Love Letter


Love Letter

Author : Sasphire

Hallo…

Kau membaca surat ini,… saat hari sedang apa? Maksudku….

Siang, pagi, sore, atau malam?

Kalau kau membacanya saat siang…. Selamat siang….

Dan seterusnya….

Tapi aku menulis surat ini saat malam…. Jadi, kuucapkan selamat malam.

Kau tahu aku ‘kan? Sasa…. Kelas 9b. aku yakin kau pasti tahu aku.

Pertama kali kita kenal, saat kita masuk dalam organisasi siswa di sekolah kita, MTsN Genteng. Kau menjadi Dewan Kerja Galang, dan aku menjadi OSIS. Sekretaris OSIS.

 

Saat itu, kita masih kelas 8. Aku kelas 8D, kau kelas 8F, kalau aku tidak salah ingat.

Aku masih ingat pertemuan kita dulu, saat kita sama-sama membimbing pramuka setiap Jum’at Sore. Saat itu di kelas 7G-7H putri.

Aku bertanya padamu. “Siapa namamu?”

Kau hanya menghela nafas, lalu menjawab pelan, “*i**i….”

Lalu kau keluar kelas begitu saja. Oh, *i**i namamu…. Gumamku pelan, tanpa peduli padamu. Aku memang sulit beradaptasi dengan lingkungan, terlebih laki-laki. Jadi, kubiarkan sebagai angin lalu.

Lalu, beberapa saat kemudian,kau kembali memasuki kelas, dan duduk di samping teman lelakimu. Aku tak ingat siapa, mungkin Sholeh. Ah, kejadian itu sudah lama, jadi aku tak ingat lagi secara rincinya.

Yang pasti, setelah itu, temanku Sri, memujimu. “Kau bernyanyi saat kemah tahun lalu kan? Suaramu bagus….”

Aku tertegun. Kau suka bernyanyi? Sama denganku.

Kulihat wajahmu, kau hanya tersenyum sambil mengangguk.

Kukira, kau anak yang pendiam, ternyata kau anak yang ramah. Gampang sekali akrab dengan adik kelasmu. Dengan santai kau mengajarkan segalanya tentang pramuka. Beda jauh denganku. Aku memang tak terlalu suka Pramuka, tapi aku masih tahu seluk beluk Pramuka.

Sedikit.

Setelahnya, kita jadi sering bertemu. Sekali lagi kutegaskan, aku sulit beradaptasi, apalagi dengan teman laki-laki. Makanya, aku hanya sekedar tersenyum pada lelaki yang menyapaku, tentu saja hanya yang kukenal. Bahkan aku tak pernah menyapa mereka terlebih dahulu, kecuali kalau aku benar-benar sudah akrab.

Setelahnya, aku jadi sering bekerja sama denganmu. Perlahan, kita jadi akrab. Yang awalnya hanya sekedar kenal, sekarang jadi teman.

Saat mendengar kabar bahwa kau mempunyai pacar, sesama DKG, aku merasa…. Iri.

Iri dengan pacarmu itu. Beruntung ya, punya pacar yang terkenal di sekolah sepertimu. Apalagi kau orang baik.

Saat itu aku hanya mengelak pada perasaanku. Aku terus meyakinkan diri, bahwa aku hanya kagum padamu, bukan cinta.

Ya, aku berhasil.

Setelah itu aku tetap menganggapmu teman, walau saat melihatmu bersama pacarmu, aku jadi sedikit kesal, tapi kutepis itu. Aku hanya ingin focus pada sekolah, aku tak ingin pacaran.

Ternyata, aku malah kenal dengan cowok lain, lewat FB. Dia baik, pengertian, walau kadang menyebalkan. Tapi sampai sekarang, ia masih menjadi salah satu orang yang terbaik yang aku kenal. Dia sering memberiku nasihat saat aku mulai gila, saat aku mulai berubah jadi orang keji. Dia yang menyadarkanku.

Dan, suatu ketika, ia menembakku. Anehnya, aku menerimanya. Padahal aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berpacaran online, atau Long Distance Relationship, itu bukan aku. Tapi, entahlah. Aku kerasukan apa, hingga bisa menerimanya. Padahal, dia lebih tua dariku 6 tahun.

Eh, 6 tahun atau 7 tahun?

Sekitar itu pokoknya.

Jangan tuduh aku, bahwa aku menjadikannya hanya sebagai pelampiasan karena kesal tak bisa menjadi milikmu. Bukan. Aku bukan orang yang sadis seperti itu, karena aku tahu, menjadi pelampiasan orang lain itu menyakitkan.

Aku memang belum pernah pacaran saat itu, tapi, setidaknya aku cukup dewasa untuk memahaminya, karena teman-teman di lingkunganku sering sekali curhat tentang cinta padaku.

