[Freelance] Rainbow in the night chap 3


Title : Rainbow In The Night Part 3
Author: Rizka Anugrahyanti
Main Cast : Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Lee Sungmin and Lee Sunkyuu

Support Cast : Lee Donghae, Kim Hyoyeon, Kim Heechul, Hankyung, Jessica and Kim Taeyeon

Rating : 13
Genre : Friendship

Ps : Maaf atas keterlambatannya hiks :< saya lagi sibuk-sibuknya ck. Selamat membacaaaaa *Lambai-lambai*

 

Cho kyuhyun? Itu namanya? Kulihat lagi wajahnya dan dia masih tersenyum padaku. Siapa dia? Aku benar-benar tak mengenalnya, tapi senyum dan syal ini begitu hangat. Apakah dia mengenalku? Kenapa dia begitu baik padaku?

***

Sooyoung membuka matanya perlahan dan merasakan pipinya terasa dingin, “Aisshhh, kenapa dingin sekali?” katanya sambil menepuk-nepuk pipinya. Ia mendongak dan melihat pendingin ruangan di depan kelas. ‘Tak bisakah mereka mematikannya?’ rutuk Sooyoung sambil menepelkan kepalanya lagi pada meja.

“Sudah bangun?” Sooyoung mendongak. Heechul sedang asyik menulis di depannya.

“Sejak kapan aku tertidur?”

“Sejak istirahat dimulai” lalu tiba-tiba bel berbunyi, terdengar sampai ke kelas. “Tandanya kau tertidur sejak istirahat dimulai dan berakhir” tambah Heechul.

“Ahhh..aku melewatkan makanan kalau begitu. Mian aku malah tertidur”

“No problemo” Heechul belum mengalihkan pandangannya dari kertasnya dan terus menulis. Sooyoung melongok, dan melihat coretan “Love” di kertas itu.

“Hey kau sedang jatuh cinta eh?” Sooyoung menatap lurus mata Heechul, tapi cowok didepannya ini sama sekali tidak menoleh.

“Oh..apa menurutmu aku sedang jatuh cinta?” tanya Heechul membuat alis Sooyoung mengerut.

“Lalu yang kau gambar ini apa? Ini bukan sekumpulan cacing kremi kan?” Sooyoung menunjuk gambar “Love” yang dibuat Heechul. “ini adalah tanda cinta”

“Mungkin saja….” dia lalu berdiri dari tempat duduknya dan kembali ke kelasnya. “Bye Sooyoungie”

“Bocah ini bahkan belum menjawab pertanyaanku” rutuk Sooyoung. Ah hidungku gatal sekali, Sooyoung menggaruk cuping hidungnya. “Hatchii~~~~”

“Oh tidaaaak, jangan bilang harus kambuh sekarang” katanya sambil menggaruk terus hidungnya.
***
Kyuhyun berjalan gontai menuju toilet, ia merasa harus membasuh wajahnya. Ketika dia sudah merasa bosan, hanya dingin lah yang dapat membuatnya tenang. Air yang dingin itu akan menghiburnya saat ini.

Ia membuka pintu di depannya dan memasuki sebuah ruangan bernuansa pucat. Kyuhyun menoleh kesana kemari dan tak melihat siapapun selain dirinya, baguslah. Ia mendekati cermin yang terdapat pada ruangan itu dan membuka keran di depannya. Kyuhyun menaruh tangannya dibawah keran. Dinginnya air merayapi jemarinya, ia merasa sudah agak tenang.

Kyuhyun menatap wajahnya di cermin, seorang anak laki-laki kurus, pipinya yang tirus, matanya yang tajam dan potongan rambutnya yang asal. Kyuhyun mendengus dan bergumam, “Aku ini seperti berandal. Pantas saja kedua gadis itu langsung ketakutan” dia tersenyum sendiri teringat Taeyeon dan Sunny.

