(Oneshoot) Blue Rose in My Life


Author : Sasphire

Main cast : Chanyeol EXO K, Goo Nana (OC)

Ratting : General

Genre : Romance, Angst

Length : Ficlet (2.148 words)

Hidup itu seperti Bunga Mawar Biru.

Berwarna sangat indah yang dapat memukau setiap orang yang melihatnya. Hidup juga sangat indah bagi orang-orang yang menjalani hidup sepenuh hati, dengan berbagai cara yang berbeda dari masing-masing karakter di dalam diri para insan.

Berduri dan sangat menyakitkan. Itu sisi lain dari Mawar Biru, dan itu juga sisi lain dari kehidupan. Terkadang kehidupan memberi seseorang yang mampu memberikan perasaan istimewa di hati kita untuknya, namun ternyata, hidup malah mempertemukan pasangan sejati kita yang sama sekali tidak kita cintai.

Mawar biru itu misterius. Di saat bunga yang lain bermekaran indah dengan warna-warna anggun, dia malah memilih untuk menggunakan warna biru, lambang ke-maskulin-an seorang pria. Mengapa dia memilih warna biru? Kenapa bukan warna yang lain? Bukankah dia akan lebih terlihat anggun jika memilih warna merah jambu? Bukankah dia akan memiliki arti mendalam tentang cinta jika ia berwarna merah? Bukankah dia terlihat lebih suci jika memilih untuk tumbuh dengan warna putih?

Begitu juga dengan hidup. Kenapa manusia lahir? Kenapa manusia mempunyai karakter yang beda? Kenapa jalan hidup itu berliku-liku? Kenapa setelah lahir, manusia harus hidup dengan masalah, lalu setelahnya mati? Buat apa manusia hidup jika ujung-ujungnya mati?

Itu semua bukanlah permasalahan serius. Itu hanyalah pemikiran sebagian besar manusia. Kenapa? Karena itu manusiawi. Sisi manusiawi manusia terkadang tak bisa dijawab dengan mudahnya oleh nalar. Ada bagian kehidupan yang harus terkuak, layaknya Mawar Biru yang tumbuh di antara Mawar Putih. Namun ada juga bagian kehidupan yang memang sudah hakikatnya untuk tetap misterius, layaknya Warna Biru yang menghiasi mahkota bunga Mawar Biru.

~***~

“Aku tidak suka ini!!” Nana membanting nampan yang berisi sup daging sapi di atas meja makannya hingga seluruh benda di atas nampan itu pecah. Nana mengerutkan kening sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Tapi Nona…. Menu hari ini memang sup daging sapi…. Nyonya besar sendiri yang sudah menjadwalkannya….” Ucap kepala pelayan sambil membungkukkan badan. Iapun member aba-aba pada pelayan lain untuk membersihkan lantai.

“Tapi aku tidak suka!!”

“Nana!!”

Kali ini, Mr. Goo menuruni tangga dengan wajah tegas. Nana melihat Ayahnya sekilas, lalu kembali menatap ke arah lain.

“Tidak bisakah kau berubah untuk menghargai kerja orang lain? Kepala Pelayan Kim sudah memasaknya untuk kita….”

“Tapi aku tidak suka….”

“tapi kau tak perlu mengatakannya dengan kasar…. Dia juga punya hati….”

“Kenapa Ayah membela kepala pelayan Kim? Sebenarnya siapa anak Ayah?”

“Kau ini…. Benar-benar kelewatan!!”

Nana hanya berdecak kesal, lalu memutuskan untuk keluar rumah menggunakan mobil pribadinya. “pagi ini, aku tidak sarapan!!”

Ayahnya menggeleng pelan, lalu berjalan pelan menghampiri epala pelayan Kim yang sudah bekerja 20 tahun di keluarga Goo. “kau sudah hafal tabiat Nana kan? Tolong maafkan dia ya….”

“Iya Tuan….”

Mr. Goo pun mendesah, lalu memandangi pintu depan rumahnya. “Dia itu…. Sudah berumur 17 tahun, tapi masih saja kekanak-kanakan….”