Tapi, hubungan itu hanya berjalan 2 minggu. Sial ya? Sama sekali belum pernah pacaran, sekalinya pacaran, seperti itu….

Memang seharusnya saat itu, aku jangan menerima cintanya. Tapi, tanpa berpikir panjang aku menerimanya. Harusnya aku konsisten dengan apa yang aku janjikan pada diriku sendiri. Hukum karma karena mengingkari janji pada diri sendiri telah berlaku padaku.

Tapi, dia tetap menjadi kakakku. Dia orang baik.

Lalu, setelahnya, aku mendengar kau putus. Awalnya senang, lalu bingung. Memangnya kenapa kalau kau putus?

Aku tak punya keberanian besar untuk itu. Bahkan mendekatimu saja aku masih malu. Memang aku siapa? Hanya itu yang berkali-kali kupikirkan. Aku bukan tipemu, itu juga yang sering kupikirkan. Maksudku…. Aku tak cantik, aku tak tinggi, aku kecil. Tubuhku kecil, tak seperti anak SMP. Jika aku berjalan tanpa menggunakan seragam, banyak orang yang tak kenal aku mengira aku masih anak SD kelas 6.

Beda jauh denganmu.

Bagiku, wajahmu lumayan, maksudku…. Bersih, terawat, tak seperti kebiasaan lelaki yang malas merawatnya. Kau juga tinggi. Bisa dance, suaramu juga lumayan. Itu yang membuatmu tenar di sekolah kita.

Yah, saat itu aku berpikir, harusnya aku bersyukur. Bisa kenal denganmu, harusnya bersyukur. Bisa dekat denganmu sebagai teman, harusnya bersyukur.

Setelahnya, kita naik kelas. Aku di kelas 9B, kau dikelas 9F, kalau tak salah. Benar kan?

Aku berusaha melupakanmu, dan mencintai laki-laki lain. Dan aku bisa menjadi kekasihnya. Kau tahu kan, yang aku maksud?

Adik kelas, kelas 8A, yang orangnya kikuk.

Iya, dia, benar sekali.

Awalnya aku menyukainya. Untungnya dia juga mencintaiku, jadi aku tak perlu merasakan sakit hati lagi. Di awal, aku lihat, dia orang baik, pintar, pendiam, taat agama. Maksudku, di daerah kita sudah jarang kan, lelaki yang seperti itu?

Dia memenuhi kriteriaku, juga criteria ayahku.

Tapi, lama-kelamaan, bosan.

Dia membosankan. Bukan berarti aku adalah orang yang mudah bosan. Tapi, dia memang tipe orang yang membosankan. Dia juga, agak melambai.

Tak mengerti melambai?

Banci.

Berteriak histeris saat mendengar nama Super Junior. Cewek sekali.

Setelah kuperhatikan wajahnya, aku juga merasa tidak nyaman. Banyak sekali jerawat di wajahnya. Bukan berarti aku mementingkan fisik, lelaki kuli hitam tapi jelek, asal setia, juga pasti akan kuterima…. Tapi…. Aku hanya merasa tidak nyaman.

Apalagi dia suka memanjangkan rambut, memanjangkan poni, memanjangkan kuku, padahal sudah kubilang berkali-kali padanya, aku tidak suka lelaki yang seperti itu. Tapi dia tetap saja seperti itu.

Aku sudah tersiksa. Ingin memutuskannya, tapi tak berani. Maksudku, dia tak pernah melakukan kesalahan padaku. Mana mungkin aku memutuskannya? Lagipula, dia masih mencintaiku.

Tapi, lama kelamaan aku benar-benar merasa tidak betah. Makanya, aku memutuskannya, dengan berkata terus terang, bahwa aku tak sanggup bersamanya. Semoga dia bisa mendapatkan yang lebih baik dariku, yang bisa membawa perubahan baginya, supaya bisa menjadi seorang lelaki yang sesungguhnya.

Bagaimana menurutmu?

Setelah melakukannya, aku merasa lega. Rasa sesak yang mengganggu hatiku selama 2 bulan terakhir bersamanya, kini hilang bersamaan dengan angin yang berdesir pelan.

Jujur saja, saat berpacaran dengannya, aku masih tak bisa melupakan kau. Ya. Kau.

Aku bodoh ya?

Kau ingat, saat pengambilan raport mid semester?

Saat itu kau duduk di belakang lab. Komputer, berseberangan dengan teras kelasku. Aku bergegas menghampirimu.

Saat itu, pertama kalinya aku tahu kau suka lagu barat. Aku masih ingat betapa fasihnya kau menyanyikan lagu “My Love” dari Westlife. Hebat, pikirku. Maksudku, di lingkungan kita jarang ada lelaki yang seperti itu. Kau tahu ‘kan?

