ketika berdiri di depan gerbang tinggi.

“A.. Kita pulang aja yukk…” ucapnya.

“HEH!!” Aku membentaknya lagi. “Sudah jauh-jauh datang kesini, sambil jalan kaki karena aku nggak punya ongkos nik angkutan umum… malah ngajak pulang… Nggak Mau!!!”

“Tapi…”

“Kita harus tahu.. apa yang menyebabkan kamu jadi tangan kananku sekarang…”

“Tapi.. aku senang begini.. karena aku bisa terus bersama Chan Yeol yang kucintai…”

“tapi aku kan nggak suka sama situ…” ucapku sewot. “Pokoknya.. akan kukerahkan seluruh kekuatanku untuk melepaskanmu dari tangan kananku!! Victory!!”

Aku segera memencet bel yang ada di tembok di samping gerbang itu.

“Ya?” Aku melihat seorang wanita yang berumur 30-an dari layarnya.

“S..Saya…”

“Oh… ChanYeol?? Ayo masuk….”

Hah? Kok bisa tahu namaku?

Pintu gerbang itu terbuka secara otomatis. Aku melangkahkan kakiku ke pekarangan rumah yang sangat luas itu. Di teras rumah yang megah itu, telah berdiri wanita yang menyambutku tadi.

“mari masuk Chan Yeol…” wajahnya berseri-seri. Aku keheranan. Akupun berbisik pada Nana. “dia siapa sih?”

“ibuku…”

“Oh…” keliatan muda banget. Aku kira, wanita itu tantenya, atau kakaknya.

“Ayo.. mari.. mari…” ucapnya lagi. Perasaanku nggak enak waktu itu. Jangan-jangan, ibunya sudah tahu kalau anaknya jadi tangan kananku, dan menyewa dokter aneh yang akan mengoperasiku?

“ChanYeol… Ini kamar Nana…” Ucapnya. Iapun membuka pintu. Aku terkejut. Nana yang sebenarnya berbaring lemas di atas springbed-nya.

“Tante nggak tahu… kenapa dia bisa jadi begini…”

Aku termenung. Aku melihat ibu Nana berjalan menghampiri meja belajar Nana dan mengambil…

Mengambil fotoku?

“Lihat Chan Yeol… Fotomu…” Ucapnya sambil tersenyum memandangi fotoku. “sudah sejak 2 tahun lalu,.. Nana menyukaimu.. tapi ia tak berani menyatakan langsung padamu,.. karena ia orang yang sangat pemalu…”

Oh, dia pemalu to. Beda jauh waktu dia jadi tangan kananku.

“Eh… Sebenarnya…”

DUKK!!!!

Sialan!! Nana malah sembunyi di saku jaketku. Aku berusaha mengeluarkannya dari sana, tapi nihil. Sekarang, seluruh bagian tangan kananku di kendalikan olehnya, bukan olehku.

Ibunya kebingungan memandangi tingkahku. Aku hanya tersenyum (lebih tepatnya nyengir).

“Oh iya… saya buatkan teh ya..” ibunya meninggalkanku di kamar putrinya. “Kalau bisa, ajak ngobrol dia ya…”

Saat ibunya keluar, Nana langsung keluar dari saku jaketku.

“BBUUOOODDDOOOOHHH!!!” bentakku. “kamu nggak lihat ekspresi khawatir ibumu tadi?? Cepat kembali ke tubuhmu sekarang!!!”

“Aku nggak tahu caranya balik ke tubuhku sendiri…” ia menunduk, sambil menggenggam erat bibir lenganku. “lagipula.. jika ibu lihat aku malah jadi tangan kananmu… ibu malah lebih khawatir lagi…” ia menitikkan air matanya.

Aku iba melihatnya sedih begitu. Aku menghela nafas. “baiklah, lain kali kita pikirkan lagi cara untuk membuatmu kembali ke tubuhmu… sekarang, ayo kita pulang…”

“Trimakasih ChanYeol…”

Saat aku sudah berada di teras…

“Lo… ChanYeol…” Ibu Nana memanggilku lagi. “Mau kemana?”

“Maaf tante.. sudah malam… pulang dulu.. lain kali, Saya jenguk Nana lagi…”

“oh… baiklah… hati-hati di jalan….”

Tapi sekarang, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyukainya, dan membiarkannya menjadi tangan kananku. Saat aku susah, saat aku sedih, dia orang pertama yang berusaha menghiburku. Mungkin, dia benar-benar cinta mati padaku.

Tapi, yah, yang paling menyusahkan adalah :

  1. Saat mandi. Dia selalu membersihkan punggungku dengan shower puff tanpa kuminta. Padahal sudah ku bilang padanya, saat aku mandi, tutup matamu. Tapi dia malah bilang begini, “aku akan berusaha membersihkan punggung ChanYeol.. tenang saja.. aku tak akan melihat yang lain.. Punggung Chan Yeol harus terlihat bersih…” Hahaha…
  2. Dia sering sekali membersihkan sesuatu hal yang ‘menurutnya’ tak terlalu baik untukku. Komik-komik bekas, majalah otomotif bekas, yah, pokoknya yang menurut dia itu hanya mengotori rumahku. Padahal aku masih suka membacanya.
  3. Aku harus memakai baju berlengan panjang untuk menutupi tubuh mungilnya.