~***~

Di jalanan Seoul, Nana kembali berdecak kesal. Ia mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuknya di setir mobilnya. Jalanan yang biasanya lancar, kini macet total.

“Sialan….” Desisnya. “Memang ada apa sih? Kecelakaan?”

Tiba-tiba, seorang lelaki mengetuk-ngetuk kaca jendelanya. Seorang lelaki yang memakai baju yang kurang layak.

Dengan malas, Nana menurunkan kaca jendelanya, lalu melemparkan sekeping uang koin ke luar jendela sambil berkata, “Ambillah….”

Lelaki itu berusaha sabar. “Nona…. Aku tidak butuh uang koinmu…. Aku butuh bantuanmu….”

“Apa?” Nana tersenyum sinis. “kau ingin aku membantumu untuk jadi pengemis?”

“Bukan begitu!!” kali ini lelaki itu berbicara dengan nada tinggi dan nafasnya tersengal-sengal menahan emosi yang naik turun. “Adikku…. Adik perempuanku….”

“Kenapa memangnya?”

“Dia sakit…. Aku ingin nona menjaganya….”

“memang kau pikir aku Baby Sitter?”

“maaf kalau aku lancang…. Tapi, aku memang harus pergi mencarikan makanan untuknya…. Tapi aku juga tak mungkin membiarkannya sendirian, karena dia sedang sakit…. Sudah 3 hari ini kami tidak makan….”

Nana mengernyit. 3 hari tidak makan? Memangnya masih ada orang yang kesulitan seperti itu? Di jaman modern seperti ini?

“Baiklah….” Ucap lelaki itu, seolah bisa menjawab pertanyaan di benak Nana. “tanpa pengawasanku kemarin, dia memakan nasi…. Nasi buangan dari restoran yang dekat tempat tinggal kami….”

Nana tersentak.

“Maka dari itu…. Tolong temani dia…. Hari ini aku akan cari uang untuk membelikannya makanan, kalau bisa, aku juga ingin membelikannya obat sakit perutnya….”

Hati Nana yang biasanya acuh, kini merasa tersentuh. Ia pun mencabut kontak mobilnya dan membuka pintu. “Aku akan melakukannya….”

Seketika itu juga, lelai itu tersenyum lebar, lalu membalikkan badan. “ikuti aku….”

~***~

Nana menelan ludah ketika ia melihat bangunan rumah susun yang ada di depan matanya. Sangat mengerikan. Penampakan luarnya terlihat seperti besi berkarat.

“Nona….” Panggil lelaki itu membuyarkan lamunannya. “Ayo….”

Iapun mengikuti langkah lelaki itu untuk menaiki tangga demi tangga rumah susun itu.

“Lantai berapa sih?” ucap Nana sambil menggerutu kesal karena lelah mengikuti langkah lelaki itu yang terlalu cepat menaiki tangga.

“Lantai 8 nona….”

Nana hanya mengangguk-angguk tanda mengerti, dan meneruskan langkahnya.

Saat sampai, Nana melihat lelaki itu membuka pintu ruangan paling ujung.

“Ji Kyung….” Panggil lelaki itu sambil menghampiri seorang gadis kecil berumur 8 tahun yang tengah berbaring di atas kasur lantai. Sementara Nana menjelajahi sudut-sudut ruangan dengan pandangan matanya. Hatinya yang keras selama bertahun-tahun, tiba-tiba merasa iba. Hatinya sudah sedikit melunak.

“Oppa….” Panggil gadis itu. Wajahnya pucat.

“Oppa bawa seorang Unnie yang akan menemanimu saat Oppa kerja…. Kau tak akan kesepian lagi…. Ya?”

Gadis kecil itu menatap Nana lamat-lamat, lalu mengalihkan pandangan matanya ke kakaknya sambil tersenyum. “iya Oppa….”

Lelaki itu tersenyum dan mengacak rambut adiknya, lalu mengecup keningnya. “Oppa pergi dulu….”

Ji Kyung mengangguk. Lelaki itupun berdiri dan bergegas pergi. Sebelum pergi, ia tersenyum pada Nana dan membisikkan sebuah kalimat di telinga Nana, “Terimakasih….”