Setelahnya, kau tahu?

Setiap kali kau menyapaku, aku selalu senang. Bahasa kias yang sering digunakan dalam kondisi seperti ini, biasanya, “hatiku berbunga-bunga”. Lucu ya?

Setiap kali kau berbicara denganku, aku senang.

Setiap kali aku mengirimkan SMS dan mau kau balas, itu juga membuatku senang.

Itu yang membuatku sedikit “gila”.

Kau ingat? Kapan hari, ada seorang gadis yang mengirimimu SMS, nomor tak dikenal?

Begini….

“Hai….”

Lalu kau membalas,

“ini siapa?”

Aku menjawabnya dengan santai,

“Seorang gadis yang menyukaimu….”

Aku berharap itu bisa menarik perhatianmu, membuatmu penasaran, ternyata, kau malah menjawab….

“oh… *i**i Lovers ya?”

Ah, iya. Kau orang terkenal, setidaknya di MTsN Genteng. Sudah pasti kau punya nama fandom.

Dengan perasaan malu pada diri sendiri, aku menjawab singkat SMS-mu,

“lebih dari suka kok….”

Setelahnya, aku lupa kau membalas apa. Aku juga lupa, seterusnya kita membahas apa.

Tapi yang jelas, di akhir, aku bertanya seperti ini,

“setelah ini, kita bisa sms-an ‘kan?”

“iya, tapi jangan sering-sering ya…. Belakangan aku sibuk….”

Kau tahu? Saat kau membalas seperti itu, aku ingin sekali membanting hp yang sedang kupegang. Sambil mengatur emosi, aku menghela nafas, lalu membalas sms-mu, pasrah….

“ya sudah…. Berarti…. Nggak bisa….”

Setelahnya, kau tak pernah mengirim pesan padaku. Memang normal, karena aku tak memberi tahu padamu, siapa aku sebenarnya.

Yang mengirimimu SMS itu, aku….

Sasa.

Kau tidak menyangka? Aku juga tidak menyangka bisa seberani itu.

Ah, tidak.

Aku masih penakut. Tak mau berkata dengan jujur padamu, bahwa aku mencintaimu. Aku berani bilang, aku mencintaimu, tapi tak berani bilang bahwa itu aku.

Pengecut.

Itu aku.

Intinya, aku menulis ini, hanya ingin bilang sebuah kalimat.

Aku mencintaimu.

Sebelum lulus MTs, aku berharap aku bisa mendapatkanmu, setidaknya, menyatakannya dengan jujur padamu. Tapi, begitulah….

Aku sangat terlambat.

Setidaknya, sekarang aku sudah lega menyatakannya padamu. Aku tak akan takut ditolak, atau diapakan lagi. Yang penting, kau sudah tahu perasaanku sekarang.

Terima kasih, sudah mau jadi orang yang paling berarti untukku….

 ~****~

Bagusnya, surat ini dikirimin ke orangnya nggak? :3

need your comment

One thought on “Love Letter

  1. eonnn… so sweet… nyesek…
    kirain nggak beneran… ternyataa… benerann.. aa… eonnie, jadi speechless nihh

    kalo saya belum punya pengalaman apa-apa dalam urusan cinta.. #plakk
    tapi menurut saya terserah eonn, gimana baiknya aja, lagipula isi suratnya ga macem-macem kan?
    toh eon ga nuntut apa pun dari dia… kalo eon ngerasa lebih baik dia mbaca suratnya kasih aja, mungkin bisa buat eon lebih tenang karna udah jujur sama dia dan diri eonnie sendiri…

    daripada disimpan sendiri.. kalo eon ga duluan bilang kapan dia taunya? lebih enak jujur kan eon??
    kalo dia cowo baik pasti ngerti kok, dan ga bakalan kegeeran…

    tapi semuanya ya kembali ke eon, enaknya aja gimana.. kalo menurut eon lebih baik ga dikasih juga gapapa… #yaiyalah#plakk#abaikan
    tapi yg jelas kalo saya jadi eon, saya ga bakalan berani ngasih.. bukannya apa-apa, takut ajah.🙂
    tapi eon hebat lo, berani buat surat kegini, ga takut kalo dia ga sama perasaannya sama eonn…
    jarang lo orang bisa setegar itu kalo udah menyangkut masalah kegini…
    adanya malah jadi galau… dll. apalagi eon cewe, yg harusnya cewe itu sensitif lah, ini lah, itu lah..
    kali aja eon bisa at least dapet perhatian dia karna udah nunjukin keberanian eon dengan surat ini…

    mian kalo ga membantu, soalnya saya belum pernah pacaran… ato pdkt ato apapun itu namanyaa…..#curhat

    FIGHTING eonn!!!!
    Jangan Galau yyaa…😉😀

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s