Inveartible 04 :: Lee Jeong Min :: Playboy


Inveartible 04 ::: Lee Jeong Min ::: Playboy

Author : Sasphire (Cover by J. Joker, gomawo)

Main cast : Lee Jeong Min Boyfriend

Ratting : PG 16, NC 17

Genre : Thriller

Length : Chaptered

Preview ::

Ren | Krystal | Baekhyun | Jeongmin

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

Ok… mana penggemar Inveartible? :D

 

Semua Inveartible sangat membenci manusia. Tapi, tanpa adanya manusia, mereka juga akan musnah dengan sendirinya. Bukankah, mangsa para Inveartible adalah manusia? Inveartible dan manusia, sama seperti Harimau dengan kijang. Hidup tanpa mangsa, mereka hanya bisa melebur, terhempas oleh angin.

Inveartible selalu melampiaskan kebencian mereka pada manusia dengan cara memangsa mereka secara kasar, merobek baju mereka, merusak tulang belulang yang melindungi jantung, dan pada akhirnya, mereka akan mencabut paksa jantung yang berpendar kuat di mata mereka, tanpa ampunan.

Ada juga yang membunuh mereka secara keji, tanpa memakan jantung. Menenggelamkan mereka ke laut, membenturkan kepala manusia ke kaca toilet, atau mungkin, mendorong manusia itu dari balkon teratas gedung pencakar langit, dan dengan senangnya menjilat darah yang keluar di sekujur tubuh manusia yang sangat segar. Kadang, para Inveartible juga senang membuat hancur lebur tubuh manusia hingga tubuh manusia terbelah menjadi dua.

Tapi, ada juga yang melampiaskan kebencian mereka dengan cara mempermainkan hati manusia. Saat hati manusia itu perih, hingga tanpa sadar mereka akan mengumpat dan berkata kotor menghina kami, maka dengan satu gerakan nyawa mereka akan hilang seketika.

Itu aku.

~***~

“Aku sudah bosan padamu….” Ucapku pada Jin Ri, gadis yang secara genit memeluk erat lenganku.

“Apa?” ucapnya. “b-bukankah…. Kita baru berpacaran?”

“Ya…. Tapi aku bosan. Terlalu mudah mendapatkan, maka terlalu mudah aku bosan….”

PAKKK!!!

Ok, aku sudah boleh membunuhnya karena ia telah melukaiku dengan tamparan kasarnya di pipi kananku.

“Kurang ajar!! Lelaki murahan!!”

Aku tersenyum sinis. “Bukankah kau yang wanita murahan? Begitu gampang jatuh cinta hanya karena rayuan lelaki….” Aku semakin memancing emosinya.

PAKKK!!!

Aku kembali tersenyum saat ia menampar pipi kiriku. Aku melihatnya berjalan penuh emosi menjauhiku. Akan kupastikan penderitaan wanita yang sudah kucampakkan itu untuk terakhir kalinya di hidupnya.

Kurasakan handphone-ku bergetar. Aku segera mengambilnya dari saku jaketku dan mengangkatnya.. “Hallo?”

“Hello…. What’s up Bro?” ah, Ren ternyata. Lama tak bersua semenjak ia dipindahkan 2 bulan lalu.

“I’m fine Bro, lama tak bertemu ya….” Ucapku lagi.

“Ya…. Sepertinya kau Inveartible yang paling bisa menjaga emosi. Aku, BaekHyun, Krystal, sudah dipindahkan karena terlalu ceroboh…. Tapi kau? Sejak 3 tahun lalu, kau masih saja di sana….”

“Ya…. Karena aku selalu jadi cassanova di sini….”

“Dasar!!”

“Eh…. BaekHyun??” ucapku saat mendengar suara BaekHyun barusan.

“Ya…. Kau Playboy dan aku pecinta Fashion, kita berdua sama-sama aneh bukan?” kali ini Krystal malah berkata yang semakin keluar dari pembicaraan.

“Hah!! Sudah!! Kalian ini….” Kali ini Ren berusaha mengambil alih pembicaraan. “aku menelfonmu hanya untuk memberi tahu…. Di wilayahmu sekarang, sudah berkembang manusia pembasmi Inveartible. Untungnya, mereka hanya bisa melacak Inveartible jenis pertama, untuk jenis Inveartible jenis campuran seperti kita, mereka belum bisa melacak. Aku hanya ingin bilang, hati-hatilah. Mungkin ketua akan memindahkanmu ke tempat yang lebih aman dalam waktu dekat….”