Saat lelaki itu pergi, Nana tersenyum pada gadis itu, lalu menutup pintu dan berjalan menghampirinya.

“Siapa namamu?” tanya Nana lembut.

“Jikyung….” Jawab gadis kecil itu. “Park Jikyung….”

“Oh….” Nana mengangguk pelan. “Kalau oppa-mu? Siapa namanya?”

“Lho? Unnie tidak tahu namanya?”

“Kami baru bertemu hari ini….”

“Aku kira Unnie temannya….” Gadis itu mendesah. “Namanya Chanyeol…. Park Chanyeol….”

“Oh….”

“kalau Unnie? Siapa nama Unnie?”

“Goo Nana…. Panggil saja Nana….”

“Nana Unnie?” ucap gadis itu meyakinkan.

Nana mengangguk sambil tersenyum.

“Nama yang bagus…. Sama seperti orangnya….”

Sedikit demi sedikit, Nana mulai menyukai anak-anak. Sebelumnya, ia sangat risih jika berada di dekat anak kecil. Contohnya, saat keponakannya yang masih TK bermain dirumahnya, pasti dia akan mencari berbagai macam alasan untuk keluar rumah.

Ji Kyung mengajak Nana bermain sesuka hatinya, hingga ia tidak merasa sakit seperti sebelumnya. Nana pun seakan lupa akan masalahnya yang ada di rumah, masalah tentang sarapan di pagi harinya.

Mereka terus berduaan hingga malam. Nana melihat keluar jendela. Matahari sudah tak terlihat, langit terlihat gelap. Perasaan senangnya pun berubah menjadi rasa khawatir.

“Bagaimana nasib mobilku? Dan, kemana saja Chanyeol, sampai selarut ini masih belum pulang?”

“Unnie!!!”

Tiba-tiba Ji Kyung menjerit sambil memegangi perutnya. Nana panik.

Ji Kyung meringis kesakitan sambil menangis. Berulangkali ia menyebutkan nama Chanyeol.

“Tenanglah…. Sebentar lagi Oppamu akan datang….”

“sakit!!!”

“ya…. Dengan tingkahmu yang seperti ini sudah pasti aku tahu kau merasakan sakit!!!” gerutu Nana dalam hati. Sisi tidak sabarnya muncul secara perlahan, namun ia berusaha mengendalikannya.

Beberapa saat kemudian, Chanyeol datang sambil membawa sebungkus nasi untuk adiknya.

“Jikyung….”

Chanyeol berjalan cepat menghampiri adiknya sambil tersenyum kecil. “makanlah….”

Jikyung berusaha duduk. “Apa ini Oppa?”

“kakak bawa sup kentang….”

Jikyung menyambarnya dengan cepat, lalu melemparkannya ke sudut ruangan, membuat Nana kaget. Chanyeol hanya diam, tak bereaksi apa-apa.

“Aku tidak suka kentang oppa!!! Bukankah oppa tahu hal itu??!!”

“iya…. Tapi…. Uang oppa hanya cukup untuk beli sup kentang…. Maaf ya….”

“Aku memang lapar oppa…. Tapi bukan berarti aku mau makan semua yang ada!!”

“HEH!!!”

Nana memegangi kedua pipi Jikyung dengan tatapan mata marah, membuat Jikyung ketakutan. Chanyeol pun tersentak kaget. “Nona….”

“Kau itu tak tahu terimakasih ya…. Bahkan pada oppa-mu sendiri….” Nana tersenyum sinis. “kau itu tak tahu caranya bersyukur ya? Masih untung, satu-satunya Oppamu masih mau mengurusimu…. Masih mau mencarikan uang untuk membelikanmu sebungkus nasi…. Kau tidak tahu, diluar sana masih banyak orang kelaparan, namun tak punya sanak saudara yang peduli pada mereka….”

“Nona…. Aku mohon hentikan….” Chanyeol berusaha melepaskan tangan Nana dari pipi Jikyung. “dia masih kecil….”

