(Oneshoot) Coach Nana


COACH NANA

Author : Sasphire

Main Cast : 

  • Park Min Young as Coach Nana
  • Choi Minho Shinee as Himself

Support Cast :

  • All Member Shinee as Junior Member of Badminton Club
  • All member EXO-K as Junior Member of Badminton Club
  • Donghae SJ, Leeteuk SJ, Yesung SJ, as Senior member of Badminton Club
  • Mr. Park as Coach Nana’s Father

Ratting : General

Genre : Sport (?), Friendship, AU

Length : Oneshoot (4608 words)

Inspired by : Look Up (Kusaba Michiteru)

Contact : FBTwitter | Wallpaper Gallery

~***~

DEMAND

“rencananya… ayah akan menurunkan Senior 5 daun ke turnamen tingkat provinsi tahun ini…. Dan untuk interhigh, ayah akan memilih tim-tim dari Junior 2 dan 3 daun….” Ucap Mr. Park pagi itu, yang akan memulai latihan pada pagi hari itu, untuk mempersiapkan turnamen wilayah.

“begitukah?” ucap Nana acuh. Ia meminum minuman kaleng soda-nya yang dingin. Setelah meneguknya, ia berkata, “kenapa harus mengikutkan Junior di interhigh? Tidak takut kalah?”

“ayah hanya ingin menambah pengalaman mereka…” ucap Mr. Park sambil mengelus putri satu-satunya itu.

“lalu… kenapa ayah mengajakku menonton pertandingan uji coba ini?”

“ayah minta kamu untuk melatih Junior kami…”

“kenapa begitu?” Nana terkejut. “mulai angkatan senior 5 daun yang itu saja…” Nana menunjuk ke arah senior Badminton yang sudah memasuki lapangan, “sudah tak ada pelatihan…”

“karena ada junior yang minta…” ucap Mr. Park menahan tawa, mengingat tingkah Minho —junior yang ia maksud— yang rela berkoar-koar di depan seniornya.

“minta?”

Mr. Park mengangguk, lalu menceritakan yang terjadi hari sebelumnya.

~*Flashback : On*~

“Mr. Park….” Minho berlari. Saat itu, ia memakai kaos olahraga berwarna merah yang benar-benar penuh dengan keringat. Di tangan kanannya, ia menggenggam raket bulutangkis dengan kuat, hingga urat nadinya terlihat.

“apa?” ucap Mr. Park yang saat itu masih memberikan pengarahan pada senior 5 daun untuk turnamen wilayah.

Minho bersujud di kaki Mr. Park. Semua yang ada di sana kaget, termasuk teman se-tim-nya.

“ada apa??” Mr. Park merasa sungkan, karena di sekelilingnya ada guru olahraga yang lain. “jangan begini!!”

“aku ingin menjadi lebih baik!!” Minho teriak.

“baiklah… aku suka dengan tekad barumu nak.. sekarang berdirilah dan tatap mataku… itu akan membuatmu lebih rileks….”

Minho berdiri, lalu menatap mata Mr. Park, dan berkata dengan lantang, “aku ingin lebih baik… Hari ini juga!!! Aku juga ingin langsung naik 5 daun, Hari ini juga!!!”

Semua yang ada di situ terdiam sesaat, lalu tertawa. Temannya, Onew menghampiri, lalu berbisik, “kenapa kau benar-benar melakukannya? Dasar bodoh!!”

“supaya kita tidak ditindas lagi oleh senior itu!!” ucap Minho sewot.

“tapi….”

“kalau ingin begitu sih, tidak mungkin….” Belum sempat Onew berkata, Mr. Park menjawab permintaan Minho. “harus latihan tiap hari…”

“benar ‘kan?” ucap Onew. “tidak ada yang instan… harus latihan…”

Minho hanya diam.

“tapi, yang kau maksud itu…” ucap Mr. Park dengan nada menggantung, membuat Minho dan Onew penasaran.

“apa Pelatih?” ucap Minho tak sabar. Onew menyikut tangan Minho, memberi tanda. Minho menoleh ke Onew, mendelik. Onew membalasnya dengan tatapan mata yang menggambarkan, ‘sabarlah… sopan sedikit….”

Minho mengacuhkan Onew, dan menebak-nebak apa yang akan dikatakan Mr. Park.

“lebih baik dalam hal tehnik atau tenaga?” lanjut Mr. Park.

“dua-duanya!!” ucap Minho.

“ampun deh, ni anak….” Batin Onew.

“mungkin ada sih… caranya….”

Onew dan Minho bertatapan.

“kalian akan mendapatkan pelatihan khusus selama 5 hari. Tidak akan ada paksaan di sini, tapi siapa yang kuat menjalaninya… akan bertambah kuat…”

Minho tersenyum lebar.

“huh….” Ucap salah satu senior. Yesung. “jangan-jangan… pelatihan neraka lagi??” ucapnya penuh dengan sinis. Mendengar ucapannya itu, hawa di sekitarnya terasa angker.

“atmosfirnya berubah….” Bisik Kai pada Suho yang berdiri di sampingnya.

“ya…” Suho mengelus-elus tengkuknya. Bulu kuduknya berdiri.

“gila ni orang!!” ucap Minho lirih. Yesung meliriknya dengan tatapan mata tak suka. Minho pun melihat ke arah lain, menghindari ketakutan yang bertambah.

“jangan menakut-nakuti junior-mu dong….” Ucap Mr. Park dengan raut wajah kesal.

