[Freelance] Rainbow in the night [chap-2]


Title : Rainbow In The Night Part 2
Author: Rizka Anugrahyanti
Main Cast : Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Lee Sungmin and Lee Sunkyuu

Support Cast : Lee Donghae, Kim Hyoyeon, Kim Heechul, Hankyung, Jessica and Kim Taeyeon

Rating : 13
Genre : Friendship

Ps : masih pemulaaaa banget >< makasih sekali lagi yah buat uri dongsaeng sasa anwar yang udah invite saya hihihihi yaudah back to the story aja ya :)

“Oke bagaimana liburan kemarin?” teriak Park songsaenim di depan kelas. “Mudah-mudahan saja kalian tidak akan melupakan tugas yang kuberikan untuk kalian” katanya dengan seringaiannya yang khas.

“Ya, wanita ini akan menjadi wali kelas kita huh?” bisik Taeyeon di telinga Sunny.

“Iya, aku sangat menakutinya. Kau lihat caranya dia tersenyum tadi? Seperti nenek sihir yang akan membunuh putri salju” Taeyeon mengetuk kepala Sunny diikuti dengan wajah protes Sunny.

“Bercandamu sangat tidak lucu sekali” kata Taeyeon.

“Aku sedang tidak bercanda. Wajahnya jinjja mirip nenek si..” sebelum Sunny meneruskan kalimatnya, wanita berkacamata didepan kelas itu memanggil namanya.

“Nona Lee Sunkyu~ Kufikir ini bukan waktunya untuk berdiskusi” katanya sambil memandangnya tajam. “Dan kufikir semester kemarin, kau mempunyai nilai yang tidak bagus bersama Nona Taeyeon. Dan kufikir juga, sepertinya aku akan mengacak tempat duduk kalian” Anak-anak kelas menggumam tanda tidak setuju.

“Itu karena memang mereka berdua saja yang bodoh…” bisik Jessica yang tentu saja didengar oleh Sunny dan Taeyeon yang duduk dibelakangnya. Taeyeon memutar bola matanya dan bergumam.

“Ternyata bukan ular saja yang berbisa, wanita ini juga berbisa ternyata” Jessica menoleh dan mendelik kepada mereka. Jessica memang terkenal dengan bicaranya yang pedas. Gadis berambut pirang itu pindahan dari sekolah di Amerika, makanya teman sekelasnya memaklumi kelakuan Jessica, karena gads itu sudah terbiasa dengan kelakuan orang-orang yang disana.

“Taeyeon a~ sudahlah…” Sunny menarik lengan Taeyeon yang hendak mengetuk kepala Jessica dari belakang.

Park songsaenim berjalan mengitari kelas dan melihat wajah-wajah anak-anak di kelasnya. “Nona Choi Sooyoung, kulihat kau dari semester kemarin selalu duduk di kursi paling belakang” katanya kepada cewek bermata bulat itu. Sooyoung tersenyum dan menjawab.

“Cheogi..aku tinggi..”

“Alasan bodoh macam apa itu?” sela Park songsaenim. “Kau tak lihat ruangan kelas ini bertingkat” katanya menunjuk anak tangga. “Itu tandanya orang yang tinggi dapat duduk di depan dan orang pendek yang dibelakangmu tidak akan terganggu sama sekali” Sooyoung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Padahal jelas sekali Hyoyeon disebelahnya tidak tinggi. Sebenarnya Sooyoung menghindari pendingin ruangan yang berada di depan kelas, biasanya dia akan bersin-bersin kalau terlalu lama terkena hembusan pendingin ruangan itu “Sekarang kau pindah ke sebelah sana, dan Tuan hankyung bisa pindah kesini” katanya mantap.

Sooyoung membelalak, kalau Hankyung pindah kesini berarti aku akan duduk bersama…

Seakan dapat membaca pikiran Sooyoung, Park songsaenim menjawab, “Iya kau akan duduk bersama Cho Kyuhyun” lelaki bernama Hankyung itu, membereskan mejanya dan berjalan menuju tempat duduk Sooyoung, begitu juga dengan Sooyoung.

