[Freelance] Failed Revenge part 7


Author         : Shafira Firdaus [cloudsungie]
Tags             : All member of Super Junior
Catatan        : Cerita ini adalah cerita fiksi. Semua yang terjadi disini murni buatan

author. Jadi kalau ada kesalahan apapun mohon dimaafkan.
Poster by illuth@parrkyuri.wordpress.com

 

CHAPTER 7 [SIWON]

Aku yakin sekali Ryeowook sangat syok saat ini. Tapi dia tetap berusaha tegar seolah-olah nyawanya tidak terancam. Ia tetap tersenyum, memasak untuk kami dan bercanda dengan Heebum serta Ddangkoma. Kami khawatir ini permulaan dari masa kegilaannya. Kudengar orang yang seperti ini bakalan gila ujung-ujungnya.

Aish! Bicara apa aku? Nyawa Ryeowook sedang terancam! Ah! Tapi, omong-omong soal gila, ada yang lebih gila dari Ryeowook. Ya, Yesung hyung. Kalian tahu? Saat ini nyawa Ryeowooklah yang terancam tapi seharian Yesung hyunglah yang menangis. Dia berkali-kali mengajakku ke gereja hanya untuk berdoa kepada Tuhan untuk perlindungan nyawa Ryeowook. Padahal yang diancam saja masih bisa tersenyum. Sudah kuduga YeWook itu real.

“Sudahlah, hyung. Berhenti menangis. Gwenchana. Jinjja.” Ryeowook mengelus-ngelus pundak Yesung hyung yang menangis di sofa dorm. Hampir semua member sudah menghiburnya tapi Yesung hyung belum bisa berhenti menangis.

“A-aku tidak mau kehilanganmu, Wook. Aku sayang padamu. Saranghae…” Isak Yesung hyung. Kalau ini dalam keadaan biasa aku yakin pasti Kyuhyun atau Heechul hyung bakalan menertawakan mereka.

“Gwenchana, hyung. Aku tidak apa-apa. Lagipula sudah banyak polisi disana. Aku bakalan baik-baik saja.” Ucap Ryeowook sambil tersenyum.

“Ne, hyung. Tenanglah.” Aku nimbrung. Kurangkul tubuh Yesung hyung.

“Aku takut, Wook… pokoknya kau tidak boleh kemana-mana tanpaku!” Yesung hyung melepas rangkulanku dan langsung memeluk Wookie. Oke, aku dicampakkan.

“Ya! Hyung! Berhentilah bersikap menjijikan seperti itu! Wartawan masih banyak diluar sana!” Seru Kyuhyun sambil melempar bantal sofa ke arah Yesung hyung. Dia memasang evil smirk-nya.

“Diam kau, Kyuhyun!” Yesung hyung melempar balik bantal itu, yang ditangkap Kyuhyun hanya dengan satu tangan.

Zrrtt… tiba-tiba lampu padam. Padam total sampai aku tidak bisa melihat apa-apa.

“Ya! Ada apa ini?!” Aku mendengar suara Leeteuk hyung.

“Ryeowook! Dimana kamu?” Kali ini suara Yesung hyung sambil menggrepe-grepe tubuhku.

“Ya! Hyung! Aku Siwon! Bukan Ryeowook!” Aku menangkis kedua tangannya dengan sebal.

“Ah, mianhae.” Ucapnya.

“Kenapa tiba-tiba mati lampu?”

“Molla. Tumben sekali.”

“Buka jendelanya!”

“Bagaimana membukanya! Benar-benar tidak ada cahaya disini!”

“Lagipula kalaupun dibuka juga ini sudah malam! Tak mungkin ada cahaya!” Komentarku entah pada siapa. Suara mereka terdengar sama.

“Ryeowook!” Kali ini aku mendengar sebuah suara memanggil Ryeowook. Tapi bukan Yesung hyung. Nuguya?

“Ne! Waeyo? Yesung hyung?”

“Ani! Bukan aku yang memanggilmu, Wook!” Kudengar suara Yesung hyung dengan jelas. Kurasa dia masih ada disampingku.

“Semuanya tetap di tempat!” Kali ini kudengar suara Leeteuk hyung.

“Ya! Lepaskan! Nugu?” Terdengar pekikan Ryeowook. Suaranya semakin jauh.