“Ah…. Ya…. Aku mengerti…. Kau tahu darimana?”

“aku tahu dari BaekHyun…. Dia orang pertama yang tahu tentang itu, kalau tidak salah, nama organisasi Manusia yang membasmi Inveartible adalah Extearmined….”

“Ok…. Lalu….”

“Sudah ya…. Kumatikan!!”

PIP!!

Tak bertanggung jawab. Belum selesai aku bicara, sudah ia potong. Aku ingin tanya, buat apa dia bilang padaku tentang pembasmi Inveartible itu? Bukankah, yang bisa mereka basmi hanya Inveartible sesungguhnya, bukan Inveartible campuran seperti aku?

Tidak penting.

Aku segera mengalihkan perhatianku kepada gadis yang baru saja menamparku tadi. Ah, tak sabar menunggu nanti malam. Menunggu saat-saat indah bagiku untuk memakan jantung segarnya.

~***~

10.35 PM

Dengan santainya aku melihat gadis itu berjalan tanpa sadar sambil membawa pisau dapur di tangan kanannya. Dengan patuhnya, ia berdiri di depanku.

Aku menatap wajahnya lekat. Cantik, pikirku. Namun saat ia akan meninggal di tanganku, dia tak akan cukup cantik.

Aku mengambil pisau di tangan kanannya, lalu memetikkan jari.

Ia segera sadar dari lamunannya, dan menggerakkan kepalanya secara cepat untuk melihat sekelilingnya. “Di….”

“Dihutan belantara….” Jawabku menyeringai.

“AAAA!!!!”

Ia berlari sekuat tenaga saat melihat mataku memerah di bawah cahaya rembulan yang membulat. Sayang, ini bukan waktu bulan purnama. Tak apa. Aku sudah cukup kuat dengan cahaya ini.

Aku berjalan santai menggunakan jalan pintas.

Aku berada di depannya tepat saat ia sedang memegang lututnya dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan. “Tadi sudah kubilang, ini hutan belantara. Kau tak akan menemukan jalan keluar di sini….”

Ia menatapku ketakutan sambil berjalan mundur. Dengan jelas keringat dingin mengalir deras di pipinya. Hoo…. Ketakutan yang mengguncang jiwa, pikirku.

Langkahnya terhenti karena punggungnya tersandar di pohon beringin besar. Disana bersarang banyak sekali korban wanita yang pernah kuhancurkan hati mereka…. Dan tentu saja, kumakan jantung mereka.

“Kau masih ingat tamparanmu tadi pagi?” aku tersenyum, lalu melangkah pelan menghampirinya. “Aku akan membalasnya hari ini juga….”

“Kau….”

JLLEEBB!!!

Aku menusukkan pisau ini ke bahu kirinya hingga ia berteriak kesakitan. Tangan kanannya reflex memegang bahu kirinya.

“Sakit?” tanyaku saat melihat ia meringis kesakitan. “Bagaimana dengan yang ini?”

Aku menyarangkan pisau ini ke perutnya. Ia memegang perutnya, pantatnya terdorong ke belakang, dan mulutnya mengeluarkan darah. Segar sekali.

Ia menatapku pilu. “Maa… aaf….” Rintihnya.

“Maaf?” aku tersenyum sinis. “mudah sekali kau minta maaf?”

Aku mencabut paksa pisau yang tadi ia bawa, lalu menusuknya kembali ke pinggangnya. “Apa kau tak pernah membaca buku sejarah? Inveartible, tercipta dari bara api kebencian para iblis, yang dicampur dengan darah-darah segar orang-orang keji yang meninggal dengan membawa nama baik kejahatan. Mereka hidup melanglang buana, untuk mencari orang-orang yang memiliki kekejian, lalu membunuh mereka, dengan tanpa ampun. Kau tak pernah baca itu?”

Aku mengangkat dagunya yang kemerahan karena darah yang mengalir dari mulutnya. Wajahnya sangat pucat. Kulitnya juga terasa dingin karena keringat. Ia menggeleng pelan.

“Tsk!! Gadis bodoh!!”

Tangan kiriku yang memegang pisau yang berlumuran darah ini ku arahkan ke lidahku. Menjilat darah gadis yang ada di pisau itu. “Kau tahu, dagingmu sangat segar…..”

“Hhh…. Hh….”

