[Freelance] Failed Revenge part 2


Author         : Shafira Firdaus [cloudsungie]
Tags             : All member of Super Junior
Catatan        : Cerita ini adalah cerita fiksi. Semua yang terjadi disini murni buatan

author. Jadi kalau ada kesalahan apapun mohon dimaafkan.

Poster by illuth@parkkyuri.wordpress.com

CHAPTER 2 [EUNHYUK]

Kubuka mataku pelan-pelan. Aish, rasanya berat sekali. Apa yang terjadi sih? Pertamakali yang kulihat adalah sosok Shindong hyung.

“Eunhyuk! Kau sudah sadar!” Terdengar teriakan keras Shindong hyung. “Tunggu ya, Hyuk. Aku akan memanggil dokter.” Ucapnya langsung pergi meninggalkanku yang masih kebingungan.

Dimana sih aku? Aw! Keningku langsung terasa sakit saat aku menyentuhnya.

“Ah, Hyuk hyung. Kau sudah siuman ya?” Terdengar suara Kibum saat pintu terbuka.

“Dimana aku, Bum?” Tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. “Rumah sakit?”

“Ne.” Jawabnya sambil menarik sebuah kursi ke sebelah tempat tidurku dan duduk disana. “Kecelakaan kemarin yang membawamu kesini.” Tambahnya. Kecelakaan? Oh, aku mengingatnya. Kecelakaan yang disebabkan truk besar kemarin. Tiba-tiba aku teringat dengan Leeteuk hyung dan yang lainnya. Jangan-jangan…

“Ke-kemana Leeteuk hyung dan yang lain?” Tanyaku panik. “Apa mereka…”

“Tenang saja.” Sela Kibum. “Mereka baik-baik saja, meskipun kaki Heechul hyung retak dan wajah Donghae hyung harus dibalut seperti mumi, hahaha. Tapi selebihnya baik-baik saja.” Terangnya. Aku menghela nafas lega.

“Tapi, kemana mereka sekarang?” Tanyaku lagi.

“Mereka menghadiri upaca pemakaman—”

“Mwo? Siapa yang meninggal!?” Detak jantungku kembali berpacu tak keruan.

“Park Hye Jung.” Tutur Kibum pelan. Aku menyerngitkan dahi. Nama Hye Jung begitu familiar di telingaku tapi aku benar-benar lupa siapa dia. Aku ingin bertanya tapi tampaknya Kibum keburu membaca pikiranku. “Hye Jung adalah yeoja yang waktu itu menyelamatkan kalian saat kecelakaan. Dia sengaja masuk ke dalam van untuk membantu kalian menyelamatkan diri. Jika tidak ada dia mungkin sekarang kalian…” Kibum menggantungkan kalimatnya. Tapi aku sudah mengerti maksudnya. Pertanyaan yang masih berputar-putar di dalam otakku adalah apakah Hye Jung yang dimaksud Kibum adalah Hye Jung yang kumarahi waktu itu?

“Apakah Hye Jung itu ELF yang kemarin kubentak, Bum?” Tanyaku. Aku mengharapkan jawaban tidak darinya.

“Ne.” Jawab Kibum datar. Dan sukses membuatku terkejut. “Leeteuk hyung sudah bercerita padaku bagaimana awalnya kalian mengenal Hye Jung. Kalian memarahinya kan? Tapi dialah yang menyelamatkan kalian pada akhirnya.” Mataku membesar. Bulu kudukku merinding. Kenapa yeoja itu meninggal secepat ini? Bahkan aku belum meminta maaf padanya! Gawat. Aku takut sekarang.

“Bagaimana dia bisa meninggal? Padahal kami semua selamat.” Tanyaku lagi.

“Dia terjebak di van beberapa detik sebelum van meledak. Leeteuk hyung sudah mati-matian ingin menyelamatkannya tapi tidak diizinkan polisi yang saat itu berada disana.” Terang Kibum lagi, seolah menerawang kejadian kemarin. Aku membeku. Tak bisa bergerak.

Yeoja menyebalkan yang nyaris membuat supir kami masuk penjara itu sudah meninggal? Ini mustahil. Dan dia meninggal karena kami? Karena aku? Ya Tuhan, tolong tenangkan lah jiwanya. Jangan biarkan dia menggentayangi hidup kami.

