(OneShoot) I Lost My Mind


I LOST MY MIND (ONESHOOT)

Author : Sasphire

Maincast : Onew (Lee Jin Ki) Shinee, Sulli (Choi Jin Ri) f(x)

Support Cast :Lee Dong Hae as Onew-Brother

Genre : AU, Romance

Rating : General

Length : Oneshoot (3,221 words)

 ~***~

 

MIDNIGHT RUN

Pukul 22.30

Sulli terkantuk-kantuk di minimarket tempat ia bekerja sambilan. Pagi hari ia sibuk bekerja di restoran Mi China yang tak jauh dari rumahnya. Belum lagi pekerjaannya sebagai loper Koran. Ya. Ia hidup sebatang kara. Dia lahir sebagai yatim piatu, dibesarkan di panti asuhan. Makanya, yang bisa menghidupinya dan menafkahinya hanya dia sendiri.

Sesekali ia tertidur, namun dengan cepat ia bangun lagi. Di minimarket itu, dia memang selalu mendapatkan shift malam. Dan itu sering terjadi. Ada beberapa pengunjung yang iba melihatnya, dan memberi saran untuk berhenti dari pekerjaannya dan menyuruhnya untuk banyak istirahat. Tapi itu semua hanya dibalasnya dengan senyuman.

Pemilik minimarket, manager minimarket dan karyawan lain sudah sering menegurnya, tapi ia tetap bertekad melanjutkan pekerjaannya. Dia benar-benar ingin menopang kehidupannya yang sudah hancur berkeping-keping karena masa lalunya. Ia ingin memperbaiki masa lalunya dengan mengubah jalan hidupnya untuk lebih tegar daripada sebelumnya, tanpa harus merubah dirinya menjadi orang lain.

Dan… malam itu…

“Sulli!!!” terdengar jelas gemeretak gigi menahan geram yang mengerikan dari seorang lelaki paruh baya bertubuh gemuk. Spontan, mata Sulli terbuka lebardan berdiri tegap, menundukkan kepala.

“maaf tuan…” bibirnya bergetar.

“lebih baik sekarang kau pulang, kusuruh karyawan lain menggantikanku….” Ya. Pemilik minimarket sepertinya sudah terbiasa dengan keadaan itu hingga ia bisa sedikit mengatur emosinya saat menghadapi Sulli. Biasanya, ia akan mengumpat dan mengata-ngatai Sulli.

“tapi… tuan….”

“tidak ada tapi-tapi… lebih baik kau istirahat hari ini…”

“baiklah tuan….” Sulli melangkah gontai keluar minimarket itu. Ia memakai topi hitamnya, jaket abu-abunya, dan mengambil sepedanya yang ia parkir di samping minimarket. Bergegas mengayuh sepedanya.

Namun tiba-tiba, ia melihat pemandangan yang tak mengenakkan. Seorang lelaki berlari dengan kencang, dikejar oleh 5 mobil sekaligus. Mungkin lelaki itu dikejar oleh Geng pembalap mobil.

“satu lawan lima, berlari sekencang apapun mana mungkin bisa kabur??” ucap Sulli ikut panik. Ia memutuskan untuk menolong lelaki itu. Ia mengayuh sepedanya sekencang mungkin. Sampai di tikungan, roda depannya aus, roda belakangnya bocor.

“Sial!!!” Sulli kelelahan, namun ia tak menyerah. Ia menoleh ke kanan, ke kiri, mencari-cari benda yang sekiranya dapat membuatnya bergerak cepat.

Yap!! Tepat!! Ia melihat sebuah sateboard berwarna hijau pupus disandarkan di tembok sebuah toko. “anak muda!! Pinjam skateboard-mu ya!!”

Tanpa perkataan “ya”, Sulli mengambil skateboard itu dan segera mengikuti arah kejar-kejaran mobil yang ia lihat tadi.

“hei!!! Siapa yang kau maksud anak muda???” pemilik skateboard yang baru saja membeli snack dan menggenggamnya di tangan kanan itu marah. Sulli tak mempedulikannya.

Ia menggunakan skateboard itu dengan lihai. Untungnya di jalanan yang sepi karena sudah malam.

