When I Think of You [chap-1]


Author : Sasa Anwar

Main cast : Choi Soo Young, Cho Kyu Hyun

Support cast : Lee Dong Hae, Im Yoon Ah, Kim Tae yeon, Byun Woo Min

Genre : Sad

Length : two Shoot

udah pernah aku post di blog lain. tapi please…. jangan salah sangka😀

ini ASLI made in me😀

Baca yah… maaf kalo ff ini buat kalian nangis… ^^

~***~

“bagaimana? kau masih mencintai kakak angkatmu itu?” Tanya YooNa kepada Soo Young, saat mereka lunch di sebuah cafe.

Soo Young menghela nafas. “entahlah. aku tak tahu…”

“kenapa tidak tahu?”

“saat aku melihat wajahnya.. kadang senang..” Soo Young tersenyum. “kadang sakit hati…” wajahnya berubah. “tapi aku tak bisa menghindarinya.”

“kenapa bisa begitu?”

“aku tak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan. sementara dia? dengan mudahnya ia meraih segalanya. bahkan, aku seperti barang rongsokan. kau tahu hp-ku? ini hp pemberiannya. kau tahu laptopku? itu juga bekasnya. Mobil? itu juga bekasnya. bahkan aku tak pernah punya sopir. ia? punya mobil pribadi, sopir pribadi. huh.. saat dia tidak butuh barangnya dengan mudah ia membuangnya padaku. ia juga mendapatkan kasih sayang yang, menurutku, itu berlebihan. ia selalu mendapatkan kasih sayang dari ayah. sementara aku?”

Soo Young berhenti sejenak. “semenjak ibu angkatku meninggal, tak ada lagi yang menyayangiku.”

YooNa menepuk pundak Soo Young. “kan masih ada aku…”

“bahkan kau sama sekali tak bisa diharapkan. kau selalu sibuk. tak punya sedetik pun waktu bersamaku. aku SMS, kau tak pernah membalas. aku menelfonmu… bahkan saat pulsaku tinggak 50 rupiah, kau tak pernah mau mengangkatnya.”

YooNa tersenyum kecut. “maaf.. aku kan sibuk… yang penting sekarang kan aku disini untuk menemanimu.”

“yah.. aku harap begitu. kau tahu? aku berfikir kau sudah tak ingat lagi denganku.”

“jangan begitu… baiklah.. sebagai permintaan maaf… aku akan memberimu cara untuk mendapatkan segalanya.. yang kau inginkan..”

“kau yakin?”

YooNa mengangguk. dia berbisik di telinga Soo Young.

Beberapa saat kemudian…..

“apa? apa kau sudah gila? kau fikir aku orang yang seperti apa hingga kau menyuruhku seperti itu?” Soo Young berdiri dan berteriak… menarik perhatian orang2 di sekelilingnya.

YooNa menoleh ke sekelilingnya. “santai Soo Young… tak perlu berteriak… malu dilihat orang.”

Soo Young pun duduk. “aku tak mau melakukan itu.”

“Ayolah…” YooNa tersenyum. “ini adalah cara yang paling ampuh.”

“aku memang menginginkan segalanya.. tapi tidak dengan cara yang seperti ini”

“sekarang.. di dunia ini.. tak ada yang bisa meraih mimpinya hanya dengan kebaikan dan cinta. jika memang itu masih ada.. berarti orang2 itu termasuk orang2 munafik.”

“apa?”

YooNa tersenyum sinis. “Yah… MUNAFIK. sekarang, cinta yang lembut, dan kebaikan yang suci, hanya dipermainkan oleh orang2 tak tahu diri. mereka mengunakan cinta dan kebaikan saat mereka dalam proses menuju kebahagiaan. dan saat mereka bahagia? mereka mencampakkan begitu saja yang namanya Cinta dan kebaikan. Saat mereka bahagia, mereka akan berpaling kepada kejahatan dan kebencian. Cinta dan kebaikan dicampakkan begitu saja. cinta dan kebaikan yang dulunya dipuja-puja, sekarang sering di khianati. daripada mengkianati kebaikan, bukankah lebih baik, berguru pada kejahatan dari awal? kita tak perlu menyakiti cinta maupun kebaikan.”

