INVEARTIBLE 01 :: Ren :: Violence


 

INVEARTIBLE 01 :: Ren :: Violence

Author : Sasphire

Main cast : Ren NU’EST

Starring : Byun BaekHyun EXO

Ratting :P G-16, NC-17

Genre : Thriller, Horror, A little Bit Action

Length : universal (4.697 word)

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery

Inveartible ada 3 jenis. Jenis pertama murni berbentuk siluman. Mereka dengan lahapnya memangsa manusia, menyiksa mereka terlebih dahulu, dan saat manusia itu tak dapat lagi menangkis semua siksaan yang dilancarkan Inveartible, para siluman itu langsung mencabik dada kiri, tempat dimana jantung berada. Mereka merusak tulang rusuk yang menjadi pelindung utama jantung, setelah terbuka lebar, mereka akan mencabut jantung mangsanya secara paksa, dan memakannya dengan cara mengoyak Jantung di genggaman mereka dengan gigi taring mereka yang tajam.

Jenis kedua adalah siluman yang tubuhnya manusia. Jika mereka sudah bisa memangsa dengan tragis para korbannya, mereka akan berubah menjadi siluman seutuhnya. Sebelum mereka berubah menjadi siluman, mereka tak akan diakui sebagai Inveartible sejati, karena mereka masih berdarah manusia. Ada Inveartible yang kedua orang tuanya adalah manusia biasa. Untuk menjadi Inveartible sejati, mereka harus memakan jantung kedua orang tuanya saat dewasa. Mereka bisa tahu kalau takdir mereka adalah menjadi Inveartible, adalah saat dimana mata mereka berubah menjadi merah, saat mereka berubah menjadi sosok asing yang membabi buta.

Jenis yang terakhir, adalah Inveartible yang berupa manusia biasa. Dari lahir sampai mati pun, mereka tetap manusia biasa, yang memangsa jantung manusia lain. Mereka memang Inveartible, tapi hanya darah yang mengalir dalam tubuhnya dan jiwanya. Selebihnya, ia hanya manusia biasa.

Aku, adalah Inveartible jenis kedua.

~***~

Aku berjalan santai menyusuri lorong sempit sekolah baruku. Aku baru saja pindah ke SMA terpencil yang butut ini. Lorong ini sangat sempit, hitam, seperti tak ada cahaya yang ada di sana, padahal cukup banyak ventilasi besar di sana. Tapi kesan angker sekolah ini memang kuat.

Sesekali aku mendengar siulan jahil siswa yang berdiri menyandarkan punggungnya di lorong itu. Aku berusaha mengacuhkannya.

“Hai… Cantik….”

Kali ini aku mencari sumber suara. Tatapan mataku berhenti ke satu arah. Lelaki yang tak terlalu tinggi, rambutnya hitam, model spike. Aku memperhatikan dengan benar lekuk wajahnya.

Sekarang, wajah lelaki itu sudah membekas sangat lekat di pikiranku.

“Aku cowok lho….” Ucapku santai, berusaha menghindarkan lelaki itu dalam marabahaya. “Tidak lihat seragam yang kugunakan?”

“Lihat dengan jelas…” Ucapnya sambil tersenyum sinis. “Tapi wajahmu itu sangat cocok untuk menjadi wajah wanita, bukan pria….”

Aku menatapnya tajam.

“Mau menakut-nakuti?”

Sepertinya tatapanku tak ampuh baginya. Ya. Wajahku terlalu feminin, tak akan membuatnya takut walaupun aku melotot sekalipun.

Aku tersenyum santai. “Terserahmulah….”

Aku terus melangkah. Aku sudah berusaha menghindarkanmu dari marabahaya, tapi kau masih berani mengejekku.

Kau ada dalam bahaya, Kim Young Min.

~***~

“Perkenalkan dirimu….” Ucap Mrs. Lee, guru matematikaku saat melihatku memasuki rungan kelas XI-C.

“bisa tidak, tanpa perkenalan?” ucapku dingin.

“Tidak…. Bagaimana kau bisa berteman jika kau tak memperkenalkan dirimu?” ucapnya sambil tersenyum yang berkharisma.

“Baiklah…” aku menatap manusia-manusia yang menatapku dengan berbagai ekspresi di ruangan ini.

“My name is Ren…”

Hening sesaat.

Hanya untuk dikenal ‘kan? Maka sudah cukup aku memperkenalkan diriku dengan menyebutkan namaku saja.

“Oh, sudah?” tanya Mrs. Lee. Aku mengangguk.

“Baiklah,… kau bisa duduk di bangku paling belakang….”

Dengan menggenggam erat handle tas punggungku, aku melangkah gontai menuju bangku kosong itu.

“Hay….” Bisik seseorang yang tak kasat mata bagi manusia-manusia itu.

“Hay…” aku balas membisik sambil melepaskan tas punggungku.

“Kau tak takut padaku?” tanyanya. Buat apa takut? Aku jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan.

“Tidak.”

“Tapi~”

“Tenang saja….” Ucapku. “Nanti malam, tepat jam 12, aku akan memberimu teman. Kau kesepian ‘kan?”

Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Ia pun melayang ke depanku. Seorang wanita dengan rambut acak-acakan, dan memakai seragam almamater sekolah ini. Ia menatapku dengan seringainya yang kuat.

Aku pun menatap matanya, tersenyum tipis.

Seringainya memudar. Ia menatapku heran. “Kenapa kau tak takut?”