Ia sudah berhasil menyusul kawanan pembalap mobil. Tak jauh dari tempatnya bermain skateboard. Sayangnya, saat ia berusaha menghampiri lelaki yang kebingungan itu, lagi-lagi rodanya aus. Skateboard yang ia gunakan membuatnya tergelincir. Sulli mengernyit, menahan sakit pada tulang ekornya karena terjatuh ke aspal.

“bukan saatnya mengeluh Sulli!!” ia membentak dirinya sendiri. Ia segera bangkit dan berlari menghampiri lelaki yang kebingungan itu, yang sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

Sulli menghampirinya, lalu menggenggam tangan lelaki itu kuat. Spontan, lelaki itu menatap mata Sulli. Dan, Sulli menarik tangan lelaki itu ke tepi jalan, dan mengajaknya menyusuri gang sempit yang tak jauh dari tempatnya

Lalu, mobil-mobil yang mengejar lelaki itu terdengar berderu sangat keras, menandakan kekesalan hati mereka. Perlahan, suara mobil mereka lenyap. Mungkin mereka sudah lelah mengejar lelaki itu.

“trimakasih, nona….” Ucap lelaki itu tersenyum, dengan nafasnya yang tersengal-sengal.

“ya… tak apa…” Sulli membalas senyumannya.

“siapa namamu?”

“Sulli… Choi Sulli…”

“oh…” lelaki itu masih sibuk mengatur nafasnya. “namaku… Onew…”

“nama yang lucu…” Sulli tersenyum.

“setiap orang yang tahu namaku bilang begitu.”

“ngomong-ngomong,” Sulli berucap. “kenapa mereka mengejarmu dengan mobil?”

“begini… aku dulu bagian dari mereka… lalu aku memutuskan untuk berhenti, karena aku piker, apa yang kulakukan bersama mereka hanyalah buang-buang waktu. Tapi, mereka tidak setuju dan mereka berniat membuatku menderita.”

“dasar egois…”

“ya, begitulah….” Onew mengalihkan pembicaraan. “aku kira sudah aman. Aku pulang ya…”

“iya…”

“dimana rumahmu??”

“uhm…” Sulli berpikir. Ia melihat sekelilingnya. Ya. Lingkungan itu tak asing baginya. “rumahku dekat sini kok… masuk ke gang ini juga…”

“oh… baiklah, trimakasih untuk malam ini…”

Sulli hanya membalasnya dengan senyum dan anggukan.

Baru beberapa langkah Sulli melangkahkan kaki menuju rumahnya, ia mendengar suara mobil berderu kencang, lalu suara rem yang memekakkan telinga, disusul suara seperti tabrakan antara mobil dan orang, dan serangkaian suara gaduh itu di akhiri suara mobil yang melaju kencang. Melarikan diri.

“Onew?” ucap Sulli. Ia berlari menyusuri gang sempit itu lagi, berjalan menuju jalan raya, dan…. Ia melihat Onew sudah terbaring disana dengan darah bercucuran di pelipis kanannya.

“oh, tidak…”

~***~

HE LOST HIS MIND

Setelah Sulli menghubungi ambulans dan membawa Onew ke rumah sakit terdekat, ia menunggu Onew di ruang tunggu. Berkali-kali ia menggerak-gerakkan kakinya, berusaha menghilangkan rasa paniknya. Tapi tak berhasil.

“kenapa aku sepanik ini?” gumamnya. “bukankah aku baru mengenalinya?”

Sulli melihat perawat yang menangani Onew keluar ruang UGD. Ia bergegas menghampirinya.

“E… ba….”

“bagaimana keadaan adikku Suster?”

Ada yang mendahului Sulli. Lelaki tinggi, rambut panjang sebahu, tampan. Sulli hanya terpaku karena didahului orang lain dalam hal ini. Ia hanya beredia mendengarkan penuturan perawat dengan seksama.

“terjadi pendarahan di kepalanya. Tapi sudah kami tangani. Untuk keterangan lebih lanjut, bisa anda tanyakan pada dokter nantinya.”

“baik. Trimakasih…” ucap lelaki itu sangat santun. Lalu, saat perawat memalingkan diri, lelaki itu kembali menanyakan sesuatu hal pada perawat itu. “eh, iya, siapa yang mengantarkan adikku ke rumah sakit ini?”