Sooyoung menatap anak laki-laki disebelahnya yang tetap asyik menatap ke depan kelas, tanpa memperdulikan ada makhluk baru yang duduk disebelahnya. Sooyoung menghela nafas karena melihat pendingin ruangan yang tepat berada di depannya. Tiba-tiba saja Handphonenya bergetar Drrrt! Drrrrt!

From : Lee Sunkyuu
Ya!! Beruntung sekali kau!! ^^

Sooyoung tersenyum dan jemarinya dengan cepat membalas sms Sunny.

To : Lee Sunkyuu
Ne~ Aku akan menjadi wanita yang baik setelah ini. Aku akan menunjukkan kalau aku pantas menjadi istrinya.
Send.

Sunny menoleh ke belakang, dan bibirnya mengatakan -mungkin-setelah-ini-kau-akan-masuk-rumah-sakit-jiwa-

Sooyoung terkekeh pelan dan mencuri pandang ke cowok disebelahnya. Kyuhyun diam seribu bahasa, matanya yang tajam tetap mengarah ke depan kelas. Aura dingin yang memancar memberi kesan bahwa dia adalah sosok misterius. Belum lagi parasnya yang menawan. Mungkin inilah yang membuat perempuan-perempuan lainnya jatuh hati kepadanya. Sooyoung menghela nafas, dan meneruskan memandangi songsaenimnya memindahkan satu-satu teman sekelasnya. Lalu cewek itu menopang dagunya dan bergumam sendirian, ‘mungkin karena itulah aku juga suka padanya?’
********************************************************************
“Ya!! Kenapa kau lama sekali??? Aku sudah telat!” teriak Donghae dari balik pintu. Sunny cepat-cepat merapihkan riasan wajahnya dan berjalan membuka pintu.

“Padahal baru kemarin kau sembuh kenapa kau sudah bawel seperti ini Oppa” Cowok yang beda 1 tahun dengannya itu berkacak pinggang di depan kamarnya. Dan ia menyodorkan arlojinya tepat pada muka Sunny.

“Ini karena kemarin kau lupa melakukan registrasi ulang untukku. Sebelum masuk ke kelas, aku harus registrasi dulu. Kalau kau tetap berlama-lama seperti itu, kita akan telat masuk kelas”

“Ooh..mianhae~” katanya sambil menepuk dahinya. Cewek itu lalu kembali masuk kamar dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.

“Ya!! Kenapa kau hari ini? Lihat wajahmu.. Aaahhh dan kenapa kau memakai parfum yang banyak..” Donghae menutup hidungnya. “Kita pagi ini mau berangkat ke sekolah, berdandanlah seperti biasa”

“Aku melakukannya seperti hari-hari biasanya. Kau saja yang yang tak pernah memperhatikan”

“Terserah kau, cepat Sungmin hyung sudah menunggu”

“Kita bareng Sungmin Oppa??” teriak Sunny di kuping Donghae.

“Ya!! Pelankan suaramu..” katanya sambil menutup telinganya. “Anni~ dia menungguku di Ruang registrasi siswa, dia juga ingin registrasi”

“Oh baiklah cepat kalau begitu. Jangan buat dia menunggu..” katanya sambil mengamit lengan kakaknya.

“Yang membuat lama memang siapa?” kata Donghae kesal.
******************************************************************
Sooyoung berjalan gontai, kepalanya pusing sekali pagi ini setelah semalaman dia mencari topi kesayangannya itu. Topinya itu sama sekali tidak ketemu, padahal dia sudah mencari sampai ke sudut rumah. Sooyoung benar-benar lupa menaruh topi itu dimana.

Ia mengencangkan syal yang melilit lehernya, andaikan ada topi itu, aku pasti merasa lebih hangat sekarang, batinnya. Pandangannya jatuh kepada sesosok cowok yang berdiri di pinggir lapangan. Cowok berpipi merah jambu itu meniup-niupkan telapak tangannya yang telanjang. Sooyoung menyipitkan matanya dan berusaha melihat lebih jelas sosok itu, sepertinya ia pernah melihatnya. Kemudian ia berjalan mendekat dan benar-benar menatap wajahnya. Mukanya yang ramping ditambah lesung pipi yang menhiasi wajahnya, Sooyoung ingat wajah itu.