Walau begitu, bagiku, dia orang yang sangat berarti bagiku. Walau aku masih belum berani mengakui perasaan ini.

Belum berani bilang padanya kalau aku ini cinta padanya.

“Hallo, ChanYeol-ah….”

“WWOOEEYY!!!” aku membentak BaekHyun yang mengagetkanku saat aku melamun memandangi Nana yang sedang memasakkan hamburger untukku. “Hobi banget bikin kaget orang!!”

“Hahaha… Maaf…” ucapnya santai. “lagi masak apa Nana?”

Ya. Awalnya aku merahasiakan ini. Tapi perlahan, rahasia ini terkuak. Tapi yang mengetahuinya hanyalah teman-teman EXO, dan Miyoung, serta Heerin.

“Aku memasak hamburger cinta untuk ChanYeol…” ucapnya manja. “lihat.. bentuknya hati ‘kan?”

“Wah… Mau dong… A..a..a…”

“Hei!!! Itu buatku!!!” Aku mendorong kasar wajahnya yang mendekati Nana. Dia malah tertawa.

“Bercanda ChanYeol~”

“Dasar!!!”

“Aku senang… ChanYeol cemburu pada Nana…”

“Nana!!! Udah kubilang jangan bilang hal yang memalukan kaya’ gitu dengan ekspresi wajah cuek!!”

“Hahaha…”

“Jangan ketawa!!” Bentakku pada BaekHyun. Ekspresinya berubah seperti anak yang kebingungan karena habis dimarahi orang tuanya. Ia menggaruk tengkuknya.

Aku tidak punya pengalaman banyak tentang cinta. Jadi kalau ada yang berusaha menggoda hubunganku dan Nana, aku tak segan-segan membentaknya.

“Ngomong-ngomong… apa kalian nggak pa-pa seperti ini?” Tanya BaekHyun tiba-tiba. “Maksudku.. apa selamanya kalian mau begini terus??”

Aku dan Nana bertatapan. Lalu aku menjawabnya, “yah.. nggak pa-pa… begini saja…”

“Ya… gimana ya?” ucap BaekHyun.

“Oppa….”

“Wah.. sekarang impas deh, aku sama Nana, BaekHyun sama Miyoung…” pas sekali!! Miyoung datang kerumahku sambil memeluk lengan BaekHyun manja.

“apa kabar, Nana?” Miyoung membelai rambut Nana, hanya dengan telapak tangannya.

“Baik~” Nana tersenyum. Tiba-tiba, pipinya merah.

“kenapa?” tanyaku.

“AHH!! ADUH!!! SAKIT NANA!!!” ucapku keras ketika ia berusaha memeluk lengan kanan bagian atas. “BISA KESELEO TAHU!!”

“ya udah… kalo gitu, lengan kiri aja deh…” ia segera memeluk lengan kirinya.

“terserah…” ucapku.

Sialan!! BaekHyun dan Miyoung malah tertawa keras melihat tingkah Nana.

~***~

Kami berkumpul di ruang tengah rumahku sambil menyantap hamburger buatan Nana. Ukurannya sebenarnya kecil sih, tapi enak. Dia jago masak.

“Ngomong-ngomong…” Miyoung berkata. “apa tidak masalah, kalau kalian terus begini?”

“Barusan BaekHyun-ah bilang begitu…” Sahutku.

“Yah… sebenarnya aku senang dengan kehadiran Nana ke dalam kehidupanmu, walau caranya memasuki duniamu agak aneh…” ucap BaekHyun. “Kamu jadi lebih mendingan…”

Perasaanku nggak enak mendengar kata “mendingan”.

“Dulu, sebelum ada Nana, ketika patah hati, kamu langsung melampiaskannya pada marka jalan, ato kalo nggak, tiang lampu lalu lintas. Bukan hanya itu, setelah itu kamu terpuruk berhar-hari…”

“He’em!!” Miyoung mengangguk tegas.

“Apalagi.. dulu kau itu suka jadi preman sekolah.. suka pukul juniornya.. tapi semenjak ada Nana.. kamu jadi lebih pengertian dan penuh kasih sayang sama orang lain…”

“Ya.. Cowok memang berubah kalo udah punya pacar ya…” Ucap Miyoung sambil menatap mesra BaekHyun. Ah, lagi-lagi, BaekHyun mengecup mesra kening Miyoung.

Benar dugaanku. Mereka dengan jelas membeberkan aib di masa laluku pada Nana.

Nana tersenyum padaku. “Aku senang.,.. kalo ChanYeol jadi baik begitu ada aku…”

Aku benar-benar malu.

“Wah.. pipinya memerah!!!” Ucap BaekHyun, berusaha menggodaku lagi. Aku mendelik padanya, namun malah membuatnya tertawa.

“Aku cuma mau menasihati sih…” ucap Miyoung kemudian. “sebenarnya… yang membuat Nana tak juga pergi dari tangan kanan ChanYeol adalah sifat tak menentu dari ChanYeol…”

“jangan~”

“apa kau pernah menyatakan perasaanmu secara langsung pada Nana?” desak Miyoung.

Nana menatapku penuh harap.

“Ah.. Aku nggak suka kok sama dia…”

“Lo.. berarti kamu benci ke dia?” BaekHyun malah ikut mendesakku.