“pelatih… jangan… kasian Junior kami…” ucap Donghae penuh iba.

“sialan…” ucap Kai lirih, mendengar ucapan DongHae. “dia pikir kami siapa?? Dia pikir kami lemah, begitu??”

“lagipula, kami dulu tidak dilatih seperti itu…” ucap LeeTeuk.

“aku tidak membawa kalian karena tahun lalu kalian keburu masuk interhigh… tidak ada waktu untuk melatih kalian,…” Mr. Park mencibir.

“yah… yang akan ikut pelatihan adalah junior 2 dan 3 daun… sementara senior 4 daun dan 5 daun tidak ikut… ingat ya,.. di sini tidak ada paksaan sama sekali…  namun siapa yang berhasil melewatinya akan bertambah kuat…”

Minho dan Onew bertatapan lagi. Minho memasang wajah innocent pada Onew, dengan tatapan mata penuh arti, seolah berkata, ‘lihat… aku berhasil kan?’

Onew mendorong wajah Minho kasar. “iya.. iya… usahamu berhasil….”

~*Flashback : Off*~

“hahahahaha….” Nana tertawa lepas mendengarkan cerita ayahnya. “mana ada cara instan untuk lebih baik?? Langsung naik dari 3 daun ke 5 daun?? Itu mustahil…”

“tapi.. dia anak yang menarik…” ucap Mr. Park. Tatapan matanya memancarkan kebanggaan yang mendalam.

“benarkah?”

Mr. Park menatap anaknya, lalu menghela nafas. “bukankah, kamu bilang kamu bosan dengan yang itu-itu saja?? Makanya ayah berani memberikan Junior yang berbeda dari tahun-tahun yang lalu. Tak hanya Minho, tapi semua Junior yang sekarang lebih baik daripada tahun lalu… karena mereka tidak membosankan…”

Nana menatap ayahnya dengan pandangan mata penuh selidik. “ayah bisa menjaminnya?”

“tentu saja… lihat saja pertandingan yang baru ini…” ucap Mr. Park, sambil mengarahkan pandangannya ke lapangan badminton. “pertandingan ini di buka Minho yang melawan Yesung…”

Nana melihat dengan seksama permainan itu. Kejar-kejaran angka terjadi di antara mereka. Seringkali adu smash, netting, dan rally… bola-bola lob-pun dipermainkan dengan cantik.

“Minho itu up serves, ya?” ucap Nana. Mr. Park hanya mengangguk. “dia itu yang bagus netting-nya… tapi kalau urusan smash, sering tidak teratur arahnya. Yah… kalau soal tehnik sih, Netting menguasai… selebihnya ancur…”

Mr. Park hanya tersenyum, menahan tawa mendengar celotehan anaknya tentang Minho.

“benar kata ayah… ini menarik….”

~***~

1st DAY TRAINING

Senin, 3.58 PM

“yah.. udah capek-capek berkoar-koar di depan senior sambil menyembunyikan rasa malu, ternyata cuma 11 anak yang ikut??” ucap Minho emosi.

“yang berkoar-koar kan cuma kamu…” ucap Suho sedikit kesal.

“tak apalah.. yang penting kita bisa lebih baik daripada sebelumnya….” Ucap Minho penuh percaya diri. “yeah!!!!”

“nih anak benar-benar KDS…” bisik Taemin pada BaekHyun.

“KDS?” BaekHyun pun bertanya.

Taemin mengangguk mantap. “Katrok, nDeso Sekali…”

“jangan lupa dengan Kamseupay…” sahut Key. Taemin dan BaekHyun mengangguk mantap.

Tiba-tiba, MinHo bersin sampai 2 kali. Ia menggaruk hidungnya, dan berkata, “pasti ada yang gossip tentang aku nieh!! Kalo sampe’ 2 kali berarti gossip-in yang jelek…”

Key, Tamin da BaekHyun hanya bernyanyi dengan suara lirih.

“eh.. tapi…” ucap Onew. “mungkinkah kita salah alamat?”

“kenapa?” tanya Suho.

“lihat ke belakang kalian…” mereka mengikuti ucapan Onew, menoleh ke belakang. Mereka terkejut. Pandangan mata mereka pun diteruskan hingga ke atas.

“mana mungkin gedung bobrok kaya’ gini jadi tempat latihan??” teriak Suho saat melihat bangunan bertingkat yang sudah terlihat tua dan usang.

“lancang sekali jika kalian bilang ini tempat bobrok??” seorang wanita berjalan menghampiri mereka dengan anggunnya, walaupun pakaian yang ia gunakan sangat casual. Di tangan kanannya ia membawa anjing Herder yang ia ikat dengan tali berwarna pink.

Para Junior menatapnya heran.

“ini tempat latihan kalian…” ucapnya tersenyum.

“kalau begitu…” ucap JongHyun.

“berarti…. Anda….” Ucap Onew.

“Coach Nana??” ucap Sehun melanjutkan.

Nana hanya tersenyum sebagai jawaban.

“wah… Mr. Park melecehkan kami!! Mana mungkin kami diberi pelatih wanita??” ucap Minho lantang. Semua teman-temannya menatapnya tajam. Ia merasa takut, tapi ia tutupi. “kenapa?”

Nana hanya menghela nafas. Ia teringatkan kata-kata ayahnya, “tapi kau harus sabar menghadapi Minho.. Dia anak yang penuh percaya diri, tapi ceplas-ceplos…. Jika tidak suka, dia langsung bilang… Tapi kalau kamu tidak bisa membendung rasa sebalmu.. Kau bisa memberinya pelajaran supaya dia tidak melakukan hal yang sama padamu.”