Perawat itu melihat Sulli sekilas, lalu memberitahu lelaki itu, “nona yang memakai jaket abu-abu dan topi hitam itu, tuan.”

“baik, sekali lagi terimakasih.”

Perawat itu berlalu. Dan, kakak Onew itu berjalan menghampiri Sulli. “trimakasih ya…”

Sulli hanya mengangguk pelan.

“ayo duduk…”

Sulli pun duduk.

“namaku Lee Dong Hae. Siapa namamu?”

“Sulli. Choi Sulli.”

“oh….” Dong Hae menghela nafas berat, seolah berusaha melepaskan seluruh beban hidupnya. “semoga dia tak apa ya?”

Sekali lagi, Sulli hanya mengangguk.

Beberapa saat menunggu, dokter yang menangani Onew keluar dari UGD.

“dokter…” Dong Hae segera menghampirinya. “bagaimana keadaan adik saya?”

Dokter itu hanya menghela nafas, lalu berkata, “berat mengatakannya tuan….”

“kenapa?”

“benturannya sangat keras hingga ia mengalami amnesia….”

“maksudnya….”

Dokter itu mengangguk cepat, seolah tahu apa yang akan dikatakan DongHae. “lupa ingatan.”

DongHae terlihat kesal akan kenyataan. “baiklah. Boleh aku menjenguknya?”

Dokter itu hanya mengangguk, lalu berpaling. Sebelum DongHae masuk ruangan, ia menghubungi orang tuanya untuk segera menjenguk Onew di rumah sakit.

“Sulli… kau mau menjenguknya?” DongHae mengajaknya.

“Bolehkah?” ucap Sulli ragu.

“kalau tidak boleh, mengapa aku menawarkannya?”

Sulli mengangguk, lalu mengikuti DongHae memasuki ruang UGD.

“siapa kalian?” tanya Onew. Dilanjutkan beberapa pertanyaan yang membuat DongHae dan Sulli bingung menjawabnya.

“Onew….” DongHae dan Sulli menoleh ke arah pekikan suara yang terdengar parau. “apa yang terjadi padamu nak??”

DongHae dan Sulli menjauh dari Onew, memberikan ruang gerak yang leluasa bagi ayah dan ibu Onew,

“kalian siapa? Aku tidak ingat apa-apa….” Ucap Onew.

Ibu Onew menangis sejadi-jadinya. Ayah Onew hanya menatap anak bungsunya Pilu.

“dasar!!” ucap DongHae lirih. “kalau sudah begini, baru mau datang!! Apa aku harus kecelakaan dan lupa ingatan juga supaya dapat perhatian?? Kalian orang tua macam apa??”

“apa?” ucap Sulli ketika mendengar gumaman DongHae. “oppa tadi bilang apa?”

“ah, tidak,” DongHae mengalihkan perhatian. “ayo kita cari angin, kita beri mereka waktu untuk merenungi keadaan.”

“ya.” DongHae dan Sulli pun keluar ruangan, membiarkan Onew bersama dengan kedua orang tuanya.

~***~

THEY’RE BAD PARENTS

“Ahh!!!” Sulli berteriak spontan ketika pipinya merasakan dingin. Ya, Dong Hae menempelkan kaleng minuman yan baru ia beli ke pipi Sulli. DongHae tersenyum nakal.

“untukmu.”

Sulli menerimanya, lalu membuka kaleng minumannya. “trimakasih.”

Mereka pun duduk di teras depan Rumah sakit itu.

“mau kuceritakan cerita menarik?” tanya DongHae.

“boleh…” ucap Sulli.

“tapi, jangan ceritakan ini pada orang lain. Cerita ini hanya diketahui oleh aku, Onew, dan kau.”

Sulli terlihat bingung, tapi ia menjawabnya dengan anggukan.

“hubunganku dan Onew sangat akrab dari dulu. Kami seperti kembar walaupun bukan kembar. Kami tak terpisahkan. Namun semuanya berubah saat aku kelas 1 SMP. Saat itu Onew masih kelas 4 SD.”

“kenapa?”

“ya. Ayah sibuk dengan pekerjaannya, ibu juga sibuk dengan pekerjaannya. Lalu, sering terjadi pertengkaran hebat di antara mereka. Dan, pada suatu ketika, Ayah menampar ibu.”