“Ya… nggak benci juga…”

“Makanya.. konsistenlah dengan perasaanmu…”

“Kalian ini bagaimana?” tanyaku, berusaha menenangkan diriku yang kelabakan oleh pertanyaan yang mereka lontarkan. “Dia hadir menjadi tangan kananku ‘kan, karena dia suka padaku… kenapa jadi aku yang salah?”

Miyoung dan BaekHyun bertatapan, lalu menghela nafas. “yah… kami hanya berusaha membantu… supaya hubungan kalian jadi lebih baik…” ucap BaekHyun kemudian.

~*Nana PoV*~

BaekHyun dan Miyoung sudah pulang. ChanYeol juga sudah terlelap di atas kasurnya. Aku memandangi wajahnya yang begitu besar bagiku.

Aku masih ingat perkataan Miyoung Eonnie tadi.

“sebenarnya… yang membuat Nana tak juga pergi dari tangan kanan ChanYeol adalah sifat tak menentu dari ChanYeol…”

Bukan!! Ini bukan salah ChanYeol-ah. Tapi ini salahku yang tak mau berpisah darinya.

Tangan kecilku ini meraba pipinya, lalu menempelkan tubuhku ke pipinya. Aku benar-benar kecil.

Aku memang lemah.

Dulu, aku hanya bisa memandangi ChanYeol secara diam-diam, di belakang SMU Sakura. Aku hanya bisa mengaguminya dari jauh. Walaupun ada hasrat ingin menyapanya, tapi percuma. Rasa maluku lebih besar dari apapun.

Kini, saat aku menjadi tangan kanannya, aku berubah 360 derajat. Aku yang tak punya keberanian untuk menyatakan perasaanku, kini berani mengungkapkannya terang-terangan, tanpa ada rasa ragu ataupun malu. Bahkan aku lebih agresif dalam memperlihatkan rasa cintaku padanya.

Tapi, diriku yang sebenarnya tak berubah sama sekali.

Berbaring lemah di dalam kamarku yang megah.

Aku sangat senang berada di dekat ChanYeol.. tapi aku merindukan ibu dan pelayanku.

Aku ingin kembali ke tubuhku, tapi aku takut kehilangan ChanYeol.

Karena, ketika nanti aku kembali ke tubuhku semula, semua ingatan akan kenanganku bersama Chanyeol…

Susah…

Senang…

Gembira…

Sedih…

Tawa…

Air mata…

Semuanya yang kulakukan saat menjadi tangan kanan ChanYeol akan hilang begitu saja.

Aku tak mau itu terjadi.

~*Normal PoV*~

Esoknya…

“Apa’an sih??” ucap ChanYeol, sepulangnya menemani Nana berbelanja bahan makanan. “Emang aku habis gajian, tapi jangan beli bahan makanan sebanyak ini dong~”

“Haha…” Nana tersenyum. Ia membawa sekantung plastik belanjaannya dengan kedua tangannya yang mungil. “nanti aku masakkan makanan kesukaan ChanYeol deh.. jadi nggak boleh ngeluh…”

“iya.. iya….”

“ChanYeol…”

ChanYeol dan Nana melihat seorang gadis cantik yang rambutnya berkepang dua tengah berdiri di depannya.

“Namaku Lee Hyo Ri…” ucapnya manis. “Aku sudah lama menyukai ChanYeol.. maukah ChanYeol menjadi pacarku??”

ChanYeol dan Nana terkejut.

“AAAAA!!!!” batin Nana.

“Ehm.. a.. anu… aduh.. gimana ya bilangnya?” ChanYeol gugup.

“akhirnya… keberuntungan menghampiriku!!! Mustahil banget, cewek secantik dia suka ke aku!!!” Batin ChanYeol sambil terkekeh-kekeh. “Aduh… Ee…”

Tanpa sengaja, ChanYeol melihat Nana. Mata Nana berkaca-kaca.

“Aduh.. iya.. aku kan udah punya Nana!! Tapi, kesempatan ini kan jarang banget datang lagi!!” batinnya lagi.

“M..Ma..Maaf yah…”

“Hufth…” Nana menepuk-nepuk dadanya sambil tersenyum lega.

“G.. gi.. gimana.. kalo.. kita mulai.. dari berteman??!!”

GUBRAKK!!

“ChanYeol jahat!!! Kan udah ada aku!!!” Nana berbisik pada ChanYeol.

“Ya abis… nggak tega kalo nolak mentah-mentah…” Chanyeol balas berbisik.

“berteman??” gumam Hyo Ri. “nggak!! Nggak boleh berteman!! Kalau berteman, aku nggak akan menang dari Nana!!”

Sebenarnya, Hyo Ri bukanlah gadis. Dia adalah laki-laki, bernama Song Jung Woon.

Mau tahu ceritanya?

~*Flashback*~

“Tolong.. bantu aku jadi gadis!!” ucapnya tegas pada genk perempuan yang terkenal di SMU Sakura.

“Akhirnya… Kamu tobat juga!!!” Ucap Leader genk itu, lalu seluruh anggota genk memeluknya.

“HEI!!! HENTIKAN!!! TIDAKK!!!” Jung Woon berteriak. Para gadis yang sedari dulu mengincar Jung Woon untuk bergabung di genk-nya itu akhirnya melepaskan pelukannya.