Nana berkata dalam hati, “Asal ayah tahu, aku adalah orang yang paling tidak punya rasa sabar.”

Nana menatap Minho dengan memamerkan seringainya yang menakutkan. Ia mengangkat ujung bibir kanannya ke atas. “Atas dasar apa kau meremehkanku??” Ia berjalan mendekati Minho.

Seluruh teman Minho melangkah mundur ketakutan. Minho ingin begitu, tapi gengsinya yang besar menahannya untuk terus menghadapinya. Kini, wajah Nana sangat dekat dengan wajah Minho. Nana menatap tajam mata Minho, begitu pula sebaliknya. Namun tatapan mata Minho memancarkan aura takut.

Nana kembali tersenyum sinis. “Kalahkan aku dulu, baru remehkan aku!!”

Nana berpaling. Lalu menoleh kembali ke belakang, menatap Minho dengan seringai yang kuat, “Kutunggu di halaman belakang!!”

Nana melangkahkan kaki menuju belakang gedung. Minho masih tidak mempercayai apa yang ia alami barusan. Suaranya tercekat, sulit menelan ludah. Teman-temannya menghampiri.

“Makanya jangan meremehkan…” ucap JongHyun, sedikit rasa iba.

“Iya….” Sahut Sehun. “dia ‘kan, putri pelatih kita, Mr. Park…”

Minho mendelik. “Benarkah??”

Sehun mengangguk cepat.

Minho terkulai lemas.

~***~

“Sudah siap??” tantang Nana, berkacak pinggang. Di tangan kanannya membawa raket. Minho mengangguk mantap. Nana tersenyum sinis. “Kau akan menyesal….” Batinnya.

Nana mengambil kuda-kuda, bersiap menerima serves dari Minho.

Setelah Minho serves, permainan berlangsung. Nana membuat games cepat. Memberikan Smash ertubi-tubi kea rah yang —sekiranya— sulit di jangkau Minho. Minho sampai terpontang-panting hanya demi mengejar bola.

“Sial!!’ gumam Minho. “Permainan cepat yang ia mainkan!! Bahkan ia terus-menerus menyerang!! Kalau begini sih… Aku hanya bisa bertahan tanpa memberikan balasan serangan….”

“1-0….” Ucap JongHyun sebagai wasit dengan bibir bergetar. Ya. Ia ikut tegang melihat perjuangan temannya yang terlihat sia-sia.

“mau menyerah??” ucap Nana sinis. Minho tersengal-sengal. “Jika menyerah,… Aku sudahi… Sudah kubilang kau bukan tandinganku…”

Minho menggeleng, dan membuat kuda-kuda untuk bersiap menerima serves dari Nana.

“Dasar anak keras kepala!!” Batin Nana. “Baiklah,.. Begini saja… Kita tidak usah pakai skor 21… Begitu kau berhasil mengungguliku 1 poin saja, permainan diakhiri… Tapi jika aku sudah mencapai 10 angka, tapi kau masih belum bisa mencapai poinku… Permainan di akhiri… Bagaimana??”

Minho hanya mengangguk.

“Baiklah, Nana… capai poin itu…” batin Nana. Ia pun melakukan serves up. Minho mengambil kesempatan untuk smash sekuat tenaga, namun Nana bisa mengembalikannya dengan forehand dan bolanya tepat mengenai perut Minho. Skor, 2-0.

“bagus, kan? Bolaku tadi?” ucap Nana sinis.

Minho hanya diam, lalu memberikan bola ke Nana dengan menangkis-nya dengan raket.

Berikutnya, Nana melancarkan serangan-serangan yang membuatnya tak berkutik, hingga permainan berakhir. Skor, 10-2.

Teman-teman Minho menghampirinya, memberikan handuk, beserta minuman. Terlihat jelas wajah Minho yang lelah dan penuh penyesalan karena telah meremehkan pelatihnya. Nana menghampiri segerombolan muridnya itu.

“Bagaimana?” kata yang terpancarkan aura dingin nan sinis keluar lagi dari bibirnya. “masih ada yang mau meremehkanku lagi?”

Semua menggeleng. Nana tersenyum puas. “baiklah.. kutunggu di dalam…”

~***~

4.40 PM.

Saat itu, didalam gedung…

“ini kamar kalian,” ucap Nana. “segera ganti baju kalian dan bergegas kluar untuk latihan hari pertama kalian.”

“ya…” ucap mereka serempak. Saat Nana akan keluar dari ruangan, ia berkata lagi, “oh iya.. kutunggu dalam waktu 5 menit, dimulai dari… sekarang!!” ia memencet tombol stopwatch-nya.

“woah… mesti cepat-cepat!!” semua yang awalnya santai kini tergesa-gesa. Melepas jaket mereka, mengeluarkan raket dari dalam tasnya, dan yang lain.

~***~

Mereka sudah berdiri di depan lift….

“walau ini gedung bobrok, tapi kalau begini sih.. keren juga…” ucap Minho, tertawa senang. “sudah ada lift, di atas gedung-nya ada lapangan bulutangkis lagi….”

“tapi.. perasaanku nggak enak…” ucap Onew.

“kalian mau kemana?” Nana menoleh ke belakang. “ini lift pribadiku. Kalian naik tangga darurat….”

“sial…” ucap ChanYeol.