“Ryeowook?! Apa yang terjadi?” Aku berdiri. Berusaha meraba-raba udara di sekitarku tapi tetap tidak menemukan benda untuk tempat berpegangan.

“Ya! Apa yang kau—” Ryeowook menggantung kalimatnya. Dan selang waktu sedetik, kudengar teriakan Ryeowook semakin lama semakin kecil.

“Ryeowook!!! Waeyo?! Dimana kau?!” Aku tidak tahu ini suara siapa.

“Wook! Dimana kau!? Ayolah, cepatlah menyala!”

“Ryeowook! Kau dimana! Jawablah kami!” Kudengar Yesung hyung kembali berbicara.

Klik. Lampu menyala. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk.

“Mana Ryeowook?!” Yesung hyung terlihat panik. Sudah ada sebulir air mata di pelupuknya.

“Sabar, hyung, ayo kita cari.” Aku langsung berlari sambil menarik tangan Yesung hyung. Member lainnya juga mengikuti kami dari belakang.

“Kemana Ryeowook? Kok dia nggak ada dimana-mana sih?” Leeteuk hyung mulai frustasi. Member lainnya tampak garuk-garuk kepala dengan wajah bingung plus cemas.

“Sudah ke semua kamar? Siapa tau dia dikurung di lemari kamar.” Usul Kibum. Kami semua mengangguk setuju,

Kami semua berpencar ke setiap kamar di dorm sebelas. Tapi hasilnya nihil. Ryeowook tak ditemukan dimanapun.

“Bagaimana ini?” Yesung hyung semakin panik.

“Sabarlah, tidak mungkin dia menghilang!” Seru Heechul hyung.

“Hyung…” Kyuhyun tiba-tiba mencoel pundakku yang berada paling dekat dengannya. Aku menoleh. Kepalanya menghadap ke arah lain. Kuikuti pandangan matanya. “Jendela kamar Ryeowook hyung… terbuka.”

Glek. Ia benar. Satu-satunya jendela yang terbuka di sini hanya jendela kamar Ryeowook. Dengan asal angin masuk ke dalam dorm. Membuat suasana menjadi semakin menegang.

“Memangnya kenapa kalau jendelanya terbuka?” Tanya Shindong hyung.

“Aniyo. Aneh saja. Ah, abaikan saja.” Kyuhyun menepis pikirannya. Kurasa pikirannya dan pikiranku sekarang sama. Mungkin saja Ryeowook…

KRING-KRING-KRING! Telepon dorm berbunyi.

“Biar aku saja yang angkat.” Ujar Leeteuk hyung langsung hilang dari balik pintu. Kami semua menunggunya dengan cemas.

“Yeoboseyo?” Leeteuk hyung mengangkat telepon. “Ne, Leetuk imnida… i-ige mwoya? Ryeowook? Dibawah? Ngapain dia? Aish! Bilang padanya kami semua mencarinya… tidak bisa? Waeyo?… MWOYA?!”

***

NGUING NGUING NGUING NGUING

Dalam dua kali sehari aku mendengar bunyi mobil polisi. Aku menghela nafas. Aku sudah terlalu pusing dengan keadaan ini. Daritadi polisi bola-balik di hadapanku. Yesung hyung, Leeteuk hyung dan Shindong hyung tidak berhenti menangis. Kalau alasan Yesung dan Leeteuk hyung sudah jelas, tapi mungkin alasan Shindong hyung menangis karena sudah tidak akan ada lagi yang membuat makanan enak untuknya.

Aish! Pabo! Ngapain aku jadi berpikir ngelantur seperti ini. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dorm. Yang ada dipikiranku saat ini hanya tubuh Ryeowook, yang masih berlumuran darah segar dengan kepala terbentur hebat di aspal lapangan parkir apartemen. Benar-benar pemandangan yang tragis.

Aku sudah menduga, Ryeowook jatuh dari lantai sebelas apartemen kami. Aku sudah menduganya sejak Kyuhyun memberitahuku soal jendela yang terbuka itu. Dan ternyata dugaanku langsung terbukti saat satpam apartemen menemukan mayat Ryeowook di lapangan parkir belakang.