Jung Woon memang laki-laki, tapi wajahnya terlihat cantik, imut, menggemaskan.

“Padahal, dulu kamu menolak ajakan kami…” Ucap Leader itu sambil memberikannya teh.

“Aku mau jadi cewek.. bukan karena aku ingin..” ucapnya. “ini demi teman mainku waktu kecil…”

“Kenapa?”

“yah.. intinya.. temanku itu harus berpisah dengan kekasih yang di cintainya itu.. supaya hidupnya lebih baik lagi daripada dulu… saat ia bersama pacarnya…”

“tapi kan, nggak perlu melakukan hal sejauh ini…”

“iya sih…” ucap Jung Woon. “tapi… aku hanya ingin yang terbaik baginya…”

Leader genk itu menangis terharu. Begitu pula anak buahnya.

“eh? Kok nangis?” tanya Jung  Woon.

“baiklah Jung Woon…” ucap leader itu, tanpa menghiraukan pertanyaan Jung Woon. “kami akan membuatmu menjadi cewek yang cantik, hingga dunia kagum padamu!!”

“firasatku nggak enak….” Batin Jung Woon.

~*Flashback : End*~

“ChanYeol….” Ucapnya. Ia langsung merengkuh lengan kanan ChanYeol.

“Aku kan mencintaimu dengan tulus…”

“AAAAA!!!!” sekali lagi, Nana berteriak dalam hati.

“Aku belum bisa terima, kalau kau menolakku.,..”

“A..a..aduh.. gimana yah… susah deh mau bilang apa… hahaha…”

“ChanYeol~” HyoRi a.k.a Jung Woon kembali menyerang. “Cium aku…”

“AAAAA!!!!”

Tanpa sengaja, Nana terjatuh ke lantai karena HyoRi merengkuh lengan kanan ChanYeol terlalu erat. Ia melihat dengan jelas bulu kaki yang sedikit menyembul dari kaos kaki HyoRi.

“bulu kaki itu…” gumamnya. “dia laki-laki…..”

“tapi…” batinnya lagi. “bagaimana bisa??”

Ia langsung teringatkan sahabatnya, Beautiful Boy, Song Jung Woon.

“HENTIKKAAAANNNN!!!” Nana langsung menatap mata HyoRi dengan jelas, hingga kepala kecilnya meninju kepala ChanYeol yang hampir berciuman dengan HyoRi.

“Kau… Song Jung Woon ‘kan?” ucap Nana tegas.

“bukan.. bukan.. ini bukan aku… Nana…”

Mereka terdiam bberapa saat. ChanYeol langsung marah mengetahuinya.

“SONG JUNG WOOONNNN!!!” terdengar gemeletuk giginya.

“A.. a.. anu.. aku cuma memikirkan kalian…” ucap Jung Woon pada akhirnya.

“Apa yang kau pikirkan??!!”

“apa kalian masih mau hidup seperti ini? Apa kalian bahagia seperti ini?”

“Apa urusanmu?? Kau orang luar, tak perlu ikut campur urusan kami!! Toh, aku dan Nana bisa menjalaninya dengan bahagia!!”

“T..Ta.. tapi…”

“Ayo pulang.. Nana…” ChanYeol segera meneruskan langkahnya. “Dasar!! Yang nggak-nggak aja tuh orang!!” gerutunya.

“ChanYeol.. Nana…” gumam Jung Woon sambil menatap nanar kepergian ChanYeol. “jika suatu saat nanti Nana kembali ke tubuh aslinya, dan lupa akan semua kenangan antara kalian.. bukankah ini berarti, hubungan kalian hanya ilusi?? Bukankah hubungan kalian hanya sebatas mimpi jika seperti ini?? Sadarlah.. kembalilah ke diri kalian…”

~***~

Malamnya….

TOK!! TOK!!

ChanYeol membuka pintu rumahnya. YooRa, salah satu kru EXO menyambangi rumahnya.

“Ayo masuk…” ucap ChanYeol.

“Tak usah.. aku hanya butuh waktu sebentar…”

“Oh…” ChanYeol keluar dari rumahnya, berdiri di teras.

“Ehm.. ChanYeol…” ucapnya pelan.

“Apa?”

“S..Se..benarnya…”

ChanYeol menunggu kalimat selanjutnya.

“Aku sudah lama menyukaimu…”

ChanYeol terkejut. Namun kali ini, Nana tak terkejut sama sekali. Ia sudah tahu sejak lama kalau YooRa telah menyukainya. Sudah kelihatan dari tingkah lakunya, dan cara menatapnya pada ChanYeol, sudah menjelaskan semuanya.

“Aku tak bisa memendam perasaan ini terlalu lama…” ucapnya lagi.

“Ehm…” ucap ChanYeol. “Maaf… aku…”

“Ah.. iya.. aku kan cewek egois.. jadi.. aku bukan tipemu kan?? Hahaha…” ucapnya sambil tertawa.

“B.. Bu.. Bukan.. Bukan begitu…” ucap ChanYeol.

Tangan kirinya memeluk Nana dengan lembut, seolah ingin melindungi Nana.

“Aku suka, gadis baik sepertimu mau menyukaimu.. tapi untuk saat ini.. ada seseorang yang ingin aku lindungi…”

Nana terkejut akan pernyataan Chanyeol. “ChanYeol-ah…” batinnya.