Refleks, Sulli memegang pipinya.

“dan, merekapun cerai. Aku ikut Ayah, Onew ikut ibu. Seperti yang kuceritakan tadi, aku dan Onew sangat akrab. Begitu harus berpisah, kami merasa hampa karena kami terbiasa mengisi satu sama lain.”

Sulli merasa iba.

“maka dari itu, kami hidup dengan penuh putus asa. Onew ikut balapan liar, sering menghamburkan uang demi narkoba, dan semacamnya. Tapi dia sudah keluar dari rehabilitasi dan memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar.”

“oppa sendiri… pernah seperti itu?”

“tentu saja pernah. Aku juga sering ke club malam, bermain dengan wanita….” DongHae tersenyum. “tapi itu juga sudah berakhir. Onew yang menyadarkanku. Entah kenapa, ia jadi berubah setelah keluar dari rehabilitasi. Yah,… aku bangga padanya karena sekarang ia sudah berubah menjadi lebih dewasa. Tapi… setelah ia berubah menjadi dewasa seperti itu, ia malah amnesia.”

Sulli dan DongHae menghela nafas berat bersama. Menyadari hal itu, keduanya tertawa.

Lalu, Sulli bertanya, “kenapa oppa menceritakan cerita pilu ini padaku?”

“Entahlah,” DongHae meminum minumannya, lalu berucap, “kelihatannya kau orang yang baik…”

Sulli hanya menjawabnya dengan senyuman.

“bagaimana denganmu?” tanya DongHae. “pernah mengalaminya?”

“untungnya, tidak pernah….”

“ya.. hanya segelintir orang yang mengalami nasib seperti kami. Kau harus bersyukur karena memiliki orang tua yang sayang padamu..” potong DongHae.

“bukan… bukan begitu,” sergah Sulli. “aku tak pernah mengalaminya karena aku tak punya orang tua. Aku yatim piatu, dibesarkan di panti asuhan. Sekalinya mendapat orang tua asuh, mereka orang yang tak beres.”

“oh… maaf… aku tidak tahu.”

“tak apa,” Sulli tersenyum.

“besok, jangan lupa jenguk Onew ya?”

“kenapa?” Sulli heran. “aku baru kenal dengannya. Bahkan dia amnesia. Buat apa aku menjenguknya?”

“setelah di rehabilitasi, ia selalu berteman dengan orang baik.”

“jadi, menurut oppa, aku orang yang baik?”

DongHae menjawabnya dengan anggukan. Ia menghirup angin malam, lalu mengangkat wajahnya, menatap cahaya bintang di langit.

“cahayanya indah ya?”

Sulli mengangkat wajahnya, menatap bintang di langit pula. Ia tersenyum dan menjawab, “ya.”

~***~

LIES (part. A)

DongHae menjaga adiknya semalaman. Ia tidur di samping adiknya, sambil memegangi tangannya.

“Hyung…..” ucap Onew lirih.

DongHae terbangun dari tidurnya, lalu menatap wajah adiknya. “kau sudah sadar?” DongHae membersihkan matanya.

“aku ingat semuanya.”

“Hah??!!” DongHae terperanjat kaget. “maksudnya?”

“namamu Lee DongHae kan? Namaku Lee Jin Ki, biasa di panggil Onew. Kita berada dalam keluarga yang hancur kan?”

Dong Hae termenung. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menelan ludah. “kenapa?”

“aku tidak tahu.” Ucap Onew. “aku sangat ingin kehilangan ingatanku. Aku ingin membuang semuanya yang ada dipikiranku akan masa laluku yang kelam. Tapi ternyata, aku tidak melupakannya. Semua masih membekas dalam pikiranku dengan jelas.”

“tapi, kenapa dokter bilang…”

“aku yang menyuruhnya bilang begitu. Supaya orang tua kita bisa tahu, mereka telah gagal menjadi orang tua yang baik,” Onew berhenti sejenak. “mereka hanyalah pecundang.”

“Onew….” Ucap DongHae. “jangan begitu. Mereka orang tua kita.”

