[Freelance] Failed Revenge part 5


Author         : Shafira Firdaus [cloudsungie]
Tags             : All member of Super Junior
Catatan        : Cerita ini adalah cerita fiksi. Semua yang terjadi disini murni buatan

author. Jadi kalau ada kesalahan apapun mohon dimaafkan.
Poster by illuth@parrkyuri.wordpress.com

CHAPTER 5 [SUNGMIN]

“Ini sudah benar-benar kelewatan! Siapapun yang melakukan ini tidak akan kubiarkan hidup tenang!”

“EUNHYUK-YA! Berhenti berteriak-teriak seperti itu! Semua disini juga marah dan sedih!”

“Tapi aku tidak terima, hyung! Hyung tidak tahu betapa sayangnya aku dengan Donghae!”

“Hyung ngerti dan hyung juga sayang dengan Donghae! Berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini!”

“Hyung tidak mengerti dan tidak akan pernah!”

“Leeteuk hyung! Eunhyuk hyung! Berhenti bertengkar! Kalian membuat kami tambah pusing!”

“DIAM KAU CHOI SIWON!”

Aku menutup telingaku rapat-rapat. Sama sekali tidak ada niat untuk mendengarkan umpatan dan bentakan mereka di ruang tamu. Aku berjalan pelan ke arah kamar, masih dengan tangan di atas telinga. Aku sudah terlalu syok menghadapi kejadian tragis tadi. Masih lagi ditambah dengan keributan ini. Aku sudah benar-benar pusing.

Kubuka pintu kamarku. Kyuhyunnie sedang duduk di pinggiran kasur—langsung menatapku saat mendengar decitan pintu. Dia tersenyum ke arahku.

“Gwenchanayo, hyung? Ada apa denganmu?” Tanyanya sambil mendekatiku. Aku langsung menjatuhkan diri tepat di atas bantal hati merah mudaku.

“Aku sudah tidak kuat, Kyu. Kejadiani ini terjadi terlalu cepat. Aku masih belum siap menerimanya. Keadaan diluar ribut sekali, tambah membuatku pusing.” Tuturku pelan sambil membenamkan wajah di atas bantal hati tadi. Kurasakan belaian di rambutku.

“Sabar, hyung. Semua yang hidup pasti bakalan mati. Semua pertemuan selalu diakhiri dengan perpisahan. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa untuk Donghae hyung.” Kudengar kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tenang. Ya, member yang paling menerima kejadian ini adalah Kyuhyunnie. Wajar saja karena dia baru kenal dengan Donghae selama seminggu. Tapi kurasa apa yang dia katakan barusan tulus.

“Kyu…” Panggilku sambil merubah posisi kepalaku menghadap dinding.

“Ne?” Sahut Kyuhyun.

“Menurutmu siapa orang yang telah tega melakukan ini kepada Donghae?” Tanyaku sembari duduk menatap dongsaeng kesayanganku ini. Kyuhyun langsung menunduk. Matanya berputar-putar seolah berpikir keras.

“Molla, hyung.” Jawabnya akhirnya. Aku mengangguk lemah. “Menurutku sih ini semua ada hubungannya dengan Hye Jung. Siapa tau… ini murni perbuatan Hye Jung.”

Aku langsung tersentak kaget. “Hye Jung? Yeoja itu sudah mati, Kyu. Tidak mungkin dia yang melakukannya.”

“Bukan Hye Jung manusia maksudku, Hye Jung hantu.” Jawabnya dengan wajah datar. Seolah-olah hal yang dia katakan barusan bukan masalah besar. “Meskipun ini sudah abad 21 aku tetap mempercayai hal seperti itu, hyung.” Tambahnya lagi. Tapi kali ini sebuah evil smirk terpahat di bibirnya yang tipis itu.

“Kau hanya menakutiku saja, Kyu. Jangan harap aku percaya dengan omonganmu.” Aku memukul lengan Kyuhyunnie. Ia langsung terkekeh.

“Tapi mungkin saja kan? Apa pesan di ponsel Donghae tidak meyakinkan?” Sangkal Kyuhyun. Aku menyerngitkan dahi.

“Pesan apa?” Tanyaku bingung. Aku benar-benar tidak tahu soal pesan yang dia omongkan. Dia langsung memukul dahinya.