“Orangnya cerewet, merepotkan, suka bersih-bersih di tempat yang nggak penting…” terlintas di benak ChanYeol saat Nana menggosok punggungnya saat mandi, juga saat Nana membuang seluruh komik doraemonnya. “mana dia muncul tiba-tiba…”

“Awalnya mengganggu sih.. tapi.. lama-kelamaan.. dia yang penuh cinta untukku.. malah membuatku nyaman berada di dekatnya… hingga tanpa kusadari… aku membutuhkannya…”

YooRa menatap wajah ChanYeol lekat-lekat, walau saat itu ChanYeol sedang memandang ke arah lain.

“Jika dulu aku cuma tahu berkelahi dan tawuran.. semenjak ada kehadirannya.. ku seperti terlahir kembali.. karena di limpahi kasih sayangnya yang begitu besar darinya…”

Nana merasa terharu mendengar perkataan ChanYeol. Ia menggenggam erat bibir lengan ChanYeol. Di sisi lain, ia sakit hati mendengarnya.

“Dia menolak YooRa yang telah gagah berani menyatakan perasaannya, dan malah memilihku yang telah lari dari kenyataan… apa aku masih layak menerimanya??”

“uhm.. Nana…” ChanYeol menatap Nana.

“Loh.. YooRa mana?”

“Pulang…”

“oh…”

“Nana…”

Nana balas menatap mata ChanYeol.

“Aku malu bilangnya sih… enaknya, mulai dari mana ya?”

“Eh?”

“Begini.. Dulu.. aku orang yang hanya sibuk memikirkan olahraga dan hobi.. dan sama seperti yang dibilang BaekHyun-ah dan Miyoung-ssi kemarin.. aku suka tawuran.. itulah hari-hariku..”

“Tapi.. lama-kelamaan aku bosan dengan kehidupanku yang seperti itu.. jadi aku pingin banget punya pacar… saat itu aku berpikir.. siapa saja boleh jadi pacarku.”

“ChanYeol…” ucap Nana dengan nada sendu.

“Aneh ya?? Hahaha.. maka dari itu, begitu suka, langsung nembak.. tapi.. di tolak mulu….”

Nana menatap lekat mata ChanYeol, mencari-cari isi hati ChanYeol yang terdalam.

“Tapi… sekarang aku nggak butuh ‘siapa saja’…” ChanYeol memasang senyum terindahnya hanya untuk Nana. “Aaku cuma butuh kamu… pacarku… cuma kau seorang…”

Nana menangis terharu. “ChanYeol….”

ChanYeol menggerakkan tangan kanannya ke dadanya. Entah mengapa, kali ini mudah baginya menggerakkan tangan kanannya yang sudah lama di kendalikan oleh Nana. Mungkin, Nana sedang lemas. “Jangan khawatirkan apapun… Karena aku.. Pasti akan melindungimu… Apapun situasinya…”

~*ChanYeol PoV*~

Esoknya….12.30 pm

“Kita kencan kemana?” tanyaku pada Nana.

“ke taman bermain ya?”

“ok…”

Nana tersenyum penuh arti padaku.

Ya Tuhan!!!

Kau tahu.. apa permainan yang ia pilih pertama kali saat kami menjejakkan kaki di taman bermain??!!

Roaller Coaster!!

“AAAAA!!!” ia berteriak kegirangan, sementara aku berteriak ketakutan. Perutku benar-benar diaduk.

“Eh.. Nana…” tangan kiriku menyeka keringatku saat turun dari Roaller Coaster. “Jangan naik yang kaya’ begituan lagi ya….”

“Habis ini.. kita ke Aquarium raksasa…”

“Hah?? Langsung??” nafasku masih tersengal-sengal. “nggak istirahat dulu Beb?”

“nggak bisa…” ucapnya.

“baiklah…” Aku berusaha berjalan tegap. Kakiku masih gemetaran karena di guncang hebat oleh Roaller Coaster itu.

Kami memandangi ikan-ikan besar yang ada di Aquarium raksasa itu. Hebat!! Aku tak terlalu suka laut, tapi demi menemani Nana yang kucintai… aku rela melupakannya. Dan ternyata, berhasil.

“Baiklah… sekarang kita kesana…” ucapku sambil menatap Akuarium lain.

“nggak bisa.. sekarang kita ke danau…”

“Hah???!” Aku terperangah kaget.

~***~

Sekarang, kami sudah berada di danau. Duduk di atas perahu dayung, diantara beberapa pasangan yang lain.

Aku heran padanya. Tumben, dia egois begini. Tak seperti biasa.

Lagipula, tak perlu mencoba semua permainan ‘kan? Kan bisa datang lain waktu kalau tidak sempat hari ini.

“Chanyeol-ah…” pekiknya manja. “Aku sudah jago mendayung lo… ayo kita mendayung lebih cepat lagi…” Ia tersenyum, sangat bahagia.

“OK… ayo kita salip perahu yang didepan sana!!!”

“Ayo!!!”

Tak apalah.. yang penting.. Nana senang.. apapun boleh…

~***~

“Ayo Chanyeol-ah… Ayo…” ia memaksaku berlari.