Aku berdesis pelan. “I’m not Afraid to you…. In vice versa, you must afraid to me….”

“Hah?”

“I… am… Inveartible….”

“AAAAAA!!!!!”

Ia melayang ketakutan ke seluruh pojok kelas ini. Seluruh siswa keheranan setelah mendengar jeritan yang luar biasa sedihnya jika didengar oleh manusia biasa. Mungkin ia meninggal karena di mangsa oleh Inveartible lain.

“Tadi itu…”

“Apa ya?”

Bisik mereka masing-masing.

“Anak-anak, kembali ke pelajaran….” Ucap Mrs. Lee berusaha menenangkan para siswa yang mulai gaduh tak tenang. Padahal aku tahu pasti, Mrs. Lee sama ketakutannya dengan semua muridnya. Semua kecuali aku. Kulihat, Mrs. Lee membelai halus tengkuknya, tempat dimana bulu kuduk berada.

Tubuhku langsung bergetar. Darah didalam tubuhku terasa mendidih. Seluruh pembuluh darahku menyembul keluar. Aku tersenyum senang.

Aku hampir sempurna untuk menjadi Inveartible.

~***~

Bel istirahat berdentang. Aku segera berjalan ke toilet untuk membasuh mukaku. Aku stress selama jam pelajaran berlangsung. Bagaimanapun juga, aku ini siluman. Aku tak cocok dengan yang rumit seperti itu.

Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus berbaur dengan manusia.

Itulah sulitnya menjadi Inveartible jenis kedua. Mereka harus memakan jantung manusia yang melakukan kesalahan pada kami, tidak boleh memakan jantung orang yang tak bersalah apapun pada kami. Repot ya?

Andai saja aku terlahir sebagai Inveartible jenis pertama, atau jenis ketiga. Mereka boleh memakan siapapun yang mereka mau, kapanpun dan dimanapun, saat mereka lapar.

Aku membuka pintu toilet pria. Para lelaki yang melihatku masuk terlihat keheranan. Mereka segera menyelesaikan urusannya, lalu keluar dari toilet itu. Beberapa saat kemudian, salah satu dari mereka masuk kembali, menghampiriku, lalu berkata, “maaf nona…. Anda salah masuk toilet…”

Oh, dia keluar hanya untuk memeriksa tanda di pintu?

“Aku laki-laki kok…” ucapku sambil tersenyum. “lihat seragamku?”

Ia pun memperhatikanku dari ujung kaki ke ujung kepala.

“Oh…. Maaf…”

Ia keluar dari toilet. Oh, dia tak mengejekku?? Sayang sekali. Padahal, aku mencium bau darah yang sangat segar di tubuhnya. Aku yakin, dia punya jantung yang sangat enak untuk dijadikan santapan.

Aku bergegas menghampiri wastafel, menyalakan kran, lalu membasahi wajahku. Segar.

“Lihatlah…. Cowok cantik….”

Aku kenal suara itu. Aku lansung menoleh. Kudapati Young Min tertawa sinis mengejekku.

“Mau apa? Menghajarku, banci?”

Huh, berani mengejekku!! Kau belum tahu siapa aku!! Lihat saja nanti malam!! Kita buktikan, siapa yang banci!!

“Tidak….” Ucapku sambil tersenyum santai. “Aku tak mungkin sanggup menghajarmu, aku cowok cantik ‘kan?”

Ia semakin tertawa lebar. Begitu juga siswa lain yang ada di sana. Aku hanya tersenyum santai, lalu bergegas pergi dari sana.

Yah, setidaknya aku sudah dapat satu mangsa. Mungkin tak terlalu enak, tapi cukup untuk mengisi staminaku untuk 24 jam.

~***~

Pukul 22.47

“Kim Young Min….” bisikku pelan di atas motor super blackbird-ku, di tengah-tengah lapangan basket. “Just come to me now…. Give me your heart…. I’m hungry now….”

Aku terus-terusan mengucapkan itu sambil menggerak-gerakkan jari-jemari tangan kananku.

Pukul 23.17

Aku melihat seorang lelaki berjalan menghampiriku. Ia menggunakan piama berwarna biru tua. Matanya putih, pupilnya menghilang. Tentu saja begitu. Karena aku memanggil Young Min saat ia tidur. Orang yang tidur, pupilnya terputar ke dalam ‘kan? Karena Young Min ada di bawah perintahku malam ini, ia berjalan menghampiriku dengan kelopak mata yang terbuka, namun pupil matanya masih tak terlihat.

Bagus. Sekelilingku langsung berwarna merah, layaknya orang buta warna. Berarti aku boleh memakannya.

“Hai….” Ucapku padanya.

Ia pun tersadar dari tidurnya. Ia menggeleng cepat. Pupil matanya kembali. Ia langsung melihat sekelilingnya.

“A… aku… dimana aku?” ucapnya panik. Kasihan.

“di lapangan basket….” Ucapku. Aku menyeringai padanya.

“K.. Kau…” mungkin ia ketakutan melihat mataku memerah? “Mau apa?”

“Membunuhmu….” Ucapku santai.

“Apa?”

Ia segera berlari menghampiri pintu. Aku langsung menyalakan super blackbirdku dan melaju ke depan pintu, menghadangnya pergi. “tak bisa…. Kau harus dengar ucapanku dulu…”

Ia menatapku ketakutan, lalu terus berjalan mundur. Cih!! Penakut!! Jika sudah seperti ini, apa dia masih berani mengataiku banci!!

“Kenapa?” ucapnya lagi sambil gemetaran.

