Inveartible 03 :: Byun Baekhyun :: Bad Son


INVEARTIBLE

Author : Sasphire

Main cast : Byun Baekhyun EXO

Ratting : PG-16, NC-17

Genre : Thriller, Horror, A little Bit Action

Length : series
preview :

Ren | Krystal | Baekhyun | __

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

Inveartible

Sudah dijelaskan sebelumnya, Inveartible ada 3 bagian.

Dan Inveartible jenis kedua, ada 3 bagian juga.

Yang pertama, Inveartible jenis kedua yang kedua orangtuanya merupakan Inveartible asli, namun entah mengapa, ia terlahir dalam bentuk manusia. Inveartible jenis ini, untuk menjadi Inveartible sesungguhnya, merupakan hal yang sulit, meskipun kedua orang tuanya merupakan Inveartible asli. Mereka tak bisa memakan jantung orang tua mereka sendiri yang merupakan Inveartible asli untuk menjadi Inveartible sesungguhnya. Sebagai gantinya, mereka harus memakan 300 jantung manusia yang pernah melakukan kesalahan padanya.

Yang kedua, Inveartible jenis kedua yang orang tuanya campuran. Salah satu dari orangtuanya merupakan Inveartible asli, dan satunya lagi hanya manusia biasa. Kutukan tentu akan diberikan pada Inveartible yang berani menikah dengan manusia biasa. Namun terkadang, sebelum kutukan dijatuhkan, sepasang kekasih itu sudah mempunyai buah cinta berupa Inveartible jenis apapun, atau yang lahir hanyalah manusia biasa. Kutukan yang lebih parahpun akan dijatuhkan pada Inveartible yang berani menikah dengan manusia tadi. Namun jika ia berhasil member keturunan berupa Inveartible, maka dia telah membantu mengembangkan jenis Inveartible. Iapun selamat dari kutukan.

Yang terakhir, Inveartible jenis kedua yang kedua orangtuanya hanya manusia biasa. Inveartible jenis ini sangatlah mudah untuk menjadi Inveartible sesungguhnya. Asal berani memakan jantung kedua orang tuanya, maka dia akan menjadi Inveartible seutuhnya.

Diantara ketiga jenis itu, yang paling kuat justru Inveartible jenis terakhir. Sudah bisa dipastikan dia yang terkuat karena berhasil membunuh kedua orangtuanya tanpa belas kasihan.

Inveartible jenis ini, saat ia menjadi Inveartible yang sesungguhnya, dia bisa bertransformasi. Ia bisa berubah menjadi wujud Inveartible yang mengerikan. Namun saat ia ingin, di bisa berubah menjadi manusia biasa. Sementara Inveartible jenis kedua yang lain, tak akan bisa bertransformasi sedemikian rupa. Sekali mereka berubah menjadi Inveartible yang mengerikan, mereka tak akan bisa berubah menjadi manusia walau ingin.

Aku, adalah Inveartible jenis kedua, yang kedua orangtuaku hanya manusia biasa.

~***~

7 years ago…..

Aku mengantukkan kepalaku diatas lengan kananku waktu istirahat itu. Di kelas hanya ada aku sendirian, tanpa ada orang lain.

Aku baru bangun dari tidur panjangku selama jam pelajaran dimulai. Memuakkan.

Aku melihat teman sekelasku, Ah Joong memasuki kelas sambil bersenandung ceria. Aku tak peduli.

Kulihat, ia menghampiri tas bulu warna pink-nya, berusaha mencuri sesuatu.

“Lho?”

Aku tak mengindahkan pekikannya.

“Lho?”

Ia memekik lagi. Setelahnya, ia berjalan menghampiriku. “Kau mencuri handphone-ku kan?”

“Tidak….” Jawabku santai, lalu duduk tegap sambil menatap matanya.

“Jangan bohong!! Di kelas ini, hanya ada kau!!”

“Tapi aku tidak mencuri!!”

Setelahnya, kulihat segerombolan anak perempuan menghampiriku. Ah, menghampiri Ah Joong maksudku. Menghampiri Ah Joong yang berdiri di hadapanku.

“Ada apa?”

“Dia mencuri handphone-ku!!” ucap Ah Joong sambil menunjukku.

Mereka langsung menghakimiku dengan tatapan kejam. Kalian pikir aku takut pada kalian?