Aku menghujatkan pisau ini ke matanya hingga mengeluarkan darah. “AAKKKHH!!!”

Aku mencabutnya paksa, lalu menusuk mata kirinya. Membuatnya kembali berteriak.

“Makanya, jangan pernah berani menganggap remeh Inveartible…..”  kini, aku menyarangkan pisau ini ke ulu hatinya. Miris sekali. Oh…. Jahatkah aku? Ya…. Aku memang jahat. Hahaha!!!

Aku kembali membuatnya tersiksa saat menghujatkan pisau ini tepat ke dada kirinya. “Aaahh…” mulutnya terus-terusan menganga di sela-sela nafas terakhirnya. Matanya melotot.

“Ada kata-kata terakhir?” aku mendekatkan telingaku ke bibirnya. Hanya desisan dan erangan yang kudengar.

“tidak ada?” tanyaku lagi. “Baiklah….”

Aku melepaskan pisau yang ada di tangan kiriku, dan dengan sigapnya, aku mencakar dadanya, yang dekat dengan jantung. Aku menjilat bibir atasku. Jantung yang berpendar indah itu sangatlah menarik. Aku menyukainya.

Dengan penuh semangat, tanganku kembali mencakar kulitnya, lalu mengkikis tulang rusuknya hingga terdengar indah gerusan tulangnya.

“Ak…. Ak…..” ucap gadis itu, dengan mata terbelalak menahan rasa sakit.

Kini, tulangnya benar-benar terkikis. Aku mencabut jantungnya secara paksa, lalu mengoyak jantung itu, menggigitnya dengan lahapnya. Aku benar-benar lapar.

Setelah puas memakan jantung itu, aku menatap gadis yang tergeletak dengan tubuh putih, sedingin salju, bibir memerah, dengan mata terbelalak. Wajahnya tersirat jelas kenelangsaan yang begitu dalam. Aku tersenyum, lalu melemparkan sisa jantung ini ke wajahnya.

“Sempurna sekali hidupmu,” ucapku santai. “sudah kusakiti hatimu, sudah kubunuh pula dirimu….”

Aku mengambil pisau yang terletak di sampingnya, lalu menusukkan pisau ini ke dalam rongga mulutnya yang menganga. Kematiannya sangat sempurna.

~***~

KEHEBATAN EXTEARMINED DIRAGUKAN!!

SATU LAGI KORBAN INVEARTIBLE!!

INVEARTIBLE MERAJAI DUNIA!!

Aku tersenyum sendiri saat membaca artikel di Koran pagi ini dengan foto utama gadis yang mulutnya di tusuk pisau, dengan kondisi berlumuran darah, dan jantungnya raib. Aku berdecak kecil, lalu melipat Koran itu, dan melenggang santai menuju sekolahku.

~***~

“Jadi, mau tidak, kau jadi pacarku?” tanyaku pada seorang gadis cantik, Bae Suzy, di ruang music ini, saat pulang sekolah.

Ia menatapku sinis, lalu berkata, “tidak…. Aku tidak mau….”

Senyum penuh percaya diri yang sedari tadi kupasang langsung menghilang begitu saja. Apa ini? Kenapa dia menolakku?

“Wae?” tanyaku. “bukankah, lelaki sepertiku adalah lelaki yang banyak di idam-idamkan para gadis?”

“Karena itu, aku tidak mau,” ucapnya lagi. “Seleraku adalah cowok tinggi, minimal, yang pundaknya sejajar dengan garis pandangku…. Tinggiku sampai telingamu…. Kau kurang tinggi….”

Kurang ajar!!

“Lagipula, kau playboy. Aku tak cocok denganmu. Kau itu lelaki jahat yang bisanya hanya mempermainkan hati wanita….”

Ya. Aku memang jahat. Tunggu setelah ini, akan kuperlihatkan betapa jahatnya aku.

“Sudah…. Aku pulang….”

Ia berjalan dengan angkuhnya sambil menyenggol bahu kananku.

Untung pintu ruangan ini sudah ku kunci rapat. Ia tak mungkin bisa kabur.

Aku membalikkan badanku dengan cepat, lalu berjalan cepat menghampirinya, berdiri didepannya.

“minggir, aku mau lewat….”

Saat ia melangkah selangkah, aku langsung mencengkeram erat lengannya, menguntirnya hingga terdengar suara gemeretak tulangnya.

“AAKKHH!! LEPASKAN!!”