“pertama, karena kau memanggilku cowok cantik. Yang kedua, aku lapar. Dan yang ketiga, kau mempunyai jantung yang mempunyai banyak darah segar….”

“Hah….” Ia semakin gemetaran. Aku suka melihat ekspresi itu. Aku langsung memanaskan mesinku.

“NGGRRNGG…. NGGRRNGG…..” terdengar jelas derunya. Asap knalpot membumbung tinggi. Aku langsung menabrakkan motor ini, dengan target perut.

Ia berlari cukup cepat. Usaha yang bagus, namun sia-sia. Ia lari kemanapun percuma.

“Arghhh!!” pekiknya saat aku berhasil menabraknya. Darah segar langsung keluar secara paksa dari mulutnya. Sangat segar dari baunya, pikirku. Ia berusaha bangkit. Dan sebelum bangkit, aku sudah menghajarnya lagi dengan jackknife turn (tehnik berdiri pakai ban depan saja, memutarkan bodi dan bagian belakang motor, lalu mendarat ke tanah). Tepat mengenai pipinya.

Kini ia tergelepar di tengah lapangan. Piyama bagian perutnya sudah tercabik. Wajahnya pun sudah penuh dengan darah. Pipi kirinya terdapat bekas roda yang cukup dalam. Yah, kendaraan manusia dan siluman seperti kami tenaganya beda jauh kan?

Ia masih berusha bangkit dengan keadaannya yang menyedihkan begitu. Keras kepala!!

Aku langsung menjatuhkan motorku ke kakinya.

“ARGGGHH!!” ia berteriak kesakitan. Sekarang ia tak bisa apa-apa lagi.

Aku langsung menduduki perutnya. Darah semakin lancar keluar dari mulutnya.

Yah. Segar. Segar sekali.

Aku melihat jantungnya yang masih tertutup rapi dengan piyamanya itu berpendar sangat kuat. Aku benar-benar boleh memakan jantung orang ini.

Aku langsung merobek piyama di bagian dada kirinya dengan kedua tanganku yang sudah berubah menjadi tangan siluman dengan cakar yang kuat berwarna hitam.

Kalau aku sudah menggila memang seperti ini. Tanganku berubah menjadi mengerikan, dan taringku berubah menjadi panjang dan tajam, layaknya vampire. Tapi tubuhku tetap seperti manusia, karena aku belum menjadi Inveartible sesungguhnya. Dan setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan, aku kembali menjadi manusia biasa. Tangan putih, dan gigi biasa.

“ARGHH!!”

Baru Piyama yang kusobek, dia sudah berteriak kesakitan. Dasar!!

“Jangan buat keributan!!” bisikku padanya. Kurasakan getaran tubuh yang sangat kuat darinya. Tak penting.

Aku segera mencabik kulitnya dengan kasar.

“ARGHH!!”

Takut. Aku suka ekspresi itu. Aku punya ide bagus. Aku akan menyiksanya dulu, baru kumakan jantungnya. Hati Inveartible memang keji. Terkadang, mereka lebih suka menikmati ekspresi kesakitan dari mangsanya daripada memuaskan hasrat laparnya. Dan itu yang merasukiku kali ini. Kesal ketika ingat dia mengolokku sebagai cowok cantik.

Kini tangan kiriku bekerja. Mencabik dada kanannya dengan memasang seringai kuat di wajahku.

“ARGHH!!”

“percuma kau berteriak…. Tak ada orang disini….” Bisikku lagi, lalu menjilat darah yang keluar dari dada kirinya.

Dia semakin bergetar ketakutan. Bagus sekali.

Aku kembali mencabik dada kirinya. Ia kembali berteriak sangat keras.

“Disini tempat apa? Paru-paru?” tanyaku padanya. “Kalau begitu, aku salah sasaran…. Harusnya agak ke tengah sedikit….”

Dia diam sambil meringis kesakitan. Ia menangis. Waw!! Benar-benar banci.

“Oh… kau kesakitan? Kasian sekali….” Desisku. “Kalau begitu… aku akan menyelesaikan urusan ini. Ok?”

“B…bukankah…. C.. Cowok… Cantik…. Sel…la…lu…. Baik…. Hati..??” ucapnya di sela-sela rintihannya.

“sudah kubilang, aku bukan cowok cantik…” desisku lagi.

Kini tangan kananku bergerak mencakar tulang rusuk yang melindungi jantungnya.

“ARGHH!!”

“Tenang…. Setelah berhasil memakan jantungmu, semua selesai kok…”

Ia semakin berteriak ketakutan. Berisik. Aku suka melihat ekspresi ketakutan dan kesakitan di wajahnya. Tapi aku tak suka kegaduhan itu.

Aku kembali mencakar tulangnya hingga benar-benar remuk.

“Kau pasti tak menyangka jika hidupmu berakhir di tangan cowok cantik sepertiku….” Ucapku lagi.

“Ka… ARGHH!!”

Jantungnya sudah ada di genggamanku setelah aku menariknya dengan sekuat tenaga. Aku tersenyum senang melihatnya.

Aku menatap lelaki bodoh itu. Ia meninggal dengan kepedihan yang dalam begitu. Kasihan.

Matanya terbelalak kuat, seolah-olah takut karena berhasil melihat sesosok malaikat maut yang tegap besar dan mengerikan yang mencabut nyawanya dengan paksa. Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena aku merasakan kehadirannya. Hawa di sekitarku jadi dingin. Tapi aku tak peduli. Kami sama-sama makhluk gaib kan? Dia tak akan melukaiku.