Dan tanpa persetujuanku, mereka menggeledah tasku. Padahal aku tak pernah membawa apapun ke sekolah. Tasku selalu kosong.

“Ada!!” pekik salah satu temannya.

Aku menghela nafas. Pasti ada yang mengerjaiku lagi. Kurang ajar!!

“Sudah kuduga!! Kau yang melakukannya!! Kau kan miskin!!”

Ha…. Pintar sekali kau bertutur kata.

“Aku tak akan melaporkan ke Guru BP…. Tapi kalau lain kali kau melakukannya lagi, maka tak ada ampun!!”

Aku tak mengelak. Aku jelaskan pada mereka pun percuma. Semua bukti mengarah padaku.

Tunggu!!

Selalu seperti ini!!

Saat ada orang lain yang menggangguku, pandangan mataku selalu berubah menjadi merah!! Bahkan beberapa dari mereka, jantungnya selalu berpendar!! Hasrat ingin membunuhpun selalu kuat.

Aku ini kenapa??

Aku segera menggelengkan kepalaku secara cepat. Setelahnya, pandangan mataku kembali normal.

~***~

Aku berjalan santai saat pulang kerumah sambil menggenggam erat kedua pegangan yang ada di tasku.

“Plokkk!!!”

Kurang ajar!!

Tangan kananku bergerak meraba kepala bagian kananku yang sudah amis karena dilempari telur busuk. Akupun menoleh kea rah datangnya telur itu. Kudapati segerombolan lelaki yang juga membenciku. Setelahnya, salah satu diantara mereka kembali melempariku telur.

“Hahaha….”

Entahlah, setelah mendengar tawa mereka, pandangan mataku kembali memerah.

Aku segera memejamkan mata erat, lalu menggelengkan kepala dengan cepat. Setelahnya, perlahan aku membuka mata.

“BaekHyun!!”

Aku mendengar suara cempreng itu kembali terdengar. Aku menoleh kea rah suara. Kakak perempuanku.

“Ya Ampun!!” ucapnya sambil melihat kepalaku yang benar-benar amis karena telur melayang ke kepalaku.

“Hahahaha…. Selalu dilindungi cewek…. Lemah sekali…. Hahaha….”

“heh!!! Kalian!! Dasar!!”

Kulihat, kakak perempuanku berlari mengejar mereka. Namun percuma. Mereka lebih muda dari kakakku. Tenaga mereka untuk lari tentu lebih besar daripada tenaga kakakku.

Aku melihat ada batu yang besarnya sekepal tanganku. Cukup besar.

Entah kenapa, saat itu aku tak bisa menahan diriku ketika sekelilingku berubah menjadi merah. Aku segera mengambil batu itu, dan melemparkannya ke segerombolan anak itu.

“Matilah!!”

Aku melemparkan batu besar itu. Tepat mengenai seorang anak yang tadi melempariku Telur.

“BaekHyun!!” teriak kakakku, lalu berlari menghampiriku. “tidak boleh!!”

Aku kembali menggelengkan kepalaku cepat sambil memejam erat mataku. Tadi….

Aku kenapa?

“Ayo…. Pulang!!” kakakku yang bernama BaekHi itu pun menarik paksa tanganku untuk pulang.

~***~

Aku duduk di teras. Masih terpaku atas apa yang kulakukan barusan.

Tadi, aku melempari anak kepala sekolah yang sekaligus tetanggaku dengan batu, tepat ke kepalanya. Kemarin, aku juga menghunuskan pisau dapur ke teman sekelasku yang berusaha merusak tasku.

Dan setiap kali aku membabi buta, pandangan mataku selalu berubah.

Aku kenapa?

“BaekHyun….”

Panggil kakak perempuanku. Iya mengacak kasar rambutku. Aku hanya mengelak sedikit. Pandangan mataku masih kosong.

“Sudah bersih rambutmu?”

Aku merasa, ia duduk disampingku. Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan.

“Semarah apapun kau, jangan melakukan hal kasar seperti itu….”

“Aku tahu….”

“dan setelah melakukan kesalahan…. Harusnya kau minta maaf….”

“Itu aku juga tahu….”

Terdengar helaan nafas berat dari kakakku. “BaekHyun…. BaekHyun…. Kau ini anak yang baik, pendiam…. Kenapa kau selalu diperlakukan yand tidak baik?”

Aku juga punya pertanyaan yang sama dengan kakak. Aku tak pernah berbaur dengan manusia lain, kenapa aku selalu diperlakukan semena-mena oleh mereka?