“Justru karena dia masih kecil, dia harus diajari arti hidup yang sesungguhnya….” Kali ini Nana menyeringai. “kalau aku jadi Oppamu, aku lebih memilih untuk meninggalkanmu, menitipkanmu di pant asuhan…. Mengurus diri sendiri saja sudah susah, apalagi mengurus adik yang tak tahu diri sepertimu?”

Kali ini Jikyung menunduk. Perlahan, Air matanya mengalir di pipinya.

Setelah melihat air mata mengalir di pipi Jikyung, Nana melepaskan pegangan tangannya. “rasakan…. Karena ulahmu…. Kau harus menahan rasa sakit diperutmu sehari lebih lama, karena kau sudah membuang jatah makanmu untuk hari ini….”

Isak tangis Jikyung kini mengeras.

“Ucapkan maaf pada Oppa-mu….” Desis Nana kemudian.

Dengan ragu, Jikyung mengangkat kepalanya dan menatap Oppanya. Chanyeol membalas tatapan matanya dengan senyum penuh rasa sabar.

“Maaf Oppa….” Jikyung memeluk oppanya erat. Chanyeolpun memeluknya sambil menepuk-nepuk punggung adiknya.

Chanyeol menatap Nana yang duduk disampingnya sambil tersenyum. “terimakasih….”

Nana hanya mengangguk. Iapun memikirkan ucapan yang ia katakan pada Jikyung, dan mencernanya baik-baik dalam pikirannya.

Ia kembali teringat pada breakfast accident di pagi harinya. Apa yang dilakukan Jikyung sama persis dengan yang ia lakukan. Kenapa dia bisa menasihati Jikyung seperti itu?

~***~

Esoknya….

Chanyeol dan Nana berjalan menyusuri trotoar jalanan Seoul. Hari itu, Jikyung lebih memilih untuk tinggal bersama bibinya sampai ia sehat sepenuhnya. Ia tak mau lagi membebani oppa-nya yang sangat ia cintai.

“Kau tidak masalah tidur di tempatku tadi malam?” tanya Chanyeol.

“tidak…. Tidak masalah…. Lagipula, adikm terlihat nyaman tidur bersamaku….”

“bukan itu maksudku….”

“lalu apa?”

“orang tuamu….”

“Ehm…. Entahlah….” Ucap Nana santai Walau sebenarnya di benaknya terus berutar rangkaian kata maaf yang akan ia ucapkan didepan orang tuanya. “biarlah…. Toh, hari ini juga aku pulang….”

Chanyeol hanya mengangguk-angguk.

“maafkan sifat adikku yang kemarin ya….” Ucap Chanyeol.

“Kenapa minta maaf padaku? Dia ‘kan, melakukan kesalahan padamu, bukan padaku….”

“iya sih…. Tapi, kau jadi merasa risih kan?” chanyeol menghela nafas. “itu efeknya…. Karena terbiasa jadi orang kaya…. Dia belum bisa menerima kenyataan kalau kami berubah menjadi miskin dalam waktu yang singkat….”

Nana mengernyit. “lho?”

Chanyeol mengangguk. “kami adalah orang yang kaya…. Tapi…. Ayah merubah semuanya…. Seluruh kekayaannya ternyata hanya hutang. Dia juga Bandar narkoba. Saat Ayah meninggal karena Over dosis, rumah kami disita, karena rumah itu jadi jaminan dari semua hutangnya…. Lalu, kehidupan kami berubah….”

“Oh…. Aku kira….” Ucapan Nana terhenti. Ia takut menyinggung perasaan Chanyeol.

“Apa?”

“Tidak…. Tidak ada apa-apa….”

Saat berada di tengah taman kota, Chanyeol menyuruh Nana untuk duduk di bangku taman. “duduklah…. Aku pergi sebentar….”

Nana memegang lengan Chanyeol yang hendak berlari. “Mau kemana?”

Chanyeol hanya tersenyum, lalu melepaskan genggaman tangan Nana. “tunggu saja….”

~***~

Setelah duduk di bangku kota selama hampir setengah jam, terlihat Chanyeol berlari menghampirinya sambil tersenyum riang. Di tangan kanannya, terdapat setangkai bunga mawar Biru.

