Inveartible 02 :: Krystal Jung :: Hate Human


INVEARTIBLE 02

Author : Sasphire

Main cast : Krystal f(x)

Starring : Ren NU’EST, Byun BaekHyun EXO, Choi Min Ho Shinee

Ratting :G-16, NC-17

Genre : Thriller, Horror

Length : chaptered

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery | Blog

Ren | Krystal | ___

maaf ya… disini Ren cuma figuran, tapi aku bakal kasih Ren di part 5…. part 3 dan part 4 beda lagi cast-nya…. tapi tetep nyambung dengan cerita sebelumnya…
dan maaf buat para fans-nya Minho, disini aku bunuh dia T.T habis dia cocok sih jadi korban (?) ._.v
makasih yang udah suka FF kejam ini ya ^_^ n maaf kalo lebih pendek dari punya Ren, nanti punya BaekHyun aku panjangin deh…

Inveartible itu mempunyai tugas yang cukup sulit.

Mengembang biakkan jenisnya karena Inveartible di dunia ini sudah tak sebanyak dulu karena banyaknya pembasmi Inveartible.

Mereka harus menikah dengan sesama Inveartible. Jika mereka melahirkan manusia biasa, mereka harus membunuh manusia itu tanpa belas kasih. Mereka harus benar-benar melestarikan jenis Inveartible.

Dan aku, adalah salah satu Inveartible yang selamat dari pembunuhan keji itu.

~***~

Sekarang aku sudah memarkir motor vespa-ku di halaman parkir sekolah tua ini. Saat aku sibuk mempersiapkan buku-buku yang ada di genggamanku…. Tiba-tiba….

“BRUKKK!!!”

“Ah…. Maaf….”

Awalnya aku berniat menatap kesal lelaki itu. Tapi, mendengar ucapannya yang tulus, aku mengurungkan niatku. Tidak semua manusia jahat, ternyata….. gumamku saat itu.

Ia ikut merapikan bukuku yang berserakan di lantai, lalu memberikannya padaku ketika secara bersamaan kami berdiri.

“Maaf ya….”

“Ya…. Tak apa….”

Aku tersenyum padanya ketika ia tersenyum padaku. Dia benar-benar beda dengan manusia yang lain. Dia baik.

“Siapa na~”

“Minho….”

Cih!! Gadis ini!! Berani sekali menggangguku saat aku berbicara dengan lelaki tampan ini!!

“Boleh aku berfoto bersamamu?”

Kulihat, ia tersenyum pada gadis itu, lalu menjawab, “boleh…..”

Huh, dasar!! Kukira kau orang baik, ternyata kau sama saja dengan manusia rendahan lainnya yang haus akan perhatian!!

Hey, Minho!! Kau lihat aku didorong oleh gadis sialan itu hanya untuk memintamu foto bersamanya kan? Bagaimana mungkin kau tak memarahinya?

Mataku memerah. Kedua objek itu terlihat sangat segar dimataku.

“Kau tak apa?” tanya Minho padaku, sambil sedikit mengernyit takut. “Pupil matamu memerah….”

Krystal, tahan dirimu. Belum saatnya. Ada banyak orang disini.

Aku menggelengkan cepat kepalaku sambil memejamkan mata kuat-kuat. Setelahnya, secara perlahan, aku membuka mataku, menatap mereka berdua dengan getir, lalu tersenyum paksa, dan berkata, “aku tidak apa-apa….”

Lalu aku pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terkikih pelan. Dasar!! Akan kupastikan itu senyum terakhir dalam hidup kalian!!

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Tak kupedulikan bisik-bisik kecil tentangku yang tanpa sengaja kudengar. Ya. Mungkin aku terlalu cantik bagi mereka.

“Krystal….”

Aku segera mencari arah suara. Aku kenal betul suara itu.

Hingga pada akhirnya, mataku terhenti pada 2 sosok lelaki yang wajahnya kurang meyakinkan sebagai laki-laki. Yah, sebut saja Ren dan BaekHyun.

Kulihat, Baekhyun melambaikan tangan padaku sambil tersenyum cerah. Aku pun membalas lambaian tangannya sambil tersenyum, lalu berlari menghampiri mereka berdua.

“Kau di pindah kesini juga?”

Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan Ren.

“Wah…. Kenapa oleh ketua, kalian dipindah ke tempat yang sama?”

Aku dan BaekHyun saling bertatapan saat mendengar pertanyaan Ren, lalu tersenyum.