Bahkan oleh ketiga kakak laki-lakiku.

Baek Ho, Baek Hun, Baek Joong.

Mereka selalu menjadikanku sasaran empuk mereka saat berlatih Taekwondo. Memang mereka pikir aku apa?

“Ayo kita minta maaf ke anak kepala sekolahmu itu….” Ucap Kak BaekHi sambil menggenggam erat tanganku. Aku mengelak.

“Tidak mau!!”

“Ayolah….”

“kakak sudah tahu, dia yang salah kan? Kenapa harus kita yang minta maaf?”

“tapi kau melempari kepalanya dengan batu!!”

Kak BaekHi masih menarik paksa lenganku hingga aku tak berkutik.

“BaekHi….”

Suara berat nan parau kembali terdengar. Kami berdua bergegas mencari arah suara.

“Kak BaekHo?” ucap kak BaekHi. Aku melihat mereka bertiga mengenakan seragam Taekwondo mereka.

“Anak ingusan itu, biar kami yang urus…. Kau tak perlu mengajarinya tata krama….”

“Tapi….”

BaekJoong menarik paksa lengan kiriku, membuat lengan kiriku terasa sakit, dan tubuh kecil nan kurusku sedikit terhempas angin.

Mereka bertiga pun membawaku ke suatu tempat.

~***~

BRUKK!!!

Aku dilempar ke dinding Gudang mereka hingga aku meringis kesakitan, merasakan hantaman keras di punggungku.

“Kau itu selalu menjadi aib keluarga!!” ucap BaekHo.

“Apa kau pantas menjadi keluarga Byun Baek Joo yang terkenal terhormat?? Tidak punya sopan santun….” Sahut BaekHun.

Aku hanya bisa bergemetar ketakutan, saat mereka bergegas mengikat tanganku kebelakang, lalu menyumpal bibirku dengan sobekan bajuku hingga aku terlihat seperti gelandangan.

Aku berusaha meronta, tapi tenaga mereka sangat kuat.

“Ah…. Kasihan sekali anak ini….” Ucap BaekJoong sambil tersenyum sinis.

Saat itu juga, pandangan mataku berubah menjadi merah. Ketiga orang itu jantungnya berpendar semuanya. Aku sudah tak bisa mengendalikan diriku lagi. Berkali-kali aku menggelengkan kepalaku sambil memejamkan mata, saat aku membuka kelopak mata ini, semuanya selalu merah, merah dalam kegelapan.

Entah apa yang merasukiku kali ini. Aku sudah tak bisa menahan setan yang ada di dalam diriku ini. Aku sudah membiarkannya membabi buta.

Aku menatap tajam mereka, tak seperti biasanya.

“Ah…. Lihat tatapan mata itu….” Ucap BaekHun, sambil tersenyum sinis.

“Oh…. Aku jadi takut….” Ucap BaekHo, lalu ketiganya tertawa lepas.

“saatnya kita memberi pelajaran pada anak ini….” Lanjut BaekHo selaku saudara tertuwa dalam keluarga Byun.

“ARRGGHH!!!”

Aku mengoyak paksa kain yang menyumpal di mulutku hingga sobek. Tenagaku yang lebih dari biasanya pun berhasil membuat tali tambang yang mengikatku lepas. Aku membabi buta ketika mereka bersiap mengayunkan alat pukul senjata mereka.

“KUBUNUH!!!”

Aku merebut alat pukul itu, lalu memukulkan pada mereka. “Arghh!!!!”

Aku tak peduli. Sejak umur 5 tahun hingga aku berumur 12 tahun, mereka hanya menjadikanku sebagai pelampiasan mereka. Kesabaranku sudah habis.

Mereka bertiga bergegas bangkit setelah jatuh telentang. Dengan cepat, aku mencakar tubuh mereka dengan tanganku yang sudah berubah menjadi tangan hitamp yang berbulu hitam, dengan cakar kuat. Aku mencium aroma darah yang segar di tanganku.

“KUBUNUH!!” ucapku sambil menyeringai.

Aku merasakan serangan dari belakangku. BaekHun dan BaekJoong.

Aku segera memutar tubuhku sambil menendang kuat wajah mereka. Merekapun memuntahkan darah hingga terciprat ke kaosku, lalu jatuh telungkup hingga membuat lantai kayu gudang ini berdentam, saking kekarnya mereka.