“Kenapa kau jadi menakutkan seperti ini Cho Kyuhyun? Mau sampai kapan kau harus seperti ini? Apakah kau tak lelah?” Air mukanya berganti sedih, ‘bahkan aku berbicara pada diriku sendiri’ Kyuhyun mendengus.

Kyuhyun sering berbicara dengan cermin. Cermin adalah benda yang sakral baginya. Cermin lah yang selalu mendengar keluh kesahnya tanpa berbicara, dan tanpa memberi tahu kepada siapapun. Ia selalu berpikir bahwa ia tak butuh teman, Kyuhyun hanya butuh cermin dan menyemangati dirinya sendiri. ‘Aku bisa melakukannya sendirian, aku tak ingin menyusahkan orang lain’ itu prinsipnya.

“Hyung!!!” Aku memanggil namanya sekeras mungkin, sesemangat mungkin dan berlari menuju kamarnya.

“Ne…Waeyooo?” jawabnya sekenanya. Akhirnya aku melihatnya, dia di ujung ruangan, sedang memasukan bajunya ke dalam koper. Aku harus terlihat senang di depannya, aku harus terlihat kuat.

“Ya~~ Kenapa kau lemas sekali? Seharusnya kau senang..” kataku sambil terkekeh.

“Kau pikir aku senang meninggalkanmu mengurus Seohyun dan Yoona disini” jawabnya sebal. Aku tahu dia kesal, dia tidak suka, hingga membuat wajahnya benar-benar kusut. Aku tahu Hyung..

“Tenang saja, kan masih ada Eomma Hyoyeon yang akan membantu aku” Eomma Hyoyeon adalah pendiri dari panti asuhan ini. Kami terbiasa memanggilnya Eomma.

“Eomma Hyoyeon sudah terlalu tua, dia bilang padaku, dia pasrah saja kalau panti asuhannya ditutup” matanya mulai berkabut.

Aku melihat jemarinya yang cekatan membereskan pakaiannya, aku bisa melihat aura semangat dari sana. Kau pasti menginginkan ini hyung…

“Tenanglah, aku akan menjaga mereka semua hyung, tapi aku sungguh lebih semangat melihatmu seperti ini..yah akhirnya kau mendapatkan keluarga baru, ini yang kau inginkan hyung. Lihat mereka, mereka benar-benar keluarga yang hebat!” aku bercerita seperti cacing kepanasan di dalam kamarnya. Aku terus-terusan berbicara dengan menggebu-gebu.

“Kau mengusirku?” katanya.

“Ah kau ini sensitif sekalii…” aku akhirnya duduk disebelahnya, terdiam.

Dia masih sibuk berjalan kesana kemari, memasukan semuanya ke dalam kopernya, hingga ruangan ini benar-benar kosong. Kosong..? Hatiku sedikit bergetar mendengar kata itu.

Aku menunggu, resah. Hanya menggaruk-garuk kepalaku, bagaimana jadinya kalau aku tidur sendirian malam ini? Biasanya aku bersama bocah laki-laki ini, hyungku. Sekarang dia harus pergi dengan keluarga barunya.

Itu sesuatu yang wajar kan, jika anak yang tinggal di panti asuhan sepertimu, akhirnya mendapatkan keluarga baru setelah sekian lama menunggu. Kau pasti merasa senang bukan? Iya, hyungku pasti senang, hanya saja dia menyembunyikan perasaan senang itu.

Aku menatap lekat bocah laki-laki di depanku. Tubuhnya jauh lebih tinggi sekarang, walau badannya semakin menipis. Dia berusia 13 tahun, sedangkan aku 11 tahun. Dia yang paling tua diantara kami. Dia juga yang paling lama tinggal di panti asuhan. Bukan karena dia tidak pernah dipilih oleh keluarga yang datang, tapi karena dia, tak menginginkan seseorang mengadopsinya.