Nana memasuki lift, sebelum pintunya tertutup, ia berkata, “aku tunggu di atas 10 menit dari… sekarang!!!”

“Waaa!!!!” mereka segera berteriak berlari menaiki tangga darurat.

“perasaanmu tajam… Lee JinKi!!!!” teriak Kai.

“yah!!!” ucap Onew, tersengal-sengal.

~***~

“9 menit 10 detik…” ucap Nana melihat stopwatch-nya. “uhm… bagus juga…”

“kau puas??” ucap Minho sambil menyeka keringat.

Nana hanya tersenyum. “ng… oh ya… kalian mau latihan tanpa cock??”

Para anggota bertatapan satu sama lain.

“cock-nya kutaruh di pojok kamar kalian tadi…” Nana mengucapkan kata demi kata dengan ekspresi wajah datar.

“lalu… kau mau menyuruh kami mengambilnya dalam waktu 10 menit, begitu??” selidik ChanYeol kesal.

“hmph….” Nana menyeringai. “mana mungkin??”

Semua bernafas lega.

“ambil dalam waktu 8 menit!!” ucap Nana sambil memencet kembali tombol stopwatch-nya.

7 menit 40 detik kemudian….

“bagaimana?? Kau puas??” Kai berucap disela-sela nafasnya yang tersengal-sengal.

“baik sekali….” Nana tersenyum. “tapi.. tolong dong.. bawakan makanan anjingku ini… kuletakkan di dapur. Ambil dalam 7 menit!!”

Begitu seterusnya sampai 20 kali lari bolak-balik dengan berbagai alasan. Merekapun tidur tanpa sempat makan dihari itu.

~***~

2nd DAY TRAINING

Selasa, 7.50 PM

Nana terkejut saat ia menjejakkan kaki di atas gedung. Para peserta latihan sudah terlebih dahulu berada di atas. Ia tersenyum. Namun….

“5…. 6…7… 8… 9…” hitung Nana. “wah.. wah… 2 orang sudah menyerah… padahal kukira akan lebih banyak lagi yang menyerah…”

Ya. Key dan Suho sudah menyerah dengan kabur diam-diam, tanpa sepengetahuan temannya.

“baiklah,… mulai hari ini akan ada eliminasi satu-persatu.”

“apa-apaan ini??” Kai emosi. “bukankah ini latihan?? Kenapa ada eliminasi?? Memangnya ini latihan pertahanan hidup??”

Nana hanya tersenyum. Lalu berkata, tanpa menghiraukan perkataan Kai, “kudengar, dulunya kalian pemain Tenis. Benar?”

Mereka mengangguk.

“kenapa pindah ke Bulutangkis??”

“bulutangkis lebih mudah,” jawab Minho singkat.

“lagipula, jarang ada turnamen Tenis di wilayah kami…” Sahut Onew yang disetujui Minho lewat anggukan.

“hanya itu? Tidak ada yang lain??” tanya Nana. Semua mengangguk.

Nana menghela nafas. “baiklah.. latihan kita mulai sekarang…”

~***~

Mereka berdiri di depan tangga darurat.

“kenapa kita disini?” tanya ChanYeol.

“lagipula… kenapa sekotak bola tenis ada di sini?” BaekHyun bertanya pula.

Onew menghela nafas. “perasaanku nggak enak….” Bisiknya pada Minho.

“jangan bilang begitu.. perasaanmu terlalu tajam… aku jadi takut…” Balas Minho berbisik pula.

Nana tersenyum. “bola ini untuk apa? Begitu maksud pertanyaanmu, Byun BaekHyun??” tanya Nana pada BaekHyun. BaekHyun menjawabnya dengan anggukan.

“hmph…” Nana kembali mengeluarkan seringainya. “untuk dibeginikan!!” ia menendang sekotak bola tenis itu hingga seluruh bolanya berjatuhan ke bawah.

“AAAAA!!!!” seluruh peserta pelatihan spontan berteriak. Mereka benar-benar tanggap apa yang harus mereka lakukan. Mereka harus memungut bola-bola itu.

“peraturannya gampang, yang mengambil bola paling sedikit ataupun yang mengambil bola lewat dari batas waktu 5 menit, maka ia gugur….”

“YANG BENAR SAJA!!!” mereka berteriak, lalu segera berlari menuruni tangga dan memungutinya, kecuali Minho. Ia berdiri di samping Nana.

“kenapa? Kalah sebelum perang?” Nana tersenyum mengejek.

“aku akan mengambil bola terbanyak.” Ucapnya pasti.

Nana tersenyum sinis. “aku benci orang bodoh!!”

Minho berlari menuruni tangga, lalu melompati tangga lantai 5 ke lantai 4, dan berteriak “HEYYYAHHH!!!”

Onew yang sedang memunguti bola —tepat di tempat Minho menjatuhkan kaki saat melompat— kaget. “mau apa??”

“memunguti bolo di lantai paling dasar!! Disana paling banyak bolanya!!”

“dasar naïf!! Mana mungkin keburu??!!” Minho mengabaikan omongan Onew. Onew-pun segera berlari ke lantai atas sambil membawa 8 bola yang ia taruh di kaosnya karena tidak muat di tangannya.

Sementara ChanYeol….

“semuanya bodoh…” batinnya dalam hati. “mereka tergesa-gesa karena keterbatasan waktu. Tapi di permainan yang sesungguhnya, pemain yang tenang-lah yang menang….”