“BaekHo….” Aku menghampiri kakak tertuaku yang bagian perutnya sudah tercabik berlumuran darah, bekas cakaranku barusan. Aku juga merasa, suaraku berubah. Aku pun merasa taringku semakin panjang, walau tak menyembul keluar.

“Kau…. Kerasukan apa?” ucapnya disela-sela getaran hebatnya karena ketakutan.

“Kebencian dan amarah….” Desisku. Tanganku yang mengerikan inipun bergegas menggenggam erat rambut pendeknya, lalu mengangkat kepalanya.

“kau itu….” Desisku. “pantas dibeginikan….” Kuku telunjukku yang tajam ini menari dengan indahnya di wajahnya.

“Arghh!!!”

Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang kesakitan. “HAHAHAHA!!! PENGECUT!!!”

“Hentikan!!!”

Aku tak mempedulikan katanya. Dengan liarpun, aku menggerak-gerakkan tanganku di atas matanya. Belum bergerak menyentuhnya.

“Apa yang akan kau lakukan??” ucapnya lagi. Bibirnya sudah brdarah karena digigiti oleh giginya sendiri.

“Mencongkel mata ini….” Ucapku dengan seringai. Wao!!! Getaran tubuhnya semakin kuat. “mencongkel mata yang selalu memberikan seringai kuat untuk menakut-nakuti Byun BaekHyun….”

“J… jangan…. Kumohon….”

“terlambat!!” desisku. Ujung kukuku yang tajam ini langsung bergerak menusuk bagian bawah kelopak matanya hingga mengeluarkan darah yang mengaliri pipinya, seperti airmata darah.

“Arghh!!!”

“Hahahaha!!!” aku semakin tertawa puas melihat ia kesakitan.

Ujung jariku kini sampai hingga pangkal syarafnya, lalu mendorong mata itu untuk keluar dari tempatnya.

“Argghhh!!!”

Aku puas melihat mata yang selama ini membuatku takut berada di genggamanku. Setelahnya, kuku tajamku menusuk mata kirinya yang masih terpasang erat di kelopaknya.

“Argghhh!!!”

Kedua tangannya memegang erat kelopak matanya. Kasihan sekali.

Aku kembali terpikat pada jantungnya yang berpendar indah.

“Aku boleh mengambil jantungmu?” tanyaku lagi.

“Hh…. Hh….” Bibirnya semakin bergetar hebat karena ketakuta.

“Jantung yang sudah membuatmu hidup selama ini….” Desisku. Tanpa menunggu reaksinya, aku mencakar baju taekwondo yang ia bangga-banggakan selama ini.

“Akhh…. Akhh….” Desisnya.

Aku kembali mencakar kulitnya dengan kuat. “HAHAHAHA!!!”

Aku melihat jantungnya yang masih terbungkus rapi dengan tulang rusuknya. Aku segera mematahkan tulang yang membungkus rapi jantungnya.

KREKK!!

“Akhhh!!” ia menjerit kesakitan merasakan tulang dadanya yang patah barusan. Aku tak peduli. Tanganku pun bergegas mencabut jantungnya dengan kasar. Ia pun tewas seketika.

“HAHAHA!!”

Entah mengapa, aku malah memakan jantung itu dengan lahapnya, hingga bibirkupun belepotan darah. Ternyata cukup enak!! Baru pertama kali ini aku memakan jantung manusia!!

Akupun mengalihkan pandangan mataku ke kedua kakakku yang tengah gemetaran ketakutan. Kerekapun duduk sambil mundur, hingga langkah merekapun terhenti ke dinding belakang mereka.

“M… mau apa?” ucap BaekHun.

“Jangan berani-beraninya….” Sahut BaekJoong.

Aku tak mengindahkan kata-kata mereka. Aku menjambak rambut panjang BaekJoong, memaksanya berdiri. “Perhatikan baik-baik BaekHun….” Ucapku menyeringai.

Aku mengangkat kepalanya setinggi mungkin, lalu menjatuhkannya ke bawah hingga gemeretak tulangnya terdengar jelas. Ah, aku lupa. Tanganku berkuku tajam, dan aku mencengkeram kuat kepala BaekJoong hingga kulit kepalanya berdarah. Rambutnya rontok. Cakaranku cukup dalam, hingga otaknya tergores.

“Sialan….” Desisnya sambil menahan sakit. Saat ia berusaha bangkit, aku langsung menginjak keras punggungnya.