“Hyung, kau belum minta maaf padanya kan?” Kibum tersenyum licik padaku. Aku hanya bisa mengangguk. “Aku tidak tahu loh ya kalau kau dihantui nanti malam. Siapa tau nanti malam dia bakalan muncul di kamarmu dengan rambut panjangnya, darah bersimbah di sekujur tubuhnya, giginya panjang-panjang dan pisau daging di tangannya, lalu—”

“KIBUM!!!!!” Bentakku tidak tahan dengan ocehannya. Kibum tertawa melihatku tampak ketakutan. Aku tidak peduli. Aku memang benar-benar ketakutan sekarang.

“Sudah ya, hyung. Aku pergi dulu. Shindong hyung lama sekali memanggil dokter. Selamat bermalam dengan hantu hyung…” Ucapnya sambil berlari meninggalkan kamarku. Sial, kenapa dia meninggalkanku sendirian?

***

          “Eunhyuk, kau sudah baikan?” Tanya Leeteuk hyung saat eommaku baru saja keluar dari kamar. Kedua tangannya diperban penuh dan di wajahnya banyak sekali plester.

“Ne, hyung. Gwenchanayo.” Jawabku pelan. “Kemana saja kau seharian? Masa menghadiri upacara pemakaman saja sampai seharian penuh? Mana Donghae?” Tanyaku tak sabar. Ya, sejak tadi siang Leeteuk hyung, Donghae, Heechul hyung, Ryeowook dan Yesung hyung sama sekali tidak menyentuh kamarku.

“Mianhae, Hyuk-ah. Sehabis pulang dari pemakaman, aku harus datang ke rumah orang tua Hye Jung untuk meminta maaf. Sulit sekali meredakan amarah mereka. Apalagi namjachingu-nya itu. Selama pemakaman namjachingu Hye Jung tidak bisa berhenti menangis. Untung saja kita tidak dituntut oleh orang tua Hye Jung.” Ujar Teuk hyung lemah. Tampaknya keadaannya belum pulih total. “Oya, soal Donghae, ia sedang menjalankan perawatan wajah. Banyak sekali luka di wajahnya. Untung ketampanannya tidak hilang, haha.”

“Bagaimana dengan yang lain, hyung?”

“Gwenchana, Hyuk. Hanya saja Heechul kakinya harus di gips. Kalau Ryeowook dan Yesung sudah baik-baik saja.” Ujar Leeteuk hyung. Perkataannya langsung membuatku tenang. “Ng… aku hanya ingin mengetahui keadaanmu saja, Hyuk. Sudah malam, aku kembali ke kamarku ya? Kamar rawatku hanya berjarak 2 kamar saja dari sini. Kalau ada apa-apa tekan saja tombol nurse help. Besok pagi Hankyung janji membuatkanmu nasi goreng Beijingnya. Jaljayo, Hyuk-ah.” Leeteuk mengacak-ngacak rambutku dan berdiri sembari meninggalkanku di kamar. Ia mematikan lampu kamarku tanpa seizinku.

Clap… pintu kamarku tertutup. Kini sudah tidak ada sumber cahaya lagi. Aku buru-buru mengambil ponselku yang ada di meja kecil di sebelah tempat tidurku untuk penerangan. Sial, bulu kudukku meremang.

Satu jam… dua jam… tiga jam telah terlewat. Aku masih belum bisa terlelap. Kupandang layar ponselku. Pukul 12.30 malam. Aku mengubah posisi tidurku ke sebelah kanan. Dapat kurasakan hembusan angin malam menghantam tubuhku. Ku buka mataku. Jendela kamarku terbuka lebar. Tirainya berkibar karena angin malam yang terus menghantamnya.

Dengan susah payah aku bangun. Berjalan pincang-pincang dengan infus yang masih menancap di tangan, kututup jendela itu rapat-rapat. Kepalaku kembali terasa pusing. Aku kembali ke tempat tidurku. Mencari posisi enak agar bisa tidur dengan tenang. Aku meraba-raba kasur, mencari ponselku.