“tidak….”

Aku mendorongnya hingga ia terjatuh cukup jauh. Maksudku, terpelanting. Uuuppss…. Celana dalamnya sedikit terlihat. Warna pink.

“HHHEEEHH!! APA MAUMU!!!” ucapnya sambil mengelus lengan kanannya yang barusan kulukai.

Aku berjalan cepat menghampirinya, lalu menamparnya dengan keras, hingga pipinya memerah.

“Kau ini kenapa??”

Aku mengambil paksa tas selempangnya, lalu mengobrak-abrik isi tasnya.

“Bukan….” Aku melemparkan buku-buku tak penting yang ada di tasnya ke tubuhnya.

“HEEEHH!!!”

Ini dia. Sudah kukira, ia membawa bedak yang terdapat cermin di dalamnya. Dasar gadis!!

Aku melemparkan tas yang ada di tangan kiriku ke tubuhnya, lalu melemparkan bedak itu ke samping tubuhnya hingga cerminnya pecah.

Aku berjongkok, lalu mengambil serpihan kaca itu, dan memperlihatkannya pada Suzy. “Kau ingin tahu, apa yang akan kulakukan?”

Sekarang, tatapan mata keras kepalanya itu berubah menjadi tatapan mata ketakutan. Ia berjalan mundur dengan kedua tangannya.

“Kau tak ingin menebak? Ingin kuberi tahu langsung?” tanyaku lagi. Ia masih tak menjawab.

“Untuk seperti ini!!!”

Aku langsung menusukkan serpihan kaca itu ke pipi kirinya. “AAKKKHHH!!” dengan spontan ia memegang pipi kirinya.

“Saico….” Desisnya pelan.

“Saico? Bukan, bukan itu….” Ucapku sambil tersenyum sinis. “Aku ini Inveartible, bukan manusia….”

Ia semakin bergemetar ketakutan. Ingin bangkit dan berlaripun, ia tak bisa. Kakinya kutekan dengan lututku.

“aku boleh balas dendam?” aku kembali tersenyum.

“Mulutmu yang lancang ini….” Dengan tangkas, aku merobek kedua sudut bibirnya dengan kaca cermin ini, hingga pipinya penuh dengan darah. Dari ujung bawah telinga sampai bibir, melintang darah segar. “Harus aku sobek….”

Ia tergeletak lemah. Kedua tangannya memegang ujung bibirnya yang sudah belepotan darah, seperti bibir badut yang lipstick-nya terlalu tebal.

Aku menampiik kedua tangannya, lalu kembali memperlebar daerah robekan bibirnya sambil menyeringai. “Ucapanmu barusan, sungguh tak pantas….”

Aku menusuk lidahnya dengan pecahan cermin ini. Aku harus balas dendam, bermain-main dengan rongga mulutnya. Seru.

Aku menusuk lidahnya dengan kasar, membuat ia dengan spontan menggeliat kesakitan. Kutekan dadanya agar tak berontak. “Jangan berulah….” Desisku kesal.

Akupun menusuk pangkal lidahnya dengan puas, hingga tanpa sadar lidahnya sudah putus dan menempel di lenganku. Aku tersenyum puas, mengingat Suzy masih hidup saat aku mencabut lidah ini.

Mata Suzy melotot kesakitan, lalu menyipit karena air matanya tumpah karena kesakitan.

“Lihat? Lidahmu….” Aku tersenyum kecil, lalu melemparkan lidahnya ke sudut ruangan.

Aku kembali bekerja keras, saat aku menarik paksa gusinya yang menempel erat di rahangnya. Yang ingin ku ambil kali ini adalah rahangnya. Cukup sulit.

Setelah beberapa menit kemudian, aku berhasil mengambil rahangnya, lalu melemparnya keluar.

“tinggal matinya ‘kan?”

Dan tanpa ampun, aku langsung menusukkan pecahan kaca ini ke jantungnya. Ia tewas seketika.

“Selesai….” Desisku pelan. Akupun bergegas keluar dari ruang music.

“Jeong Min?” aku tercekat saat melihat kedua sahabat suzy berdiri di depanku. Kenapa mereka belum pulang?

“Suzy!!!” teriak mereka saat melihat mayat suzy berada di tengah ruangan. Saat mereka bergegas memasuki ruangan, aku langsung menjambak kedua rambut mereka, membenturkan kepala mereka hingga pingsan, dan membawa mereka pergi ke kamar mandi wanita.