“Arggghhh!!!”

Tak cukup sampai disitu, tangan liarku langsung bergerak menuju lehernya. Ku cakar dari pangkal rambut hingga punggungnya.

“Arghh!!!”

Setelahnya, dengan bekas cakaranku, kukuakkan luka itu hingga terbuka sangat lebar. Aku tersenyum senang melihat darah yang mengucur deras diantara tulang belulang yang putih itu.

“Hh…. Hh….”

Mungkin itu nafas terakhirnya. Aku semakin bersemangat untuk membunuhnya. Tulang yang tegak itu, kupatahkan.

“Argghh!!!”

Aku pun bergegas mencari pita suaranya. Ketemu. Aku bergegas mencabutnya dengan kasar.

“Hhh…. Hhh….”

Nafasnya semakin berat. Sebentar. Kapan matinya orang ini? Apa aku harus melukai jantungnya?

“Kasihan sekali…. Sudah kesakitan, tapi belum mati juga….” Aku berdecak. “Mau kuselesaikan?”

Dengan kejinya, tangan kananku langsung menusuk punggung kirinya yang menembus ke jantung dengan menghujatnya dengan cepat, hingga darahnya terciprat ke seluruh kaos putihku bagian depan. Aku tertawa senang.

“HAHAHHA!!!”

Pandanganku beralih ke saudaraku yang masih duduk di pojok ruangan, yang menggigiti tangannya karena ketakutan. Aku menyeringai padanya, membuatnya semakin panic.

“Kau siapa??” ucapnya.

“Entahlah….” Ucapku santai. Aku melihat pita suara BaekJoong yang ada di genggaman tangan kiriku, lalu kembali menatapnya. Akupun melemparkan pita suara ini padanya. Tepat mengenai wajahnya.

“Aaarrgghh!!” ucapnyac ketakutan. Kini wajahnya bersimbah darah karena terkena darah dari pita suara itu.

“Aku sudah mencongkel mata BaekHo yang selalu menakut-nakutiku dengan pandangan matanya yang kejam, aku juga sudah mengambil pita suara BaekJoong yang selalu mengancamku dengan suara beratnya…. Kalau kau?? Apa yang harus kuambil?”

Ia semakin bergemetar saat aku berjalan pelan menghampirinya sambil tersenyum ssinis.

“Mata? Tidak…. Matamu tidak menyeramkan…. Pita suara? Suaramu jelek….”

Aku melihat kedua tangannya. Terlintas dibenakku saat ia memukuli punggungku hingga tulangku retak.

“Ah…. Ya…. Tangan….” Ucapku sambil tertawa kecil. “Tanganmu selalu memukulku secara keji….”

Cakarku langsung bergerak untuk menggenggam tangan kanannya. Aku segera memluntirnya hingga gemeletuk tulangnya terdenar jelas di telingaku. Ah, aku suka bunyi itu.

“Arghh!!!”

Aku juga suka teriakan kesakitan itu.

“Matilah!!!”

Aku langsung mencakar pangkal tangannya yang dekat dengan bahu, membuat darah kembali terciprat mengotori wajahku. Aku tertawa senang melihat darah itu kembali datang ke tubuhku.

“ARGGHH!!”

Aku langsung mematahkan tangan kanannya yang sudah tidak menyatu dengan tubuhnya lagi. Yang membuat tangan itu masih menyatu tadinya hanyalah tulang, itupun sudah hampir patah. Maka kupatahkan sekalian.

Amputasi yang sempurna.

“Tinggal tangan kiri….” Desisku sambil tersenyum padanya.

“Hh…. Hh…..” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Tidak boleh? Tapi aku inginnya begitu….”

Aku langsung mendorongnya hingga wajahnya yang basah akan keringat itu menatap dinding kayu hingga dinding itu berlumuran darah.

“Pembangkang….” Desisku pelan.

Aku pun menghampirinya yang duduk sambil menangis sesengukan. Tangan kirinya memegangi wajahnya yang berdarah. Cengeng!!

Cakarku langsung bergerak ke pangkal lengannya di kiri, dan dengan sekali gerak langsung kupatahkan lengan kirinya.

“Arggh!!”

“Aku sudah puas bermain-main….” Ucapku tertawa. Akupun langsung menusuk dadanya dengan cakarku ini. Aku kembali berlumuran darah.