“Siwon, ayo kita memakamkan Ryeowook malam ini. Member lainnya sudah siap.” Leeteuk hyung menarik tanganku.

Dadaku langsung terasa sesak. “Ige mwoya? Semalam ini? Ini sudah pukul 11 malam, hyung! Siapa yang mengidekan hal gila ini?” Seruku sambil melirik ke arah jam dinding. Meskipun aku tipikal namja yang sangat memuja dan menghormati Tuhan, tetap saja mengunjungi pemakaman semalam ini bisa membuat bulu kudukku merinding.

“Aku juga sebenarnya tidak setuju. Siapa yang tidak takut mendatangi kuburan tengah malam seperti ini. Tapi Yesung bersikeras meminta jasad Ryeowook agar dimakamkan hari ini juga. Kau lihat tidak keadaannya tadi? Bisa gawat kalau kita tidak menurutinya.” Ujar hyung tertuaku ini. Memang keadaan Yesung hyung tadi sudah kelewat gila.

“Tapi hyung, bukankah keluar malam-malam seperti ini malah mengundang si pembunuh?” Aku terus mengelak. Ide gila macam apa ini.

“Otthoke? Tidak ada yang bisa kuperbuat, Siwon. Ayo, kamu harus ikut.” Leeteuk hyung kembali menarik tanganku. Terpaksa aku menurut.

***

          “Aish, sudah kubilang kan, seharusnya daritadi! Sekarang kita lewat mana?!” Umpatku kepada Yesung hyung dan Kyuhyun.

Kalian tahu? Gara-gara mereka berdua kita ditinggal oleh member lainnya ke pemakaman! Dua van SM sudah jalan terlebih dahulu ke lokasi pemakaman. Sekarang di depan apartemen sudah banyak sekali wartawan yang pasti tidak bakalan mengizinkan kami keluar dengan selamat.

“Ini sepenuhnya bukan salahku! Kyuhyunlah yang lama!” Seru Yesung hyung sambil menodong Kyuhyun. Matanya sudah bengkak sebesar pipinya saking banyaknya menangis.

“Aniyo! Kalau Yesung hyung nggak sok-sok an malu daritadi kan hyung sudah berangkat!” Bantak Kyuhyun. Memang alasan Yesung hyung nggak mau ikut rombongan awal karena matanya masih sangat bengkak. Ia malu jika harus bertemu wartawan dengan mata sebesar itu. Kalau Kyuhyun apalagi alasannya kalau bukan tentang games-nya itu.

“Sudah! Kalian berdua sama saja!” Selaku. “Manajer hyung sudah menyiapkan sedan hitam kecil buat kondisi seperti ini. Tapi aku susah kalau harus nyetir sedan.”

“Aku tidak mau karena mataku bengkak seperti ini. Apalagi sudah malam.” Yesung hyung langsung mengangkat tangannya.

“Arra, aku yang nyetir.” Ucap Kyuhyun. “Mana mobilnya?”

“Di depan apartemen. Makanya, kita harus bisa ngelewatin wartawan-wartawan itu.” Ucapku.

“Nggak bisakah manajer hyung bawa kesini?” Tanya Yesung hyung.

Aku menggeleng. “Manajer hyung sudah sangat keepotan meladeni wartawan-wartawan itu. Lagipula dia juga kayaknya sibuk membatalkan schedule dimana-mana.”

“Yaudahlah, ayo kita tembus aja wartawannya.” Seru Kyuhyun.

“Mataku masih bengkak!”

“Aish! Paboya hyung! Kau yang mengidekan ide gila agar memakamkan Wookie malam ini. Sekarang kau yang tidak mau berangkat.” Kyuhyun memukul kepala Yesung hyung. Anak ini memang tidak sopan.

“Tampaknya tadi aku ngomong tidak pake otak.” Ucap Yesung hyung dengan wajah tanpa dosa. Aku memukul jidatku.

“Tapi member lainnya sudah pada di sana semua! Hyung enak saja kalau mau membatalkannya.” Seruku.

“Sebenarnya…” Yesung hyung tampak ragu berbicara. Matanya berputar-putar. “Aku takut hantu, eh.”

“MWOYA!?” Aku dan Kyuhyun sama-sama menganga. Aish! Sudah kuduga hal ini. Yesung hyung pabo!