“bagaimana menurut Hyung tentang orang tua kita? Dengan suara keras mereka bertengkar, mementingkan ego masing-masing, tak peduli anaknya yang masih kecil menangis tersedu-sedu saat mendengar teriakan mereka. Mereka kalah dengan ego masing-masing. Mereka tak bisa menahan diri. Mereka tak mampu berpikir, ‘bagaimana jika anakku terluka karena pertengkaran kami?’ atau ‘bagaimana jika mereka membenci kami karena ke-egois-an kami?”

“kau tidak tahu….”

“ya, mungkin aku tidak tahu,” ucap Onew memotong perkataan DongHae. “tapi ini yang aku rasakan, Hyung. Aku membenci mereka. Bukankah, Hyung juga membenci mereka?”

“ya.”

Mereka termenung. Suasana hening.

~***~

LIES (part. B)

“Sulli….” Ucap DongHae, melihat Sulli datang ke rumah sakit untuk menjenguk Onew. Pukul 1.35 PM.

Sulli hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, lalu berlari menghampirinya.

“masuklah… Onew mencarimu…” DongHae tersenyum menggoda.

“apa?” Sulli heran. “mencariku?”

DongHae mengangguk.

Sulli memasuki ruangan. Ia melihat Onew duduk di ranjangnya sambil mengupas apel. Sulli termenung, berdiri terpaku. “ternyata, ia tampan ya?” gumamnya.

Beberapa saat, Onew menyadari keberadaannya. Ia melihat kearah pintu, dan menemukan Sulli mematung di depannya. Ia memberikan senyuman manisnya untuknya. “kenapa mematung di situ? Sini…”

Terbuyarkan lamunan Sulli. Ia pun mendekati Onew. Duduk disampingnya. “kau mencariku?”

“ya. Sebentar….” Onew memotong-motong buah apel itu menjadi 8 bagian, menaruhnya di piring kecil, lalu memberikannya pada Sulli. “ambillah….” Ia juga mengambil salah satu apel itu dan memakannya.

Sulli hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

“aku ingat semuanya…”

“apa?”

“aku ingat semuanya. Namamu Sulli kan? Nama asliku Lee Jin Ki, nama Hyung-ku Lee Dong Hae… aku juga berasal dari keluarga yang hancur…”

“ah.. jangan bergurau…” Sulli tersenyum mengejek, tak percaya.

“aku juga masih ingat bagaimana kita bertemu….” Onew berusaha meyakinkan.

“bagaimana?” tantang Sulli.

“aku dikejar-kejar oleh 5 mobil di jalan raya,… tengah malam itu. Lalu kau menolongku, menarik tanganku menuju gang kecil. Saat aku keluar, aku di tabrak oleh temanku balap mobil yang memakai mobil putih. Iya kan?”

“bagaimana mungkin?” Sulli masih tak percaya. “kata dokter, kau….”

“aku menyuruhnya berbicara begitu.” Ucap Onew santai. “kau tak suka apel?”

“hei… semua orang mengkhawatirkanmu….”

“biarkan. Biar orang tuaku tahu, mereka telah gagal menjadi orang tua yang baik. Mereka tak pernah memperhatikan anaknya penuh kasih sayang… “

“bodoh!!” ucap Sulli. “bagaimana jika kau benar-benar lupa ingatan?? Kau ingin itu terjadi?? Hah??”

“kalaupun sungguhan lupa juka tak apa. itu yang ku inginkan.” Ucap Onew dengan ekspresi wajah datar. “kau tahu apa yang ku ucapkan dalam hatiku, sesaat sebelum aku tak sadarkan diri pada kecelakaan malam itu?”

Sulli diam.

“yang aku ucapkan adalah, ‘terimakasih Tuhan, kau telah membantu keinginanku terwujud…. Untuk dapat melupakan kenangan pahit keluargaku’. Itu yang aku ucapkan penuh rasa syukur tadi malam.” Onew menghela nafas berat. “tapi, saat aku sadar… aku malah masih ingat semuanya… aku sangat kecewa.”

“tapi.. jangan begitu… kau harus mau memaafkan mereka… bagaimanapun juga… mereka hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.. mereka tetap orang tuamu… harusnya kau bersyukur, masih mempunyai orang tua yang sayang padamu….”