“Oya! Aku lupa memberitahukan hyung dan yang lainnya. Tadi pihak kepolisian yang meringsut kasus ini memberitahuku sesuatu, hyung.” Kyu berdiri dari hadapanku dan berjalan ke arah meja rias. Ia mengambil sebuah kertas yang kuyakini selembar foto. “Ini.” Dia memberikanku dua lembar foto. “Polisi menemukan dua pesan aneh dari nomor tidak dikenal di ponsel Donghae hyung. Yang pertama dikirim tadi siang, pelakunya menyuruh Donghae hyung datang ke Gangnam sendirian, disertai ancaman pula. Kalau yang kedua dikirim tepat setelah Donghae hyung dibunuh. Nomornya sama, dan berisikan pesan ba-bahwa—”

“Eunhyuk?! Eunhyuk yang selanjutnya?!” Aku benar-benar syok membaca pesan yang kedua. Dalam potret yang kedua, ponsel Donghae membuka sebuah pesan yang berisikan ‘You Must Pay It! And wait for my next action, Lee Hyukjae. From: HYE JUNG.’

Tanganku bergetar hingga selembar foto itu jatuh dari tanganku. Kyuhyun mengambilnya. “Bagaimana, hyung? Apakah kita harus memberitahu Eunhyuk hyung?” Tanya Kyuhyun dengan wajah cemas. Aku menggeleng.

“Andwae, Kyu. Aku yakin sekali Eunhyuk bakalan terpukul dengan pesan ini.” Aku dengan yakin menolak. Ya, kehilangan Donghae saja bisa buat Eunhyuk gila seperti ini, apalagi diberitahu soal pesan ini.

“Tapi hyung,” Kyuhyun tampak tidak setuju. “Kalau Eunhyuk hyung tidak tau hal ini, lebih membahayakan nyawanya, hyung. Eunhyuk bisa dengan seenaknya keluyuran tanpa ada yang mengawasi. Kalau kita beritahu kan siapa tau dia bisa menjaga diri dan tidak keluar dari dorm. Kita lebih mudah untuk menjaganya.”

Aku langsung merenungkan pendapat Kyuhyun. Memang benar. Kupikir Eunhyuk harus tau apa yang sebenarnya terjadi.

“Baiklah, malam ini kita beritahu Eunhyuk dan member lainnya. Kuharap kamu mau menemani aku ngomong, Kyu.”

“Ne. Tentu saja.” Jawabnya sambil tersenyum.

***

“Ada apa, hyung? Kyu? Cepat katakan! Mood-ku benar-benar tidak baik sekarang!” Bentak Eunhyuk sambil menyilangkan tangannya di pinggang. Aku memutar otakku. Tampaknya aku harus berpikir dua kali tentang rencanaku untuk memberi tahu Hyuk soal pesan tadi. Apalagi keadaan Hyuk yang masih emosional seperti ini.

“Diamlah, Hyung!” Seru Kibum keras. “Katakanlah, Sungmin hyung.”

“N-ne.” Jawabku ragu. Aku menatap ke arah Kyuhyun yang berdiri di samping sofa yang kududuki. Ia membalas tatapanku dengan wajah antusias. Aku mengangguk mengerti. “Tadi sore polisi memberitahu kami berdua—tepatnya Kyuhyun sih—tentang pesan misterius di ponsel Donghae. Pesan itu dikirim oleh nomor tidak di kenal. Dan menurut nama yang tertera di bawah pesan itu, Hye Jung-lah yang mengirimnya.”

Wajah Leeteuk hyung, Kibum, Hankyung hyung, dan member lainnya yang berada di depanku berubah menjadi takut dan cemas. Suasana menegang. Aku tau, ini bukan masalah kecil.

“Pesan pertama,” aku mengangkat selembar foto yang tadi diberikan Kyuhyun kepadaku. “Adalah pesan yang menyuruh Donghae pergi ke jalan sempit Gangnam-gu, disertai ancaman juga jika ia tidak datang.” Lanjutku.

“Apa karena pesan itu tadi siang Donghae pergi tanpa memberitahu kemana?” Leeteuk hyung mengangkat tangan. Wajahnya sangat antusias.

“Ne. Saat Donghae hyung bilang ia akan pergi ke acara penting.” Kyuhyun yang menjawab. Karena aku memang tidak tahu apa-apa soal kepergian Donghae siang itu.