“t-t-tapi….”

“jika kau tetap tak mau, maka kau harus melupakan semua impianmu. kau tak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Soo Young diam.

~***~

Saat di mobil.. ia merenung tentang kata-kata sahabatnya itu. jauh di dalam hatinya, ia tak mau terpengaruh. tapi…….

dengan hati yang mantap, ia memutuskan untuk mengikuti kata-kata YooNa.

~***~

saat sampai di rumah…

Ia melihat kakak angkatnya berpelukan dengan Tae Yeon, temannya. Jauh di dalam hatinya, ia cemburu, tapi ia buang jauh2 rasa itu.

“Soo Young….” Kyu Hyun melepas pelukannya, lalu mengejar Soo Young yang telah memasuki rumah.

Tae Yeon memegang lengan Kyu Hyun. “jika kau melepas pelukanku hanya untuk adik angkatmu yang yatim piatu itu, kita putus.”

“kapan aku berpacaran denganmu? aku tak pernah menyatakan cintamu, bagaimana caranya kita putus?”

Tae Yeon terkejut. “apa?”

“jika kau berfikir aku kekasihmu, itu berarti kau terlalu agresif.”

Kyu Hyun melepaskan tangannya. “selamat tinggal.”

Kyu Hyun berlari memasuki rumah.

“Kyu Hyun….” panggil Tae Yeon. ” Sialan…”

Kyu Hyun melihat Soo Young menaiki tangga. ia berlari menghampirinya, lalu memegang tangan Soo Young.

“Hei.. yang kau lihat tadi… itu salah paham. tak ada apa-apa antara aku dan Tae Yeon. Jangan khawatir.”

Dengan wajah yang No expressions, Soo Young berkata, “memang, apa hubungannya denganku? lalu, apa urusannya denganku?”

Kyu Hyun terkejut. “kau.. kau tak peduli?”

“tentu saja aku tak peduli. untuk apa aku mengurusi kehidupanmu? hidupku ya hidupku. hidupmu ya hidupmu. kau tak mengerti itu ya? bagiku, mengurusi kehidupanmu hanya buang-buang waktu.”

Kyu Hyun terkejut. matanya terbelalak. ia melepas tangan Soo Young. “baiklah.. lalu, mulai kapan kau berani memanggilku ‘kau’? kau selalu memanggilku Kakak…”

Senyum polos Soo Young kini berubah menjadi Senyum sinis. “mulai hari ini…”

Kyu Hyun semakin terkejut.

“masih ada pertanyaan? jika tidak, aku tidur dulu. Bye.”

Soo Young menaiki tangga. Kyu Hyun masih termangu. ia berlari menuju kamarnya, lalu membuka buku Diary milik Soo Young yang ia ambil hari itu juga. ia membacanya dengan seksama sekali lagi.

“aku baca berkali-kali tetap sama. Aku MENCINTAI KAKAKKU. kenapa dia berubah?” gumam Kyu Hyun.

BRAKK !!!

“kembalikan buku harianku.”

Dengan sigap, Kyu Hyun menyembunyikan buku Diary milik Soo Young yang ia pegang di punggungnya, setelah ia tahu Soo Young membuka pintu kamarnya dengan kasar. “Apa maksudmu? aku tidak tahu?” ia tersenyum.

Soo Young menunjuknya. “Buku diary-ku yang ke 10, yang kau sembunyikan di balik pungungmu.”

“aku tak paham maksudmu.”

Soo Young berjalan cepat dan menarik paksa tangan Kyu Hyun. ia menemukan Diarynya. “kau masih tak paham?”

Kyu Hyun pasrah.

