(Ficlet) NaYeol Couple :: Opposite (Sequel of Blue Rose in My Life)


Author : Sasphire

Main cast : Chanyeol EXO K, Goo Nana (OC)

Ratting : General

Genre : Romance, Angst

Length : Ficlet (1.276 words)

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

Read :: Blue Rose in My Life

karena banyak yang minta sequel… nih.. aku kasih😀
dan… untuk kali ini… kalian bisa berkhayal untuk meneruskan cerita ini…
meskipun kali ini kalian minta aku bikinin sequel lagi, tapi aku tetap gak akan buat.. sorry T.T
karena, kelanjutannya, berbagai macam orang punya versi yang berbeda.. nah.. versi kalian itu… kalin tulis di komen…😀 ok? ^^
check this out😀

Chanyeol berjalan menghampiri meja café nomor 8 dengan 2 cangkir cappuccino di atas nampan coklatnya. Ya. Dia mulai bekerja sebagai pelayan café setelah 6 bulan hidup tak tentu arah sebagai pengangguran.

Sementara Nana, dia duduk di pojok ruangan sambil melamun. White coffee yang ia pesan pun sudah hilang kehangatannya karena sudah ia diamkan beberapa lama. Dia hanya mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke bibir cangkir kopinya. Sesekali, ia bersenandung mengikuti alunan lagu ballad yang ia dengar dari earphone-nya.

Entah mengapa, pandangan matanya yang sedari tadi menuju kopi yang ada di hadapannya, kini beralih mengelilingi seluruh sudut ruangan. Hingga pandangan matanya terhenti ke seorang lelaki yang rambutnya berwarna kemerahan.

“Chanyeol!!” Pekiknya sambil melambaikan tangan ke arah Chanyeol.

Chanyeol pun terkjut mendengarkan suara yang tak asing baginya. Ia menelan ludah, lalu bergegas menghindar darinya.

“Lho?” Nana heran. “Apa dia tak dengar?”

Nana memutuskan untuk berlari menghampiri Chanyeol.

“Hei….”

“Yah….” Gumam Chanyeol.

“Chanyeol….” Nana tersenyum, lalu bergegas memeluknya, membuat Chanyeol semakin terkejut. “tak kusangka kita bertemu disini….”

Chanyeol melepas pelukannya. “Bagaimanapun, aku dan dia beda…. Kami tak cocok…. Dipikir berkali-kali pun…. Tetap sama….” Dia membatin.

“hei…. Kau lupa padaku?” Nana mengernyit.

“Memang aku pernah mengenalmu?” Ucap Chanyeol bohong, walau di dalam hatinya ia sangat merindukan Nana.

“Kau lupa? Aku Nana…. Yang pernah menemani adikmu saat kau bekerja…. Kau sudah tak ingat ya?”

Keteguhan hati Chanyeol untuk melupakan Nana pun goyah. Perasaan rindunya pada Nana berhasil mengalahkan pemikirannya yang sangat primitive, bahwa orang kaya dan orang miskin tak dapat bersatu.

“Ah…. Nana….” Chanyeol menunjuk wajah Nana sambil tersenyum memaksa. “Nana ya…. Haha…. Nana yang itu….”

Nana ikut tertawa. “iya…. Nana yang itu….” Nana menepuk-nepuk pundak Chanyeol. “Masih ingat ternyata….”

~***~

Kali ini, Nana duduk di tempatnya semula dengan Chanyeol yang duduk di depannya. Nana tersenyum lebar.

“kenapa kau tak bilang padaku kalau kau pindah dari rumah susun itu? Kau juga tidak meninggalkan alamat baru untuk tetanggamu…. Aku jadi bingung mau mencarimu kemana….”

“Maaf….” Chanyeol tersenyum tipis. “lagipula, kenapa kau mencariku?”

“Iya ya…. Kenapa aku mencarimu?”

Chanyeol mengangkat bahu.

“Mungkin karena…. Sejak saat pertama, setelah kau memberikan bunga mawar biru padamu, aku jadi suka padamu….”

Chanyeol tersenyum, menahan tawa. Mawar biru. Dia masih ingat bagaimana ia memaksa Sehun untuk memberikannya secara gratis setangkai bunga mawar biru yang harganya cukup mahal itu.