Setelah memandangi hasil kerjaku yang hebat, yaitu sebuah lubang besar di dada kirinya dengan serpihan-serpihan tulang di antara pembuluh-pembuluh darah yang tak ada jantungnya lagi, aku segera memakan jantung itu. Mengoyaknya dengan gigi taringku ini. Memakan jantung yang dialiri darah segar. Bilik kiri, dan serambi kiri. Rasanya sangat sempurna.

Aku segera meninggalkannya. Aku mengambil motorku lalu menerobos pintu dan pulang ke rumah, membiarkan mayat banci itu di sana.

~***~

Paginya….

Kegemparan terjadi saat aku menjejakkan kakiku ke sekolah tua itu. Mereka melihat seorang manusia yang mengenakan piyama biru tua tengah terlentang di tengah lapangan basket dengan tubuh penuh darah. Bagian dadanya tercabik-cabik oleh cakaran binatang buas. Jantungnya raib.

Aku tersenyum dingin dan berjalan santai melangkahinya.

“HEY!! KAU!!”

Aku menoleh ke arah suara. Seorang lelaki yang berada di kerumunan ramai yang asyik melihat mayat itu. Oh, mungkin lebih tepatnya merinding, bukan asyik. Maaf. Tapi bagiku ini asyik.

“KAU BISA KENA KARMANYA KALAU BERJALAN MELANGKAHI KORBAN INVEARTIBLE!!”

Ia berjalan menghampiriku sambil menatap tajam. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dingin.

“Yang punya kaki aku kan? Suka-suka aku mau bagaimana…” Ucapku cuek.

“DASAR BANCI!! KERAS KEPALA SEKALI!!”

Aku melihat jantungnya berpendar. Oh, aku boleh memakannya nanti malam.

“Lihat saja….” Aku berpaling meninggalkannya, lalu melanjutkan. “siapa yang akan kena hukum karma nantinya….”

Aku berjalan menyusuri lorong yang kemarin kuceritakan detail-nya. Aku menghampiri loker-ku yang ada di ujung koridor.

Saat aku membukanya….

“Hahahaha!!!!”

Sialan. Anak-anak itu. Mereka tak tahu aku siapa?

Oh ya, mereka memang tak boleh tahu.

Aku menemukan beberapa pakaian dalam wanita di locker-ku. Semua berwarna pink.

“Kami hanya ingin membantumu….” Ucap laki-laki yang bersembunyi di balik locker lainnya.

“Ya…. Kami yakin, kau pasti kehabisan pakaian dalam kan?” sahut yang lain.

Huh, silahkan saja tertawa. 3 orang itu. Diantara kalian, pasti akan ada yang mati dan menjadi hantu gentayangan malam ini.

Aku hanya tersenyum dingin. “trimakasih atas kebaikan hati kalian….”

Aku melangkah pergi dari sana dengan santai, tanpa membawa satupun barangku di locker. Akan kubuat mereka membusuk di lockerku. Salah satu dari mereka akan ku makan jantungnya, dan 2 orang lainnya akan ku bunuh dan kujadikan pajangan di rumahku.

Saat memasuki ruang kelas, kebetulan bel berbunyi.

Aku kembali duduk di bangku paling belakang. Mr. Kim memasuki ruangan. Dia wali kelas XI-C.

“Anak-anak…. Tentunya kalian tahu kejadian hari ini, ditemukannya sahabat kita yang bernama Kim Young Min, tewas karena serangan Inveartible yang datang lagi ke sekolah kita….”

Ya ya ya,aku tahu pasti. Jika bapak ingin tahu detailnya, aku bisa mempraktikkannya sekarang, dengan bantuan relawan murid bapak. Tapi tidak perlu. Nanti aku pindah lokasi lagi.

“Karena sekolah tak dapat menjamin keselamatan kalian, maka untuk hari ini, sekolah diliburkan…”

Oh, baiklah. Berarti aku bisa membunuh 3 orang itu pagi ini juga.

~***~

“Hey!! Kalian!!” panggilku dengan keras, menarik perhatian kerumunan para manusia yang bergerombol di gerbang untuk segera keluar dari lingkungan sekolah.

“Memanggilku, cowok cantik??” ucap seseorang yang paling pertama tertawa melihatku saat aku terkejut ketika membuka pintu locker.

Aku tersenyum dingin. “Kau, dan kedua temanmu yang tadi pagi memberikan hadiah istimewa di locker-ku!!”

Ia tersenyum mengejek padaku. Ia pun mengajak kedua temannya untuk menghampiriku.

“Kenapa?” ucapnya saat sudah berada di dekatku.

Aku masih tersenyum dingin pada mereka. Aku melihat kerumunan sswa di gerbang itu sudah tak ada lagi. Aku bisa melancarkan aksiku sekarang.

“Apa yang akan kau… AKH!!”

Aku memukulnya dengan sekali serangan. Ia memegang pipinya. Ujung bibirnya robek hingga berdarah. “kau mau apa?” ucapnya.

Aku hanya tersenyum. Lalu kulayangkan tendangan mautku ke perut mereka bertiga hingga membuat mereka jatuh terpental sekitar 2 meter dari kakiku.

Aku berjalan cepat menghampiri mereka. Dengan kejinya, aku menginjak perut mereka hingga mulut mereka mengeluarkan darah.

“Tenang…. Aku hanya ingin membuat kalian pingsan….”