“Eheheh, mau diapakan, Won-ah.” Yesung hyung memasang tampang tanpa dosa.

“Ya! Kau sudah terlalu banyak bicara, hyung! Ayo kita pergi.” Kyuhyun dengan paksa menarik tangan Yesung hyung. Aku mengikuti mereka berdua di belakang.

Ternyata keadaan diluar sudah tidak seburuk yang kami bayangkan. Hanya ada 5-10 wartawan. Sebagian besar wartawan lainnya sudah kecape-an mungkin. Atau sudah diurus oleh manajer hyung. Kamipun hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan dan bisa langsung pergi.

Kyuhyun menginjak pedal gas. Mobil sedan hitam apek ini langsung melaju kencang membelah jalanan malam.

***

Semenit… dua menit… lima belas menit sudah terlewat. Jalanan kota Seoul mulai sepi ketika kami sudah memasuki daerah pinggiran kota. Ya, jauh dari pusat kota. Kulihat Kyuhyun sedang sibuk dengan GPS di depannya.

“Kyu, apa kamu nggak hapal jalanan ke pemakaman?” Tanyaku.

“Ne, aku memang tidak hapal.” Jawabnya enteng. Aku dan Yesung hyung bertatapan sebentar.

“Lalu kalau kita tersesat gimana dong?” Yesung hyung langsung melirik ke luar jendela. “Kayaknya waktu ke pemakaman Donghae kemarin nggak lewat sini deh.”

“Ne, kita memang sudah tersesat.” Jawab Kyuhyun SANTAI. Kali ini aku dan Yesung hyung bertatapan lama.

“Ya! Kyuhyun! Kau gila ya?! Jangan mempermainkan kami, apa kita beneran sudah tersesat? Bagaimana ini?” Yesung hyung kembali panik.

“Tenanglah, hyung! Aku masih mengetahui daerah ini kok.” Ujar Kyuhyun sambil menyeringai evil.

“Kyuhyun pabo!” Umpat Yesung hyung.

“Kyuhyun, ini serius loh. Hyung nggak bawa ponsel, jadi jangan sampe tersesat dong.” Tuturku dengan lembut.

“Diamlah hyung. Aku mengerti.” Kyuhyun membelokkan mobil ke kanan. Karena terlalu mendadak, kepala Yesung hyung beradu dengan kepalaku.

“Ya! Siwon! Keras sekali kepalamu!” Seru Yesung hyung.

“Mian-mian.” Jawabku pelan sambil menggosok kepalaku. “Kyuhyun! Pelan-pelan nyetirnya!” Seruku pada Kyuhyun. Aku melihat ke depan. Kyuhyun tampak sibuk dengan perseneling dan setirnya. Wajahnya sedikit panik. “A-ada apa, Kyu?”

“Molla.” Dia menggerak-gerakkan perseneling-nya berkali-kali. “Ada yang aneh dengan mesinnya.” Deg. Dadaku berdegup kencang. “Sial! Rem dan persenelingnya tidak berfungsi hyung!” Serunya menoleh ke belakang.

“Jinjja? Bagaimana ini?!”

“Kyuhyun! Depan-depan! Ada truk!!!!” Yesung hyung berteriak histeris. Aku buru-buru menoleh ke depan. Benar saja, tidak jauh dari kami ada sebuah truk yang berjalan ke arah kami.

“Sial.” Kyuhyun memutar-mutar setirnya. Mobilpun bergerak abstak. Ke kanan, ke kiri dan kadang terputar. Kepalaku sudah sangat pusing karena mobil ini. Truk itu semakin lama semakin mendekat.

TTIIIIIIIIIIIINNNNNN!!!!!!! Terdengar suara klakson truk yang memekakkan telinga. Dan setelah itu, semuanya menjadi gelap.

***

To be continued

P.S.

Mian ya kalau ceritanya semakin lama semakin maksa. Mian juga atas bunyi suara mobil polisi yang sarap itu-> nguing nguing😀.

One thought on “[Freelance] Failed Revenge part 7

  1. Haduh….
    udah kehabisan kata-kata sama fanfict ini….
    Berharap gak ada korban lagi, tapi korbannya malah makin banyak…
    sebenernya siapa sich pembunuhnya, penasaran banget ^_^V
    #maafbawel

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s