Soo Young keluar dari kamar Kyu Hyun. Kyu Hyun menarik tangan Soo Young. “aku tak bermaksud….”

Soo Young melepaskan tangan Kyu Hyun. ia berlari ke taman belakang.

Di sana, sudah ada api unggun. Soo Young melempar buku Harian itu ke dalam api unggun, bersama dengan buku harian yang lain.

“Soo Young.. kenapa kau..” Kyu Hyun tak meneruskannya.

“kau sudah membaca semuanya kan? kata-kata “AKU MENCINTAI KAKAKKU”… “

“a-a-aku….”

“tak perlu berdalih…” Soo Young menatap tajam kakaknya. “aku ingin menghapus itu semua, maka dari itu aku membakar semua buku harianku.”

“Soo Young….”

“bagiku… kau adalah iblis.”

Kyu Hyun diam. ia menunduk. Soo Young meninggalkan Kyu Hyun sendirian di halaman. “Soo Young… Soo Young…. ” ia memanggil berkali-kali, namun Soo Young tak mengiraukannya.

“padahal,, pada saat aku membaca kalimat itu.. aku merasa senang.”

Kyu Hyun terpaku menatap buku harian yang sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi Abu.

~***~

“hei,,,” Dong Hae menepuk pundak Kyu Hyun. Kyu Hyun terkejut., “apa?”

“kau ingin melukis dengan saus tomat?” Tanya Dong Hae. “Jika iya, medianya bukan bakso, tapi kanvas. saus tomat bisa menggantikan cat orange dengan baik…”

Kyu Hyun melihat baksonya. penuh dengan saus. “aku tak selera makan…”

“karena apa?”

Kyu Hyun menghela nafas. “Adikku…”

“oh…” Dong Hae tersenyum. “bukan karena Tae Yeon.”

“aku tak ada hubungan dengannya….”

“memangnya adikmu kenapa?”

“dia berubah total… dia seperti bermetamorfosis dari kupu-kupu menjadi ulat…”

“hahahahaha….”

“memang benar adanya.. sebelumnya dia baik.. lalu jadi pendiam… lalu dia menjadi harimau… dia berubah menjadi lebih buruk…”

“lalu.. kau membenci adikmu? begitu?”

“tidak… ” Kyu Hyun menyergahnya. “entah mengapa.. aku malah semakin mencintainya…”

“hahaha… Aneh… “

“kau tak mengerti.. dia seperti punya magnet.. saat orang berada di dekatnya.. pasti akan merasakan sebuah rasa yang tidak pernah di rasakan sebelumnya.. “

“benarkah?”

Kyu Hyun menatap temannya. ia kesal. lalu meninggalkan Dong Hae sendirian.

“hei.. kau mau kemana?”

“aku tidak nafsu makan.”

“lalu, siapa yang menraktirku?”

Kyu Hyun menatap mata Dong Hae dengan jarak dekat, dengan tajam. “aku sudah sering menraktirmu. kali ini, harus kau yang menraktirku. jika tidak, aku tak mau menganggapmu teman.”

Dong Hae menelan ludah. “iya… aku paham..”

Kyu Hyun berdiri. “baik…” Kyu Hyun meninggalkan Dong Hae.

~***~

Dong Hae berlari menghampiri Kyu Hyun, sore itu.

“maafkan aku ya… aku kan hanya bercanda.”

Kyu Hyun tersenyum. ” ya… tapi, aku tak ingin kau menertawakanku lagi. untuk itu, aku ingin mengajakmu, melihat adikku.”

“Apa?”

Kyu Hyun tersenyum.

~***~

Sampai di rumah….

“Soo Young… kau ada di rumah?”

Soo Young keluar dari dapur. “kenapa?”

“berikan sesuatu untuk temanku.. Dong Hae.. dia baru pertama kali kerumah kita.”

“Hai… salam kenal, Soo Young…” ucap Dong Hae basa-basi.