“tenang ChanYeol…” ia berpikir. “sekotak bola berukuran segitu, biasanya menampung 100 bola… berarti, 1 anak rata-rata mengambil 9 bola. Asalkan aku mengambil 10 bola, aku sudah menang….” ya, sebuah keberuntungan baginya untuk bisa menganalisis sejauh itu karena saat ia masih bergabung dalam club tenis, ia yang sering menjadi pesuruh mengumpulkan bola oleh kakak seniornya. Setelah memungut bola, ia berlari menaiki tangga menuju lantai atas. “menang dengan mudah…..”

~***~

“bagaimana dengan waktuku?” tanya BaekHyun.

“3 menit 10 detik dengan 8 bola… bagus juga….” Ucap Nana.

“tujuanku mengadakan olahraga yang seperti ini adalah melatih tubuh kalian untuk isiplin terhadap waktu. Jika kalian terbiasa, maka kalian akan semakin disiplin lagi….”

“apa maksudnya mengadakan olahraga yang ‘seperti ini’?” bisik Onew pada Taemin.

“kau tidak mengerti?” ucap JongHyun. “maksud dari kata ‘seperti ini’ adalah olahraga penyiksaan. Jadi kalimat sebenarnya adalah, ‘mengadakan olah raga yang menyiksa kalian’….”

Taemin dan Onew manggut-manggut, tanda mengerti.

“bagaimana dengan waktuku??” ucap ChanYeol yang baru datang.

“4 menit 5 detik…”

Nana tersenyum. “lihat?? Kalian sudah ada kemajuan.. setidaknya kalian lebih baik dari anak itu…” Nana menatap tajam Do KyungSoo. “mengambil 3 bola saja dia butuh waktu 4 menit…”

Semua mata menatap ke arahnya, membuat KyungSoo malu. Ia menunduk. “tapi jika Minho tak berhasil… maka aku tak akan di eliminasi…”

“kurang 15 detik, tapi anak itu belum sampai juga….” Ucap Nana. “Choi.. Min… Ho…” ucapnya penuh penekanan di setiap suku nama Minho.

Teman-teman seperjuangannya saling bertatapan.

“Minho pasti berhasil kan?” ucap Onew.

“Ya….” Ucap Taemin, berusaha menenangkan Onew, tapi tak berhasil karena ia sendiri juga khawatir.

“10…. 9…. 8….” Nana mulai menghitung mundur.

Sementara itu….

“aduh… kakiku kesandung…..” rintih Minho saat berada di lantai ke 7. Padahal lantai paling atas ada di lantai 10. Sesegera mungkin, ia berlari ke atas mengikuti anak tangga, pantang menyerah. Ia tak berniat untuk menaiki lift.

“6… 5….”

KyungSoo tersenyum penuh kemenangan. JongHyun, Taemin, dan Onew bertatapan satu sama lain. Begitu pula ChanYeol, Kai dan Baekhyun.

“4… 3… 2…. 1….”

“GUBRAKK!!!!” pintu di buka dengan kasar oleh Minho, dan berlari ke depan Nana sampai terpeleset. Ia segera berdiri, lalu membuka bagian bawah kaosnya hingga six-pack-nya terlihat. Seketika itu juga, bola yang sangat banyak yang ia bawa berjatuhan di sekitar Nana. Nana melihat lantai yang ia injak penuh dengan bola.

“lihat Bung….” Minho tersenyum. “aku yang paling banyak, ‘kan??” ucapnya penuh percaya diri. Ya. Memang ada sekitar 20 bola yang ia bawa. Teman-temannya tersenyum senang, menyambut keberhasilan temannya. Kecuali KyungSoo.

Kali ini, Nana tersenyum bangga. “menarik….”

~***~

3rd DAY TRAINING

Rabu, 6.30 AM

“aku nggak kuat lagi.. perutku menolak…” ucap Taemin.

“apa boleh buat.. sarapan kita emang ini… kalo nggak kuat.. lancarin pake air putih…” ucap JongHyun memakan lahap makanannya, berusaha menghargai orang yang memasak makanan itu.

“aku juga nggak kuat… masa’ ada makanan nasi cuma dikasih kentang rebus??” ucap Kai.

“siapa sih, yang kebagian masak hari ini??” BaekHyun kesal mendengar keluhan teman-temannya.

Lalu, pandangan mata mereka terhenti pada Minho yang memakan lahap nasi Kentang itu..

“dia ya??” ucap ChanYeol. “Hebat!! Cuma nasi dikasih kentang aja udah habis 4 piring….”

Minho yang merasa teman-temannya menatapnya penuh heran berkata, “apa?”

Teman-temannya masih menatapnya.

Ia berkata dengan riang, “kentang itu mengandung energi dan karbohidrat yang baik untuk kekuatan tubuh.. mengandung zat pati juga… trus ada lemak dan proteinnya…. Ada Thiamine…”

“dasar cerewet….” Ucap BaekHyun yang baru saja mengenalnya. JongHyun, Onew dan Taemin yang sudah mengenal Minho sejak lama hanya tersenyum.

“pokoknya… kentang enak deh…” ucap Minho di akhir ceramahnya tentang kentang. “kalian mau?? Bawa banyak nieh….”

“mending enggak deh…” jawab Sehun. “satu porsi dah cukup kok….”

“hey….” Kai berkata. Ia melihat temannya, KyungSoo sedang berkemas.