~***~

Aku membanting kedua tubuh gadis ini ke lantai ubin berwarna putih mengkilat ini. Aku merengganggkan badanku. Fiuhh…. Sore begini sudah membunuh 3 orang. Ah ya….. akan membunuh 3 orang maksudku.

“Kau….” Ucap salah satu dari mereka.

“Sudah bangun?” jawabku cuek. Aku segera menjambak rambut gadis itu. Aku membenturkan kepalanya ke cermin toilet.

“AAKKHH!!!”

Tersemburat darah di keningnya, juga di cermin. Aku suka melihatnya. Tapi kali ini, aku sedang tak ingin main-main.

Aku kembali membenturkan kepalanya ke cermin itu. Setelah lebih dari 20 kali aku membenturkan kepalanya, aku membantingnya ke lantai. Ia tengkurap.

Akupun menginjak punggungnya keras hingga terdengar gemeretak tulangnya.

“Hhhh….”

Masih bernafas? Ho… kuat sekali.

Dengan kasar, aku menginjak kepalanya berkali-kali, lalu menendangnya hingga tubuhnya menabrak kaki wastafel. Tubuhnya sudah remuk redam. Tewas seketika.

Aku beralih ke gadis lain. Ia duduk di pojok ruangan sambil menggigiti kukunya karena ketakutan. Aku hanya tersenyum kecil. “Gwaenchena?”

Aku membuka kran wastafel, lalu menutup saluran airnya. Kutunggu beberapa saat hingga wastafelnya penuh dengan air.

Saat air sudah meluber, aku kembali menatap gadis itu, lalu menjambak rambutnya, mencelupkan paksa kepalanya ke dalam wastafel. Beberapa menit sekali, aku mengeluarkan kepalanya supaya ia mendapatkan oksigen, namun saat kukembalikan kepalanya ke dalam wastafel, dengan kejinya aku membenturkan kepalanya ke sisi wastafel hingga kepalanya bocor.

Woouu…. Beberapa saat kemudian, air bening berubah warnanya menjadi merah pekat. Sudah banyak darah yang ia keluarkan.

Terakhir, aku mengangkat kepalanya, lalu membenturkannya ke kran besi itu. Ia tewas seketika.

Aku membanting tubuh wanita itu. Aku melihat kondisi di sekelilingku. Toilet yang awalnya putih bersih ini, sekarang berlumuran darah. Bahkan mungkin, mulai hari ini, toilet ini akan menjadi tempat terangker karena dihuni 2 arwah wanita gentayangang dengan wajah yang hancur.

Aku keluar dari toilet dan menutup pintu toilet. Kejahatan yang sempurna.

Aku melenggang santai, memasukkan kedua tanganku ke saku celanaku sambil bersiul dengan riangnya.

~***~

9 thoughts on “Inveartible 04 :: Lee Jeong Min :: Playboy

  1. maaf, aku baru bisa coment kali ini soalnya yang part sebelumnya aku masing bingung kehabisan kata-kata gara-gara ngebaca ceritanya , oh ya kasian banget si suzy haru jadi korbannya , aku kira si suzy yang jadi pembasmi inveartiblenya ternyata enggak. oh ya aku usahakan bakalan kasi coment di beberapa part yang lain.sekali lagi ffnya ini bener2 bagus aku aja yang baca sampe ternganga ngebacanya . good luck author. oh ya kapan nih ff 7 words yang part 2nya di posst . oh ya aku harus manggil author apa ya , aku juga binggung masak cuman manggil author aja !

  2. SASA!!! MAAF!!!!
    Maafin eonni yang baru ngasih komentar, maaf banget sa.
    untuk itu, eonni akan menebus kesalahan eonni dengan komentar panjang sepanjang kasih sayang ibu,
    oke, caranya Jeongmin nyari mangsa (?) itu keren banget, dia ngebuat orang lain buat nyakitin dia, well itu sangat cerdik,
    eh, tapi kan kesian si Jinri….
    Jeongmin keji banget, tapi itu poin yang aku suka. *demen banget yang keji keji*
    agagag, seru banget mbaca yang beginian.
    penuh darah dan adegan keji, soalnya aku jarang nemu FF yang begini.
    GIVE ME “S”
    GIVE ME “A”
    GIVE ME “S”
    GIVE ME “A”
    SASA!!! YEE!!!!! *teriak pake pom pom*

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s