“Hei… mau kemana?? Ini sudah sore lo…”

“tenang.. ini yang terakhir….”

Akhirnya, ia berhenti memksaku berlari. Kuperhatikan sekitarku. Ini….

“Ini belakang sekolah SMA Seoul.. tempatmu sekolah dulu…”

Nana…

“Dulu… aku cuma berani menatapmu dengan perasaan malu.. tanpa adanya sedikitpun keberanian untuk menyatakan perasaan ini padamu….”

Nana…

“Maafkan aku hari ini kalau aku terlalu serakah.. tapi.. semua impianku tentang kencan sudah terpenuhi…”

“Apa yang kamu maksud?”

“Aku senang.. sekali.. Chanyeol yang kucintai.. akhirnya membalas cintaku.. semua mimpi indahku dulu telah terwujud saat ini…”

“A..A.. Aku…”

“Dan sekarang, aku ingin membuat semua ini menjadi kenyataan… dan ingin kumulai di sini.. di tempat dimana aku selalu menundukkan kepala tanpa adanya kepercayaan diri…”

“Nana.. Jangan-jangan…”

“Aku bahagia bisa bersama ChanYeol.. tapi.. aku ingin kembali ke tubuhku semula.. dan kembali pada ChanYeol… Aku ingin berubah menjadi gadis yang tegar dan secara gagah berani menyatakan perasaanya pada orang yang di sukainya…”

“Nana.. Jangan.. Jangan lakukan itu…”

“Ya.. sedih sih.. tapi.. kita akan berpisah sebentar.. lalu…”

“NANA!!!” Aku membentaknya. Jantungku mau lepas mendengar ia mau kembali ke tubuhnya. “Selama ini aku merahasiakannya.. dan aku akan bilang ini padamu…”

Ia menatapku penuh tanda tanya.

“Jika kau kembali pada tubuhmu yang asli.. semua kenangan antara kau dan aku saat kau menjadi tangan kananku.. semuanya akan hilang…. Makanya..”

Nafasku tersengal-sengal mengucapkan sekumpulan kata yang mengerikan itu. “Makanya.. jangan pergi…”

“Aku sudah tahu ChanYeol-ah…” ucapnya sambil tersenyum. “karena dulu.. waktu aku sempat kembali ke tubuhku.. aku lupa semuanya…”

“Kau sudah tahu itu??” aku meyakinkannya lagi. “Makanya… kau tak ingin kejadian mengerikan itu terjadi lagi ‘kan? Jangan pergi.. Jangan pergi…”

“Tenanglah.. ChanYeol-ah…” ia menatapku dengan pandangan mata yang sejuk. “kita akan berpisah sebentar, lalu hatiku akan jadi kuat…. Dan kita bisa bersama lagi…”

“Nana…”

“Aku bisa menjadi kuat…. Karena kasih sayang orang-orang yang ada di sekitar ChanYeol-ah yang mendukung hubungan kita… BaekHyun-oppa… Miyoung-eonnie… temanku juga.. Jung Woon… dan terutama…”

Ia mendekatkan dirinya ke dadaku. Kedua tangan mungilnya mengelus dadaku dengan lembut. “karena aku dilimpahi kebaikan hati ChanYeol-ah…”

“Nana… nggak boleh… nggak boleh…” Air mataku sudah hampir jatuh. Air mata itu sudah menggenangi mataku. “sudah kubilang ‘kan?? Aku akan melindungimu!! Dengarkan aku.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu…”

“Kau dengar?? Aku mencintaimu!! Jangan pergi, Baby!! Jangan pergi!!”

“Aku senang.. ternyata.. Chanyeol-ah orang lebih baik dari yang aku kira….” Ia tersenyum sambil menangis.

Gawat!!! Tubuhnya sudah tembus pandang!! Tangan kiriku sudah tak dapat menggenggamnya lagi.

“Nana!! Jangan Pergi!! Jangan pergi!!” Kini air mataku benar-benar jatuh.

“ChanYeol.. Aku.. Suka… Sekali Padamu….”

Kini aku merasa benar-benar kehilangan. Aku menatap pilu tangan kananku yang sudah kembali. Nana hilang, bersamaan dengan angin dingin yang terbang, entah kemana.

Aku berjalan gontai ke rumah. Aku memasukkan kedua tanganku ke saku jaketku.

“Nonton tv saja kali ya…” ucapku pelan. Aku menyalakan tv.

Acara humor.

Mereka yang ada di dalam tabung itu tertawa dengan kencang, penuh sukacita. Entah mengapa, syaraf tertawaku tak bergerak sama sekali. Biasanya sama Nana.. bisa tertawa…

Aku mematikan tv, lalu berjalan ke dapur, bergegas meminum air mineral yang ada di dalam kulkas, berusaha menenangkan hatiku.

Pandangan mataku terhenti di sebuah tempat. Meja makan. Ada mangkok kecil di sana, biasa di gunakan Nana untuk memasakkan Hamburger untukku.

“Chanyeol… enak tidak.. Hamburgernya? Ayo.. tambah lagi…”

Aku segera menaiki tangga ke lantai 2 untuk berbaring ke kamarku. Aku tak sanggup jika harus mengingat kenanganku bersama Nana.

Aku membuka lemariku, ingin ganti baju.