Mereka beranjak lari. Namun aku cegah. Aku tengah menggenggam benang gaib yang jika ujung benangnya tersentuh oleh manusia, ia akan kehilangan kesadaran manusia dalam sesaat.

Aku mengayunkannya ke tiga orang itu. Mereka pingsan.

Aku menggendong orang yang bernama Min Hyuk di pundak kananku. Lalu menggendong Jung Su di pundak kiriku. Pria ketiga, kulihat badge namanya. Oh, Ma Joon. Aku menendang tubuh Majoon ke atas, lalu menangkapnya dengan kedua tanganku. Berbekal tubuh ketiga orang tersebut, aku berjalan santai menuju toilet siswi.

Kenapa aku pilih toilet siswi, bukan siswa?

Aku ingin para banci yang ada di genggamanku ini mati di tempat yang sesuai dengan mereka.

~***~

Aku memasuki toilet itu dan menguncinya rapat-rapat. Setelah memastikan bahwa pintu itu tertutup rapat hingga satupun orang tak akan berhasil membukanya kecuali aku, aku langsung membanting tubuh mereka ke lantai. Mereka langsung sadar. Mungkin tulang mereka retak saat kubanting tadi?

Mereka menatapku ketakutan. “Kau….”

Aku tersenyum sinis. Aku menjambak rambut salah satu dari mereka, yang bernama Ma Joon. Jantungnya tak berpendar. Baiklah, akan kubunuh dia sebagai patung selamat datang di rumahku.

Aku langsung membenturkannya di kaca toilet itu.

“Ah!!!”

Aku tersenyum saat merasakan cairan pekat berwarna merah mengalir ke tanganku. Aku membenturkan kepalanya lebih keras lagi.

“Hentikan!!”

“Tak mau….” Ucapku.

Aku merasakan gerakan dari temannya yang berusaha menumbangkanku dengan tinju di kepalannya. Aku langsung membenturkan kepala Majoon dengan temannya itu hingga tersungkur ke lantai.

“Dasar!! Sok jadi pahlawan!!” ucapku.

Aku kembali membenturkan kepala Ma Joon. Segar sekali melihat darahnya mengalir di lengan kananku. Tangannya terus bergerak mencengkeram tanganku, berusaha melepaskan rambutnya dari cengkeramanku. Nihil. Dia manusia biasa ‘kan? Tenaganya tak cukup kuat untuk menandingiku.

Aku langsung menarik rambutnya, memaksanya mendongakkan kepala, lalu menatapku.

“You can’t do that to me….” Desisku. Tangan kiriku mengambil pecahan kaca yang terjatuh ke wastafel. Aku memperlihatkannya pada Ma Joon. Ia terlihat ketakutan. Indah sekali.

“Apa…”

Aku menggoreskan ujung pecahan kaca itu ke pipinya. Keluar darah segar lagi.

Aku pun menggoreskan kaca itu ke seluruh wajahnya. Tanpa sengaja, tak sengaja kaca itu mengenai matanya.

“AKHH!!”

“Maaf…. Keterusan…” Ucapku santai. “Bagaimana jika kuteruskan saja??”

Aku melepaskan genggamanku dan membantingnya ke lantai, tepat di antara Min Hyuk dan Jung Su.

“perhatikan baik-baik….” Ucapku pelan.

Aku kembali menjambak rambut Ma Joon dan mendongakkannya ke atas. Ku lihat, tangan kanannya terus-terusan memegangi mata kanannya yang mengucurkan darah.

Aku menampik tangan kanannya, lalu mengayunkan pecahan kaca yang penuh dengan darah ini ke matanya.

“AKHHH!!!”

Ia berteriak kesakitan saat aku mencongkel paksa kedua matanya. Dan kedua mata itu ku lemparkan ke arah JungSu dan Min Hyuk. Mereka tak kalah berisik. Menjijikkan. Kalau begini, siapa yang cowok cantik?

Aku langsung menyarangkan pecahan kaca yang sedari tadi kupegang itu ke jantung Ma Joon. Ia masih berteriak.

Aku menusuknya lebih dalam lagi. Dengan lihai, kugerakkan pergelangan tanganku untuk mencabi-cabik jantungnya itu. Ia tak bernafas lagi. Sepertinya sudah mati. Baguslah.

Sekarang aku beralih ke JungSu. Ia merangkak mundur. “jangan berani-beraninya….”

Aku mencengkeram kuat kerah bajunya, menatap matanya dengan seringai, berusaha menciptakan ketakutan yang amat luar biasa di dirinya. Aku pun membantingnya, lalu menginjak wajahnya dengan hentakan kuat.

“Aph… hmph….” Mungkin ia bertanya, apa yang kau lakukan?

Ku lihat dadanya. Jantungnya tak berpendar. Oh, berarti yang boleh ku makan jantungya adalah Min Hyuk?

Tak apa. Aku sedang punya mood tinggi untuk membunuh.

Aku terus-terusan menginjak wajahnya hingga mulutnya mengeluarkan banyak darah. Darah segar. Tapi, karena terlanjur bau sepatuku, aku tak bisa menjilatnya. Darah rasa sepatu itu tak enak.

“AKHH!!” ucapnya saat aku mengangkat kakiku. Tangannya berusaha memegang kakiku untuk berhenti menyiksanya. Percuma. Aku langsung menendang kedua tangannya, lalu menginjak kedua tangannya dengan kasar secara bergantian. Gemeretak tulangnya terdengar jelas menyentuh gendang telingaku. Bagus. Aku suka irama musik itu.