“Kakak…..”

Suara itu. Kak BaekHi??

Derap langkahnya kembali terdengar, mendekat ke gudang ini.

Aku melihat ketiga kakakku yang sudah berlumuran darah dan tewas. Mengenaskan.

Aku melihat tanganku yang sudah kembali seperti semula.

Mereka? Kenapa? Aku kah yang membunuh mereka??

“Kakak….”

Suara Kak BaekHi kembali terdengar. Aku harus sembunyi dimana?

~***~

Kini aku bersembunyi di loteng. Bisa bahaya kalau Kak BaekHi, Ayah dan ibu tahu aku yang membunuh mereka bertiga. Kakak laki-lakiku.

Banyak keanehan hari ini.

Tanganku berubah. Aku membunuh kakak laki-lakiku, ketiganya sekaligus. Aku bersembunyi di loteng pun bukan dengan memanjat, tapi melompat. Maksudku, terbang.

Aku ini siapa?

“Ayah ingin membuang BaekHyun??”

Suara Kak BaekHi kembali terdengar. Ah, iya. Di bawah loteng persis adalah ruang keluarga yang tersambung ke ruang makan. Sekarang waktunya makan malam. Dan tanpa sengaja, aku mendengarkan percakapan mereka yag ada di bawahku.

“Kenapa Ayah ingin membuangnya? Itu tidak manusiawi….”

“Baiklah…. Kalau begitu akan ku kurung dia di penjara besi dan kupasung kedua tangan dan kakinya. Kau pilih mana?”

“Itu lebih tidak manusiawi lagi Ayah….”

“Mau bagaimana lagi? Sehebat apapun bertarung dengan pedang, tak mungkin ia bisa melukai ketiga kakaknya seperti itu. Pasti ada kekuatan yang lebih dahsyat dari manusia yang dimiliki anak itu….”

“Tapi….”

“Dia itu bukan manusia…. Dia siluman…. Dia Inveartible….”

Aku langsung mengamuk. Tanganku kembali berubah. Sekelilingku memerah. Jiwa lain yang ada di diriku seakan ingin mendukung ucapan Ayah bahwa aku adalah Inveartible.

“AARRGGHH!!!”

Tangan kananku langsung meninju lantai loteng yang menjadi atap ruang makan. Runtuh seketika.

DUAAKKK!!!

Setelahnya, aku meloncat ke bawah.

“B-BaekHyun….” Ucap Kak BaekHi. Kulihat, Ayah dan BaekHi terkejut. Ketakutan.

“Kubunuh….” Desisku pelan sambil menyeringai.

Aku menampik BaekHi yang menggenggam erat pundak Ayah hingga terpelanting cukup jauh.

“Hai…. Pak tua….” Ucapku pelan. Aku langsung mencakar bajunya. “Arghhh!!!”

Kenapa ia berteriak? Selagi tangan kananku mencakar dada kirinya, tangan kiriku menekan wajahnya sebagai tumpuan. Tahu kan? Tanganku berupa cakar hitam?

“Berisik!!!” tangan kiriku langsung mencengkram wajahnya erat hingga berlumuran darah.

“Argghhh!!!!”

Aku kembali mencakar tulangnya hingga menjadi serpihan kecil. Jantungnya kembali berpendar kuat.

“Asyik….” Desisku.

Aku langsung mencabut paksa jantungnya, hingga ia tewas dengan mata terbelalak kuat. Mulutnya pun menganga.

Aku mengoyak jantung itu dengan taringku hingga puas. Aku merasa tubuhku sedikit panas. Aku melihat tanganku berubah lebih besar dan mengeluarkan api yang panas.

Sekujur tubuhku pun keluar api. Tapi aku malah tertawa senang merasakannya. Darahku terasa mendidih.

Ah, ya. Aku terlahir dengan beberapa motif api berwarna hitam di lenganku, di dadaku, dan di punggungku, serta di bagian kakiku paling bawah. Semua api itu keluar dari motif api itu. Ternyata motif ini akan memancarkan api? Saat aku sedang apa?

“BaekHyun?”

Aku menoleh. Melihat BaekHi berjalan dengan tertatih. Sepertinya, tadi ia berusaha bangkit setelah aku tampik ia.

“Apa?” tanyaku.

Matanya berkaca-kaca. Tangan kanannya memegang erat siku kirinya yang berdarah. “Kau bukan BaekHyun?”