Namun, lagi-lagi, pandanganku terhenti pada satu arah. Sebuah gantungan baju yang kecil. Pakaian sekolah seukuran boneka Barbie.

“ChanYeol… baju ini cocok tidak denganku?”

Jantungku berdetak cepat. Batinku terasa sesak. Kututup pintu lemariku dengan kasar. Kuurungkan niatku untuk ganti baju.

Aku membanting tubuhku ke kasurku.

“Srekk…”

Tanganku menyenggol sesuatu di bawah bantalku. Aku bangkit dari rebahan, dan melihat sebuah buku kecil.

“Buku harian Nana…” Aku membaca sampulnya, lalu membuka lembar demi lembar.

Tanggal 1 bulan 9, 2011

Gawat banget!! Begitu bangun, aku sudah jadi tangan kanan ChanYeol!!! Tapi aku senang sih.. bisa bersamaan dengannya

Tanggal 5 bulan 10, 2011

Hari ini ChanYeol memaksaku untuk mengantarnya ke rumahku. Dan kulihat, tubuhku terbarng lelap disana. Aku tak tega melihat ibu dan pelayanku sedih, tapi aku masih belum mau pisah dengan ChanYeol..

Tanggal 20 bulan 10, 2011

ChanYeol meminjam MoGe milik Suho-oppa… kami berkeliling kota Seoul.. aku benar-benar merasakan cinta.. bahagianya…

Dasar si Nana. Isi buku hariannya hanya aku saja… mungkin sekarang pipiku memerah karena membaca tulisannya.

Tanggal 3 bulan 11, 2011

Hari ini, aku melihat aksi ChanYeol meringkus perampok dengan tangannya sendiri… Dia Cool banget.. makin jatuh cinta…

Tanggal 5 bulan 12, 2011

Hari ini ChanYeol murung terus gara-gara di marahin Mr. Lee Soo Man… aku harus membuatnya senang lagi…

Nana…

Tanggal 6 bulan 1,2012

Hari ini.. ChanYeol baik sekali padaku… Dia mengajakku nonton di bioskop… main Skatting.. walau yang main Skatting itu cuma dia.. hehehe…

Tanggal 21 bulan 1, 2012

Belakangan ini banyak cewek yang kasih perhatian lebih ke ChanYeol.. aku senang, akhirnya mereka menyadari kebaikan hati ChanYeol.. tapi aku jadi khawatir….

Halaman terakhir…

Tanggal 14 bulan 2, 2012

YooRa, cewek yang selama ini suka sama ChanYeol,.. menyatakan perasaannya pada ChanYeol.. tapi ChanYeol menolaknya dan memilihku…

Selain itu…. Dia bilang…. Aku satu-satunya perempuan yang ada di hatinya…. Dia bilang akulah satu-satunya pacar baginya….

Aku bahagia sekalin mendengarnya….

Aku senang sekali…

ChanYeol… Aku suka sekali padamu…

Tanpa saar, buku kecil itu telah basah oleh air mataku yang jatuh begitu deras. “Nana… Nana…”

~*Normal Pov*~

Paginya, seluruh sahabat Chanyeol yang melihatnya memasuki dorm merasa canggung dengan sikapnya. Apalagi, setelah melihat tangan kanannya sudah kembali.

“ChanYeol…” panggil Suho, sang leader.

Chanyeol hanya menatap wajah leader-nya.

“Jika kau mau menenangkan diri… Tenangkanlah dirimu…. Hari ini, kau tak usah latihan….”

“Trimakasih…” ChanYeol meninggalkan dorm EXO begitu saja.

“pasti dia sangat terpukul…” desis BaekHyun, sahabat karibnya.

“Ya…” sahut Sehun.

~*ChanYeol PoV*~

Aku menyusuri trotoar yang di tumbuhi pohon-pohon yang tak berdaun itu, karena sekarang musim salju.

Aku memandangi tangan kananku dengan putus asa. Dadaku masih sesak karena sudah menangis semalaman.

“Kau sudah tahu kalau kau akan lupa semuanya!!! Kenapa masih kau lakukan??!! Dasar bodoh!!” kebiasaan lamaku kembali. Memukuli marka jalan dengan tangan kananku ini.

Eh, iya. Bagaimana kalau aku menembaknya duluan?? Aku berlari ke arah rumahnya.

Lagipula, dia sudah sering bilang padaku, kalau dia suka padaku kan? Saat aku menembaknya, pasti dia akan bilang “OK”.

Ya.

Ini satu-satunya cara. Walau tak bisa terus bersama seperti saat dia masih jadi tangan kananku, tapi…

“Kita akan berpisah sebentar…. Lalu hatiku akan menjadi kuat….”

Langkahku terhenti. “Iya ya… jika aku melakukannya… maka tekadmu akan sia-sia…”

Nana… apakah ini akhir dari hubungan kita??

Kalau iya… aku akan sangat terpuruk.

~*Normal PoV*~

“Maaf ya Jung Woon… Tante sudah merepotkanmu…” Ucap ibu Nana, setelah member kabar pada Jung Woon bahwa sahabat karibnya telah sadar.

“Iya… tak apa tante…. Saya juga ingin cepat-cepat melihat Nana…” ucapnya sambil berjalan menuju kamar Nana.

“Trimakasih JungWoon…” Nana keluar dari kamarnya dan telah berdiri di ambang pintu.