“Lalu pesan yang kedua?” Kali ini Siwon yang berbicara.

“Pesan yang kedua berisi…” Aku mulai ragu mengatakan ini. Kualihkan pandanganku ke arah Eunhyuk yang menatap dinding datar. Aku dapat melihat dibalik wajah datarnya itu tersembunyi perasaan cemas dan takut. Sial, aku semakin tidak sanggup saja mengatakannnya. Siapapun yang melakukan ini harus membayarnya!

“Ada apa, Ming? Apa pesan yang kedua?” Pandanganku langsung beralih ke arah Yesung hyung yang tampaknya penasaran dengan isi pesan kedua.

Aku kembali menatap Kyuhyun. Wajahnya yang evil itu menunjukan kekhawatiran. “Lanjutkan saja, hyung.” Ucapnya datar.

“Tapi…” Aku benar-benar tidak sanggup mengatakannya. Aku tidak bisa membayangkan ekspresi Eunhyuk selanjutnya.

“Kalau hyung tidak bisa biar aku saja.” Kyuhyun langsung mengambil foto kedua dari tanganku. Aku hanya bisa menurut. “Pesan yang kedua berisi kalimat bahwa korban selanjutnya adalah Eunhyuk hyung.”

DEG DEG. Semua pandangan langsung mengarah ke arah Eunhyuk yang terkejut hebat di sofa sebelah Shindong hyung.

“Mwo?! Aku?” Eunhyuk terlihat benar-benar syok. “Tidak mungkin! Kalian pasti Cuma menakut-nakutiku kan? Mana buktinya?”

“Ini Hyuk hyung.” Kyuhyun memberikan foto pesan kedua kepada Eunhyuk. Eunhyuk berjalan menghampirinya dan mengambil foto itu dengan ragu. Member lain langsung mengerubunginya.

“Omo…” Ryeowook menatap tak percaya.

“Aigo! Siapa yang berani melakukan ini?” Leeteuk hyung tampak marah.

“Ani…” Eunhyuk menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dilihat. Jujur reaksinya terlalu berlebihan. “Kenapa harus aku? Apa salahku? Ani! Aku belum mau mati!” Jeritnya.

“Tenanglah, Hyuk. Kami akan mencari pelakunya.” Leeteuk hyung berusaha menenangkan Hyuk.

“Ne, kita akan melindungimu. Jangan sekalipun kamu keluar dari dorm tanpa pengawasan.” Lanjut Siwon berusaha merangkul tubuh Hyuk tapi langsung ditepis kasar olehnya. Aku terkejut.

“Menjauhlah kalian! Jangan kalian pikir aku tidak mencurigai kalian! Jangan ada yang berani mendekatiku! Aku tidak mau mati!” Pekiknya langsung berlari ke arah kamarnya.

BLAM! Terdengar suara pintu yang dibanting keras. Aku menghela nafas. Sudah kuduga ini bukan saat yang tepat untuk memberitahunya.

“Keadaan Hyuk sedang labil saat ini, seharusnya hyung tidak memberitahunya dulu.” Ujar Kibum.

“Mianhae, aku hanya—”

“Sudah, jangan salahkan Sungmin hyung. Akulah yang memaksanya untuk segera memberitahu Eunhyuk hyung.” Kyuhyun langsung berdiri di sampingku. Dia benar-benar dongsaeng yang baik.

“Sekarang semuanya kembali ke kamar!” Aku menoleh ke arah Leeteuk hyung yang sedang mengkomando dongsaeng-dongsaengnya. “Nanti biar aku yang bicara pada Eunhyuk!” Lanjutnya. Satu persatu memberpun mulai beriringan pergi meninggalkan ruang tamu dorm sebelas. Hingga akhirnya tersisa aku, Kyuhyun, dan Leeteuk hyung.

“Sedang apa kalian berdua disini? Kembali ke kamar!” Serunya. Aku mengangguk. Kyuhyun mengikutiku dari belakang.

***

“EUNHYUK!!!!!!” Aku berteriak histeris. Nafasku tersengal-sengal tidak beraturan. Keringatku mengalir meskipun AC di kamarku sudah menunjukan suhu 20 derajat. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru arah.

Mimpi buruk. Sial. Aku kembali berkutat dengan guling dan selimutku. Perasaanku tidak tenang. Akhirnya aku memutuskan untuk bangun.