“Menyedihkan….” Desisku pelan. Aku berjalan menghampirinya.

“Sadarlah…. Ini bukan dirimu….”

“Ini aku yang asli….” Desisku. Tangan kananku langsung bergerak mencakar wajahnya. “Enyahlah!!!”

Ia memegang erat wajahnya yang tergores cukup dalam di wajahnya secara melintang, membentuk 5 garis horizontal di wajahnya. “Arghh….”

Wajahnya yang cantik berlumuran darah. “Kau bukan kakakku….”

Aku kembali menghampirinya, lalu menjambak rambutnya kasar, memaksanya mendongakkan wajah. Ia menatapku pilu. “BaekHyun….”

“GoodBye….” Desisku. Aku langsung menarik rambutnya ke tempat terdekat ke dinding beton di rumah kami yang berwarna putih. Aku langsung membenturkan kepalanya ke dinding.

“Akkhh…. Akkh…”

Aku sangat senang melihat cairan pekat mengalir begitu deras di tanganku. Akupun membenturkan kepalanya ke dinding dengan lebih cepat lagi.

“HHAHAHA!!!”

“BaekHyun…. Hentikan….” Desis BaekHi pelan.

“Baik…. Aku hentikan….”

Aku langsung mendorong kepalanya ke tanah, membuat ia jatuh tersungkur. Aku pun menginjak dengan keras punggungnya. Dan dengan cepat pula, aku menggerakkan kakiku ke tengkuknya hingga ia mengeluarkan darah dari mulutnya.

“Hh….”

“Good Bye Again….”

Cakarku menghujam deras ke jantungnya sekeras mungkin lewat punggunggnya. Iapun meninggal dengan mata terbuka.

Setelahnya, aku merasa keadaan sekelilingku berubah menjadi normal. Tanganku kembali seperti semula. Api yang memancar di tubuhku pun sudah tak ada.

Aku terbelalak kaget mendapati kak BaekHi dan Ayah meninggal dengan mengenaskan, sama seperti ketiga kakak laki-lakiku tadi. Aku melihat kaos putihku. Darah yang seharusnya sudah mongering kini menjadi basah. Aromanyapun kembali menyeruak.

“Ayah…. Kakak….” Rintihku.

“Wah…. Sudah mengamuk….”

Kudapati sesosok lelaki dewasa berwajah sangar yang memakai mantel sepanjang lutut dan mengenakan celana hitam tengah berdiri dihadapanku.

“Siapa kau?”

“Ketua Inveartible jenis kedua….” Ucapnya. “kau adalah salah satu Inveartible jenis kedua itu, yang terlahir dari keluarga manusia biasa….”

“A-aku?” tanyaku tak percaya. “tidak mungkin….”

“Buktinya, kau berhasil membunuh kakak laki-lakimu, kakak perempuanmu, dan Ayahmu….” Ucapnya sambil tersenyum santai. “sedikit lagi, kau menjadi Inveartible jenis pertama, kalau kau berhasil membunuh ibumu.”

Aku tercekat. Lalu menggeleng pelan sambil berjalan mundur. “Tidak mungkin….”

Aku tak lagi melihat lelaki itu. Tiba-tiba menghilang. Saat aku membalikkan badan, ternyata ia sudah ada di depanku.

“Kau harus ikut denganku, untuk menemukan jati dirimu yang asli….”

“T-Tapi….”

“Kau bukan manusia…. Kau Inveartible…. Pahami itu….”

Untuk sesaat, aku masih ragu. Perlahan, aku memberikan tanganku padanya yang sudah sedari tadi menengadahkan tangannya yang sama denganku. Maksudku, terdapat motif api di telapak tangannya.

Ia tersenyum. “keputusanmu tak salah….”

“BaekHyun!!!”

Ibuku memasuki rumah. Ia terkejut saat melihatku berlumuran darah. Iapun semakin terkejut melihat mayat kak BaekHi dan Ayah yang berserakan di lantai.

“Apa ini?”

Aku kembali membabi buta saat melihat ibu. Tanganku kembali berubah. Dengan cepat tanganku bergerak mencakar perutnya. Ibu langsung terjatuh pingsan.

“Teruskan….” Ucap Ketua Inveartible.

Langkahku terhenti saat di benakku terlintas kebaikan ibu saat aku dianiaya oleh ketiga kakak laki-lakiku.

Kau tak apa nak?