“Kamu masih lemah nak…” Ibunya membopong Nana untuk kembali duduk di atas springbed-nya.

“Tapi aku ingin jalan-jalan bu…”

“Nanti saja.. di temani Jung Woon…”

Nana hanya tersenyum. Lalu, ibunya keluar dari kamar Nana untuk mempersiapkan sarapan.

“Ngomong-ngomong…” ucap Jung Woon. “kamu ingat sesuatu saat kamu tidur nggak? Misalnya.. mimpi.. atau apa?”

Nana diam sesaat, seperti berusaha mengingat sesuatu. Namun pada akhirnya, ia berucap, “nggak.. aku nggak ingat apapun…”

“Akhirnya…. Semua kembali ke awal…. Sebelum kamu jadi tangan kanan ChanYeol…” batin JungWoon. Lalu, JungWoon teringatkan sesuatu. Ia berpapasan dengan ChanYeol saat menuju rumah Nana. Ia menuliskan sebuah note pada secarik kertas, dan menyelipkannya di bawah foto ChanYeol yang terletak di meja belajarnya.

“Aku berangkat kuliahsekolah dulu ya…”

“Eh… Jung Woon…”

Jung Woon tak mengindahkan panggilan Nana. Ia meninggalkan Nana sendirian di kamarnya. “Good luck my friend…”

Sementara itu, Nana sibuk memegangi dadanya. “kenapa.. jantungku terasa hangat ya?”

Ia menatap foto ChanYeol yang ada di meja belajarnya. “ChanYeol…” Ia mendesis. Lalu, perhatiannya tertuju pada secarik kertas yang ada di bawahnya. Ia membacanya.

Kurasa, sekarang ChanYeol ada di taman Kota

Your bestfriend, Kim Jung Woon

Nana langsung bangkit dari duduknya. Dengan langkahnya yang masih terseok-seok, ia menghampiri lemarinya, dan mengganti piyama-nya dengan seragam sekolahnya, SMU Sakura.

“Aku tak tahu kenapa bisa begini.. tapi… Ada sesuatu yang menggerakkan hatiku.. berusaha meyakinkanku bahwa hari ini juga… aku bisa menyatakan perasaanku pada ChanYeol…”

Ia berlari keluar rumah, bergegas pergi ke taman Kota yang tak jauh dari rumahnya, walau sesekali ia terjatuh, karena fisiknya yang terlampau lemah karena terlalu lama berbaring di springbednya, namun ia pantang menyerah.

Sementara itu, ChanYeol yang duduk di kursi taman kota sedang sibuk membaca buku harian Nana dengan wajah murung.

“Pak… boleh aku membakar ini disini?” tanyanya pada tukang kebun yang tengah membakar sampah di depannya.

“terserah…” ucap pak kebun.

“Chanyeol… lakukan saja.. lupakan semua kenanganmu tentang Nana… bukan laki-laki kalau kau masih ragu…”

Saat Chanyeol akan menjatuhkannya di tumpukan dedaunan itu, ia terkejut bukan main. Kini, didepannya berdiri seorang wanita, bernama Goo Nana.

“Namaku Goo Nana… murid kelas 3 SMU Sakura….” Ucapnya tegas. “Mungkin kau tak mengenalku… tapi.. tapi…”

“Sial!! Kata-kataku tak keluar!! Bibirku tertahan!! Tapi aku harus mengatakannya!!” batin Nana.

Setelahnya, angin terbang membelai tubuhnya, sama seperti saat ia menghilang dari tangan kanan ChanYeol. Bersamaan dengan angin itu, sebuah kalimat terlontar dari bibirnya, “Aku menyukaimu!!”

Setelahnya, ia menunduk. ChanYeol tersenyum, berjalan menghampirinya.

“Aku juga suka padamu…”

“Hah?”

“Aku sudah lama memperhatikanmu…” Lanjut ChanYeol. “Ah.. lebih tepatnya diperhatikan…” batinnya.

Tanpa sadar, Nana malah menangis.

“Lo?? Nana?? Jangan menangis!!” ChanYeol kebingungan.

“Habis… Aku nggak nyangka orang yang aku suka ternyata juga suka aku…”

~*ChanYeol PoV*~

Aku tersenyum mendengarnya. Sekarang, tekadmu untuk menjadi kuat sudah terkabul Nana. Aku senang melihatnya.

Sebenarnya aku ingin memelukmu. Tapi karena kau lupa akan kenangan kita di masa lalu, saat kau jadi tangan kananku, pasti kau menganggap ini perkenalan pertama kita. Aku tak mungkin lancing memelukmu.

Aku hanya menggenggam tangannya erat, dan memberikan senyuman tulus untuknya, lalu menepuk-nepuk pelan pipinya, agar dia sadar ini bukan mimpi.

Dengan adanya hari itu, maka hari-hari saat Nana menjadi tangan kananku, berakhir sudah…

Namun….

Kehidupan baru antara aku dan Nana baru saja dimulai….

~***~

12 thoughts on “[EXO in Love] Chanyeol – She’s My Right Hand

  1. Ceritanya bagus *-* tp perasaannya kaya lagi ngebaca cerita komik jepang…beneran deh hehehe ~~
    Good Luck thor~~~buat cerita lebih romance lagi yakkk

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s