“memangnya harus? apa dia tamu kenegaraan? apakah dia putra mahkota kerajaan Inggris? atau dia punya garis keturunan dari Keraton Yogyakarta? apa harus aku menjamunya dengan baik?” Soo Young menatap tajam Dong Hae.

“hanya kecil-kecilan juga tak apa?”

“baiklah…”

Soo Young masuk lagi ke dapur. Dong Hae duduk di ruang tamu, ditemani Kyu Hyun. “kau menyukai orang seperti itu?”

Kyu Hyun diam.

tak lama, Soo Young keluar dari dapur. kedua tangannya memegang Jus Nanas. ia menaruh dengan kasar kedua gelas itu. “jika mau ambillah, jika tidak buang saja.”

“trimakasih Saeng..” ucap Kyu Hyun dengan senyum.

“maaf, Soo Young…” ucap Dong Hae. “ini jus Nanas?”

“ya.. memang kenapa?” Jawab Soo Young ketus.

“bisa kau ganti dengan yang lain? aku alergi Nanas..” ucap Dong Hae.

“tapi aku suka nanas.. lagipula, tadi aku sudah bilang, jika suka ambillah, jika tidak buang saja.”

Soo Young berbalik ke dapur. Dong Hae berdecak kagum. “da beda.”

Kyu Hyun mengernyit. “beda bagaimana?”

“sifatnya jau berbeda dengan wanita yang biasa kutemui.”

Sebentar kemudian, Soo Young membawakan sepiring buah Nanas yang sudah di potong, lalu meletakkan dengan kasar.

Kyu Hyun berkata, “kau sudah tahu kan, Dong Hae alergi nanas? jadi, bisakah kau menggantinya dengan yang lain?”

“aku sudah bilang, jika suka ambillah, jika tidak buang saja.”

Soo Young menaiki tangga dan memasuki kamarnya.Dong Hae hanya bisa mengelus dada

~***~

Malamnya….

“kita putus…”

“apa-apaan YooNa? aku cuma salah sedikit kan?” Dong Hae berteriak pada YooNa.

“kau sudah sering salah… aku juga sudah sering memaafkanmu.. tapi kau pria lamban, kau tetap mengulangi kesalahan yang sama, jadi buat apa di pertahankan?”

“tapi…”

“selamat tinggal…”

Dong Hae menunduk pasrah. saat ia akan beranjak pulang… ia melihat YooNa dan Soo Young bertemu. terlihat sedang membicarakan sesuatu.

saat YooNa pergi, Dong Hae segera berlari menghampiri Soo Young. “Soo Young…”

Soo Young terkejut. “kau?”

“ada hubungan apa kau dengan YooNa?”

“bukan urusanmu.” Jawab Soo Young ketus. saat Soo Young berpaling…

“jawab pertanyaanku.”

“jika aku tidak mau menjawab, apa yang akan kau lakukan padaku?”

“apa?”

Soo Young hanya tersenyum sinis. “dasar pria bodoh!”

Soo Young berlari meninggalkan Dong Hae.

Dong Hae menendang kaleng minuman. “Sialan…”

~***~

saat Soo Young akan pulang dari pekerjaannya sebagai manager di perusahaan ayahnya, ia melihat Dong Hae berjalan sempoyongan, pada tengah malam.

“hei.. jika mau memainkan jurus mabuk, bukan di jalan tempatnya, tapi di tempat bertarung. lagipula, jika berjalan seperti ini, kau bisa terbang ke neraka karena tertabrak truk.”

Dong Hae melihat wajah Soo Young samar-samar. Alkohol telah membuatnya [hampir] tak sadarkan diri.

“ShikShin…”

Soo Young terkejut. “heh… jangan panggil aku dengan nama itu… siapa ShikSin? aku tak kenal!!”

“bukankah itu nama kecilmu? nama pemberian dare Kyu Hyun? hahaha…” Dong Hae masih sempoyongan.