Matanya terbelalak ketika tahu siapa sosok itu. Matanya menelusuri seragam yang dikenakannya. ‘Ya Sungmin!!!! Kau mau mati ha? Kau memutuskan untuk satu sekolah denganku?!!’ batin Sooyoung membara. Seketika kenangan 5 tahun lalu menyambangi pintu kedamain hatinya, mengusik kembali.

Flashback

Wajah Sooyoung terlihat cerah dibawah matahari pagi yang bersinar, dia mengencangkan mantel merahnya. Walau matahari bersinar hangat pagi ini, tapi dengan adanya salju yang turun, matahari pun tak cukup untuk menghangatkannya.

Anak perempuan berumur 11 tahun itu memainkan salju disekitar kakinya, sudah bosan menunggu seseorang yang ditunggunya. Wajahnya kini sedikit kesal. Ia lalu melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 11.00. ‘Kenapa dia lama sekali? Aku sudah menunggunya selama 2 jam’ Sooyoung menghela nafas panjang ‘Sebentar lagi aku harus ke rumah sakit..’ ia lalu mengeluarkan handphone dari sakunya. Menekan tombol call dan menunggu handphone itu dijawab oleh tuannya. Tapi lagi-lagi hanya suara wanita lah yang berbicara.

Sooyoung menutup handphonenya kesal. Anak perempuan berambut coklat itu kini berjongkok dan memegang lututnya. Ia merasakan kakinya sudah kebas. Gulungan kertas merah jambu ditangannya sudah mulai membeku. ‘Ya, kemana makhluk ini? Aku sudah membeku bersama benda ini’

Sooyoung merasakan tengkuknya sangat kedinginan sekali. Seperti ada seseorang yang meniup tengkuknya dari belakang…

Flashback end

“Ya Choi Sooyoung, kau kedinginan?” sebuah suara muncul dari punggungnya. Sooyoung kembali ke dunia nyata dan ia berbalik, terlihat Heechul sedang meniupi tengkuknya.

“Hey apa yang kau lakukan?” Sooyoung kaget, ia berbicara dengan gigi gemeretak.

“Aku memanggilmu daritadi, tapi kau hanya terdiam disini, kedinginan. Jadi aku memutuskan untuk meniupimu” kata Heechul polos, lalu ia menyodorkan sebuah bungkus permen. “Ini permen jahe, kurasa kalau aku meniupkannya kepadamu kau akan hangat seperti tenggorakanku” Sooyoung terkekeh pelan –walau giginya masih menggeretak- , temannya yang satu ini selalu bisa membuatnya tertawa dengan keanehannya.

“Aku tidak merasa hangat” katanya sambil tersenyum. “Kurasa kau harus memberiku satu permen jahe itu” katanya bersemangat.

“Ini yang terakhir” katanya menjulurkan lidahnya, menunjukkan permen coklat beraroma jahe itu. Sooyoung langsung memasang wajah masam. “Kemana topi andalanmu? Dan kenapa juga kau kedinginan? Padahal pagi ini lebih hangat dari yang kemarin”.

Sooyoung menerawang, benar juga kata Heechul, kenapa aku kedinginan? Padahal pagi ini lebih hangat dari kemarin. Ah mungkin gara-gara aku kepikiran hari itu. “Aku juga tidak tahu. Mungkin karena topi kesayanganku ku itu hilang” katanya datar. Heechul mengangguk pelan.

“Ayo kita ke kelas” Heechul mengamit lengan Sooyoung. Cewek itu membiarkan lengannya ditarik oleh cowok tinggi disebelahnya ini. Tetapi matanya belum pergi dari cowok yang berdiri di pinggir lapangan itu, yang kini berdiri bersama 2 orang di sebelahnya.
********************************************************************
“Jinjjaaa, aku benar-benar tak menyangka orang tua mu memilih sekolah ini” kata Sunny bersemangat. Sungmin tersenyum manis, membuat Sunny salah tingkah.