“Hentikan!!” bentaknya padaku. Cih!! Sudah menghadapi kematian, masih saja keras kepala!! Masih saja angkuh!! Dasar Manusia!!

Aku langsung menginjak lehernya sekuat tenaga. Darah langsung mengucur ke atas hinga mengenai celana almamaterku. Ugh!! Gagal menikmati darahnya, sekarang darahnya malah terciprat ke celanaku. Sebagian darahnya juga masuk ke sepatuku. Aku langsung melepas sepatu kananku, dan mengeluarkan darah JungSu. Darah itu menetes tepat mengenai mata JungSu. Ia berteriak sekencang mungkin. Hebat!! Lelaki tapi teriakannya seperti wanita.

Aku menginjak wajahnya sekali lagi. “Good bye….” Ucapku santai. Aku langsung menginjak dadanya, tempat jantung berada dengan kaki kiriku yang masih bersih dari darah. Aku menginjaknya dengan sepatu bagian tumit. Mestinya cukup untuk membuatnya mati.

Darah langsung menyemburat dari mulutnya. Matanya terbelalak, sama seperti matinya Young Min tadi malam. Ah, sial!! Kalau tahu darahnya akan muncrat di kaki kiriku, lebih baik kugunakan saja kaki kananku. Sekarang kedua kakiku penuh dengan darah. Syit!!

“Jangan sentuh aku!!”

Aku langsung menatap tajam Min Hyuk. Ugh, ucapan yang sangat feminine. Jangan sentuh aku.

Aku berjalan menghampirinya. Aku jongkok di depannya. Terpancar ketakutan besar di wajahnya.

“Tenang saja…. Kau tak akan seperti 2 orang temanmu yang menyedihkan itu….” Ucapku pelan. Ia menatapku ketakutan, sekaligus heran.

“mereka ku siksa hanya untuk balas dendam saja… jangan khawatir,…” lanjutku lagi.

“kalau kau….” Aku memegang dadanya. “yang kucari jantungnya….”

Yak!! Jantungnya bercahaya!! Bagus, bagus!!

“AAAAA!!!”

Aku menoleh ke belakangku. Gawat!! Seorang siswi? Kenapa dia masih di sini?

Aku menatapnya tajam. Lalu berjalan menghampirinya. “kenapa kau tidak pulang?”

“Aku…. Aaku…”

“AAAA!!!!” malah berteriak lagi. Oh, tak sengaja, ia menginjak mata Ma Joon yang berserakan di lantai. Yah, jadi tak berbentuk. Padahal, mata itu bisa dijadikan cemilan bagi Inveartible yang lain.

“cepat jawab pertanyaanku, atau kalau tidak, untuk selanjutnya, matamu yang kucongkel!!” bentakku.

“A… aku… aku disini… karena tertidur… di toilet….”

Oh, Sleeping Beauty.

“sekarang, tolong… biarkan aku… pergi….” Rintih gadis itu.

“Bodoh….” Desisku. “mana mungkin kubiarkan kau pergi? Jika kulepaskan kau, nanti keberadaanku sebagai Inveartible jadi menyebar luas…. Yang kutahu, para gadis itu lebar sekali bibirnya, dan lidahnya sangat lentur dalam bertutur kata….”

“Tidak…. Aku tak akan…”

“Munafik!!” potongku. Aku langsung berjalan cepat menghampirinya, lalu mencakar tubuhnya. Tanganku sudah berubah lagi.

“Oh… maaf…. Salah sasaran….” Ucapku dingin saat melihat gadis itu reflek memegangi perutnya sambil berteriak kesakitan.

“Harusnya wajah….” Lanjutku. Aku langsung melancarkan seranganku ke wajahnya.

“AKHH!!” pekiknya nyaring. Kuku-kuku tajam ini langsung menyambar matanya, mencongkelnya secara paksa hingga syaraf-syaraf matanya keluar dari tempatnya.

“AKHH!! AKHH!!” aku melihat dua mata yang ada di genggamanku sekarang. Oh, mata yang satunya tergores parah. Aku mencongkelnya terlalu semangat, jadinya malah membuat matanya rusak. Tak enak kalau di makan. Aku membuangnya ke lantai. Lalu ku lihat lagi mata yang satunya. Bagus. Masih rapi, dengan darah segar yang menghiasinya. Aku langsung mengantonginya di saku jaketku.

“Jangan berisik….” Bisikku pada gadis itu. Sayang sekali, ia tak mendengarkannya. Tanpa ampun, aku langsung mencakar lehernya. Sama seperti sebelumnya, darah muncrat begitu saja dari mulutnya. Dari lehernya pun mengucur dengan deras darahnya.

“aa… u…. agh….” Rintihnya. Aku tak paham maksudnya. Tanpa banyak bicara, aku langsung menghujam jantungnya dengan cakarku. Hebat, langsung mengucur deras!!

Aku mencabut paksa cakarku, lalu melihatnya jatuh ke lantai. Mati. Penuh darah.

Aku segera memeriksa ruangan lainnya, barangkali masih ada pengganggu. Oh, aman sekali. Tak ada orang lain.

Aku tersenyum senang sambil berjalan menghampiri Min Hyuk, kembali jongkok di depannya. “tak ada orang….”

“Kau….”

Aku mengikat kedua tangannya menggunakan robekan baju teman-temannya, termasuk gadis yang baru saja ku bunuh. Bajunya tercabik-cabik hingga dalamannya terlihat. Itu tak penting.