“Kami sudah melanggar peraturan….” Jawab BaekHyun santai.

“Hah?”

BaekHyun mengangguk. “aku membunuh orang yang tak semestinya kubunuh…. Habis, saat itu hasrat ingin membunuhku sangat tinggi, jadi aku bunuh dia….”

“Dan parahnya, saat itu ada manusia lain yang melihat aksi serunya saat membunuh….” Lanjutku.

“Tapi, orang itu sudah kalian bunuh kan?” tanya Ren.

“Masih hidup….” Jawabku dan BaekHyun hampir bersamaan.

“Hah?”

“Tenang….” Ucapku santai sambil tersenyum. “kami sudah membuatnya bisu dan gila…. Aku sudah mencabut pita suaranya dan sudah kumakan….”

“Dan aku sudah mencabuti seluruh syaraf kesadarannya hingga ia kehilangan akal sehatnya….”

Aku dan BaekHyun melakukan toast dengan santainya, tanpa merasa bersalah sekalipun.

“Dasar!! Kalian ini….”

“Jangan memarahi kami….” Ucapku santai. “kau dipindah ke SMA ini karena hal yang sama ‘kan?”

Ren menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal. “benar sih….”

Aku tersenyum.

“Seluruh siswa harap memasuki kelas masing-masing….”

Suara itu terdengar jelas di telingaku, lalu aku menatap mereka berdua secara bergantian. “Mungkin aku pesta lebih dulu dari kalian….” Aku tersenyum puas. “pagi ini aku sudah menemukan 2 korban….”

Mereka berdua hanya tersenyum.

~***~

“Karena serangan para Inveartible tadi malam…. Guru kita, Mr. Choi tewas terbunuh…..”

Oh, hasil kerja keras Ren dan BaekHyun. Tadi malam aku ikut memakan kakinya. Sedikit pahit sih. Maklum. Kaki tua.

“Bukan hanya itu, ke-empat murid kita menghilang sejak 2 hari lalu…. Besar kemungkinan mereka dibunuh di toilet perempuan sekolah kita,….”

Aku tahu, Mrs. Cho. Aku tahu.

Aku sudah memeriksa toilet itu yang bau darah segarnya masih tercium harum dihidungku walau sudah kering. Aku juga melihat ada bekas mata yang berlumuran darah, namun tak berbentuk. Aku memperhatikan bekas cakaran yang kuat.

Itu cakaran Ren.

BaekHyun juga punya cakar kuat, tapi tak sekuat punya Ren. BaekHyun masih belum bisa mengendalikan kekuatannya, walau seumuran dengan Ren.

Hey, kenapa aku jadi cerita hal yang tak penting begini?

Yang aku inginkan hanyalah : kalian tahu aku adalah Killer Inveartible yang paling keji. Ren? Dia memang terkuat diantara semua Inveartible jenis kedua. Tapi, yang memiliki hati paling keji pada manusia adalah aku.

Aku benci manusia.

“Maka dari itu, hari ini sekolah diliburkan…. Kalian bisa memasuki sekolah lusa,… setelah kami memastikan sekolah kita aman….”

Mrs. Cho, kau terlalu bodoh. Aman? Aman dari apa maksudmu? Aman dari inveartible?

Tak akan pernah.

Sekolah ini sudah dimasuki 3 Inveartible terkuat, mau aman dari mananya kalau begitu? Dasar manusia bodoh!!

Ah, ya. Mereka memang dungu.

Tapi tak apalah. Karena setelah ini, aku bisa langsung membunuh 2 orang tadi.

Min Ho dan…. Siapa? Gadis kecil tadi?

~***~

“Ya!!!” aku berteriak kencang hingga gadis itu teralihkan perhatiannya padaku. Aku tersenyum sinis padanya, lalu berjalan cepat menghampirinya.

“PAAAKKKK!!!!”

Oh, ukiran indah di pipinya. Bekas tamparanku yang memerah, membuat pipinya mendapatkan motif tanganku. Ya. Tenaga Inveartible jauh lebih kuat dari tenaga manusia.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil mengelus pelan pipi kirinya.

Aku kembali tersenyum sinis, lalu melihat kakiku. Bagus. Aku sudah memakai high heels sekarang.

Aku mendorongnya hingga jatuh tersungkur kebawah. Dengan geram, kini tangan kiriku yang menampar pipi kanannya.

“Apa maksudmu?”

Tanpa menghiraukan ucapannya, dengan high heels-ku aku menendang kepalanya, hingga sekarang ia dalam posisi telentang.