“Aku senang sekali kita bisa satu sekolah hyung”

“Nado. Ayo Donghae, kufikir kita harus ke Ruang registrasi siswa secepatnya” ajak Sungmin.

“Ne~”

“Baiklah, kalo begitu aku ke kelas dulu” kata Sunny seraya pergi dari tempat itu.

“Kukira kau menungguku di ruang itu hyung, tapi kau malah menungguku di pinggir lapangan seperti ini. Walau sudah agak hangat, tetapi anginnya tetap saja dingin” kata Donghae membuka pembicaraan.

“Tidak apa-apa. Aku memang sedang mencari seseorang, mungkin saja jika aku menunggu di pinggir lapangan, aku akan lebih mudah melihatnya” mereka berdua berjalan menuju sebuah kantor di ujung koridor. Diatas pintu ruangan itu tertulis “Ruang Registrasi Siswa”

“Ternyata sudah ada yang kau suka disini?” Donghae terkekeh pelan. “Sudah 2 tahun aku disini, tapi belum ada yang ku suka Hyung”

“Bukan, hanyaa…” matanya menerawang, sedangkan Donghae menatapnya ingin tahu. “Sudahlah lupakan” lanjutnya, lalu membuka pintu didepannya.
******************************************************************
“Ya!! Bicara yang benar, aku tak mengerti!” bentak Taeyeon. Disebelahnya, Sunny seperti orang yang baru saja mengalami serangan jantung, terus-terusan memegang dadanya dan bergerak tak bisa diam. “Kau ini kenapa sih? Pagi-pagi sudah membuatku bingung” timpalnya.

“Kau ingat tidak sms yang waktu itu kutunjukkan padamu? Tentang seseorang yang akan pindah ke sekolah ini?” mata Sunny membulat.

“Ne…”

“Dia hari ini bersekolah!!!!” teriaknya. Taeyeon menutup telinganya dan menoleh ke arah Kyuhyun yang melakukan hal yang sama. Taeyeon memukul kepala cewek disebelahnya itu dengan buku Fisika yang tebal.

“Ya!! Taeyeon!” katanya protes.

“Aku serius, ketika bilang kau ini sakit jiwa” Sunny mengelus kepalanya. Orang ini selalu saja mengincar kepalaku.

“Apakah kalian berniat merusak gendang telingaku?” tiba-tiba cowok di belakang mereka berbicara, membuat Taeyeon dan Sunny terdiam dan menoleh. Suaranya yang berat itu, selalu menghipnotis orang-orang disekitarnya. Dengan hentakan yang sangat keras, cowok dingin itu bangun dari tempat duduknya, Kyuhyun berjalan keluar kelas.

Mereka berdua terbengong, “Kurasa suaraku tadi terlalu kencang” kata Sunny polos dan membuat Taeyeon memukul kepalanya lagi.

“Ada yang salah dengan otakmu”

“Kau ini kenapa Taeyeon? Kau bilang aku ini sakit jiwa, tapi sekarang kau bilang ada yang salah dengan otakku? Apakah kau ini ingin menyumpahiku terus-terusan”

“Tanyalah pada dirimu sendiri. Aku pergi” kata Teyeon bangun dari tempat duduknya.

“Ya aku belum selesai…”

“Kurasa sudah” kata sebuah suara. Sunny mendongak, dan melihat Jessica sudah duduk di tempat Taeyeon tadi duduk. “Jangan bilang kau lupa, kalau sekarang aku duduk disebelahmu” kata Jessica dingin.

“Ahhh…anyeo~” katanya sambil menggeleng. Ia melihat Taeyeon bergerak bagaikan ular di kursinya, membuat Sunny terkekeh.

“Apa yang kau tertawakan?”

“Ahh..anyeo~” kata Sunny menahan ketawa.