Loh kok tidak ada? Aku mengibaskan selimutku. Ponselku tidak ada dimana-mana. Aku mengedarkan pandangan ke lantai kamar. Tidak ada dimana-mana. Aku kembali turun dari tempat tidur. Dengan susah payah aku merangkak mencari ponselku.

Kulihat ada sesuatu menyala-nyala dari bawah kolong tempat tidurku. Ah, itu dia ponselku. Tapi kenapa menyala-nyala ya? Mungkin ada pesan masuk.

Akhirnya dengan infus yang masih menancap aku bersusah payah merangkak ke kolong tempat tidurku. Menahan rasa sakit di kaki dan kepala yang terus mengangguku. Gotcha! Aku berhasil mengambil ponselku. Tapi kenapa susah sekali ditarik? Dengan sedikit cahaya yang berasal dari ponselku aku bisa melihat keadaan di kolong ini. Kunaikkan ponselku sedikit ke atas, berniat melihat keadaan kolong lebih jelas. Tubuhku langsung membatu seketika, ketika kulihat sesosok bayangan aneh dengan wajah tertutup rambut dan kulit pucat menatap lurus ke arahku.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!”

***

Eunhyuk! Bangun!

Dasar pemalas, ini sudah siang!

Hei bangunlah!

Aku membuka mataku perlahan. Aku merasakan sekujur wajahku basah.

“Sudah kubilang kan, Eunhyuk akan bangun jika disiram air.” Terdengar suara Heechul hyung diikuti tertawaan member lain. Setelah mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali, aku langsung sadar apa yang terjadi.

“Akh! Siapa yang menyiramku!?” Seruku sambil terbangun. Kulihat Donghae, Leeteuk hyung, Sungmin dan Ryeowook menahan tawa. Kuedarkan pandanganku sampai menangkap sosok Heechul hyung di kursi roda dengan gayung di tangannya. “Ya! Pasti ini perbuatanmu kan, hyung!?” Seruku marah sambil melempar guling ke arahnya.

“Ya! Kau tidak sopan sekali, Eunhyuk! Siapa suruh kau tidak bangun-bangun? Ini sudah siang!” Balasnya sambil melempar guling itu kembali kepadaku. Mataku langsung berbinar. Siang? Berarti… kejadian semalam… hanya mimpi? Ah, sudah kuduga hanya mimpi, pasti aku terlalu memikirkan hantu Hye Jung.

“Ya! Eunhyuk! Ngapain kamu senyum-senyum sendiri? Sudah tidur di kolong, senyum-senyum sendiri, gila ya?” Seru Donghae. Aku menoleh ke arahnya.

“Hah? Tidur di kolong?”

“Ne, Hyuk-ah. Tadi pagi suster menemukanmu sedang tertidur di kolong tempat tidur. Ngapain kamu disana?” Kali ini Leeteuk hyung yang bersuara. Glek. Aku menelan ludah. Bulu kudukku kembali meremang. Berarti hal itu bukan mimpi. Sial.

“Hyung? Gwenchanayo?” Ryeowook berjalan mendekatiku. Hah, memang cuma Ryeowook yang paling perhatian. Hyung-hyungku ini benar-benar menyebalkan.

“Gwenchana, Wook. Hanya saja… tadi malam aku bertemu hantu.” Tuturku. Tiba-tiba suasana hening mendadak. Beberapa detik kemudian terdengar gelak tawa dari Heechul hyung yang diikuti member lainnya. Sial, apa mereka tidak percaya?

“Hahaha! Tampaknya otakmu sedikit terganggu karena kecelakaan kemarin, Hyuk! Hahaha!” Ucap Sungmin di sela tawanya.

“Tapi aku tidak bohong!” Seruku bersikeras.

“Aku percaya padamu, hyung, tapi tidak untuk yang satu ini.” Ujar Ryeowook ikut tertawa. Ngeselin banget sih.

“Kau tetap humoris, Hyuk!” Komentar Leeteuk hyung masih tertawa.

“Hiih! Tapi aku tidak bercanda! Tadi malam aku bertemu dengan hantu Hye Jung!” Seruku. Mereka semua langsung berhenti tertawa. Donghae dan Leeteuk saling bertukar pandang.