“ya.. benar… tapi jika kau menjadi aku, atau kau menjadi Hyung-ku… kau akan memilih menjadi yatim piatu daripada memiliki orang tua seperti mereka.”

“apa kau tak takut jika orang tuamu tahu hal ini dan memarahimu?”

“tak apa mereka tahu, yang penting aku tak akan membiarkan mereka memarahiku. Yang pantas dimarahi atas kejadian seperti ini bukan aku, tapi mereka. Yang membuat aku dan Hyung berbuat hal baik itu bukan diri kami sendiri, tapi mereka. Kalaupun kami punya mesin waktu, dan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua, itu jelas tak mungkin. Semua sudah berubah.”

“setidaknya satu hal yang tidak boleh berubah….” Ucap Sulli pelan. “kau harus tetap berada di jalanmu… jangan ubah dirimu untuk menjadi orang lain…”

Onew diam. Ia berusaha meresapi kalimat yang di ucapkan Sulli. Saat itu, Sulli mengambil sepotong apel di piring kecil, lalu memakannya.

~***~

BECAUSE OF YOU

Perban kecil masih terbelit di pelipis kanan Onew di hari kepulangannya. Ayah dan ibunya serta DongHae mengantarnya pulang ke rumah ibunya.

“DongHae….” Ucap ibunya lembut.

“ya?”

“khusus hari ini, menginaplah di rumah Eomma… temani adikmu itu….”

DongHae menatap sekilas adiknya yang duduk di jok belakang, di samping ibunya, lewat kaca spion. Onew hanya memberi tanda anggukan.

“baiklah…. Appa tak apa kan?”

Ayah DongHae yang sedang menyetir itu hanya diam. Beberapa saat, ia hanya menjawab dengan anggukan.

Mobil berwarna hitam itu melaju dengan pesat. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah ibu mereka. Saat ayah mereka akan pulang, DongHae dan Onew mencegahnya. “Appa….”

Tuan Lee membalikkan badan, menatap mereka.

“jangan pulang dulu…” ucap DongHae. “apa salahnya singgah sementara waktu di rumah mantan istrinya?”

“tapi….”

“Demi Onew…” DongHae berusaha meyakinkan. Akhirnya, Ayah dan ibu mereka luluh. Tuan Lee memasuki rumah Nyonya Kim. DongHae mendudukkan mereka berdampingan di sofa panjang di ruang keluarga.”

“sudah bisa kau mulai….” Ucap DongHae pada adiknya. Onew hanya mengangguk, lalu berdiri di depan mereka, mulai berbicara.

“Appa,… Eomma… sebenarnya, aku tidak Amnesia…”

“apa maksudmu, nak?” tanya Tuan Lee.

“aku benar-benar ingat semuanya. Aku lahir tahun 1989, sementara DongHae-Hyung lahir tahun 1986, dulu kami sekolah di SD yang sama, aku juga ingat. Appa alergi Keju, Eomma alergi udang. Aku jga masih ingat bagaimana kalian berdua bertengkar….”

Onew menarik nafas dalam-dalam… Lalu mengeluarkannya pelan. “aku juga masih ingat dengan perselingkuhan yang telah kalian berdua lakukan…..”

“cukup Nak!!!” Tuan Lee berkata dengan nada tinggi. “cukup!!!”

“kenapa kau lakukan ini, Onew?” ucap Nyonya Kim lembut. “kau sudah membuat semua orang khawatir.”

“oh.. jadi kalian masih bisa peduli dengan anaknya? Bagus kalau begitu…”

“Lee Jin Ki!!!” Tuan Lee berusaha menahan amarah. “mulai kapan kau kurang ajar dengan orang tua seperti ini??”

“sejak Appa dan eomma hanya mementingkan diri sendiri, mengabaikan anak-anaknya yang kini telah tumbuh dewasa, yang sudah mengerti betul apa arti kebencian yang sesungguhnya karena terbiasa melihat kekesalan dan amarah yang selalu terjadi dan terlihat di kedua mata kami. Karena ulah kalian…”

“berhenti omong kosong!!” ucap Tuan Lee.