Namun, lama kelamaan Chanyeol tertawa lepas. Ia tak menyangka, bunga mawar biru yang ia berikan itu bisa sangat berharga bagi Nana. Padahal, baginya, mawar biru adalah lambang kebodohannya.

“Kenapa malah tertawa?” Nana mendengus kesal.

“Maaf…. Maaf….”

“Apanya yang lucu?”

Setelah rasa geli di hatinya mereda, ia pun menatap Nana sambil tersenyum. “tidak…. Tidak ada yang lucu….”

“Jangan-jangan, seorang Nana menyukai Chanyeol itu sebuah kelucuan yang patut ditertawakan ya?”

“Mungkin….” Ucap Chanyeol, dan meneruskannya dalam hati, “mana jatuh cintanya karena mawar biru pula?”

Nana langsung memukul pundak Chanyeol dengan kasar, membuat Chanyeol meringis kesakitan dan mengelus pundaknya. “Aww….”

“Dasar!! Harusnya kau bersyukur, seorang Nana, mau menyukai seorang Chanyeol yang notabene hanya orang miskin….”

Chanyeol tertawa kecil, menyadari kebodohannya sendiri. “Iya…. Iya…. Maaf…. Lagipula, kenapa kau menyukaiku? Lelaki lain yang lebih kaya, lebih tampan, masih banyak kan?”

“Nah…. Itu yang membuatku bingung….” Ucap Nana kemudian. “baru aku tahu, cinta itu benar-benar buta seperti yang kebanyakan orang bilang….”

Nana tertawa kecil. Begitupun Chanyeol. Jauh di dalam hati Chanyeol sangat berbunga-bunga mendengar ucapan Nana. Namun di sisi lain, dia tetap mempertahankan pemikirannya, bahwa dia dan Nana tak mungkin bersatu. Apalagi saat mengingat respon Ayah Nana saat melihat Chanyeol di kali pertama.

“Nana!!”

Kali ini, orang yang membuat Chanyeol segan untuk mendekati Nana datang, dan berdiri di samping Nana. Chanyeol hanya bisa menunduk.

“bukankah Ayah sudah bilang, bahwa kau harus berteman dengan orang yang sederajat denganmu?”

“Tapi yah…. Bukankah Ayah sendiri yang bilang, kita harus menghargai orang di sekitar kita, tanpa mempedulikan statusnya?”

“Nah…. Baru bertemu saja, kau sudah berani membangkang pada orang tua….”

“Ayah…. Aku tak bermaksud….”

“kembali ke mobil….” Ayah Nana menatap Chanyeol. “Ayah ada urusan dengan pemuda ini….”

Perlahan, Chanyeol mengangkat kepalanya, dan menghela nafas.

Nana hanya bisa menurut pada perkataan Ayahnya.

“Nah…. Siapa namamu?” Ayah Nana duduk di tempat Nana, dan memandangi wajah Chanyeol.

“Park Chanyeol….” Ucapnya.

“Nah…. Chanyeol…. Aku heran, kenapa, putrid semata wayangku bisa jatuh cinta padamu, hingga menolak pertunangan yang seharusnya diadakan 3 minggu yang lalu….”

Chanyeol tercekat.

“padahal, lelaki yang kujodohkan dengannya jauh lebih tampan, dan jauh lebih kaya darimu. Aku yakin, dia bisa membahagiakan Nana, daripada kau….”

“Ya…. Aku tahu….” Ucap Chanyeol, membuat Ayah Nana terkejut.

Chanyeol bergegas berdiri. “Kalau anda kesini hanya untuk menjatuhkan harga diri saya, lebih baik anda pergi….”

“Kau….”

“Mungkin saya memang tidak sopan…. Tapi, yang harus anda tahu, orang miskin itu juga punya hati dan perasaan, sama seperti orang kaya….”

Chanyeol membungkukkan badan. Setelahnya, ia menatap Ayah Nana sambil tersenyum dingin. “jika anda datang kemari hanya untuk menyuruh saya menjauhi Nana…. Akan saya turuti….”

Chanyeol membalikkan badan, membiarkan Ayah Nana yang sedang naik pitam sendirian di sudut ruangan café itu.

~***~

Chanyeol duduk di bangku taman, tepat tengah malam. Ia menengadahkan wajahnya ke langit, menikmati cahaya bintang yang berkilauan. Lampu kota sudah banyak yang dimatikan untuk beristirahat, jadi, cahaya bintang tak lagi redup karena polusi cahaya.