“Mwo? Hantu Hye Jung?” Heechul hyung mendorong kursi rodanya hingga berada tepat di sebelah tempat tidurku.

“Ne! Dia gentayangi aku hyung!” Seruku lagi.

“Mungkin kau hanya mimpi, Hyuk. Tidak mungkin—”

“Awalnya juga aku mengiranya hanya mimpi. Tapi mendengar cerita Teuk hyung yang menemukanku tertidur di kolong, perkiraanku meleset.”

“Maksudmu?” Leeteuk hyung menatapku tak mengerti.

“Tadi malam aku bertemu hantu Hye Jung di bawah kolong, hyung.” Jawabku.

“Tapi tidak ada hantu di dunia ini, Hyuk. Kurasa kamu hanya berkhayal.” Komentar Sungmin.

“Ne, semoga saja begitu.” Jawabku sambil memeluk diri. Untuk pertamakalinya dalam hidupku aku merasa takut.

***

          Tujuh minggu berlewat sudah. Dan hari-hariku selama di rumah sakit tidak lebih baik dibanding tujuh minggu sebelumnya. Aku benar-benar menderita. Menderita dalam arti sesungguhnya. Bukan menderita karena dijahili Heechul hyung atau Donghae, tapi karena di setiap detik hidupku bayangan Hye Jung tidak bisa berhenti menghantuiku. Setiap malam mimpiku dipenuhi dengan sosoknya yang bersimbah darah dengan perut terkoyak. Aku sudah benar-benar tidak tahan. Seolah kematian yeoja itu adalah kesalahanku. Murni SALAHKU.

Hingga akhirnya aku menyuruh Teuk hyung agar dokter memperbolehkanku pulang ke dorm. Siapa tau setelah berada di dorm keadaanku membaik.

Sekarang aku sedang ada di perjalanan pulang dengan van. Di sini hanya ada aku, Donghae dan pak supir—Sookyung-ssi. Hyung dan dongsaengku yang lain memang kurang ajar. Mereka tidak menjemputku di rumah sakit karena berbagai alasan yang menyebalkan. Aku bosan setengah mati. Si ikan pemalas ini bukannya mengajakku berbicara malah tidur.

“AAAAAAAAKKKKHHH!!!!” Tubuhku langsung terjengkang ke belakang saat mendengar teriakan Donghae. Aku menoleh ke samping. Wajah Donghae berkeringat dan dia terus memegangi dadanya. Nafasnya tersengal-sengal. Mwo?

“Hae-ya! Waeyo? Gwenchanayo?” Aku mengguncang tubuhnya. Basah. Keringatnya benar-benar banyak sekali. “Bangun, Hae-ya! Ada apa?!” Seruku menampar wajahnya beberapa kali.

“Ada apa Eunhyuk-ssi? Gwenchana?” Pak supir menoleh ke belakang. Wajahnya tampak khawatir.

“Perhatikan saja jalanan, pak. Aku tidak mau kejadian tiga minggu lagi terulang.” Tuturku masih menatap Donghae. “Ya! Hae! Bangunlah! Ada apa!?” Aku masih menampar-nampar wajah namja pabo ini. Keringatnya sudah membasahi tanganku. Sial. Kenapa Donghae masih belum bangun? Aku buru-buru menoleh ke arah pak supir. “Pak, putar balik. Kembali ke rumah sakit. Kurasa ada sesuatu yang terjadi dengan Donghae.” Pintaku tegas. Kulihat sang supir mengangguk lewat kaca depan mobil. Aku menatap Donghae nanar. Aku benar-benar tidak ingin sesuatu terjadi pada yerrobun terbaikku ini.

Kurang dari 5 menit, van kami sudah sampai di depan Seoul Hospital. Sookyung-ssi—supir pribadi kami tadi—buru-buru keluar dari mobil dan memanggil beberapa pihak rumah sakit. Donghae yang masih tidak sadarkan diri dibawa dengan sebuah tandu. Aku suster-suster yang membawa Donghae tadi. Sebenarnya apa yang terjadi?

Dengan panik aku menelpon Teuk hyung. Sial, tidak diangkat. Heechul hyung. Nomornya tidak aktif. Yesung hyung. Mailbox. Hankyung hyung. Diluar jangkauan. Hingga akhirnya aku menghubungi telepon dorm 11. Pulsa anda tidak mencukupi. Arrgh!!!