“aku duluan yah…” ucap KyungSoo. “bukannya mau menyalahkan kondisi. Tapi jika lebih lama lagi di sini, tubuhku bisa rusak. Kusarankan kalian juga segera keluar dari pelatihan neraka ini,” ia menggunakan kata yang digunakan Yesung untuk menakut-nakuti teman-temannya. Sebenarnya, ia hanya menutupi rasa malunya di depan teman-temannya.

Ia keluar, lalu menutup pintu. “sudah jelas mengkambing-hitamkan kondisi!! Cari-cari alasan!!” ucap Minho kesal.

“kok kamu bisa se-semangat itu sih,di pelatihan yang kerasnya minta ampun kayak gini??” ChanYeol keheranan.

“sudah barang tentu… karena…”

“oh… kalian sudah bangun??” ucap Nana lewat pengeras suara. Membuat ucapan Minho terpotong.

“dasar!! Nenek sihir itu!! Belagak pake pengeras suara…..” ucap Kai.

“aku tunggu di lantai atas….”

“sudah seperti biasa kan?” Taemin memasang wajah kesal.

“oh… ya… jangan lupa bawa raket kalian…”

“yeah!! Akhirnya pake raket!!” ucap Minho.

“soal waktu.. seperti biasa yah? 8 menit…” ia mengakhiri pengumumannya.

Minho segera berlari ke atas. “ayo teman-teman….”

ChanYeol menghela nafas. “pertanyaanku belum di jawab….”

~***~

“nanti… kalian akan bermain ganda.” Ucap Nana ketika seluruh peserta telah berkumpul di lantai atas. “yang menjatuhkan cock digantikan pemain lain. Begitu seterusnya. Lalu, ketika semua sudah kebagian main, maka akan dilanjutkan latihan kedua.”

Nana mengawasi permainan. Setelah 1 jam berlalu, ketika semua pemain sudah kebagian permainan, maka mereka meneruskan latihan kedua.

Nana mengajak para anggota pelatihan ke sebuah lorong. Lorong yang telah di penuhi lemari yang berserakan di lantainya. “loncati semua lemari itu. Ulangi 10 kali… aku akan mengawasi kalian lewat kamera CCTV….”

Tanpa banyak kata, mereka segera melewatinya. Ketika selesai…

“sudah…” ucap ChanYeol.

“lihat ke atas.” Ucap Nana.

“atas?” mereka melihat langit-langit lantai 9. Ada pipa.

“kalian harus bergelantungan di atas dengan mengangkat tubuh kalian sebanyak 30 kali. Lalu serves voli terhadap tembok, bolanya ada di lantai 5. Lalu push up dan sit up masing-masing 50 kali.”

Mereka diam sejenak.

“tunggu apa lagi?”

“jujur, aku nggak paham apa hubungannya semua ini dengan permainan Badminton.” Ucap Minho penuh kesal.

“jangan cerewet!!” ucap Nana. “cepat lakukan!!”

mereka segera melakukan apa yang harus mereka lakukan. Setelah semuanya selesai 3 jam kemudian…

“apa lagi??” ucap Minho sedikit sinis dengan nafas tersengal-sengal di hadapan Nana.

“sampai sore nanti lakukan semua latihan ini berkali-kali. Yang paling sedikit putarannya, atau yang memotong latihan, akan langsung di keluarkan…”

“diantara kami.. harus ada lagi yang keluar??” batin Sehun.

“benar kata KyungSoo.. lebih lama disini.. tubuhku hancur semua….” Taemin berkata dalam hati.

~***~

Hari itu, Taemin dan Sehun resmi di eliminasi. Teman-temannya menatap pilu kepergiannya. Namun, Taemin dan Sehun merasa tenang, karena tak perlu merasa tersiksa lagi.

“tinggal 6 orang….” Ucap JongHyun lemas, yang dibalas anggukan dari Kai.

Nana menghampiri mereka sambil membawa tas besar, lalu melempar tas itu di bawah kaki mereka. Spontan, mereka meloncat mundur menghindari tas yang akan melukai kaki mereka itu.

“itu kaos kalian. Ada nomornya. Nomor-nomor itu akan menjadi identitas kalian.”

Minho langsung membuka resleting tas itu dengan semangat. “tidak.. bukan yang ini… bukan yang ini….”

Minho melempar-lemparkan kaos ke luar tas. Teman-temannya memunguti dan memakainya. “trimakasih sudah di ambilkan….”

“ada!! Nomor 1!!” ucap Minho tersenyum gembira, lalu memakainya. Nana yang masih ada di situ tertawa melihat tingkahnya.

“sangat percaya diri!!” ucap JongHyun.

“yeah… itulah Minho….” Ucap Onew.

“makanya… kami ingin tahu.. kenapa kau selalu percaya diri dan penuh semangat??” ChanYeol mengulangi pertanyaannya tadi pagi yang belum di jawab Minho.

“sudah barang tentu… karena aku ingin mengungguli senior kita…” ucapnya serius.

Nana melihat tekad yang kuat dari diri Minho. Ia hanya tersenyum. Ia bergumam, “dia bisa diandalkan…”

~***~

4th DAY TRAINING

“berkumpul di lapangan belakang gedung….” Ucap Nana lewat pengeras suara. Para peserta latihan terenyum senang, karena mereka tidak perlu berlarian menaiki tangga 10 lantai seperti 3 hari sebelumnya.

Nana sudah berdiri di tengah lapangan rumput sambil membawa anjing herder kesayangannya.