“Hey….”

Aku kembali menendang kepalanya penuh kebencian dengan high-heelsku yang cukup panjang dan runcing.

“Arghh!!!”

“percuma kau berteriak….” Ucapku pelan. “tak ada orang disini…. Semua pulang….”

“Argh!!”

Sialan!! Malah berteriak semakin kencang!!! Aku sudah berbicara dengan bahasa yang ia mengerti ‘kan? Kenapa masih berteriak??

Dengan geram, aku menginjak wajahnya dengan kasar.

“Hmphh…. Hmphhh….”

Desahan nafas yang meregang nyawa itu…. Aku suka sekali mendengar music kematian itu….

Tangannya terus-terusan bergerak liar mencegah kakiku kembali menghujam ke wajahnya. Percuma. Tenagaku lebih besar darinya. Akupun menendang tangannya yang berusaha memegang kakiku.

“Kenapa…..” ucapnya di sela-sela rintihannya.

“Karena kau jelek….” Ucapku sinis. “Wajahmu itu… tidak pantas…..”

Aku kembali menginjak wajahnya dengan kasar, lalu menekannya kuat. “disejajarkan dengan Choi Minho….” Lanjutku lagi.

“Arghhh!!!!”

“Jangan buat keributan….” Desisku lagi. Tapi dia tak menggubrisnya. Gadis bodoh!!

Dengan penuh kebencian, aku menginjak kasar wajahnya lagi, lalu dengan hak sepatuku yang tingginya 0 senti dan cukup tajam ini, aku menyelesaikan tugasku dengan menginjak kasar lehernya hingga darah segar muncrat begitu saja.

Sepertinya ia sudah mati. Matanya terbelalak menahan sakit, tangannya juga sudah tergeletak di lantai koridor itu. Dia juga sudah berhenti bernafas. Baguslah. Aku tak perlu mendengar teriakannya lagi. Tapi dengan begitu, high heels merahku yang mahal jadi terkena cipratan darah gadis sialan itu. Dengan kesal, aku melepas sepatu kiriku dan melemparnya tepat ke wajahnya. Setelahnya, aku melempar sepatu kananku ke wajahnya.

Yang membuatku kesal lagi, jantungnya tak berpendar. Aku hanya boleh membunuhnya, tanpa harus memakan jantungnya.

Dengan kesal, aku meninggalkan mayatnya yang tergeletak di koridor. Yah., aku berjasa pada Rend an BaekHyun. Karna 2 hari lagi pasti kami pulang pagi lagi. Sebelum meninggalkan mayat gadis yang menyedihkan itu, aku menendang kepalanya sekali lagi.

“Dasar jelek….”

Aku pergi meninggalkannya dengan bertelanjang kaki.

Eh, tunggu!!

Aku kembali melihat mayat itu. Lebih tepatnya, kakinya. High heels-nya bagus juga. Warnanya hitam, ada butiran krystal yang menghiasi sepatu itu.

Aku menghampirinya, lalu melepaskan sepatu dikakinya, lalu memakainya untuk kakiku. Aku tersenyum senang. Ukurannya pas dengan ukuran kakiku.

Aku kembali melepas sepatunya yang sebelah lagi, lalu memakainya di kakiku.

“Kau ini jelek…. Tapi sepatumu sangat bagus…. Tidak cocok….”

Aku tersenyum sinis, lalu memandangi sepatu baruku.

~***~

Hahaha…. Malam ini aku boleh memakan cowok tampan itu.

Siapa lagi kalau bukan Minho?

Dalam keadaan tak sadar, ia berjalan gontai menghampiriku di ruang musik. Akupun bergegas membuatnya sadar, dengan memainkan lagu kematian dengan piano yang ada di ruangan itu.

Bloomy Sunday.

Pernah dengar lagu itu?

Lagu itu memang sangat menyedihkan. Mengoyak perasaan orang yang mendengarnya menjadi begitu sedih.

Itu hanya berlaku bagi manusia, aku tidak.

Sampai pertengahan lagu itu, ia tersadar dari tidurnya. Ia langsung melihast sekeliling dengan penuh kesedihan. Kasihan.

“Sudah bangun, tampan?” aku berhenti memainkan piano, lalu menghampirinya.

“Aku….” Ia menatapku sayu. “Dimana aku?”

“Di tempat terakhirmu hidup….”

Kali ini ia terbelalak kaget. Ia bergegas berlari keluar ruangan. Percuma. Aku sudah mengunci pintu ruangan itu.