“Annyeong, Eunhyuk-ssi.” Pintu UGD dibuka. Seorang dokter tinggi dengan kacamata bulat keluar dari sana. “Apakah kau sudah menghubungi member lain dan keluarga Donghae-ssi?” Tanyanya.

“Belum, dok. Tidak ada yang mengangkat telponku.” Ujarku kesal. “Omong-omong bagaimana dengan Donghae, dok? Kenapa dia sebenarnya?”

Dokter di hadapanku menghela nafas. Aku yakin kabar buruk. “Kami belum bisa memprediksi gangguan yang diderita Donghae-ssi. Keadaannya aneh. Dia masih bernafas tapi tidak bisa dibangunkan. Tapi tenang saja, selebihnya keadaannya baik-baik saja. Gwenchana.” Terang sang dokter. Aku manggut-manggut mengerti.

Ponselku tiba-tiba berdering. Dari Siwon. Huff, akhirnya ada juga yang menelpon.

“Yeobose—”

Monyet jelek! Apa yang sedang kamu lakukan? Dimana kau? Kau lupa hari ini hari apa?!” Aku langsung menjauhkan ponselku beberapa meter maksudku beberapa senti dari telinga. Aku yakin ini Yesung hyung yang berbicara. Ah, si kepala besar itu…

Ya! Kenapa kau diam saja?! Dimana kau?! Mana Hae-ya?!” Suaranya kembali memekakkan telinga. Aku yakin dokter yang berada di sebelahku juga mendengar suara emasnya itu.

“Diam, hyung! Suaramu berisik sekali! Aku bakalan ditendang oleh satpam rumah sakit jika kau seribut ini!” Seruku sedikit berbisik.

Mwo? Apa kau bilang? Kau masih di rumah sakit? Lambat sekali Hyuk-ah! Mana Hae-ya? Apa dia tidak menjemputmu?” Lanjutnya masih berteriak-teriak.

“Pelankan suaramu, hyung! Kau bakalan membuatku tuli!” Seruku lebih keras. “Limabelas menit yang lalu aku dan Donghae sudah dalam perjalanan pulang. Tapi terjadi kejadian buruk, hyung. Donghae masuk UGD.”

Mwo?!” Yesung hyung tampak terkejut. Terdengar dari nada suaranya yang meninggi. Dan kembali membuatku tuli. “Jinjja? Jangan bercanda, Hyukkie. Tidak mungkin kalian kecelakaan lagi…

“Kami memang tidak kecelakaan hyung!” Seruku kesal. Aku berjanji akan membunuhnya nanti. “Tiba-tiba Donghae siup. Aku juga tidak tahu kenapa dia. Dokter masih merawatnya.”

Baiklah, setelah acara penyambutan Cho Kyuhyun aku dan Leeteuk hyung akan ke sana…

“Hah? Apa kau bilang tadi, hyung? Acara penyambutan apa?” Aku langsung heran mendengar perkataan Yesung hyung barusan.

Loh? Kau lupa? Bukan kah manager hyung sudah memberitahu kita beberapa minggu yang lalu?” Aku menyerngitkan dahi. “Hari ini grup kita akan menerima satu member lagi. Ituloh, yang baru ditrainee 2 bulan yang lalu. Cho Kyuhyun.

Ah, iya. Manajer hyung bilang akan ada member baru. “Hmm… oh, ne. Aku sudah ingat, hyung. Lebih baik kau kesini sekarang. Keadaan Hae tidak baik.”

Ah, ne. Baik-baik disana Hyuk.” Yesung hyung memutus sambungan telepon kami. Aku memasukkan ponselku ke dalam kantong.

“Eunhyuk-ssi…” Keluar beberapa dokter dan suster dari dalam ruang UGD. “Kamu sudah bisa masuk. Donghae tidak apa-apa. Dia hanya mengalami shock dan sindrom mimpi berkepanjangan.” Ujar sang dokter. Perkataannya langsung membuatku benar-benar lega.

***

To be continued

One thought on “[Freelance] Failed Revenge part 2

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s