“begini…” ucap Nana. “kalian harus berlari mengitari lapangan ini 30 kali, lalu mengulangi sirkuit latihan di hari ketiga sebanyak 2 kali. Dan jangan memotong jalan…”

Minho tersenyum. “tapi kami sudah tidak bisa lari cepat lagi…”

Nana mengangkat sebelah alisnya, lalu menghela nafas. “kita lihat saja.”

Nana memberi aba-aba. “bersedia….”

Semua sudah siap di tempatnya.

“Siap….”

Mereka berdebar-debar.

“YAK!!!”

Setelah itu, terdengar gonggongan anjing herder. Para peserta menoleh ke belakang. “AAAAAA!!!!!”

Mereka berlari terbirit-birit ketakutan karena di kejar-kejar oleh anjing milik Nana. Nana tertawa terbahak-bahak.

“benar!! Kita bisa lari lebih cepat!!!” teriak Onew.

“ya!!!” JongHyun menjawab. Ia ingin segera keluar dari arena dan memanjat pohon yang ada di sekitarnya, tapi itu akan membuatnya di diskualifikasi.

“Nenek sihir sialan!!” ucap BaekHyun.

“ku kira.. yang menyebalkan… hanya… orangnya saja…” ucap ChanYeol.

“ternyata… anjingnya juga menyebalkan!!” sahut Kai.

“AAAAAAA!!!!”

~***~

Sore telah datang. Mereka telah melakukan tugas dengan baik. Tak ada satupun di antara mereka yang ter-eliminasi.

“akhirnya.. selesai…” ucap Minho setelah selesai mandi. Ia mengeringkan rambutnya. “serasa hidup kembali…”

“yah.. memang segar!!” ucap ChanYeol. “tapi… bagian dalam tubuhku.. terasa remuk!!!”

“untungnya.. besok hari terakhir…” Onew sudah tengkurap di atas Slepping bag-nya.

“yah.. “ JongHyun menjawab. “besok kita harus pagi…”

“ya…” ucap Baekhyun. “Besok… kita harus….”

Tubuhnya ambruk ke atas Slepping bag-nya dalam posisi tengkurap,”bangun pagi….” Lanjutnya.

“segera bersiap untuk latihan malam, kutunggu di lantai 5….” Ucap Nana lewat pengeras suara.

Mereka segera berlari ke atas tanpa mengganti baju mereka dengan kaos identitas mereka.

“Nenek sihir itu….” BaekHyun menggertak.

“kakiku sudah mati rasaa….” Ucap JongHyun geram pula.

“yah… digerakkan juga sudah sulit!!!” ChanYeol tak mau kalah.

“dia sudah membuat ‘rasa ingin membunuh’-ku bangkit!!” ucap Kai.

Saat sudah sampai….

“kalau bukan pelatihku.. entah sudah jadi apa dia…” ucap Kai.

“nanti kalau dia dengar, berabe lo….” Ucap Onew. Lalu, mereka memasuki ruangan, membuka pintu perlahan.

Ruangan gelap. Hanya ada cahaya dari layar proyektor.

Onew bergumam. “Lin Dan vs Lee Chong Wei?”

Nana membalikkan tubuhnya. Karena posisinya yang membelakangi proyektor, yang terlihat dari dirinya hanyalah bayangan hitam. “final All England tahun ini. Aku mengedit video ini khusus untuk kalian.”

Suasana hening sejenak. Lalu, Nana melanjutkan, “ingatlah gaya terbaik di pertandingan ini, jadikan tehnik permainan mereka menjadi referensi permainan terbaik kalian, lalu mix dengan ciri kalian sendiri hingga bisa menjadi gaya kalian yang baru. Hayati setiap gerakan yang kalian lakukan. Lakukan yang terbaik malam ini. Kalian kubiarkan latihan sendirian di masing-masing ruangan yang sudah kumatikan lampunya, jadi kalian bisa lebih leluasa ber-imajinasi.”

“uji nyali, nih?” ucap Minho.

“eh?” Onew terkejut. “itu intinya?” tanya Onew lugu.

“sudah kubilang, aku benci orang bodoh…” ucap Nana sinis.

Setelah video selesai di pertontonkan, Nana menyuruh mereka menempati ruangan yang telah ia tentukan.

Minho memasuki sebuah ruangan. Ia mencoba menyalakan lampu. “wah… bener-bener gak nyala.”

Ia segera berjalan ke tengah ruangan.

“bayangkan tehnik-tehnik permainan yang indah dari senior 5 daun….” Ucapnya sambil memejamkan mata. Tapi yang ia ingat malah wajah mereka. “tehnik permainan, Minho.. Bukan tentang mereka….”

“lalu… bayangkan tehnik permainan dari Lee Chong Wei an Lin Dan.. lalu gabungkan dengan kelebihanmu dalam netting…”

Ia tersenyum. Perlahan membuka matanya. “Aku merasakannya…” ia menggerakkan raketnya. “bau tanah yang menusuk hidung… bau keringat yang menyeruak sangat kuat… kulit yang terbelai angin… perkuat hubungan otot tubuh dan otak…. Kendalikan gerakan…. lalu teriakan penonton yang histeris….”

Ia menggerakkan raketnya seolah smash. Ia membayangkan rivalnya adalah Yesung, Senior terkuat. Dan ia berhasil membuat Yesung tak berkutik. “yeah!! Aku mengalahkannya!!”

~***~

FINALLY ALL DONE!!

Seperti biasa, mereka berlari ke atas gedung. Saat itu, Minho bangun kesiangan, dan tak ada seorangpun yang membangunkannya karena tergesa-gesa.