Aku tahu apa yang dilakukannya setiap hari Sabtu, hari dimana kami akan berkenalan dengan seseorang dan akhirnya orang itu bersedia untuk mengadopsi. Tapi hyungku ini, dia selalu kabur dari hari Sabtu. Dia akan pergi keluar panti dan kembali pada saat malam tiba. Tentu saja tanpa sepengetahuan Eomma Hyoyeon.

Pernah suatu hari aku bertanya padanya,

“Hyung, kenapa kau selalu kabur setiap hari Sabtu?” tanyaku.

“Aku tak ingin diadopsi. Aku ingin tetap disini” katanya mantap.

“Tapi rumah kita ini akan ditutup”

“Kalau begitu kau saja yang pergi. Aku akan mengurus yang lain” katanya sambil tersenyum.

“Kau tak menginginkanku?”

“Bukan begitu, aku ingin kau dan yang lainnya memiliki hidup yang lebih baik daripada disini..” katanya sambil menatap kami bergantian. Biarlah saja diriku yang memikiran caranya agar panti asuhan ini tidak ditutup” Hatiku remuk.

“Tapi jika hanya kau yang tersisa?”

“Aku akan mengurus Eomma Hyoyeon. Aku ini lebih tua darimu dan aku bisa menjaga diriku sendiri” katanya sambil tersenyum lagi. Lihat senyum itu, kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan selama hari sabtu hyung? Aku melihatmu mencuci mobil di bengkel, aku melihatmu mengantarkan koran, aku melihatmu berjualan sayuran, dan setelah semua yang telah kau lakukan, panti asuhan ini tetap akan ditutup. Dan kau tetap memutuskan untuk berada disini? Kau masih begitu muda, sama seperti ku. Dan aku? Apa yang telah ku lakukan? Hanya merengek padamu dan Eomma Hyoyeon.

Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Maaf kali ini aku menipumu hyung. Aku melakukannya untuk membalas semua kebaikan yang pernah kauberikan kepadaku dan kepada anak-anak yang lain.

“Kyuhyun, kau bisa mencariku kalau kau ada masalah dengan keluargamu” hari itu hari sabtu, sebuah keluarga mendatangi kami. Mereka kaget ketika tahu bahwa tinggal kami bertiga yang bertahan di panti asuhan ini. Seperti biasa, mereka memilih seseorang diantara kami.

“Bukan aku, maupun Seohyun dan Yoona yang akan pergi” Hyung menatapku aneh

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Mereka tidak memilihku, mereka memilihmu. Mereka bilang, mereka memilih Lee Sungmin sebagai anaknya”

‘Maaf hyung, kali ini biarkan aku melakukannya sendirian dan tak akan menyusahkanmu lagi’
***
Kyuhyun membasuh wajahnya dengan air. Ia merasa bulu romanya berdiri ketika air itu mengalir. Kenangan itu tiba-tiba muncul, membuatnya rindu pada hyungnya.

Kyuhyun menghela nafas panjang. Tiba-tiba saja pintu toilet terbuka. Seorang siswa laki-laki tergesa-gesa memasuki toilet. Kyuhyun pun membasuh wajahnya sekali lagi dan cepat-cepat meninggalkan toilet, menyudahi ‘ritualnya’.

Baru saja ia memegang gagang pintu didepannya, seseorang berbicara kepadanya.

“Sebentar, name tag mu terjatuh…” Kyuhyun menoleh. Cowok itu memungutnya, tapi ia tetap berjongkok memandang name tag Kyuhyun. “Kalau aku tidak salah baca, namamu Cho Kyuhyun?” tanyanya. Suaranya bergetar.

“Iya, namaku Cho Kyuhyun” Ia berdiri dan menatap namja tirus disedepannya, dan untuk pertama kalinya mereka bertatapan. Seperti ada sesuatu yang menyetrum Kyuhyun, jantungnya terlonjak melihat wajah itu. Matanya membelalak. Dan dengan suara yang sangat lirih ia berkata, “Hh..hyung”

2 thoughts on “[Freelance] Rainbow in the night chap 3

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s