“BUka!! Buka!!” ucapnya sambil mengetuk-ngetuk pintu itu dengan telapak tangannya yang kekar.

“Tak ada orang….”

“Apa maumu?” mungkin ia ketakutan melihat mataku yang memerah. Aku tersenyum sinis padanya, lalu berjalan cepat menghampirinya, mencengkeram kuat wajahnya, lalu melemparnya hingga terpelanting cukup jauh.

Ups!! Tubuhnya mengenai tuts piano besar yang kumainkan tadi hingga terdengar dentaman keras tubuhnya disertai denting nada rendah piano. Kesan seram semakin terasa. Menarik. Darahku langsung mengalir deras.

Aku kembali berjalan cepat menghampirinya saat melihatnya bangkit dari jatuhnya.

“Hent~”

PAKKK!!

Aku menampar kasar pipinya. Setelah ia jatuh ke lantai, aku menjambak rambut spike-nya, lalu mendongakkan wajahnya ke atas.

Ia melirikku yang lebih rendah darinya.

“Apa yang kau lakukan?” ia bergetar ketakutan. Aku menyeringai.

“Kau sudah membuatku membenci manusia….” Desisku pelan.

Aku pun membantingnya lagi. Ia jatuh tersungkur dalam posisi tengkurap. Aku tersenyum senang saat melihatnya bersusah payah bangkit.

“DUKK!!”

Aku menendang bagian belakang kepalanya. Sadis? Itu aku.

“Arghh!!” tangan kanannya mengelus pelan kepala bagian belakangnya yang mengucur darah sangat deras.

Aku kembali mencengkeram kasar bagian kepalanya yang terluka. Ia kembali berteriak sambil meringis kesakitan.

“Lelaki…. Tapi cengeng….” Ucapku kesal. “yah…. Manusia jika berhadapan dengan Inveartible itu jadi manusia rendahan….”

“A-apa?”

Aku hanya tersenyum sinis, lalu membantingnya lagi. Aku menginjak kepalanya dengan keras. “Argh!!!”

“Oh…. Masih hidup?” aku menyeringai lagi.

Aku jongkok di sampingnya, lalu kembali menjambaknya. “ampuh sekali ya…. Biasanya manusia yang kuperlakukan seperti itu langsung mati….”

Ia hanya mendesah tak karuan. Di keningnya sudah mengucur deras darah karena aku melemparnya ke lantai terlalu keras. Di lantai keramik itu juga sudah ada darah yang melekat. Aku tersenyum senang melihat itu. Aku suka darah.

“Yah…. Kalau begitu…. Terpaksa….”

Aku mengambil silet yang sudah brkarat di saku jaket kulitku, lalu memperlihatkannya pada minho. Bibirnya terlihat bergetar. Kasihan, dilanda ketakutan. Siapa suruh cari masalah dengan Krystal?

“Mau apa?”

Aku hanya tersenyum sinis. Beberapa menit kemudian, aku berkata, “membunuhmu, secara perlahan….”

Dengan penuh seringai kuat untuk semakin membuatnya ketakutan, aku mengarahkan silet yang ada di tanganku secara perlahan ke matanya…. lalu….

yeah…. menusuknya ke tepi mata yang berada di dekat kelopak.

ogh… sulit sekali…. terlalu lekat….

aku kembali menekannya kuat-kuat… hingga ia berteriak kencang…. aku tersenyum lebar mendengar teriakan yang bagiku itu adalah simfoni indah di relung hatiku

aku kembali menancapkannya lagi hingga sarafnya benar-benar putus… lalu menarik paksa matanya yang tersimpan rapi di kelopaknya.

mata yang bagus ini, berada di genggamanku sekarang.

Ia berteriak sambil memegangi kedua kelopak matanya.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku lembut sambil mengelus dagunya. Setelahnya, aku menampar wajahnya.

“Argh!!!”

Aku semakin tersenyum puas. Sekarang, aku melukai wajahnya dengan silet yang ada di tanganku. Mencoretkan huruf demi huruf di wajahnya.

“I…..” Ejaku perlahan sambil mencoretkan huruf.

“Hate…..”

Aku tersenyum ketika tahu aku harus menuliskan kata terakhir. “Human….”

Dia sudah berhenti teriak. Mungkin ia sudah lelah berteriak. Baguslah. Aku tak perlu mendengar suaranya yang memuakkan itu.

Aku mendengar desahan nafas dan rintihannya. Bagus sekali.