Tadi siang, saat kepalaku terkena telur busuk..

Kasihan…. Sini…. Ibu bersihkan….

Salah apa ibuku, hingga aku harus membunuhnya?

“Kenapa berhenti? Dia belum mati….”

Aku menggeleng kuat, lalu berjalan mundur. “Tidak…. Tidak boleh….”

Ketua Inveartible itu langsung mendekap bahuku. “Baiklah…. Mungkin lain kali….”

~***~

Present….

Setelah Krystal menanyaiku pertanyaan tak penting itu, aku menghadap ke ketua.

“Ini hasil dari Krystal tadi?”

Aku hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaannya.

“Baiklah…. Akan kuberikan pada para Inveartible jenis pertama nanti….”

Aku mengangguk.

“BaekHyun….”

Aku menatap mata kanan ketua yang terbalik. Maksudku, bagian putihnya berwarna hitam, dan bagian pupil yang seharusnya berwarna hitam jadi berwarna putih.

“Kapan kau akan membunuh ibumu?”

Aku menunduk. Aku masih ragu melakukannya, walau kini ia masih terbaring koma di rumah sakit sejak 7 tahun lalu.

“BaekHyun?”

Aku menggeleng pelan.

“Begini….” Ucapnya kemudian. “Duduklah di bangku depanku, supaya lebih enak mengobrolnya….”

Aku menuruti perintahnya untuk duduk di kursi di depan mejanya.

“Aku sudah tua, meski aku terlihat berumur 20 tahun, tapi sebenarnya, aku sudah berumur 300 tahun….”

Aku mengangguk. Aku tahu itu.

“Aku masih bisa bertahan, karena belum ada yang menggantikanku menjadi ketua Inveartible tingkat 2…. Aku berharap, kau yang akan menggantikanku….”

Aku terperangah kaget, kembali menatap kedua matanya. “Kenapa aku? Kenapa bukan Ren?”

“sulit bagi Ren untuk menjadi Inveartible tingkat satu. Dilihat dari sekarang, sebenarnya, dia masih harus memakan 250 jantung lagi….”

“menurutku, 250 jantung bagi Ren sangat mudah,” aku beralasan. “sehari dia bisa memakan 5 jantung…. Kalau kurang 250 jantung, berarti…. 50 hari lagi dia bisa jadi Inveartible yang sesungguhnya….”

“kalau aku bilang sulit, ya sulit….” Ucapnya kemudian. “sementara kau, terlahir dari darah keturunan manusia biasa…. Asal kau memakan jantung keluarga kandungmu, kau akan menjadi Inveartible sesungguhnya….”

Aku masih diam, berusaha mencerna ucapannya barusan.

Ia terlihat mendesah, seolah berhasil menerka pikiranku, “intinya…. Jika kau berhasil memakan jantung ibu kandungmu, kau akan jadi Inveartible sesungguhnya. Dan aku yakin, yang kekuatannya sangat pantas menjadi ketua Inveartible jenis kedua adalah kau…. Dilihat dari luar, kau memang tak ada apa-apanya jika dibandingkan Ren…. Tapi sebenarnya, kau jauh lebih mumpuni….”

Aku masih berpikir.

“Baiklah…. Pikirkan itu baik-baik. Kau boleh keluar sekarang….”

Aku mengangguk. Dengan langkah gontai, aku keluar dari ruang ketua sambil mendesah.

“Kau dimarahi ketua?” tanya Ren yang masih telanjang dada dan mengenakan celana putih yang berlumuran darah.

Aku menggeleng pelan.

“Kau masih ragu membunuh ibumu karena kasih sayangnya?” giliran Krystal yang bertanya.

Aku mengangguk.

“Kami kan menyayangimu, semua Inveartible menyayangimu…. Apa itu tidak bisa menggantikan kasih sayang ibumu?”

Aku tersenyum getir. “terimakasih sudah menyayangiku….”

Aku meninggalkan mereka yang masih terpaku karena mendengar ucapanku.

~***~

8 thoughts on “Inveartible 03 :: Byun Baekhyun :: Bad Son

  1. Baekhyun kesian, penantiannya sia sia…
    kenapa emaknya baekhyun sekejam itu? kenapa?
    kakaknya Baekhyun yang cewek juga dibunuh tuh? kan dia gak salah, tapi kalo masih idup bahaya juga ya?
    eonni kasian sama ketuanya, kenapa harus mati?

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s