Aku berjalan ke arah dapur. Lebih baik aku meminum susu dulu.

DEG DEG. Aku mengedarkan pandangan di sekitar dapur. Aku merasa ada yang tidak beres. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi. Eunhyuk? Mungkin saja dia yang ada di balik rasa cemasku ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamar Eunhyuk. Pelan-pelan kutapaki lantai keramik menuju kamar dongsaengku itu masih dengan segelas susu di tanganku. Hatiku benar-benar tidak tenang. Keadaan dorm saat ini sunyi senyap. Membuat suasana hatiku semakin menegang. Mungkin saja seorang pembunuh berdarah dingin berkeliaran disini tanpa kami ketahui.

Tapi… apakah mungkin pembunuh itu seseorang diantara kami?

Pabo! Kutepis pikiran bodoh itu jauh-jauh. Meskipun belum setahun debut aku tahu benar bagaimana sifat member-member Super Junior. Tidak ada yang menunjukan sikap gila, psycho, atau semacamnya. Semuanya terlihat baik-baik saja. Paling hanya si Yesung hyung dan Heechul hyung yang kadang auranya aneh. Atau Kyuhyun yang tidak tahu sopan santun itu.

Langkahku terhenti. Tepat di depan pintu kamar Eunhyuk. Dadaku kembali dag dig dug tak keruan. Kuputar kenop pintu kamarnya dengan perlahan. Tapi tiba-tiba gerakanku terhenti oleh sebuah dentuman keras dari dalam kamar. Aku mendengarnya. Seperti benturan sesuatu. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi.

Dengan tekad yang kuat kubuka pintu kamar Hyuk perlahan tanpa suara. Aku membuat jarak sempit antara ujung pintu dan dinding sehingga aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Dan hatiku langsung mencelos.

Aku melihatnya. Benar, aku melihatnya. Melihat sesosok manusia yang tidak kukenal sedang membenturkan sesuatu dengan barbel 5 kilogram yang ada ditangannya. Ia mengenakan baju berwarna hitam disertai topi dan masker yang menutupi wajahnya. Ia sedang duduk di kasur Eunhyuk sambil memukul-mukulkan barbel itu ke sesuatu, di kasur itu. Dan bisa kulihat juga setetes dua tetes cairan keluar dari benda—atau sesuatu lain yang dipukulnya itu. Apakah orang itu Eunhyuk? Sedang apa dia? Memukul semangka? Terlalu gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa.

Aku membuka pintu semakin lebar. Membiarkan cahaya dari koridor masuk ke dalam kamar, memperjelas peristiwa itu. Tapi langsung kusadari bahwa tindakakanku fatal.

Orang itu langsung menoleh ke arahku. Aku bergidik ngeri. Tatapannya tajam dan… familiar. Aku pernah melihat mata orang ini. Aku buru-buru memutar otak. Mengulang saat dimana aku pernah melihat tatapan ini.

Tanpa kusadari orang itu berjalan ke arahku. Meninggalkan sesuatu yang dipukulnya tadi. Meninggalkan barbel itu tentunya. Aku kembali menatapnya. Menatap tatapan mata orang itu. Tetapi tatapanku langsung teralihkan ke arah sebuah benda bersinar berwarna silver di tangannya. Pisau.

Otomatis aku berancang-ancang untuk menjerit. Tapi sebelum aku sempat melakukannya, tangan orang itu yang ditutupi dengan sarung tangan bau langsung membekapku. Membuatku termundur beberapa langkah hingga akhirnya mentok dengan dinding koridor. Susu yang tadi kupegang sudah tumpah kemana-mana.

“Cih,” aku bisa merasakan dia berbisik dibalik maskernya. “Sayang sekali.”

Sebelum aku menyadari tatapan siapa itu, rasa sakit langsung menghujam perutku. Aku melihat cairan-cairan merah menciprat kemana-mana. Membasahi baju orang ini. Dan seketika, hanya gelap yang bisa kurasa.

***

To be continued

One thought on “[Freelance] Failed Revenge part 5

  1. andweee~~
    hahaha😀 aku teriak-teriak sendiri baca ff ini….
    antara takut, sedih, kecewa, ketawa juga ^^
    hufftt.. siapa sich sebenarnya yang ngebunuh itu -___-?

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s