Soo Young menggeleng. ia merangkulkan tangan kiri Dong Hae ke pundaknya.

“kau.. kau mau apa?”

“mau apa lagi? tentu saja membawamu ke rumah..” Jawab Soo Young ketus.

Dong Hae tersenyum. “benar kata Kyu Hyun…”

“jangan sebut namanya lagi.”

Dong Hae tetap meneruskan kata-katanya, “sebenarnya kau tidak berbakat jadi orang jahat.”

Soo Young merobek jaket bagian bawahnya dan menyumpat mulut Dong Hae dengan kain itu. “diam…”

~***~

saat sudah sampai rumah Dong Hae….

Soo Young membawa Dong Hae ke kamarnya, menempatkannya di tempat tidur, lalu melepaskan sepatu Dong Hae.

“jangan mabuk lagi….” ucap Soo Young, tetap dengan nada ketus.

terdengar suara aneh. Soo Young melihat Dong Hae memuntahkan seluruh isi perutnya.

“hahahahaha…..” Soo Young tertawa lepas. “aku pikir sudah terbiasa mabuk.. ternyata….”

Soo Young pun memijat tengkuk Dong Hae dengan lembut.

Tak lama kemudian..

“bagaimana? sudah mendingan?”

Dong Hae mengangguk pelan. “melihat teman sedang kesulitan, jangan di tertawakan.”

“oh.. yang tadi kau muntah ya? memang kau temanku? aku tak pernah merasa.”

==” Dong Hae menatap lekat-lekat mata Soo Young. “sebenarnya, kau tak cocok bersikap ketus. dari sinar matamu, terlihat bahwa kau orang baik.”

Soo Young berdiri. “berhenti mengucapkan kalimat kosong itu.”

Soo Young keluar dari kamar Dong Hae. Dong Hae menghela nafas. ia pun menarik selimut dan tidur.

saat akan terlelap….

“aku ingin bicara…” Soo Young menyibak selimut Dong Hae.

“apa?”

Soo Young membisikkan sesuatu ke telinga Dong Hae. tak lama…

“apa katamu?” Dong Hae mendorong Soo Young. “kau pikir aku mau melakukan hal itu? menjatuhkan sahabatku begitu saja? tak akan…”

Soo Young tersenyum. “aku kan hanya menawarkan kerja sama. jika tak mau tinggal bilang tidak, tak perlu mendorong.”

“kau licik.. siapa yang sudah merubahmu seperti ini?”

Dengan tenang, Soo Young berkata, “sahabatmu, Cho Kyu Hyun…”

“bahkan kau tak memanggilnya dengan panggilan Kak..”

“itu tidak perlu..” ucap Soo Young. “dia tak patut di sebut kakak…”

“apa?”

“jika kujelaskan akan panjang.. bisa selesai jam 12 siang nanti.”

Dong Hae menggeleng. “Kyu Hyun orang yang baik.. dia tak mungkin melakukan kesalahan yang tak termaafkan.”

Soo Young pun membantahnya. “ya.. memang di luar dia baik.. tapi kau tak tahu bagaimana perasaanku setelah ibu meninggal.. lalu ia merebut semua milikku..”

Dong Hae terdiam. Soo Young pun menceritakan semuanya. Dong Hae terpengaruh ucapannya. dan, di saat yang sama, ia teringatkan kesalahan Kyu Hyun kepadanya, di masa lampau.

“tapi jika kau tetap tak mau membantuku, ya sudah…” Soo Young meninggalkan Dong Hae.

“tunggu…” Dong Hae menarik tangan Soo Young. “ya…”

Soo Young tersenyum sinis.

~***~

TO BE CONTINUED

3 thoughts on “When I Think of You [chap-1]

  1. soo..
    Kenapa jdie jhat gtu?
    Kasian kyu -.-

    apa yg bkal dilakuin soohae ama kyu??
    Penasaran -.-
    next part ditunggu ^^

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s