“kedua tanganmu sudah terkiat kencang…. Ganti kaki….”

“Apa-apa…”

BUG!!

Aku meninjunya lagi. Sekarang, ia KO. Aku tersenyum. “Good Sleep… sleeping Boy….”

Setelah beres mengikat kakinya, aku segera menyeretnya menuju mobilku, menaruhnya di bagasi belakang. Aku tak mau memakan jantungnya sekarang. Jantung hanya untuk nanti malam. Hanya untuk makan malam.

Aku kembali ke toilet siswi, lalu mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengangkat 3 mayat itu. Siang ini, aku akan mencincang habis mereka, mengeluarkan semua organ-organ dalam mereka, lalu mengolesi tubuh mereka dengan lendir para Inveartible siluman untuk di jadikan mainan bagi para anak-anak Inveartible.

~***~

“Kau sudah pulang?” tanya Inveartible siluman. Aku menoleh menatapnya. Oh, Inveartible bermata satu.

Aku hanya mengangguk.

butuh bantuan?” tanyanya lagi. Aku menggeleng pelan.

Saat aku akan membereskan 3 onggok mayat itu, yang kukenakan hanya celana almamater yang berlumuran darah tadi. Aku telanjang dada.

Aku mencakar tubuh gadis itu lagi. Mencabut paksa jantungnya, lalu melempar jantung itu ke sisi kananku. Tanganku bergerak lagi ke arah paru-paru kanan. Aku mencabutnya lagi dengan kasar.

Aku memperlebar daerah cakaranku ke tubuh bagian bawah. Aku melihat hati, usus, ginjal, rahim, dan yang lain-lain yang ada di tubuhnya. Dengan sekuat tenaga namun penuh kehati-hatian, aku menarik paksa semua organ dalam yang kulihat. Aku menarik ususnya perlahan. Kalau rusak, tak bisa dimakan lagi. Setelah tercabut, aku melemparnya ke sisi kiriku. Beralih ke hati, aku mencabutnya secara paksa, karena tempatnya tak terlalu sulit untuk di jangkau. Bagus!! Tak tergores sedikitpun. Setelah melemparkannya, aku beranjak ke organ tubuh lainnya. Setelah memastikan tubuhnya bersih dari organ-organ dalam, hingga yang tersisa di tubuhnya hanya tulang dan kulitnya saja, aku menyerahkannya ke Inveartible yang sedari tadi memperhatikan ulahku.

“Boneka untuk anakmu….” Ucapku pelan.

“trimakasih….”

Aku beralih ke mayat yang lainnya. Dan kuperlakukan keduanya sama persis dengan aku memperlakukan gadis yang tak kuketahui namanya itu.

“kau tahu? Sepertinya, waktumu untuk menjadi Inveartible yang sesungguhnya semakin dekat…”

Aku menatapnya lagi, lalu tersenyum. “sepertinya iya….” Aku berdiri sambil memandangi kedua mayat yang di sekelilingnya tercecer tak karuan berbagai organ dalam. Aku menyeka keringat yang sudah bercampur dengan darah. “kenapa kau bilang begitu?”

“kau semakin keji pada manusia….”

“ternyata, kau perhatian padaku….”

“bukan begitu…. Dari caramu mencabik-cabik tubuh manusia-manusia ini, sudah jelas kalau darah Inveartible yang ada dalam tubuhmu semakin matang….”

Aku tersenyum senang mendengarnya. “semoga begitu….”

“LEPASKAN!!!”

Pandangan mataku tertuju ke manusia yang terbaring di sofa rumahku. Oh, Min Hyuk sudah bangun. Aku menghampirinya.

“aku tak mau melepaskanmu….” Ucapku. Dengan cakarku, aku mencabik wajahnya sekuat tenaga. Darah segar lagi-lagi keluar. Aku tersenyum puas, lalu menjilat darah yang ada di wajahnya. Dengan sentuhan lidahku di wajahnya, aku merasakan getaran hebat di tubuhnya.

“Ketakutan?” tanyaku. Ia menggeleng. Dasar!! Masih saja jual mahal!!

“Tenang…. Ketakutan yang menyerang jiwamu akan segera hilang….”

Sama seperti sebelumnya, namun lebih parah, aku menancapkan cakarku sekuat tenaga di dadanya, lalu mencabut paksa jantungnya, tanpa mengikis tulang-tulangnya seperti yang kulakukan pada Young Min. aku mengoyak jantung yang ada di genggamanku dengan rakus. Setelah jantung itu habis kumakan, aku menatap mayat Min Hyuk sambil tersenyum dingin. Aku membopong tubuhnya ke depan Inveartible yang sedari tadi tak beranjak dari tempatnya.

“boneka lagi….” Ucapku sambil tersenyum senang.

“kau benar-benar ganas….” Ucapnya.

.~***~

Esoknya….

BUGGG!!

Aku mengelus pelan kepalaku. Aku melihat sebuah penghapus papan tulis ada di sampingku, yang membuat aku terbangun dari tidurku.

“Hei,… murid baru….”

Aku melihat kedepan. Mr. Choi, guru Biologi.

“Jangan tidur pada jam pelajaranku….”

Aku mengangguk pelan. Aku membuka mataku lebar-lebar, berusaha mengikuti pelajaran. Ah, tidak bisa. Aku sama sekali tak mengerti. Untuk apa membahas tumbuhan? Toh, aku tak memakan tumbuhan. Makanan pokokku adalah jantung manusia, makanan sampinganku adalah organ dalam tubuh manusia. Dan minumanku adalah darah manusia.