Aku berniat melukai tubuhnya terlebih dahulu sebelum memakan jantungnya. Saat aku memakan jantungnya nanti, pasti akan terasa lebih enak karena detak jantungnya berdetak tak karuan karena ketakutan.

Aku kembali menorehkan silet karatan ini ke lengannya.

“Argh!!!!”

Sial. Berteriak lagi.

Aku kembali menorehkannya, namun lebih kasar.

Ia semakin berteriak kencang.

Berisik.

Aku kembali menyayatnya ke bagian dadanya. Sudahlah. Aku akan menyiksanya dirumah, bersama Ren dan BaekHyun. Aku tidak betah mendengar hentakan suaranya.

Ia masih merintih. Aku merobek kasar kemeja hitam yang ia pakai, lalu menyayat kasar bagian jantungnya yang sedari tadi berpendar kuat. Setelahnya, aku kembali memakai silet itu untuk memotong tulangnya hingga terdengar gertak tulangnya. Aku sedikit ngilu mendengar suaranya, namun tak kuhiraukan.

Setelah jantungnya dapat kulihat dengan sempurna, aku mencabutnya dengan kasar, sama seperti Inveartible lain. Owh. Matanya terbelalak, lalu nafasnya terhenti seketika itu juga.

Aku tak peduli.

Dengan senyum menang, aku pun memakan jantung yang kini ada ditanganku dengan mengoyaknya, lalu memakan bagian jantungnya yang terkena darah segar. Bilik kiri dan serambi kiri. Sisanya, yang dialiri darah kotor, aku buang. Itu tidak segar.

Aku menatap mayat itu, lalu melemparkan sisa jantung itu ke dalam mulut minho yang menganga, lalu tersenyum puas.

“Semoga kau tenang….”

~***~

Aku memperhatikan dengan seksama bagaimana Ren mengeluarkan seluruh organ dalam milik Minho. Aku kagum padanya. Yang aku bisa hanyalah mencongkel mata orang lain, paling parah mencabut jantung secara paksa.

“Hei…. Kau hanya ingin melihatku?” tanya Ren sambil menyeka darah dibibirnya dengan punggung tangannya. “tidak ada niatan untuk membantu?”

Aku menggeleng pelan. “tidak…. Aku tidak cocok dengan pekerjaan seperti itu….”

“Heh…. Kau Inveartible juga kan?” BaekHyun kini bertanya. Ia juga yang mengurusi organ dalam yang sudah berada di luar tubuh minho.

“iya…. Aku Inveartible…. Tapi aku tidak cocok dengan yang seperti itu….”

“Cih….” BaekHyun tersenyum sinis menatapku.

Aku hanya mendengus kesal mendapat perlakuannya yang terlalu meremehkanku. Lalu, setelahnya, aku teringatkan sesuatu. “Bacon….”

Ia menatapku. “Apa?”

“Bagaimana dengan ibumu?” tanyaku lagi. “Kau sudah menghabisinya?”

Ren yang sedari tadi focus dengan mayat Minho, kini mengalihkan pandangannya ke BaekHyun. BaekHyun hanya diam, lalu pergi sambil membawa organ dalam Minho ke depan ketua Inveartible.

“Heh…. Kau belum menjawab pertanyaanku….” Ucapku ketus.

Ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh padaku, menatapku cukup lama.

“Lantas…. Apa yang akan kau berikan padaku kalau aku berhasil menghabisi ibuku?”

Aku hanya diam, tapi masih terus menatapnya.

Ia terlihat menghela nafas. “Aku tak tahu….”

“Itu sama sekali bukan jawaban….” Kali ini Ren yang berkata.

Perlahan, BaekHyun tersenyum getir, lalu ia benar-benar pergi meninggalkan kami.

Padahal dia sudah berhasil membunuh ayah dan ketiga kakak kandungnya, sambil memakan jantungnya. Kenapa kali ini dia tak berani?

Tak tega?

Kalau aku jadi dia, aku akan langsung menghabisi ibuku seketika itu. Soalnya, ibunya sudah koma sejak 7 tahun lalu.

~***~

 

 

 

10 thoughts on “Inveartible 02 :: Krystal Jung :: Hate Human

  1. Loh? Minhonya?…..
    Krys, kenapa tega? Kenapa Krys?
    tapi Krystal lebih pantes dapet [eran yang begini daripada peran yang tersiksa, mukanya sadis sadis dingin gituh.
    Mbak Jung! Saya ngefans sama Mbak Jung! ^^

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s