Sesekali, ia menghela nafas. Masih ia ingat dengan jelas kejadian tadi sore yang membuat dia semakin yakin kalau dia tak cocok dengan Nana.

“Chanyeol….”

“Hah…. Suara itu lagi….” Desah Chanyeol. Ia mendengar suara Nana dengan jelas.

“Chanyeol….” Nana menepuk paha Chanyeol. Kali ini, Chanyeol kembali terkejut. Dia benar-benar melihat Nana di depan matanya.

“Bagaimana kau….”

“Aku kabur….” Jawab Nana cepat. “Sekarang, ayo kita pergi…. Kita menjalin hidup baru…. Penuh cinta….”

“jangan bodoh!!” Ucap Chanyeol sinis. “Kau ingin mengajakku lari? Hidup itu untuk dihadapi, bukan untuk dihindari….”

“Tapi…. Chanyeol….”

“Kau pikir aku menyukaimu?”

“Iya!! Setelah kau memberiku bunga mawar biru, aku tahu kau menyukaiku!!” Nana mulai kesal. “kau pikir, aku tidak tahu apa makna dari mawar biru? Kau pikir, aku tidak tahu, kenapa kau memberiku mawar biru, bukannya mawar merah, mawar putih, atau mawar lainnya yang lebih mudah dicari? Aku tahu pasti kenapa kau memberikan mawar biru padaku!!”

“Aku memberimu mawar biru hanya karena aku suka warna biru!!” Chanyeol berdalih. “lagipula, mawar itu bukanlah mawar biru yang sesungguhnya…. Itu hanya mawar putih yang kelopaknya kuberi cat warna biru!! Kau puas?”

“Tidak!! Itu benar-benar mawar biru!! Setiap hari kusirami, warnanya tak pernah luntur!! Walaupun bunga itu kini telah mati karena tak punya akar, aku tetap menyimpannya di kamarku!! Dan warnanya sama sekali tak berubah!!”

Kali ini Chanyeol memilih untuk diam, membiarkan Nana berbicara sesuka hatinya.

“Tolonglah…. Bukankah kita saling mencintai?”

“Saling mencintaipun percuma….”

“Apa?”

“kita berbeda…. Kau dan aku, bagaikan langit dan bumi, bagaikan bulan dan bintang, bagaikan hitam dan putih…. Mau sampai kapanpun…. Kita tak akan bersatu….”

PAKK!!

Chanyeol mengelus pelan pipinya yang baru saja ditampar oleh Nana. Ia menatap mata Nana yang sudah penuh dengan air mata.

“Justru karena kita beda…. Kita bisa bersatu…. Karena kau dan aku bagai langit dan bumi…. Justru kita bisa bersatu…. Bagaimana Bumi bisa hidup kalau tak ada langit? Bagaimana langit bisa berjalan dengan baik kalau tak ada Bumi? Bagaikan bulan dan bintang, justru karena ada bintang, bulan bisa bersinar…. Bagaikan hitam dan putih, justru karena ada putih, hitam bisa terlihat…. Karena ada hitam, putih bisa terlihat…. Bukankah sepasang kekasih yang indah itu adalah yang saling melengkapi??!! Apa kau tak pernah tahu itu?”

Chanyeol tersentuh saat melihat Nana menangis. Perlahan, ia melangkahkan kakinya ke depan, untuk bergegas memeluknya. Namun, niatan itu ia urungkan.

“Harusnya kau ucapkan itu pada ayahmu…. Bukan padaku….”

“Apa maksudmu?”

“Bukankah lebih baik, kau yakinkan Ayahmu, kalau kau cocok denganku? Bukannya malah berusaha mengajakku kabur seperti ini….”

Nana menatap mata Chanyeol. Cahaya mata Chanyeol yang tadinya dingin, kini berubah menjadi hangat.

“jika kau berhasil meyakinkan ayahmu…. Carilah aku….”

~***~

2 thoughts on “(Ficlet) NaYeol Couple :: Opposite (Sequel of Blue Rose in My Life)

  1. kok malah harus nana yg nyarik chanyeol?
    kan harusnya chanyeol juga usaha >,<
    tapi aku suka sama gaya penulisanmu thor..😀
    ini nggak ada lanjutannya kah?😮

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s