“oh ya… pertanyaan Eomma belum ku jawab. Kenapa kulakukan hal bodoh seperti ini? Ini karena Appa dan Eomma yang tak pernah memberi kami kasih sayang yang lebih. Aku hanya ingin memberitahu kalian, bahwa kalian telah gagal menjadi orang tua yang baik. Aku harap, jika aku Amnesia, aku bisa melupakan kebencian di masa lalu. Aku juga berharap, kalian bisa merenungi kesalahan kalian, akibat dari itu semua kalian telah membuat kami, anak-anak kalian, berubah menjadi lebih buruk. Itu yang ingin aku lakukan. Tapi, nyatanya aku tidak Amnesia, bahkan kalian malah bertengkar lagi, dan masih saja mengedepankan ego masng-masing, tak mau mengakui kesalahan masing-masing….”

“harusnya kau tegur kami dengan baik nak… tak perlu berbohong seperti ini…” Nyonya Kim menangis.

“kami sudah sering melakukannya,” kini DongHae membantu adiknya. “tapi, kalian selalu menganggap kami adalah anak kecil yang tak perlu ikut campur urusan orang tua.”

“tapi….”

“karena kalian, kami sudah hampir kehilangan akal sehat kami. Semuanya terasa buruk di mata kami…”

“Ya…” ucap Onew lirih. “We lost our mind… Because of You all….”

Tuan Lee hanya diam. Orang yang hatinya keras itu kini menitikkan air mata. Ia menggenggam tangannya, berusaha menguatkan hatinya. Suasana hening. Yang terdengar jelas hanyalah suara isak tangis Nyonya Kim. Onew dan DongHae bertatapan.

“semoga ini berhasil….” Ucap DongHae hanya dengan menggerakkan bibirnya, tanpa suara bisikan. Onew membalasnya dengan anggukan, “semoga..”

~***~

HAPPY ENDING

“bagaimana kemarin? Sukses?” tanya Sulli saat berjalan berdua dengan Onew di taman kota sambil menjilati Es Krim rasa strawberry kesukaannya.

“ya… sukses besar. Mereka mengucapkan kata maaf pada kami, lalu saling bermaafan, dan akhirnya rujuk…” ucap Onew.

“Wooaahh… Selamat ya…” Senyum Sulli mengembang dengan manis di bibirnya yang merah.

“ya… tanpa rencanamu yang menyuruhku mengakui semua kebohongan yang aku lakukan, mungkin tu tak akan terjadi.”

“dan jangan lupa ideku yang menyuruhmu dan Oppa DongHae untuk menghajar mereka dengan menjelek-jelekkan mereka…” ucap Sulli penuh percaya diri.

“Ah,… ya… itu juga…”

Sulli tertawa.

“ya.. trimakasih juga telah menyadarkanku.. bahwa aku harus menjadi diriku sendiri.. bukannya menjadi orang lain dengan cara berpura-pura menjadi amnesia seperti ideku semula. Untung saja aku bertemu denganmu. Aku senang, bisa di limpahi kebaikanmu….”

Sulli mengangguk sambil tersenyum. “untungnya semua berakhir dengan baik.”

“ya… tapi masih ada sesuatu yang membuatku bingung….” Ucap Onew.

“apa?”

Onew tersenyum, lalu bernyanyi, “I lost my mind noreul choeummannasseultte… no hanappego modeun-goseun get in slow motion…nege mar-hejwo ige sarangiramyon….”

Pipi Sulli memerah. Ia tersenyum malu. Onew melihat Sulli yang salah tingkah itu tertawa.

“jangan tertawa!!” pekik Sulli.

“iya iya… maaf….” Ucap Onew.

“tapi.. benarkah itu?” tanya Sulli.

Onew menatap mata Sulli lamat-lamat. Mata yang bulat nan hitam itu yang dulu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. “ehm….”

Sulli membalas tatapan mata itu, dengan tatapan mata berharap, menunggu-nuggu jawaban yang membuatnya penasaran.

Onew mengecup kening Sulli, lalu tersenyum pada Sulli, dan berkata, “ya….”

Onew berjalan cepat mendahului Sulli, membiarkan Sulli berdiri mematung di tempatnya. Sulli masih kaget dengan kecupan itu. Ia hanya terdiam, beberapa saat kemudian, tersenyum.

Sulli memutuskan untuk mengejar Onew, “hey… tunggu…”

~***~

 

 

 

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s