“JongHyun….” Panggil Onew.

“Hah??” tanya JongHyun.

“bagaimana Minho?”

“Hadeh.. iya… lupa aku….” Ucap JongHyun.

“bagaimana kalo kita balik lagi trus bangunin dia??” ucap BaekHyun asal.

“nggak ada  waktu odong!!” hardik Kai.

“HEYYYAHHH!!!” teriakan khas Minho kembali terdengar. Secepat mungkin, ia berlari dan berhasil menyalip teman-temannya.

“gila!!” ucap Baekhyun.

“tambah hari tambah kuat staminanya!!” sahut ChanYeol.

“apa gara-gara makan nasi kentang tiap hari yah??” ucap JongHyun.

“Heh!!! Jangan malah kagum dong!! Ayo salip dia!! Masa’ dari kemaren kita dikasih lihat pantatnya mulu?!!” sentak Kai.

“pantatnya nggak bagus!!” Onew berkata.

“kejar!!!” seru mereka.

~***~

“hhm…” ucap Nana sambil melihat stopwatch-nya.

“diantara 11 anak, yang bertahan 5 orang. Biasanya sih, diantara 11 orang yang bisa bertahan hanya 2 orang…” gumamnya. “sirkuit latihan sudah kubuat berat, tapi jarak tempuh mereka malah makin pendek. Bahkan hari ini mereka tempuh dalam waktu 6 menit 43 detik…” sekilas, ia menatap keenam anak didiknya. “mereka juga sudah bisa mengatur nafas mereka supaya tidak tersengal-sengal.”

“mereka lebih baik daripada anak didikku 2 tahun lalu…” Nana tersenyum. Membuat keenam muridnya heran.

“kenapa dia senyum-senyum sendiri?” ucap BaekHyun.

“kesambet kali,” kata Kai asal.

“hush!!” Onew mengelus wajah Kai dengan kasar. “jangan sembarangan kalo ngomong!!”

Kai hanya membalasnya dengan senyum nakal, sambil membentuk huruf V di jari telunjuk dan tengah di tangan kanannya.

“kalo bakat….” Gumam Nana. “Minho netting, JongHyun smash… Onew bola lob… BaekHyun dan Kai sama kuatnya sih.. mereka cocok di jadikan pemain ganda… kalo ChanYeol… dia bisa bermain cepat, sama denganku. Sekali serang, ChanYeol bisa membuat lawannya tak berkutik.”

Nana berdiri.

“latihan terakhir dimulai…” bisik Onew dengan jawaban anggukan dari Minho.

“hari ini tidak ada latihan…” ucap Nana santai. Para peserta pelatihan terkejut. “kalian sudah melakukan yang terbaik. Kalian bisa diandalkan di interhigh tahun ini…”

“tidak ada latihan?” Onew bertanya, memastikan kebenarannya. Nana mengangguk.

“tidak ada lari bolak-balik menuruni tangga?” ucap Minho. Nana mengangguk lagi.

“tidak ada meloncati lemari di lorong?” ChanYeol bertanya. Nana mengangguk.

“tidak push up dan sit up lagi?” tanya Kai. Sekali lagi, Nana mengangguk.

“tidak harus latihan serves voli dengan tembok lagi?” kali ini BaekHyun bertanya, dan Nana menjawabnya lagi dengan anggukan.

“tidak dikejar anjing Herder lagi??” Minho bertanya. Nana Jengkel. “aduhhh…. Iya iya iya… harus berapa kali aku mengangguk dan menjawab pertanyaan kalian??”

“Hahaha!!! Horreyyy….!!!” Mereka berpelukan. Wajah mereka terlihat cerah, seolah beban berat berton-ton yang ada di punggung mereka terangkat. Nana melihat mereka dengan senyuman penuh rasa bangga.

“tapi berjanjilah satu hal…” ucap Nana, sedikit merusak suasana senang.

“apa?” tanya Minho.

“kalian harus menang interhigh musim ini….”

Mereka bertatapan dengan pandangan mata yang misterius. Nana heran. “ada apa? Kalian takut kalah??”

Mereka tersenyum, lalu tertawa. “dengan latihan sekeras ini… kami yakin bakal kuat… kami yakin bakal menang.. pelatih….” Teriak Kai.

Nana tersenyum. “kepercayaan diri yang nggak berdasar itu datangnya dari mana sih??” gumamnya.

“thx, Coach Nana!!! You’re the bestest Coach for us!!!” ucap Minho.

“Yeah!!! Thanks!!!” teriak mereka.

“bukankah aku nenek sihir kalian??” ucapnya tertawa.

“ya. Tapi kau tetap pelatih terbaik kami!!” teriak ChanYeol.

“entah bagaimana cari kami berterima kasih padamu!!” ucap BaekHyun.

Nana tersenyum. Tiba-tiba, mereka berlari memeluk Nana. Nana terkejut, lalu tertawa saat dipeluk 6 orang laki-laki murid terbaiknya itu. Ia merasa sangat berbahagia.

~***~

Uookkehh…. maaf kalo gaje yah… trus… uhm…. bakal aku bikin Sequel-nya (mungkin) … pas mereka tanding di interhigh ^_^

ENJOY ALL ^^

 

 

 

One thought on “(Oneshoot) Coach Nana

  1. hahhah pas baca bagian awal nana ngasih pelatihan parah banget xD ellah si suho ama key payah amat udah nyerah duluan ._. si kyungsoonya sakit ati tuh heehehe. keep writing😀

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s