Aku kembali terkantuk ke meja. Rasa kantuk kembali menyerangku.

“BUGGG!!!”

Aku bangkit dari tidurku. Punggungku panas sekali. Sekarang, kudapati Mr. Choi tenah berdiri di sampingku, dan di tangan kanannya terdapat penggaris kayu sepanjang 100 cm.

“Jangan tidur pada jam pelajaranku!!”

Huh, kau mengancamku, pak tua? Kau belum tahu siapa aku!! Akan kutunjukkan siapa aku sebenarnya nanti malam!!

Aku berusaha menenangkan diriku, lalu memasang senyum palsu padanya. “Baik Pak….”

~***~

Malamnya….

Mr. Choi lembur di ruangannya hingga tengah malam. Berani sekali. Dia bilang, ia tak percaya akan adanya Inveartible. Lancang sekali.

“Hei….”

Aku mendengar suara itu. Aku mendongak ke atas. Benar dugaanku. Hantu-hantu itu, yang meninggal karena ulahku. Kini mereka menjadi gentayangan. 3 lelaki, 1 perempuan. Menyedihkan sekali.

YoungMin wajahnya sangat hancur, dengan dada bagian kirinya berlubang. Jung Su…. Dia tak terlalu parah. Hanya saja wajahnya menyemburatkan kesedihan yang mendalam. Ma Joon, hantu tanpa mata. Wajahnya berlumuran darah, berasal dari lubang bekas matanya. Sementara si gadis, wajahnya jadi tak berbentuk dengan rambut acak-acakan. Semuanya tak mempunyai kaki.

“Kami akan membuatmu menderita….” Ucap gadis itu. Aku hanya tersenyum sinis. Hantu-hantu bodoh, pikirku.

“Kalian hanya bisa gentayangan di wilayah sekolah ini ‘kan? Karena kalian meninggal di wilayah sekolah ini….” ucapku santai. “kalian tak bisa membuatku jera….”

“Kau….”

Banyak omong!! Aku langsung mengeluarkan benang gaibku dan mengibaskannya ke tubuh mereka. Langsung terbelah menjadi 2 bagian. Kasihan. Setelah meninggal pun, masih harus tersiksa olehku.

“Jika kalian masih punya niatan untuk menggangguku, maka aku tak segan-segan menjerumuskan kalian ke neraka….”

“AAAAA!!!!!”

Mereka melayang tak tentu arah, beserta tubuh bagian bawah mereka. Pengecut!!

Setelahnya, aku melangkahkan kakiku ke ruang guru.

“Hallo Mr. Choi….” Ucapku santai.

“Ada apa?” ucapnya cuek. Yah, aku kesini bukan untuk memakan jantungnya. Dia tua. Darahnya tak segar untuk ku makan. Aku hanya ingin membunuhnya.

Aku menghampirinya, lalu mengangkat meja kerjanya, lalu melemparkan meja itu ke tubuhnya.

“ARGGH!!! APA YANG KAU LAKUKAN??!!”

“hal gila….” Ucapku. Aku mengangkat kembali meja itu, lalu melemparkannya lagi, tepat menghujam dadanya.

Ia berteriak kesakitan. Aku tersenyum gembira. Apalagi, keadaan sekitarku memerah. Aku boleh membunuhnya.

Aku kembali mengangkat meja yang terbuat dari besi itu, lalu menghujamkannya lagi ke kepalanya. Sempurna!! Kepalanya pecah, otaknya pun terlepas dari tengkoraknya. Darah berceceran dengan indahnya menghiasi wajah tua itu.

Seakan tak cukup akan hal itu, aku mengangkat meja itu lagi, lalu menghujamkannya ke tubuhnya lagi. Jantungnya langsung melompat keluar, bersamaan dengan rusaknya seluruh tulang yang menyangga tubuhnya. Bagus!!

“Kau semakin gila saja….”

Aku mengenal suara itu. Aku menoleh. Ah, temanku, sesama Inveartible jenis kedua, BaekHyun. Aku tersenyum padanya. Aku melakukan toast dengannya.

“Bagaimana kau bisa disini?” tanyaku.

“Aku harus pindah kesini….”

“Bagus….” Ucapku. “kita bisa membantai manusia bersamaan…. Seperti dulu…”

“Yeah….”

Ia menghampiri meja besi yang menutupi tubuh pak tua itu. “Aku selesaikan, boleh?”

Aku tersenyum, lalu mengangguk.

Dengan sekuat tenaga, ia melemparkan meja besi itu kea rah Mr. Choi. Seluruh tubuhnya tercecer tak karuan, layaknya gelas kaca yang pecah oleh hantaman batu. Tangannya terpisah dari tubuhnya, begitu juga kakinya. Seluruh organ tubuhnya pun meloncat keluar. Aku dan BaekHyun tercipratkan darah yang cukup banyak. BaekHyun menatapku. Kami pun tertawa bersama, seolah telah berhasil memenangkan medali emas sebuah kompetisi.

~*Fin*~

 

 

 

 

11 thoughts on “INVEARTIBLE 01 :: Ren :: Violence

  1. Ren cakep cakep kejem ih,
    Apa itu? gurunya juga? se to the ram. serem!
    ada gak ya inveartible di dunia ini?
    Ada Baekhyun!!!! yeayy!!! Baekhyun!!!!
    *maaf Sa, baru ngasih komentar sekarang. maaf banget ya? -,-V*

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s