Anak lelaki bermantel abu-abu itu mengayuh sepedanya bersemangat. Dia terus mengayuh sepedanya walaupun salju yang memenuhi jalan membuat sepedanya agak susah berjalan. Dia berbelok di ujung jalan dan mengayuh sepedanya menuju sebuah taman di depannya. Sebuah taman kecil yang kini dipenuhi oleh salju. Tangannya sudah kebas sekarang, ia memutuskan mengayuh sepedanya lebih cepat. Dingin
mulai menggerogoti tubuhnya.

Ia mulai mengingat ciri-ciri sosok yang akan dicarinya, ‘Ia menungguku di bawah pohon dekat ayunan, aku yakin dia pasti memakai mantel merah. Rambutnya berwarna coklat dan dikuncir kuda, oh iya namanya adalah Choi…’ ia berusaha mengingat kalimat terakhir yang diberikan orang itu, tapi ia sama sekali tak mengingatnya, mendengarnya pun tidak, karena suara orang yang ditelefonnya itu itu tiba-tiba hilang.

Ia turun dari sepedanya, salju sudah menebal di dalam taman, jadi ia memutuskan untuk berjalan saja. Dan seperti elang mencari mangsanya, matanya melihat kesana-kemari. Ia meniupkan telapak tangannya yang sudah kebas, ah dingin sekali, kenapa harus malam ini hujan saljunya? Tunggu sebentarlah, aku kasian pada gadis itu, batinnya.

Ia memasuki taman yang sepi itu, hanya ada salju disana. Sepatunya tenggelam di dalam salju dingin itu membuat kakinya mengigil juga. Bagaimana mungkin gadis itu bertahan disini?

Matanya mulai mencari ayunan yang disebut dan benar saja, 2 buah ayunan terletak di pinggir kanan taman itu. Tak ada tanaman yang tersisa, hanya ada sebuah pohon yang kering disebelah kedua ayunan itu. Satu-satunya pohon yang ada.

Terlihat seorang anak perempuan sedang memeluk lututnya. Dia hanya memakai sebuah mantel merah di tubuhnya. Ya ampun dia pasti kedinginan, batin bocah lelaki itu. Ia lalu berlari ke arah gadis kecil itu. Kakinya pun sudah terasa kebas.

“Maaf telah membuatmu menunggu lama” katanya sambil tersenyum. Gadis itu mendongak, dan memperlihatkan matanya yang membengkak, gadis itu membuka mulutnya tetapi setelah melihat wajah anak laki-laki itu, ia langsung mengurungkan niatnya. Pasti dia kira aku adalah orang itu, “Kau menangis?” kata bocah laki-laki itu.

Gadis itu berdiri, membuat salju yang ada di rambutnya berjatuhan ke bawah. “Anni~, kau siapa?” katanya menyapu air matanya. Gadis itu terlihat pucat sekali, garis hitam terbentuk disekitar mata bulatnya. Bocah laki-laki itu tidak menjawab dan melepaskan syal yang melilit lehernya. Syal itu lalu ia lilitkan ke leher anak perempuan didepannya. Membuat wajah anak perempuan itu semakin bingung. Dalam seketika dingin, merayapi leher bocah laki-laki itu. Tapi ia tahan dengan kekuatan semampunya.

Setelah selesai melilitkan syal berwarna merahnya, ia tersenyum “Warnanya cocok dengan warna mantelmu, tidak cocok dengan mantelku” katanya sambil tersenyum lagi. Anak perempuan didepannya itu terlihat tambah bingung. Sepertinya anak ini sebaya denganku.

Anak laki-laki itu membersihkan salju dari rambutnya dan melepaskan ikatan rambutnya, membiarkan rambut coklat itu tergerai di bahunya “Dengan begini, kau akan merasa hangat”

“Kau siapa?” tanyanya lagi.

Ia lalu mengulurkan tangannya dan berkata “Aku Kyuhyun. Cho kyuhyun…” begitu katanya.

~***~

RCL

2 thoughts on “[Freelance] Rainbow in the night [chap-2]

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s