“Aku kembali….”

Nana tersenyum. “kau membuatku menunggu lama…. Membosankan….”

“Maaf….”

Chanyeol pun memberikan sekuntum mawar biru itu untuk Nana. “Untukmu….”

“Hei…. Kau dapat bunga langka ini dari mana?”

Chanyeol tersenyum. “dari temanku…. Dia menjual berbagai macam jenis mawar…. Awalnya dia tak mau memberikannya padaku…. Tapi, setelah kupaksa…. Akhirnya dia mau….”

“Hoo…. Jangan-jangan, yang membuatmu lama itu, karena proses tawar-menawarnya?”

“Iya….”

Mereka tertawa.

“Tapi…. Kenapa kau memberikan bunga mawar biru untukku? Kenapa bukan bunga yang lain?”

Chanyeol pun tersenyum. Saat ia membuka mulutnya untuk angkat bicara, seseorang memanggil Nana.

“Nana!!!”

Lelaki paruh baya itu berlari merangkul Nana. “Kau ini…. Membuat Ayah khawatir saja….”

“Maaf….”

“Kemana saja kau ini??”

Ayahnya melepas pelukannya ketika Nana menggeliat.

“Nanti aku ceritakan….”

“Baiklah…. Ayo pulang….”

“tapi…. Yah….” Nana berucap. “perkenalkan…. Ini Chanyeol….”

Ayahnya memandangi Chanyeol dari bawah sampai keatas sambil mengernyit.

“Temanku….” Tambah Nana.

Ayahnya semakin heran. Seumur hidup, Nana tidak suka berteman. Sekalinya berteman, dengan orang yang tidak selevel dengannya?

Chanyeol hanya membungkukkan badan sebagai tanda hormat.

“Ini…. Mawar biru ini…. Untuk apa?” Nana kembali menanyakannya.

“Alasannya…. Sebagai ucapan terimakasih, karena kemarin Nona sudah membantuku menemani adikku yang tengah sakit….” Kini Chanyeol kembali memanggilnya Nona, merasa ia tak mungkin berteman dengan Nana melihat ekspresi Ayahnya yang terlihat merendahkannya. “Alasan lain…. Akan mulai terkuak, jika di lain ruang dan waktu, kita kembali bertemu….”

Chanyeol membungkukkan badan, dan tersenyum menatap Nana dan Ayahnya. “Selamat tinggal….”

Saat Nana bergegas memegang tangan Chanyeol, tangan Ayahnya sudah bergerak menggenggam tangan Nana dan menariknya. “Ayo pulang….”

Chanyeol menghela nafas. Ia tahu pasti apa makna dari Mawar Biru.

Mawar Biru itu, melambangkan perasaan yang tak mungkin bisa disampaikan atau di ungkapkan pada orang lain. Singkatnya, Mawar Biru itu lambang keputus-asaan.

“Kau lucu Chanyeol…. Dalam waktu singkat kau bisa mencintai seorang gadis….”

“Ya…. Aku memang lucu…. Bukankah cinta itu buta? Saking butanya, kita tak bisa mengendalikannya dengan baik….”

“Ya…. Kau sama bodohnya seperti Mawar Biru yang mau saja diperdaya oleh tangan manusia yang merubahnya dari Merah menjadi Biru….”

“Ya…. Aku adalah mawar Biru itu…. Dan tangan manusia adalah cinta yang menyesakkan ini…. Bukankah kau puas mendengarnya?”

Begitu seterusnya. Dua sisi batin Chanyeol saling mengucapkan kata makian, hinaan, dan kata pasrah. Hingga akhirnya mereka diam, lelah untuk berargumentasi.

“Intinya…. Aku adalah Mawar Biru yang bodoh karena Cinta….” Ucap Chanyeol kemudian sambil tersenyum, lalu tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri yang sudah terlalu bodoh untuk tergesa-gesa merasakan cinta pada seorang gadis yang baru ia kenal.

4 thoughts on “(Oneshoot) Blue Rose in My Life

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s